IMG-LOGO
Thaharah

Aturan Fiqih ketika Kita Meragukan Kesucian Air

Rabu 8 November 2017 8:30 WIB
Share:
Aturan Fiqih ketika Kita Meragukan Kesucian Air
Ilustrasi (via Pepperrr.net)
Di dalam fiqih air merupakan sarana utama dalam melakukan akitivitas thaharah atau bersuci. Pun air menjadi sarana yang sangat penting dalam berbagai aktivitas kehidupan sehari-hari seperti minum, mencuci, membersihkan rumah dan lain sebagainya. Hanya saja untuk kebutuhan-kebutuhan itu fiqih mengatur diharuskannya menggunakan air yang jelas kesuciannya.

Tidak jarang dalam keseharian ketika menggunakan air—terlebih bagi mereka yang benar-benar memperhatikan hukum fiqih—ada keragu-raguan di dalam hati perihal apakah air yang akan dipakai benar-benar dalam keadaan suci atau sudah menjadi najis karena satu dan lain hal.

Abu Ishak As-Syairozi dalam kitabnya Al-Muhadzdzab sempat menuliskan permasalahan ini berikut keputusan hukumnya. Beliau menuturkan empat perilaku orang ketika berhadapan dengan air berkaitan dengan keyakinannya perihal suci tidaknya air yang akan ia gunakan. Beliau menyebutkan:

إذا تيقن طهارة الماء وشك في نجاسته توضأ به لأن الأصل بقاؤه على الطهارةوإن تيقن نجاسته وشك في طهارته لم يتوضأ به لأن الأصل بقاؤه على النجاسة وإن لم يتيقن طهارته ولا نجاسته توضأ به لأن الأصل طهارته فإن وجده متغيراً ولم يعلم بأي شيء تغير توضأ به لأنه يجوز ان يكون تغيره بطول المكث  

Artinya: “Bila seseorang meyakini sucinya air dan meragukan kenajisannya maka ia bisa berwudlu dengan air itu karena hukum asal air itu adalah tetap pada kesuciannya. Bila ia meyakini najisnya air dan meragukan kesuciannya maka ia tidak bisa berwudlu dengan air itu karena hukum asal air itu adalah tetap pada kenajisannya. Sedangkan bila ia tidak meyakini kesucian dan juga najisnya air maka ia bisa berwudlu dengan air tersebut karena hukum asal air itu adalah suci. Dan bila ia menemukan air telah berubah sifatnya namun tidak mengetahui apa yang menyebabkan perubahan tersebut maka ia bisa berwudlu dengan air itu karena bisa jadi perubahan itu dikarenakan lamanya air itu berdiam. (lihat Abu Ishak As-Syairazi, Al-Muhadzdzab, (Beirut: Darul Fikr, 2005), juz 1, hal. 14).

Apa yang disampaikan As-Syairazi di atas oleh Imam Nawawi diberi sedikit penjelasan di dalam kitab Al-Majmu’ sehingga memberi gambaran yang lebih memudahkan untuk dipahami. Di bawah ini penulis sampaikan penjelasan tersebut dengan contoh kasus sebagai berikut:

Pertama, pada awalnya seseorang mengetahui dan meyakini bahwa airnya suci karena ia mengambilnya dari air yang berjumlah banyak yang mencapai atau lebih dari dua qullah, misalnya. Kemudian ia ragu-ragu air tersebut telah berubah jadi najis atau tidak. Pada kondisi seperti ini maka air tersebut dihukumi tetap suci dan orang tersebut bisa menggunakannya untuk berwudlu atau keperluan lain.

Untuk lebih jelasnya kasus pertama ini bisa digambarkan sebagai berikut:

Seumpama Anda memiliki satu ember air yang sejak dari awal Anda tahu dan yakin betul bahwa air tersebut dalam keadaan suci. Beberapa waktu Anda meninggalkan air itu dan saat kembali lagi ternyata Anda mendapati anak kecil anda telah selesai buang air kecing dengan berdiri persis di sebelah ember tempat air tersebut. Secara kasat mata memang air kencingnya terlihat berada di luar dan di samping ember. Namun ada keraguan di dalam hati Anda kalau-kalau ada sebagian air kecing yang masuk ke dalam ember karena cipratan atau mungkin saat kencing anak Anda bergerak yang menjadikan air kencingnya ada sebagian yang mengarah dan masuk ke ember. Pada posisi demikian Anda masih bisa menggunakan air tersebut untuk berbagai keperluan termasuk bersuci. Ini disebabkan air tersebut dihukumi tetap suci sebagaimana keyakinan Anda di awal. Sedangkan kenajisannya hanyalah sebuah keraguan yang tidak terbuktikan.

Kedua, pada awalnya seseorang mengetahui bahwa air tersebut adalah najis, kemudian—karena satu dan lain hal—ia meragukan apakah air itu sudah menjadi suci atau belum. Ini bisa saja terjadi umpamanya bila sebelumnya air najis tersebut volumenya kurang dari dua qullah dan telah terkena najis. Lalu ia menuangkan air hingga volumenya bertambah namun ia ragu-ragu apakah dengan dituangkannya air volume air tersebut kini telah mencapai dua qullah atau belum. Bila telah mencapai dua qullah maka air yang awalnya berstatus najis tersebut telah berubah menjadi suci. Namun bila tuangan air tersebut tidak membuat volumenya menjadi dua qullah maka air tersebut masih pada status najisnya.

Dalam posisi demikian maka air tersebut masih dihukumi tetap najis sebagaimana yang diketahui pada awalnya, karena kemungkinan berubahnya air itu menjadi suci dengan adanya penambahan volume masih merupakan keragu-raguan dengan tidak adanya kepastian telah mencapai dua qullah atau tidak.

(Penjelasan tentang air dua qullah bisa dibaca pada artikel: Empat Macam Air dan Hukumnya untuk Bersuci)

Ketiga, sejak dari awal seseorang tidak mengetahui suci atau najisnya air di suatu tempat. Kemudian—katakanlah saat akan menggunakan air itu—ia ragu-ragu apakah air tersebut suci atau najis. Dalam keadaan ini air tersebut dihukumi suci karena memang pada dasarnya status air itu adalah suci. Bahwa kemudian air itu bisa menjadi najis bila jelas-jelas ada barang najis yang mengenainya. Sedangkan dalam kasus ini tidak ada kepastian ada tidaknya barang najis yang mengenai air tersebut. Dengan demikian maka air itu dihukumi suci sehingga dapat digunakan untuk bersuci dan keperluan lainnya.

Keempat, bila seseorang mendapati ada air di suatu tempat yang telah berubah sifatnya namun ia tidak tahu pasti apa yang menjadikan perubahan tersebut, apakah karena terkena najis atau lainnya, maka air tersebut dihukumi sebagai air yang suci karena bisa jadi berubahnya sifat air tersebut hanya dikarenakan telah lamanya air itu berdiam.

Lebih lanjut Imam Nawawi menuturkan sebuah hadis dari Rasulullah yang menjadi pijakan para ulama mensikapi permasalahan-permasalahan di atas. Bahwa ada seorang sahabat yang mengadu kepada Rasulullah bahwa pada saat shalat ia merasakan seakan ada sesuatu yang keluar dari duburnya. Kepada sahabat tersebut Rasul memerintahkan untuk tidak membubarkan shalatnya hingga jelas-jelas ada suara atau bau kentut yang keluar dari duburnya (lihat Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Majmu’, (Kairo: Darul Hadis, 2010), juz 1, hal. 348).

Dengan penjelasan tersebut diharapkan saat kita mengalami permasalahan sebagaimana digambarkan di atas dapat dengan segera mengambil sikap secara yakin tanpa ada keraguan lagi. Wallahu a’lam. (Yazid Muttaqin).

Share:
Rabu 8 November 2017 5:0 WIB
Penjelasan tentang Najis yang Dimaafkan dan yang Tak Dimaafkan
Penjelasan tentang Najis yang Dimaafkan dan yang Tak Dimaafkan
Ilustrasi (© shutterstock)
Dalam kehidupan sehari-hari sering kali seorang Muslim bersinggungan dengan barang-barang yang dianggap oleh fiqih sebagai barang najis, yang apabila barang najis ini mengenai sesuatu yang dikenakannya akan berakibat hukum yang tidak sepele. Batalnya shalat dan menjadi najisnya air yang sebelumnya suci adalah sebagian dari akibat terkenanya barang najis.

Sejatinya tidak setiap apa yang terkena najis secara otimatis menjadi najis yang tak termaafkan. Di dalam fiqih madzhab Syafi’i ada beberapa barang najis yang masih bisa dimaafkan dan ada juga yang sama sekali tidak bisa dimaafkan. Dalam fiqih, najis yang bisa dimaafkan dikenal dengan istilah “ma’fu”.

Syekh Nawawi Banten di dalam kitabnya Kâsyifatus Sajâ memaparkan empat kategori najis dilihat dari segi bisa dan tidaknya najis tersebut dimaafkan. Beliau menuturkan sebagai berikut:

Pertama:

قسم لا يعفى عنه في الثوب والماء

“Najis yang tidak dimaafkan baik ketika mengenai pakaian maupun ketika mengenai air.”

Termasuk najis dalam kategori ini adalah umumnya barang-barang najis yang dikenal secara umum oleh masyarakat. Seperti air kencing, kotoran manusia dan binatang, darah, bangkai dan lain sebagainya. Apabila najis-najis ini mengenai pakaian atau air maka tidak dimaafkan. Pakaiannya menjadi najis dan harus disucikan sebagaimana mestinya. Airnya juga menjadi air najis yang tidak dapat lagi digunakan untuk bersuci atau keperluan lain yang membutuhkan air suci.

Kedua:

قسم يعفى عنه فيهما

“Najis yang dimaafkan baik ketika mengenai air maupun ketika mengenai pakaian.”

Yang masuk dalam kategori ini adalah najis yang sangat kecil sehingga tidak terlihat oleh mata yang normal. Sebagai contoh adalah ketika seseorang buang air kencing dengan tanpa benar-benar melepas pakaiannya bisa jadi ada cipratan dari air kencingnya yang sangat lembut yang tidak terlihat mata mengenai celana atau pakaian lain yang dikenakan. Bila pakaian ini digunakan untuk shalat maka shalatnya dianggap sah karena najis yang mengenai pakaiannya masuk pada kategori najis yang dimaafkan.

Ketiga:

قسم يعفى عنه في الثوب دون الماء

“Najis yang dimaafkan ketika mengenai pakaian namun tidak dimaafkan ketika mengenai air.”

Barang najis yang masuk dalam kategori ini adalah darah dalam jumlah yang sedikit. Darah yang sedikit volumenya bila mengenai pakaian maka dimaafkan najisnya. Bila pakaian itu dipakai untuk shalat maka shalatnya masih dianggap sah. Sebaliknya bila darah ini mengenai air tidak bisa dimaafkan najisnya meski volumenya hanya sedikit. Air yang terkena darah ini bila volumenya kurang dari dua qullah dihukumi najis meski tidak ada sifat yang berubah, sedangkan bila volumenya memenuhi dua qullah atau lebih maka dihukumi najis bila ada sifatnya yang berubah. Dengan demikian air yang menjadi najis karena terkena darah yang sedikit ini tidak bisa digunakan untuk bersuci atau keperluan lain yang memerlukan air yang suci.

Lalu bagaimana ukuran darah bisa dianggap sedikit atau banyak? Syekh Syihab Ar-Romli seagaimana dikutip oleh Syekh Nawawi Banten menuturkan bahwa ukuran sedikit dan banyak itu berdasarkan adat kebiasaan. Noda yang mengenai sesuatu dan sulit untuk menghindarinya maka disebut sedikit. Yang lebih dari itu disebut banyak. Namun ada juga yang berpendapat bahwa yang disebut banyak itu seukuran genggaman tangan, seukuran lebih dari genggaman tangan, atau seukuran lebih dari satu kuku (lihat Muhammad Nawawi Al-Jawi, Kâsyifatus Sajâ [Jakarta: Darul Kutub Islamiyah, 2008], hal. 84).

Keempat:

قسم يعفى عنه في الماء دون الثوب

“Najis yang dimaafkan ketika mengenai air namun tidak dimaafkan ketika mengenai pakaian.”

Yang termasuk dalam kategori ini adalah bangkai binatang yang tidak memiliki darah pada saat hidupnya. Seperti nyamuk, kecoak, semut, kutu rambut dan lain sebagainya. Bangkai binatang-binatang ini bila mengenai air dimaafkan najisnya. Namun bila mengenai pakaian maka tidak dimaafkan najisnya.

Sebagai contoh bila Anda melakukan shalat dan melihat di pakaian yang Anda kenakan ada semut yang mati maka shalat Anda batal bila tak segera membuang bangkai semut tersebut. Ini karena bangkai binatang yang tak berdarah tidak bisa dimaafkan najisnya bila mengenai pakaian.

Masalah ini perlu diketahui oleh setiap muslim mengingat sangat sering bersinggungan dalam kehiduan sehari-hari terlebih memberikan dampak pada sah tidaknya ibadah yang dilakukan. Wallahu a’lam. (Yazid Muttaqin)

Rabu 25 Oktober 2017 17:0 WIB
Tiga Macam Najis dan Cara Menyucikannya
Tiga Macam Najis dan Cara Menyucikannya
Ilustrasi (© shutterstock)
Secara bahasa najis berarti segala sesuatu yang dianggap kotor meskipun suci. Bila berdasarkan arti harfiah ini maka apa pun yang dianggap kotor masuk dalam kategori barang najis, seperti ingus, air ludah, air sperma dan lain sebagainya. Sedangkan secara istilah ilmu fiqih najis adalah segala sesuatu yang dianggap kotor yang menjadikan tidak sahnya ibadah shalat (lihat Muhammad Nawawi Al-Jawi, Kaasyifatus Sajaa [Jakarta: Darul Kutub Islamiyah: 2008], hal. 72).

Di dalam fiqih najis dikelompokkan dalam 3 kategori, yakni najis mukhaffafah, najis mutawassithah, dan najis mughalladhah. Sebagaimana ditulis oleh para fuqaha dalam kitab-kitabnya, salah satunya oleh Syekh Salim bin Sumair Al-Hadlrami dalam kitabnya Safiinatun Najaa:

فصل النجاسات ثلاث: مغلظة ومخففة ومتوسطةالمغلظة نجاسة الكلب والخنزير وفرع احدهما والمخففة بول الصبي الذي لم يطعم غير اللبن ولم يبلغ الحولين والمتوسطة سائر النجاسات

Artinya:“Fashal, najis ada tiga macam: mughalladhah, mukhaffafah, dan mutawassithah.Najis mughalladhah adalah najisnya anjing dan babi beserta anakan salah satu dari keduanya. Najis mukhaffafah adalah najis air kencingnya bayi laki-laki yang belum makan selain air susu ibu dan belum sampai usia dua tahun. Sedangkan najis mutawassithah adalah najis-najis lainnya.”

Untuk lebih rincinya perihal apa saja yang termasuk barang najis—terutama najis mutawassithah—silakan baca artikel berjudul "Mengenal Barang-barang Najis Menurut Fiqih".
.
Ketiga kategori najis tersebut masing-masing memiliki cara tersendiri untuk menyucikannya. Namun sebelum membahas lebih jauh tentang bagaimana cara menyucikan ketiga najis tersebut perlu diketahui istilah “najis ‘ainiyah” dan “najis hukmiyah” terlebih dahulu.

Najis ‘ainiyah adalah najis yang memiliki warna, bau dan rasa. Sedangkan najis hukmiyah tidak ada lagi adalah najis yang tidak memiliki warna, bau, dan rasa. Dengan kata lain najis ‘ainiyah adalah najis yang masih ada wujudnya, sedangkan najis hukmiyah adalah najis yang sudah tidak ada wujudnya namun secara hukum masih dihukumi najis. Pengertian ini akan lebih jelas pada pembahasan tata cara menyucikan najis.

Adapun tata cara menyucikan najis sebagai berikut:

1. Najis mughalladhah dapat disucikan dengan cara membasuhnya dengan air sebanyak tujuh kali basuhan di mana salah satunya dicampur dengan debu. Namun sebelum dibasuh dengan air mesti dihilangkan terebih dulu ‘ainiyah atau wujud najisnya. Dengan hilangnya wujud najis tersebut maka secara kasat mata tidak ada lagi warna, bau dan rasa najis tersebut. Namun secara hukum (hukmiyah) najisnya masih ada di tempat yang terkena najis tersebut karena belum dibasuh dengan air.

Untuk benar-benar menghilangkannya dan menyucikan tempatnya barulah dibasuh dengan air sebanyak tujuh kali basuhan dimana salah satunya dicampur dengan debu. Pencampuran air dengan debu ini bisa dilakukan dengan tiga cara:

Pertama, mencampur air dan debu secara berbarengan baru kemudian diletakkan pada tempat yang terkena najis. Cara ini adalah cara yang lebi utama dibanding cara lainnya.

Kedua, meletakkan debu di tempat yang terkena najis, lalu memberinya air dan mencampur keduanya, baru kemudian dibasuh.

Ketiga, memberi air terlebih dahulu di tempat yang terkena najis, lalu memberinya debu dan mencampur keduanya, baru kemudian dibasuh.

2. Najis mukhaffafah yang merupakan air kencingnya bayi laki-laki yang belum makan dan minum selain ASI dan belum berumur dua tahun, dapat disucikan dengan cara memercikkan air ke tempat yang terkena najis.

Cara memercikkann air ini harus dengan percikan yang kuat dan air mengenai seluruh tempat yang terkena najis. Air yang dipercikkan juga mesti lebih banyak dari air kencing yang mengenai tempat tersebut. Setelah itu barulah diperas atau dikeringkan. Dalam hal ini tidak disyaratkan air yang dipakai untuk menyucikan harus mengalir.

3. Najis mutawassithah dapat disucikan dengan cara menghilangkan lebih dahulu najis ‘ainiyah-nya. Setelah tidak ada lagi warna, bau, dan rasan najis tersebut baru kemudian menyiram tempatnya dengan air yang suci dan menyucikan.

Sebagai contoh kasus, bila seorang anak buang air besar di lantai ruang tamu, umpamanya, maka langkah pertama untuk menyucikannya adalah dengan membuang lebih dahulu kotoran yang ada di lantai. Ini berarti najis ‘ainiyahnya sudah tidak ada dan yang tersisa adalah najis hukmiyah. Setelah yakin bahwa wujud kotoran itu sudah tidak ada (dengan tidak adanya warna, bau dan rasa dan lantai juga terlihat kering) baru kemudian menyiramkan air ke lantai yang terkena najis tersebut. Tindakan menyiramkan air ini bisa juga diganti dengan mengelapnya dengan menggunakan kain yang bersih dan basah dengan air yang cukup.

Mengetahui macam dan tata cara menyucikan najis adalah satu ilmu yang mesti diketahui oleh setiap muslim mengingat hal ini merupakan salah satu syarat bagi keabsahan shalat dan ibadah lainnya yang mensyaratkannya. Wallahu a’lam. (Yazid Muttaqin)


Rabu 25 Oktober 2017 8:30 WIB
Mengenal Barang-barang Najis Menurut Fiqih
Mengenal Barang-barang Najis Menurut Fiqih
Ilustrasi (ebay.com)
Sebagaimana telah jamak diketahui bahwa dalam fiqih Islam najis terbagi dalam 3 (tiga) bagian; mukhaffafah (ringan), mutawassithah (sedang), dan mughalladhah (berat). Klasifikasi ini berdasarkan tingkat kesulitan cara menyucikannya, yang bakal diulas secara rinci dalam pembahasan selanjutnya.

Barang yang masuk pada kategori najis mughalladhah jelas, yakni anjing dan babi berikut anakan yang dihasil dari keduanya. Tak ada yang lainnya. Yang termasuk dalam kategori najis mukhaffafah juga telah jelas, yakni air kencing seorang bayi laki-laki yang belum berumur dua tahun dan belum makan selain air susu ibu. Selainnya tidak ada (lihat Salim bin Sumair Al-Hadlrami, Safiinatun Najaa, [Jedah: Darul Minhaj, 2009], hal. 27 – 28.).

Hal ini sebagaimana yang dituturkan oleh Syekh Salim bin Sumair Al-Hadlrami dalam kitabnya Safinatun Naja:

المغلظة نجاسة الكلب والخنزير وفرع احدهما والمخففة بول الصبي الذي لم يطعم غير اللبن ولم يبلغ الحولين

Lalu apa saja barang yang masuk pada kategori najis mutawassithah? Air hujan yang menggenang di halaman depan rumah, air keringat, air ludah dan ingus, air bekas cucian piring kotor, lempung basah yang ada di sawah, kotoran yang ada di dalam hidung dan telinga, apakah itu semua termasuk kategori barang najis? Banyak masyarakat yang tidak tahu dan tidak bisa membedakan mana barang-barang di sekitar mereka yang termasuk najis dan yang tidak najis?

Syekh Muhammad Nawawi Banten dalam kitab Kayifatus Saja menyebutkan ada dua puluh barang yang termasuk dalam kategori najis mutawassithah dan juga mughalladhah . Kedua puluh barang najis itu adalah:

1. Air kencing. Termasuk dalam air kencing adalah batu yang keluar dari saluran kencing bila diyakini bahwa batu itu terbentuk dari air kencing yang mengkristal. Bila batu itu tidak terbentuk dari air kencing maka statusnya bukan najis tapi mutanajis; barang suci yang terkena najis.

2. Air madzi. Yakni air yang berwarna kekuningan dan kental yang keluar pada saat bergeraknya syahwat tanpa adanya rasa nikmat, meskipun tanpa syahwat yang kuat atau keluar setelah melemahnya syahwat. Ini hanya terjadi pada orang yang sudah baligh. Pada seorang perempuan lebih sering terjadi pada saat dirangsang dan bangkit syahwatnya. Terkadang juga madzi keluar tanpa dirasakan oleh orang yang bersangkutan.

3. Air wadi. Yakni air putih, keruh dan kental yang keluar setelah guang air kecil atau ketika membawa barang yang berat. Keluarnya air wadi tidak hanya terjadi pada orang yang sudah baligh saja.

4. Kotoran (tahi). Termasuk najis juga kotorannya ikan atau belalang. Namun diperbolehkan menggoreng atau menelan ikan kecil yang masih hidup dan dimaafkan kotoran yang masih ada di dalam perutnya.

5. Anjing. Segala macam jenis anjing adalah najis mughalladhah, baik anjing yang dilatih untuk memburu ataupun anjing yang difungsikan untuk menjaga rumah.

6. Babi. Babi juga termasuk binatang yang najis mughalladhah sebagaimana anjing.

7. Anakan silangan anjing atau babi dengan selainnya.

8. Sperma dari anjing, babi dan anakan silangan anjing dan ababi dengan selainnya.

9. Air luka atau air bisul yang telah berubah rasa, warna atau baunya. Air ini najis karena merupakan darah yang telah berubah. Bila tidak ada perubahan pada air ini maka statusnya tetap suci.

10. Nanah yang bercampur dengan darah.

11. Nanah. Nanah najis karena merupakan darah yang telah berubah.

12. Air empedu. Sedangkan kantong atau kulit empedunya berstatus mutanajis yang bisa disucikan dan boleh dimakan bila berasal dari hewan yang halal dimakan. Termasuk najis juga bisa atau racunnya ular, kalajengkisng dan hewan melata lainnya.

13. Barang cair yang memabukkan seperti khamr, arak dan lainnya. Barang-barang yang memabukkan namun tidak berbentuk cair, seperti daun ganja, meskipun haram mengkonsumsinya namun tidak najis barangnya.

14. Apapun yang keluar dari lambung,seperti muntahan meskipun belum berubah. Adapun yang keluar dari dada seperti riyak atau turun dari otak seperti ingus tidaklah najis, keduanya berstatus suci. Demikian juga air ludah.

15. Air susu binatang yang tidak boleh dimakan. Seperti air susu harimau, kucing, anjing dan lainnya. Sedangkan air susu binatang yang boleh dimakan berstatus suci.

16. Bangkai selain manusia, ikan dan belalang. Termasuk dalam kategori ikan di sini adalah segala binatang air yang tidak bisa hidup di darat meskipun tidak dinamai “ikan”.

Termasuk dalam kategori bangkai yang najis adalah bagian anggota badan yang terpotong dari hewan yang masih hidup. Kecuali bulu binatang yang boleh dimakan bila terpotong dari badannya tidak berstatus najis (lihat Abdullah Al-Hadlrami, Muqaddimah Hadlramiyah [Jedah: Darul Minhaj, 2011], hal. 64 –65).

Berdasarkan hadis Nabi:

مَا قُطِعَ مِنَ الْبَهِيمَةِ وَهِيَ حَيَّةٌ فَهِيَ مَيْتَةٌ

Artinya: “Apapun yang dipotong dari binatang yang masih hidup maka potongan itu adalah bangkai.” (HR. Abu Dawud)

17. Darah selain hati dan limpa. Hati dan limpa meskipun termasuk kategori darah namun statusnya suci tidak najis.

18. Air yang keluar dari mulut binatang seperti kerbau, kambing dan selainnya pada saat memamahbiak makanan. Sedangkan air yang keluar dari pinggiran mulutnya pada saat kehausan tidak najis karena itu berasal dari mulut.

19. Air kulit yang melepuh atau menggelembung yang berbau. Bila tidak berbau maka tidak najis.

20. Asap dan uap dari barang najis yang dibakar, seperti asap dari kayu yang dikencingi dan kotoran kerbau yang dibakar (Muhammad Nawawi Al-Jawi, Kaasyifatus Sajaa, [Jakarta: Darul Kutub Islamiyah, 2008] hal. 72 – 75).

Demikian macam-macam barang yang berstatus najis yang dapat membatalkan shalat atau ibadah lain yang mensyaratkan suci dari najis. Hal ini mesti diperhatikan oleh setiap muslim mengingat erat kaitannya dengan keabsahan ibadah yang dilakukan. Wallahu a’lam. (Yazid Muttaqin).