IMG-LOGO
Hikmah

Ibadah Haji Dua Kali yang Sia-sia

Sabtu 7 Oktober 2017 15:0 WIB
Share:
Ibadah Haji Dua Kali yang Sia-sia
Ilustrasi (© getty images)
Dalam kitab Irsyâdul 'Ibâd dikisahkan, suatu hari seorang laki-laki menjamu Sufyan ats-Tauri dan kawan-kawannya. Lantas ia berkata kepada istrinya, "Berikanlah hidangan padaku hidangan yang kamu bawa dari haji yang kedua, bukan haji yang pertama."

Orang yang cermat akan segera tahu, pesan apa di balik lelaki itu berkata demikian. Si lelaki di satu sisi sedang memerintahkan sang istri menyuguhkan hidangan, tapi di sisi lain sekaligus memamerkan ke orang-orang di sekitarnya bahwa ia telah berhaji dua kali.

Dalam ilmu balaghah, laki-laki ini memang sedang melontarkan kalam insya' (thalabi), yakni berupa perintah kepada istrinya, namun di saat bersamaan terkandung maksud terselubung mengungkapkan kalam khabar (informasi) tentang prestasi ibadah kepada para tamunya. Secara tersurat memerintah, tapi secara tersirat memamerkan sebuah kebanggaan.

Lalu, apa respon Sufyan at-Tsauri terhadap lelaki yang pamer itu?

"Sungguh kasihan orang ini. Dengan perkataannya itu dia telah menghapus pahala dua hajinya. Semoga Allah menyelamatkan kita dari riya'," kata ulama alim dan zuhud yang wafat pada 778 M ini.

Pernah suatu kali Rasulullah menerima pertanyaan dari seorang laki-laki yang datang kepada beliau, "Apa itu keselamatan pada hari esok (hari Kiamat)?"

"Ketika kamu tidak menipu Allah," jawab Rasulullah.

"Bagaimana kita menipu Allah?"

"Yaitu ketika kamu menunaikan perintah Allah dan rasul-Nya namun kamu bertujuan untuk selain ridha Allah. Berhati-hatilah dari riya' karena sesungguhnya ia termasuk kategori syirik kepada Allah," balas Nabi lagi.

Demikian disampaikan dalam hadits riwayat Adz-Dzahabi. Hadits ini melanjutkan sabda Nabi bahwa kelak di hari Kiamat orang-orang riya' dipanggil di hadapan orang banyak dengan empat nama: "wahai orang kafir", "wahai orang durhaka (fâjir)", "wahai orang cedera (ghâdir)", dan "wahai orang merugi (khâsir)".

Perbuatan orang riya' tersebut, jelas Nabi, sesat dan pahalanya pun musnah, sehingga ia tak memiliki bagian apa-apa di hari Kiamat. Selanjutnya diseru kepadanya, "Ambillah pahala dari orang-orang yang menjadi tujuan amalmu, wahai penipu diri sendiri." 

Dalam kitab Irsyâdul ‘Ibâd pula diceritakan bahwa seorang imam ditanya tentang siapa orang yang disebut ikhlas. Ia jawab, "Orang yang merahasiakan kebaikannya sebagaimana menyimpan kejahatannya."

Wallahu a'lam. (Mahbib)

Share:
Jumat 6 Oktober 2017 12:1 WIB
Shofiyah Dapat Sentimen SARA, Bagaimana Sikap Nabi?
Shofiyah Dapat Sentimen SARA, Bagaimana Sikap Nabi?
Shofiyah RA barangkali kurang begitu populer di sebagian kalangan umat Islam. Akan tetapi, dia adalah sosok panutan dengan tingkat komitmen dan kecerdasan yang tinggi. Dia juga anak dari seorang manusia yang pernah melakukan perlawanan dengan kerasulan dan kenabian Muhammad SAW. Orangtuanya bernama Huyay, bias dikatakan Ketua Central Commite (CC) Bani Nadhir.

Iya, Shofiyah adalah istri Nabi, sang rekonsiliator ulung suku-suku di Madinah. Shofiyah diperkirakan lahir sekitar tahun 610 Masehi dan wafat pada umur 50 tahun. Ia juga salah satu istri Nabi yang juga meriwayatkan hadits. 

Meski sebagai figur publik kaum muslimin dan istri seorang Nabi, tidak lantas membuat dia sunyi dari cemoohan dan sentimen “SARA”. Hal tersebut terhubung dengan genealogi Shofiyah sebagai anak Huyay, Yahudi Bani Nadhir (bani Israel).

Sejarah telah mencatat bahwa Bani Nadhir ikut terlibat dalam pengkhianatan genjatan senjata Hudaibiyah, “Sulh Hudaibiyah” antara kafir Qurays dan kaum Muslimin. Peristiwa ini merupakan secuil peristiwa dari rentetan peristiwa yang melibatkan orang tua dan asal komunitas Shofiyah RA. 

Namun realitas berkata lain, hingga mempertemukan Shofiyah RA dengan Nabi SAW. Bahkan Abu Nuaim Ahmad bin Abdillah al-Ashfahaniy (430 H) dalam kitab Hilyatul Auliya wa Thobaqot al Ashfiya, menggambarkan Shofiyah RA sosok perempuan taqiyyah wa zakiyah (taqwa nan suci), dzatul ain al bakiyah (pemilik mata nan berkaca-kaca), shofyat as-shofiyah (bening nan jernih).

Abu Nuaim berkata, “Sulaiman bin Ahmad menceritakan (hadtsana) kepada kami, Ishaq bin Ibrahim mendukung kami (tsanna), Abdur Rozzaq mengkabarkan kepada kami (akhbarona), Muammar mengkhabarkan kepada kami (akhbarona) dari Tsabit dari Anas RA berkata, “Kepada Shofiyah RA telah sampai sebuah berita bahwa Hafsoh RA telah berkata kepada Shofiyah RA, “Sungguh engkau adalah putri seroang Yahudi”. Kemudian Shofiyah menangis. Tak selang lama Nabi masuk ruangan, sementara Shofiyah dalam keadaan menangis. Nabi lantas bertanya, “gerangan apa yang membuat engkau menangis? tanya Nabi. Shofiyah menjawab, “Hafsoh telah berkata bahwa aku ini adalah anak Yahudi!” Nabi kemudian menenangkan seraya berucap kepada Hafsoh, “Engkau adalah anak Nabi (cicit Harun AS) dan pamanmu adalah Nabi (Musa AS) dan engkau juga dalam lingkungan Nabi (Muhammad SAW), bagaimana itu tidak membuatmu bangga,” Nabi melanjutkan nasihatnya kepada Hafsoh, “Bertawakallah wahai Hafsoh!”

Patut direnungkan bersama, kekhilafan dan dosa orang tua seseorang tidaklah kemudian ditimpakan anak sebagai gantinya. Seperti termaktub dalam Firman Allah surat Al–An’am ayat 164, “Dan tidakah seorang berbuat dosa melainkan kembali kepadanya; dan orang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain. Kemudian kepada tuhan-MU lah kalian kembali. Dan akan kami ceritakan (beritakan) tentang apa-apa yang kalian selisihkan”. 

Shofiyah RA dalam kasus di atas adalah pihak korban diskriminasi sosial masa Nabi, akibat dari perbuatan orang tua dan kelompoknya. Tentu, ini pelajaran berharga agar seorang yang telah bertaubat diberikan hak-hak nya sebagaimana ia hak yang diperoleh orang lain. Begitupun yang berada (merasa benar) tetap besikap wajar dan menghargai masa lalu sebagai bagian dari proses hidup seseorang yang tidak bisa diubah lagi. Semoga bermanfaat! Wallahu alamu bis shawab.

Diambil dari kitab Abu Nuaim Ahmad bin Abdillah al Ashfahaniy Hilatul Auliya Wa Thobaqot al Ashfiya, Juz II Cet. 1, (Beirut Lebanon: Darul Kutub al-Ilmiyah, 1988 M/1409 H).

Ali Makhrus, Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Kamis 5 Oktober 2017 3:53 WIB
Nasihat Ulama untuk Khalifah Umar bin Abdul Aziz
Nasihat Ulama untuk Khalifah Umar bin Abdul Aziz
Dalam al-Tibr al-Masbûk fî Nashîhah al-Mulûk, Imam Abû Hâmid al-Ghazali mengisahkan Khalifah ‘Umar bin Abdul Azîz ra (682-720 M) meminta penjelasan tentang keadilan kepada salah seorang ulama bernama Muhammad bin Ka’b al-Qurazi. Beliau menjawab:

كل مسلم أكبر منك سنّا فكن له ولدا, ومن كان أصغر منك فكن له أبا, ومن كان مثلك فكن له أخا, وعاقب كل مجرم علي قدر جرمه, وإياك أن تضرب مسلما سوطا واحدا علي حقد منك فإن ذلك يصيرك إلي النار.

“(Terhadap) setiap muslim yang lebih tua umurnya darimu, jadilah seorang anak. Untuk yang lebih muda darimu, jadilah seorang ayah. Untuk yang sebaya denganmu, jadilah seorang saudara. Hukumlah setiap penjahat sesuai dengan kejahatannya. Dan hati-hatilah, satu cambukanmu terhadap seorang muslim karena dendam (kemarahan) pribadimu, maka perbuatan itu akan menjadikanmu ahli neraka.” (Imam Abû Hâmid al-Ghazali, al-Tibr al-Masbûk fi Nashîhat al-Mulûk, Beirut; Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, 1988, hlm 20)

****

Sebagai seorang pemimpin, Khalifah Umar bin Abdul Aziz mencitrakan kerendahan hati di hadapan pengetahuan. Tanpa segan beliau meminta nasihat kepada seorang ulama. Mengamalkan amanat Rasul bahwa pengetahuan harus terus dicari hingga napas terakhir. Di sela-sela kesibukannya yang padat, bahkan seringkali tidak memejamkan mata untuk beristirahat, Khalifah Umar bin Abdul Aziz masih menyempatkan diri mempelajari banyak hal, tentang agama, mengatur negara dan lain sebagainya. Teladan seorang pemimpin yang baik.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah murid langsung Sayyidina Abdullah bin Umar RA dan Qasim bin Muhammad bin Abu Bakr RA. Beliau menerima pendidikan agama yang intensif. Jauh sebelum menjadi khalifah, beliau telah mempelajari isi ayat Al-Qur’ân yang berbicara tentang keadilan. Allah berfirman (Q.S. al-Nahl [16]: 90):

إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah memerintahkan(mu) untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, melarang dari perbuatan keji, munkar, dan permusuhan. Dia memberimu pengajaran agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

Ayat di atas mengandung dua unsur pokok, yaitu positif (adil, kebajikan dan memberi kepada kaum kerabat) dan negatif (keji, munkar dan permusuhan). Adil adalah titik awal dalam unsur positif dan meninggalkan permusuhan adalah titik akhir dari unsur negatif. Untuk dapat melakukannya, diperlukan pemahaman tentang adil yang luas. Mungkin, karena alasan itulah, Khalifah Umar bin Abdul Aziz RA terus mengembangkan pemahamannya tentang keadilan, memahaminya dari berbagai persepsi untuk memperluas penerapannya.

Persepsi adil yang diberikan Imam Muhammad al-Qurazi ini bersifat ke dalam diri. Bermain dalam konstruksi jiwa. Seorang yang hendak berlaku adil, harus menyimpan persepsi tersebut dalam dirinya. Beliau menggunakan bahasa perumpamaan yang mudah dipahami, menyentuh langsung common sense manusia, yakni hormat anak kepada orang tuanya, kasih sayang orangtua kepada anaknya, dan keakraban saudara dengan saudaranya yang lain. Kemudian beliau mengingatkan bahwa seorang pemimpin harus berhati-hati dalam menegakkan hukum. Tidak boleh sewenang-wenang menggunakan kekuasaannya. Semuanya akan ditagih oleh Allah di akhirat kelak.

Karena itu, kita perlu berdoa, semoga para pemimpin kita bisa meneladani Khalifah Umar bin Abdul Aziz, dapat berlaku adil meski kepada burung yang butuh tempat berteduh. Seorang pemimpin itu satu kakinya berada di surga dan satunya di neraka. Bagi yang gagal menjaga amanat kepemimpinannya, hukum Tuhan akan sangat berat di akhirat kelak. Tapi, bagi yang berhasil melaksanakan amanat-Nya, Kanjeng Nabi Muhammad Saw bersabda (H.R. Imam al-Thabrani: “Yaum min imâm ‘âdil afdal min ‘ibâdah sittîna sannah—sehari dari pemimpin yang adil lebih utama daripada ibadah 60 tahun.” Wallahu a’lam.

Muhammad Afiq Zahara, alumnus Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Rabu 4 Oktober 2017 11:5 WIB
Penceramah yang Memaki Khalifah Al-Ma’mun
Penceramah yang Memaki Khalifah Al-Ma’mun
Oleh KH Ahmad Ishomuddin

Sejak dahulu kala selalu ada saja orang yang melontarkan kritik pedas kepada orang yang sedang berkuasa dan membuat murka orang-orang di sekitarnya. Bayangkan, seorang manusia suci, Nabi Muhammad shalla Allahu 'alaihi wa sallama saat membagi ghanimah (harta rampasan perang) saja pernah dengan cara tidak santun diminta untuk bersikap adil oleh Abdullah bin Dzi al-Khuwaishirah. Sehingga membuat sahabat dan pengikut setia beliau, Sayyiduna Umar bin al-Khaththab naik darah dan meminta izin agar diperkenankan untuk memenggalnya. Tetapi beliau mencegah dan meredakan amarahnya.

Ada sebagian dari para penceramah agama di masjid-masjid atau di jalan-jalan raya atau di tempat lainnya di hadapan para pengagumnya-- tentu dengan niatnya masing-masing--seringkali juga secara vulgar, bahkan ada yang sangat tidak santun, menghardik, memaki-maki, melaknati dan meluapkan amarah hingga kalap plus kehilangan akal sehat saat menyampaikan kritiknya kepada pemerintah yang sedang berkuasa.

Lihatlah wajah-wajah beringas segerombolan orang yang berdemo berkumpul membakar-bakar ban bekas dan sebagainya, dan lalu api disertai asap gelap mengepul di sana sini. Dengarlah mereka yang berteriak-teriak histeris dan berulangkali memekikkan takbir membawa-bawa nama Tuhan demi menyuarakan berbagai tuntutan yang kadang tidak rasional.

Semua itu mereka lakukan tiada lain untuk menuntut sebanyak mungkin hak-hak mereka sebagai rakyat atau mungkin mereka sedang "berjihad" melawan ketidakadilan pemerintah yang sedang berkuasa. Adapun kewajiban-kewajiban mereka sebagai rakyat terhadap pemerintah, seperti kewajiban untuk menaatinya dan lain-lain mereka lupakan. 

Di negeri manakah ada pemerintahan yang dengan sempurna mampu memenuhi keinginan seluruh rakyatnya?

Dahulu kala, pada era Khalifah al-Ma'mun bin Harun al-Rasyid (wafat tahun 833 M) dari Bani Abbasiyyah pada suatu hari ada seorang penceramah agama yang menyampaikan kritik sangat keras kepadanya. Ia memanggil al-Ma'mun,

يا ظالم يا فاجر !

"Hai zalim, wahai pendosa..!"

Al-Ma'mun bin Harun al-Rasyid adalah seorang yang mampu memahami dan bersikap santun, sehingga ia tidak mengganjar penceramah tersebut dengan hukuman. Sebaliknya ia berkata kepadanya,

يا هذا ارفق فإن الله بعث من هو خير منك إلى من هو شر مني وأمره بالرفق بعث موسى وهارون وهما خير منك إلى فرعون وهو شر مني

"Hai (engkau) ini bersikap lembutlah, sesungguhnya Allah telah mengutus sebelummu seorang utusan yang lebih baik darimu kepada orang yang ia lebih buruk dariku. Sedangkan Allah memerintahkannya untuk bersikap lemah lembut. Allah telah mengutus Nabi Musa dan Nabi Harun 'alaihima al-salam yang mereka berdua itu lebih baik darimu kepada Fir'aun yang dia lebih buruk dariku. Allah berfirman kepada Nabi Musa dan Nabi Harun 'alaihima al-salam,

إذهبا إلى فرعون إنه طغى فقولا له قولا لينا لعله يتذكر أو يخشى ( طه : ٤٣-٤٤ )
"
Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka, berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan dia ingat (keagungan Allah Ta'ala) atau (ia) takut." ( Qs. Thaha: 43, 44 ).


Penulis, Rais Syuriyah PBNU