IMG-LOGO
Trending Now:
Shalat

Wajibkah Mengganti Shalat Setelah Dibius Total?

Rabu 29 November 2017 6:3 WIB
Share:
Wajibkah Mengganti Shalat Setelah Dibius Total?
Datangnya penyakit adalah sesuatu yang tidak diharapkan. Namun ada orang-orang yang mendapat musibah penyakit berat. Bahkan beberapa penyakit ini kadang mengharuskan pengidapnya untuk menjalani operasi.

Operasi pembedahan berdasarkan skala tindakannya dibagi menjadi dua, yaitu operasi bedah kecil (minor) dan besar (mayor). Pada pembedahan minor, seperti pada khitan, menjahit sayatan luka, atau pengambilan kutil, pembiusan dilakukan adalah dengan pembiusan (anestesi) lokal. Pasien tetap dibiarkan sadar, namun hanya pada bagian kecil tertentu dari tubuh yang dihilangkan rasa sakitnya.

Kemudian pada operasi besar, seperti pada operasi kelahiran caesar, amputasi, kerap diperlukan pembiusan sebagian anggota tubuh yang melumpuhkan anggota badan tertentu. Bahkan pada operasi terkait organ tubuh bagian dalam dan skala yang besar, kerap digunakan pembiusan total yang menghilangkan kesadaran pasien.

Metode pembiusan total ini beragam, ada yang melalui pernapasan atau melalui pembuluh darah. Setiap metode dan jenis obat bius yang digunakan memiliki indikasi dan cara kerjanya masing-masing dalam tubuh. Sebelum tindakan operasi besar, baik total atau sebagian anggota tubuh, kerap diberikan obat-obat premedikasi yang memberikan rasa nyaman serta menyiapkan kondisi fisik pasien untuk operasi.

Obat bius yang menghilangkan kesadaran ini digolongkan sebagai obat hipnotik. Setelah dibius secara total, sesuai masa cara kerja obat maka dalam waktu tertentu pasien yang usai dioperasi diharapkan kembali tersadar, meskipun tetap harus dalam pengawasan agar pulih kembali.

Dalam sekian jenis tindakan bedah besar ini, kerap memakan waktu berjam-jam, yang melampaui waktu-waktu shalat wajib. Bagaimana status shalat pasien yang ditinggalkan tersebut?

Para ulama kerap menggolongkan masalah ini terkait syarat wajib shalat, yaitu status berakal bagi mukallaf (orang yang memiliki kewajiban suatu ibadah). Imam An-Nawawi dalam karyanya Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab mengomentari perihal obat bius yang menghilangkan akal ini.

يَجُوزُ شُرْبُ الدَّوَاءِ الْمُزِيلِ لِلْعَقْلِ لِلْحَاجَةِ كَمَا أَشَارَ إلَيْهِ الْمُصَنِّفُ بِقَوْلِهِ شُرْبِ دَوَاءٍ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ وَإِذَا زَالَ عَقْلُهُ وَالْحَالَةُ هَذِهِ لَمْ يَلْزَمْهُ قَضَاءُ الصَّلَوَاتِ بَعْدَ الْإِفَاقَةِ لِأَنَّهُ زَالَ بِسَبَبٍ غَيْرِ مُحَرَّمٍ

Artinya, “Diperbolehkan meminum (mempergunakan) obat yang menghilangkan akal untuk kebutuhan tertentu. Jika akal hilang sebab obat tersebut, maka ia tidak harus mengganti shalatnya setelah siuman, karena akal yang hilang itu bukan karena sesuatu atau tindakan yang diharamkan.”

Dari keterangan di atas, maka penggunaan obat bius hipnotik dapat dibenarkan atas indikasi tertentu, serta sang pasien tidak berkewajiban mengganti shalatnya setelah siuman. Tindakan anestesi tersebut tentu harus berada dalam pengawasan dokter dan tenaga kesehatan lain.

Obat-obat bius adalah jenis-jenis obat yang perlu digunakan dengan petunjuk tenaga kesehatan profesional, serta tidak bisa digunakan sembarang orang, alih-alih dijual bebas. Karena itulah penggunaan obat anestesi ini diperbolehkan dalam dosis tertentu dan indikasi yang ketat. Dengan demikian, seorang yang terlewat shalatnya akibat pembiusan total tidak wajib mengganti shalatnya. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)

Share:
Kamis 23 November 2017 19:30 WIB
Tata Cara Takbiratul Ihram dalam Shalat
Tata Cara Takbiratul Ihram dalam Shalat
Ilustrasi (© wikipedia)
Sebagaimana diketahui bahwa takbiratul ihram adalah ucapan pertama yang dilakukan oleh orang yang melakukan shalat. Takbiratul ihram merupakan rukun qauli (rukun yang berupa ucapan) yang dengannya seseorang telah masuk dalam rangkaian ibadah shalat dan diharamkan melakukan apa pun yang bisa membatalkannya. Itulah sebabnya takbir yang diucapkan paling awal ini disebut takbiratul ihram, yang berarti takbir yang melarang orang yang shalat melakukan apa pun selain gerakan dan ucapan shalat.

(Baca juga: Inilah Rukun-rukun dalam Shalat)
Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Abu Dawud dan lainnya:

مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ

Artinya: “Kuncinya shalat adalah suci, tahrimnya (yang mengharamkan melakukan apa pun) adalah takbir, dan tahlilnya (yang menghalalkan melakukan apa pun) adalah salam.”

Sebagai bagian dari ibadah tentunya pelaksanaan takbiratul ihram tidak asal diucapkan. Ada aturan-aturan tertentu yang mesti dipatuhi oleh orang yang hendak melakukan shalat, baik shalat fardlu maupun sunah. Kesalahan dalam pelaksanaan takbiratul ihram menjadikan takbiratul ihramnya rusak dan berakibat pada tidak sahnya shalat yang dilakukan.

Dr. Musthafa Al-Khin—sebagai salah satu ulama madzhab Syafi’iyah—menuturkan tata cara takbiratul ihram dalam kitabnya Al-Fiqhul Manhajî. Dalam penjelasannya disebutkan bahwa takbiratul ihram haruslah dengan kalimat: 

اللهُ أَكْبَرُ

“Allâhu Akbar”

Dalam pelaksanaannya pengucapan kalimat tersebut harus memenuhi beberapa syarat yakni:

1. Pada saat mengucapkannya orang yang hendak shalat harus sudah dalam posisi berdiri. Bila pengucapannya dilakukan di tengah-tengah proses hendak berdiri maka tidak sah shalatnya.

2. Pada saat mengucapkannya orang yang hendak shalat sudah pada posisi menghadap kiblat. 

3. Dengan menggunakan bahasa Arab. Namun bagi orang yang tidak bisa mengucapkannya dengan bahasa Arab dan tidak memungkin untuk mempelajari pada saat itu maka diperbolehkan baginya untuk bertakbiratul ihram dengan menggunakan bahasa lain dengan mengucapkan makna dari kalimat Allahu Akbar. Setelah itu ia berkewajiban untuk mempelajari takbiratul ihram dengan bahasa Arab.

4. Pengucapan kalimat Allahu Akbar setiap hurufnya harus bisa didengar oleh minimal dirinya sendiri dengan catatan kondisi pendengarannya dalam keadaan sehat. Seandainya yang terdengar hanya kalimat Allahu saja dan tak terdengar kalimat Akbar-nya—meskipun kedua bibirnya bergerak mengucapkannya—maka takbir tersebut tidak sah.

5. Pengucapan takbiratul ihram tersebut dibarengi dengan hati yang membisikkan niat shalat (lihat Musthafa Al-Khin, dkk, Al-Fiqhul Manhajî, [Damaskus: Darul Qalam, 1992], jil. 1, hal. 130 – 131).

(Baca juga: Penjelasan tentang Takbir Intiqal dalam Shalat)
Sementara itu Syekh Salim bin Sumair Al-Hadlrami dalam kitabnya Safînatun Najâ lebih detil menyebutkan setidaknya ada 16 (enam belas) syarat takbiratul ihram yang harus dipenuhi saat orang mau melakukan shalat. Syarat-syarat tersebut adalah:

1. Dilakukan pada posisi berdiri pada shalat fardlu

2. Dengan menggunakan bahasa Arab

3. Dengan lafdhul jalâlah (kata Allah)

4. Dengan kata akbar

5. Berurutan antara dua kata Allah dan akbar

6. Tidak memanjangkan huruf hamzahnya kata Allah, sehingga terbaca Âllahu

7. Tidak memanjangkan huruf ba-nya kata akbar, sehingga terbaca akbaar

8. Tidak mentasydid huruf ba-nya kata akbar, sehingga terbaca akbbar

9. Tidak menambah huruf waw yang mati atau berharakat di antara dua kata tersebut, sehingga menjadi Allâhu wakbar

10. Tidak menambah huruf waw sebelum lafdhul jalâlah (kata Allah), sehingga terbaca Wallâhu Akbar

11. Tidak berhenti di antara dua kata takbir, baik berhenti dalam waktu yang lama maupun singkat

12. Semua hurufnya dapat didengar oleh diri sendiri

13. Telah masuk waktu shalat bagi shalat yang ditentukan waktunya. Bila takbiratul ihram diucapkan sebelum waktu shalat benar-benar masuk maka batal shalatnya karena ada bagian dari shalat itu yang terlaksana sebelum waktunya.

14. Dilakukan pada posisi sudah menghadap kiblat

15. Tidak merusak salah satu hurufnya

16. Takbiratul ihramnya makmum harus lebih akhir dari takbiratul ihramnya imam (lihat Salim bin Sumair Al-Hadlrami, Safînatun Najâ [Beirut: Darul Minhaj, 2009], hal. 34). Bila makmum mengucapkan takbiratul ihram lebih cepat atau berbarengan dengan takbiratul ihramnya imam maka batal shalatnya.

Tata cara bertakbiratul ihram dengan berbagai syaratnya ini mesti diperhatikan betul karena ketidakabsahannya berakibat pula pada ketidakabsahan shalat yang dilakukan. Wallâhu a‘lam. (Yazid Muttaqin)

Selasa 21 November 2017 22:3 WIB
Penjelasan tentang Berdiri Sebagai Rukun Shalat
Penjelasan tentang Berdiri Sebagai Rukun Shalat
(© alray.ps)
Di dalam kitab-kitab fikih Syafi’iyah para ulama menyebutkan ada 17 (tujuh belas) hal yang termasuk rukun shalat, baik shalat fardlu maupun shalat sunah. Penyebutan tujuh belas hal ini bila empat tuma’ninah yang ada di dalamnya masing-masing dianggap sebagai rukun tersendiri. Bila keempat tuma’ninah tersebut hanya dianggap sebagai satu rukun maka rukun shalat hanya berjumlah 14 (empat belas) saja.

Di antara rukun-rukun itu salah satunya adalah berdiri. Berdiri adalah satu kewajiban yang harus dilakukan ketika seseorang melaksanakan ibadah shalat. Juga berarti bahwa shalat dikatakan sah apabila dilakukan dengan berdiri.

Hal ini ditetapkan oleh para ulama dengan berdasar kepada sabda Rasulullah SAW ketika sahabat Imran bin Hushain yang terkena sakit wasir bertanya perihal bagaimana shalatnya. Beliau bersabda sebagai berikut.

صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

Artinya, “Lakukanlah shalat dengan berdiri. Bila kau tak mampu, maka dengan duduk. Bila kau tak mampu juga, maka dengan tidur miring,” (HR Imam Bukhari).

Dari hadits tersebut para ulama mengambil satu simpulan hukum bahwa berdiri adalah satu kewajiban yang mesti dilakukan oleh orang yang melakukan shalat. Kebolehan shalat sambil duduk atau tidur miring berlaku bila orang yang shalat karena alasan tertentu tidak mampu berdiri.

Lalu bagaimana batasan seseorang dianggap berdiri?

Musthafa Al-Khin dalam karyanya al-Fiqhul Manhajî menuturkan bahwa seseorang dianggap berdiri apabila ia berdiri secara tegak. Bila tanpa sebab tubuhnya membungkuk atau miring di mana sekiranya telapak tangannya dapat menyentuh lutut, maka ia tidak dianggap berdiri sehingga shalatnya batal karena rukun berdiri tidak terpenuhi di dalam sebagian shalatnya. Sedangkan bila orang tersebut mampu berdiri di sebagian shalatnya dan tak mampu berdiri pada sebagian yang lain, maka ia shalat dengan berdiri semampunya dan selebihnya dilakukan dengan duduk (Lihat Musthofa Al-Khin, dan kawan-kawan, Al-Fiqhul Manhajî, Damaskus, Darul Qalam, 1992, juz I, halaman 130).

Lebih lanjut Syekh Nawawi Banten memberikan batasan kondisi yang membolehkan seseorang melakukan shalat fardlu dengan tidak berdiri. Menurutnya, apapun yang menjadikan hilangnya kekhusyukan atau kesempurnaan dalam shalat atau yang menyebabkan terjadinya masyaqqah atau kesusahan yang secara adat-kebiasaan tidak bisa ditanggung, maka hal itu membolehkan seseorang untuk tidak berdiri dalam melakukan shalat fardlu, baik fardlu ‘ain maupun fardlu kifayah.

Lain dari itu para ulama juga menetapkan bahwa kewajiban berdiri ketika shalat hanya berlaku bagi shalat fardlu, bukan shalat sunah. Di dalam shalat sunah seseorang secara mutlak diperbolehkan melakukannya dengan duduk atau tidur miring meskipun tidak ada halangan untuk berdiri. Khusus bagi orang yang shalat sunah dengan posisi tidur miring ketika ruku‘ dan sujud ia wajib melakukan kedua rukun tersebut secara sempurna, yakni ia mesti bangun duduk untuk kemudian melakukan ruku‘ dan sujud. Tidak cukup hanya dengan isyarat, (Lihat Muhammad Nawawi Al-Jawi, Kâsyifatus Sajâ, Cyprus, Daru Ibni Hazm, 2011, halaman 210).

Shalat sunah boleh dilakukan dengan duduk atau tidur miring yang didasarkan pada hadits yang juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, bahwa Rasulullah SAW bersabda.

مَنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ أَفْضَلُ، وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ القَائِمِ، وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ القَاعِدِ

Artinya, “Barangsiapa yang shalat dengan berdiri, maka itu lebih utama. Barangsiapa yang shalat dengan duduk, maka baginya separuh pahala orang yang shalat dengan berdiri. Barangsiapa yang shalat dengan tidur (miring), maka baginya separo pahala orang yang shalat dengan duduk.” Wallahu a‘lam. (Yazid Muttaqin)

Kamis 9 November 2017 16:15 WIB
Komponen yang Harus Dipenuhi dalam Niat
Komponen yang Harus Dipenuhi dalam Niat
Ilustrasi (© wikipedia)
Dalam terminologi fiqih (madzhab Syafi’i), niat adalah menyengaja melaksanakan satu hal dengan disertai menjalankan sebuah kegiatan yang ia maksud. Jika dinisbatkan pada wudhu, niat dilakukan sejak melakukan rukun fi’li yang pertama kalinya yaitu membasuh muka. Apabila untuk shalat, niat berarti harus dijalankan saat mulai takbiratul ihram.

Posisi niat berada di dalam hati. Sedangkan hukum melafalkannya melalui lisan yang berfungsi menolong hati supaya lebih ringan dan mudah terkoneksi merupakan kesunnahan. (Lihat: Syekh Burhanuddin Ibrahim al-Bajuri, Hâsyiyah Ibrahim al-Bajûrî, vol: 1, hlm. 145)


Berkaitan dengan derajat niat, shalat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok. Pertama adalah shalat fardlu seperti shalat dzuhur, asar, maghrib, dan seterusnya. Kedua, shalat sunnah yang mempunyai waktu seperti shalat sunnah qabliyah dzuhur, tarawih, dluha. Dan ketiga, shalat sunnah yang tidak mempunyai ikatan waktu khusus, yakni berupa shalat sunnah mutlak.

Bagi orang yang ingin melakukan shalat fardlu, setidaknya ada tiga komponen niat yang harus terpenuhi dalam hati, berupa: 

1. Menyengaja menjalankan kegiatan (قصد الفعل

Bagi orang yang menjalankan shalat, dalam niat, ia harus menyertakan kalimat أصلي (saya shalat) dalam hati. Ini untuk menegaskan bahwa ia sekarang sedang menjalankan ibadah shalat, bukan yang lain.

2. Menjelaskan spesifikasi ibadah yang ia jalankan (التعيين

Ta’yin atau spesifikasi ini merupakan pembeda antara shalat satu dengan yang lain. Misal, dhuhur, asar, maghrib, dan seterusnya. 

3. Menjalankan fardlu

Khusus untuk ibadah shalat fardlu, komponen shalat yang tak bisa ditinggal adalah menjelaskan bahwa mushalli (orang yang menjalankan shalat) benar-benar dalam rangka melaksanakan fardlu. Sehingga ia wajib menyebut kalimat fardlu (الفرض)

Apabila diilustrasikan secara keseluruhan, di hati orang yang menjalankan shalat fardlu, minimal memuat untaian kalimat berikut (contoh niat shalat dhuhur):

اُصَلِّى فَرْضَ الظُّهْرِ

“Saya shalat fardlu dzuhur.” 

Adapun melengkapi niat shalat seperti yang banyak dipakai seperti berikut ini hukumnya adalah sunnah

اُصَلِّىْ فَرْضَ الظٌّهْرِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً للهِ تَعَالَى 

Artinya: Saya shalat fardlu dzuhur empat rakaat dengan menghadap kiblat, adâ’ karena Allah Ta’ala.

Berikutnya adalah shalat sunnah yang mempunyai waktu seperti shalat sunnah qabliyah isya’, shalat dluha dan sebagainya. Komponen niat minimal yang wajib dipenuhi pada shalat ini adalah:

1. Menyengaja menjalankan kegiatan (قصد الفعل

2. Menjelaskan spesifikasi ibadah yang ia jalankan (التعيين

Jadi, orang yang shalat qabliyah dzuhur atau tarawih, misalnya, minimal terbersit di hatinya susunan kalimat:

اٌصَلِّى قَبْلِيَّةَ الظُّهْرِ، اُصَلِّىْ التَّرَاوِيْحَ

“Aku shalat qabliyah dzuhur”, “Aku shalat tarawih.”

Kembali perlu diketahui, ini adalah batasan standar minimal. Artinya, jika orang yang shalat menggerakkan hati dengan susunan yang lebih lengkap sebagaimana dalam contoh yang panjang di atas, tentu lebih baik. Karena hal tersebut akan mendapatkan kesunnahan yang berlipat. 

Yang terakhir, shalat sunnah mutlak, yaitu shalat sunnah yang tidak terikat dengan waktu tertentu. Maka, dalam niat hanya perlu menyebut penyengajaan melaksanakan shalat saja (قصد الفعل). Sehingga, apabila ada orang ingin shalat sunnah mutlak, andai saja hatinya bergerak membaca ushalli saja, tanpa tambahan kalimat apa pun, sudah sah. 

النية ثلاث درجات : ان كانت الصلاة فرضا، وجب قصد الفعل، والتعيين، والفرضية.  وإن كانت نافلة مؤقتة، كراتبة أو ذات سبب، وجب قصد الفعل والتعيين. وإن كانت نافلة مطلقة، وجب قصد الفعل فقط. الفعل: أصلي، والتعيين: ظهرا أو عصرا، والفرضية: فرضا
“Niat itu mempunyai tiga tingkatan. Apabila shalat fardlu, harus menyengaja menjalankan sebuah kegiatan, ta’yin (penegasan tentang spesifikasi ibadah yang sedang dikerjakan), dan fardliyyah (penjelasan bahwa itu shalat fardlu). Apabila shalat sunnah yang mempunyai standar waktu, seperti shalat sunnah rawatib atau shalat yang mempunyai sebab, wajib menyengaja dan ta’yin. Dan kalau shalat sunnah mutlak, hanya wajib menyertakan kalimat menyengaja pelaksanaanya saja. Al-fi’lu: ushallî; at-ta’yin: dzuhur, asar; al-fardliyyah: fardlu.” (Salim bin Samir Al Hadlrami, Safînatun Najâh, [Darul Minhaj]m, hlm. 33-34)


Dari keterangan di atas, dapat kita tarik kesimpulan. Niat mempunyai standar minimal yang harus disebut secara spesifik. Adapun yang lazim digunakan masyarakat adalah niat dalam versi komplet dengan dilengkapi kesunnahan-kesunnahan lain. Wallahu a’lam. (Ahmad Mundzir)