Home Khutbah Hikmah Ekonomi Syariah Bathsul Masail Ubudiyah Fiqih Difabel Warisan Zakat Nikah Video Foto Download

Memahami Cara Ulama Menghafalkan Ratusan Ribu Hadits

Memahami Cara Ulama Menghafalkan Ratusan Ribu Hadits
Saat tradisi lisan masih populer dibanding tradisi teks kitab atau tulisan, menghafal ratusan ribu data adalah fenomena yang sangat mungkin. (Ilustrasi: msf.online.com)
Saat tradisi lisan masih populer dibanding tradisi teks kitab atau tulisan, menghafal ratusan ribu data adalah fenomena yang sangat mungkin. (Ilustrasi: msf.online.com)

Para pengkaji hadits dan ilmu keislaman lain mungkin sering dengar kisah bahwa ada kalangan imam atau ulama yang mampu hafal ribuan hadits, sanad dan matannya. Beberapa muhadditsin bahkan tercatat hafal lebih dari 100.000 hadits. Imam al-Bukhari, dikisahkan telah menghafal tak kurang dari 600.000 hadits di usia yang relatif muda. Belum lagi ulama era klasik lainnya. 


Agak musykil mendengar bahwa ada orang yang mampu hafal ratusan ribu hadits, sanad dan matannya. Bagi nalar kebanyakan orang sekarang – atau mungkin penulis secara pribadi – hal semacam itu adalah kecerdasan yang luar biasa. Bagaimana mungkin ada satu orang yang dapat menghafal sekian banyak hadits?


Tentu jawaban yang akan sering kita dapat adalah: berkat ketekunan, kecerdasan, juga akibat kebersihan hati, tirakat serta perilaku para ulama tersebut, sehingga dapat mencerap semua hafalan hadits. Dus, semua orang juga mengakui bahwa kualitas orang sekarang akan sangat susah menyamai ulama di masa lampau.


Tapi jawaban itu tidak cukup. Kritik yang cukup tajam dari adalah bagaimana mungkin seseorang memiliki ingatan yang demikian presisi, tanpa cela? Apakah itu hanya klaim saja? Itulah wujud skeptis atas otoritas dan keaslian sumber-sumber hadits. Mudah sekali diasumsikan bahwa dari sekian ratus ribu hafalan itu, ada yang dikarang belaka, dan ada yang sudah terdistorsi jauh sekali dari keterangan riwayat yang sebenarnya.


Patutlah kita mencari alasan yang lebih rasional soal kemampuan para ulama ini menghafal ribuan hadits. Soal kualitas kepribadian dan akhlak, tentu hal ini merupakan kelebihan di masa itu yang sukar terbantahkan. Sekurang-kurangnya, ada dua faktor yang menunjang kemampuan hafalan itu: eksisnya tradisi lisan dalam periwayatan, serta proses pencatatan dan penyampaian hadits dalam suatu sanad. Keterangan berikut disarikan dari catatan Syekh Mustafa Al Azami, ulama hadits dari Hyderabad, India – salah satu guru KH Ali Mustafa Yaqub –  dalam bukunya Studies In Hadith Methodology and Literature.


Banyak ulama membuat klasifikasi gelar para ahli hadits berdasarkan jumlah hafalan dan keilmuan haditsnya. Ada yang disebut musnid, muhaddits, al-hafizh, al-hakim, hingga amirul mu’minin fil hadits. Klasifikasi ahli hadits berdasarkan kepakaran dan jumlah hafalan itu seperti misalnya dicantumkan oleh Imam as-Suyuthi dalam Tadribur Rawi.


Diketahui bahwa relasi dalam sanad hadits adalah relasi guru dan murid. Jika Anda menengok kitab-kitab biografi perawi atau sering disebut kitab rijalul hadits, mudah sekali ditemui terutama pada tokoh-tokoh kesohor daftar murid dan guru seorang perawi. Terlebih, bagi sosok-sosok yang dinilai sebagai amirul mu’minin fil hadits atau madarul sanad (perawi yang banyak sekali sanad berasal darinya).


Dalam bidang hadits dikenal ulama yang sering dirujuk, seperti Ibnu Syihab az-Zuhri atau Sufyan ats-Tsauri. Tak terbilang berapa banyak orang yang menjadi muridnya, baik sekadar hadir menyimak lantas meriwayatkan darinya, atau membuat catatan yang nantinya menjadi perangkat periwayatan.


Pada era pasca penulisan kitab shahih atau sunan, tradisi lisan lebih umum di kalangan perawi. Meski tradisi kitab hadits belum umum, namun banyak murid ulama ini menulis catatan hadits pribadi dalam bentuk shahifah atau risalah-risalah kecil tentang kumpulan hadits yang dinisbatkan ke sosok salah seorang perawi. Kitab ini mungkin banyak yang tak sampai ke masa kita, akibat minimnya kebutuhan dan di masa kemudian, kontennya terserap dalam kutipan kitab-kitab hadits setelahnya pasca era kanonisasi.

 


Semakin banyak murid, dari seorang guru, meniscayakan lebih banyak sanad. Dalam beberapa hadits yang mirip dalam beragam kitab, nama-nama di generasi perawi tertentu akan sama dengan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa sang penyusun kitab hadits mengambil sanad dari beragam orang, namun di generasi yang lebih atas para perawi ini mengambil dari guru yang sama.


Setiap sanad cenderung akan “menggurita” lewat banyak murid, dan mengingat kapasitas tiap manusia berbeda untuk ingat secara presisi, maka pasti ada perubahan dari redaksi riwayatnya. Karena itu para ulama hadits memperkenankan mekanisme yang disebut riwayat bil ma’na, selama tidak mengubah makna. Tapi guna mencegah kerancuan antar riwayat dalam sanad yang berbeda, para muhadditsin menetapkan bahwa satu sanad – meskipun di generasi-generasi perawi yang lebih atas ada guru yang sama– maka ia dihitung satu hadits.


Misalkan hadits populer tentang ruqyah. Tentang tema “rukhsah fi ruqyah” saja, perawi hadits di tingkatan sahabat ini banyak: Buraydah, Anas bin Malik, Aisyah, Jabir bin Abdillah, Thalq bin Ali, serta Amru bin Hazm. Bayangkan jika setiap sahabat itu meriwayatkan hadits kepada muridnya, dan setiap murid ada puluhan bahkan ratusan murid lainnya. Jadi dari satu hadits dari sahabat saja, sangat mungkin tercatat puluhan bahkan ratusan hadits lainnya karena perbedaan sanad.


Nah, para ulama hadits ini selain mampu dan tekun menghafal hadits yang ada, mereka juga cermat memilah sanad dan mengidentifikasi perbedaan riwayat matan dari tiap-tiap sanad, yang tentu menjadikan haditsnya juga dihafal.


Ribuan hadits yang tercatat dalam Shahih al Bukhari maupun Shahih Muslim terbatas sesuai kriteria penyusunan kitab yang dipakai. Sangat mungkin percabangan sanad hadits itu masih ada di kitab-kitab lainnya – yang masing-masingnya dihitung satu hadits. Ribuan hadits yang ada dalam kitab rujukan hadits, catat Syekh Azami, bisa saja bercabang dalam puluhan atau bahkan ratusan ribu hadits. 


Mungkin kita pernah dengar ketika suatu waktu Imam al-Bukhari diuji hafalan haditsnya oleh sebagian ulama, dan beliau tak menjawab. Pasca-tes itu, ia memaparkan perihal riwayat hadits yang ada secara lebih akurat, dan tak lupa, meluruskan sanad-sanad hadits yang ada. Tanpa hafalan hadits yang kuat, serta pemahaman sanad yang cermat, menghafal banyak hadits agaknya adalah hal yang musykil.


Demikianlah, terlepas dari ketekunan, kapasitas intelektual serta juga keramat para ulama hadits ini, memahami banyaknya hafalan hadits para ulama ini akibat kemampuan mereka tidak hanya menghafal matan hadits, tapi juga pengetahuan tentang sanadnya. Para ulama ini mampu mengidentifikasi perbedaan riwayat tiap perawi, dan menelusurinya dalam rantai masing-masing – yang tiap rantainya dihitung satu hadits. 


Jadi dari pertanyaan di awal: bagaimana mungkin para ulama hadits ini menghafal puluhan ribu bahkan ratusan ribu hadits? Pernyataan itu mungkin tidak presisi jumlahnya, tapi menghafal hadits dengan jumlah sak arat-arat – khususnya ketika tradisi lisan masih populer dibanding tradisi teks kitab atau tulisan, ia memungkinkan dan masuk akal. Wallahu a’lam.

 

Muhammad Iqbal Syauqi, alumnus Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences; mahasiswa Profesi Dokter UIN Jakarta
 

BNI Mobile