IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak
AL-HIKAM

Ini Tanda-tanda Waliyullah Menurut Ibnu Athaillah

Senin 2 Oktober 2017 19:45 WIB
Share:
Ini Tanda-tanda Waliyullah Menurut Ibnu Athaillah
(Copyright kampoengsufi.com)
Setiap rasul mengandung sifat kerasulan, kenabian, dan kewalian. Hanya saja setelah Nabi Muhammad SAW, sifat kenabian dan kerasulan tertutup. Pintu terbuka hingga kini adalah kewalian. Sifat kewalian ini yang masih melekat pada beberapa orang di tengah-tengah kita.

Kalau para nabi dan rasul bersifat makshum (terjaga dari maksiat), maka para wali Allah bersifat mahfuzh (selalu dalam bimbingan Allah baik dalam taat maupun dalam khilaf).

Syekh Ibnu Athaillah mengatakan bahwa Allah menyatakan sebagian wali-Nya dan menyembunyikan sebagian lain di tengah masyarakat. Tetapi semua wali-Nya menjadi tanda bagi masyarakat atas kehadiran-Nya.

قال رضي الله عنه سبحان من لم يجعل الدليل على أوليائه إلا من حيث الدليل عليه ولم يوصل إليهم إلا من أراد أن يوصله إليه

Artinya, “Mahasuci Allah yang tidak menjadikan tanda bagi para wali-Nya selain tanda yang menunjukkan ada-Nya. Mahasuci Allah yang tidak ‘mempertemukan’ kepada para wali selain orang yang dikehendaki sampai kepada-Nya.”

Lalu bagaimana kita dapat mengerti kehadiran wali Allah? Ini yang sulit. Pasalnya, para wali juga manusia biasa seperti hamba Allah lainnya. Hal ini tercantum pada keterangan Syekh Ibnu Abbad berikut ini.

وسمعته يقول يعنى شيخه أبا العباس رضي الله عنه يقول معرفة الولي أصعب من معرفة الله فإن الله معروف بكماله وجماله وحتى ومتى تعرف مخلوقا مثلك يأكل كما تأكل ويشرب كما تشرب وقال فيه وإذا أراد الله أن يعرفك بولي من أوليائه طوى عنك وجود بشريته وأشهدك وجود خصوصيته اهـ

Artinya, “Aku (Syekh Ibnu Athaillah) mendengarnya (maksudnya adalah gurunya), Syekh Abul Abbas Al-Mursi berkata, ‘Mengenal wali lebih sulit dari mengenal Allah. Allah dapat dikenali dengan kesempurnaan dan keindahan-Nya. tetapi kapan kau bisa mengenali tanda wali, makhluk sepertimu. Ia makan sebagaimana kamu makan, ia minum sebagaimana kamu minum.’ Ibnu Athaillah berkata di Latha’iful Minan, ‘Kalau Allah menghendakimu kenal dengan salah satu walinya, Allah melipat unsur manusiawinya di matamu dan Allah memperlihatkanmu keistimewaannya,’” (Lihat Syekh Ibnu Abbad, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, tanpa catatan tahun, juz II, halaman 2).

Meskipun demikian, secara umum para wali dapat teridentifikasi. Minimal mereka mengandung tiga sifat berikut ini sebagaimana keterangan Syekh Zarruq.

ثم الولي يعرف بثلاث: إيثار الحق، والإعراض عن الخلق، والتزام السنة بالصدق

Artinya, “Tetapi waliyullah itu dapat dikenali dengan tiga tanda: mengutamakan Allah, (hatinya) berpaling dari makhluk-Nya, dan berpegang pada syariat Nabi Muhammad SAW dengan benar,” (Lihat Syekh Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 133).

Meskipun Syekh Zarruq menyebutkan demikian, kita tetap sulit menunjuk hidung siapa wali Allah di tengah kita. Mereka beribadah sebagaimana kita. Mereka juga kadang berbuat khilaf seperti kita. Mereka berpakaian seperti kita. Mereka juga entah apa profesi kesehariannya. Hanya bedanya, mereka terjaga dari penyakit batin dan mereka menjaga adab kepada Allah saat berbuat taat maupun saat berbuat maksiat karena kuasa-Nya atas bimbingan-Nya.

Mereka sama sekali tak terduga. Karena sulitnya menentukan mereka, kita hanya bisa berlaku husnuzzhan (berbaik sangka) kepada setiap orang. Semoga dengan menghormati para kekasih Tuhan itu, kita dapat kelimpahan rahmat-Nya. Amiiin, ya Rabbal alamin. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Share:
Kamis 28 September 2017 9:34 WIB
AL-HIKAM
Ini Pengertian Allah Tidak Pandang Rupa dan Amalmu Menurut Ibnu Athaillah
Ini Pengertian Allah Tidak Pandang Rupa dan Amalmu Menurut Ibnu Athaillah
Foto: Ilustrasi
Ibadah seharusnya dipahami sebagai bentuk penyerahan, kedhaifan, dan kefakiran manusia di hadapan Allah. Tetapi ketika ibadah membuat pelakunya ujub pada dirinya sendiri dan angkuh terhadap orang lain yang tidak mengamalkannya, maka ibadah ini menjadi tercela sebagai disebutkan oleh Ibnu Athaillah pada hikmah berikut ini.

معصية أورثت ذلاً وافتقاراً خير من طاعة أورثت عزاً واستكباراً

Artinya, “Sebuah maksiat yang berbuah kerendahan diri dan kefakiran (di hadapan Allah) lebih baik daripada amal ibadah yang melahirkan bibit kebanggan dan keangkuhan.”

Hikmah ini menegaskan bahwa manusia tidak boleh jauh-jauh dari sifat kerendahan dan kefakirannya di hadapan Allah. Manusia tidak boleh memakai kebanggaan dan keangkuhan yang menjadi sifat ketuhanan. Ketaatan seseorang bukan alasan baginya untuk bersikap angkuh dan merasa suci sebagai disebut Syekh Ibnu Abbad berikut ini.

الذل والافتقار من صفات العبودية و العز والاستكبار مناقضان لها لأنهما من صفات الربوبية ولا خير في الطاعة إذا لزم عنها شيء مما يناقض صفات العبودية لأنها تحبطها وتبطلها كما لا مبالاة بالمعصية إذا لزمتها صفات العبودية لأنها تمحوها وتزيلها وقال سيدي أبو مدين رضي الله عنه انكسار العاصى خير من صولة المطيع

Artinya, “Kerendahan diri dan kefakiran adalah sifat kehambaan. Kebanggan dan keangkuhan bertolak belakang dengan sifat kehambaan karena dua sifat yang disebut terakhir adalah sifat ketuhanan. Tak ada kebaikan apapun pada amal ibadah yang lazim padanya sifat (bangga dan angkuh) yang bertolak belakang dengan sifat kehambaan karena sifat ketuhanan itu dapat mengugurkan dan membatalkan amal itu sendiri. Sebaliknya, (Allah) tidak peduli pada maksiat yang lazim padanya sifat kehambaan (kerendahan diri) karena sifat itu akan menghapus dan menghilangkan kadar kesalahan maksiat tersebut. Syekh Abu Madyan berkata, ‘Kerendahan diri pelaku maksiat lebih baik daripada kewibawaan orang yang beramal saleh,’” (Lihat Syekh Ibnu Abbad, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 72).

Syekh Ibnu Ajibah mengaitkan masalah ini dengan sabda Rasulullah SAW yang berbunyi, “Allah tidak memandang rupa dan amalmu, tetapi hatimu.” Ia dengan tegas mengingatkan bahwa jantung dari hubungan manusia dan Allah adalah adab. Manusia dituntut untuk beradab dengan baik di hadapan-Nya (husnul adab). Allah akan murka jika manusia melakukan su’ul adab kepada-Nya.

قلت انما كانت المعصية التي توجب الانكسار أفضل من الطاعة التي توجب الاستكبار لأن المقصود من الطاعة هو الخضوع والخشوع والانقياد والتذلل والانكسار أنا عند المنكسرة قلوبهم من أجلي فإذا خلت الطاعة من هذه المعاني واتصفت بأضدادها فالمعصية التي توجب هذه المعاني وتجلب هذه المحاسن أفضل منها إذ لا عبرة بصورة الطاعة ولا بصورة المعصية وإنما العبرة بما ينتج عنهما أن الله لا ينظر إلى صوركم ولا إلى أعمالكم وإنما ينظر إلى قلوبكم فثمرة الطاعة هي الذل والانكسار وثمرة المعصية هي القسوة والاستكبار فإذا انقلبت الثمرات انقلبت الحقائق صارت الطاعة معصية والمعصية طاعة... وقال الشيخ أبو العباس المرسي رضي الله عنه كل إساءة أدب تثمر أدباً فليست بإساءة أدب وكان رضي الله عنه كثير الرجاء لعباد الله الغالب عليه شهود وسع الرحمة... وقال شيخ شيوخنا رضى الله عنه معصية بالله خير من ألف طاعة بالنفس

Artinya, “Buat saya, maksiat yang membuahkan kerendahan diri lebih utama dibanding ketaatan ibadah yang memicu keangkuhan karena tujuan hakiki atas amal ibadah adalah ketundukan, penyerahan, kepatuhan, ketaklukan, dan kerendahan diri sebagai terncantum pada hadits qudsi ‘Aku bersama mereka yang rendah diri demi Aku.’ Kalau sebuah ibadah sunyi dari makna-makna kehambaan, tetapi justru melahirkan benih sifat ketuhanan, maka maksiat yang membuahkan makna kehambaan dan mendatangkan kebaikan-kebaikan lebih utama dibandingkan amal ibadah karena bentuk konkret ibadah (formalitas) atau maksiat tidak menjadi ukuran. Yang jadi patokan adalah hasil atau buah dari keduanya sebagai tercantum pada hadits Rasulullah SAW ‘Allah tidak memandang bentuk rupa dan amalmu. Allah hanya melihat hatimu.’ Buah ibadah harusnya ketaklukan dan kerendahan diri. Sementara efek maksiat adalah kekerasan hati dan keangkuhan. Tetapi jika buah keduanya itu bersalahan, maka hakikat keduanya itu pun berubah di mana amal ibadah lahiriyah itu sejatinya maksiat
dan maksiat lahiriyah itu hakikatnya adalah ibadah... Syekh Abul Abbas Al-Mursi berkata, ‘Setiap su’ul adab (maksiat secara formal) yang berbuah adab tidak bisa disebut sebagai su’ul adab.’ Syekh Abul Abbas Al-Mursi juga kerap mengimbau para hamba Allah yang terperosok di jurang dosa karena kuasa-Nya untuk melihat keluasan rahmat-Nya... Mahaguru kami berkata, ‘Sebuah maksiat kepada Allah lebih baik daripada seribu amal ibadah dengan nafsu,’” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam fi Syarhil Hikam, Beirut, Darul Fikr, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 143).

Perihal ini, Syekh Ibnu Ajibah mengutip hadits Rasulullah SAW di mana ujub yang melahirkan kebesaran dan keangkuhan merupakan sebuah penyakit berbahaya.

وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم لو لم تذنبوا لخشيت عليكم ما هو أشد من ذلك العجب كذا في الصحيحين وقال عليه السلام لولا أن الذنب خير من العجب ما خلا الله بين مؤمن وذنب أبداً

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Kalau pun kamu sekalian tidak berdosa, aku khawatir sesuatu yang lebih buruk dari itu menjangkiti kamu semua, yaitu ujub’ sebagaimana tercantum pada Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Rasulullah SAW juga bersabda, ‘Kalau sekiranya dosa itu tidak lebih baik daripada ujub, niscaya Allah takkan memisahkan seorang mukmin dan dosa selamanya,’” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam fi Syarhil Hikam, Beirut, Darul Fikr, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 143).

Syekh Ahmad Zarruq menjelaskan hikmah ini dengan moderat. Dengan uraian filosofis ia menyebutkan bahwa idealnya manusia taat kepada Allah lahir dan batin. Menurutnya, ketaatan lahir (formalitas ibadah) tidak menjamin seseorang taat dengan batin kepada Allah.

قلت: الخير فى الطاعة  بالذات والشر فيها بالعرض، والشر فى المعصية بالذات والخير فيها بالعرض. وخير الطاعة من حيث إنها عبودية له وخضوع بين يديه ورجوع إليه وطلب لما عنده، وشر المعصية في ضد ذلك، فإذا أوجبت الطاعة ما هو بالمعصية في الذات كانت شرا، وإذا أوجبت المعصية ما هو في الطاعة بالذات كانت خيرا

Artinya, “Buat saya, kebaikan yang terkandung dalam ketaatan kepada Allah itu bersifat identik. Sedangkan keburukan yang terkandung dalam ketaatan bersifat tidak identik. Sebaliknya, keburukan pada maksiat bersifat identik. Sedangkan kebaikan yang terkandung pada maksiat bersifat tidak identik. Kebaikan yang terkandung dalam ketaatan dilihat dari kehambaan, ketundukan di hadapan Allah, penyerahan diri kepada-Nya, dan pengharapan karunia-Nya. Sementara keburukan pada maksiat ditinjau dari semua kebalikan sifat ketaatan (bangga dan angkuh). Tetapi ketika sebuah amal ketaatan melahirkan bibit keburukan yang identik pada maksiat (ujub dan angkuh), maka amal ibadah itu bernilai buruk. sebaliknya, ketika sebuah maksiat berbuah kebaikan yang identik pada amal ketaatan (rendah diri dan fakir), maka maksiat (formalitas) itu bernilai baik,” (Lihat Syekh Ahmad Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 97).

Singkat kata, Allah menuntut manusia untuk berserah diri, menyatakan kedhaifan dan kefakiran melalui amal ibadah baik lahir maupun batin. Hikmah ini bukan berarti merupakan anjuran Syekh Ibnu Athaillah untuk berbuat maksiat. Kita tetap harus berupaya untuk menaati perintah Allah dan mengejar ibadah sunah. Penekanannya terletak pada sejauhmana manusia menjaga husnul adab di hadapan-Nya dengan sifat kerendahan diri dan kefakiran. Dengan kata lain, ibadah tidak hanya mengandung formalitas, tetapi juga perlu dipertimbangan substansinya. Penulis Al-Hikam ini mengingatkan bahaya ujub yang kemudian memandang orang lain tidak lebih taat, tidak lebih suci, dan tidak lebih baik dibanding orang yang menaati perintah Allah. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Selasa 26 September 2017 16:1 WIB
AL-HIKAM
Ini Jalan Tak Terduga Menuju Allah Menurut Ibnu Athaillah
Ini Jalan Tak Terduga Menuju Allah Menurut Ibnu Athaillah
Foto: Ilustrasi
Sebagian orang yang bangga atas amal ibadahnya. Mereka sangat percaya diri dengan amal ibadahnya sehingga tidak berhajat lagi kepada Allah. Tetapi ada sebagian manusia yang kehilangan harga diri di hadapan Allah karena terperosok ke satu lubang dosa. Ia kemudian berusaha bangkit dari keterpurukannya itu dengan memohon ampunan-Nya dan berusaha memperbaiki diri serta menyadari dirinya sebagai manusia adalah makhluk yang dhaif di hadapan kuasa Allah.

ربما فتح لك باب الطاعة وما فتح لك باب القبول وربما قضى عليك بالذنب فكان سبباً في الوصول

Artinya, “Kerapkali Allah membuka pintu ketaatan untukmu, tetapi tidak membukakan pintu penerimaannya. Namun terkadang Dia menakdirkanmu sebuah dosa, dan itu menjadi wasilahmu sampai ke hadirat-Nya.”

Bagaimana maksud hikmah dari Syekh Ibnu Athaillah ini? Syekh Syarqawi mencoba memahami catatan Syekh Ibnu Athaillah dengan uraian berikut ini.

ذلك أن الطاعة قد تقارنها آفات قادحة في الإخلاص فيها كالإعجاب بها واعتماد عليها واحتقار من لم يفعلها وذلك مانع من قبولها. والذنب قد يقارنه الالتجاء الى الله الاعتذار إليه واحتقار نفسه وتعظيم من لم يفعله فيكون ذلك سبباً فى مغفرة الله له ووصوله اليه

Artinya, “Itu terjadi karena ketaatan kita kerapkali disertai dengan bencana yang mencederai keikhlasan seperti takjub atas amal, pengandalan amal, perendahan (dalam hati) terhadap orang yang tidak mengamalkan ketaatan itu. Ini mencegah penerimaan amal. Sementara dosa seseorang yang disertai dengan penyandaran diri dan permohonan ampunan kepada Allah, perendahan terhadap diri sendiri, dan penghormatan terhadap mereka yang tidak melakukannya, menjadi sebab datangnya maghfirah dan wasilahnya sampai ke hadirat-Allah,” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Indonesia, Daru Ihaya’il Kutubil Arabiyah, juz I, halaman 72).

Bagi Syekh Syarqawi, amal ibadah bukan sekadar lahir. Amal ibadah mencakup lahir dan batin. Artinya, ketika seseorang melakukan shalat, puasa, zakat, haji, atau umrah, maka batinnya juga harus ikut beribadah dalam bentuk penahanan diri dari sifat tercela yaitu ujub, tinggi hati, dan merendahkan orang lain yang tidak mengamalkan ibadah itu. Orang yang beribadah secara lahiriyah saja belum sampai kepada Allah seperti keterangan Syekh Zarruq berikut ini.

قلت: الطاعة عطاء، وعدم القبول منع مصحوب بعطاء، بل عطاء مصحوب بمنع فعاد منعا إذ لا عبرة بعمل لا قبول فيه

Artinya, “Bagi saya, amal ketaatan itu adalah sebuah anugerah Allah. Sedangkan penolakan Allah atas amal itu adalah bentuk penahanan-Nya yang disertai anugerah. Tetapi anugerah yang disertai penolakan berubah menjadi penahanan karena apalah artinya sebuah amal ketaatan tanpa penerimaan?” (Lihat Syekh Ahmad Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 96).

Di sisi lain, kejatuhan seseorang pada sebuah kesalahan dan maksiat yang membuatnya tak percaya diri di hadapan Allah dan membuatnya berhenti dari penghinaan terhadap orang lain, membuka jalan baru baginya untuk sampai kepada Allah sebagaimana disinggung Syekh Burhanuddin Al-Hanafi berikut ini.

وأبلغ منه أن قد يقضي بالذنب ويجعله سببا للوصول لاستغناء صاحب الطاعة وإدلاله بها عليه وافتقار صاحب المعصية وإذلاله بها بين يديه لأن مهر تجليات عرائس الأبكار الفاقة والذل والانكسار فتأمل هذا النوال

Artinya, “Lebih dari itu, Allah menakdirkanmu sebuah dosa dan menjadikannya sebagai wasilah bagimu untuk sampai di hadirat-Nya karena kesombongan dan pamer orang yang beramal kepada Allah, kefakiran orang yang bermaksiat dan perendahan diri di hadapan-Nya. pasalnya, mahar atas penampakan pengantin-pengantin perawan itu adalah kefakiran, kerendahan, dan tak punya kepercayaan diri (di hadapan-Nya). Renungkanlah bagian ini,” (Lihat Syekh Burhanuddin Al-Hanafi As-Syadzili, Ihkamul Hikam fi Syarhil Hikam, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2008 M/1429 H, halaman 77).

Penting untuk dicatat bahwa uraian ini jangan dipahami sebagai anjuran untuk berhenti beribadah secara lahiriah atau anjuran untuk berbuat dosa. Uraian ini merupakan buah perenungan Syekh Ibnu Athaillah sebagai koreksi atas sebagian dari kita yang tidak lagi membutuhkan rahmat Allah dan menjadi tinggi hati bahkan cenderung memandang rendah mereka yang tidak beramal seperti kita.

Pada hikmah ini Syekh Ibnu Athaillah mendorong kita untuk menyempurnakan ibadah lahir dengan ibadah batin. Murid Syekh Abul Abbas Al-Mursi ini mengajak kita semua untuk merendahkan diri di hadapan Allah, memperbaiki diri, menghargai orang lain, dan memandang mereka dengan pandangan rahmat. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Senin 25 September 2017 9:3 WIB
AL-HIKAM
Ini Kekhawatiran Orang-orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah
Ini Kekhawatiran Orang-orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah
Foto: Ilustrasi

Kelompok khawash (hamba-hamba pilihan Allah) selalu waspada dalam menjaga diri. Mereka selalu berusaha menjauh dari larangan-larangan Allah lahir dan batin. Di samping itu, mereka juga memohon perlindungan Allah agar tidak terperosok dalam kubangan larangan-Nya.

Hal ini yang benar-benar diperhatikan oleh kalangan khawash sebagai disinggung oleh Ibnu Athaillah dalam hikmah berikut ini.

والخاصة يطلبون من الله الستر عنها خشية سقوطهم من نظر الملك الحق

Artinya, “Kelompok khawas (hamba-hamba pilihan setingkat di atas kalangan awam) meminta Allah agar menjauhi mereka dari maksiat karena takut martabat mereka di mata Allah SWT.”

Mereka tidak peduli pada pandangan manusia. Mereka hanya memerhatikan pandangan Allah SWT. Mereka khawatir kehilangan harga diri di hadapan-Nya karena mereka yakin bahwa Allah mengetahui segala perilaku mereka baik di depan umum maupun di belakang publik sebagai tercantum pada ayat berikut ini.

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

Artinya, “Dia (Allah) mengetahui pandangan mata khianat dan apa yang tersembunyi di dalam dada,” (Surat Ghafir ayat 19).

Berbeda dari kalangan awam yang selalu menjaga diri agar tidak kehilangan muka di hadapan manusia, kalangan khawash lebih tertarik pada pandangan Allah. Mereka tidak peduli pada pandangan umum. Bagi mereka, pandangan Allah itu segalanya. Mereka khawatir kehilangan harga diri di hadapan Allah.

Sifat kalangan awam sendiri sudah dibahas. Silakan baca artikel pada link ini:

Ini Wajah Kaum Awam di Muka Umum Menurut Ibnu Athaillah

والخاصة) لتحققهم بحقائق الإيمان برآء من الوصف الذميم لا يلتفتون الى الخلق مدحا ولا ذما ولا يتوقعون منهم نفعا ولا ضرا ولا يعتمدون عليهم ولا يسكنون اليهم وحالهم انما هو القناعة بنظر الله اليهم

Artinya, “Kelompok khawash (menuntut demikian) karena mereka menghayati hakikat keimanan di mana mereka terlepas dari sifat tercela. Mereka tak memandang pujian dan celaan manusia. Mereka juga tak mengharapkan datangnya manfaat dan pencegahan mudharat dari orang lain. Mereka tak bersandar dan bertopang kepada makhluk. Mereka menjadi seperti itu karena merasa cukup dengan pandangan Allah atas diri mereka,” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, juz I, halaman 99).

Adapun kalangan khawashul khawash (hamba-hamba Allah di atas kelompok khawash) lebih memilih pasrah pada ketentuan Allah sebagai qudrah atau kuasa Ilahi. Mereka tidak berdoa agar Allah menutupi pandangan manusia dari maksiat dan kekurangan mereka. Mereka juga tidak meminta Allah menjauhi diri mereka dari maksiat itu sendiri. Bagi mereka, hidup itu mengalir saja mengikuti ke mana gerak kuasa Ilahi mengarahkan mereka tentu dengan menjaga adab di hadapan Allah sesuai tuntunan syariat Nabi Muhammad SAW.

وأما خاصة الخاصة فلا يطلبون شيئا ولا يخافون من شئ صارت الأشياء عندهم شيئاً واحداً واستغنوا بشهود واحد عن كل واحد فهم ينظرون ما يبرز من عنصر القدرة فيتلقونه بالقبول والرضي فإن كان طاعة شهدوا فيها المنة وإن كان معصية شهدوا فيها القهرية وتأدبوا مع الله فيها بالتوبة والانكسار قياماً بأدب شريعة النبي المختار صلى الله عليه وسلم وقد وردت أحاديث في المقامات الثلاثة تعليماً للامة فقد دعا عليه السلام بالستر على المساوى ومنها وهي العصمة والحفظ وطلب مقام الرضا والتسليم لأحكام الله القهرية كل ذلك منشور في كتب الأحاديث فلا نطيل به ثم إذا ستر الحق تعالى مساويك وذنوبك ثم توجه الناس إليك بالتعظيم والمجد والتكريم فاعرف منة الله عليك وانظر من الممدوح في الحقيقة هل أنت أو من ستر مساويك

Artinya, “Sedangkan kalangan khawashul khawash (hamba-hamba pilihan di atas kelompok khawash) tidak menuntut dan tidak takut pada apapun. Bagi mereka, semua itu sama saja. Tercukupi oleh pandangan Allah, mereka tidak perlu pandangan  lainnya. Mereka memandang unsur qudrah Allah yang tampak, lalu menerimanya dengan tulus dan ridha. Jika qudrah itu berupa ketaatan, mereka memandangnya sebagai karunia dari Allah. Jika qudrah itu berupa maksiat, mereka memandangnya sebagai kuasa Allah di mana mereka menjalani adab kepada-Nya dalam bentuk pertobatan dan kerendahan hati demi menjalankan syariat Nabi Muhammad SAW. Banyak hadits menyebutkan tiga maqam manusia sebagai pelajaran bagi umat Islam. Rasulullah SAW pernah berdoa agar Allah menutupi kesalahannya. Rasul juga pernah berdoa agar Allah menjauhinya dari maksiat; ini yang disebut maqam makshum dan mahfuzh. Tetapi Rasul juga meminta maqam ridha dan pasrah pada kuasa ketentuan-Nya. Semua itu sudah tersebar di kitab-kitab hadits. Kami tidak perlu mengulang penyebutannya. Jadi, ketika Allah menutupi kekurangan dan dosamu, dan manusia memandangmu dengan hormat, takzim, dan agung, maka sadarilah bahwa fenomena itu adalah karunia Allah dan perhatikanlah yang dipuji hakikatnya itu siapa; kamu atau Allah yang menutupi dosamu dari pandangan manusia?” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam fi Syarhil Hikam, Beirut, Darul Fikr, juz II, halaman 194-195).

Dibandingkan kalangan khawash, jumlah kalangan khawashul khawash lebih sedikit. Sudah barang tentu jumlah kedua kalangan ini tidak lebih banyak dibandingkan kalangan awam yang lebih senang menyembunyikan dosa dan kekurangannya dari pandangan manusia. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)