IMG-LOGO
Ubudiyah

Amalan Menempati Rumah Baru

Jumat 15 September 2017 6:4 WIB
Share:
Amalan Menempati Rumah Baru
Foto: Ilustrasi
Kita patut bersyukur menempati rumah baru karena itu adalah nikmat Allah yang patut disyukuri. Agar rumah atau tempat yang baru dihuni mendapatkan keberkahan dan aman dari gangguan jin, sebagian ulama menganjurkan kita untuk melakukan amalan sebagai berikut.

1. Membaca Surat Al-Fatihah 3 kali

2. Kemudian membaca Surat Al-Mu’minun ayat 28-29 sebagai berikut:

فَإِذَا اسْتَوَيْتَ أَنتَ وَمَن مَّعَكَ عَلَى الْفُلْكِ فَقُلِ الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي نَجَّانَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ * وَقُل رَّبِّ أَنزِلْنِي مُنزَلاً مُّبَارَكًا وَأَنتَ خَيْرُ الْمُنزِلِينَ *

Artinya, “Bila kau dan pengikutmu sudah di atas kapal, maka katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah yang menyelamatkan kami dari kaum aniaya.’ Katakanlah, ‘Tuhanku, tempatkan aku di tempat yang berkah karena Engkau sebaik-baik pemberi tempat.’”

3. Kemudian membaca doa sebagai berikut sebanyak 3 kali:

اَللهم يَا مَنْ فَلَقَ الْبَحْرَ لِمُوْسَى بْنِ عِمْرَانَ وَنَجَّى يُوْنُسَ مِنْ بَطْنِ الْحُوْتِ وَسَيَّرَ الْفُلْكَ لِمَنْ شَاءَ أَنْتَ الْعَالِمُ بِعَدَدِ قَطْرِ الْبِحَارِ وَذَرَّاتِ الرِّمَالِ يَا خاَلِقَ أَصْنَافِ عَجَائِبِ الْمَخُلُوْقَاتِ أَسْأَلُكَ الْكِفَايَةَ يَا كَافِيَ مَنْ اِسْتَكْفَاهُ يَا مُجِيْبَ مَنْ دَعَاهُ يَا مُقِيْلَ مَنْ رَجَاهُ أَنْتَ الْكَافِيْ لَا كَافِيَ إِلَّا أَنْتَ اِكْفِنِيْ شَرَّمَا أَخاَفُ وَأَحْذَرُ وَامْلَأْ مَنْزِلِيْ هَذَا خَيْراً وَبَرَكَةً وَصَلِّ عَلَى نَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.

Allâhumma yâ man falaqal bahra li Mûsâ bin ‘Imrân, wa najjâ Yûnusa min bathnil hût, wa sayyaral fulka li man syâ’a, antal ‘âlimu bi ‘adadi qathril bihâri, wa dzarrâtir rimal. Yâ Khâliqa ashnâfi ‘ajâ’ibil makhlûqât. As’alukal kifâyah, yâ kâfiya man istakfâh, yâ Mujîba man da‘âh, yâ muqîla man rajâh. Antal kâfi, lâ kâfiya illa anta. Ikfinî syarra ma akhâfu wa ahdzar. Wamla’ manzilî hâdzâ khairan wa barakah. Washalli ‘ala nabiyyika wa rasûlika sayyidina Muhammadin wa âlihi wa shahbih wa sallim.

Artinya, “Ya Allah yang membelah lautan untuk Musa bin ‘Imran, dan menyelamatkan Yunus dari perut ikan besar, yang menjalankan perahu kepada siapapun yang dikehendaki. Engkau mengetahui jumlah tetesan air laut dan satuan-satuan kerikil. Wahai zat yang menciptakan beberapa macam keajaiban makhluk-makhluk. Aku memohon kepada-Mu kecukupan, wahai zat yang mencukupi hamba yang memintakan kecukupan kepada-Nya. Wahai zat yang mengabulkan hamba yang berdoa kepada-Nya, yang mengampuni hamba yang mengharap rahmat-Nya, Engkau maha mencukupi. Tiada yang mencukupi selain-Mu. Cukupilah aku dari keburukan sesuatu yang kukhawatirkan, penuhilah tempatku ini dengan kebaikan dan keberkahan. Shalawat salam semoga tercurah kepada nabi dan utusan-Mu, junjungan kami, Nabi Muhammad SAW, dan kepada para keluarga serta sahabatnya.”

Amalan di atas dibaca setiap pagi dan sore selama tiga hari berturut-turut.

Amalan ini dikutip dari Kitab Al-Wasa’ilis Syafi’ah karya Syekh Al-Habib Muhammad bin Ali Khirid Al-Alawi Al-Husaini At-Tarimi, Beirut, Darul Hawi, cetakan kedua, 1999 M, halalaman 512. Wallahu a‘lam. (M Mubasysyarum Bih)

Share:
Kamis 14 September 2017 8:0 WIB
Jangan Mengolok Hanya karena Berbeda Pilihan
Jangan Mengolok Hanya karena Berbeda Pilihan
Rasanya, kebisingan Pilkada Jakarta belum lenyap di dalam memori otak kita. Riuhnya masih terasa segar dalam benak. Hanya karena berbeda pilihan, seseorang Muslim seolah berhak menjadikan atas orang lain yang juga jelas-jelas Muslim sebagai sasaran olok-olok, caci maki semaunya sendiri, bahkan melarang jenazahnya dishalati.

Terlepas dari sudut pandang perbedaan pendapat ulama dalam memilih pemimpin, hukum menyakiti saudara Muslim adalah dosa besar sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Habib Umar bin Hafidz, Hadramaut, Yaman.

Tidak ada dalil yang memperbolehkan orang Muslim menyakiti saudaranya yang lain walaupun orang tersebut telah melakukan dosa besar. Sehingga ketakutan atas olok-olok itu bisa menjadikan orang lain takut atas keburukan tindakan kita. "Kalau kita tak memilih yang sama dengan dia, jangan-jangan kita nanti akan dicemoooh". Ketakutan orang lain terhadap kita sebab perkara demikian berbahaya.

Dalam shahih Bukhari, Nabi Muhammad SAW pernah dimintai izin seseorang untuk bertamu. Beliau mempersilakan. Sebelumnya Nabi sudah mengatakan kepada Aisyah bahwa yang datang kali ini adalah orang paling buruk.

Namun anehnya justru setelah orang itu masuk dan kemudian duduk bersama Rasul, Baginda Nabi ini tidak menampakkan muka masam, marah. Padahal Nabi tahu siapa sebenarnya orang yang ia hadapi ini. Nabi Muhammad menghadapi tamunya dengan wajah penuh ramah.

Sontak, kejadian ini mengagetkan istri termuda beliau. Bagaimana mungkin, kata Rasul tadi, orang ini adalah pria yang buruk, tapi mengapa malah beliau bersikap lembut saat menghadapinya?

Saat perasaan Aisyah ini diungkapkan pada Rasul setelah tamu ini pulang, Rasulpun menjawab:
 
يَا عَائِشَةُ مَتَى عَهِدْتِنِي فَحَّاشًا إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ شَرِّهِ

Artinya: Hai Aisyah, kapan engkau menemukanku melakukan hal-hal yang buruk? Sesungguhnya orang paling buruk di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan oleh masyarakat karena mereka takut atas sikap buruk orang tersebut. (Shahih Al Bukhari, 457)

Abdur Rauf Al Munawi dalam kitab Fathul Qadir menjelaskan, orang yang ditakuti ini bisa jadi ditakuti karena ucapan ataupun sikapnya yang buruk melewati batas syara' sehingga menjadikan orang lain takut.

Begitu pula dalam pandangan dalam memilih pemimpin. Siapa pun pemimpin yang dipilih oleh saudara kita, kita hanya boleh mengajak dalama level dakwah atau maksimal pada level amar ma'ruf nahi munkar. Namun tidak diperbolehkan mencela, menghardik, menebar fitnah atau isu yang menyakitkan hati umat Islam yang lain.

Demikianlah cara Rasulullah menghadapi orang yang tidak baik. Beliau tidak menghardik, mengancam, ataupun mengumpat. Beliau berwajah ramah penuh senyum. Dengan begitu, siapa pun orangnya, seburuk apa pun perangainya, tak ada satu pun orang yang takut kepada Rasul karena khawatir akan disikapi buruk oleh Rasul. Para sahabat takut kepada baginda Nabi karena segan mereka atas kemuliaan akhlak Nabi bukan sebab takut diperlakukan jahat oleh Nabi.

Dalam satu riwayat dikisahkan, saat Rasul memberi taushiyah, semua sahabat duduk diam dengan wajah tertunduk, seolah di atas masing-masing kepala mereka ada burung yang hinggap. Ini saking khusyuk mereka atas kewibawaan Nabi. Kecuali hanya dua sahabat yang berkepala tegap, yaitu Abu Bakar dan Umar. Selain sahabat, keduanya merupakan mertua Nabi. Di saat Nabi berceramah, ketika kebetulan bertatapan dengan di antara dua sahabat ini, mereka masing-masing melempar senyum. (Ahmad Mundzir)


Kamis 31 Agustus 2017 15:0 WIB
Dua Jenis Takbir Idul Fitri atau Idul Adha
Dua Jenis Takbir Idul Fitri atau Idul Adha
Ilustrasi (GettyImages)
Id menurut Ibrahim Al Bajuri dari akar kata العود (al-'aud) yang berarti kembali. Artinya, di waktu ini setiap hamba kembali menjadi bersih. Idul fitri yaitu kembali bersih setelah menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh, sedangkan idul adha merupakan kembali bersih bagi orang-orang yang menjalankan ibadah haji.

Dalam kedua hari raya ini, di antara amalan yang disunahkan bagi umat Islam adalah menghidupkan malam hari raya dengan ibadah. Dalam sebuah hadits disebutkan:

من أحْيَا لَيلَةَ الْعِيد، أَحْيَا اللهُ قَلْبَهُ يَوْمَ تَمُوْت القُلُوبُ

“Barangsiapa yang menghidupkan malam hari raya, Allah akan menghidupkan hatinya di saat hati-hati orang sedang mengalami kematian. (Lihat: Ibrahim Al Bajuri, Hasyiyah al-Bajuri, [Thaha Putra], h:227)

Minimal, dalam menghidupkan malam id, seseorang bisa menjalankan shalat isya' berjamaah serta niat kuat ingin menjalankah shalat shubuh berjamaah. Lebih baik lagi menjalankan ibadah-ibadah lain seperti membaca Al-Qur'an, dzikir dan lain sebagainya.

Di antara kesunahan pada hari raya ini adalah mengumandangkan takbir. Syekh Abu Abdillah Muhammad ibn Qasim as-Syafi'I dalam Fathul Qarib al-Mujib menjelaskan, takbir dalam 'id terbagi menjadi dua macam, yaitu takbir mursal dan takbir muqayyad.

Takbir mursal adalah takbir yang waktunya tidak mengacu pada waktu shalat, atau tidak harus dibaca oleh seseorang setiap usai menjalankan ibadah shalat, baik fardu maupun sunnah. Takbir mursal ini sunnah dilakukan setiap waktu, di mana pun dan dalam keadaan apa pun. Baik lelaki maupun perempuan sama-sama dianjurkan melantunkan takbir, baik saat di rumah, bepergian, di jalan, masjid, pasar, dan seterusnya.

Waktu melakukan takbir mursal dimulai dari terbenamnya matahari malam 'id hingga imam melakukan takbiratul ihram shalat 'id, meliputi 'idul fitri maupun 'idul adha. Itu yang pertama.
 
Yang kedua, takbir muqayyad merupakan takbir yang pelaksanaannya memiliki waktu khusus, yaitu mengiringi shalat, dibaca setelah melaksanakan shalat, baik fardhu maupun sunnah.

Waktu pembacaannya adalah setelah sembahyang shubuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga ashar akhir hari Tasyriq (13 Dzulhijjah).

Adapun shighat takbir sebagai berikut:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْراً وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ.

(Syekh Abu Abdillah Muhammad ibn Qasim as-Syafi'i, Fathul Qarib al-Mujib dalam kitab Hasyiyah Al Bajuri [Thaha Putera]) h. 227-228)

(Baca juga: Tata Cara Khutbah Idul Fitri atau Idul Adha)


Dengan demikian, dapat kita ketahui bahwa takbir pada malam hari raya idul fitri dinamakan takbir mursal. Sedangkan takbir yang dilantunkan pada hari raya idul adha disebut takbir muqayyad. Takbir ini dilaksanakan dengan jumlah masa lima hari, mulai tanggal 9 - 13 Dzulhijjah pada setiap usai shalat, baik shalat fardhu ataupun sunah.

Adapun takbir pada malam hari raya idul adha itu dinamakan takbir muqayyad, jika mengacu bahwa takbir itu dilaksanakan usai shalat dalam rentang waktu lima hari tersebut.

Sedangkan jika dilihat bahwa takbir itu dilaksanakan pada malam hari raya id, takbir malam hari raya idul adha ini juga termasuk takbir mursal. Yang berarti, takbir pada hari raya idul adha menyandang dua istilah, mursal dan muqayyad sebagaimana yang diungkapkan oleh Syaikh Ibrahim Al Bajuri. Wallahu a'lam. (Ahmad Mundzir)

Senin 28 Agustus 2017 18:4 WIB
Waktu Paling Baik Sembelih Hewan Kurban
Waktu Paling Baik Sembelih Hewan Kurban
Foto: Ilustrasi
Bila Idul Fitri identik dengan zakat fitrah, maka Idul Adha identik dengan penyembelihan hewan kurban. Kedua hari besar tersebut, baik Idul Fitri maupun Idul Adha, sebenarnya momentum untuk berbagi dengan sesama manusia.

Sebab itu, pada hari raya Idul Fitri kita diwajibkan membayar zakat sebelum Shalat Id dilangsungkan, dan pada hari Idul Adha dianjurkan bagi orang yang mampu menyembelih hewan kurban dan membagikan dagingnya kepada orang lain.

Ulama berbeda pendapat terkait awal waktu dan batas waktu penyembelihan hewan kurban, serta kebolehan menyembelih hewan kurban di malam hari. Akan tetapi, menurut Syeikh Wahbah Az-Zuhaily, seluruh ulama sepakat bahwa waktu paling baik menyembelih hewan kurban ialah hari pertama setelah Shalat ‘Id sampai sebelum tergelincir matahari atau sebelum masuk waktu shalat Zuhur.

Syeikh Wahbah Az-Zuhaily dalam Fiqhul Islami wa Adillatuhu mengatakan.

للفقهاء خلافات جزئية في أول وقت التضحية وآخره، وفي كراهية التضحية في ليالي العيد. لكنهم اتفقوا على أن أفضل وقت التضحية هو اليوم الأول قبل زوال الشمس؛ لأنه هو السنة

Artinya, “Ada perbedaan pendapat ulama fikih terkait awal dan akhir waktu penyembelihan hewan kurban, serta kemakruhan menyembelih di malah hari. Tetapi, mereka seluruhnya sepakat bahwa waktu utama menyembelih kurban ialah hari pertama sebelum tergelincir matahari, karena hal itu sunah.”

Kesunahan waktu penyembelihan ini didasarkan pada hadits riwayat Al-Bara’ bin ‘Azib bahwa Rasulullah SAW berkata.

إن أول مانبدأ به يومنا هذا: أن نصلي، ثم نرجع، فننحر، فمن فعل ذلك، فقد أصاب سنتنا، ومن ذبح قبل ذلك، فإنما هو لحم قدمه لأهله، ليس من النُسُك في شيء

Artinya, “Sungguh yang pertama kali kami lakukan pada hari ini ialah shalat, kemudian kami pulang dan setelah itu menyembelih hewan kurban. Siapa yang melakukan hal demikian (menyembelih setelah shalat), maka dia telah memperolah sunah kami. Tetapi siapa yang menyembelih sebelum itu, maka penyembelihannya itu sebatas menyembelih untuk keluarganya sendiri dan tidak dianggap ibadah kurban,” (HR Al-Bukhari).

Kendati waktu penyembelihan kurban ada empat hari, dimulai dari tanggal 10 sampai 13 Dzulhijah, tetapi lebih baiknya penyembelihan hewan kurban dimulai pada hari pertama sebelum tergelincir matahari agar memperoleh kesunahan.

Tetapi perlu diingat, seluruh ulama sepakat bahwa tidak boleh menyembelih hewan kurban sebelum Shalat Id dilaksanakan. Bagi siapa yang menyembelih pada waktu itu, maka penyembelihan itu tidak dianggap ibadah kurban. Wallahu a‘lam. (Hengki Ferdiansyah)