IMG-LOGO
Hikmah

Ketika Khawarij Kalah Debat dengan Khalifah al-Makmun

Selasa 14 November 2017 17:30 WIB
Share:
Ketika Khawarij Kalah Debat dengan Khalifah al-Makmun
Dari Sahabat Abu Sa’id al-Khudri, Rasulullah Saw bersabda:

يَخْرُجُ نَاسٌ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ ، لا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ثُمَّ لَا يَعُودُونَ فِيهِ حَتَّى يَعُودَ السَّهْمُ إِلَى فُوقِهِ

“Akan keluar kelompok manusia dari arah timur. Mereka membaca Al-Qur’an, namun tidak melewati kerongkongannya. Mereka melesat keluar dari agama seperti anak panah yang melesat dari busurnya. Mereka tidak akan kembali kepadanya sampai anak panah kembali ke busurnya.” (HR Bukhari)

Demikianlah nash hadits yang memprediksikan cikal bakal munculnya gerakan tatharruf (ekstremis) dalam Islam. Salah satu ciri kelompok ini adalah mudah mengkafirkan kelompok lain yang bukan golongannya. Golongan ini gemar sekali melakukan tindakan anarkis dengan mengatasnamakan agama. Mereka mudah sekali melakukan aksi pemberontakan terhadap pemerintahan yang sah. Mulanya istilah khawarij hanya mengarah kepada kelompok yang membelot dari kepemimpinan Ali bin Abi Thalib, namun secara dinamis juga digunakan untuk setiap kelompok yang melakukan tindakan makar terhadap pemerintah yang sah.

Syaekh KH Abu Fadl Senori mengatakan:

فَكُلُّ مَنْ خَرَجَ عَلىَ الْاِمَامِ الْحَقِّ الَّذِي اتَّفَقَتِ الْجَمَاعَةُ عَلَيْهِ فَهُوَ خَارِجِيٌّ

“Setiap orang yang keluar dari pemerintahan yang sah sesuai hukum konstitusi yang disepakati bersama, maka ia disebut dengan khariji (pemberontak)”. (KH Abu Fadl Senori Tuban, dalam kitab al-Kawâkib al-Lammâ’ah, hal.13)

Pemahaman kelompok radikal ini terhadap teks-teks keagamaan terlalu dangkal. Mereka memahami teks dengan kemampuan yang sangat terbatas. Hanya mengandalkan sisi dhahir lafadz atau makna tersuratnya, tanpa disertai bimbingan para guru yang sanad keilmuannya bersambung hingga Rasulullah SAW. Akibatnya, dalam beberapa persoalan mereka menyalahi pendapat mayoritas, al-sawâd al-a‘dham atau ijmâ’ (konsensus) ulama. 

Ada cerita menarik dari salah seorang tokoh pemimpin Islam saat berdebat menghadapi salah seorang kaum khawarij. 

Abu al-Abbas al-Makmun Abdullah bin Harun al-Rasyid, salah seorang khalifah dari Bani Abasiyyah (wafat 218 H) suatu ketika dihadapkan dengan salah seorang kaum Khawarij.

“Apa yang mendorongmu untuk berbeda dengan pendapat mayoritas?” tanya Sang Khalifah.

“Tentu saja ada dan sangat mendasar. Allah berfirman: “Barangsiapa menghukumi tidak sesuai dengan hukum yang diturunkan Allah, maka mereka adalah kafir,” jawab orang Khawarij tadi dengan mantap.

“Anda yakin kalau itu adalah firman Allah ?” tanya Sang Khalifah.

“Tentu. Aku sangat yakin,” jawabnya dengan sangat meyakinkan.

“Lhoh, dari mana anda yakin kalau itu benar-benar firman Allah. Apa dalilmu?” ujar Khalifah al-Makmun melanjutkan pertanyaannya.

“Ijma’ (konsensus) ulama,” jawabnya tegas.


Rupanya Khalifah al-Ma’mun telah berhasil menjebak anggota khawarij tersebut masuk perangkapnya, hingga pada khirnya Khalifah al-Makmun menjawab dengan telak:

فَكَمَا رَضِيْتَ بِإِجْمَاعِهِمْ فِي التَّنْزِيْلِ فَارْضَ بِإِجْمَاعِهِمْ فِي التَّأْوِيْلِ

“Nah, anda saja percaya dengan konsensus ulama dalam urusan akurasi data ayat Al-Qur’an, tentunya anda harus menerima kesepakatan mereka dalam urusan tafsirnya.” 

Inilah kata-kata super dari Khalifah al-Makmun yang berhasil membungkam orang Khawarij tadi. Statemen Khalifah ini benar-benar membuat si pemberontak tidak sanggup berkata apa-apa selain mengakui kebenaran hujjah yang disampaikan Sang Khalifah.

“Tuan Raja benar. Semoga keselamatan menyertaimu, wahai AmirulMukminin,” pungkas salah seorang kelompok Khawarij tersebut. (M. Mubasysyarum Bih)


Sumber cerita: al-Hafizh al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala’, juz.10, hal.280

Share:
Senin 13 November 2017 10:30 WIB
Jenderal Besar Meminta Nasihat Abu ‘Ali al-Daqaq
Jenderal Besar Meminta Nasihat Abu ‘Ali al-Daqaq
Ilustrasi
Dalam kitab al-Tibr al-Masbuk fi Nasihah al-Muluk, Imam al-Ghazali menceritakan sowan seorang Isfahsalar Naisabur (Jenderal Besar Naisabur) bernama Abu Ali bin Ilyas ke majelis Imam Abu Ali al-Daqaq (w. 405 H). Diceritakan:

كان أبو علي بن إلياس إسفهسلار نيسابور فحضر يوما عند الشيخ أبي علي الدقاق رحمه الله, وكان زاهد زمانه وعالم أوانه, فقعد علي ركبتيه بين يديه وقال: عظني! فقال له أبو علي: أيها الأمير, أسألك مسألة وأريد الجواب عنها بغير نفاق. فقال: أجل أجيبك. فقال: أيها الأمير أيما أحب إليك المال أو العدو؟ فقال: المال أحب إليّ من العدو. فقال: كيف تترك ما تحبه بعدك وتصطحب العدو الذي لا تحبه معك؟ فبكي الأمير ودمعت عيناه وقال: نعم الموعظة هذه!

Abu Ali bin Ilyas, Isfahsalar wilayah Naisabur suatu hari sowan pada Syekh Abu ‘Ali al-Daqaq rahimahu Allah. Beliau adalah seorang zahid di zamannya dan alim di eranya. JenderalAbu Ali bin Ilyas duduk berhadapan dengan beliau dan berkata: “Berikan aku nasihat!”

Imam Abu Ali al-Daqaq berkata kepadanya: “Wahai amir, aku hendak menanyakan satu persoalan padamu. Aku harap kau menjawabnya tanpa kenifakan.”

Abu Ali bin Ilyas berujar: “Baik, akan kujawab pertanyaan tuan syekh.”

Imam al-Daqaq bertanya: “Manakah yang lebih kau cintai, harta atau musuh?”

Abu Ali bin Ilyas menjawab: “Harta lebih aku cintai daripada musuh.”

Kemudian Imam al-Daqaq berucap: “Bagaimana bisa tuan meninggalkan sesuatu (harta) yang tuan cintai setelah (kematian) tuan dan membawa musuh yang tuan tidak cintai bersama tuan (di kehidupan setelah mati)?”

Amir itu menangis. Matanya tertutup, sembari berujar: “Benar yang tuan nasihatkan ini.” (Abu Hamid al-Ghazali, al-Tibr al-Masbuk fi Nashihah al-Muluk, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1988,hlm 45).

****

Nasihat Imam Abu Ali al-Daqaq ini menarik untuk direnungkan. Sebab mengedepankan kemanusiaan di atas segalanya. Ia menarik kemanusiaan masuk ke wilayah akhirat, dengan menegaskan bahwa harta yang lebih dicintai oleh jenderal itu tidak akan dibawa mati, tapi musuh yang ia benci akan turut bersamanya di kehidupan mendatang. Seburuk-buruknya musuh, ia tetap manusia yang memiliki peluang sama dengan kita di akhirat kelak, tergantung bagaimana cara ia hidup.

Dengan kata lain, musuh harus lebih dicintai, bukan harta. Cara mencintainya dengan menghilangkan perilaku buruk mereka dan membawa mereka ke jalan yang benar. Jangan membencinya karena permusuhan. Cintailah mereka karena kemanusiaan. Sebanyak apa pun harta yang kita kumpulkan, mereka tidak akan dibawa mati. Seburuk apapun musuh yang kita miliki, ia akan bersama kita di akhirat kelak.

Dengan mengatakan nasihat ini kepada seorang jenderal besar, Imam Abu Ali al-Daqaq berharap agar jenderal tersebut lebih mengutamakan dakwah dan pendekatan persuasif dalam membebaskan suatu daerah, bukan penyerangan membabi buta untuk mendapatkan harta rampasan perang. Setiap orang memiliki hak mendengarkan seruan kebenaran, melintasi jalan yang lurus, dan tentu saja memasuki surga Allah. Jika ada seseorang yang mengambil hak tersebut dari orang lain, entah sangsi apa yang akan diberikan Allah kepadanya, kita tidak mengetahuinya.

Karena itu, sangat penting untuk tidak menilai seseorang berdasarkan kemungkinan tempatnya di akhirat kelak. Maksudnya, jika kita melihat seorang pendosa, kita sebaiknya tidak memperlakukannya sebagai penghuni neraka ketika ia masih hidup. Memandangnya dengan jijik dan hina. Kita harus membuka pintu kembali selebar-lebarnya. Selama nafas masih di kandung badan, ayat Allah yang mengatakan “serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, perkataan yang baik dan berdebat dengan sikap yang lebih baik dari lawan” harus tetap dilakukan sebagai salah satu fungsi dari ayat tersebut. Di samping banyaknya ayat yang menunjukkan kemaha-ampunan Allah SWT.

Dari perspektif tersebut, ada beberapa hikmah yang dapat kita ambil dari kisah di atas. Pertama, jangan sekali-kali memastikan sudut pandang akhirat dan menggunakannya. Itu sama saja dengan mengambil hak “malik yaum al-din—penguasa hari pembalasan” Tuhan. Tidak ada satu pun dari kita yang tahu kedudukan seseorang di akhirat kelak, kecuali orang-orang yang telah termaktub dalam al-Qur’an seperti Abu Lahab dan Fir’aun. Apalagi jika sudut pandang itu berdasarkan kebencian atau perbedaan selera. Kita perlu berhati-hati.

Kedua, pandanglah musuh dengan kacamata manusia, yang memiliki kemungkinan menjadi baik, menjadi teman, bahkan menjadi saudara. Ini sangat penting. Sebab, seperti halnya bulan purnama di malam hari. Ketika seseorang ditanya, “apa yang kau lihat di atas sana?” Kebanyakan orang akan menjawab, “bulan purnama.” Tapi mereka lupa, bahwa di atas bulan purnama ada langit yang membentang luas. Besarnya melebihi besarnya bulan purnama. Luasnya melebihi luasnya bulan purnama. Tapi terlupakan oleh manusia ketika bulan purnama berada di bawahnya. Itulah manusia. Satu kesalahan seseorang seperti bulan purnama. Berpuluh-puluh kebaikan yang pernah dilakukannya, seketika sirna ketika satu kesalahan itu terjadi.

Singkatnya, kisah di atas mengajarkan kita untuk melihat manusia secara menyeluruh. Jangan memandangnya sepotong-sepotong. Manusia itu makhluk paling fluktuatif yang diciptakan Tuhan, naik-turun, berubah-ubah dan tidak statis. Karena itu, Tuhan memberikan manusia peluang untuk memohon ampun kepadaNya, berkali-kali, meski berulangkali berbuat dosa, Tuhan tetap membuka pintu ampunanNya. Pertanyaannya,siapa kita yang berani mengambil peluang itu dari manusia lainnya? Sudahkah kita bersungguh-sungguh menggunakan peluang itu sebelum mengambil hak ampunan manusia lainnya? Wallahu a’lam.


Muhammad Afiq Zahara, pernah nyantri di Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Sabtu 11 November 2017 18:30 WIB
Tidak Ada Dalilnya atau Tidak Tahu Dalilnya?
Tidak Ada Dalilnya atau Tidak Tahu Dalilnya?
Dalam kitab al-Tamhid li ma fi al-Muwatha min al-Ma’ani wa al-Asanid, Imam Abu ‘Amr Yusuf bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Bar meriwayatkan sebuah perbincangan antara Imam Ibnu Shihab al-Zuhri (w. 741) dengan Imam Isma’il bin Muhammad bin Sa’ad bin Abi Waqash. Diceritakan:

حدثنا يحيى بن آدم ، قال: حدثنا ابن المبارك، عن مصعب بن ثابت، عن إسماعيل بن محمد بن سعد، عنعامر بن سعد، عن أبيه، قال رأيت رسول الله-صلى الله عليه وسلم-يسلم عن يمينه وعن يساره كأني أنظر إلى صفحة خده صلى الله عليه، فقالالزهري: ما سمعنا هذا من حديث رسول الله-صلى الله عليه وسلم-، فقال له إسماعيل بن محمد: أكل حديث رسول الله قد سمعته؟ قال: لا، قال: فنصفه؟ قال: لا، قال: فاجعل هذا في النصف الذي لم تسمع 

Menceritakan kepada kami Yahya bin Adam, ia berkata: Ibnu Mubarak menceritakan kepada kami dari Mush’ab bin Tsabit, dari Ismail bin Muhammad bin Sa’ad, dari Amir bin Sa’ad, dari ayahnya. Ia berkata: “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan salam (dalam shalat) dengan menoleh ke kanan dan ke kiri seakan-akan aku melihat sisi pipi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

(Mendengar itu) Imam al-Zuhri berkata: “Aku tidak pernah mendengar hal semacam ini dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Imam Isma’il bin Muhammad berkata kepadanya: “Apakah kau telah mendengar semua hadits Rasulullah?”

Ia menjawab: “Tidak.”

Imam Isma’il bertanya lagi: “Barangkali setengahnya?”

Imam al-Zuhri menjawab: “Tidak.”

Imam Isma’il berkata: “Anggaplah (jadikanlah) hadits ini berada di setengah hadits yang tidak pernah kau dengar.” (Ibnu Abdil Bar, Tamhid li ma fi al-Muwatha min al-Ma’ani wa al-Asanid, Maghrib: Wazarah al-Awqaf wa al-Syu’un al-Islamiyyah, 2009, juz 1, hlm 131).

****

Sebelum menelaah lebih dalam hikmah kisah di atas, baiknya kita mengetahui dulu, bahwa tidak semua madzhab fiqih dan ulama-ulamanya menganjurkan dua salam ketika menutup shalat. Sebagian besar ulama Malikiyyah melakukan satu kali salam. Dasarnya hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah (H.R. Imam Ahmad): “tsumma yusallimu taslîmatan wâhidatan—kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan satu kali salam.” Ulama Syafi’iyyah melakukan dua kali salam, dasarnya hadits di atas dan berbagai macam hadits yang maknanya sama dengan redaksi yang berbeda-beda.

Kisah di atas, dalam beberapa riwayat, diawali oleh pertanyaan Imam Ibnu Shihab al-Zuhri pada Imam Isma’il bin Muhammad yang melakukan salam dua kali. Ia bertanya, “dari mana dasar hukum amalan itu?” Kemudian Imam Isma’il bin Muhammad menyitir sebuah hadits, “Aku melihat Rasulullah melakukan salam (dalam shalat) dengan menoleh ke kanan dan ke kiri seakan-akan aku melihat sisi pipi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Imam al-Zuhri belum puas dengan jawaban itu, ia mengatakan belum pernah mendengar hadits semacam itu. Imam Isma’il menjawabnya dengan pertanyaan, “Apakah kau telah mendengar semua hadits Rasulullah?” Imam al-Zuhri menjawab tidak. “Barangkali setenganya?” Imam al-Zuhri tetap menjawab tidak. Kemudian Imam Isma’il bin Muhammad mengatakan: “Anggaplah hadits ini berada di setengah hadits yang tidak pernah kau dengar.” Dalam riwayat lain, Imam al-Zuhri tersenyum dan mengangguk puas mendengar jawaban Imam Isma’il bin Muhammad.

Hal inilah yang diajarkan oleh para salaf al-shalih, menghargai perbedaan dengan pengetahuan. Imam al-Zuhri yang pernah bertemu dan belajar langsung dengan Said bin Musayyab, Urwah bin Zubair dan Kharija bin Zaid bin Tsabit dapat menerima argumentasi Isma’il bin Muhammad, salah satu guru Imam Malik bin Anas. Meskipun demikian, Imam al-Zuhri tetap dalam pendiriannya (satu kali salam), dan Imam Isma’il bin Muhammad tetap dalam pendapatnya. Masing-masing mereka saling menghargai dan menghormati.

Dalam pertemuannya dengan Isma’il bin Muhammad, Imam al-Zuhri mempelajari sesuatu, bahwa tidak semua yang kita tidak tahu adalah salah,khususnya dalam hal agama. Dan, tidak semua yang kita tahu sudah pasti benar. Kebenaran sangat mungkin bertempat dalam hal-hal yang belum kita ketahui. Karena alasan itu, para ulama masa lalu tidak pernah berhenti belajar dan tidak mudah menyalahkan. Ilmu terlalu luas untuk dijadikan sebagai penghakim kesalahan tanpa menelaahnya terlebih dahulu. Sebab, watak dari ilmu adalah telaah. Tabayyun yang dilakukan Imam al-Zuhri kepada Imam Isma’il bin Muhammad merupakan salah satu dari watak ilmu.

Kisah di atas seharusnya diperlakukan sebagai pembuka cakrawala kita dalam memaknai perbedaan. Bahwa, belum tentu hal yang tidak sesuai dengan ilmu dan pengetahuan kita itu salah. Ketika kita melihat orang shalat tanpa menaruh tangannya di atas perut, kita tidak bisa serta merta menyalahkan mereka. Meski hal itu tidak berada dalam database pengetahuan kita. Apalagi jika kita tidak pernah mempelajari agama secara bertahap, intensif dan benar.

Garis besar kisah di atas adalah, jangan mudah menyalahkan amaliah orang lain. Bisa jadi yang diamalkannya berdasarkan dalil yang kita tidak ketahui. Begitupun sebaliknya, jangan sampai pengetahuan kita membuat kita gemar menyalahkan amaliah orang lain. Sebab, apa arti berilmu jika tidak membuat kita rendah hati, dan apa arti berilmu jika membuat kita menyombongkan diri. Rabbi zidnî ‘ilma warzuqnî fahma. Amin.


Muhammad Afiq Zahara, alumnus Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Jumat 10 November 2017 16:0 WIB
Ketika Anak Tiba-tiba Gemar Mengafirkan Orang Lain
Ketika Anak Tiba-tiba Gemar Mengafirkan Orang Lain
Seorang teman suatu kali bercerita tentang perilaku anaknya belakangan yang ia nilai aneh. Si anak mulai gemar mengidentifikasi status agama orang lain apakah ia kafir atau Muslim. Bila sudah terendus agamanya non-Muslim, sikap selanjutnya adalah menjauh atau minimal berkurang empatinya. Contoh kecil: si anak yang semula ngefan berat dengan seorang bintang sepak bola luar negeri, kini tidak lagi lantaran anak itu tahu si tokoh idola berbeda iman dengannya.

Jika kasusnya sebatas ngefan atau tidak ngefan, sebenarnya masih normal-normal saja. Celakanya, perilaku yang sama juga dilakukan terhadap hampir setiap orang baru yang dijumpainya. Saat melintas di depan rumah seseorang, bisa saja terlontar, “Itu rumah orang China ya, Yah? Kafir dong.”

Gelagat ini mengkhawatirkan sang ayah, yang menangkap aura kebencian dalam diri si anak kepada kelompok yang berbeda identitas dengan dirinya. Anak itu seolah membuat blok dalam pikirannya: kafir dan tidak kafir. Yang pertama adalah musuh, yang kedua adalah teman.

Anak tersebut baru menginjak sekolah dasar, usia yang masih terlalu muda untuk mencerna konsep kesetaraan, kewarganegaraan, politik identitas, dan isu-isu abstrak lainnya. Si ayah menengarai bahwa anaknya yang belajar di sebuah SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) di Bekasi itu terpengaruh oleh hawa politik akhir-akhir ini yang membawa sentimen agama ke ranah pilkada.

Si ayah memutar otak, mencari cara paling mudah memberikan pencerahan kepada sang anak. Maka bertandanglah si ayah bersama anaknya ke rumah seorang kawan. Keduanya menginap barang satu-dua malam. Sang anak pun makan, mandi, berenang, bermain, dan shalat jamaah bersama sang ayah di kediaman itu.

Tuan rumah memperlakukan mereka berdua dengan ramah dan istimewa. Segenap keperluan selama bermalam dicukupi. Si anak mulai akrab dengan tuan rumah. Ia girang, liburannya terlewati dengan ceria dan menyenangkan.

Hingga akhirnya air muka si anak sedikit berubah ketika sang ayah bercerita tentang agama si tuan rumah, teman ayahnya itu.

“Beliau ini orang baik. Santun, suka menghormati dan membantu sesama. Beliau itu non-Muslim lho.”

Pernyataan ini membuat si anak terdiam sejenak. Pikirannya seolah sedang berkecamuk. Akal sehatnya mulai mempertanyakan dikotomi kaku non-Muslim dan Muslim sebagai musuh dan tidak musuh. Ia menghadapi situasi yang sangat lain: orang yang ia anggap kafir, ahli neraka, dan musuh kini tiba-tiba menjadi sahabat baru yang akrab, baik hati, dan toleran terhadap dirinya.

Mungkin ini yang dinamakan shock culture, sebuah pengalaman baru yang ‘mengejutkan’ karena fenomena yang dihadapi di luar kebiasaan dirinya. Shock culture hampir selalu diiringi fase penolakan, tapi secara perlahan seseorang akan berupaya memahami, beradaptasi, dan nyaman dengan suasana budaya baru, dalam hal ini lingkungan multikutural (bergaul dengan non-Muslim).

Si anak lalu berbisik kepada ayahnya, “Ternyata orang kafir ada yang baik begini ya, Yah? Kok bisa ya, padahal dia kafir?”

“Kalaupun harus menyebut, ayah lebih suka menyebutnya non-Muslim. Dan ajaran tentang kebaikan kepada sesama manusia memang ada di semua agama. Mereka yang berbeda belum tentu yang jahat.”

Si anak manggut-manggut, pertanda misi sang ayah memberi pencerahan mulai membuahkan hasil. Sang ayah sadar, salah satu tips jitu untuk memecah kebekuan sikap keagamaan yang kolot adalah memperluas pergaulan, bersilaturahim dan memahami sebanyak mungkin orang berbeda. Sebab, pikiran terbuka tidak mungkin lahir dari komunitas serba-tertutup, monoton, dan pola pendidikan satu arah. Wallahu a’lam. (Mahbib)