IMG-LOGO
Ilmu Hadits

Perbedaan Al-Qur’an dan Hadits Qudsi

Kamis 7 September 2017 16:0 WIB
Share:
Perbedaan Al-Qur’an dan Hadits Qudsi
Ilustrasi (emaze.com)
Sebagaimana kita ketahui, Allah telah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk untuk manusia. Secara pengertian, Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, yang menjadi mukjizat bagi beliau, serta membacanya adalah suatu ibadah.

Nabi menyebutkan bahwa Al-Qur’an adalah firman Tuhan yang harus disampaikan, sebagai tugas kerasulan beliau. Selanjutnya, para sahabat berbondong-bondong mulai menghafal Al-Qur’an, serta sebagian menulisnya di berbagai medium sesuai dengan teknologi yang ada di masyarakat Arab waktu itu. Selanjutnya, Al-Qur’an ini juga mulai disusun pada masa-masa Khulafaur Rasyidin pascawafatnya beliau, dan usai pada masa Khalifah Utsman bin Affan radliyallahu ‘anhu.

Karena sebab inilah, Al-Qur’an menjadi terjaga, baik karena adanya hafalan para sahabat maupun tulisan-tulisan mushaf yang berhasil disusun. Dan Tuhan pun telah menjamin keterjagaan Al-Qur’an inidalam Surat Al Hijr ayat 9:

إِنَّانَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya kamilah yang menurunkan adz Dzikr, dan Kami-lah yang menjaganya.”

Ibnu Jarir ath-Thabari dalam Tafsir ath-Thabari menyebutkan bahwa yang dimaksud adz-dzikr dalam ayat tersebut adalah Al-Qur’an, dan Allah menjaganya dari penambahan, pengurangan, baik dari isinya maupun dari segi batasan hukum serta kewajiban-kewajiban yang terkait dengannya.

Di sisi lain, selain mengucapkan Al-Qur’an, laku dan ucap Nabi juga ditulis oleh para sahabat. Karena kemuliaan dan keutamaan beliau, tentu mencatat teladan dari beliau juga mulia. Namun Nabi melarang untuk menulis apa pun dari beliau, kecuali Al-Qur’an. Ternyata, berlalu zaman, muncul urgensi untuk mengumpulkan perkataan, tindakan, maupun persetujuan (taqrîr) Nabi ini yang saat ini kita kenal sebagai hadits.

Seiring masa kodifikasi, pengumpulan hadits pada sekitar abad kedua Hijriah, diketahui bahwa Nabi pun selain menyebutkan ayat Al-Qur’an, juga menyatakan beberapa hal yang disandarkan pada Allah. Dalam ilmu hadits, hadits-hadits yang dituturkan Nabi dan disandarkan pada Allah ini disebut hadits Qudsi.

Kerap muncul pertanyaan: jika Al-Qur’an adalah wahyu Allah, mengapa masih ada hadits Qudsi? Bukankah Nabi adalah penutur wahyu Allah, dan setiap yang dikatakan beliau adalah wahyu? Bagaimana membedakan Al-Qur’an dan Hadits Qudsi?

Secara sekilas, tentu saja hadits Qudsi akan kita temukan dalam kitab-kitab hadits beserta periwayatnya, sedangkan Al-Qur’an sudah terpaten dalam mushaf, serta secara mutawatir, telah dihafalkan turun temurun. Namun jika muncul pertanyaan kritis seperti di atas, mengenai hal ini, Syekh Muhammad bin Alawi Al Maliki, salah satu ulama kenamaan Mekkah, menjelaskan dalam kitabnya al-Qawaidul Asasiyyah fi ‘Ilmi Musthalahil Hadits.

Setidak-tidaknya, mengutip penjelasan Syekh Muhammad Al Maliki, ada beberapa hal yang patut kita cermati tentang perbedaan Al-Qur’an dan Hadits Qudsi:

1. Al-Qur’an adalah mukjizat yang terjaga sepanjang masa dari segala pengubahan, serta lafal dan seluruh isinya sampai taraf hurufnya, tersampaikan secara mutawatir.

2. Al-Qur’an tidak boleh diriwayatkan maknanya saja. Ia harus dihafalkan sebagaimana adanya. Berbeda dengan hadits Qudsi, yang bisa sampai kepada kita dalam hadits yang diriwayatkan secara makna saja. Pun ia masih bisa dikritik secara sanad dan matan sebagaimana hadits-hadits lainnya.

3. Dalam mazhab Syafi’i, Mushaf Al-Qur’an tidak boleh dipegang dalam keadaan berhadats kecil, serta tidak boleh dibaca saat berhadats besar. Sedangkan pada hadits Qudsi, secara hukum, ia boleh dibaca dalam kondisi berhadats.

4. Hadits Qudsi tentu tidak dibaca saat shalat, berbeda dengan ayat Al-Qur’an.

5. Membaca Al-Qur’an, membacanya adalah ibadah, dan setiap huruf diganjar sepuluh kebaikan, sebagaimana disebutkan dalam banyak hadits.

6. Al-Qur’an adalah sebutan yang memang berasal dari Allah, beserta nama-nama Al-Qur’an yang lainnya.

7. Al-Qur’an tersusun dalam susunan ayat dan surat yang telah ditentukan.

8. Lafal dan makna Al-Qur’an sudah diwahyukan secara utuh kepada Nabi Muhammad, sedangkan lafal hadits Qudsi bisa hanya diriwayatkan oleh para periwayat secara makna.

Sekurang-kurangnya, itulah perbedaan mendasar antara Al-Qur’an dan Hadits Qudsi. Jika ditelaah lebih lanjut, tentu masih banyak perbedaan yang bisa didapat. Tujuan mengenal perbedaan ini, supaya kita tidak dibingungkan dengan pertanyaan-pertanyaan kritis tentang Al-Qur’an. Selain itu, untuk menempatkan sumber-sumber hukum agama Islam dan pedoman iman kita secara benar dan proporsional. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)

Tags:
Share:
Jumat 11 Agustus 2017 6:3 WIB
Memahami Hadits Mimpi Bertemu Rasulullah SAW
Memahami Hadits Mimpi Bertemu Rasulullah SAW
Foto: Ilustrasi
Di balik fenomena menjamurnya “ulama-ulama televisi” dadakan, ada juga masalah munculnya “sufi-sufi” dan “guru spiritual” yang juga mengkhawatirkan. Karena pengakuan dan juga pengaruhnya, masyarakat menaruh kepercayaan pada mereka. Ditambah dengan kesaktian dan klaim-klaim lain yang ditunjukkan, masyarakat semakin percaya dengan sosok yang mengaku “sufi” itu.

Biasanya, dalam rangka mencari jamaah maupun pengakuan, orang-orang yang mengaku sufi, wali, atau orang keramat tersebut akan mengaku pernah bertemu dengan syekh ini atau itu, atau bahkan mengaku bertemu nabi, baik dalam mimpi atau dalam kenyataan. Membicarakan mimpi melihat nabi, terlebih bertemu nabi dalam keadaan sadar pada masa ini, tentu menimbulkan tanda tanya. Secara rasional ini adalah hal yang musykil. Toh secara fisik, nabi sudah wafat sejak tahun 11 Hijriyah.

Sebagian orang yang memberi legitimasi tentang bertemu nabi, berdalil dengan hadits.

من رآني في المنام فسيراني في اليقظة ... (رواه الشيخان و غيرهما)

Artinya, “Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, maka ia akan melihatku dalam keadaan sadar...”

Dengan hadits semacam ini, klaim-klaim perjumpaan dengan nabi diobral. Padahal dalam memahami hadits, apalagi terkait suatu tema, diperlukan cara yang selektif dan kritis dalam menggali kesimpulan tentang suatu hadits.

Permasalahan cara memahami hadits ini dikupas dalam buku At-Thuruqus Shahihah fi Fahmis Sunnatin Nabawiyah karya Al-Maghfurlah KH Ali Mustafa Yaqub. Ia  memperkenalkan bahwa dalam memahami hadits, perlu digunakan metode yang disebut dengan metode maudhu’i atau tematik. Tujuannya adalah agar didapatkan pesan nabi tentang suatu hal secara lebih komprehensif. Pada dasarnya, hadits itu saling menafsirkan satu sama lain, karena sumbernya juga sama-sama dari nabi.

Ringkasnya, metode ini dimulai dengan mengumpulkan hadits dari seluruh riwayat dan sumber yang memungkinkan tentang suatu tema. Kemudian, hadits-hadits yang memiliki tema serupa atau saling menunjang maknanya itu diseleksi mana saja yang shahih. Dari sekian hadits shahih tersebut, kemudian dicari riwayat hadits yang bisa menjelaskan makna hadits-hadits shahih lain yang masih terlalu global atau menimbulkan kerancuan.

Berikut beberapa hadits yang memiliki tema serupa tentang “mimpi bertemu nabi”

 من رآني في المنام فقد رأى الحق ... (رواه الشيخان و غيرهما

 من رآني في المنام فسيراني في اليقظة ... (رواه الشيخان و غيرهما

 من رآني في المنام في المنام لكأنما رآني ... (رواه مسلم و أبو داود

Hadits-hadits di atas dinilai shahih. Arti hadits-hadits yang disebut di atas.

1. Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, maka sungguh ia telah melihat yang sebenarnya.

2. Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, maka ia akan melihatku dalam keadaan terjaga.

3. Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, maka seolah-olah ia melihatku.

Dikutip dari kitab ‘Aridlatul Ahwadzi Syarh Shahihit Tirmidzi karya Ibnul ‘Arabi Al-Maliki disebutkan dalam At-Thuruqus Shahihah fi Fahmis Sunnatin Nabawiyah tentang redaksi hadits shahih tentang tema “mimpi bertemu nabi”.

قال الإمام ابن العربي المالكي في كتاب عارضة الإحوذي شرح صحيح الترمذي م نصه: "أنّ أحاديث الرؤية تتكون من أربعة ألفاظ صحاح" و هي

 "... فسيراني في اليقظة"،

 "...فقد رأى الحق"،

 "...فقد رأني في اليقظة"،

 "...لكأنما رآني  في اليقظة"

Dari sekian redaksi yang disebut di atas, tanpa mengabaikan banyak sekali riwayat lainnya, maka redaksi hadits yang paling bisa dipahami kerancuan baik secara makna maupun rasio adalah hadits keempat. Artinya, “Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, maka seolah-olah ia melihatku saat terjaga.”

KH Ali Mustafa Yaqub melanjutkan, hadits ini berkonteks pada masa sahabat saat mereka masih bisa melihat nabi sehari-hari. Jika seorang dari mereka bermimpi berjumpa nabi, tentu saja seolah mereka berjumpa sebagaimana keadaan sehari-hari bersama Rasulullah. Maka Nabi Muhammad SAW yang telah wafat, tentu saja tidak akan kembali hidup lagi. Secara rasional, maka pemahaman hadits tersebut tidak cocok untuk umat Muslimin sekarang, karena selain nabi telah wafat, juga kaum Muslim sekarang tidak pernah bersua dengan nabi.

Menurut Kiai Ali, jika nabi bisa dilihat bahkan hidup kembali saat ini, mengapa nabi tidak langsung turun menyelesaikan konflik-konflik umat Muslimin? Kemudian, apa urgensi mengaku-ngaku bertemu Nabi baik dalam mimpi atau bahkan terjaga? Karena itulah, hadits-hadits “mimpi bertemu Nabi”, jika dipahami sepotong-sepotong tanpa mempertimbangkan riwayat lainnya, akan berdampak pada kerancuan pemahaman. Apalagi hadits-hadits tersebut digunakan sebagai klaim-klaim demi kepentingan tertentu.

Pemahaman sedemikian ini disuguhkan untuk menjaga diri agar semakin berhati-hati dengan maraknya pendakuan diri sebagian orang sebagai orang keramat dan sejenisnya, yang mengaku bertemu nabi. Terkait peristiwa-peristiwa spiritual seperti mimpi, tentunya adalah wilayah pribadi masing-masing yang kiranya tidak pantas diumbar dan diserukan, apalagi menyangkut sosok Kanjeng Nabi.

Selain itu, penting sekali mempelajari hadits dengan lebih komprehensif, agar terhindar dari kerancuan dan kekeliruan persepsi akan nabi. Semoga kita senantiasa tergolong umat Nabi Muhammad dan mendapat syafaatnya kelak. Wallahu a‘lam. (M Iqbal Syauqi)
Sabtu 5 Agustus 2017 17:2 WIB
Meninjau Kualitas Hadits Kesunahan Berkuda
Meninjau Kualitas Hadits Kesunahan Berkuda
Foto: Ilustrasi
Kuda merupakan kendaraan tercepat zaman dahulu. Selain unta dan keledai, orang Arab biasanya menggunakan kuda untuk berperang. Karena selain cepat, kuda juga termasuk hewan yang cukup kuat.

Selain itu, menungganginya juga diperlukan kemampuan khusus sehingga dibutuhkan latihan khusus agar mampu mengendarai kuda dengan baik dan tidak terjatuh.

Saat ini, kuda juga termasuk salah satu cabang olahraga yang sering diperlombakan. Beberapa perlombaan, baik nasional ataupun internasional seringkali menjadikan berkuda sebagai salah satu cabang perlombaan.

Tetapi akhir-akhir ini sering kali kita menyaksikan beberapa orang yang mengampanyekan belajar kuda dengan dalih sunah. Kampanye itu dibuat melalui video ataupun pesan berantai (broadcast) di media sosial. Biasanya dalam kampanye itu diselipkan beberapa hadits yang terkait dengan berkuda. Salah satunya adalah:

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ كَتَبَ إِلَى أَهْلِ الشَّامِ أَنْ عَلِّمُوا أَوْلادَكُمُ السِّبَاحَةَ وَالرَّمْيَ وَالْفُرُوسِيَّةَ

Artinya, “Umar bin Khattab telah mewajibkan penduduk Syam supaya mengajar anak-anak kamu berenang, dan memanah, dan menunggang kuda.”

Hadits di atas sering kali disandarkan kepada Imam Bukhari dan Muslim seolah-olah hadits tersebut memang benar-benar sahih karena diriwayatkan oleh keduanya. Padahal saat coba kita cari, hadits tersebut sama sekali tidak pernah tercantum dalam satu bab pun di Sahih Bukhari maupun Muslim.

Benarkah hadits di atas sahih? Dan benarkah belajar berkuda itu sunah?

Setelah ditakhrij, ternyata hadits di atas memang tidak tercantum dalam dua kitab sahih, baik Bukhari maupun Muslim. Hadis di atas hanya tercantum dalam kitab Kanzul Umal fi Sunanil Aqwali wal Af’al karya ‘Alauddin Ali bin Hisamuddin Al-Hindi dan kitab Jamiul Ahadits karya Imam As-Suyuthi. Hadits di atas hanya sampai pada Umar bin Khatab dan tidak berstatus marfu’ alias mauquf (hanya sampai pada sahabat).

Dalam ilmu hadits, mauquf adalah setiap sesuatu yang disandarkan kepada sahabat (bukan kepada Nabi). Hukum melakukannya bukan wajib. Karena pada hakikatnya mauquf adalah perkataan atau amal sahabat sampai ditemukan hadits lain yang memang benar-benar sahih dan marfu’.

Dalam riwayat lain melalui Ibnu Umar dengan redaksi yang agak mirip ternyata sama sekali tidak menyebutkan berkuda atau anjuran berkuda. Hadits tersebut tercantum di kitab Syu’abul Iman karya Al-Baihaqi:

عن ابن عمر ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « علموا أبناءكم السباحة والرمي ، والمرأة المغزل » عبيد العطار منكر الحديث

Artinya, “Dalam hadits di atas, setelah kata ar-ramyu, tidak disebutkan kata 'furusiyah' sebagaimana hadits sebelumnya, melainkan al-mar’ah al-mighzal yang artinya pemintal bulu atau katun, baik manual maupun dengan alat khusus.”

Bahkan hadits di atas pun dinilai sebagai dhaif jiddan (lemah parah) karena salah satu perawinya yang bernama Ubaid Al-Athar divonis sebagai munkarul hadits. Dan hadits yang statusnya lemah parah seperti di atas tidak boleh diamalkan.

Adakah hadits lain tentang kuda yang sahih? Jawabnya ada. Tetapi hadits tersebut berkaitan dengan belajar menunggangi kuda dan melatih kuda agar jinak dan bisa dipergunakan sebaik-baiknya, dalam hal ini digunakan untuk berperang.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Sunanul Kubra yang juga diriwayatkan oleh At-Timirdzi dengan hasan-sahih berikut.

كُلُّ شَىْءٍ لَيْسَ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ فَهُوَ سَهْوٌ وَلَهْوٌ إِلاَّ أَرْبَعًا مَشْىَ الرَّجُلِ بَيْنَ الْغَرَضَيْنِ وَتَأْدِيبَهُ فَرَسُهُ وَتَعَلُّمَهُ السِّبَاحَةَ وَمُلاَعَبَتَهُ أَهْلَهُ

Artinya, “Setiap sesuatu selain bagian dari zikir kepada Allah adalah sia-sa dan permainan belaka, kecuali empat hal: latihan memanah, candaan suami kepada istrinya, seorang lelaki yang melatih kudanya, dan mengajarkan renang.”

Dalam riwayat Ibnu Majah juga diriwayatkan dengan redaksi berbeda:

وَكُلُّ مَا يَلْهُو بِهِ الْمَرْءُ الْمُسْلِمُ بَاطِلٌ إِلَّا رَمْيُهُ بِقَوْسِهِ وَتَأْدِيْبُهُ فَرَسَهُ وَمُلَاعَبَتَهُ امْرَأَتَهُ

Artinya, “Setiap hal yang melalaikan seorang Muslim hukumnya batil kecuali memanah dengan busur, melatih kuda, dan canda dengan istri.”

Al-Minawi dalam kitab Faidhul Qadir mencoba mendudukkan aktivitas melatih kuda sebagai usaha untuk memenangkan sebuah peperangan.

أوتأديبه فرسه) أي ركوبها وركضها والجولان عليها بنية الغزو وتعليمها ما يحتاج مما يطلب في مثلها . وفي معنى الفرس : كل ما يقاتل عليه

Artinya, “Yang dimaksud dengan ‘melatih kuda’ adalah menaikinya, memacunya, dengan melakukan perjalanan dengannya serta mengajari kuda tersebut beberapa hal yang diperlukan. Adapun makna kuda adalah setiap kendaraan yang digunakan untuk berperang.”

Dari keterangan Al-Minawi di atas, bisa kita ambil simpulan bahwa kuda hanyalah bagian dari alat perang masa itu yang bisa digunakan. Tentunya, di masa yang serba canggih saat ini, sebagai pengejawentahan dari makna kuda yang disebut Al-Minawi, kita seharusnya mampu menggunakan peralatan-peralatan canggih yang bisa digunakan berperang. Misalnya, tank, helikopter, pesawat tempur atau alat utama sistem senjata (alutista) lain. Itu bagi perang yang berupa fisik.

Itupun karena pada saat itu, peperangan adalah sebuah hal yang tidak bisa dipisahkan untuk bertahan hidup. Di saat sekarang, ketika kita hidup di masa damai, maka peperangan sesungguhnya adalah perang pemahaman, pemikiran atau keilmuan. Dan kendaraan untuk memenangkan peperangan tersebut adalah membaca dan belajar.

Maka dari itu, belajar berkuda atau menjadi atlit berkuda adalah sah-sah saja dan tidak ada yang mempermasalahkan karena keahlian orang berbeda-beda. Tetapi jangan sampai terlalu fanatik hingga menjadikan berkuda sebagai sunah hanya karena memahami hadits secara tekstual lalu menyalahkan orang-orang yang tak bisa berkuda yang tentunya memiliki keahlian lain selain berkuda.

Memahami suatu hadits tak cukup dengan membacanya lalu membaca terjemahannya. Memahami hadits juga memerlukan latihan intensif dan keilmuan khusus sebagaimana berlatih kuda. Wallahu a’lam. (M Alvin Nur Choironi)

Ahad 30 Juli 2017 19:3 WIB
Benarkah Hukum Memanah Sunah?
Benarkah Hukum Memanah Sunah?
Foto: Ilustrasi
Akhir-akhir ini banyak orang yang berlomba-lomba mengamalkan hal-hal yang dianggap sebagai sunah Rasulullah SAW. Semua hal yang mereka baca dari hadits-hadits Rasul seketika langsung diamalkan dengan anggapan bahwa hal tersebut merupakan sunah Rasul SAW.

Sebut saja memanah dan berkuda. Dua hal ini menjadi hal yang sering digaungkan lewat medsos-medsos terkait dengan anjuran dan kesunahan memanah. Tentu hal ini menjadi pertanyaan besar di benak kita: benarkah memanah atau berkuda itu sunah? Sehingga sangat dianjurkan untuk dipelajari bahkan sampai dilakukan di dalam masjid.

Hanya ada beberapa literatur hadits yang menunjukkan keutamaan memanah. Salah satunya yang diriwayatkan merupakan tafsir Rasulullah atas surat Al-Anfal ayat 60.

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ

Artinya, “Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.”

Setelah mengucapkan ayat itu kemudian Nabi mengulang-ulang sebuah kalimat sebanyak tiga kali untuk menafsirkan ayat dari Al-Anfal yang dibacanya.

ألا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ

Artinya, “Ketahuilah, sesungguhnya yang dimaksud dengan kekuatan itu adalah memanah.”

Dalam hadits lain sebagaimana ditulis Ibnu Hajar dalam Fathul Bari-nya juga dijelaskan terkait keutamaan seorang pemanah yang masuk surga karena anak panahnya. Hadits ini diriwayatkan oleh Uqbah bin Amir. Juga ada satu hadis lagi yang menjelaskan kerugian bagi orang yang mampu memanah tapi tidak mengamalkan kemampuannya, bahkan dalam riwayat Ibnu Majah orang yang tidak mengamalkan kemampuannya dalam memanah dikatakan sebagai orang yang durhaka kepada Rasul (maksiat dan berdosa).

Tampaknya, hadits-hadits tersebutlah yang dijadikan landasan kesunahan memanah sehingga sebagian dari kita gencar sekali mengampanyekan memanah hingga menjadikan masjid sebagai tempat memanah.

Tentunya, masyarakat harus mengetahui bagaimana kategori sebuah tindakan rasul itu sebagai sunah atau tidak. Atau dalam bahasa Kiai Ali Mustafa Yaqub, kita harus membedakan antara sunah atau agama dan budaya dalam membaca hadits.

Membaca hadits di atas, pensyarah Sunan Abu Dawud, Abdul Muhsin bin Hammad Al-Abbad mengatakan, hadits di atas diungkapkan kepada para sahabat pada masa perang kekurangan pasukan sehingga senjata yang paling efektif untuk menunjang peperangan saat itu adalah panah mengingat panah adalah satu-satunya senjata yang ada saat itu.

Ibnu Hajar juga menekankan bahwa poin penting dalam hadits-hadits di atas adalah kemampuan untuk mengalahkan musuh yang lebih efektif. Maka Rasul pada saat itu melihat bahwa panah adalah senjata yang paling efektif. Rasul akan sangat kesal sekali pada saat itu jika ada seorang pemanah jitu tapi menyia-siakan kemampuannya.

Hal ini tentu sangat berbeda dengan senjata sekarang yang sudah semakin berkembang dan dinamis. Bahkan saat ini juga bukan masa-masa perang sebagaimana anjuran menguasai memanah yang dikatakan Rasul pada saat itu.

Dalam metode memahami hadits, kita diharuskan untuk bisa membedakan antara sarana yang berubah dan tujuan yang tetap. Dalam hal ini, panah adalah sebuah sarana, bukan tujuan. Sedangkan tujuannya adalah mampu mengalahkan lawan.

Sehingga dari penjelasan beberapa ahli di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa panah adalah hanya sarana yang bisa digunakan pada saat itu. Jika pada masa sekarang, ketika musuh menyerang kita dari berbagai hal mulai persenjataan, siber, kecerdasan dan keilmuan yang lain, maka sunahnya adalah menguasai sarana-sarana yang digunakan oleh pihak lawan itu, tentunya bukan hanya memanah.

Jika berlatih memanah dan ingin ahli menjadi pemanah, hukumnya hanya mubah. Tetapi menganggap pemanah menjadi sebuah kesunahan yang akhirnya menimbulkan perilaku tidak etis seperti berlatih di masjid dan sebagainya apalagi sampai menyalahkan orang yang tidak mampu memanah adalah sebuah kesalahan. Wallahu alam. (M Alvin Nur Choironi)