IMG-LOGO
Hikmah

Kisah Kesederhanaan Anak Khalifah Umar bin Abdul Aziz di Hari Raya Id

Jumat 7 Juni 2019 20:30 WIB
Share:
Kisah Kesederhanaan Anak Khalifah Umar bin Abdul Aziz di Hari Raya Id

Hari raya baik Idul Fitri maupun Idul Adha merupakan hari kebahagiaan umat Islam. Kebahagiaan ini ditandai dengan penampilan necis, yaitu pakaian baru, sepatu yang modis, dan kendaraan trendi. Begini sebagian orang memaknai Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Paling tidak, pakaian baru satu stel di hari raya.

Dalam rangka memperingati hari raya itu Umar bin Abdul Aziz radliyallahu 'anh–seorang khalifah yang paling zuhud–keluar dari istana. Ia pergi ke tengah masyarakat. Tanpa pengawalan ia berjalan masuk-keluar kampung dan gang. Sementara rakyatnya yang larut dalam kebahagiaan hari raya hanya melempar senyum dan menyalaminya dari kejauhan.

Di tengah kunjungannya itu mata Khalifah Umar bin Abdul Aziz tertuju pada sesosok kecil yang mengenakan pakaian dengan warna usang dan lusuh. Tidak salah, anak itu tidak lain adalah anak khalifah itu sendiri. Menyaksikan kondisi anaknya di hari raya, persendian lutut dan siku Khalifah Umar lemas. Ia tidak tega menyaksikan anak seorang khalifah tampak terlantar.

Sambil mendekati anaknya yang belum lagi berusia sepuluh tahun, air mata khalifah semakin deras menetes pada jubahnya.

“Mengapa ayah menangis?” tanya anaknya dengan polos.

“Anakku, bapak khawatir kamu akan patah hati dan langit-langit di hatimu runtuh ketika anak-anak kecil lain menyaksikanmu dengan pakaian lusuh dan kumal di hari Id ini,” jawab Khalifah Umar terisak.

“Wahai amirul mukminin, tuan tidak perlu khawatir. Orang yang patah hati adalah mereka yang diluputkan Allah dari ridha-Nya atau mereka yang mendurhakai ibu dan bapaknya. Dan aku berharap Allah meridhaiku berkat ridhamu wahai ayahku,” jawab anaknya dengan penuh percaya diri.

Jawaban ini di luar dugaan Umar bin Abdul Aziz. Air mata haru Khalifah Umar mengucur deras. Orang nomor satu di satu masa pada Dinasti Bani Umayah ini segera mendekap anak kecil yang mengenakan pakaian lusuh dan kumal itu.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengecup kening bawah yang terletak di antara kedua mata anaknya. Saat itu Khalifah Umar mendoakannya. Anak ini kelak menjadi orang paling zuhud sepeninggal ayahnya, Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

***

Mereka yang zuhud di dunia kelak akan memperingati hari raya Id di akhirat. Mereka akan “berkumpul” bersama Allah di hadliratul qudus sementara Allah memandang mereka penuh ridha. Bagi mereka tiada satupun kenikmatan akhirat melebihi kenikmatan hari raya Id itu.

Kisah ini disarikan dari Hasyiyatus Syarqawi karya Syekh Abdullah bin Hijazi As-Syarqawi, Beirut, Darul Fikr, tahun 2006 M/1426-1427 H, juz I, halaman 274.

Sebagaimana kita tahu bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah pejabat tinggi negara yang layak menjadi model sepanjang zaman. Ia dikenal sebagai pejabat yang zuhud plus ulama. Ia memberikan batas yang tegas antara kepentingan pribadi dan kepentingan negara. Dari situ ia kemudian membatasi diri untuk menggunakan anggaran dan aset negara untuk kepentingan dinas. Ia mengharamkan anggaran dan aset negara untuk kepentingan pribadi dan keluarganya, (Lihat As-Suyuthi, Tarikhul Khulafa). Wallahu a ‘lam. (Alhafiz K)


::::

Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada 1 September 2017, pukul 10.00. Redaksi mengunggahnya ulang dengan sedikit penyuntingan.


Share:
Jumat 7 Juni 2019 8:0 WIB
Kisah Pilu Nabi Muhammad dan Yatim Terlantar di Hari Raya Idul Fitri
Kisah Pilu Nabi Muhammad dan Yatim Terlantar di Hari Raya Idul Fitri
Ilustrasi (CoinaPhoto)

Di suatu hari raya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar rumah untuk melaksanakan shalat Idul Fitri. Sementara anak-anak kecil tengah bermain riang gembira di jalanan. Tetapi tampak seorang anak kecil duduk menjauh berseberangan dengan mereka. Dengan pakaian sangat sederhana dan tampak murung, ia menangis tersedu.

Melihat fenomena ini Rasulullah segera menghampiri anak tersebut. “Nak, mengapa kau menangis? Kau tidak bermain bersama mereka?” Rasulullah membuka percakapan.

Anak kecil yang tidak mengenali bahwa orang dewasa di hadapannya adalah Rasulullah menjawab, “Paman, ayahku telah wafat. Ia mengikuti Rasulullah dalam menghadapi musuh di sebuah pertempuran. Tetapi ia gugur dalam medan perang tersebut.”

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terus mengikuti cerita anak yang murung tersebut. Sambil meraba ke mana ujung cerita, Nabi mendengarkan dengan seksama rangkaian peristiwa dan nasib malang yang menimpa anak tersebut.

“Ibuku menikah lagi. Ia memakan warisanku, peninggalan ayah. Sedangkan suaminya mengusirku dari rumahku sendiri. Kini aku tak memiliki apa pun. Makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal. Aku bukan siapa-siapa. Tetapi hari ini, aku melihat teman-teman sebayaku merayakan hari raya bersama ayah mereka. Dan perasaanku dikuasai oleh nasib kehampaan tanpa ayah. Untuk itulah aku menangis.”

Mendengar penuturan ini, batin Rasulullah terenyuh. Ternyata ada anak-anak yatim dari sahabat yang gugur membela agama dan Rasulnya di medan perang mengalami nasib malang begini.

Rasulullah segera menguasai diri. Rasul yang duduk berhadapan dengan anak ini segera menggenggam lengannya.

Nak, dengarkan baik-baik. Apakah kau sudi bila aku menjadi ayah, Aisyah menjadi ibumu, Ali sebagai paman, Hasan dan Husein sebagai saudara, dan Fatimah sebagai saudarimu?” tanya Rasulullah.

Mendengar tawaran itu, anak ini mengerti seketika bahwa orang dewasa di hadapannya tidak lain adalah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

“Kenapa tak sudi, ya Rasulullah?” jawab anak ini dengan senyum terbuka.

Rasulullah kemudian membawa anak angkatnya pulang ke rumah. Di sana anak ini diberikan pakaian terbaik. Ia dipersilakan makan hingga kenyang. Penampilannya diperhatikan lalu diberikan wangi-wangian.

Setelah beres semuanya, ia pun keluar dari rumah Rasulullah dengan senyum dan wajah bahagia. Melihat perubahan drastis pada anak ini, para sahabatnya bertanya. “Sebelum ini kau menangis. Tetapi kini kau tampak sangat gembira?”

“Benar sahabatku. Tadinya aku lapar, tetapi lihatlah, sekarang tidak lagi. Aku sudah kenyang. Dulunya aku memang tidak berpakaian, tetapi kini lihatlah. Sekarang aku mengenakan pakaian bagus. Dulu memang aku ini yatim, tetapi sekarang aku memiliki keluarga yang sangat perhatian. Rasulullah SAW ayahku, Aisyah ibuku, Hasan dan Husein saudaraku, Ali pamanku, dan Fatimah adalah saudariku. Apakah aku tidak bahagia?”

Mendengar sahabatnya, mereka tampak menginginkan nasib serupa. “Aduh, cobalah ayah kita juga gugur pada peperangan itu sehingga kita juga diangkat sebagai anak oleh Rasulullah SAW.”

***
Waktu terus berjalan. Usia semakin bertambah. Kebahagiaan anak ini pun lenyap ketika selang beberapa tahun setelah itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meninggal dunia. Meratapi kepergian ayah angkat paling mulia ini, ia keluar rumah seraya menaburkan debu di atas kepalanya.

“Celaka, sungguh celaka. Kini aku kembali terasing. Aku bukan siapa-siapa lagi. Aku kini menjadi yatim. Sepi,” katanya terisak.

Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq yang menyaksikan anak ini segera memeluknya. Sayyidina Abu Bakar kemudian mengambil alih pengasuhannya… Wallahu a‘lam.
***
Kisah ini dikutip dari Durratun Nashihin karya Syekh Usman bin Hasan bin Ahmad Syakir Al-Khubawi, tanpa tahun, Surabaya, Syirkah Ahmad bin Saad bin Nabhan wa Auladuh, halaman 264-265. (Alhafiz K)



::::

Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada 23 Juni 2017, pukul 07.00. Redaksi mengunggahnya ulang dengan sedikit penyuntingan.

Kamis 6 Juni 2019 17:0 WIB
Belajar dari Nabi Yusuf: Memaafkan Tanpa Mendendam
Belajar dari Nabi Yusuf: Memaafkan Tanpa Mendendam
Bisakah Anda bayangkan bila satu ketika Anda disakiti oleh seseorang atau bahkan oleh saudara sendiri dengan perilaku yang begitu menyakitkan dan bahkan hampir menghilangkan nyawa Anda, mampukah Anda memaafkan kesalahannya? Atas kezaliman yang sedemikian rupa dapatkah Anda memaafkan kesalahannya tanpa menyisakan rasa dendam sedikitpun dalam hati Anda, dan bahkan setelah itu Anda tetap bersahabat dan bersaudara secara baik dengannya?

Tidak dipungkiri bahwa sering kali atas kesalahan yang sesungguhnya tak seberapa kita susah untuk memaafkannya dengan penuh ketulusan dan bahkan juga susah untuk bisa kembali bersahabat sebagaimana sebelumnya. Atau setidaknya, ketika kita berkenan memaafkan kesalahan tersebut kita tidak benar-benar memaafkannya dengan hati yang tulus. Masih ada rasa tidak suka dan bahkan dendam yang tersisa di dalam hati kita. Mengingat, mengungkit dan membincangkan kesalahnnya masih tetap dilakukan meski sudah memaafkannya. Padahal semestinya memaafkan adalah menghapus kesalahan itu tanpa pernah lagi mengingat dan mengungkitnya.

Memaafkan yang dalam bahasa Arab disebut ‘afwun dan pelakunya disebut al-‘âfî berasal dari kata ‘afâ – ya‘fû semakna dengan kata mahâ – yamhû – mahwûn yang berarti menghapus (Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdlor, Kamus Kontemporer Arab–Indonesia [Yogyakarta: Yayasan Ali Maksum, 1997], hal. 1302).

Orang yang memberi maaf tidak sekadar mengucapkan kata maaf belaka, namun juga disertai rasa keridhaan, keikhlasan, dan tidak mendendam. Ia menghapus kesalahan dari dalam hatinya. Bukanlah pemaaf bila satu saat masih mengungkit-ungkit kesalahan orang lain dan bahkan menyebarluaskannya ke banyak orang. Bukanlah pemaaf bila dalam hatinya masih tersimpan kebencian pada orang yang berbuat salah kepadanya.

Berat! Iya. Tapi bukan bererti tidak mungkin untuk bisa dilakukan.

Al-Qur’an, melalui kisah Nabi Yusuf, telah menggambarkan dan mengajarkan bagaimana semestinya seseorang memberikan maaf kepada orang yang menyalahinya dan kemudian kembali bersahabat sebagaimana mestinya.

Sebagaimana telah dipahami bersama bahwa Nabi Yusuf ‘alaihis salâm adalah korban kezaliman luar biasa yang dilakukan oleh saudara-saudara kandungnya sendiri karena merasa tidak diperlakukan sama baiknya oleh orang tua. Mereka dengan sengaja bermaksud menyingkirkan Yusuf dengan memasukkannya ke dalam sumur. Sebelumnya bahkan mereka menyiksa Yusuf terlebih dahulu dan tak menghiraukan permintaan tolongnya.

Perjalanan kehidupan berikutnya dilalui oleh Yusuf dengan berbagai cobaan yang tak ringan. Ia sempat menjadi budak yang diperjualbelikan di pasar budak hingga dipenjara atas sebuah tuduhan satu tindakan tak bermoral yang tak pernah ia lakukan.

Pada gilirannya Nabi Yusuf menjadi seorang pejabat penting di Mesir. Ia memiliki kekuasaan dan pengaruh yang besar di negerinya. Ia menentukan banyak kebijakan publik bagi bangsanya. Dan pada saat posisinya yang begitu kuat ini Allah menunjukkan kemuliaan dan kebesaran hati Nabi Yusuf. 

Saudara-saudara Nabi Yusuf yang dulu telah membuangnya beberapa kali datang ke Mesir untuk satu keperluan kebutuhan hidup. Mereka diterima langsung oleh Nabi Yusuf namun tak mengenalinya karena menyangka Yusuf telah meninggal di dasar sumur itu. Pada akhirnya mereka mengenali bahwa pejabat negara yang selama ini mereka datangi dan membantu memenuhi kebutuhan hidup mereka adalah orang yang dahulu pernah mereka singkirkan secara aniaya. Kini mereka telah mengetahui dan mengakui bahwa Allah lebih memberikan kemuliaan kepada Yusuf dari pada kepada mereka. Yusuf telah menjadi orang penting, terpandang dan mulia. Dan kini di hadapan Nabi Yusuf mereka mengakui kesalahan dan dosa-dosanya.

Sebagai seorang pejabat yang memiliki kekuasaan dan sangat berpengaruh pada saat itu semestinya Nabi Yusuf memiliki kesempatan dan kemampuan untuk membalas dan memberikan hukuman yang berat bagi saudara-saudaranya. Saat itu bisa saja Nabi Yusuf membalas dendam atas apa yang dilakukan oleh mereka kepadanya. Namun itu semuanya tak dilakukan olehnya. Pada saat seperti itu kemuliaan akhlaknya justru menuntunnya untuk berbesar dan berlapang hati mengucapkan satu kalimat:

لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ

Artinya: “Tak ada celaan bagi kalian di hari ini, semoga Allah mengampuni kalian.” (QS. Yusuf: 92)

Ada dua hal yang disampaikan Nabi Yusuf dengan kalimat tersebut. Pertama, dengan kalimat “tak ada celaan bagi kalian di hari ini” Nabi Yusuf ingin menegaskan bahwa ia memberikan maaf kepada saudara-saudaranya tanpa ada rasa dendam di dalam hatinya. Ia benar-benar telah memaafkan mereka dengan menghapus semua kesalahan dari ingatan dan hatinya. Ia tak ingin mencela, mencemooh dan bahkan mengecam orang-orang yang telah menyengsarakannya, bahkan hampir saja menghilangkan nyawanya.

Imam al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi dalam tafsirnya Ma’âlimut Tanzîl (2016:500) menuliskan penafsiran kalimat itu dengan “tak ada kecaman bagi kalian pada hari ini dan aku tidak akan menyebut-nyebut dosa kalian setelah hari ini.” Sementara Az-Zujaj sebagaimana dikutip Al-Qurtubi dalam Al-Jâmi li Ahkâmil Qur’ân (2010, V:232) menafsirkan “tak ada perusakan terhadap kehormatan dan persaudaraan di antara aku dan kalian”.

Kedua, Nabi Yusuf tidak saja memaafkan para saudaranya dan membebaskan mereka dari celaan dan kecaman di kehidupan dunia ini, dengan kalimat “semoga Allah mengampuni kalian” Nabi Yusuf juga menginginkan mereka diampuni oleh Allah atas dosa-dosanya sehingga kelak di akhirat pun mereka terbebas dari siksaan.

Tidak sekadar itu, pada ayat berikutnya Nabi Yusuf juga meminta para saudaranya untuk kembali lagi datang ke mesir dengan membawa serta semua anggota keluarga besar mereka; istri dan anak-anak mereka.

Inilah pemberian maaf yang sesungguhnya yang diajarkan Al-Qur’an melalui kisah Nabi Yusuf. Memaafkan tidak hanya sekadar mengucapkan kata maaf belaka namun jauh di dalam hatinya masih menyimpan dendam. Memberi maaf mesti dibarengi dengan sikap tidak akan mencemooh, menista, mencela, mengecam dan bahkan sekadar mengingat dan membicarakan kesalahan pelakunya.

Ini pula yang dicontohkan oleh Baginda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam ketika beliau dengan kaum muslimin menaklukan Kota Makkah. Ketika beliau memegang kedua tiang pintu ka’bah beliau menyeru dan bertanya kepada kaum Quraisy, “Menurut kalian, apa yang akan aku lakukan pada kalian, wahai kaum Quraisy?”

Mereka menjawab, “Engkau akan lakukan kebaikan kepada kami. Engkau saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia. Dan engkau telah mampu melakukan itu.”

Rasulullah menimpali, “Pada hari ini akan aku katakan apa yang dikatakan oleh saudaraku Yusuf, lâ tatsrîba ‘alaikumul yauma, di hari ini tak ada kecaman bagi kalian.”

Mendengar apa yang disampaikan oleh Rasulullah itu sahabat Umar bin Khattab merasa sangat malu sekali hingga mengucur keringatnya. Ini dikarenakan sebelumnya ia sangat ingin sekali membalas apa-apa yang telah dilakukan oleh kaum kafir Quraisy kepada kaum muslimin, namun ternyata Rasulullah menyatakan sikap yang begitu mulia; memaafkan tanpa ada dendam. Wallâhu a’lam


Yazid Muttaqin, santri alumni Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta, kini aktif di kepengurusan NU Cabang Kota Tegal.


Kamis 6 Juni 2019 15:15 WIB
Cara Kiai Umar Puasa Syawal sembari Jamu Tamu Lebaran
Cara Kiai Umar Puasa Syawal sembari Jamu Tamu Lebaran

Di antara maziyyah, keistimewaan Kiai Umar bin Abdul Manan, Mangkuyudan, Solo adalah kepiawaiannya membawa diri sehingga dapat menjaga perasaan orang lain dengan cara-cara yang indah. Dari keluarga, tamu, santri, tetangga, orang miskin, kaya, pejabat, rakyat, muslim atau nonmuslim semua dihormati Kiai Umar dengan baik.

Dalam Ad Durrul Mukhtar, sebuah buku karya KH Ahmad Baedlowie Syamsuri yang mengisahkan manaqib (kisah hidup) Kiai Umar, diceritakan bahwa Kiai Umar adalah orang yang rutin menjalankan puasa sunnah Syawal selama 6 hari dengan dimulai setiap tanggal 2 Syawal. Padahal, di sisi lain, hari-hari seperti itu Kiai Umar juga sedang open house, tamu dari berbagai daerah sedang banyak berdatangan dengan keperluan silaturahim, sowan Lebaran.

Namun, bagaimana sikap para tamu ketika mereka mengetahui bahwa tuan rumah yang didatangi dalam keadaan puasa? Hampir bisa dipastikan mereka tak akan leluasa menyantap sajian yang sudah berada di depan mata. Siapa pun tamunya, bukankah ini merupakan sedikit rintangan?

Namun Kiai Umar tidak kekurangan cara supaya para tamu dapat menikmati hidangan tanpa mereka sadar bahwa kiai sedang berpuasa. Kiai Umar selalu menyiapkan setengah gelas air minum yang disajikan di hadapannya.

Sewaktu kiai mempersilakan para tamu untuk menikmati sajian ataupun minuman “monggo-monggo, silakan!”, Kiai Umar juga sembari mengangkat gelas yang telah disiapkan dengan menyentuhkan bibir gelas yang ia pegang naik ke atas hingga menempel pada bibir kiai. Dengan begitu, tak ada tamu yang merasa bahwa kiai adalah orang yang berpuasa. Mereka juga tak ada yang sadar bahwa air setengah gelas yang di hadapan kiai hanyalah air fantasi saja. Yang mengetahui ini hanyalah keluarga atau orang-orang terdekatnya saja.

Beginilah di antara potret orang yang mengikuti sunnah-sunnah Nabi dengan cara elegan dan berhati-hati. Tidak hanya berhenti pada boleh atau tidak boleh menurut kacamata syari’at, tapi adab dan tata adat masyarakat juga selalu mereka pegang dengan kuat.

Di sini, minimal dapat ambil pelajaran. Pertama, bahwa Kiai Umar adalah pengamal puasa sunah 6 hari di bulan Syawal di mana pahalanya sama dengan puasa setahun penuh. Kedua, Kiai Umar adalah orang yang hormat kepada tamu dengan penghormatan yang istimewa. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi Muhammad, yang artinya “Barangsiapa iman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya”. (Ahmad Mundzir)

::::

Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada 6 Juli 2016, pukul 15.00. Redaksi mengunggahnya ulang dengan sedikit penyuntingan.