IMG-LOGO
Trending Now:
Thaharah

Empat Hikmah Disyariatkannya Bersuci dalam Islam

Jumat 30 Juni 2017 17:0 WIB
Share:
Empat Hikmah Disyariatkannya Bersuci dalam Islam
Ilustrasi (imqrum.org)
Islam memberi perhatian yang sangat besar terhadap bersuci (thahârah). Ia bahkan menjadi syarat berbagai aktivitas ibadah tertentu. Bersuci merupakan perintah agama yang bisa dikatakan selevel lebih tinggi dari sekadar bersih-bersih. Sebab, tak setiap yang bersih adalah suci.

Thahârah terbagi menjadi dua, yakni bersuci dari najis dan bersuci dari hadats. Bersuci dari najis dilakukan dengan berbagai cara tergantung dengan tingkatan najis: berat (mughalladhah), sedang (mutawassithah), atau ringan (mukhaffafah). Sementara bersuci dari hadats dilakukan dengan wudhu (untuk hadats kecil) dan mandi (untuk hadats besar) atau tayamum bila dalam kondisi terpaksa.

Sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, perintah bersuci ini mengandung hikmah atau kebijaksanaan. Setidaknya ada empat hikmah tentang disyariatkannya thahârah sebagaimana disarikan dari kitab al-Fiqh al-Manhajî ‘ala Madzhabil Imâm asy-Syâfi‘î karya Musthafa al-Khin, Musthafa al-Bugha, dan 'Ali asy-Asyarbaji.

Pertama, bersuci merupakan bentuk pengakuan Islam terhadap fitrah manusia. Manusia memiliki kecenderungan alamiah untuk hidup bersih dan menghindari sesuatu yang kotor dan jorok. Karena Islam adalah agama fitrah maka ia pun memerintahkan hal-hal yang selaras dengan fitrah manusia.

Kedua, menjaga kemulian dan wibawa umat Islam. Orang Islam mencintai kehidupan bermasyarakat yang aman dan nyaman. Islam tidak menginginkan umatnya tersingkir atau dijauhi dari pergaulan lantaran persoalan kerbersihan. Seriusnya Islam soal perintah bersuci ini menunjukkan komitmennya yang tinggi akan kemuliaan para pemeluknya.

Ketiga, menjaga kesehatan. Kebersihan merupakan bagian paling penting yang memelihara seseorang dari terserang penyakit. Ragam penyakit yang tersebar umumnya disebabkan oleh lingkungan yang kotor. Karena itu tidak salah pepatah mengungkapkan, "kebersihan adalah pangkal kesehatan".

Anjuran untuk membersihkan badan, membasih wajah, kedua tangan, hidung, dan kedua kaki, berkali-kali saban hari relevan dengan kondisi dan aktivitas manusia. Sebab, anggota-anggota tubuh itu termasuk yang paling sering terpapar kotoran.

Keempat, menyiapkan diri dengan kondisi terbaik saat menghadap Allah: tidak hanya bersih tapi juga suci. Dalam shalat, doa, dan munajatnya, seorang hamba memang seyogianya suci secara lahir dan batin, bersih jasmani dan rohani, karena Allah yuhhibbut tawwâbîna yayuhibbul mutathahhirîna (mencintai orang-orang yang bertobat dan menyucikan diri). Wallâhu a’lam. (Mahbib)


Tags:
Share:
Senin 17 April 2017 21:3 WIB
Hukum Shalat Membawa Anak Kecil yang Pakai Popok
Hukum Shalat Membawa Anak Kecil yang Pakai Popok
Foto: Ilustrasi
Mendidik anak sejak kecil tentang keislaman merupakan sebuah kewajiban bagi orangtua. Kewajiban itu tidak berhenti hingga sang anak menginjak usia baligh dan berakal. Dalam Kitab Fathul Mu’in karya Zainuddin Al-Malibari disebutkan bahwa kewajiban pertama yang harus diajarkan oleh orangtua adalah dua kalimat syahadat dan ibadah salat, jika anak tersebut sudah berumur tujuh tahun.

Bahkan jika sang anak sudah berumur sepuluh tahun tetapi belum juga shalat, maka orangtua diperbolehkan untuk memukulnya, tentunya dengan pukulan yang lembut dan tidak mengandung unsur kekerasan serta menyakiti.

يجب على كل من أبويه وإن علا، ثم الوصي وعلى مالك الرقيق أن يأمر (بها) أي الصلاة، ولو قضاء، وبجميع شروطها (لسبع) أي بعد سبع من السنين، أي عند تمامها، وإن ميز قبلها. وينبغي مع صيغة الامر التهديد. (ويضرب) ضربا غير مبرح وجوبا ممن ذكر (عليها) أي على تركها ولو قضاء أو ترك شرط من شروطها (لعشر) أي بعد استكمالها، للحديث الصحيح : مروا الصبي بالصلاة إذا بلغ سبع سنين، وإذا بلغ عشر سنين فاضربوه عليها.

Artinya, “Setiap orangtua dan orang yang menduduki posisinya seperti wali dan pemilik budak wajib memerintahkan anaknya untuk melaksanakan ibadah shalat, sekalipun pelaksanaannya dengan jalan qadha, dan dengan seluruh syarat-syaratnya ketika ia genap berumur tujuh tahun, sekalipun ia sudah mumayyiz (bisa membedakan yang baik dan buruk) sebelum itu. Anjuran di sini seyogianya disertai dengan kata perintah. Bahkan para orangtua tersebut dianjurkan (wajib) untuk memukul anak-anak itu dengan pukulan yang tidak menyakiti karena meninggalkannya ketika mereka sudah berumur genap sepuluh tahun berdasarkan hadis sahih, “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun. Pukullah mereka jika sudah berumur sepuluh tahun jika meninggalkannya.”

Sebagai aplikasi dari anjuran tersebut, kita kerap melihat di tengah-tengah masyarakat adanya sebagian orangtua yang membawa anak-anak mereka setiap kali melaksanakan shalat jamaah ke masjid.

Permasalahan tidak akan muncul jika anak yang bersangkutan telah berakal dan bersih baik badan maupun pakaiannya. Namun bagaimana kalau anak yang dibawa itu masih balita dan mengenakan pembalut (popok) yang mungkin saja mengandung kotoran. Pertanyaannya, apakah sah shalat orangtua yang seperti ini karena membawa najis dalam shalatnya?

Sudah dimaklumi bahwa di antara syarat sah shalat adalah suci anggota badan dari hadats (baik kecil maupun besar) dan najis. Termasuk dalam kategori ini juga tidak membawa sesuatu barang atau benda yang dilekati najis atau kotoran.

Adapun balita yang mengenakan popok, jika sudah dipastikan popoknya berisi kotoran dengan ditandai oleh bau yang menyengat ataupun kondisi popok yang sudah berat, maka seyogianya ia tidak dibawa shalat, karena hal tersebut bisa mengakibatkan shalat orangtua yang membawanya (menggendongnya) tidak sah karena dianggap tengah membawa najis.

Namun jika tidak diyakini atau dipastikan adanya najis di popok tersebut dengan bukti popoknya baru diganti dan popok yang masih ringan dan tidak terisi kotoran, maka hal tersebut tidaklah masalah sekalipun sebenarnya kemaluan anak tersebut dilekati najis yang tidak terlihat. Hal serupa juga pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika membawa Umamah, cucu perempuan beliau ketika shalat bersama kaum Muslimin. Seandainya shalat orang yang membawa anak tersebut otomatis dihukumi batal karena membawa najis, maka tentulah Nabi Muhammad SAW tidak akan menggendongnya ketika itu.

Hal ini dijelaskan oleh Syekh Said ibn Muhammad Al-Hadhrami As-Syafi’i dalam kitabnya Syarhul Muqaddimah Al-Hadhramiyyah atau terkenal Busyral Karim bi Syarhi Masa'ilit Ta’lim sebagai berikut.

أما حمل الحي فلا يضر إن لم يعلم نجاسة بظاهره، ولا نظر لنجاسة باطنه لحمله صلى الله عليه وسلم أمامه بنت بنته في الصلاة، إذ لا يترتب على نجاسة الباطن حكم حتى تتصل بالظاهر أو يتصل بها ما بعضه بالظاهر.

Artinya, “Adapun membawa orang yang hidup (anak-anak dalam shalat) maka tidak masalah jika tidak diketahui adanya najis secara nyata (terlihat). Begitu juga, tidak perlu diteliti keberadaan najis yang tidak terlihat karena mengikuti perbuatan Rasul yang membawa Umamah, cucu perempuan beliau sewaktu melaksanakan shalat. Karena, najis yang tidak terlihat tersebut tidak mempunyai hukum apa-apa hingga ia menempel pada bagian tubuh yang tampak atau menempel pada bagian yang tampak zahir lainnya (seperti pakaian dan lain-lain).”

Dengan demikian, sebagai orangtua, kita harus pintar-pintar dalam mengajari anak khususnya untuk shalat jamaah di masjid. Jika popoknya terasa berat dan berisi kotoran, sebaiknya jangan dibawa karena hal tersebut berpotensi membatalkan shalat kita sendiri dan sekaligus menganggu orang lain yang kebetulan berada berdekatan dengan kita.

Namun jika popoknya baru diganti dan diyakini kalau sang anak tersebut belum buang air di sana, maka tidak ada masalah. Wallahu a’lam. (Yunal Isra)

Jumat 18 Maret 2016 1:4 WIB
Hukum Pakai Celana Panjang hingga Menjulur di Lantai (Isbal) dan Kotor
Hukum Pakai Celana Panjang hingga Menjulur di Lantai (Isbal) dan Kotor
Memastikan kesucian pakaian ketika mengerjakan shalat adalah keniscayaan. Terlebih lagi, kesucian menjadi salah satu syarat sah shalat baik suci jasmani maupun pakaian. Mensucikan jasmani dengan cara mandi bagi orang junub (hadats besar) dan berwudhu untuk hadats kecil. Sementara mensucikan pakaian ialah dengan cara mencuci dan membersihkannya dari setiap najis yang menempel padanya.

Namun perlu diketahui bahwa belum tentu setiap kotoran adalah najis. Misalnya, baju terkena tanah atau keringat, menurut lahirnya baju terkena tanah itu disebut kotor. Tetapi ia tidak dinamakan najis dan sah dibawa shalat sesuai pandangan syariat.

Terdapat perbedaan ulama bila tanah tersebut bercampur najis terutama bagi yang menggunakan celana panjang. Mari kita simak bagaimana penjelasan Wahbah Az-Zuhayli terkait masalah ini dalam Fiqhul Islam wa Adillatuhu.

تكرار المشي في الثوب الطويل الذي يمس الأرض النجسة والطاهرة: يطهر الثوب، لأن الأرض يطهر بعضها بعضاً، بدليل حديث أم سلمة: أنها قالت: «إني امرأة أطيل ذيلي، أمشي في المكان القذر، فقال لها رسول الله صلّى الله عليه وسلم: يطهره ما بعده» ويتفق المالكية والحنابلة مع الحنفية في ذلك، وأقره الشافعي بما جرى على يابس، وقيده الحنابلة بيسير النجاسة، وإلا وجب غسله

Artinya, “Apabila pejalan kaki menggunakan celana panjang dan ujungnya menjulur ke tanah yang suci dan najis, maka pakaiannya masih dianggap suci, karena tanah dapat mensucikan sebagiannya. Dalilnya ialah hadits Ummu Salamah RA yang pernah bertanya kepada Nabi, ‘Ujung celana saya panjang (menjulur ke tanah) dan saya pernah melewati tempat yang kotor.’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Kotoran itu akan disucikan oleh tanah yang bersih setelahnya.’ Ulama madzhab Maliki, Hanbali, dan Hanafiyah sepakat dengan hal ini. Sementara As-Syafi’i membatasi makna hadis ini pada tanah yang kering saja. Madzhab Hanbali mensyaratkan najisnya sedikit dan mesti dicuci bila banyak.”

Bagi siapa yang suka menggunakan celana panjang dan ujung celananya kotor karena tanah, pendapat-pendapat di atas dapat dijadikan pertimbangan.

Seandainya tidak memiliki sarung untuk shalat atau tidak ada lagi celana bersih yang dapat dijadikan gantinya, pendapat madzhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali bisa dijadikan dalil.

Kendati demikian, selagi masih mungkin menggunakan sarung atau celana bersih, gunakanlah dalam rangka ihtiyath (kehati-hatian). Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Selasa 13 Mei 2014 8:0 WIB
Hakikat Azan, Bersuci dan Menutup Aurat
Hakikat Azan, Bersuci dan Menutup Aurat
Ilustrasi (amnh.org)

Di antara rahasia shalat adalah mengetahui hikmah dan tatacara memberlakukan diri ketika telinga mendengar adzan. Adzan seharusnya menjadi tanda panggil dari Yang Maha Kuasa, hati yang baik akan merasa terpanggil untuk menyambutnya.

Tentunya dengan perasaan yang penuh gembira dan kebahagiaan, bukan dengan perasaan yang memberatkan. Adzan ibarat panggilan dari sang kekasih yang lama telah dirindukan. Sesungguhnya mereka yang bersegera menjawab panggilan ini nanti di hari akhir akan dipanggil dengan lembut oleh Allah swt.

Adapun bersuci yang dalam fiqih disebut dengan thaharah sesungguhnya merupakan thaharah dhahiriyah yang meliputi suci badan, suci pakaian dan suci tempat shalat yang dipergunakan. Ketika thaharah secara fiqihy ini telah dipenuhi, maka usahakanlah thaharah dalam hati. Thaharah dalam hati ini berarti mensucikan diri dari segenap dosa dengan bertaubat mengakui kesalahan dan memohon ampunan atasnya. Dalam shalat hati seharus suci dan bersih, karena hatilah ruang bagi pandangan Dzat Yang Disembah.

Selanjutnya menutup aurat yaitu menutup kejelekan-kejelekan diri dari pandangan-pandangan makhluk, karena jasad badaniah ini menjadi objek pandangan mereka. Sedangkan bagi Allah swt tidak ada satupun yang tertutup bagi-Nya Yang Maha Tahu. Maka bukalah aurat batin karena serapi apapun hati disembunyikan Allah Maha Tahu.

Setelah itu bersegeralah bangunkan perasaan menyesal, malu dan takut kepada-Nya sebagai wahana melahirkan kerendahan dan ketenangan hati. Jika sudah demikian maka shalat akan didirikan dengan wajah tertunduk dengan perasaan tawadhu. Merasa diri lemah, tak berdaya dan penuh dosa di hadapan Yang Maha perkasa. (Red. Ulil Hadrawi)