IMG-LOGO
Trending Now:
Ubudiyah

Ini Awal-awal Baca Sami'allah Liman Hamidah saat Bangun dari Ruku'

Jumat 10 November 2017 9:2 WIB
Share:
Ini Awal-awal Baca Sami'allah Liman Hamidah saat Bangun dari Ruku'
(© madani)

Dalam shalat dikenal istilah takbir intiqâl, yakni kesunahan mengucapkan kalimat takbir الله اكبر setiap kali perpindahan gerak. Ada satu yang berbeda, yakni ketika bangun dari ruku’, bukanlah kalimat takbir yang sunah diucapkan, melainkan kalimat tasmi’  سمع الله لمن حمده.

Syekh Abu Bakar Syatha Ad-Dimyathi dalam kitab I’anatut Thalibin (Beirut: Darul Fikr, 1997) meriwayatkan sebuah kisah yang menjadi penyebab perbedaan kesunahan ucapan ketika bangun dari ruku’ ini sebagai berikut.

والسبب في سن سمع الله لمن حمده: أن الصديق رضي الله عنه ما فاتته صلاة خلف رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قط، فجاء يوما وقت صلاة العصر فظن أنه فاتته مع رسول الله - صلى الله عليه وسلم -، فاغتم بذلك وهرول ودخل المسجد فوجده - صلى الله عليه وسلم - مكبرا في الركوع، فقال: الحمد لله. وكبر خلفه - صلى الله عليه وسلم -. فنزل جبريل والنبي - صلى الله عليه وسلم - في الركوع، فقال يا محمد، سمع الله لمن حمده. … اجعلوها في صلاتكم عند الرفع من الركوع، - وكان قبل ذلك يركع بالتكبير ويرفع به - فصارت سنة من ذلك الوقت ببركة الصديق رضي الله عنه.

Artinya, “Sebab kesunahan ucapan سمع الله لمن حمده ialah bahwasanya sahabat Abu Bakar As-Shiddiq RA tidak pernah sama sekali tertinggal shalat berjama’ah di belakang Rasulullah SAW. Hingga pada suatu ketika, saat shalat ashar, Sahabat Abu Bakar RA tertinggal shalat bersama Rasulullah SAW. Sahabat Abu Bakar sangat bersedih dan bergegas masuk masjid.

Sampai di masjid, ia masih bisa menemui ruku‘ Rasulullah, maka ia berucap: “Alhamdulillah” sebagai bentuk pujian terhadap Allah, lantas takbiratul ihram dan shalat di belakang Rasulullah SAW.

Jibril kemudian turun saat Nabi sedang ruku‘ sambil berkata: “Wahai Muhammad, ucapkan سمع الله لمن حمده . ‘Allah mendengar orang-orang yang memuji-Nya.’ …baca kalimat itu setiap shalat saat bangun dari ruku‘.

Sebelum kejadian ini setiap akan ruku‘ dan bangun dari ruku‘ yang dibaca adalah takbir. Berkah dari Sahabat Abu Bakar RA membuat tasmi’ jadi disunahkan.”

***

Dari kisah di atas bisa dipahami bahwa kesunahan tasmi’ saat bangun dari ruku‘ merupakan jawaban atas pujian yang disampaikan oleh Sahabat Abu Bakar RA karena ia masih tetap bisa menjaga keistiqamahan shalat berjama’ah bersama Rasulullah SAW. Wallahu a‘lam. (Muhammad Ibnu Sahroji)

Share:
Rabu 8 November 2017 6:30 WIB
Larangan Melaknat dan Mendoakan Jelek
Larangan Melaknat dan Mendoakan Jelek
Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitabnya berjudul Risâlatul Mu‘âwanah wal Mudzâharah wal Muwâzarah, halaman 141, menjelaskan tentang larangan mendoakan jelek dan melaknat, baik ditujukan pada diri sendiri, orang lain maupun sesuatu apa pun di luar dirinya sebagai berikut:

واحذر - أن تدعو على نفسك أو على ولدك أو على مالك أو على احد من المسلمين وإن ظلمك,  فإن من دعا على من ظلمه فقد انتصر. وفي الخبر "لا تدعوا على انفسكم ولا على أولادكم ولا على اموالكم لاتوافقوا من الله ساعة إجابة".

Artinya: “Jangan sekali-kali mendoakan datangnya bencana atau mengutuk diri sendiri, keluargamu, hartamu ataupun seseorang dari kaum Muslimin walaupun ia bertindak dzalim terhadapmu, sebab siapa saja mengucapkan doa kutukan atas orang yang mendzaliminya, berarti ia telah membalasnya. Rasulullah SAW telah bersabda: ‘Jangan mendoakan bencana atas dirimu sendiri, anak-anakmu ataupun harta hartamu. Jangan-jangan hal itu bertepatan dengan saat pengabulan doa oleh Allah SWT’.”

Dari kutipan diatas dapat diuraikan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, mendoakan jelek atau melaknat siapa pun dan apa pun dari kaum Muslimin termasuk diri sendiri, harta benda, keluarga dan orang lain agar tertimpa suatu bencana sangat tidak dianjurkan sekalipun mereka telah berbuat kedzaliman kepada kita. Artinya tidak sepantasnya kita melakukan hal yang sama buruknya sebab mendoakan jelek dan melaknat bukan akhlak karimah. Doa yang sebaiknya diucapkan untuk  orang yang telah berbuat dzalim adalah doa yang baik saja, misalnya agar ia mendapatkan hidayah dari Allah SWT, lalu menyadari kesalahannya dan bertobat.

Kedua, mengucapkan doa kutukan atau laknat atas orang lain agar tertimpa bencana bisa sama saja dengan melaknat diri sendiri. Alasannya,  sebagimana dijelaskan Rasulullah SAW, adalah  bisa saja pada saat kita mengucapkan kutukan atau laknat kepada orang lain, pada saat itu Allah sedang menghendaki  terkabulnya doa-doa, sementara orang lain tersebut ternyata tidak pantas mendapat kutukan karena tidak bersalah, misalnya.  Kutukan atau laknat seperti itu bisa berbalik kepada diri sendiri  sebagaimana dijelaskan  Sayyid Abdullah Al-Haddad di halaman yang sama (hal. 141) sebagai berikut: 

وقد ورد أن اللعنة إذا خرجت من العبد تصعد نحوالسماء فتغلق دونها أبوابها ثم تنزل إلى الأرض فتغلق دونها أبوابها ثم تجيء الى الملعون فإن وجدت فيه مساغا وإلارجعت على قائلها. 

Artinya: “Ketahuilah bahwa suatu laknat, bila telah keluar dari mulut seseorang, akan naik ke arah langit, maka ditutuplah pintu-pintu langit di hadapannya sehingga ia turun kembali ke bumi dan dijumpainya pintu-pintu bumi pun tertutup baginya, lalu ia menuju ke arah orang yang dilaknat jika ia memang patut menerimany , atau jika tidak, laknat itu akan kembali kepada orang yang mengucapkannya.”

Dari kutipan di atas sangat jelas bahwa kutukan atau laknat memiliki dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, orang yang dilaknat akan terkena bencana jika memang menurut Allah ia pantas menerimanya. Kemungkinan kedua, jika ternyata Allah memandang lain, maka bencana itu akan menjadi bumerang  atau berbalik arah menuju orang yang telah mengucapkannya. Ini artinya sangat riskan melakukan kutukan atau melaknat orang lain. 

Dalam kaitan itu, Nabi Muhammad SAW telah memberikan contoh atau teladan yang baik ketika beliau didzalimi orang-orang Thaif yang menolak dakwahnya. Beliau mendoakan agar mereka tetap diberi keselamatan atau hak hidup dengan berharap dari anak cucunya akan ada yang mau beriman kepada Allah SWT. Sebenarnya mengutuk atau melaknat orang lain hanya diperbolehklan kepada orang-orang tertentu saja yang telah di-nash oleh Allah sendiri sebagaimana penjelasan Sayyid Abdullah Al-Haddad di halaman yang sama (hal. 141) sebagai berikut: 

واحذرأن تلعن مسلما أو بهيمة أوجمادا أو شخصا بعينه وان كان كافرا إلا إن تحققت أنه مات على الكفر كفرعون وابي جهل أو علمت أن رحمة الله لا تناله بحال كإبليس. 

Artinya: “Jauhkan dirimu dari perbuatan melaknat seorang Muslim (termasuk pelayan dan sebagainya), bahkan seekor hewanpun. Jangan melaknat seorang manusia tertentu secara langsung, walaupun ia seorang kafir, kecuali bila Anda yakin bahwa ia telah mati dalam keadaan kafir sepeti Fir’aun, Abu Jahal dan sebagainya. Ataupun, yang Anda ketahui bahwa rahmat Allah tak mungkin mencapainya seperti Iblis.”

Dari kutipan diatas semakin jelas bahwa kita sangat dianjurkan untuk tidak pernah melaknat siapa pun dan apa pun, baik itu manusia maupun bukan manusia; baik itu Muslim maupun kafir. Orang kafir sekarang bisa saja akan menjadi mukmin di masa depan dengan hidayah Allah SWT. Laknat hanya boleh ditujukan kepada orang-orang kafir yang sudah jelas kekafirannya hingga akhir hayat  seperti Fir’aun, Abu Jahal dan sebagainya. 

Iblis juga boleh dilaknat karena rahmat Allah SWT memang tidak akan pernah sampai kepadanya. Ia telah membangkang terhadap perintah Allah dan menyombongkan diri kepada-Nya sebagaimana di tegaskan di dalam Al-Qur’an, surah Al-Baqarah, ayat 34: “Aba wastakbara wakâna minal kâfirîn.” (Iblis membangkang Allah dan menyombongkan diri. Ia kafir).  Demikian pula setan-setan boleh dilaknat sebagaimana terdapat dalam bacaan ta’awudz:  “A’ûdzu billâhi minasy-syaithânir rajîm.” (Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk). Wallahu a'lam. (Muhammad Ishom)

Senin 6 November 2017 20:0 WIB
Lima Tanda Orang Tawadhu’ Menurut Sayyid Abdullah Al-Haddad
Lima Tanda Orang Tawadhu’ Menurut Sayyid Abdullah Al-Haddad
Tawadhu' juga tercermin dari kesediaan membantu siapa pun yang membutuhkan. Ilustrasi (via tnews.co.th)
Tawadhu’ atau rendah hati merupakan salah satu sikap terpuji sebab itu merupakan akhlak orang mukmin sejati. Seseorang yang bersikap sebaliknya–takabur–sangat dibenci oleh Allah SWT. Orang takabur diancam tidak akan masuk surga sampai ia bertobat dan tidak lagi menjadi orang takabur. Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitabnya berjudul Risâlatul Mu‘âwanah wal Mudhâharah wal Muwâzarah, halaman 148-149, menjelaskan tanda-tanda orang tawadhu’ sebagai berikut:
 
فمن أمارات التواضع حبُّ الخمول وكراهية الشهرة وقبول الحق ممن جاء به من شريف أو وضيع. ومنها محبة الفقراء ومخالطتهم ومجالستهم. ومنها كمال القيام بحقوق الإخوان حسب الإمكان مع شكر من قام منهم بحقه وعذرمن قصَّر.
 
Artinya: “Tanda-tanda orang tawadhu’, antara lain, adalah lebih senang tidak dikenal daripada menjadi orang terkenal; bersedia menerima kebenaran dari siapa pun asalnya baik dari kalangan orang terpandang maupun dari kalangan orang yang rendah kedudukannya; mencintai fakir miskin dan tidak segan-segan duduk bersama mereka; bersedia mengurusi dan menunaikan kepentingan orang lain dengan sebaik mungkin; berterima kasih kepada orang-orang yang telah menunaikan hak yang dibebankan atas mereka, sementara memaafkan mereka yang melalaikannya.”
 
Dari kutipan di atas dapat diuraikan bahwa tanda-tanda orang tawadhu’ adalah sebagai berikut:
 
Pertama,  tidak suka atau tidak berambisi menjadi orang terkenal. Orang seperti ini menghindari penonjolan diri atau mencari muka demi meraih popularitas. Artinya orang tawadhu’ sekaligus adalah orang yang ikhlas bekerja tanpa pamrih mendapatkan kemasyhuran di tengah-tengah masyarakat, apalagi mencari pujian. 
 
Kedua, menjunjung tinggi kebenaran dan bersedia menerimanya tanpa memandang hal-hal duniawi, seperti status sosial, dari orang yang menyatakannya. Hal ini sejalan dengan nasihat Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA berbunyi, “La tandhur ilâ man qâla, wandhur ilâ ma qâla (Jangan melihat siapa yang mengatakan, lihatlah apa yang dikatakannya)." Jadi orang tawadhu’ sekaligus adalah orang yang sportif atau jujur.
 
Ketiga, tidak segan-segan untuk bergaul dengan fakir miskin, dan bahkan secara tulus mencintai mereka. Hal ini persis seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW sebagaimana dikisahkan dalam kitab Maulid Al-Barzanji, karya Syaikh Ja’far bin Husin bin Abdul Karim bin Muhammad Al-Barzanji, halaman 123, sebagai berikut: “Wakâna shallallâhu alaihi wassalam syadidal haya’i wattwadhu’i.... yuhibbul  fuqarâ’a wal masâkina wayajlisu ma’ahum.” (Rasulullah SAW adalah pribadi yang sangat pemalu dan amat tawadhu’... beliau mencintai fakir miskin dan tidak segan-segan bergaul dengan duduk bersama mereka.) 
 
Keempat, ringan tangan dalam membantu orang-orang yang memerlukan bantuan sehingga bersedia bertindak atas nama mereka.  Ia tidak merasa turun derajat jika yang ia bantu ternyata dari kalangan yang lebih rendah atau orang-orang biasa. Dengan kata lain orang tawadhu’ tidak suka bersikap diskriminatif sehingga hanya bersedia membantu orang-orang yang sederajat atau lebih tinggi saja. 
 
Kelima, tidak merasa berat untuk mengucapkan terima kasih kepada siapa saja yang telah membantu menunaikan kewajibannya, karena suatu alasan, tanpa memandang status sosialnya. Ketika ternyata ada yang lalai dalam membatu, ia tidak keberatan untuk memaafkannya. Dengan kata lain orang tawadhu’ tentu  berterima kasih atas kebaikan orang lain dan tidak keberatan untuk memaafkan mereka yang telah berbuat salah. 
 
Kelima tanda tawadhu’ sebagaimana ditunjukkan oleh Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad di atas tentu saja bersifat terbuka, dalam arti tanda-tandanya  tidak hanya sebatas itu. Untuk lebih lengkapnya dapat dibaca dalam kitab Maulid Al-Barzanji, halaman 123,  sebagai kelanjutan atau kelengkapan dari apa yang telah diuraikan sedikit tentang contoh-contoh kerendahan hati (tawadhu’) Rasulullah SAW pada poin ketiga di atas.   
 
 
Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta
 
Senin 30 Oktober 2017 15:30 WIB
Tiga Cara Mencari Ilmu Menurut Sayyid Abdullah al-Haddad
Tiga Cara Mencari Ilmu Menurut Sayyid Abdullah al-Haddad
Ilustrasi (© Antara)
Pada suatu hari al-‘Allamah As-Sayyid Abdulah bin Alawi Al-Haddad ditanya seorang murid mengenai cara yang benar mencari ilmu: apakah dengan membaca buku-buku, berkumpul dengan para ulama, ataukah belajar sendiri dengan mengandalkan kecerdasannya. Keterangan ini disebutkan dalam kitab An-Nafais Al-Uluwiyyah fi Al-Masail As-Shufiyyah, halaman 196, sebagai berikut:

وسأله أيضا عن طلب العلوم النافعة: بأي شيئ يكون صادقا في طلبه ومحسنا فيه؟ أذالك بكثرة قراءة الكتب؟ أوالاجتماع بالعلماء؟ او بحسن الفهم والذكاء.
فاجابه أمتع الله به: بكل ذالك يكون صادقا ومحسنا, بعد ان يكون على نية صالحة في طلب العلوم والاخلاص لله في ذالك, وقصد الانتفاع والنفع. 

Artinya: “Seseorang bertanya tentang cara mencari ilmu yang bermanfaat. Cara manakah yang benar dan baik dalam mencari ilmu? Apakah dengan banyak membaca buku/kitab? Ataukah dengan berkumpul bersama para ulama? Atau pula dengan mengandalkan kecerdasan otaknya?
Beliau menjawab bahwa ketiga cara tersebut baik dan benar asalkan dijalankan dengan niat yang baik dan ikhlas dalam mencari ilmu semata-mata karena Allah serta bertujuan untuk mengambil manfaat dan menyebarkannya.” 

Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa ketiga cara mencari limu yang meliputi membaca buku atau kitab, berkumpul dengan para guru atau ulama, dan belajar dengan mengandalkan kecerdasannya adalah cara yang benar dan baik. Namun ada syarat yang harus dipenuhi, yakni harus dilandasi niat yang baik semata-mata karena Allah dan tidak ada tujuan lain kecuali untuk mengambil manfaat ilmu dengan mengamalkan dan menyebarkannya. Jadi cara apapun yang ditempuh dari ketiga cara tersebut tidak menjadi masalah asalkan dilakukan dengan niat ikhlas. 

Tentu saja bagi para pembelajar pemula atau dasar (ibtidaiyyah), cara mencari ilmu paling benar dan baik adalah dengan para guru atau ulama secara langsung. Lebih-lebih belajar ilmu-ilmu praktis dan ilmu keimanan seperti membaca Al-Qur’an, fiqih ubudiyah, akhlak dan aqidah yang memang harus ada petunjuk dan contoh langsung dari guru agar jika ada kesalahan dapat segera dikoreksi secara langsung. Dengan belajar kepada guru atau ulama maka terjalin genealogi keilmuan yang jelas, atau sering disebut sanad keilmuan. 

Bagi para pembelajar tingkat lanjutan (mutawasithah), ketergatungan pada guru sedikit berkurang karena mereka juga dapat memperoleh ilmu dengan membaca buku-buku atau kitab-kitab terutama yang direkomendasikan oleh guru. Ketika menemukan kesulitan-kesulitan, mereka dapat menanyakan hal itu kepada guru atau ulama yang memiliki kompetensi di bidang yang ditanyakan. 

Di era digital seperti sekarang ini, buku atau kitab bukan merupakan sumber ilmu tertulis satu-satunya. Dengan kemajuan di bidang ICT (information, communication, technology), para pembelajar tingkat lanjutan juga dapat menambah ilmu melalui internet dengan mengakses situs atau web yang kredibel dengan tidak meninggalkan berinteraksi dengan guru. 

Dalam menggunakan internet sering kali kita membutuhkan penyedia jasa dan produk internet seperti Google. Google tidak menulis informasi atau ilmu tertentu karena ia sekadar sebuah search engine (mesin pencari). Google hanya membantu menemukan letak di mana informasi atau ilmu yang dicari itu berada. Tentu saja ilmu itu pada umunya ditulis sendiri oleh para ahlinya. Jadi dalam hal ini seorang pembelajar tidak perlu bersikap alergi terhadap Google.

Sedangkan bagi para pembelajar tingkat maju (mutaqaddimah), selain dapat belajar langsung pada guru atau ulama dan membaca buku atau kitab, baik yang analog maupun digital, mereka juga dapat memanfaatkan kecerdasan intelektualnya dengan melakukan perenungan seperti tafakur atau tadabur guna memperluas ilmu dan pengetahuannya. Tentu saja hasil dari perenungan itu sebaiknya dikonfirmasikan validitasnya dengan apa yang sudah ditulis oleh para ahlinya dalam buku-buku atau kitab-kitab mereka. Atau konfirmasi itu dilakukan melalui diskusi dengan para guru atau ulama dan teman-teman sejawat. 

Selanjutnya pada halaman yang sama (hal. 196), Allamah As-Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad menambahkan bahwa seorang pembelajar yang menempuh ketiga cara mencari ilmu sebagaimana disebutkan diatas akan mendapatkan al-fath (kunci pembuka) yang akan memudahkannya mencapai keberhasilan menuntut ilmu dan meraih cita-citanya selama hal itu dilandasi niat ikhlas semata-mata mencari ridha Allah SWT. Di dalam Al-Qur’an, Surah Al-‘Ankabut, ayat 69, Allah SWT berfirman: 

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ المُحْسِنِينَ

Artinya: “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”

 
Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta