IMG-LOGO
Bahtsul Masail

Hukum Kirim dan Menyampaikan Salam

Selasa 19 September 2017 18:4 WIB
Share:
Hukum Kirim dan Menyampaikan Salam
Foto: Ilustrasi
Assalamu ‘alaikum wr. wb
Perkenalkan nama saya Iwan, saya bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Alhamdulillah, semuanya baik yang punya perusahaan maupun karyawannya semua Muslim. Dalam kesempatan ini saya ingin menanyakan mengenai hukum berkirim salam kepada teman atau keluarganya. Biasanya kalau ada teman sekantor yang hendak pulang ke kampung, kita selalu bilang, “Kirim salam ya buat keluarga di rumah.” Selanjutnya bagaimana hukum menyampaikan salam tersebut. Atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Iwan/Jakarta)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Kebiasaan berkirim salam kepada teman kita atau keluarga teman kita merupakan kebiasaan yang sangat baik. Kami sendiri juga sering melakukan hal itu apabila teman kami pulang ke kampung.

Lantas bagaimana status hukum berkirim salam tersebut? Menurut keterangan yang kami pahami dari kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, hukumnya adalah sunah. Sedangkan pihak yang dititipi salam wajib menyampaikannya karena merupakan amanat.

يُسَنُّ بَعْثُ السَّلَامِ اِلَي مَنْ غَابَ عَنْهُ وَفِيهِ اَحَادِيثُ صَحِيحَةٌ وَيَلْزَمُ الرَّسُولُ تَبْلِيغُهُ لِاَنَّهُ اَمَانَةٌ وَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمَانَاتِ اِلَي اَهْلِهَا.

Artinya, “Disunahkan berkirim salam kepada orang yang tidak hadir. Dalam konteks ini terdapat banyak hadits sahih (yang menganjurkannya). Bagi utusan (yang dititipi salam, pent) wajib untuk menyampaikan salam tersebut karena merupakan sebuah amanat. Sungguh, Allah SWT telah berfirnan, ‘Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya’ (Surat An-Nisa ayat 58),” (Lihat Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Jeddah, Maktabah Al-Irsyad, juz IV, halaman 641).

Kami juga mendapati keterangan yang senada dalam kitab Tharhut Tatsrib fi Syarhit Taqrib yang ditulis oleh Waliyyuddin Abu Zar’ah Al-‘Iraqi. Dalam kitab ini disuguhkan sebuah hadits yang menyatakan bahwa malaikat Jibril memberikan salam kepada Aisyah RA yang notabenenya tidak melihat kehadiran Jibril. Rasulullah SAW pun menyampaikan kepada Aisyah salam yang diberikan malaikat Jibril, kemudian salam tersebut dijawab olehnya.

اَلْحَدِيثُ الثَّالِثُ وَعَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا { أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهَا هَذَا جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ ، وَهُوَ يَقْرَأُ عَلَيْك السَّلَامَ ، فَقَالَتْ وَعَلَيْهِ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ تَرَى مَا لَا نَرَى } رَوَاهُ النَّسَائِيّ وَقَالَ هَذَا خَطَأٌ يُرِيدُ أَنَّ الصَّوَابَ رِوَايَةُ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَائِشَةَ كَمَا هُوَ فِي الصَّحِيحَيْنِ

Artinya, “Hadits yang ketiga, dari Urwah dari Aisyah RA, bahwa Nabi SAW berkata kepadanya, ‘Ini adalah Jibril AS, ia mengucapkan salam kepadamu.’ Lantas Aisyah RA pun menjawab, ‘Alaihis salam wabarakatuh’, engkau (Nabi SAW) dapat melihat sesuatu yang tidak dapat kami lihat.” Hadits riwayat An-Nasai. Menurut An-Nasai, terdapat kekeliruan dalam sanad dalam hadits ini karena yang benar adalah riwayat Az-Zuhri dari Abi Salamah (bukan dari Urwah, pent) dari Aisyah RA sebagaimana yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim,” (Lihat Waliyuddin Abu Zar’ah Al-Iraqi, Tharhut Tatsrib fi Syarhit Taqrib, Beirut, Daru Ihya`it Turats, juz VIII, halaman 107).

Salah satu kandungan hadits itu menurut Al-‘Iraqi adalah adanya anjuran untuk berkirim salam. Lebih lanjut ia mengetengahkan pandangan dari para ulama Madzhab Syafi’i yang mewajibkan bagi orang yang diutus untuk menyampaikan salam untuk menyampaikannya kepada pihak yang dikirimi salam. Karena itu merupakan amanat.

Tetapi baginya, kewajiban itu sebaiknya dibaca dalam konteks di mana pihak yang diutus untuk menyampaikan salam memiliki kesiapan dan kesanggupan untuk menyampaikannya sehingga jika tidak, maka ia tidak harus menyampaikannya.

Sedang pendekatan yang digunakan oleh Al-Iraqi untuk sampai pada simpulan ini adalah dengan menyamakan kasus orang yang dititipi sebuah titipan tetapi ia tidak mau menerimanya atau tidak sanggup menerima titipan tersebut.

فِيهِ اسْتِحْبَابُ بَعْثِ السَّلَامِ قَالَ أَصْحَابُنَا وَيَجِبُ عَلَى الرَّسُولِ تَبْلِيغُهُ فَإِنَّهُ أَمَانَةٌ وَيَجِبُ أَدَاءُ الْأَمَانَةِ وَيَنْبَغِي أَنْ يُقَالَ إنَّمَا يَجِبُ عَلَيْهِ ذَلِكَ إذَا الْتَزَمَ وَقَالَ لِلْمُرْسِلِ إنِّي تَحَمَّلْت ذَلِكَ وَسَأُبَلِّغُهُ لَهُ فَإِنْ لَمْ يَلْتَزِمْ ذَلِكَ لَمْ يَجِبْ عَلَيْهِ تَبْلِيغُهُ كَمَنْ أُودِعَ وَدِيعَةً فَلَمْ يَقْبَلْهَا

Artinya, “Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk berkirim salam. Menurut para ulama dari kalangan kami (Madzhab Syafi’i) wajib bagi utusan (orang yang dititipi salam) menyampaikan salamnya karena merupakan sebuah amanat, sedangkan menyampaikan amanat adalah wajib. Dan konteks ini sebaiknya dikatakan (dipahami) bahwa ia (utusan) wajib menyampaikan salam tersebut sepanjang memang memiliki kesanggupan, dan mengatakan kepada pihak yang mengutus (atau menitip salam), ‘Sungguh, saya siap dan akan menyampaikan salam.’ Karenanya, jika ia tidak sanggup, maka tidak wajib baginya untuk menyampaikannya. Hal ini sebagaimana orang yang dititipi sebuah titipan kemudian ia tidak mau menerimanya,” (Lihat Waliyuddin Abu Zar’ah Al-Iraqi, Tharhut Tatsrib fi Syarhit Taqrib, juz VIII, halaman 108).

Dari penjelasan di atas setidaknya dapat ditarik simpulan bahwa secara umum hukum berkirim salam kepada teman atau keluarga teman kita adalah sunah. Sedangkan orang yang dititipi salam wajib menyampakainya karena merupakan amanat.

Tetapi dengan mengacu pada pandangan yang dikemukakan Al-‘Iraqi di atas, keharusan atau kewajiban menyampaikan titipan salam sebaiknya dipahami sepanjang yang dititip memiliki kesanggupan dan kesiapan untuk menyampaikan salam tersebut. Jika tidak, maka tidak wajib menyampaikannya.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga dapat dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.



(Mahbub Ma’afi Ramdlan)
Tags:
Share:
Senin 18 September 2017 22:1 WIB
Hukum Makan Testis Kambing
Hukum Makan Testis Kambing
Foto: Ilustrasi
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Saya ingin menanyakan mengenai status hukum testis kambing. Sebab, menjelang Idul Adha yang lalu beredar di beberapa group WA postingan berupa gambar bagian-bagian hewan kurban yang haram dimakan. Salah satunya adalah testis. Atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Nama dirahasiakan/Bekasi)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa kambing adalah termasuk hewan yang boleh dipotong dan halal dagingnya. Tetapi kehalalan sembelihan kambing dengan catatan, misalnya cara menyembelihnya harus dengan ketentuan yang telah diatur oleh syara`.

Sampai di sini tidak ada persoalan berarti. Tetapi kemudian ternyata ditemukan persoalan, apakah semua hasil sembelihan kambing itu boleh untuk dimakan atau tidak, seperti misalnya testisnya?

Dalam konteks ini ternyata pandangan para ulama ahli fikih terbelah. Menurut pendapat ulama dari kalangan madzhab Hanafi, setidaknya ada tujuh bagian yang diharamkan dari hewan yang halal dimakan seperti kambing, yaitu darah yang mengalir, alam kelamin, dua testis, kelamin betina, ghuddah, kemih, dan kandung empedu.

مَا يَحْرُمُ أَكْلُهُ مِنْ أَجْزَاءِ الْحَيَوَانِ الْمَأْكُولُ سَبْعَةٌ : الدَّمُ الْمَسْفُوحُ وَالذَّكَرُ وَالْأُنْثَيَانِ وَالْقُبُلُ وَالْغُدَّةُ وَالْمَثَانَةُ وَالْمَرَارَةُ

Artinya, “Sesuatu yang haram dimakan dari bagian anggota tubuh hewan yang boleh dimakan ada tujuh, yaitu darah yang mengalir, alat kelamin, dua testis, kemaluan kambing betina, ghuddah, kemih (kandung kencing), dan kandung empedu,” (Lihat Ibnu Abidin, Hasyiyatu Raddil Mukhtar, Beirut, Darul Fikr, 1421 H/2000 M, juz VI, halaman 311).

قَوْلُهُ وَالْغُدَّةُ) بِضَمِّ الْغَيْنِ الْمُعْجَمَةِ كُلُّ عُقْدَةٍ فِي الْجَسَدِ أَطَافَ بِهَا شَحْمٌ ، وَكُلُّ قِطْعَةٍ صُلْبَةٍ بَيْنَ الْعَصَبِ وَلَا تَكُونُ فِي الْبَطْنِ كَمَا فِي الْقَامُوسِ

Artinya, “Pernyataannya (pengarang); al-ghuddah, dengan diharakati dhammah huruf ghain-nya, maknanya adalah setiap gumpalan yang tumbuh di dalam tubuh yang diliputi oleh lemak atau setiap bagian yang keras yang terdapat di antara urat dan tidak berada dalam perut. Hal ini sebagaimana keterangan yang terdapat dalam kitab Al-Qamus (karya Fairuz Abadi, pent),” (Lihat Ibnu Abidin, Hasyiyatu Raddil Mukhtar, Beirut, Darul Fikr, 1421 H/2000 M, juz VI, halaman 749).

Keharaman ketujuh bagian tubuh hewam boleh dimakan tersebut didasarkan pada hadits riwayat Mujahid yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW tidak menyukai alat kelamin kambing,  dua testis, kemaluan, ghuddah, kandung kemih, kandung kencing, dan darah.

Menurut Al-Kasani, ketidaksukaan Rasulullah SAW dalam konteks ini maksudnya adalah makruh tahrim. Logika yang dibangun untuk sampai pada simpulan makruh tahrim adalah adalah bahwa dalam hadits tersebut mengumpulkan antara enam hal (yaitu alat kelamin, dua testis, kemaluan, ghuddah, kandung kemid dan kandung kencing) dengan darah dalam ketidaksukaan (fil karahah), sedangkan darah yang mengalir itu sendiri diharamkan.

وَرُوِيَ عَنْ مُجَاهِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ : كَرِهَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الشَّاةِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَيَيْنِ وَالْقُبُلَ وَالْغُدَّةَ وَالْمَرَارَةَ وَالْمَثَانَةَ وَالدَّمَ فَالْمُرَادُ مِنْهُ كَرَاهَةُ التَّحْرِيمِ بِدَلِيلِ أَنَّهُ جَمَعَ بَيْنَ الْأَشْيَاءِ السِّتَّةِ وَبَيْنَ الدَّمِ فِي الْكَرَاهَةِ ، وَالدَّمُ الْمَسْفُوحُ مُحَرَّمٌ  

Artinya, “Diriwayatkan dari Mujahid RA bahwa ia berkata, Rasulullah tidak menyukai (kariha) kelamin kambing, dua testis, kemaluan kambing (betina), ghuddah, kandung empedu, kandung kencing, dan darah. Yang dimaksud tidak menyukai dalam konteks ini adalah makruh tahrim. Kecendrungan untuk memahami makruh di sini sebagai makruh tahrim karena terkumpulnya di antara enam hal dengan darah dalam hadits tersebut, sedangkan darah yang mengalir itu hukumnya adalah haram,” (Lihat ‘Alauddin Al-Kasani, Bada’ius Shana’i fi Tartibis Syara’i, Beirut, Darul Kitab Al-‘Arabi, 1982 M, juz V, halaman 61).

Namun menurut keterangan yang terdapat dalam kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab yang ditulis Muhyiddin Syarf An-Nawawi, hadits riwayat dari Mujahid di atas dianggap sebagai hadits yang lemah. Konsekuensinya hadits tersebut tidak bisa dijadikan sebagai dasar hukum.

Lebih lanjut, ia mengemukakan pandangan Al-Khaththabi yang menyatakan bahwa sesuai dengan ijma’ atau konsensus para ulama bahwa darah adalah haram. Sedangkan keenam hal yang disebutkan bersama darah adalah dimakruhkan bukan diharamkan. Demikian yang kami pahami dipernyataannya berikut ini:

فَصْلٌ) عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ (كَانَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم يَكْرَهُ مِنَ الشَّاةِ سَبْعًا الدَّمَ وَالْمَرَارَ وَالذَّكَرَ وَالْاُنْثَيَيْنِ وَالْحَيَا وَالْغُدَّةَ وَالْمَثَانَةَ وَكَانَ أَعْجَبُ الشَّاةِ إِلَيْهِ مُقَدَّمَهَا) رَوَاهُ الْبَيْهَقِىُّ هَكَذَا مُرْسَلًا وَهُوَ ضَعِيفٌ قَالَ وَرُوِىَ مَوْصُولًا بِذْكْرِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَهُوَ حَدِيثٌ قَالَ وَلَا يَصِحُّ وَصْلُهُ قَالَ الْخَطَّابِىُّ اَلدَّمُ حَرَامٌ بِالْاِجْمَاعِ وَعَامَّةُ الْمَذْكُورَاتِ مَعَهُ مَكْرُوهَةٌ غَيْرُ مُحَرَّمَةٌ

Artinya, “(Fasal), diriwayatkan dari Mujahid ia berkata, ‘Rasulullah SAW tidak menyukai tujuh bagian dari kambing yaitu darah, kandung kemih, alat kelamin, dua testis, kemaluan, ghuddah, kandung kencing. Dan bagian kambing yang paling disukai Rasulullah saw adalah hasta dan bahunya’. Demikianlah hadits ini diriwayakan Al-Baihaqi secara mursal dan masuk kategori hadits dha’if. Al-Baihaqi berkata, ada juga yang diriwayatkan secara maushul (bersambung sanadnya atau muttashil) dengan menyebutkan Ibnu Abbas RA yaitu sebuah hadits...namun sayangnya kebersambungan tersebut tidak bisa diterima. Al-Khaththabi berpendapat bahwa darah itu haram sesuai dengan ijma’ para ulama, sedangkan semua yang disebutkan bersama darah dalam hadits tersebut adalah dimakruhkan bukan diharamkan.”

Serupa dengan pandangan Al-Khaththabi adalah riwayat Ibnu Habib dari kalangan Madzhab Maliki, yang menyatakan testis hewan yang halal dimakan adalah tidak sampai dihukumi haram. Hal ini sebagaimana yang pahami dalam keterangan yang terdapat dalam kitab At-Taj wal Iklil sebagai berikut:

وَرَوَى ابْنُ حَبِيبٍ اسْتِثْقَالَ أَكْلِ عَشْرَةٍ دُونَ تَحْرِيمِ الْأُنْثَيَانِ وَالْعَسِيبُ وَالْغُدَّةُ....

Artinya, “Ibnu Habib meriwayatkan tentang menganggap beratnya (istitsqal) memakan sepuluh (bagian tubuh hewan yang halal) tetapi tidak diharamkan, yaitu dua testis, alat kelamin, ghuddah...”

Dari penjelasan yang kami kemukakan, setidaknya ada dua pandangan mengenai hukum testis kambing. Pertama, menyatakan haram seperti dikemukakan oleh para ulama dari kalangan madzhab Hanafi. Sedangkan pendapat kedua menyatakan tidak haram, seperti yang dikemukakan Al-Khaththabi ulama dari kalangan Madzhab Syafi’i dan riwayat Ibnu Habib dari kalangan ulama Madzhab Maliki.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga dapat dipahami dengan baik. Perbedaan pendapat ini dapat diterima serta disikapi dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.



(Mahbub Ma’afi Ramdlan)
Jumat 15 September 2017 21:6 WIB
Hukum Ejakulasi di Luar Rahim karena Takut Hamil
Hukum Ejakulasi di Luar Rahim karena Takut Hamil
Foto: Ilustrasi
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, sejumlah cara dilakukan banyak pasangan suami-istri untuk menghindarkan diri dari kehamilan mengingat konsekuensinya bila anak bertambah. Untuk itu banyak orang mengikuti program KB dengan konsumsi pil, vasektomi atau tubektomi, penggunaan kondom, hubungan dengan sistem kalender. Tetapi ada juga pasangan suami-istri yang mencegah kehamilan dengan melakukan ejakulasi di luar rahim. Mohon penjelasan agama perihal ini. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Sunardi/Surabaya).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Pada hakikatnya penciptaan manusia atau makhluk hidup secara umum bergantung pada kehendak Ilahi. Sementara hubungan suami-istri hanyalah sebab dari penciptaan manusia.

Meskipun sekadar sebab, hubungan suami-istri merupakan sebab yang cukup kuat dalam penciptaan manusia mengingat ketinggian frekuensi sebab-akibat antara hubungan suami-sitri dan kehamilan. Hanya sedikit sekali kasus penciptaan yang terjadi pada Nabi Adam AS, Siti Hawa, dan Nabi Isa AS.

Untuk menghindari kehamilan, manusia menemukan sejumlah cara, salah satunya adalah ejakulasi di luar rahim. Sebagian kalangan menyebutnya sebagai "senggama terputus" atau coitus interuptus.

Aktivitas ejakulasi di luar rahim saat berhubungan suami istri dalam istilah agama disebut “al-‘azlu.” Al-azlu atau azal dipahami sebagai aktivitas menarik kelamin suami dari dalam farji saat berhubungan suami-istri dengan tujuan untuk menumpahkan sperma di luar rahim.

Adalah benar bahwa pada hakikatnya penciptaan manusia itu bergantung pada kehendak Ilahi. Tetapi manusia juga dapat mengupayakan perencanaan kehamilan melalui sejumlah cara-cara sebagai di atas, antara lain ejakulasi di luar rahim.

Perihal ini, para ulama berbeda pandangan. Sebagian ulama, yaitu kalangan Syafi’iyah dan Hanbaliyah memutuskan makruh untuk perbuatan azal ini. Tetapi bila ada pertimbangan khusus yang sekiranya dapat melahirkan “problem” karena kehamilan itu, Imam Al-Ghazali menyarankan agar kehamilan sebaiknya direncanakan.

إلا أن الشافعية والحنابلة وقوماً من الصحابة قالوا بكراهة العزل؛ لأن الرسول صلّى الله عليه وسلم في حديث مسلم عن عائشة سماه الوأد الخفي، فحمل النهي على كراهة التنزيه. وأجاز الغزالي العزل لأسباب منها كثرة الحرج بسبب كثرة الأولاد. وبناء عليه يجوز استعمال موانع الحمل الحديثة كالحبوب وغيرها لفترة مؤقتة، دون أن يترتب عليه استئصال إمكان الحمل، وصلاحية الإنجاب

Artinya, “Hanya ulama dari kalangan madzhab Syafi’I, Hanbali, dan sejumlah sahabat menyatakan kemakruhan azal karena Rasulullah SAW dalam riwayat Muslim dari Siti Aisyah menyebut azal sebagai pembunuhan samar-samar. Larangan dalam riwayat ini dipahami sebagai makruh tanzih yang sebaiknya tidak dilakukan. Tetapi Imam Al-Ghazali membolehkan azal karena sejumlah sebab, salah satunya kemunculan banyak ‘problem’ yang dipicu oleh kebanyakan anak. Atas dasar pandangan Al-Ghazali ini, penggunaan alat kekinian perencanaan jumlah anak seperti pil KB atau media KB lainnya untuk jangka waktu tertentu yang tidak berdampak pada penutupan sama sekali kemungkinan kehamilan atau  tidak merusak benih janin normal, diperbolehkan,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, cetakan kedua, 1985 M/1305, Beirut, Darul Fikr, juz 3, halaman 554-555).

“Problem” dalam padangan Imam Al-Ghazali di sini perlu digarisbawahi. Ledakan jumlah penduduk tanpa kontrol bisa jadi menimbulkan masalah yaitu problem kesejahteraan, kependudukan, dampak pada pendidikan, ledakan penduduk, peningkatan beban pemerintah baik pusat maupun daerah. Bisa jadi problem medis seperti penyakit "berat" yang akan diderita anak.

Di samping itu ledakan penduduk berkaitan erat dengan penyediaan kebutuhan dasar yaitu pangan, keamanan, lapangan kerja, urbanisasi, pendidikan, transportasi, energi, kesehatan, perumahan, tatakota, dan problem sosial lainnya.

Hanya saja problem ledakan penduduk ini harus didasarkan pada rilis resmi lembaga pemerintah terkait seperti Badan Pusat Statistik, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), atau instansi pemerintah lainnya.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.



(Alhafiz Kurniawan)
Jumat 8 September 2017 22:0 WIB
Bagaimana Sikap Kita terhadap Para Wali dan Sufi Kontroversial-Nyeleneh?
Bagaimana Sikap Kita terhadap Para Wali dan Sufi Kontroversial-Nyeleneh?
Foto: Ilustrasi
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, sepanjang sejarah Islam kita mengenal sejumlah tokoh-tokoh sufi yang pernyataannya tampak kontroversial sehingga memicu polemik di kalangan orang-orang sezamannya dan sepeninggalnya baik kalangan ulama maupun awam. Pertanyaan saya, sebagai orang awam apa sikap saya semestinya terhadap mereka itu? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Abdul Bari/Tegal).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Adalah benar bahwa kita mengenal guru-guru yang pernyataan atau sebagian perkataannya tampak kontroversial yaitu Abu Yazid, Al-Hallaj, sebagian tulisan Imam Al-Ghazali, Ibnul Arabi, Abdul Karim Al-Jili, Rumi, Hamzah Fansuri, Syekh Siti Jenar, Syekh Samman, Syekh Mutamakkin, atau orang-orang saleh lainnya.

Beberapa kalimat ini mungkin menjadi “masalah”, yaitu “subhâni”, “anal haq”, “mâ fil jubbah illallâh”. Berikut ini kami kutipkan syair Hamzah Fansuri.

"Ombaknya zahir lautnya batin//Keduanya wahid tiada berlain
Menjadi tawfan hujan dan angin//Wahid-nya juga harakat dan sakin," (Lihat edisi teks Drewes & Brakel, The Poems of Hamzah Fansoeri, 1986: 126).

Atau
"Kuntu kanzan mulanya nyata//Hakikat ombak di sana ada
Adanya itu tiada bernama//Majnun dan Layla ada di sana," (Lihat edisi teks Drewes & Brakel, The Poems of Hamzah Fansoeri,  1986: 128).

Atau yang cukup populer yaitu,
"Hamzah Fansuri di dalam Mekkah//Mencari Tuhan di Baitul Ka‘bah
Dari Barus ke Kudus terlalu payah//Akhirnya ditemukan pada di dalam rumah."

Menurut hemat kami, sebagai orang awam kita sebaiknya tidak perlu mengambil posisi dukungan atau berseberangan atas pernyataan “kontroversial” para sufi itu. Lain soal untuk kepentingan ilmiah. Kepentingan ilmiah harus terus berjalan. Untuk kepentingan ilmiah bisa saja kita mengkaji pernyataan dan ekspresi verbal mereka menurut tatacara ilmiah.

Tetapi sebagai orang yang datang kemudian, sebaiknya kita menghormati mereka sebagai guru spiritual atau sebagai manusia dengan penjelajahan luar biasa dalam “menemukan” Allah sang pencipta. Hal ini menunjukkan rasa rindu mereka terhadap Zat hakiki.

Hemat kami, penghormatan terhadap mereka sebaiknya yang lebih ditonjolkan. Hal ini ditunjukkan oleh Imam An-Nawawi ketika ditanya pandangannya soal paham kontroversial Ibnul Arabi yang hidup seabad sebelumnya.

وأما احترام الماضى فالمراد من تقدم من الصحابة والتابعين والأولياء والصالحين والعلماء العاملين واحترامهم ألا يذكروا إلا بإحسان وأن يلتمس لهم أحسن المذاهب ويرحم الله النواوى لما سئل عن ابن العربى الحاتمى فقال الكلام كلام صوفى تلك أمة قد خلت لها ما كسبت ولكم ما كسبتم ولا تسئلون عما كانوا يعملون ومن احترامهم الاستغفار والترضى عنهم قال تعالى وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ

Artinya, “Adapun bentuk penghormatan (kita) terhadap orang terdahulu–mereka yang  dimaksud adalah para sahabat rasul, tabi‘in, para wali, orang-orang saleh, dan ulama–adalah hanya menyebut kebaikan mereka dan mengambil madzhab (jalan atau pandangan) terbaik dari mereka. Imam An-Nawawi–Allah yarhamuh–ketika ditanya sikapnya terhadap pandangan Ibnul Arabi (yang wafat lebih dulu) menjawab dengan bijak, ‘Perkataan (Ibnul Arabi) adalah perkataan kalangan sufi. Ia termasuk umat terdahulu. Mereka akan menerima jerih payah mereka. Begitu juga kalian. Kalian akan menerima jerih payah kalian. Kalian takkan diminta pertanggungjawaban atas jerih payah mereka.’ Salah satu bentuk penghormatan (kita) untuk mereka adalah permohonan ampunan dan ridha Allah untuk mereka. Allah berfirman, ‘Orang-orang beriman yang datang sepeninggal mereka berdoa, ‘Tuhan kami, ampunilah kami dan orang-orang beriman yang telah mendahului kami,’’” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah Al-Hasani, Al-Futuhatul Ilahiyyah fi Syarhil Mabahitsil Ashliyyah, Beirut, Darul Fikr, tanpa tahun, halaman 263).

Saran kami, kita hendaknya berhati-hati sekali dalam membahas kembali karya atau pernyataan kontroversial mereka agar kita tidak menaruh su’uzhan terhadap orang-orang mulia yang telah mendahului kita.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.



(Alhafiz Kurniawan)