IMG-LOGO
Trending Now:
Bahtsul Masail

Konsep Masjid Ramah Anak dalam Islam

Selasa 5 September 2017 15:16 WIB
Share:
Konsep Masjid Ramah Anak dalam Islam
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Pengasuh rubrik Bahtsul Masail NU Online yang baik, saya punya anak kecil usia dua tahun. Ia sering ikut ke masjid. Terkadang ia berlari-lari di depan orang yang sedang shalat. Pertanyaan saya, apa hukumnya membawa anak kecil ke masjid? Terima kasih atas penjelasannya. Assalamu alaikum. wr. wb. (Viali).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya kepada kita semua. Pendidikan anak melalui keteladanan memang baiknya dibangun sejak dini. Aktivitas ibadah orang tua memang baiknya dilihat agar ditiru anak sejak dini. Terlebih lagi mendekatkan anak-anak ke masjid akan menjadi memori yang patut ditanamkan sedini mungkin.

Hanya saja para ulama memberikan rambu-rambu yang perlu diperhatikan orang tua. Pertimbangan ini dimaksudkan agar masjid sebagai tempat ibadah tidak terkurangi nilainya. Berikut ini kami kutipkan keterangan Syekh Abu Zakariya Al-Anshari.

قَوْلُهُ : وَيُمْنَعُ الصِّبْيَانُ إلَخْ ) أَفْتَى وَالِدُ النَّاشِرِيِّ بِأَنَّ تَعْلِيمَ الصِّبْيَانِ فِي الْمَسْجِدِ أَمْرٌ حَسَنٌ ، وَالصِّبْيَانُ يَدْخُلُونَ الْمَسْجِدَ مِنْ عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إلَى الْآنَ مِنْ غَيْرِ نَكِيرٍ وَالْقَوْلُ بِكَرَاهَةِ دُخُولِ الصِّبْيَانِ الْمَسْجِدَ لَيْسَ عَلَى إطْلَاقِهِ بَلْ مُخْتَصٌّ بِمَنْ لَا يُمَيِّزُ لَا طَاعَةَ فِيهَا وَلَا حَاجَةَ إلَيْهَا وَإِلَّا فَأَجْرُ التَّعْلِيمِ قَدْ يَزِيدُ عَلَى نُقْصَانِ الْأَجْرِ بِكَرَاهَةِ الدُّخُولِ

Artinya, “(Anak-anak dilarang...) Walid An-Nasyiri mengeluarkan fatwa bahwa pengajaran anak-anak di masjid adalah hal yang baik. Anak-anak bebas memasuki masjid sejak era Rasulullah SAW hidup hingga kini tanpa dipermasalahkan. Pendapat yang menyatakan makruh atas masuknya anak-anak ke dalam masjid tidak berlaku secara mutlak. Kemakruhan ini berlaku hanya untuk anak-anak yang belum mumayyiz yang belum terbebani ibadah dan hajat terhadapnya. Tetapi pahala pengajaran anak-anak melebihi pengurangan pahala karena hukum makruh anak-anak memasuki masjid,” (Syekh Zakariya Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarhu Raudhatit Thalib, Juz 3, halaman 108).

Keterangan di atas membagi anak kecil mejadi dua kategori. Pertama, mumayyiz (anak yang sudah membedakan baik dan buruk, serta telah mengerti bahasa atau aturan). Kedua belum mumayyiz, anak yang belum bisa menimbang baik dan buruk (biasanya anak di bawah usia lima tahun).

Hukum makruh hanya jatuh pada anak kecil yang belum mumayyiz karena dikhawatirkan mencemari masjid lantaran belum mengerti, khawatir mereka membuang kotoran tanpa diduga. Namun hal ini bisa diantisipasi dengan pembalut anak (pampers) yang rapat. Di samping itu anak-anak yang belum mumayyiz belum bisa menerima peringatan untuk tenang agar tidak mengganggu aktivitas shalat pengunjung lainnya. Ini yang repot. Karenanya ulama menyatakan makruh.

Baiknya memang ada ruangan masjid khusus orang tua yang membawa anak di bawah umur dengan jaminan pembalut yang rapat. Menciptakan “masjid ramah anak” memang membutuhkan kesiapan manajemen, tata ruang, dan kesadaran tinggi seluruh jamaah. Padahal anak di bawah umur juga memiliki hak guna terhadap masjid.

Saran kami, berilah keteladanan shalat untuk anak-anak di rumah atau di masjid bagian belakang agar si anak juga tidak mengganggu jamaah lainnya. Orang tua harus menjamin kesucian masjid dengan memberikan pengamanan anak-anak lewat pembalut yang rapat.

Demikian yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Tags:
Share:
Jumat 25 Agustus 2017 18:3 WIB
Hukum Menghajikan Orang Tua oleh Anak yang Belum Haji
Hukum Menghajikan Orang Tua oleh Anak yang Belum Haji
Foto: Ilustrasi
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi bahtsul masail NU Online, saya berencana menghajikan kedua orang tua karena memang keduanya belum pernah berhaji. Hal ini saya lakukan semata-mata sebagai bakti anak kepada kedua orang tua. Tetapi yang perlu diketahui saya ini juga belum pernah haji. Yang ingin saya tanyakan, apakah menghajikan kedua orang tua terlebih dahulu padahal saya belum pernah haji dapat diperbolehkan? Dan bagaimana hukumnya? Atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Syarip/Bandung)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Menghajikan kedua orang tua tentu merupakan sebuah amal kebajikan dan merupakan salah satu bukti bakti anak kepada keduanya. Sebab, sebagai anak berbuat kebajikan kepada kedua orang tua atau yang dikenal dengan istilah birrul walidain adalah sebuah kewajiban tak tersangkal.

Sampai di titik ini sebenarnya tidak ada masalah berarti. Masalah kemudian muncul ketika si anak menghajikan kedua orang tuanya, sementara ia sendiri belum berhaji. Biasanya alasan yang dikemukakan adalah lebih karena sebagai penghormatan dan bakti sang anak kepada kedua orang tuanya, alasan lainnya usia keduanya sudah sepuh padahal belum berhaji.

Alasan-alasan ini tampak sangat logis dan mudah dimengerti. Tetapi apakah alasan-alasan ini benar-benar dapat diterima secara nalar. Bisa jadi jawabnya iya, tapi bisa juga tidak.

Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam dan diwajibkan bagi setiap mulsim yang telah memenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh syara’. Sedangkan tindakan sang anak dengan memberangkat kedua orang tuanya terlebih dahulu sebelum dirinya termasuk tindakan memberikan kesempatan terlebih dahulu kepada pihak lain dalam soal ibadah.  

Dari sini kemudian terlihat jelas persoalannya, yaitu bagaimana hukum memberangkatkan haji kedua orang tua, sementara pihak yang memberangkatkan belum menunaikan kewajiban haji tersebut, padahal haji adalah ibadah wajib dan termasuk rukun Islam.

Untuk menjawab persoalan ini kami akan menghadirkan salah satu kaidah fikih yang termaktub dalam kitab Al-Asybah wan Nazhair. Bunyi kaidah tersebut adalah “bahwa mendahulukan pihak lain dalam persoalan ibadah adalah makruh.”

اَلْإِيثَارُ فِي الْقُرْبِ مَكْرُوهٌ

Artinya, “Mendahulukan pihak lain dalam persoalan ibadah adalah makruh,” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Asybah wan Nazha`ir, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, 1403 H, halaman 116).

Kaidah ini mengandaikan bahwa mendahulukan orang lain dalam persoalan ibadah dihukumi makruh. Dengan kata lain, sebaiknya tindakan mendahulukkan ini dihindari. Berbeda dengan sebaliknya, yaitu mendahulukan atau lebih mementing orang lain daripada diri sendiri dalam hal yang berkaitan dengan non-ibadah maka sangat dianjurkan.

وَفِي غَيْرِهَا مَحْبُوبٌ قَالَ تَعَالَى وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

Artinya, “Dan mendahulukan orang lain dalam persoalan selain ibadah itu sangat baik. Allah SWT berfirman, ‘Dan mereka mengutamakan (kaum Muhajirin) atas dirinya sendiri, padahal mereka juga memerlukan,’ (Surat Al-Hasyr ayat 9),” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Asybah wan Nazha`ir, halaman 116).

Oleh sebab itu, maka Sulthanul Ulama` Syekh Izzuddin Abdus Salam memandang, tidak boleh mendahulukan orang lain dari dirinya sendiri dalam soal ibadah. Sedangkan argumentasi yang dikemukakan beliau adalah bahwa esensi atau tujuan ibadah pada dasarnya untuk mengagungkan Allah SWT. Karenanya, ketika ada seseorang yang mendahulukan atau mengutamakan pihak lain ketimbang dirinya dalam soal ibadah, maka orang tersebut dianggap mengabaikan pengagungan kepada-Nya.

قَالَ الشَّيْخُ عِزُّ الدِّينِ لَا إِيثَارَ فْي الْقُرُبَاتِ فَلَا إِيثَارَ بِمَاءِ الطَّهَارَةِ وَلَا بِسَتْرِ الْعَوْرَةِ وَلَا بِالصَّفِّ الْأَوَّلِ لِأَنَّ الْغَرْضَ بِالْعِبَادَاتِ التَّعْظِيمُ وَالْإِجْلَالُ فَمَنْ آثَرَ بِهِ فَقَدْ تَرَكَ إِجْلَالَ الْإِلَهِ وَتَعْظِيمَهُ

Artinya, “Syekh Izzuddin berkata, tidak boleh mengutamakan orang lain sementara dirinya membutuhkan dalam hal ibadah. Karenanya, tidak boleh mengutamakan orang lain dalam hal air untuk bersuci, menutup aurat, dan shaf pertama dalam shalat jamaah. Sebab, esensi dari ibadah adalah mengagungkan Allah SWT. Oleh sebab itu barangsiapa yang lebih mengutamana orang lain ketimbang dirinya dalam soal ibadah, maka ia telah mengabaikan pengagungan kepada-Nya,” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Asybah wan Nazha`ir, halaman 116).

Jika penjelasan ini ditarik dalam konteks pertanyaan di atas, maka jawabannya adalah tindakan seorang anak yang menghajikan kedua orang tua sementara ia sendiri belum pernah berhaji adalah boleh tetapi makruh. Sebab tujuan ibadah adalah pengagungan kepada Allah SWT.

Hal ini selaras dengan kaidah di atas yang menyatakan, “Bahwa mendahulukan pihak lain dalam persoalan ibadah adalah makruh.” Karena dihukumi makruh, maka sebaiknya tidak perlu dilakukan. Yang paling baik adalah berhaji sendiri baru kemudian menghajikan kedua orang tuanya.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.



(Mahbub Ma’afi Ramdlan)
Selasa 22 Agustus 2017 15:30 WIB
Hukum Menyanyikan Lagu Indonesia Raya
Hukum Menyanyikan Lagu Indonesia Raya
Foto: Ilustrasi
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, lima tahun terakhir kampanye antihormat bendera merah putih dan pengharaman menyanyikan lagu Indonesia Raya muncul secara terang-terangan di media sosial. Sementara kita sudah lebih dari setengah abad melakukan penghormatan terhadap bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Bagaimana sebenarnya agama Islam memandang masalah ini. Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Nuryamin/Tasikmalaya).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Secara naluriah setiap orang mencintai tanah airnya karena ia adalah manusia yang memiliki ikatan emosional dengan tanah kelahirannya tersebut. Ia bukan robot atau mesin-mesin industri yang tidak memiliki pengalaman sebagai manusia.

Luapan cinta tanah air itu diekspresikan dengan pelbagai macam cara. Salah satunya adalah mengikuti upacara hormat bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Lalu bagaimana dengan gugatan sejumlah orang dan kelompok tertentu yang mengampanyekan pengharaman terhadap penghormatan bendera merah putih dan pengharaman menyanyikan lagu Indonesia Raya?

Sebenarnya tidak ada dalil agama yang mengharamkan ekspresi cinta tanah air seperti hormat bendera dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Hal ini disinggung oleh Syekh Wahbah Az-Zuhayli berikut ini.

وأقول: إن الأغاني الوطنية أو الداعية إلى فضيلة، أو جهاد، لا مانع منها، بشرط عدم الاختلاط، وستر أجزاء المرأة ما عدا الوجه والكفين. وأما الأغاني المحرضة على الرذيلة فلا شك في حرمتها، حتى عند القائلين بإباحة الغناء، وعلى التخصيص منكرات الإذاعة والتلفاز الكثيرة في وقتنا الحاضر.

Artinya, “Saya bisa mengatakan, ‘Lagu-lagu kebangsaan, atau lagu-lagu yang memotivasi anak bangsa pada kemuliaan atau semangat perjuangan, tidak ada larangan (dalam agama) dengan syarat tidak campur baur laki-perempuan, dan (syarat lain) tutup tubuh perempuan selain wajah dan telapak tangan.

Sedangkan lagu-lagu yang mendorong orang pada akhlak tercela, jelas diharamkan sekalipun menurut ulama yang menyatakan kemubahan lagu dan nyanyian, terutama sekali (lagu-lagu yang mengandung) kemunkaran seperti ditayangkan stasiun radio dan televisi di zaman kita sekarang ini,’” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, cetakan kedua, 1985 M/1305, Beirut, Darul Fikr, juz III, halaman 576).

Keterangan di atas jelas membedakan nyanyian kebangsaan dan campur-baurnya laki-perempuan dalam menyanyikannya. Menyanyikan lagu Indonesia Raya sendiri jelas tidak diharamkan. Pengharamannya terletak pada campur-baur laki-perempuan seperti orang berdesakan di pasar malam. Dengan kata lain, haramnya bukan karena menyanyinya, tetapi lebih pada ikhtilath-nya. Sedangkan dalam menyanyikan lagu Indonesia Raya orang tidak bercampur-baur seperti itu. Mereka berdiri teratur dalam barisan upacara yang rapi.

Memang kita harus mengakui bahwa negara-bangsa (nation-state) adalah fenomena zaman modern. Ia hadir baru beberapa abad belakangan ini karena pengaruh zaman industri modern dan juga kolonialisme. Karenanya masalah ini belum ada dan belum menjadi pembahasan di kalangan salafus saleh.

Meskipun ini adalah masalah baru seiring dengan negara-bangsa sebagai fenomena modern, kita tidak bisa memaksakan diri untuk menghukumi penghormatan bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan sebagai sesuatu yang haram karena memang tidak ada larangannya dalam agama. Pasalnya, kewajiban dan larangan agama sudah jelas. Sedangkan masalah penghormatan bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan merupakan bagian dari rahmat Allah SWT yang patut disyukuri seperti sabda Rasulullah SAW pada Hadits Ke-30 yang dikutip dari Kitab Al-Arba‘in Nawawiyah berikut ini.

قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم: إِنَّ اللهَ-تَعَالَى-فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوهَا، وَحَدَّ حُدُودًا فَلاَ تَعْتَدُوهَا، وَنَهَى عَنْ أَشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوهَا، وَسَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ مِنْ غَيْرِ نِسْيَانٍ لَهَا رَحْمَةً لَكُمْ فَلاَ تَبْحَثُوا عَنْهَا

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh, Allah telah menentukan sejumlah kewajiban. Jangan kalian menyia-siakannya. Ia juga telah membuat sejumlah batasan. Jangan kalian melampaui batasan-Nya. Ia juga telah melarang beberapa hal. Jangan kalian melanggarnya. Ia mendiamkan sejumlah masalah, bukan karena lupa, tetapi karena kasih sayang-Nya kepada kalian. Oleh karena itu kalian jangan mempermasalahkannya,’” HR Daruquthni.

Dari pelbagai keterangan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa penghormatan bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya adalah mubah sebagai rahmat Allah SWT. Kita tidak memegang hak untuk mempersempit rahmat-Nya. Di samping itu penghormatan bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya bukan bentuk fanatik buta dan rasialis radikal (sauvinisme), tetapi ekspresi cinta tanah air sebagai fenomena modern atas rumah bersama mereka.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.



(Alhafiz Kurniawan)
Ahad 20 Agustus 2017 18:2 WIB
Kenapa Sujud Harus Dua Kali Dalam Satu Rakaat?
Kenapa Sujud Harus Dua Kali Dalam Satu Rakaat?
Foto: Ilustrasi
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, mohon maaf sebelumnya, karena pertanyaan kami tampak seperti mengada-ada. Tetapi bagaimanapun pertanyaan ini tetap tersimpan di dalam hati kecil kami. Pertanyaan kami adalah kenapa agama mengharuskan kita bersujud dua kali dalam satu rakaat. Sementara rukun shalat lainnya hanya dikerjakan sekali, yaitu membaca Surat Al-Fatihah, rukuk, itidal, duduk di antara dua sujud. Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Ali Abdul Ghafur/Ternate).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Kami mencoba untuk memberikan jawaban atas pertanyaan ini. Perintah ibadah lazimnya dipahami oleh ulama sebagai masalah ta‘abbudi, wujud penghambaan manusia kepada Allah tanpa bisa dinalar mengapanya, yaitu mengapa shalat subuh terdiri atas dua rakaat, kenapa kita harus menghadap kiblat, dan seterusnya.

Lain halnya dengan masalah agama di luar ibadah seperti muamalah yang bersifat ta‘aqquli, suatu masalah agama yang bisa dinalar penjelasannya.

Sebagaimana diketahui bahwa rukun-rukun shalat hanya diperintahkan sekali dalam satu rakaat kecuali sujud. Kita diperintahkan untuk bersujud dua kali dalam satu rakaat. Kalau merujuk pada karya-karya para ulama, kita akan mendapati perbedaan pendapat di kalangan ulama untuk masalah ini. sebagian ulama mengatakan bahwa pengulangan sujud adalah perkara ta‘abbudi. Menurut mayoritas ulama Hanafi, pengulangan sujud adalah masalah ta‘abbudi sebagaimana keterangan Syekh Wahbah Az-Zuhayli berikut ini.

وأما تكرار السجود فهو أمر تعبدي ، أي لم يعقل معناه على قول أكثر مشايخ الحنفية، تحقيقاً للابتلاء (الاختبار)

Artinya, “Pengulangan sujud termasuk kategori ta‘abudi, sebuah perintah agama yang maksudnya tidak bisa dinalar menurut mayoritas ulama Madzhab Hanafi, sebuah perwujudan ujian atau cobaan (bagi hamba-Nya).” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, cetakan kedua, 1985 M/1305, Beirut, Darul Fikr, juz 1, halaman 661).

Meskipun demikian, di kalangan ulama Hanafi sendiri masalah ini masih menjadi perdebatan. Ibnu Abidin, salah seorang pemuka ulama Hanafi belakangan, menyatakan bahwa pengulangan sujud adalah masalah ta‘aqquli sebagai keterangan berikut ini.

قَال : إِنَّ تَكْرَارَ السُّجُودِ أَمْرٌ تَعَبُّدِيٌّ ، أَيْ لَمْ يُعْقَل مَعْنَاهُ ، تَحْقِيقًا لِلاِبْتِلاَءِ . وَقَال ابْنُ عَابِدِينَ : وَقِيل : إِنَّهُ ثُنِّيَ تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ ، حَيْثُ أُمِرَ بِالسُّجُودِ مَرَّةً فَلَمْ يَسْجُدْ ، فَنَحْنُ نَسْجُدُ مَرَّتَيْنِ

Artinya, “Pengulangan sujud termasuk kategori ta‘abudi, sebuah perintah yang maksudnya tidak bisa dinalar, sebuah perwujudan ujian (bagi hamba-Nya). Ibnu Abidin mengatakan, ‘Sebagian ulama mengartikan perintah sujud dua kali dalam satu rakaat sebagai penghinaan untuk setan di mana ia diperintah sekali sujud saja tidak mau, sedangkan manusia sujud sebanyak dua kali,’” (Lihat Al-Mausu‘atul Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, Kuwait, Wizaratul Awqaf was Syu’unul Islamiyah, Darus Salasil, juz XII, halaman 208).

Sedangkan KH Afifuddin Muhajir dari kalangan Syafi‘iyah dalam karyanya Fathul Mujibil Qarib sependapat bahwa pengulangan sujud adalah masalah ta‘aqquli. Hanya saja ia menjelaskan makna pengulangan sujud itu dari aspek ta‘aqquli yang berbeda dari penjelasan Ibnu Abidin.

وإنما كرر السجود دون غيره من الأركان لما فيه من زيادة التواضع بوضع أشرف الأعضاء على مواطئ الأقدام

Artinya, “Pengulangan sujud–bukan rukun shalat lainnya–bertujuan untuk menunjukkan kerendahan hati karena meletakan kepala sebagai anggota tubuh paling di atas lantai, tempat jejak kaki,” (Lihat KH Afifuddin Muhajir, Fathul Mujibil Qarib, cetakan pertama, 2014 M/ 1424 H, Situbondo, Al-Maktabah Al-As‘adiyah, halaman 44).

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.



(Alhafiz Kurniawan)