IMG-LOGO
Trending Now:
Hikmah

Kisah Pengamal Shalawat yang Dimudahkan Naik Haji

Rabu 30 Agustus 2017 13:30 WIB
Share:
Kisah Pengamal Shalawat yang Dimudahkan Naik Haji
Ada keinginan yang sangat kuat untuk menunaikan ibadah haji pada pasangan Yazid, salah seorang warga Todipan, Solo, Jawa Tengah. Untuk meraih mimpinya ini, Yazid berusaha menjual tanah yang ia miliki sebagai sarana untuk membayar ongkos naik haji (ONH).

Berbagai macam usaha telah ia tempuh, namun belum kunjung berhasil. Tanah yang ia tawarkan kesana kemari belum kunjung laku. Sehingga timbul inisiatif, ia berniat ingin menawarkan tanahnya kepada KH Abdul Muid Ahmad, Pesantren Al Muayyad, Mangkuyudan, Solo.

Sebetulnya, tanah yang ditawarkan Yazid tidak begitu mahal. Ia hanya butuh uang 70 juta. Sejumlah uang yang sekira cukup untuk membayar ONH dirinya sendiri bersama istri tercinta.

Meski hanya ditawarkan di angka 70 juta, karena Kiai Muid waktu itu sedang banyak kebutuhan, termasuk di antaranya juga ingin membayarkan biaya haji anaknya sendiri, Kiai Muid tidak bisa mengabulkan penawaran Yazid.

Karena keinginan Yazid yang tampak kuat untuk menunaikan ibadah haji, Kiai Muid kemudian memberikan amalan supaya Yazid dan istri mengamalkan bacaan shalawat yang telah diterima sanadnya dari KH Ahmad Baedlowie Syamsuri, Brabo, Grobogan, dengan syarat shalawat ini dibaca satu kali setiap habis shalat Isya’ dan dibaca 40 kali setiap malam Jum’at.

Shalawat itu sebagai berikut:
 
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُبَلِّغُنَا بِهَا حَجَّ بَيْتِكَ الْحَرَامِ، وَزِيَارَةَ حَبِيْبِكَ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ اَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَالسَّلاَمِ، فِي صِحَّةٍ وَعَافِيَةٍ وَبُلُوْغِ الْمَرَامِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.

Sepulang Yazid dari Kiai Muid, ia lalu ditanya oleh sang Ibunda, “Dari mana tadi, Zid?”

“Ini Bu, dari sowan Mbah Muid, mau jual tanah tapi beliau nggak bisa bantu. Aku dikasih amalan shalawat haji,” begitu kira-kira sahut Yazid.

“Oh.... , lha apa coba aku ikut mengamalkan, barangkali bisa ikut membantu kamu?”

Yazid kemudia turut memberikan. Hingga, ijazah shalawat tersebut diamalkan oleh Yazid, istrinya beserta Sang Ibunda. Justru ibunya yang tidak langsung mendapat ijazah dari Kiai Muid langsung ini, malah yang paling rajin mengamalkan dari pada Yazid sendiri yang tak begitu rajin.

Tidak sampai jeda waktu yang lama, setelah mereka mengamalkan shalawat, Yazid ditakdirkan Allah bertemu dengan kakaknya yang berprofesi sebagai makelar tanah atau bisnis properti.

Ia meminta tolong kakaknya ini untuk dijualkan tanah dengan sebuah ikat janji bahwa yang dibutuhkan Yazid hanya uang 70 juta saja. Selebihnya ia tak mau tahu, silakan kalau mau ambil untung. Untung berapa pun di atas 70 juta, ia serahkan menjadi hak milik sang adik.

Tanah, yang semula ia tawarkan ke berbagai macam orang dengan patokan harga 70 juta tidak kunjung terjual itu sekarang berubah justru laku pada kisaran angka 100 juta melalui tangan kakaknya.

Sesuai dengan janji yang telah ia sampaikan, Yazid tidak berkenan menerima kelebihan dari harga yang ia butuhkan. Bagaimanapun pula, ia sudah mengikat janji. Begitu pula kakaknya, sebagai saudara, ia ikhlas tak menginginkan balasan apapun dalam hal ini. Ia hanya ingin membantu kelancaran cita-cita sang adik yaitu menunaikan rukun Islam ke-5 berupa ibadah haji.

Akhirnya uang sisa dari 70 juta yang ditolak masing-masing kedua belah pihak, oleh sang kakak  mengusulkan bagaimana kalau kelebihan uang 30 juta ini dibuat membiayai sang ibunda menunaikan ibadah haji sekalian. Sehingga akhirnya mereka telah mencapai kata sepakat.

Jadi, karena keberkahan shalawat itu setelah dibaca oleh orang tiga, ketiga orang itu pula dipanggil oleh Allah Ta'ala untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah.

Semoga mereka mabrur, kita mendapatkan barakahnya, amin. Wallahu a'lam. (Ahmad Mundzir)

Share:
Ahad 27 Agustus 2017 17:0 WIB
Kisah Pengalaman Anak Pendeta Wukuf di Arafah
Kisah Pengalaman Anak Pendeta Wukuf di Arafah
Foto: Malcolm X (nbcnews.com)
Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya bersabda:

عَرَفَةَ مَنْ جَاءَ لَيْلَةَ جَمْعٍ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ فَقَدْ أَدْرَكَ الْحَجَّ الْحَجُّ

Artinya: “Haji itu adalah Arafah (wukuf di Arafah) maka barang siapa yang datang sebelum shalat Subuh dari malam jama’ (malam Mudzdalifah yang mengumpulkan semua jamaah haji di sana) maka sempurnalah hajinya...” (HR Tirmizi, al-Nasa’i, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Maksud penggalan hadits tersebut adalah bahwa wukuf di Padang Arafah sedemikian penting melebihi pentingnya rukun-rukun haji lainnya, seperti thawaf mengelilingi Ka’bah di Masjidil Haram, sa’i dari Shafa ke Marwah, dan sebagainya. Seseorang tidak bisa disebut telah melaksanakan ibadah haji jika tidak melaksanakan wukuf ini. Maka mereka yang sakit pun harus datang ke Arafah untuk wukuf meski harus ditandu.

Selain itu, wukuf di Arafah merupakan pertemuan manusia terbesar di dunia yang berlangsung setiap tahun karena pada hari itu seluruh jamaah haji dari seluruh penjuru dunia berkonsentrasi di Arafah. Di Padang Arafah inilah mereka bertemu dan berdoa memohon ridha dan ampunan Allah SWT. Mereka bersimpuh di hadapan Allah dengan harapan-harapan yang sama meskipun mereka berbeda dalam warna kulit, ras, suku, dan bahasa. Di padang Arafah ini pula mereka berbaur menjadi satu dalam kebesaran Allah SWT.

Maka sejatinya esensi dari ibadah haji adalah kesamaan derajat diantara manusia yang disimbolkan dalam pakaian ihram yang tak terjahit. Sedangkan warna putih dari baju ihram itu sendiri menggambarkan kesucian mereka di hadapan Allah SWT. Oleh karena esensi ibadah haji adalah persamaan derajat, maka tidak mengherankan pengalaman spiritual ibadah haji bisa mengubah cara pandang seseorang. Sebagai contoh adalah Malcolm X yang semula sangat rasis kemudian berubah menjadi anti-rasis setelah mendapat pengalaman berharga dari wukuf di Padang Arafah.

Pengalaman tersebut meyakinkan Malcolm X bahwa semua orang adalah sama. Artinya setiap orang adalah setara. Mereka harus saling menghormati dan menghargai satu sama lain meskipun mungkin mereka berbeda dalam hal-hal duniawi, seperti status sosial, warna kulit, budaya, asal usul keturuan dan sebagainya. Hal yang membedakan diantara mereka hanyalah ketakwaan masing-masing kepada Allah SWT. Orang-orang yang telah melaksanakan ibadah haji diharapkan memiliki kesadaran tinggi akan makna kesetaraan ini. Tidak sebaiknya mereka justru lupa akan makna baju ihram yang pernah dipakainya.

Siapakah Malcolm X?

Malcolm X adalah seorang kulit hitam Amerika, anak seorang pendeta Kristen Baptis, yang kemudian memeluk Islam setelah bergabung dengan sebuah organisasi bernama The Nation of Islam. Ini terjadi setelah ia banyak berdiskusi dan membaca buku-buku Islam di balik jeruji besi. Ia dijebloskan ke penjara karena kasus perampokan yang dilakukannya pada tahun 1946 ketika berusia 20 tahun.

Di dalam penjara, ia sangat tertarik terhadap konsep-konsep ajaran Islam. Ia hidup di zaman rasisme Amerika yang berlangsung dari abad 17 hingga tahun 1964 dimana pada waktu itu orang-orang kulit hitam dilarang berbaur dengan orang-orang kulit putih. Mereka diperlakukan secara diskriminatif baik secara sosial, politik, budaya maupun ekonomi.

Sekeluarnya dari penjara pada tahun 1952, ia terus mendalami Islam dan tetap bergabung dengan The Nation of Islam. Organisasi ini terutama beranggotakan orang-orang Afro-Amerika Muslim yang berjuang untuk melepaskan diri dari Amerika Serikat dan berdiri sendiri sebagai negara yang terpisah. Di dalam organisasi ini ia terpilih menjadi juru bicara dan sering memberikan ceramah atau pidato dalam berbagai forum termasuk dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955.

Pengalaman Wukuf di Arafah


Pada tahun 1964, Malcolm X menunaikan ibadah haji di Makkah dan mendapatkan pengalaman yang sangat berharga sewaktu menjalankan wukuf di Arafah. Malcolm X adalah orang yang sangat benci kepada orang-orang kulit putih sebagai reaksi keras atas sikap diskriminatif mereka terhadap orang-orang kulit hitam. Namun, ia terbengong-bengong di Makkah ketika mendapati banyak orang yang sedang menunaikan ibadah haji ternyata berkulit putih, berambut pirang dan bermata biru.

Kenyataan tersebut sangat mengejutkan dirinya sebab di Amerika hal seperti ini tidak ia jumpai. Hal yang ia ketahui sebelum keberangkatnnya ke Tanah Suci adalah bahwa Islam itu bukan agama untuk orang-orang kulit putih, tetapi untuk mereka yang berkulit hitam seperti dirinya dan orang-orang berkulit warna seperti orang-orang Asia.

Puncak kebingungan Malcolm X yang kemudian memberinya pencerahan adalah ketika berwukuf di Padang Arafah di mana ia makan sepiring dengan orang-orang kulit putih. Ia minum dengan gelas yang sama dengan orang-orang kulit putih. Ia istirahat dan tidur sebantal dengan orang-orang kulit putih. Ia sholat berjamaah dengan orang-orang kulit putih. Ia berdoa bersama orang-orang kulit putih.

Orang-orang kulit putih yang ia jumpai sedang beribadah haji itu adalah orang-orang paling putih diantara yang putih. Mereka bermata paling biru diantara yang bermata biru. Mereka berrambut paling pirang diatara yang berambut pirang. Namun mereka semua beragama Islam.

Di sinilah di Padang Arafah Malcolm X menyadari bahwa apa yang ia pahami tentang Islam sebagaimana yang diajarkan di dalam The Nation of Islam belum atau tidak sesuai dengan Surat Al Hujurat ayat 13 sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan besuku-suku agar kalian saling mengenal.

Kata لتعارفوا dalam ayat di atas artinya “supaya saling mengenal”. Kata تعارفوا itu sendiri berasal dari akar kata عرف yang artinya mengenal. Disinilah ada hubungan yang jelas mengapa padang tempat wukuf itu disebut Padang Arafah, yakni karena di padang ini umat Islam seluruh dunia berkumpul menjadi satu pada hari dan tanggal yang sama untuk saling mengenal dengan cara berinteraksi satu sama lain.

Puncak wukuf di Arafah adalah khutbah wukuf. Dalam setiap khutbah wukuf, selalu diperdengarkan khutbah Rasulullah SAW yang pernah beliau sampaikan pada saat melaksanakan Haji Wada` sekitar tahun 10 Hijriyah. Diantara isi khutbah Rasulullah adalah sebagai berikut:

"Wahai manusia, Tuhanmu hanyalah satu dan asalmu juga satu. Kamu semua berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Keturunan, warna kulit, dan kebangsaan, tidak menyebabkan seseorang lebih baik dari yang lain. Orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling takwa. Orang Arab tidak lebih mulia dari yang bukan Arab, sebaliknya orang bukan Arab tidak lebih mulia dari orang Arab. Begitu pula orang berkulit terang dengan orang berkulit hitam; dan sebaliknya orang berkulit hitam dengan orang berkulit terang, kecuali karena takwanya kepada Allah.”

Isi khutbah Rasulullah SAW di atas menyadarkan Malcolm X bahwa Islam yang dia pahami dalam The Nation of Islam belum sesuai dengan Islam yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Islam ternyata adalah agama universal untuk seluruh bangsa tanpa memandang warna kulit. Maka sekembalinya Malcolm X ke Amerika Serikat dan berganti nama menjadi El-Hajj Malik El-Shabazz, ia menyatakan keluar dari organisasi itu dan mengikuti paham Islam Sunni.

Dikenang sebagai Tokoh Perdamaian

Keluarnya Malcolm X dari The Nation of Islam ternyata justru menaikkan reputasinya sebagai tokoh yang menyerukan persaudaraan diantara sesama manusia tanpa rasisme. Ketokohannya hampir menyaingi popularitas Presiden John F. Kennedey pada waktu itu. Ia tampil sebagai tokoh yang bisa diterima banyak kalangan termasuk mereka yang berkulit putih. Di kemudian hari ia mendapat pengakuan dari pemerintah Amerika Serikat sebagai tokoh perdamaian setelah berakhirnya politik rasisme di negara itu.

Nama Malcolm X pun diabadikan menjadi nama sebuah jalan di kota New York setelah ia tewas tertembus peluru pada tanggal 21 Pebrauri 1965 ketika sedang berpidato. Penembakan itu dilakukan oleh sebuah konspirasi politik yang tidak menginginkan reputasinya terus menanjak menyaingi tokoh-tokoh lainnya di Amerika Serikat, termasuk tokoh-tokoh dalam The Nation of Islam sendiri. Tokoh muda Muslim ini wafat dalam usia 39 tahun. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta
Sabtu 26 Agustus 2017 15:0 WIB
Ketika Mualaf Lupa Kalimat Talbiyah saat Haji
Ketika Mualaf Lupa Kalimat Talbiyah saat Haji
Ilustrasi (GettyImages)
Suatu ketika, Kiai Basyirun Salatiga menuntun syahadat mantan pastur dari salah satu gereja di Kota Salatiga Jawa Tengah. Belum genap satu tahun ia dinyatakan sebagai Muslim, Kiai Basyirun sudah memintanya untuk daftar inden ibadah haji, berangkat ke Tanah Suci.Tanpa banyak bertanya, ia pun segera melaksanakan perintah sang kiai.

Waktu terus berjalan hingga akhirnya penantian untuk melakukan ibadah haji pun mulai dekat. Namun, cepatnya waktu yang bergulir tak senada dengan kecepatannya dalam memahami khazanah keislaman. Hal itu tentu membuat hatinya sedikit ciut seiring dengan semakin dekatnya keberangkatan ke Tanah Suci. Ia kemudian memutuskan untuk sowan ke tempat sang kiai, sekaligus meminta solusi mengenai permasalahannya yang mengusik hati.

"Sudahlah, tak usah khawatir. Yang terpenting kuncinya adalah qana'ah. Terima terhadap apa-apa yang terjadi nanti di Tanah Suci," tegas Kiai Basyirun setelah mendengar keluh kesah muallaf tersebut.

Sebagai murid, ia hanya mengiyakan apa yang dikatakan guru spiritualnya. Berbekal ilmu agama yang tak seberapa, ia mulai meyakinkan hati kecilnya dan berangkat beribadah untuk menyempurnakan rukun agama.

Syahdan, keriuhan Masjidil Haram saat musim haji membuat hatinya semakin tak keruan. Bagaimana tidak, seumur umur, baru kali pertama ini ia melihat begitu banyaknya manusia yang berjuta jumlahnya berkumpul dalam satu tempat dengan satu tujuan pula. Ya, untuk melakukan rukun Islam yang kelima.

Hal itu membuatnya lupa akan satu doa yang justru harus sering dikumandangkan. Ia terlupa kalimat talbiyah. Meskipun saat itu seluruh jamaah haji dari berbagai dunia melantunkannya, yang ia dengar hanyalah suara gemuruh tak jelas dari mana arahnya.

Menyadari hal itu, ia hanya dapat pasrah sembari menunggu ilham dari Allah subhanahu wa ta'ala. Ia kemudian teringat akan pesan kiainya agar tetap terima dengan lapang dada, mengenai apa-apa yang terjadi ketika berhaji.

Di tengah jutaan manusia yang berjubel kemudian ia berdoa.

"Ya Allah, hamba pasrahkan semuanya kepadamu..." rintih muallaf mantan pastur tersebut.

Tiba-tiba, suara gemuruh tersebut menuntun lisannya tidak untuk melafalkan kalimat talbiyah:

لَبَّيْكَ الّلهُمَّ لَبَّيْك

Bukan, Bukanlah kalimat tersebut. Melainkan, gemuruh tersebut seakan membisikkan sebuah kalimat berbahasa Indonesia. Tanpa pikir panjang, ia pun menirukan apa yang ia dengar di tengah keriuhan Masjidil Haram. Dengan terbata ia berkata:

"Lama-lama baik... Lama-lama baik..." serunya menirukan bisikan tak jelas tersebut.

Meskipun ia mengetahui bahwa bukan ini talbiyah yang ia maksud. Namun bermodal kemantapan hati, ia kembali menyerukan kalimat tersebut dengan keyakinan bahwa inilah doa yang diilhamkan oleh Allah subhanahu wata'ala kepadanya.

Dan benar, ternyata kalimat yang diucapkannya berulang kali tersebut menurut Kiai Basyirun terkabul. Terbukti, setelah pulang berhaji keimanan muallaf tersebut semakin membaik lama kelamaan. (Ulin Nuha Karim)


Kisah ini bersumber langsung dari Kiai Basyirun Salatiga, disampaikan dalam acara Walimatus Safar lil Haj KH Muhammad Shofi Al Mubarok di kompleks Ponpes Sirojuth Tholibin Brabo Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah.

Sabtu 26 Agustus 2017 6:0 WIB
Ketika Rasulullah Dikhianati Sekelompok Mualaf
Ketika Rasulullah Dikhianati Sekelompok Mualaf
Anas bin Malik pernah bercerita kepada Abu Qilabah bahwa suatu hari ada beberapa orang dari Urainah menghadap Rasulullah untuk mengutarakan niat sucinya masuk Islam. Mereka ingin belajar lebih banyak tentang Islam kepada Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Nabi pun dengan sukarela menerimanya, bahkan memberi mereka fasilitas ketika tinggal di Madinah.

Sebagai seorang rasul, kasih sayangnya kepada orang-orang yang baru beriman (mualaf) adalah sebuah keniscayaan. Hal itu menjadi bagian dari dakwah nabi yang santun dan ramah.

Suatu ketika beberapa orang dari Urainah ini tidak mampu beradaptasi dengan suhu dan udara yang ada di Madinah. Ternyata kondisi kampung halaman mereka dengan Madinah sangat berbeda jauh. Kesehatan mereka pun terganggu.

Ketidakmampuan mereka untuk beradaptasi dengan suhu di Madinah menjadikan mereka terkena penyakit cacar. Rasulullah yang iba melihat kondisi mereka memerintahkan kepada penggembala untanya untuk membawa mereka keluar kota Madinah.

Nabi pun tidak serta merta membiarkan mereka keluar kota Madinah dengan tangan kosong. Nabi memberikan bekal yang lebih dari cukup bagi mereka. Nabi membawakan mereka unta yang banyak perahan susunya. Nabi berharap agar unta itu bermanfaat. Mereka bisa meminum susunya dan memakan daginya.

Ternyata benar, ketika mereka keluar dari Madinah, seketika penyakit mereka sembuh. Merasa nyaman dengan keadaan mereka di luar kota Madinah, mereka enggan untuk kembali ke Madinah.

Hal yang tak terduga terjadi. Mereka malah membunuh penggembala unta yang diberi amanah oleh Nabi untuk menjaga mereka. Tak hanya itu, mereka membawa kabur unta-unta Nabi yang telah berjasa besar menyelamatkan mereka.

Kabar tidak enak tentang kejahatan mereka pun sampai ke telinga Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam. Beliau marah besar setelah mendengar kejahatan mereka. Rasulullah kemudian mengutus seorang sahabat untuk menangkap mereka yang ternyata masih belum jauh dari tempat terbunuhnya sang penggembala unta.

Mereka dijatuhi hukuman yang setimpal oleh Nabi atas kejahatan berlapis: membunuh, mengambil sesuatu yang bukan hak milik mereka, bahkan mereka telah murtad. Namun hukuman itu dirasa sangat kejam bagi mereka, karena pada waktu itu ayat-ayat hudud (hukuman) belum turun kepada Nabi. Setidaknya, hal itu adalah hukuman untuk orang-orang yang menghianati Rasulullah setelah ditolong dan diselamatkan nyawanya namun malah mengkhianati.

Kisah tersebut setidaknya mengungkapkan dua pesan. Pertama belas kasih dan kepedulian Rasulullah kepada umatnya begitu besar. Hingga hal-hal teknis yang menyangkut kemudahan bagi para mualaf itu pun sangat beliau perhatikan.

Kedua, pengkhianatan bisa menimpa siapa saja, bahkan seorang rasul dengan perangai tanpa cacat sekalipun. Kenyamanan dan fasilitas kadang tak membuat seseorang kian baik, bisa malah sebaliknya ketika hatinya dikuasai keserakahan dan ketidakjujuran. Wallahu a’lam. (M. Alvin Nur Choironi)