IMG-LOGO
Bahtsul Masail

Hukum Kirim Kartu Lebaran dan Ucapkan Selamat Hari Raya Id via Medsos

Sabtu 24 Juni 2017 6:4 WIB
Share:
Hukum Kirim Kartu Lebaran dan Ucapkan Selamat Hari Raya Id via Medsos
Foto: Ilustrasi
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online yang saya hormati, sebagian kecil orang masih mempertahankan tradisi pengiriman kartu berisi ucapan selamat hari raya, sementara sebagian besar mereka menggunakan media baru untuk menyampaikan ucapan selamat hari raya Idul Fitri via fesbuk, whatsapp, twitter, dan seterusnya. Pertanyaannya, apa hukum pengucapan selamat hari raya itu sendiri? Karena meskipun sepele, ada sebagian orang yang mempermasalahkan ini dari segi agama. Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Abdul Fattah/Pangkal Pinang)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Hari raya agama merupakan hari istimewa bagi pemeluknya. Hari raya ini dilewati penuh makna dan sarat dengan kebahagiaan. Meskipun tidak memerlukan ucapan selamat itu, mereka tetap saling mengucapkannya saking bahagianya.

Sepengetahuan kami, dalil agama tidak berbicara terlalu jauh soal pengucapan hari raya ini. Islam tidak memerintah dan juga tidak melarang pengucapan “Selamat Hari Raya Idul Fitri”, “Selamat Hari Raya Idul Adha”, “Minal Aidin wal Faizin” atau pengucapan lainnya yang semakna dengan itu.

Masalah pengucapan “Selamat Hari Raya Idul Fitri” dan ucapan selamat lainnya mendorong diskusi di kalangan ulama. Syekh Jalaluddin As-Suyuthi menjelaskan masalah ini dalam kumpulan fatwanya berikut ini.

قال القمولي في الجواهر : لم أر لأصحابنا كلاماً في التهنئة بالعيدين ، والأعوام ، والأشهر كما يفعله الناس ، ورأيت فيما نقل من فوائد الشيخ زكي الدين عبد العظيم المنذري أن الحافظ أبا الحسن المقدسي سئل عن التهنئة في أوائل الشهور ، والسنين أهو بدعة أم لا ؟ فأجاب بأن الناس لم يزالوا مختلفين في ذلك ، قال : والذي أراه أنه مباح ليس بسنة ولا بدعة انتهى ، ونقله الشرف الغزي في شرح المنهاج ولم يزد عليه .

Artinya, “Al-Qamuli dalam Al-Jawahir mengatakan, ‘Aku tidak menemukan banyak pendapat kawan-kawan dari Madzhab Syafi’i ini perihal ucapan selamat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, ucapan selamat pergantian tahun dan pergantian bulan seperti yang dilakukan oleh banyak orang sekarang. Hanya saja aku dapat riwayat yang dikutip dari Syekh Zakiyuddin Abdul Azhim Al-Mundziri bahwa Al-Hafizh Abul Hasan Al-Maqdisi pernah ditanya perihal ucapan selamat bulan baru atau selamat tahun baru. Apakah hukumnya bid’ah atau tidak? Ia menjawab, banyak orang selalu berbeda pandangan masalah ini. Tetapi bagi saya, ucapan selamat seperti itu mubah, bukan sunah dan juga bukan bid’ah.’ Pendapat ini dikutip tanpa penambahan keterangan oleh Syaraf Al-Ghazzi dalam Syarhul Minhaj,” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Hawi Lil Fatawi fil Fiqh wa Ulumit Tafsir wal hadits wal Ushul wan Nahwi wal I‘rabi wa Sa’iril Funun, Darul Kutub Ilmiyah, Beirut, Libanon, 1982 M/1402 H, juz 1, halaman 83).

Dari keterangan di atas, kita menyimpulkan bahwa pengucapan “Selamat hari raya Idul Fitri” atau ucapan selamat lainnya sampai kapanpun akan terus menjadi perbedaan pendapat. Tetapi Imam As-Suyuthi mengikuti ulama yang membolehkannya. Menurutnya, pengucapan ini tidak bermasalah secara syar’i karena tidak ada dalil yang melarangnya.

Sementara penggunaan aneka media hanya bersifat sarana penyampaian. Media yang digunakan masyarakat hanya berkaitan dengan tren di zamannya seperti penggunaan kartu lebaran, spanduk, akun media sosial, atau lainnya.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.



(Alhafiz Kurniawan)
Tags:
Share:
Sabtu 24 Juni 2017 20:30 WIB
Bagaimana Makmum Yang Tertinggal Takbir Sunah pada Shalat Id?
Bagaimana Makmum Yang Tertinggal Takbir Sunah pada Shalat Id?
Foto: Ilustrasi
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Pengasuh rubrik Bahtsul Masail NU Online, saya mau bertanya. Pada sembahyang Id, ada saja masyarakat yang tertinggal jamaah. Ia menjadi makmum. Ia ketinggalan beberapa takbir sunah pada sembahyang Id pada rakaat pertama. Apakah ia harus melengkapi takbir sunah sebanyak tujuh kali atau mengikuti sedapatnya takbir si imam? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Nurfadhilah/Banjarmasin)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Shalat Id merupakan shalat sunah yang paling dianjurkan untuk dihadiri setiap Muslim. Bahkan, perempuan yang berhalangan sekalipun dianjurkan untuk menghadiri upacara shalat Id dan khutbahnya hingga selesai. Bahkan sebagian ulama menyatakan bahwa hukum shalat Id adalah wajib.

Shalat sunah Id ini memiliki keistimewaan. Setelah takbiratul ihram dan doa iftitah, kita disunahkan untuk bertakbir sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama. Sedangkan pada rakaat kedua, kita disunahkan untuk bertakbir sebanyak lima kali. Takbir pada shalat Id ini sunah. Kalau ditinggalkan, tidak membatalkan shalat, tetapi membuat makruh.

ويكبر في الركعة الأولى قبل القراءة سبعا يقينا مع رفع اليدين بين الاستفتاح والتعوذ وفي الثانية خمسا

Artinya, “Sebelum membaca Surat Al-Fatihah, ia bertakbir sebanyak tujuh kali dengan hitungan yakin yang berbarengan dengan mengangkat kedua tangan; (7 takbir ini) tepatnya (dilakukan) di antara doa iftitah dan ta‘wudz Al-Fatihah. Di rakaat kedua, ia cukup bertakbir sebanyak lima kali,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, Beirut, Darul Fikr, 1433-1434 H/2012 M, juz II, halaman 355).

Shalat Id sunahnya dikerjakan secara berjamaah. Kalau ada anggota masyarakat yang ikut berjamaah shalat Id saat imam telah melangsungkan takbir yang disunahkan, maka ia cukup mengikuti seberapa banyak imam bertakbir. Ia tidak perlu menggenapi kekurangannya hingga tujuh takbir bila tertinggal pada rakaat pertama, atau lima takbir bila tertinggal pada rakaat kedua.

ولا يكبر المسبوق إلا ما أدرك من التكبيرات مع إمامه. قال في الشرح: فلو اقتدي به في الأولى مثلا، وأدرك منها تكبيرة كبرها فقط، أو في أول الثانية كبر معه خمسا فقط، وأتى في ثانيته بخمس فقط لأن في قضاء ذلك ترك سنة أخري. ا هـ

Artinya, “Sedangkan masbuq (makmum yang tertinggal beberapa saat) hanya bertakbir sedapatnya mengikut sisa takbir imamnya. Di dalam Syarah dikatakan, kalau masbuq mengikuti imam di rakaat pertama misalkan, dan ia mendapati sisa sekali takbir imam, maka ia cukup sekali bertakbir. Atau kalau masbuq mengikuti imam pada rakaat kedua, ia cukup bertakbir sebanyak lima kali. Sedangkan di rakaat keduanya (setelah imam salam), ia cukup bertakbir sebanyak lima kali karena kalau mengqadha takbir yang luput, ia justru meninggalkan sunah lainnya,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, Beirut, Darul Fikr, 1433-1434 H/2012 M, juz II, halaman 355).

Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa makmum shalat Id yang mendapati imamnya telah membaca surat Al-Fatihah atau surat yang disunahkan, tidak perlu lagi mengerjakan takbir sunah. Ia cukup mengerjakan takbiratul ihram, lalu mendengarkan bacaan imamnya.

Saran kami, kita sebaiknya menghadiri upacara shalat Id meskipun kita tertinggal beberapa takbir atau tertinggal satu rakaat. Karena shalat Id memiliki keutamaan luar biasa bahkan perempuan yang berhalangan sekalipun sangat dianjurkan untuk menghadiri shalat Id beserta khutbahnya hingga selesai. Bagi mereka yang tidak sempat ikut berjamaah, sebaiknya sebelum Zuhur ia mengerjakan shalat Id sendiri tanpa khutbah

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.



(Alhafiz Kurniawan)
Sabtu 24 Juni 2017 12:28 WIB
Keharusan Berpakaian Baru dan Dresscode Lebaran di Hari Raya?
Keharusan Berpakaian Baru dan Dresscode Lebaran di Hari Raya?
Foto: Ilustrasi
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, entah kapan awalnya hari raya Idul Fitri dianggap masyarakat sebagai keharusan untuk membeli baju baru lebih-lebih untuk anak-anak, kadang untuk keseragaman sekeluarga (dresscode). Pasar dan toko pakaian kerap dipadati masyarakat menjelang lebaran. “Keharusan” seperti ini kerap kali membuat pening masyarakat kecil setiap menjelang hari raya, apalagi masyarakat yang memiliki banyak anak yang masih kecil. Yang mau saya tanyakan, sebenarnya bagaimana hukum pakaian baru dan dresscode di hari lebaran agar masalah ini menjadi jelas? Terima kasih atas penjelasannya. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Marhamah/Jakarta Selatan)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Hari raya Idul Fitri merupakan hari besar di mana Allah SWT membukakan ampunan dan rahmat-Nya untuk para hamba-Nya. Karenanya kebahagiaan ini patut disambut dengan lahir dan batin yang baik.

Dari sini kita lalu–selain menyucikan batin di hari raya–dianjurkan untuk membersihkan tubuh dari kotoran dan aroma tidak sedap, mengenakan pakaian yang bagus, dan mengenakan wewangian.

Lalu bagaimana dengan “keharusan” mengenakan pakaian baru di hari raya Idul Fitri? Kemungkinannya banyak. Lazimnya memang wajar membeli pakaian baru setahun sekali mengingat pakaian yang sudah ada sudah tidak lagi muat karena tubuh anak-anak kecil terus tumbuh besar. Kemungkinan lainnya, kebetulan pakaian yang sudah ada sudah terlalu pudar warnanya atau rusak kerahnya lalu mengambil kesempatan Idul Fitri untuk menggantinya dengan yang baru. Tetapi adakah keharusan dalam agama untuk mengenakan pakaian baru dan dresscode lebaran?

والتطيب والتزين بما مر في الجمعة إلا أن هنا يسن له أن يلبس أحسن ثيابه ولو غير بياض وعند التساوي البياض أولى، وفارق الجمعة بأن المراد هنا إظهار النعم وهو بالأعلى أولى وفي الجمعة إظهار الكمال وهو البياض أعلى وإلا أنه يسن الغسل والتزين والتطيب للقاعد أي لمن لم يرد الخروج لصلاة العيد والخارج لها

Artinya, “Seseorang dianjurkan mengenakan wewangian dan berhias sebagaimana keterangan telah lalu pada bab Jumat. Tetapi di sini seseorang dianjurkan mengenakan pakaian terbaiknya meskipun bukan warna putih. Tetapi ketika pakaian putih dan bukan berwarna putih sama baiknya, maka mengenakan pakaian putih lebih utama di hari Id. Hari Id berbeda dengan hari Jumat. Maksud hari Id adalah menampakkan nikmat Allah. Karenanya mengenakan pakaian terbaik itu lebih utama. Sedangkan tujuan hari Jumat adalah menampakkan kesempurnaan karena itu mengenakan pakaian putih itu yang terbaik. Tetapi orang yang duduk (tidak keluar rumah untuk sembahyang Id) dan orang yang keluar menuju sembahyang Id juga dianjurkan untuk mandi, berhias, dan mengenakan wewangian,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, Beirut, Darul Fikr, 1433-1434 H/2012 M, juz II, halaman 353).

Dari penjelasan ini, kita menyimpulkan bahwa agama sendiri hanya menganjurkan umatnya untuk mengenakan pakaian terbaiknya di hari raya Idul Fitri, bukan pakaian baru, apalagi seragam sekeluarga (dresscode). Pakaian terbaik juga tidak selalu mesti berwarna putih. Anjuran mengenakan pakaian putih berlaku di hari Jumat. Lain soal kalau pakaian putih adalah pakaian terbaiknya dari semua pakaian yang dimilikinya ketika hari raya.

Perihal keinginan masyarakat untuk mengenakan pakaian baru atau dresscode di hari raya, hal itu boleh-boleh saja sejauh tidak memberatkan yang bersangkutan. Kalau pun tidak membeli pakaian baru, kita tidak perlu berkecil hati. Kita dapat memakai pakaian terbaik kita yang ada di almari karena agama Islam sendiri tidak mengharuskan umatnya untuk mengenakan pakaian baru apalagi dresscode di hari raya.

Saran kami, kita sebaiknya memanfaatkan hari raya Idul Fitri untuk memperbaiki batin kita semaksimal mungkin, membuka pintu maaf bagi banyak orang, dan memohon maaf kepada mereka yang pernah kita aniaya, dan memperbanyak istighfar untuk memohon ampunan dan rahmat Allah.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.



(Alhafiz Kurniawan)
Jumat 23 Juni 2017 21:1 WIB
Ini Cara Syar'i Hidupkan Malam Idul Fitri
Ini Cara Syar'i Hidupkan Malam Idul Fitri
Foto: Ilustrasi
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online yang saya hormati, sudah lazim pada malam takbiran orang-orang merayakannya dengan keluar rumah untuk takbiran keliling. Sementara bagaimana dengan mereka yang tetap berdiam di dalam kampung. Apakah mereka terhitung sudah mengerjakan sunah menghidupkan malam Id? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Yani/Pidie)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Kita dianjurkan oleh agama untuk menghidupkan dengan gembira malam hari raya Idul Fitri atau sering dikenal dengan malam takbiran. Pasalnya, malam Id merupakan salah satu malam mulia yang seyogianya tidak dilewatkan oleh hamba Allah.

Kita dianjurkan untuk mengisi malam Id dengan beribadah kepada Allah SWT. Hanya saja tidak ada ketentuan perihal ibadah apa yang seharusnya dilakukan di malam Id. Artinya, seseorang yang mengambil ibadah apapun bentuknya, maka sesungguhnya ia telah menghidupkan malam Id sebagaimana anjuran kuat agama Islam.

Dari sini kita dapat mengambil simpulan bahwa masalahnya tidak terletak di dalam atau di luar kampung. Masalahnya adalah apakah yang bersangkutan itu beribadah atau tidak; di dalam maupun di luar kampung.

ويسن إحياء ليلتهما ولو جمعة بالعبادة من نحو صلاة وقراءة وذكر لخبر مَن أَحْيَا لَيْلَتَيِ العِيْدِ أَحْيَا اللهُ قَلْبَهُ يَوْمَ تَمُوْتُ القُلُوْبُ. ويحصل بإحياء معظم الليل وبصلاتي الصبح والعشاء في جماعة، بل وبصلاة الصبح جماعة

Artinya, “(Kita) dianjurkan untuk menghidupkan dua malam Id sekalipun jatuh pada hari Jumat dengan pelbagai jenis ibadah seperti sembahyang, tadarus, atau zikir berdasarkan hadits, ‘Siapa yang menghidupkan dua malam Id, maka Allah akan menghidupkan hatinya pada hari di mana hati manusia mati.’ Kesunahan itu dianggap memadai dengan menghidupkan hampir semalam suntuk ibadah, dengan sembahyang Isya dan Subuh berjamaah, atau bahkan sekadar sembahyang Subuh berjamaah,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, Beirut, Darul Fikr, 1433-1434 H/2012 M, juz II, halaman 353).

Dari penjelasan di atas kita dapat menarik simpulan bahwa tradisi takbiran keliling masyarakat juga termasuk bagian dari menghidupkan malam Id. Atau bahkan mereka yang terbaring di rumah sakit juga terbilang telah menghidupkan malam Id hanya dengan zikir, tadarus Al-Quran, sedekah, atau ibadah ringan lainnya.

Hanya saja masyarakat yang ingin melakukan takbir keliling perlu menjaga ketertiban berlalu lintas, menjaga adab di jalanan, dan menghindarkan diri dari penggunaan petasan yang dilarang aparat keamanan.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.



(Alhafiz Kurniawan)