IMG-LOGO
Puasa

Ini Penjelasan Bau Mulut Orang Berpuasa Lebih Wangi dari Misik

Ahad 4 Juni 2017 7:3 WIB
Share:
Ini Penjelasan Bau Mulut Orang Berpuasa Lebih Wangi dari Misik
Seringkali kita merasa bahwa bau mulut kita agak lebih tidak bersahabat ketika berpuasa. Tentunya kita akan sedikit kurang percaya diri ketika bergaul dengan masyarakat ketika sedang berpuasa.

Pada masa Rasulullah SAW hidup, hal ini menjadi perhatian tersendiri bagi Rasul sehingga Rasulullah pun bersabda kepada para sahabatnya dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Sahih-nya:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوْفُ فَمِّ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ

Artinya, “Demi Zat yang berkuasa atas nyawaku, sungguhbau mulut orang puasa itu lebih wangi menurut Allah daripada bau misik.”

Dari hadits ini, ada beberapa orang yang salah kaprah memaknainya. Karena disebutkan bahwa bau mulut orang berpuasa lebih wangi daripada bau minyak misik, maka orang mengira bahwa yang menjadi patokan adalah bau mulutnya sehingga orang tersebut merasa tak perlu membersihkan mulutnya ketika berpuasa. Mereka menganggap semakin berbau mulut, maka akan semakin wangi seperti misik menurut Allah SWT.

Ada beberapa hal yang perlu kita diperhatikan ketika membaca hadits ini. Membaca hadits ini tidak bisa secara tekstual. Memaknai hadits ini harus berdasarkan makna majaz (bukan arti yang sebenarnya). Sebagaimana dikemukakan oleh Kiai Ali Mustafa Yaqub dalam karyanya yang berjudul At-Thuruqus Shahihah fi Fahmi Sunnatin Nabawiyyah bahwa ada beberapa hadits yang harus dipahami secara majaz. Salah satunya adalah hadits ini.

Berikut beberapa hal yang diharus diperhatikan ketika membaca hadits ini.

Pertama, bahwa yang dimaksud wangi menurut Allah bukan berarti wangi berdasarkan penciuman Allah. Karena mencium merupakan suatu hal yang mustahil bagi Allah SWT. Karena jika Allah mencium atau melakukan pengindraan yang lain, maka secara otomatis menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. Padahal Allah tidak seperti makhluk-Nya, Laisa kamitslihi syai'un.

Maka yang dimaksud athyabu indallah min rihil misk adalah pahalanya lebih banyak menurut Allah daripada pahala orang yang memakai minyak misik pada shalat Jumat atau shalat Idul Fitri dan Idul Adha.

Hal ini juga disebutkan oleh Al-Bujairimi dalam Tuhfatul Habib ala Syarhil Khatib terkait makna hadits ini.

قَوْلُهُ: (أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ) أَيْ أَطْيَبُ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ الْمَطْلُوبِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَالْعِيدَيْنِ أَيْ أَكْثَرُ ثَوَابًا مِنْ ثَوَابِ رِيحِ الْمِسْكِ الْمَطْلُوبِ، فَلَا يَرِدُ أَنَّ الشَّمَّ مُسْتَحِيلٌ عَلَيْهِ تَعَالَى، أَوْ مَعْنَى كَوْنِهِ أَطْيَبَ عِنْدَ اللَّهِ ثَنَاؤُهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَرِضَاهُ بِهِ

Artinya, “Yang dimaksud dalam qaul ‘lebih wangi menurut Allah’ adalah lebih wangi daripada bau minyak misik yang diperintahkan untuk memakainya ketika hari Jumat dan dua shalat Id, atau maksudnya adalah pahalanya lebih banyak daripada pahala menggunakan minyak misik pada hari Jumat atau dua hari raya. Sungguh, mencium adalah hal yang mustahil bagi Allah SWT sehingga yang dimaksud dengan ‘lebih wangi menurut Allah’ adalah pujian dan ridha-Nya terhadap orang yang berpuasa.”

Pendapat Al-Bujairimi ini juga diafirmasi sebelumnya oleh Imam Nawawi yang mengutip pendapat Ad-Dawudi dalam kitab Al-Minhaj Syarah Sahih Muslim-nya.

Kedua, pendapat lain mengatakan bahwa keadaan wangi atas bau mulut orang berpuasa tersebut terjadi di akhirat karena saat itu adalah hari pembalasan. Al-Qadhi Iyadh mengatakan bahwa di akhirat kelak Allah SWT akan membalas orang yang berpuasa dengan bau wangi di mulutnya yang mengalahkan wanginya minyak misik. Oleh karena itu ulama mengatakan bahwa balasan wangi bau mulut untuk orang berpuasa berlaku di akhirat.

Berdasarkan beberapa pendapat ini, maka selayaknya orang yang berpuasa untuk tetap menjaga kebersihan aroma mulut. Bukan malah membiarkannya dan malas membersihkannya dengan dalih hadits ini karena bagaimanapun juga bau mulut akan mengganggu orang yang ada di sekitar kita.

Hadits ini adalah sebuah bentuk motivasi bagi orang yang berpuasa agar tetap menjalankan ibadah puasanya walaupun ada sesuatu yang tidak mengenakkan pada mulutnya. Tetapi ia harus tetap memperhatikan kebersihan dengan membersihkan mulutnya sebelum mulai berpuasa.

Adapun perubahan mulut yang terjadi merupakan sifat alamiah manusia karena mulut tidak dimasuki makanan. Bukan bau mulut yang disengaja berubah karena malas atau tidak mau menyikat gigi. Wallahu a'lam. (M Alvin Nur Choironi)

Tags:
Share:
Sabtu 3 Juni 2017 16:7 WIB
Agar Puasa Tak Hanya Menghasilkan Lapar dan Dahaga
Agar Puasa Tak Hanya Menghasilkan Lapar dan Dahaga
Dalam keseharian, setiap orang diharuskan untuk selalu menambah kebaikan dan selalu bertambah baik setiap harinya. Seperti kata pepatah: hari ini harus lebih baik dari hari kemarin.  Ketika seseorang berhenti dan merasa sudah cukup dengan apa yang sudah dilakukan, maka itu adalah hal yang kurang bisa dibenarkan.

Begitu pun dalam sikap beragama kita. Sedari mula kita diajarkan untuk menempuh satu persatu ajaran Islam, melaksanakan kewajiban dan kesunnahan yang telah diajarkan oleh Rasulullah dan ulama yang bisa diteladani. Tentunya tidak bisa berhenti di situ. Banyak ilmu Allah yang belum diketahui. Pemahaman dan perilaku beragama kita tidak boleh dirasa puas dengan capaian-capaian tertentu.

Puasa Ramadan, adalah bagian dari syariat Islam, bahkan dikenal sebagai rukun Islam. Allah memerintahkan umatnya yang beriman untuk menunaikan puasa, dengan tujuan menjadi orang yang bertakwa. Ketakwaan ini akan menghantarkan pelaku puasa menjadi hamba yang dikasihinya, karena sebagaimana disebut dalam banyak ayat Al Quran: “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.”

Bagaimana ketakwaan seorang hamba sehingga bisa mendekatkan seseorang kepada Allah? Kitab Kifayatul Atqiya’wa Minhajul Ashfiya’ karya Sayyid Al Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad Dimyathi menjelaskan bahwa takwa adalah pusat segala sumber kebahagiaan. Takwa diartikan sebagai sikap melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, baik yang bersifat lahir maupun bersifat batin karena mengenal kuasa dan keagungan Allah.

Kitab yang menjadi syarah dari kitab Hidayatul Adzkiya’ila Thariqil Awliya’ karya Syekh Zainuddin Al Malibari ini menyebutkan bahwa menjaga ketakwaan dan menjauhi hawa nafsu itu ditempuh dengan mengamalkan syariat, thariqat, dan hakikat.

Disebutkan dalam syair:

فَشَرِيْعَةٌ كَسَفِيْنَةٍ وَ طَرِيْقَةٍ # كَالْبَحْرِ ثُمَّ حَقِيْقَةٍ دُرٌّ غَلَا

Syariat itu seperti kapal, dan thariqat itu seperti lautan. Dan Hakikat adalah mutiara (di lautan) yang bernilai mahal.

Lebih lanjut disebutkan, bahwa seseorang yang hendak mencapai derajat muttaqin dan dekat dengan Allah, harus menempuh laku syariat. Ia harus mau “naik kapal” yang telah ditetapkan oleh Allah, menekuninya dengan konsisten. Tidak mungkin seseorang akan mampu mengarungi lautan yang luas, tanpa naik kapal terlebih dahulu. Ia pun jadi tak kenal lautan, tak tahu keadaan. Demikian kurang lebih dalam Kifayatul Atqiya’.

Thariqat sebagai proses suluk dimaknai sebagai sikap untuk menahan diri, konsisten dalam beramal, serta menjaga dari hal-hal yang merusak kebaikan suatu amal. Jika syariat menekankan pada memenuhi rukun dan menjauhi hal-hal yang dapat membatalkan keabsahan ibadah, maka thariqat sebagai proses menuju derajat muttaqin ini adalah menjaga diri dari hal-hal yang mengurangi nilai ibadah tersebut. Jadi bagaimana bisa mencapai derajat yang lebih tinggi tanpa mengenal syariat secara mencalam terlebih dahulu?

Setelah menaiki kapal syariat, lalu ngelangi, mengarungi lautan proses thariqat, maka diharapkan seorang hamba bisa menjaga ketakwaan, menjaga diri dari menuruti hawa nafsu dan godaan setan, lantas menemukan mutiara-mutiara hakikat ibadah sehingga bisa dekat dengan Allah. Semoga syariat puasa yang kita amalkan ini tidak berhenti pada taraf yang dikatakan Rasulullah: “Banyak orang puasa yang tidak mendapat apa pun kecuali lapar dan dahaga”, serta semakin bisa mendekatkan diri kepada Allah sebagai orang yang bertakwa. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)

Rabu 31 Mei 2017 22:3 WIB
Riya dalam Berpuasa
Riya dalam Berpuasa
Foto: Ilustrasi
Berpuasa adalah amalan-amalan yang tersembunyi yang hanya diketahui oleh orang yang menjalankan dan Allah SWT. Tidak seperti ibadah-ibadah lahir yang lain seperti shalat, haji, atau ibadah-ibadah lahir lainnya.

Tetapi, dalam hadits disebutkan bahwa seorang bisa mengatakan, dirinya sedang berpuasa jika ada seseorang yang meencela dan mengajak dirinya untuk bertengkar.

فإن امرؤٌ قَاتَلَهُ، أو شَاتَمَهُ، فَلْيَقُلْ: إني صائمٌ

Tetapi, yang harus dihindari adalah ketika ingin mengatakan “Saya sedang berpuasa.” Ulama fiqih mewanti-wanti agar ketika berkata demikian tidak disertai dengan rasa riya. Apalagi dalam kondisi yang lain, yang tidak membutuhkan seseorang untuk memberitahu orang lain bahwa dirinya sedang berpuasa.

Maka dari itu perlu dihindari riya saat akan mengatakan bahwa kita sedang berpuasa kepada orang lain. Menurut Al-Bujairimi dalam kitab Hasiyyatul Bujairimi alal Khatib, memang puasa adalah suatu ibadah yang jauh dan terhindar dari perbuatan riya karena puasa adalah suatu ibadah yang tersembunyi. Tetapi, riya bisa saja terjadi bukan dalam amalan puasa, tetapi dalam perkataan orang berpuasa yang mengatakan kepada orang lain bahwa dia sedang berpuasa.

Bahkan Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Thabrani.

ومنْ صَامَ يُرائِي فقد أشرَكَ

Artinya, “Barang siapa yang berpuasa namun ia riya, maka dia telah berbuat syirik.”

Hal ini sebagaimana yang kita ketahui bahwa puasa adalah milik Allah dan Allah lah yang akan memberikan pahalanya. Maka puasa itu seharusnya hanya untuk Allah. Ketika riya dalam berpuasa berarti seolah-olah puasa itu untuk manusia. Inilah yang disebut syirik dalam hadits ini.

Untuk menghindari hal itu, maka Syekh Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathiy dalam Ianatut Thalibin memberikan saran agar tidak perlu berkata, “Saya sedang berpuasa,” jika ditakutkan ada sifat riya. Karena yang paling penting adalah bukan berkata demikian, melainkan tujuan dari berkata demikian dalam hadits di atas adalah untuk menasihati (al-wa’du). Bahkan disunnahkan untuk tidak menampakkan bahwa dirinya sedang berpuasa.

Karena itu dalam berpuasa kita seharusnya bisa menghindari sifat-sifat yang bisa menghilangkan pahala puasa seperti riya. Wallahu a‘lam. (M Alvin Nur Choironi)
Selasa 30 Mei 2017 20:30 WIB
Imsak, Benarkah Waktu Dimulainya Berpuasa?
Imsak, Benarkah Waktu Dimulainya Berpuasa?
“Imsaak...! Imsaak...!”

Di beberapa daerah di Indonesia suara keras kata-kata tersebut hingga kini masih terdengar beberapa saat sebelum azan subuh dari masjid-masjid dan mushala-mushala sebagai pengingat telah datang waktunya imsak, waktu menahan diri dari berbagai hal yang bisa membatalkan puasa, khususnya makan dan minum. Dan masyarakat maklum, bila telah terdengar kata “imsak” dikumandangkan mereka serta merta menghentikan aktivitas makan dan minum yang terangkai dalam kegiatan sahur.

Memang demikian adanya. Sebagian masyarakat Muslim memahami bahwa datangnya waktu imsak adalah awal dimulainya ibadah puasa. Pada saat itu segala kegiatan makan minum dan lainnya yang membatalkan puasa harus disudahi hingga datangnya waktu maghrib di sore hari. Namun demikian sebagian masyarakat Muslim juga bertanya-tanya, benarkah waktu imsak sebagai tanda dimulainya puasa?

Lalu bagaimana sesungguhnya fiqih mengatur awal dimulainya ibadah yang termasuk salah satu rukun Islam ini? Benarkah imsak menjadi waktu awal dimulainya seseorang menahan lapar dan dahaga?

Bila mencermati beberapa penjelasan para ulama dalam berbagai kitabnya akan bisa dengan mudah diambil satu kesimpulan kapan sesungguhnya ibadah puasa itu dimulai dan apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan waktu imsak.

Imam Al-Mawardi di dalam kitab Iqna’-nya menuturkan:

وزمان الصّيام من طُلُوع الْفجْر الثَّانِي إِلَى غرُوب الشَّمْس لَكِن عَلَيْهِ تَقْدِيم الامساك يَسِيرا قبل طُلُوع الْفجْر وَتَأْخِير (الْفطر) يَسِيرا بعد غرُوب الشَّمْس ليصير مُسْتَوْفيا لامساكمَا بَينهمَا

“Waktu berpuasa adalah dari terbitnya fajar kedua sampai tenggelamnya matahari. Akan tetapi (akan lebih baik bila) orang yang berpuasa melakukan imsak (menghentikan makan dan minum) sedikit lebih awal sebelum terbitnya fajar dan menunda berbuka sejenak setelah tenggelamnya matahari agar ia menyempurnakan imsak (menahan diri dari yang membatalkan puasa) di antara keduanya.” (lihat Ali bin Muhammad Al-Mawardi, Al-Iqnaa’ [Teheran: Dar Ihsan, 1420 H] hal. 74)

Dr. Musthafa al-Khin dalam kitab Al-Fiqh Al-Manhaji menyebutkan:

والصيام شرعاً: إمساك عن المفطرات، من طلوع الفجر إلى غروب الشمس مع النية.

“Puasa menurut syara’ adalah menahan diri dari apa-apa yang membatalkan dari terbitnya fajar sampai dengan tenggelamnya matahari disertai dengan niat.” Musthafa al-Khin dkk, Al-Fiqh Al-Manhaji fil Fiqh As-Syafi’i [Damaskus: Darul Qalam, 1992], juz 2, hal. 73)

Sedangkan Sirojudin Al-Bulqini menyampaikan:

السابعُ: استغراق الإمساكِ عما ذُكرَ لجميع اليومِ مِن طُلوعِ الفجرِ إلى غُروبِ الشمسِ.

“Yang ketujuh (dari hal-hal yang perlu diperhatikan) adalah menahan diri secara menyeluruh dari apa-apa (yang membatalkan puasa) yang telah disebut sepanjang hari dari tebitnya fajar sampai tenggelamnya matahari..” (Sirojudin al-Bulqini, Al-Tadrib [Riyad: Darul Qiblatain, 2012], juz 1, hal. 343)

Dari keterangan-keterangan di atas secara jelas dapat diambil kesimpulan bahwa awal dimulainya puasa adalah ketika terbit fajar yang merupakan tanda masuknya waktu shalat subuh, bukan pada waktu imsak. Adapun berimsak (mulai menahan diri) lebih awal sebelum terbitnya fajar sebagaimana disebutkan oleh Imam Mawardi hanyalah sebagai anjuran agar lebih sempurna masa puasanya.

Lalu bagaimana dengan waktu imsak yang ada?

Waktu imsak yang sering kita lihat di jadwal-jadwal imsakiyah adalah waktu yang dibuat oleh para ulama untuk kehatian-hatian. Dengan adanya waktu imsak yang biasanya ditetapkan sepuluh menit sebelum subuh maka orang yang akan berpuasa akan lebih berhati-hati ketika mendekati waktu subuh. Di waktu sepuluh menit itu ia akan segera menghentikan aktivitas sahurnya, menggosok gigi untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang bisa jadi membatalkan puasa, dan juga mandi serta persiapan lainnya untuk melaksanakan shalat subuh.

Dapat dibayangkan bila para ulama kita tidak menetapkan waktu imsak. Seorang yang sedang menikmati makan sahurnya, karena tidak tahu jam berapa waktu subuh tiba, dia akan kebingungan saat tiba-tiba terdengar kumandng azan subuh sementara di mulutnya masih ada makanan yang siap ditelan.

Satu hal yang perlu diketahui bahwa waktu imsak hanya ada di Indonesia. Fenomena masjid-masjid dan musholla-musholla menyuarakan waktu imsak tak ditemui di negara manapun sebagaimana bisa ditemui di beberapa daerah di Indonesia.

Inilah kreatifitas ulama kita, ulama Nusantara. Adanya waktu imsak adalah bagian dari sikap khas para ulama yang “memperhatikan umat dengan perhatian kasih sayang” atau dalam bahasa Arab sering disebut yandhuruunal ummah bi ‘ainir rahmah. Karena sayangnya ulama negeri ini kepada umat mereka menetapkan waktu imsak demi lebih sempurnanya puasa Ramadhan yang dilakukan umat Islam bangsa ini. Wallahu a’lam. (Yazid Muttaqin)