IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Hadits
MUSTHALAH HADITS

Cara Mengenal Hadits Dhaif

Selasa 5 Desember 2017 18:4 WIB
Share:
Cara Mengenal Hadits Dhaif
Dalam membaca kitab hadits, sering kali kita menemukan beberapa istilah. Salah satunya adalah hadits dhaif. Lalu apa sebenarnya hadits dhaif tersebut? Dalam kesempatan kali ini, kami akan membahas hadits dhaif.

Pengertian hadits dhaif secara etimologi adalah lawan kata dari "qawiyun" (kuat) yaitu lemah. Lemah yang dimaksud dalam konteks ini adalah lemah yang ma’nawy. Menurut Mahmud Thahan dalam Taisyiru Muthalahil Hadits, lemah itu ada dua; yaitu lemah hissiy dan ma’nawy.

Secara terminologi, seperti yang disampaikan Ibnus Shalah yang dikutip oleh Imam As-Suyuthi dalam Tadribur Rawi adalah ma lam yajma’ sifat as-shahih wal hasan, yaitu yang tidak terkumpul sifat-sifat shahih dan sifat-sifat hasan.

Definisi ini dikritisi oleh Ibnu Daqiq. Menurutnya, telah dianggap cukup definisi tentang hadits dhaif dengan hanya menyebutkan yang kedua sebagaimana ungkapan Ibnus Shalah (ma lam yajma’ sifat hasan).

Pendapat Ibnu Daqiq ini didukung oleh Imam Al-Bayquni dalam bait syairnya yang menyebutkan:

وكل ما عن رتبة الحسن قصر # وهو الضاعف وهو أقسما كثر

Dengan kata lain, tidak jauh beda dengan pendapat Ibnu Daqiq akan tetapi Al-Bayquni menjelaskan bahwa yang dimaksud kehilangan syarat-syarat hasan adalah terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu hilang syarat hadits hasan.

Hadits dhaif juga memiliki sifat-sifat yang berbeda tergantung parahnya kedhaifan riwayatnya dan kelemahannya seperti halnya hadits shahih, yaitu dhaif, dhaif jiddan, al-wahiy, mungkar dan bagian yang paling rendah adalah maudhu’.

Di bawah ini adalah contoh hadits dhaif yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dari jalan sanad Hakim Al-Astram, yang di-jarh atau divonis dhaif oleh para ulama.

من أتي حائضا أو إمرأة أو كاهنا فقد كفر بما أنزل علي محمد

Artinya, “Barangsiapa yang mendatangi seorang haid, atau perempuan atau seorang dukun, maka ia telah kufur atas hal yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.”

Setelah meriwayatkan hadits di atas Imam At-Tirmidzi pun menjelaskan lebih rinci dalam syarahnya bahwa ia tidak mengetahui hadits tersebut kecuali dari sanad Hakim Al-Astram dari Abi Tamimah Al-Hujaimy dari Abi Hurairah. Bahkan Imam Bukhari pun mengatakan bahwa hadits ini dhaif dari segi sanadnya. Hal ini memang terbukti karena dalam sanadnya ada Hakim Al-Atsram yang telah didhaifkan oleh para ulama.

Lalu bagaimana caranya kita mengetahui bahwa seorang rawi tersebut dhaif atau tidak. Pertama, meneliti apakah semua perawi memiliki riwayat yang sambung, yakni dengan cara meneliti riwayat guru-murid dari kitab tarajum seperti Tadzhibul Kamal karya Al-Mizi atau Lisanul Mizan karya Ibnu Hajar dan lain sebagainya.

Kedua, mencari apakah perawi tersebut adil dan dhabit atau tidak, dengan melihat kritik dari para ulama terhadap para rawi tersebut, apakah ia divonis tsiqah (terpercaya), katsirul khata’ (banyak salah), dhaif (lemah) dan lain sebagainya. Ketiga, meneliti apakah terdapat illat, yaitu secara kasat mata terlihat sahih tapi ketika diteliti kembali banyak kerancuan. Salah satu ulama yang ahli dalam ilmu ini adalah Imam At-Tirmidzi. Keempat, membandingkan dengan periwayatan rawi yang lebih tsiqah, apakah terjadi perbedaan matan atau tidak, jika berbeda maka periwayatan perawi yang lebih tsiqah tersebut yang lebih dipilih (mahfudz), sedangkan periwayatan rawi yang kurang tsiqah disebut syadz.

Lalu bagaimana selanjutnya ketika sudah diketahui bahwa hadits tersebut dhaif. Para ulama berbeda pendapat dalam menyikapi hadits dhaif ini.

Ajaj Al-Khatib dalam Ushul Hadits menjelaskan tiga perbedaan pendapat terkait status kehujahan hadits dhaif.

Pendapat pertama, hadits dhaif tersebut dapat diamalkan secara mutlak, yakni baik yang berkaitan dengan masalah halal, haram, maupun kewajiban, dengan syarat tidak ada hadits lain yang menerangkannya. Pendapat ini disampaikan oleh beberapa imam, yaitu Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Daud dan sebagainya.

Pendapat kedua, dipandang baik mengamalkan hadits dhaif dalam fadhailul amal, baik yang berkaitan dengan hal-hal yang dianjurkan maupun hal-hal yang dilarang.

Pendapat ketiga, hadits dhaif sama sekali tidak dapat diamalkan, baik yang berkaitan dengan fadailul amal maupun halal haram. Pendapat ini dinisbatkan kepada Qadi Abu Bakar Ibnu Arabi.

Di antara tiga pendapat di atas, pendapat kedua ini yang dipilih jumhurul ulama. Tetapi pendapat itu harus memenuhi beberapa syarat yang dipaparkan Imam Ibnu Hajar. Pertama, kedhaifan hadits tersebut tidak termasuk syadid. Kedua, termasuk hadits yang bisa diamalkan. Ketiga, ketika mengamalkan, tidak meyakini ketetapan hadits tersebut akan tetapi dengan ihtiyat (hati-hati). Wallahu a’lam. (Muhammad Alvin Nur Choironi)

Share:
Selasa 5 Desember 2017 7:2 WIB
MUSTHALAH HADITS
Kitab-Kitab Populer dalam Ilmu Hadits
Kitab-Kitab Populer dalam Ilmu Hadits
Ilmu Musthalah Hadits secara nama belum ada pada masa Rasulullah SAW. Ia pada saat itu masih berupa semangat yang teraplikasikan secara alamiah dalam kehidupan para sahabat ketika mendengarkan berita yang disebut-disebut bersumber dari Nabi SAW.

Ketika mereka mendengarkan seseorang bercerita tentang Nabi, mereka mengonfirmasi kebenaran berita tersebut kepada sumber utamanya, yaitu Nabi Muhammad SAW sendiri atau orang-orang yang dekat dengannya.

Hal serupa juga terjadi setelah wafatnya Rasul. Para sahabat saling bertanya satu sama lain dalam mengonfirmasi kebenaran sebuah berita. Lama-kelamaan karena waktu terus bergulir dan jarak umat Islam dengan Nabi semakin jauh, maka dengan sendirinya sebuah berita membentuk silsilah pembawanya (perawi) yang semakin panjang. Hal inilah yang kemudian melatari munculnya sebuah ilmu untuk mengkaji kebenaran silsilah berita tersebut. Ilmu tersebut bernama Ilmu Musthalah Hadits yang pembentukannya semakin matang pada abad kedua dan ketiga hijriah.

Puncaknya adalah kemunculan beberapa kitab khusus yang membahas istilah-istilah penting dalam hadits sebagai berikut.

Pertama, Kitab Al-Muhadditsul Fashil baynar Rawi wal Wa’i karya Al-Qadhi Ar-Ramahurmuzi (360 H). Kitab ini dianggap sebagai karya pertama yang membahas ilmu hadits secara khusus, meskipun pembahasannya masih umum dan belum terlalu detail.

Kedua, kitab Ma’rifatu ‘Ulumil Hadits karya Al-Hakim An-Naisaburi (405 H). Kitab ini juga masih sederhana dan susunannya belum tersistematis.

Ketiga, kitab Al-Mustakhraj ala Ma’rifati Ulumil Hadits karya Abu Nu’aim Al-Asbahani (430 H). Penulisnya melalui kitab ini mencoba melengkapi kekurangan dari kitab-kitab yang ada sebelumnya.

Keempat, kitab Al-Kifayah fi Ilmir Riwayah karya Al-Khatib Al-Baghdadi (463 H). Berbeda dengan karya-karya sebelumnya, kitab ini lebih lengkap dan memuat tema-tema ilmu hadits yang lebih beragam.

Kelima, kitab Ulumul Hadits atau yang lebih dikenal dengan sebutan Muqaddimah Ibnus Shalah yang ditulis oleh Imam Ibnu Shalah (643 H). Kitab ini menghimpun keterangan dari beberapa kitab sebelumnya dan merapikan sistematika penyajiannya.

Keenam, kitab At-Taqrib wat Taysir li Ma’rifati Sunanil Basyirin Nadzir karya Imam Al-Nawawi (676 H). Karya ini merupakan simpulan dari kitab Muqaddimah Ibnus Shalah.

Ketujuh, kitab Tadribur Rawi fi Syarhi Taqrib An-Nawawi karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi (911 H). Karya ini merupakan syarah (penjelasan) atas kitab At-Taqrib An-Nawawi.

Kedelapan, kitab Taysiru Mushthalahil Hadits karya Mahmud Thahhan. Kitab kontemporer yang mencakup seluruh istilah dalam ilmu hadits dan dijelaskan dengan bahasa yang gamblang serta mudah dipahami.

Selain itu, sebagian kitab ilmu hadits ada juga yang ditulis dalam bentuk nazham (syair berbahasa Arab) oleh para ulama, di antaranya seperti kitab Alfiyah Al-‘Iraqi karya Imam Al-‘Iraqi (806 H) yang kemudian dijelaskan oleh Imam As-Sakhawi (902 H) dalam karyanya Fathul Mughits fi Syarhi Alfiyatil Hadits. Demikian juga dengan Nazham Al-Bayquni yang ditulis oleh Umar bin Muhammad Al-Baiquni (1080 H) yang terdiri atas 34 bait. Kitab yang terakhir ini sangat populer dan diajarkan di berbagai pesantren di Nusantara. Wallahu a’lam. (Yunal Isra)

Jumat 1 Desember 2017 20:3 WIB
MUSTHALAH HADITS
Pembagian Hadits Ditinjau dari Kualitasnya
Pembagian Hadits Ditinjau dari Kualitasnya
Hadits adalah setiap perkataan, perbuataan, atau ketetapan yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam bahasa lain, hadits ialah setiap informasi yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Misalnya, ketika kita mengatakan “Rasulullah SAW pernah berkata” atau “Rasulullah SAW pernah melakukan..”, secara tidak langsung pernyataan tersebut sudah bisa dikatakan hadits.

Namun persoalannya, apakah pernyataan tersebut benar-benar kata Rasulullah atau tidak? Karena belum tentu setiap informasi yang mengatasnamakan Rasulullah benar-benar valid dan banyak juga berita tentang Rasulullah dipalsukan untuk kepentingan tertentu. Sebab itu, mengetahui kebenaran sebuah informasi yang mengatasnamakan Rasulullah (hadits) sangatlah penting.

Para ulama hadits membagi hadits berdasarkan kualitasnya dalam tiga kategori, yaitu hadits shahih, hadits hasan, hadits dhaif. Urainnya sebagai berikut:

Hadits Shahih
Hadits shahih ialah hadits yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh perawi yang berkualitas dan tidak lemah hafalannya, di dalam sanad dan matannya tidak ada syadz dan illat. Mahmud Thahan dalam Taisir Musthalahil Hadits menjelaskan hadits shahih adalah:

ما اتصل سنده بنقل العدل الظابط عن مثله إلى منتهاه من غير شذوذ ولا علة

Artinya, “Setiap hadits yang rangkaian sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh perawi yang adil dan dhabit dari awal sampai akhir sanad, tidak terdapat di dalamnya syadz dan ‘illah.”

Hadits Hasan
Hadits hasan hampir sama dengan hadits shahih, yaitu hadits yang rangkaian sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh perawi yang adil dan dhabit, tidak terdapat syadz dan ‘illah. Namun perbedaannya adalah kualitas hafalan perawi hadits hasan tidak sekuat hadits shahih.

Ulama hadits sebenarnya berbeda-beda dalam mendefenisikan hadits hasan. Menurut Mahmud Thahhan, defenisi yang mendekati kebenaran adalah defenisi yang dibuat Ibnu Hajar. Menurut beliau hadits hasan ialah:

هو ما اتصل سنده بنقل العدل الذي خف ضبطه عن مثله إلى منتهاه من غير شذوذ ولا علة

“Hadits yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh perawi adil, namun kualitas hafalannya tidak seperti hadits shahih, tidak terdapat syadz dan ‘illah.”

Hadits Dhaif
Hadits dhaif ialah hadits yang tidak memenuhi persyaratan hadits shahih dan hadits hasan. Dalam Mandzumah Bayquni disebutkan hadits hasan adalah:

وكل ما عن رتبة الحسن قصر  #  فهو الضعيف وهو اقسام كثر

Artinya, “Setiap hadits yang kualitasnya lebih rendah dari hadits hasan adalah dhaif dan hadits dhaif memiliki banyak ragam.”

Dilihat dari defenisinya, dapat dipahami bahwa hadits shahih adalah hadits yang kualitasnya lebih tinggi. Kemudian di bawahnya adalah hadits hasan. Para ulama sepakat bahwa hadits shahih dan hasan dapat dijadikan sebagai sumber hukum.

Sementara hadits dhaif ialah hadits yang lemah dan tidak bisa dijadikan sebagai sumber hukum. Namun dalam beberapa kasus, menurut ulama hadits, hadits dhaif boleh diamalkan selama tidak terlalu lemah dan untuk fadhail amal. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Kamis 30 November 2017 18:5 WIB
MUSTHALAH HADITS
Sejarah Awal Kemunculan Ilmu Musthalah Hadits
Sejarah Awal Kemunculan Ilmu Musthalah Hadits
Setelah Rasulullah SAW wafat, estafet ajaran Islam dilanjutkan oleh para sahabat. Mereka menyebar ke berbagai daerah untuk mengajarkan Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi. Sebagian besar ajaran itu disampaikan secara oral dari seorang sahabat ke sahabat yang lain dan dari satu tabi‘in ke tabi‘in yang lain.

Sebuah gebrakan baru dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar. Setelah bermusyawarah dengan Umar dan beberapa sahabat lainnya, ia mengambil kebijakan untuk membukukan Al-Qur’an. Hal itu dilatarbelakangi oleh kekhawatiran akan lenyapnya Al-Qur’an karena para penghafalnya banyak yang sudah meninggal dunia.

Berbeda halnya dengan Al-Qur’an, hadits tidak mendapatkan perlakuan yang sama. Ia tetap saja disebarkan secara oral dari mulut ke mulut. Pembukuannya dirasa belum diperlukan karena para sahabat masih banyak dan kejujuran pada saat itu masih dijunjung tinggi.

Apabila seorang sahabat membutuhkan keterangan terkait sebuah persoalan misalnya, mereka cukup bertanya kepada sahabat yang lain. Lalu sahabat yang ditanya akan menjelaskannya sesuai dengan apa yang ia dengar dari Nabi ataupun sahabat-sahabat yang lain. Hadits tersebar secara natural tanpa ada kecurigaan akan adanya kebohongan ataupun kemunafikan dari para penuturnya.

Seiring perjalanan waktu, kehidupan sahabat tidak lagi diselimuti oleh ketenteraman seperti masa-masa awal dahulu. Pergolakan politik serta banyaknya berita-berita bohong yang tersebar telah membuat hilangnya kepercayaan antara satu sama lain. Di saat yang sama, para pelaku bid’ah juga merajalela. Mereka dengan mudahnya menisbatkan sebuah perkataan kepada Nabi demi untuk mendukung ide-ide bohong mereka. Sejak saat itu, para sahabatpun mulai selektif dalam menerima hadits. Mereka sangat berhati-hati dalam menerima ataupun menyampaikan sesuatu yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Terkait dengan hal ini, Imam Muslim (261 H) dalam Shahih-nya mengutip perkataan Ibnu Sirin (110 H) sebagai berikut.

لم يكونوا يسألون عن الإسناد، فلما وقعت الفتنة قالوا : سموا لنا رجالكم، فينظر إلى أهل السنة فيؤخذ حديثهم وينظر إلى أهل البدع فلا يؤخذ حديثهم

Artinya, “Para sahabat (awalnya) tidak pernah menanyakan tentang isnad (silsilah berita). Ketika fitnah mulai tersebar, merekapun berkata (kepada setiap pembawa berita), “Sebutkan kepada kami silsilah keilmuan kalian! Lalu mereka memilah informasi dari ahli sunah dan ahli bid’ah. Hadits yang disampaikan oleh para ahli sunah mereka terima. Sementara itu hadits yang bersumber dari ahli bid’ah (yang suka berbohong) mereka tolak.”

Karena sebuah berita tidak bisa diterima kecuali setelah mengetahui silsilah pembawanya (sanadnya), maka pada masa-masa selanjutnya mulailah berkembang ilmu al-jarah wat ta’dil, yaitu ilmu untuk mengetahui kredibilitas pembawa berita. Begitu juga berkembang ilmu tentang asal-usul pembawa berita (ilmu rijal) dan ilmu sanad untuk membuktikan apakah silsilah sebuah berita bersambung hingga kepada Nabi atau terputus dan ilmu tentang sebab-sebab tertolaknya sebuah berita atau yang disebut juga dengan ilmu ilalul hadits dan lain sebagainya.

Fase ini berakhir dengan lahirnya beberapa karya yang fokus membahas masalah-masalah ini. karya yang bisa disebut antara lain adalah kitab Al-Muhadditsul Fashil baynar Rawi wal Wa’i karya Al-Qadhi Ar-Ramahurmuzi (360 H), kitab Ma’rifatu ‘Ulumil Hadits karya Al-Hakim An-Naisaburi (405 H), kitab Al-Mustakhraj ‘ala Ma’rifati ‘Ulumil Hadits karya Abu Nu’aim Al-Ashbahani (430 H), Al-Kifayah fi ‘Ilmir Riwayah karya Al-Khatib Al-Baghdadi (463 H), dan lain sebagainya. Wallahu a’lam. (Yunal Isra)