IMG-LOGO
Hikmah

Ketika Mualaf Lupa Kalimat Talbiyah saat Haji

Sabtu 26 Agustus 2017 15:0 WIB
Share:
Ketika Mualaf Lupa Kalimat Talbiyah saat Haji
Ilustrasi (GettyImages)
Suatu ketika, Kiai Basyirun Salatiga menuntun syahadat mantan pastur dari salah satu gereja di Kota Salatiga Jawa Tengah. Belum genap satu tahun ia dinyatakan sebagai Muslim, Kiai Basyirun sudah memintanya untuk daftar inden ibadah haji, berangkat ke Tanah Suci.Tanpa banyak bertanya, ia pun segera melaksanakan perintah sang kiai.

Waktu terus berjalan hingga akhirnya penantian untuk melakukan ibadah haji pun mulai dekat. Namun, cepatnya waktu yang bergulir tak senada dengan kecepatannya dalam memahami khazanah keislaman. Hal itu tentu membuat hatinya sedikit ciut seiring dengan semakin dekatnya keberangkatan ke Tanah Suci. Ia kemudian memutuskan untuk sowan ke tempat sang kiai, sekaligus meminta solusi mengenai permasalahannya yang mengusik hati.

"Sudahlah, tak usah khawatir. Yang terpenting kuncinya adalah qana'ah. Terima terhadap apa-apa yang terjadi nanti di Tanah Suci," tegas Kiai Basyirun setelah mendengar keluh kesah muallaf tersebut.

Sebagai murid, ia hanya mengiyakan apa yang dikatakan guru spiritualnya. Berbekal ilmu agama yang tak seberapa, ia mulai meyakinkan hati kecilnya dan berangkat beribadah untuk menyempurnakan rukun agama.

Syahdan, keriuhan Masjidil Haram saat musim haji membuat hatinya semakin tak keruan. Bagaimana tidak, seumur umur, baru kali pertama ini ia melihat begitu banyaknya manusia yang berjuta jumlahnya berkumpul dalam satu tempat dengan satu tujuan pula. Ya, untuk melakukan rukun Islam yang kelima.

Hal itu membuatnya lupa akan satu doa yang justru harus sering dikumandangkan. Ia terlupa kalimat talbiyah. Meskipun saat itu seluruh jamaah haji dari berbagai dunia melantunkannya, yang ia dengar hanyalah suara gemuruh tak jelas dari mana arahnya.

Menyadari hal itu, ia hanya dapat pasrah sembari menunggu ilham dari Allah subhanahu wa ta'ala. Ia kemudian teringat akan pesan kiainya agar tetap terima dengan lapang dada, mengenai apa-apa yang terjadi ketika berhaji.

Di tengah jutaan manusia yang berjubel kemudian ia berdoa.

"Ya Allah, hamba pasrahkan semuanya kepadamu..." rintih muallaf mantan pastur tersebut.

Tiba-tiba, suara gemuruh tersebut menuntun lisannya tidak untuk melafalkan kalimat talbiyah:

لَبَّيْكَ الّلهُمَّ لَبَّيْك

Bukan, Bukanlah kalimat tersebut. Melainkan, gemuruh tersebut seakan membisikkan sebuah kalimat berbahasa Indonesia. Tanpa pikir panjang, ia pun menirukan apa yang ia dengar di tengah keriuhan Masjidil Haram. Dengan terbata ia berkata:

"Lama-lama baik... Lama-lama baik..." serunya menirukan bisikan tak jelas tersebut.

Meskipun ia mengetahui bahwa bukan ini talbiyah yang ia maksud. Namun bermodal kemantapan hati, ia kembali menyerukan kalimat tersebut dengan keyakinan bahwa inilah doa yang diilhamkan oleh Allah subhanahu wata'ala kepadanya.

Dan benar, ternyata kalimat yang diucapkannya berulang kali tersebut menurut Kiai Basyirun terkabul. Terbukti, setelah pulang berhaji keimanan muallaf tersebut semakin membaik lama kelamaan. (Ulin Nuha Karim)


Kisah ini bersumber langsung dari Kiai Basyirun Salatiga, disampaikan dalam acara Walimatus Safar lil Haj KH Muhammad Shofi Al Mubarok di kompleks Ponpes Sirojuth Tholibin Brabo Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah.

Share:
Sabtu 26 Agustus 2017 6:0 WIB
Ketika Rasulullah Dikhianati Sekelompok Mualaf
Ketika Rasulullah Dikhianati Sekelompok Mualaf
Anas bin Malik pernah bercerita kepada Abu Qilabah bahwa suatu hari ada beberapa orang dari Urainah menghadap Rasulullah untuk mengutarakan niat sucinya masuk Islam. Mereka ingin belajar lebih banyak tentang Islam kepada Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Nabi pun dengan sukarela menerimanya, bahkan memberi mereka fasilitas ketika tinggal di Madinah.

Sebagai seorang rasul, kasih sayangnya kepada orang-orang yang baru beriman (mualaf) adalah sebuah keniscayaan. Hal itu menjadi bagian dari dakwah nabi yang santun dan ramah.

Suatu ketika beberapa orang dari Urainah ini tidak mampu beradaptasi dengan suhu dan udara yang ada di Madinah. Ternyata kondisi kampung halaman mereka dengan Madinah sangat berbeda jauh. Kesehatan mereka pun terganggu.

Ketidakmampuan mereka untuk beradaptasi dengan suhu di Madinah menjadikan mereka terkena penyakit cacar. Rasulullah yang iba melihat kondisi mereka memerintahkan kepada penggembala untanya untuk membawa mereka keluar kota Madinah.

Nabi pun tidak serta merta membiarkan mereka keluar kota Madinah dengan tangan kosong. Nabi memberikan bekal yang lebih dari cukup bagi mereka. Nabi membawakan mereka unta yang banyak perahan susunya. Nabi berharap agar unta itu bermanfaat. Mereka bisa meminum susunya dan memakan daginya.

Ternyata benar, ketika mereka keluar dari Madinah, seketika penyakit mereka sembuh. Merasa nyaman dengan keadaan mereka di luar kota Madinah, mereka enggan untuk kembali ke Madinah.

Hal yang tak terduga terjadi. Mereka malah membunuh penggembala unta yang diberi amanah oleh Nabi untuk menjaga mereka. Tak hanya itu, mereka membawa kabur unta-unta Nabi yang telah berjasa besar menyelamatkan mereka.

Kabar tidak enak tentang kejahatan mereka pun sampai ke telinga Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam. Beliau marah besar setelah mendengar kejahatan mereka. Rasulullah kemudian mengutus seorang sahabat untuk menangkap mereka yang ternyata masih belum jauh dari tempat terbunuhnya sang penggembala unta.

Mereka dijatuhi hukuman yang setimpal oleh Nabi atas kejahatan berlapis: membunuh, mengambil sesuatu yang bukan hak milik mereka, bahkan mereka telah murtad. Namun hukuman itu dirasa sangat kejam bagi mereka, karena pada waktu itu ayat-ayat hudud (hukuman) belum turun kepada Nabi. Setidaknya, hal itu adalah hukuman untuk orang-orang yang menghianati Rasulullah setelah ditolong dan diselamatkan nyawanya namun malah mengkhianati.

Kisah tersebut setidaknya mengungkapkan dua pesan. Pertama belas kasih dan kepedulian Rasulullah kepada umatnya begitu besar. Hingga hal-hal teknis yang menyangkut kemudahan bagi para mualaf itu pun sangat beliau perhatikan.

Kedua, pengkhianatan bisa menimpa siapa saja, bahkan seorang rasul dengan perangai tanpa cacat sekalipun. Kenyamanan dan fasilitas kadang tak membuat seseorang kian baik, bisa malah sebaliknya ketika hatinya dikuasai keserakahan dan ketidakjujuran. Wallahu a’lam. (M. Alvin Nur Choironi)


Jumat 25 Agustus 2017 15:0 WIB
Kisah Doa Umat Nabi Musa yang Tak Terkabulkan
Kisah Doa Umat Nabi Musa yang Tak Terkabulkan
Suatu ketika Nabi Musa melihat seorang lelaki dari umatnya yang sedang merintih dan berdoa. Ia terlihat begitu khusyuk dan mengiba kepada Allah yang maha kuasa. Melihat lelaki tersebut, sang nabi merasa iba hingga berkata:

يا ربي لو كانت حاجته بيدي لقضيتها

“Wahai Tuhanku andai saja aku berkuasa memenuhi permintaanya. Tentu akan kukabulkan,” gumam Nabi Musa.

Tak selang berapa lama, kemudian Allah mewahyukan sebuah kabar yang mengejutkan. Wahyu tersebut berkata:

يا موسى إن له غنما و إن قلبه عند غنمه و أنا لا أستجيب دعاء عبد يدعوني و قلبه عند غيري

“Wahai Musa, sesungguhnya ia memiliki  seekor kambing. Dan Sungguh, (ketika berdoa) hatinya terpaku terhadap kambingnya. Dan Aku (Allah) tidak akan mengabulkan doa seorang hamba yang meminta kepadaku, sedang hatinya terpaku pada selain diri-Ku.”

Betapa Allah maha mengetahui segala sesuatu. Ya, lelaki yang dipandang Nabi Musa telah berdoa dengan setulus hati dan sepenuh jiwa. Ternyata di mata Allah ia tak ada apa-apanya. Karena memang dalam hatinya, terpaut akan perkara dunia berupa kambing yang ia miliki. Maka, atas dasar itulah doanya tak dikabulkan oleh Allah subhanahu wata’ala.

Kemudian setelah menerima wahyu tersebut, Nabi Musa segera mengabarkannya kepada lelaki tersebut. Maka bergegaslah lelaki itu untuk kemudian melupakan seluruh perkara duniawi dan kemudian berdoa kepada Allah dengan sepenuh jiwa. Hingga akhirnya Allah pun mengabulkan doa hamba tersebut.

Lewat kisah tersebut, betapa berharga pelajaran yang kita dapat. Kesungguhan berdoa baik dari segi lahir maupun batin sagat penting sebagai modal utama demi tercapainya doa. Karena sekali lagi ditegaskan, Allah tidak akan mengabulkan doa seorang hamba sedang hatinya terpaku kepada selainNya. Semoga kita selalu diberi kekuatan dalam meraih khusyuk saat berdoa. (Ulin Nuha Karim)


Kisah ini disarikan dari kitab Risalah Nawadirul Hikayah karya Syaikh Ahmad Syihabuddin bin Salamah Al Qulyubi halaman 21.

Jumat 25 Agustus 2017 8:35 WIB
Mbah Ngis dan Tanda-tanda Kehebatan Menurut Imam Syafi’i
Mbah Ngis dan Tanda-tanda Kehebatan Menurut Imam Syafi’i
Guratan wajah atau air muka merupakan ekspresi seseorang paling jujur, kecuali jika ia memang sedang berpura-pura seperti karena tuntutan peran dalam sebuah pertunjukan drama,  atau memang ada maksud tertentu bersifat spiritual. Ekspresi seseorang yang paling dapat dipercaya sebenarnya adalah pada saat sendirian, atau pada saat sedang tidur. Pada diri Mbah Ngismatun Sakdullah Solo (wafat 1994)—biasa dipanggil Mbah Ngis—ekspresi wajah yang benar-benar  mencerminkan suasana batinnya adalah pada saat sendirian.

Mbah Ngis ketika sedang sendirian guratan wajahnya sangat tampak. Kehidupan yang dijalaninya  memang berat sehingga wajahnya kadang menampakkan keseriusan yang mendalam. Maklum, Mbah Ngis memiliki 13 anak dengan ekonomi lemah. Tapi wajah serius itu hanya tampak ketika Mbah Ngis yakin tak ada orang lain di sekitarnya. Begitu disadarinya ada kehadiran orang lain dengan serta merta Mbah Ngis menampakkan wajah  “sumringah” dengan senyum merekah.  

Imam Syafi’I dalam kitab Manaqib Imam Syafi’i, karya Al-Baihaqi (2/188), menyatakan bahwa ada tiga tanda  yang menunjukkan bahwa seseorang adalah sosok yang hebat. Tanda pertama adalah kemampuannya menyembunyikan kefakiran, sehingga orang lain mengira orang itu berkecukupan karena tidak pernah meminta. Imam Syafi’i menyatakan:

كتمان الفقر حتى يظن الناس من عفتك أنك غني

Artinya:“Kemampuan menyembunyikan kemelaratan, sehingga orang lain menyangkamu berkecukupan karena kamu tidak pernah meminta.”

Kemampuan tersebut dimiliki Mbah Ngis dengan baik. Hal ini tampak dari sikap Mbah Ngis yang tidak suka meminta kepada siapa-siapa meski Mbah Ngis bukan orang berpunya.  Mbah Ngis hanyalah seorang pedagang kecil sekecil modal yang dimilikinya; pun sekecil warung tempat Mbah Ngis berjualan. Justru yang menonjol dari Mbah Ngis adalah hal yang sebaliknya, yakni bersedekah terutama kepada orang-orang lemah yang membutuhkan.  

Setiap kali dalam kesulitan keuangan, Mbah Ngis tidak pernah meminta-minta kepada siapa pun. Dalam keadaan mendesak, Mbah Ngis meminjam uang kepada pihak-pihak tertentu yang mampu meminjami seperti  bendahara arisan di mana Mbah Ngis bergabung sebagai anggota, atau kepada saudara dekat yang berpunya. Kepada anak-anak Mbak Ngis yang sudah bekerja, Mbah Ngis juga tidak pernah meminta uang, tetapi meminjam secukupnya dan selalu berusaha mengembalikannya.     

Tanda kedua adalah kemampuannya menyembunyikan kesusahannya sehingga orang lain mengira ia selalu senang. Imam Syafi’i menyatakan:

وكتمان الشدة حتى يظن الناس أنك متنعم

Artinya: “Kemampuan menyembunyikan kesusahan, sehingga orang lain mengiramu selalu senang.”

Kemampuan seperti itu juga dimiliki Mbah Ngis. Banyak orang mengenal Mbah Ngis sebagai perempuan yang ramah dan ceria. Mbah Ngis memang tidak suka memperlihatkan kesedihan kepada sesama manusia, tetapi lebih suka mengadukan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya kepada Allah SWT.  Mbah Ngis dapat bermunajat atau berkeluh kesah kepada Sang Pencipta kapan saja menginginkannya terutama ketika di sekitarnya tak ada seorangpun.

Kepada sesama manusia Mbah Ngis lebih suka berbagi kebahagiaan sehingga suka bersenyum dan bersedekah seperti kepada para santri dengan apa yang telah ada di tangannya seperti tahu, tempe, atau bakwan dan uang seadanya untuk para pengemis yang memintanya. Mbah Ngis memang orang kecil sekecil peranannya di komunitas pesantren dimana Mbah Ngis tinggal. Mbah Ngis tidak pernah berpikir kaya dulu baru kemudian berderma.

Tanda ketiga adalah kemampuannya menyembunyikan amarah, sehingga orang lain mengira ia ridha. Imam Syafi’i menyatakan:

وكتمان الغضب حتى يظن الناس أنك راض

Artinya:“Kemampuan menyembunyikan amarah, sehingga orang mengiramu merasa ridha

Kemampuan ketiga tersebut juga dimiliki Mbah Ngis dengan baik. Mbah Ngis dikenal sebagai wanita yang sangat sabar dan jarang marah. Mbah Ngis pernah dilabrak seorang perempuan yang datang ke rumah Mbah Ngis dengan marah-marah, padahal Mbah Ngis tidak bersalah. Mbah Ngis tidak membalas kemarahan itu. Malah sebaliknya Mbah Ngis menasihatinya baik-baik.

Selain itu, Mbah Ngis selalu dapat menahan kemarahannya setiap kali melihat ada orang  mengambil barang  dagangannya tanpa bayar. Mbah Ngis hanya berusaha mengingat orang itu. Sewaktu-waktu ketika sepi tak ada orang lain Mbah Ngis dapat menasehatinya agar tidak lagi mengulang perbuatannya. Dipilihnya saat sepi karena Mbah Ngis tidak ingin mempermalukan anak atau orang tersebut di hadapan orang banyak.

Begitulah Mbah Ngis yang mampu menyembunyikan tiga hal yang meliputi kefakiran, kesusahan dan kemarahan. Dengan kemampuan seperti itu Mbah Ngis dikenang oleh saduara-saudara dan teman-temannya sebagai perempuan bukan biasa. Imam Syafi’i mengakui siapapun yang memiliki ketiga kemampuan diatas adalah orang-orang hebat. Dan tentu saja  pantas  diteladani.


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Univeristas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta