IMG-LOGO
Trending Now:
Syariah

Hukum Berobat Kepada Non-Muslim

Rabu 27 September 2017 7:4 WIB
Share:
Hukum Berobat Kepada Non-Muslim
Foto: Ilustrasi
Setiap orang pasti butuh pengobatan. Tidak ada manusia di dunia ini yang terbebas dari penyakit. Sebagian besar orang pasti pernah sakit, apakah itu penyakit ringan atau berat. Dengan kemajuan teknologi dan pengetahuan, alternatif pengobatan pun semakin banyak: bisa datang kepada pengobatan tradisional atau pengobatan modern. Tinggal pilih saja mana yang dirasa nyaman dan biayanya terukur.

Pengobatan yang ada di Indonesia tidak semua tabib atau dokternya Muslim. Malah bagi sebagian orang, mereka lebih percaya dan nyaman berobat dengan non-Muslim ketimbang dokter Muslim. Ada banyak hal yang membuat mereka tertarik dengan dokter non-Muslim, bisa jadi pengobatannya lebih bagus, profesional, dan lain-lain.

Ibnu Hajar Al-Haitami pernah ditanya soal ini, bagaimana hukum Muslim berobat kepada non-Muslim atau sebaliknya. Dalam Al-Fatawa Al-Fiqhiyyah Al-Kubra, ia menjelaskan:

يجوز طب المسلم للكافر ولو حربيا كما يجوز له أن يتصدق عليه لقول صلى الله عليه وسلم في كل كيد حراء أو في رواية رطبة أجر وأما تطبب المسلم بكافر فإنما يجوز إن فقد مسلما غيره يقوم مقامه وكان ذلك الكافر مأمونا بحيث لا يخشى ضرره

Artinya, “Muslim dibolehkan mengobati orang kafir, meskipun kafir harbi sebagaimana dibolehkan bersedekah kepada mereka, atas dasar perkataan Rasulullah SAW bahwa setiap kebaikan ada balasan. Sebaliknya, Muslim dibolehkan berobat kepada orang kafir dengan syarat tidak ada orang Islam yang mampu mengobati penyakitnya dan orang yang mengobatinya dapat dipercaya, serta tidak akan berbuat jahat.”

Ibnu Hajar membolehkan Muslim mengobati non-Muslim secara mutlak. Sementara Muslim yang berobat kepada non-Muslim dibolehkan bila tidak ada dokter Muslim dan bisa dipercaya. Persyaratan ini dibuat untuk kehati-hatian. Kalau memang dokter non-Muslimnya baik dan sudah berpengalaman dalam mengobati banyak orang, termasuk Muslim, tidak ada masalah untuk berobat dengannya.

Apalagi dalam konteks Indonesia, setiap pengobatan atau rumah sakit harus minta izin dulu kepada negara sebelum buka praktiknya. Izin ini bertujuan agar pemerintah bisa menilai apakah pengobatan tersebut memenuhi standar ilmiah, kesehatan, dan tidak merugikan publik. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Share:
Senin 25 September 2017 6:3 WIB
Status Eyeliner dalam Hukum Islam
Status Eyeliner dalam Hukum Islam
Foto: Ilustrasi
Hampir semua wanita ingin tampil cantik dan sedap dipandang mata. Kosmetik adalah solusinya. Salah satu kosmetik wanita yang digunakan untuk mempercantik dan menegaskan bentuk mata adalah celak atau eyeliner (penggaris mata). Eyeliner ini sangatlah eksis dan ngetrend di kalangan wanita dengan berbagai fungsi dan tujuannya, terlebih bagi wanita yang bermata sipit dan sayu.

Sebenarnya kosmetik untuk mempertajam mata telah ada sejak zaman Rasulullah SAW bahkan sejak zaman Mesir kuno. Celak yang bagus pada saat itu adalah celak itsmid yang terbuat dari batu hitam kemerahan dengan fungsi menajamkan mata dan menumbuhkan rambut mata sebagaimana di dalam hadits riwayat Al-Tirmidzi disebutkan.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اكْتَحِلُوا بِالْإِثْمِدِ فَإِنَّهُ يَجْلُو الْبَصَرَ وَيُنْبِتُ الشَّعْرَ وَزَعَمَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَتْ لَهُ مُكْحُلَةٌ يَكْتَحِلُ بِهَا كُلَّ لَيْلَةٍ ثَلَاثَةً فِي هَذِهِ وَثَلَاثَةً فِي هَذِهِ

Artinya, “Dari Ibnu Abbas bahwasannnya Nabi SAW berkata, ‘Hendaklah kalian bercelak dengan itsmid, karena sungguh ia dapat memperjelas pandangan dan menumbuhkan rambut (mata). Ibnu Abbas mengatakan bahwa Nabi SAW memiliki botol tempat celak, yang biasanya beliau memakainya setiap malam, tiga kali di bagian mata ini (kanan) dan tiga kali di bagian mata ini (kiri).’”

Tetapi menilik perkembangan zaman modern ini telah muncul berbagai jenis dan model eyeliner, bahkan tidak hanya dipakai di bawah mata tetapi dipakai di atas mata seperti layaknya ratu Cleopatra pada zaman Mesir kuno. Eyeliner itu adakalanya berupa pensil, dan jenis ini mudah hilang bahkan terhapus apabila terkena air. Ada pula eyeliner yang berbentuk liquid (cair), jenis ini termasuk tahan lama dan tidak mudah luntur kecuali jika terkena air. Bahkan ada juga jenis eyeliner yang sangat tahan lama dan tidak akan luntur meskipun terkena air, jenis ini disebut dengan eyeliner waterproof.

Melihat jenis eyeliner tersebut, maka timbul pertanyaan bagaimana hukum wudhu seorang wanita memakai eyeliner yang dalam kategori jenis ketiga, yakni memakai eyeliner jenis waterproof (tahan air)?

Secara fiqih, sebagaimana dalam kitab Al-Fiqhul Manhaji alal Madzhabis Syafi’i dijelaskan bahwa wajib meratakan basuhan ke seluruh rambut dan kulit bagian anggota wudhu. Jika di bawah kuku-kukunya terdapat kotoran yang menghalangi sampainya air, atau cincin (yang dipakai dapat menghalangi sampainya air) maka tidak sah wudhunya. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ رَجَعْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ مَكَّةَ إِلَى الْمَدِينَةِ حَتَّى إِذَا كُنَّا بِمَاءٍ بِالطَّرِيقِ تَعَجَّلَ قَوْمٌ عِنْدَ الْعَصْرِ فَتَوَضَّئُوا وَهُمْ عِجَالٌ فَانْتَهَيْنَا إِلَيْهِمْ وَأَعْقَابُهُمْ تَلُوحُ لَمْ يَمَسَّهَا الْمَاءُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَيْلٌ لِلأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ أَسْبِغُوا الْوُضُوءَ ».

Artinya, “Dari Abdullah bin Amr RA, ia berkata, ‘Kkami kembali bersama Rasulullah SAW dari Kota Mekkah menuju Madinah sampai ketika kami menemukan air di tengah perjalanan, maka sekelompok orang (kaum) segera bergegas shalat ashar, mereka pun berwudhu dengan tergesa-gesa, sampai kami berakhir sedangkan tumit mereka jelas sekali masih kering tidak tersentuh air. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Celakalah bagi tumit-tumit itu karena api neraka. Sempurnakanlah wudhu kalian.”

Ada pula hadits yang diriwayatkan Imam Muslim bahwa terdapat laki-laki yang berwudhu dan meninggalkan tempat kuku-kukunya atas tumitnya. Nabi yang melihatnya mengatakan, “Ulangi lagi! Perbaiki wudhumu.” Maka ia kembali berwudhu dan shalat. Dua hadits ini menunjukkan bahwa tidaklah cukup wudhu jika bagian anggota yang wajib dibasuh tidak terkena basuhan.

Oleh karena itu jika eyeliner itu tahan air sehingga menghalangi air wudhu sampai anggota wajah yang tertutup eyeliner tersebut, maka wudhunya tidak sah sehingga bagi wanita ingin tampil cantik dengan pilihan eyeliner waterproof, hendaknya menghapus eyeliner itu terlebih dahulu sebelum berwudhu, atau memakainya ketika sedang menstruasi saja. Sedangkan eyeliner yang dapat terhapus dengan mudah ketika berwudhu, maka tidaklah masalah dengan catatan tetap memperhatikan semua anggota tubuh yang wajib dibasuh ketika berwudhu agar tidak termasuk dalam golongan yang diancam neraka oleh Nabi SAW karena sembrono dalam masalah wudhu. Wallahu a’lam. (Annisa Nurul Hasanah)

Rabu 20 September 2017 9:2 WIB
Hukum Melihat Kelamin Pasangan saat Hubungan Suami-Istri
Hukum Melihat Kelamin Pasangan saat Hubungan Suami-Istri
Foto: Ilustrasi
Hubungan (senggama) suami-istri merupakan kenikmatan dunia yang menduduki posisi puncak tertinggi, atau klimaks. Menurut KH Sya'roni Ahmadi, Kudus, kenikmatan dunia yang paling mendekati kenikmatan surga hanya satu, yaitu ketika seseorang sedang berhubungan suami-istri. Meskipun kenikmatan itu masih belum ada apa-apanya jika dibanding dengan kenikmatan surga, setidaknya hal itulah yang paling mendekat ke sana.

Dalam bersenggama, masing-masing pasangan diperbolehkan menyentuh atau bahkan memegang kelamin pasangan masing-masing tanpa ada perbedaan pendapat dari kalangan ulama.

Suami diperbolehkan melihat semua sudut tubuh istrinya selain farji (vagina) baik pada bagian luar atau dalam. Melihat vagina bagian dalam hukumnya sangat dimakruhkan. Tetapi jika ada satu kebutuhan, melihatnya tidak makruh.

وَ) الضَّرْبُ (الثَّانِي نَظَرُهُ) أَيْ الرَّجُلِ (إلَى) بَدَنِ (زَوْجَتِهِ وَ) إلَى بَدَنِ (أَمَتِهِ) الَّتِي يَحِلُّ لَهُ الِاسْتِمْتَاعُ بِهَا (فَيَجُوزُ) حِينَئِذٍ (أَنْ يَنْظُرَ إلَى) كُلِّ بَدَنِهِمَا حَالَ حَيَاتِهِمَا؛ لِأَنَّهُ مَحَلُّ اسْتِمْتَاعِهِ (مَا عَدَا الْفَرْجَ) الْمُبَاحَ مِنْهُمَا، فَلَا يَجُوزُ جَوَازًا مُسْتَوِيَ الطَّرَفَيْنِ فَيُكْرَهُ النَّظَرُ إلَيْهِ بِلَا حَاجَةٍ، وَإِلَى بَاطِنِهِ أَشَدُّ كَرَاهَةٍ {قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا مَا رَأَيْت مِنْهُ وَلَا رَأَى مِنِّي} أَيْ الْفَرْجَ

Artinya, “Bagian kedua yaitu melihatnya seorang suami pada tubuh istrinya dan tubuh budak perempuannya yang halal baginya untuk ia buat senang-senang, hukumnya boleh melihat kepada tubuh kedua orang tersebut saat mereka masih hidup, karena itulah tempat untuk bersenang-senang, selain farji (vagina) yang diperbolehkan bagi mereka. Jika melihat vagina hukumnya tidak boleh dengan prosentase 50-50. Melihat vagina itu hukumnya makruh jika tanpa ada keperluan. Sedangkan melihat bagian dalam vagina sangat dimakruhkan.

Sayyidah 'Aisyah RA berkata, ‘Aku tak pernah melihat punyanya Rasul dan ia juga tak pernah melihat punyaku,’ (farji),” (Lihat Muhammad bin Ahmad As-Syarbini, matan dari Hasyiyah Al-Bujairimi Alal Khatib, Darul Fikr, juz IV, halaman 103).

Melihat kemaluan istri, menurut sebagian ulama bisa menyebabkan kebutaan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits,

النَّظَرُ إلَى الْفَرْجِ يُورِثُ الطَّمْسَ ) أَيْ الْعَمَى

Artinya “Melihat kelamin seorang wanita itu bisa menyebabkan kebutaan.”

Ulama berbeda pendapat tentang buta yang dimaksud di sini, ada yang menyebut buta mata bagi si pelaku itu sendiri, ada yang mengatakan buta pada mata anaknya kelak. Ada pula yang menjelaskan bahwa buta yang dimaksud di hadits tersebut adalah buta mata hatinya.

Ibnu Hibban dan imam-imam yang lain menganggap bahwa kualitas hadis tersebut adalah dhaif. Bahkan Ibnul Jauzi memasukkan hadits ini ke dalam kitabnya Al-Maudlu‘at yang berarti hadits ini adalah hadits maudlu‘. Begitu pula Ibnu Adiy, hadits yang sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnul Qatthan tersebut merupakan hadis munkar.

Ibnus Shalah mempunyai pandangan berbeda dengan ulama di atas. Ia menjelaskan bahwa hadits ini mempunyai level derajat hasan. Yang berarti bisa dipakai untuk tendensi.

Perlu diketahui, polemik perbedaan pendapat dalam memandang hadits di atas hanya berhenti pada masalah menyebabkan kebutaan atau tidaknya. Sedangkan masalah kemakruhan melihat vagina bagi suami tetap makruh jika tidak ada hajat (kebutuhan). (Ahmad Mundzir)

Selasa 5 September 2017 22:0 WIB
Ketika Nabi Muhammad SAW Patah Hati
Ketika Nabi Muhammad SAW Patah Hati
Sebelum diangkat menjadi Rasul, Nabi Muhammad SAW pernah jatuh cinta pada putri Abu Thalib. Paman Rasul itu memiliki beberapa orang putri. Di antara mereka sudah ada yang telah mencapai usia nikah. Namanya adalah Fakhitah, populer dengan nama Umm Hani’.

Dikarenakan rasa cinta sudah tumbuh di antara keduanya, Nabi Muhammad SAW berencana untuk menikahinya. Nabi Muhammad SAW meminta izin kepada pamannya Abu Thalib untuk menikahi putrinya. Tetapi sayangnya, Abu Thalib mempunyai rencana lain. Dia akan menikahkan anaknya dengan Hubayrah, putra saudara ibu Abu Thalib yang berasal dari Bani Makhzum.

Hubayrah adalah pria kaya dan sekaligus penyair berbakat seperti Abu Thalib. Selain kaya raya, kabilah Bani Makhzum memang pada waktu itu kekuatannya semakin meningkat seiring dengan merosotnya kekuasaan Bani Hasyim. Hubayrah akhirnya melamar putri Abu Thalib tersebut dan lamarannya diterima.

Lamaran itu diterima karena menurut Abu Thalib, “Mereka telah menyerahkan putri mereka untuk kita kawini dan seorang pria yang baik haruslah membalas kebaikan mereka.” Pernikahan putrinya itu sebagai balas budi atas kebaikan Bani Makhzum.

Jawaban Abu Thalib ini tentu tidak memuaskan hati Nabi Muhammad SAW. Tetapi Nabi Muhammad SAW berusaha lapang dada menerima penjelasan pamannya, tanpa membantah sedikitpun. Malahan Muhammad secara jujur, sopan, dan lapang dada mengakui bahwa dirinya memang belum siap untuk menikah.

Tidak lama kemudian, Nufaysah, paman Khadijah datang menemui Nabi Muhammad SAW dan menanyakan alasan mengapa dia belum menikah. Nabi Muhammad SAW menjawab, “Aku tidak memiliki apa-apa untuk dapat berumah tangga”.

Nufaysah menceritakan kepada Muhammad ada wanita cantik, terhormat, dan kaya yang menyukainya. Nama pengusaha kaya tersebut adalah Khadijah. Mendengar penjelasan itu, Nabi Muhammad SAW menjelaskan kepada Nufaysah bahwa dia tidak memiliki harta dan tidak mungkin menikahi Khadijah.

“Masalah itu serahkan kepadaku,” jawab Nufaysah. Yang terpenting bagi Nufaysah, Nabi Muhammad SAW bersedia dulu. Masalah biaya pernikahan bisa diatur belakangan.

Khadijah meminta Nufaysah memanggil Nabi Muhammad SAW agar datang kepadanya. Setelah ia datang, Khadijah berkata, “Putra pamanku, aku mencintaimu karena kebaikanmu padaku, juga karena engkau selalu terlibat dalam segala urusan di masyarakat, tanpa menjadi partisipan. Aku menyukaimu karena engkau dapat diandalkan, juga karena keluruhan budi dan kejujuran perkatanmu.” Tidak lama setalah itu, Khadijah menawarkan dirinya untuk dinikahi.

***

Kisah ini disarikan dari buku Biografi Muhammad yang ditulis oleh Martin Lings . Wallahu a‘lam. (Hengky Ferdiansyah)