IMG-LOGO
Ubudiyah

Tiga Cara Mencari Ilmu Menurut Sayyid Abdullah al-Haddad

Senin 30 Oktober 2017 15:30 WIB
Share:
Tiga Cara Mencari Ilmu Menurut Sayyid Abdullah al-Haddad
Ilustrasi (© Antara)
Pada suatu hari al-‘Allamah As-Sayyid Abdulah bin Alawi Al-Haddad ditanya seorang murid mengenai cara yang benar mencari ilmu: apakah dengan membaca buku-buku, berkumpul dengan para ulama, ataukah belajar sendiri dengan mengandalkan kecerdasannya. Keterangan ini disebutkan dalam kitab An-Nafais Al-Uluwiyyah fi Al-Masail As-Shufiyyah, halaman 196, sebagai berikut:

وسأله أيضا عن طلب العلوم النافعة: بأي شيئ يكون صادقا في طلبه ومحسنا فيه؟ أذالك بكثرة قراءة الكتب؟ أوالاجتماع بالعلماء؟ او بحسن الفهم والذكاء.
فاجابه أمتع الله به: بكل ذالك يكون صادقا ومحسنا, بعد ان يكون على نية صالحة في طلب العلوم والاخلاص لله في ذالك, وقصد الانتفاع والنفع. 

Artinya: “Seseorang bertanya tentang cara mencari ilmu yang bermanfaat. Cara manakah yang benar dan baik dalam mencari ilmu? Apakah dengan banyak membaca buku/kitab? Ataukah dengan berkumpul bersama para ulama? Atau pula dengan mengandalkan kecerdasan otaknya?
Beliau menjawab bahwa ketiga cara tersebut baik dan benar asalkan dijalankan dengan niat yang baik dan ikhlas dalam mencari ilmu semata-mata karena Allah serta bertujuan untuk mengambil manfaat dan menyebarkannya.” 

Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa ketiga cara mencari limu yang meliputi membaca buku atau kitab, berkumpul dengan para guru atau ulama, dan belajar dengan mengandalkan kecerdasannya adalah cara yang benar dan baik. Namun ada syarat yang harus dipenuhi, yakni harus dilandasi niat yang baik semata-mata karena Allah dan tidak ada tujuan lain kecuali untuk mengambil manfaat ilmu dengan mengamalkan dan menyebarkannya. Jadi cara apapun yang ditempuh dari ketiga cara tersebut tidak menjadi masalah asalkan dilakukan dengan niat ikhlas. 

Tentu saja bagi para pembelajar pemula atau dasar (ibtidaiyyah), cara mencari ilmu paling benar dan baik adalah dengan para guru atau ulama secara langsung. Lebih-lebih belajar ilmu-ilmu praktis dan ilmu keimanan seperti membaca Al-Qur’an, fiqih ubudiyah, akhlak dan aqidah yang memang harus ada petunjuk dan contoh langsung dari guru agar jika ada kesalahan dapat segera dikoreksi secara langsung. Dengan belajar kepada guru atau ulama maka terjalin genealogi keilmuan yang jelas, atau sering disebut sanad keilmuan. 

Bagi para pembelajar tingkat lanjutan (mutawasithah), ketergatungan pada guru sedikit berkurang karena mereka juga dapat memperoleh ilmu dengan membaca buku-buku atau kitab-kitab terutama yang direkomendasikan oleh guru. Ketika menemukan kesulitan-kesulitan, mereka dapat menanyakan hal itu kepada guru atau ulama yang memiliki kompetensi di bidang yang ditanyakan. 

Di era digital seperti sekarang ini, buku atau kitab bukan merupakan sumber ilmu tertulis satu-satunya. Dengan kemajuan di bidang ICT (information, communication, technology), para pembelajar tingkat lanjutan juga dapat menambah ilmu melalui internet dengan mengakses situs atau web yang kredibel dengan tidak meninggalkan berinteraksi dengan guru. 

Dalam menggunakan internet sering kali kita membutuhkan penyedia jasa dan produk internet seperti Google. Google tidak menulis informasi atau ilmu tertentu karena ia sekadar sebuah search engine (mesin pencari). Google hanya membantu menemukan letak di mana informasi atau ilmu yang dicari itu berada. Tentu saja ilmu itu pada umunya ditulis sendiri oleh para ahlinya. Jadi dalam hal ini seorang pembelajar tidak perlu bersikap alergi terhadap Google.

Sedangkan bagi para pembelajar tingkat maju (mutaqaddimah), selain dapat belajar langsung pada guru atau ulama dan membaca buku atau kitab, baik yang analog maupun digital, mereka juga dapat memanfaatkan kecerdasan intelektualnya dengan melakukan perenungan seperti tafakur atau tadabur guna memperluas ilmu dan pengetahuannya. Tentu saja hasil dari perenungan itu sebaiknya dikonfirmasikan validitasnya dengan apa yang sudah ditulis oleh para ahlinya dalam buku-buku atau kitab-kitab mereka. Atau konfirmasi itu dilakukan melalui diskusi dengan para guru atau ulama dan teman-teman sejawat. 

Selanjutnya pada halaman yang sama (hal. 196), Allamah As-Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad menambahkan bahwa seorang pembelajar yang menempuh ketiga cara mencari ilmu sebagaimana disebutkan diatas akan mendapatkan al-fath (kunci pembuka) yang akan memudahkannya mencapai keberhasilan menuntut ilmu dan meraih cita-citanya selama hal itu dilandasi niat ikhlas semata-mata mencari ridha Allah SWT. Di dalam Al-Qur’an, Surah Al-‘Ankabut, ayat 69, Allah SWT berfirman: 

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ المُحْسِنِينَ

Artinya: “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”

 
Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Tags:
Share:
Senin 30 Oktober 2017 15:0 WIB
Perihal I‘adah, Anjuran Mengulang Shalat yang Telah Dilaksanakan
Perihal I‘adah, Anjuran Mengulang Shalat yang Telah Dilaksanakan
Ilustrasi (sayidati.net)
Dalam literatur hukum Islam (baca: fiqih), ada istilah yang disebut sebagai i‘âdah. Secara sederhana, i‘âdah berarti mengulangi shalat. Penjelasan lebih rinci diberikan oleh Mustafa al-Khin dan Musthafa al-Bugha dalam kitab al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhabi Imam al-Syafi’i (Surabaya: Al-Fithrah, 2000), juz I, hal. 110:

أما الإعادة: فهي أن يؤدي صلاة من الصلوات المكتوبة، ثم يرى فيها نقصاً أو خللً في الآداب أو المكملات، فيعيدها على وجه لا يكون فيها ذلك النقص أو الخلل.

“Adapun i‘âdah ialah ketika seseorang telah melaksanakan shalat fardhu, namun kemudian melihat ada cacat atau cela dalam kesempurnaan ataupun tata krama shalat, dan selanjutnya ia melaksanakan kembali shalat tersebut menurut tata cara yang tidak ada cela ataupun cacat.”

Dari keterangan di atas, bisa kita pahami bahwa i‘âdah dilaksanakan bukan karena shalat yang telah dilakukan tidak sah, namun karena ada ketidaksempurnaan saja. Contohnya ialah seseorang yang sudah melaksanakan shalat sendirian, kemudian ia menemukan ada jamaah shalat hendak didirikan, maka ia dianjurkan untuk mengikuti shalat berjamaah tersebut.

Hukum i‘âdah ini adalah sunnah karena hal demikian pernah dianjurkan oleh Rasulullah sebagaimana gambaran yang diberikan dalam hadits riwayat Imam Turmudzi No. 219:

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat shubuh berjamaah, kemudian beliau melihat ada dua lelaki yang tidak shalat bersama beliau, lantas beliau bertanya, ‘Apa yang mencegah kalian berdua shalat bersama kami?’ Dijawab, “Wahai Rasulullah, kami sudah melaksanakan shalat dalam perjalanan.’ Rasulullah berkata, ‘Kenapa tidak? Jika kalian sudah shalat dalam perjalanan, kemudian menemui masjid yang di dalamnya ada jamaah shalat, maka shalatlah bersama mereka, karena yang demikian ini sunnah untuk kalian lakukan’.”

Sebagai penutup, karena i‘âdah ini sifatnya ialah mengulangi shalat yang awalnya kurang sempurna, maka tidak disunnahkan ketika shalat yang pertama tidak kurang sempurna dibanding dengan yang kedua, seperti seseorang yang telah melaksanakan shalat berjamaah di masjid, maka dia tidak dianjurkan melaksanakan shalat i‘âdah ketika melihat ada shalat berjamaah di mushala. Wallahu a’lam bish-shawab. (Muhammad Ibnu Sahroji)

Jumat 20 Oktober 2017 18:3 WIB
Ini Perbedaan Istilah Jilbab dan Hijab dalam Syariat
Ini Perbedaan Istilah Jilbab dan Hijab dalam Syariat
(Copyright wix.com)
Perkembangan fashion pakaian sangat beragam. Berbagai gaya pakaian didesain untuk menambah keelokan paras dan menambah pesona. Pilihan busana juga kian beragam, termasuk model kerudung penutup kepala.

Dewasa ini, khususnya di Indonesia, mulai ada pembedaan istilah tentang penyebutan kerudung penutup kepala. Dua sebutan yang banyak disebut adalah hijab dan jilbab. Hijab biasa disebutkan untuk kerudung yang dihias dan dikenakan dengan variasi sedemikian rupa, sesuai selera dan kepantasan. Sedangkan jilbab, adalah kerudung pada umumnya, baik model praktis yang langsung dikenakan, kerudung paris yang jamak di kalangan ibu-ibu, sampai model terbaru yang disebut sebagai jilbab syar’i, yang panjang menjulur menutupi bagian dada, sampai menutupi bagian perut bahkan hingga lutut.

Preferensi dan kepantasan berkerudung, tentu adalah pilihan. Namun patut diketahui, bagaimana kita mendudukkan istilah penutup kepala yang ada dalam Islam?

Setidaknya masalah ini berkaitan erat dengan ayat-ayat Al Quran yang memuat dua istilah hijab dan jilbab. Utamanya terkait dengan perintah Allah kepada para istri-istri Nabi untuk tidak berinteraksi secara terbuka kepada lawan jenisnya. Hendaknya hal tersebut dilakukan di balik hijab.

Seorang sastrawan Arab bernama Ibnul Manzhur menyebutkan dalam kitabnya Lisanul Arab tentang makna hijab. Hijab bermakna As-Sitr, yang bermakna tutup. Ia bisa diartikan tirai, penghalang, dan sebagainya.

Bagaimana dengan masalah penghalang untuk lawan jenis? Hal ini terjadi pada pemaknaan surat Al-Ahzab ayat 53 yang memerintahkan istri Rasulullah untuk tidak berbicara kepada selain mahram kecuali dengan menggunakan tirai penghalang terhadap kontak langsung, atau dengan menutup wajah mereka.

...وَإِذَا سَأَلۡتُمُوهُنَّ مَتَٰعٗا فَسۡ‍َٔلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٖۚ ذَٰلِكُمۡ أَطۡهَرُ لِقُلُوبِكُمۡ وَقُلُوبِهِنَّۚ...

Artinya: “...Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka...”

Ayat ini disebutkan terkait dengan masalah terkait etika ketika bersama istri-istri Nabi. Karena itu, hijab di atas ini bermakna penutup kontak langsung, bukan terkait pakaian. Sedangkan bagaimana dengan jilbab? Jilbab disebutkan sekali dalam Al-Qur’an, dalam surat Al-Ahzab ayat 59. Penyebutannya dalam bentuk plural, yaitu jalabîb.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ يُدۡنِينَ عَلَيۡهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّۚ ذَٰلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَن يُعۡرَفۡنَ فَلَا يُؤۡذَيۡنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا

Artinya, “Wahai Nabi, katakanlah terhadap istri-istrimu, anak-anakmu, dan istri-istri orang-orang yang beriman (agar) mereka mengulurkan jalaabib mereka. Demikian itu, supaya mereka lebih mudah dikenal dan tidak disakiti. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Imam As-Suyuthi dalam kitabnya Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul menyebutkan bahwa penyebab turunnya ayat di atas adalah suatu ketika, istri Nabi keluar karena suatu keperluan. Dahulu menggunakan kain penutup kepala belum begitu populer. Kemudian ternyata ada sekelompok orang nakal yang mengganggu mereka.

Mereka yang digoda itu mengadu ke Rasulullah. Melalui turunnya ayat ini, maka mereka diperintahkan untuk menutupi kepala hingga dada agar mudah dikenal, serta terhindar dari gangguan laki-laki yang nakal. Selain itu, perempuan yang merdeka ditandai dengan jilbab, sedangkan budak perempuan dengan kepala terbuka. Demikianlah asbabun nuzul dan konteks turunnya ayat tentang jilbab.

Maka dari paparan di atas, setidaknya dalam Islam istilah yang muncul untuk busana penutup kepala perempuan adalah jilbab dibanding hijab, meskipun dalam perkembangannya dua kata tersebut sama-sama digunakan. Jilbab digunakan dalam masalah ajaran Islam, sedangkan istilah hijab bisa digunakan dalam percakapan sehari-hari. Perbedaan tersebut, asalnya bukan dibedakan berdasarkan model pakaiannya. Yang terpenting dari cara berpakaian, busana yang sopan tentu akan tampak menawan. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)

Kamis 19 Oktober 2017 15:0 WIB
Manakah Lebih Utama, Menjadi Orang Kaya atau Orang Miskin?
Manakah Lebih Utama, Menjadi Orang Kaya atau Orang Miskin?
Ilustrasi (Twitter)
Banyak orang berdoa agar Allah SWT memberinya rezeki yang luas sehingga memiliki banyak harta alias menjadi orang kaya; sementara Nabi Muhammad SAW sendiri berdoa agar dihidupkan dan diwafatkan dalam keadaan miskin. Kedua hal yang bertolak belakang ini kadang menimbulkan kebingungan di sebagian kalangan umat Islam sehingga memunculkan pertanyaan sebagaimana judul di atas. 

Doa memohon keluasan rezeki memang ada contohnya, antara lain sebagai berikut: 

اللّهُمَّ إنِّي أَسألُكَ أَنْ تَرْزُقَنِي رِزْقًا حَلَالًا وَاسِعًا طَيِّبًا مِنْ غَيْرِ تَعَبٍ وَلَا مِشْقَةٍ وَلَا ضَيْرٍ وَلَانِصْبٍ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ

Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu rezeki yang halal, luas, dan baik tanpa susah payah, tanpa kesulitan, tanpa kerusakan, dan tanpa penderitaan. Seungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Sedangkan doa Rasulullah SAW yang mengharapkan kemiskinan adalah sebagai berikut: 

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِيناً وَأَمِتْنِي مِسْكِيناً وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِيْن

Artinya: “Ya Allah, hidupkanlah dan matikanlah aku sebagai orang miskin dan kumpulkanlah aku bersama orang-orang miskin.”(HR: At-Tirmidzi) 

Pertanyaan sebagaimana judul di atas dapat ditemukan jawabannya dalam kitab An-Nafais Al-Uluwiyah fi Masailis Shufiyyah, karya Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad, bab Anit Tafdhil bainal Faqri wal Ghina, halaman 66, sebagai berikut: 

بسم الله الرحمان الرحيم الحمد لله الذي جعل الفقر زينة لعباده الصالحين و حلية لخاصته المفلحين، وذالك اذا قارنه منهم الرضا والتسليم، والشكر والصبر على ما ابتلاهم به العزيزالعليم

Artinya: “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kemiskinan sebagai hiasan bagi hamba-Nya yang saleh dan mengkhusukannya bagi hamba-Nya yang beruntung, dengan syarat bahwa ujian kefakiran dari Allah Yang Maha Mulia dan Mengetahui diterimanya dengan ridha, tawakal, syukur dan sabar.”

Jadi menurut ulama pembaharu asal Hadhramaut abad 11 H tersebut, kefakiran sesugguhnya bukan merupakan kehinaan, apalagi adzab atau laknat dari Allah SWT, tetapi justru suatu hiasan yang indah bagi hamba-Nya yang saleh. Bahkan juga menjadi tanda keburuntungannya dengan catatan ia dapat menerima kefakiran itu dengan ridha, tawakal, syukur dan sabar.

Namun, jika seseorang tidak ridha menerima kefakirannya, bahkan banyak melakukan protes, maka kefakirannya akan menjadi musibah besar baginya dengan mendapatkan siksa dari Allah SWT. Hal ini seperti dijelaskan lebih lanjut dalam kitab tersebut (halaman 66-67) sebagai berikut: 

فاما اذا قارنه الجزع والضجر والاعتراض على القضاء والقدر فهو من البلاء العظيم, المؤدي الى العذاب المقيم, فالمدح الواقع على الفقر كتابا و سنة, المراد به الفقر المقرون بالصبر والرضا وحسن الادب مع الله تعالى
 
Artinya: “Akan tetapi jika kefakiran itu diterima dengan gelisah, sedih, dan tidak ridha terhadap qadha dan qadar Allah SWT, maka kefakirannya akan beralih menjadi bencana yang dapat menyeretnya kepada siksa Allah SWT. Sedangkan menurut Al-Qur’an dan Sunnah, orang fakir yang terpuji adalah yang dapat menerimanya dengan sabar, ridha, dan adab yang baik kepada Alllah SWT. 

Jadi bagi orang miskin yang tidak ridha terhadap ketetapan dan takdir Allah SWT, maka kefakirannya akan menjauhkan orang tersebut dari Allah SWT karena tidak bisa bersikap sabar atas ujian dari-Nya dan mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Dalam hal seperti ini, menjadi orang miskin bukan sebuah keutamaan baginya sehingga ia harus berjuang melawan kefakirannya agar menjadi orang mampu yang bersyukur. 

Kesimpulannya adalah menjadi orang miskin bisa lebih utama daripada menjadi orang kaya dengan syarat kemiskinannya mampu mendorongnya mendekatkan diri kepada Allah dengan jalan kesabaran, keridhaan, tawakal, dan selalu bersyukur kepada Allah SWT. Jika syarat tersebut tidak terpenuhi, maka menjadi orang kaya akan lebih utama dengan syarat kekayaannya mampu mendorongnya mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan jalan syukur dan ketakwaan kepada-Nya. Jadi masalahnya adalah tergantung pada mana yang lebih efektif mendorong mendekatkan diri kepada Allah SWT. 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta