IMG-LOGO
Bahtsul Masail

Mana Lebih Utama, Baca Al-Quran atau Jawab Adzan?

Selasa 19 Desember 2017 18:3 WIB
Share:
Mana Lebih Utama, Baca Al-Quran atau Jawab Adzan?
(© pixabay)
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online yang kami hormati. Dalam kesempatan ini kami akan menanyakan tentang mana yang lebih didahulukan ketika sedang membaca Al-Quran kemudian mendengar suara adzan, apakah meneruskan membaca Al-Quran atau menjawab suara adzan? Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb.
(Ridwan/Poso)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa membaca Al-Quran masuk dalam kategori amaliyah yang baik dan sangat dianjurkan. Demikian pula dengan menjawab adzan di mana hukumnya adalah sunah sebagaimana dikemukakan oleh Abu Ishaq Asy-Syairzi dalam Kitab Al-Muhadzdzab.

فَصْلٌ فِي الذِّكْرِ مَعَ الْأَذَانِ وَالْمُسْتَحَبُّ لِمَنْ سَمِعَ الْمُؤَذِّنَ أَنْ يَقُولَ مِثْلَ مَا يَقُولُ إِلَّا فِي الْحَيْعَلَةِ فَإِنَّهُ يَقُولُ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

Artinya, “Fasal tentang zikir yang beriringan dengan adzan. Disunahkan (dianjurkan) bagi orang yang mendengar senandung suara adzan muadzin untuk mengucapkan hal sama dengan yang disenandungkan kecuali ketika muadzin sampai pada ucapan hayya ‘alas shalah dan hayya ‘alal falah, maka orang yang mendengar senandung suara adzan tersebut mengucapkan la hawla wala quwwata illa billah,” (Lihat Abu Ishaq asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, Beirut, Darul Fikr, tanpa tahun, juz I, halaman 58).

Lantas bagaimana ketika kita sedang asyik membaca Al-Quran kemudian terdengar kumandang adzan dari masjid atau mushalla. Apakah sebaiknya kita tetap melanjutkan membaca Al-Quran atau kita berhenti sejenak untuk menjawab suara adzan?

Dalam konteks ini menurut Muhyiddin Syaraf An-Nawawi yang lebih diutamakan menghentikan bacaan Al-Quran kemudian menjawab suara adzan. Hal ini sebagaimana yang kami pahami dari pernyataannya dalam Kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab berikut ini:

وَلَوْ سَمِعَ الْمُؤَذِّنَ أَوِ الْمُقِيمَ قَطَعَ الْقِرَاءَةَ وَتَابَعَهُ

Artinya, “Seandainya seseorang yang sedang membaca Al-Quran mendengar adzan dikumandangkan oleh muadzdzin atau iqamah, maka ia (sebaiknya) menghentikan bacaan Al-Qurannya dan kemudian mengikutinya (menjawab suara adzan atau iqamah),” (Lihat Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Jeddah, Maktabah Al-Irsyad, juz II, halaman 193).

Jika demikian, maka akan muncul pertanyaan kenapa ketika kita sedang membaca Al-Quran kemudian mendengar suara adzan yang diutamakan adalah menghentikan bacaan tersebut kemudian menjawab suara adzan?

Menurut kami, bahwa waktu untuk membaca Al-Quran lebih luas dibanding dengan waktu menjawab adzan. Adzan hanya dikumandangkan pada saat-saat tertentu saja, misalnya ketika masuk waktu shalat. Hal ini tentunya berbeda dengan membaca Al-Quran.

Alasan lain yang bisa diajukan di sini adalah bahwa setiap kesunahan memiliki waktunya sendiri sehingga kesunahan menjawab adzan itu juga ada waktu sendiri yaitu ketika kita mendengar kumandang adzan. Sebagaimana waktu disunahkan membaca tasbih atau membaca Al-Quran juga memiliki waktunya sendiri. Inilah yang kami pahami dari keterangan yang terdapat dalam kitab I’anatut Thalibin berikut ini:

فَإِنَّ لِكُلِّ سُنَّةٍ وَقْتًا يَخُصُّهَا، فَلِاجَابَةِ الْمُؤَذِّنِ وَقْتٌ، وَلِلْعِلْمِ وَقْتٌ، وَلِلتَّسْبِيحِ وَقْتٌ، وَلِتَلَاوَةِ الْقُرآنِ وَقْتٌ.كَمَا أَنَّهُ لَيْسَ لِلْعَبْدِ أَنْ يَجْعَلَ مَوْضِعَ الْفَاتِحَةِ اِسْتِغْفَارًا، وَلَا مَوْضِعَ الرُّكُوع ِوَالسُّجُودِ قِرَاءَةً، وَلَا مَوْضِعَ التَّشَهُّدِ غَيْرَهُ

Artinya, “Karena setiap kesunahan itu memiliki waktu khusus, begitu juga menjawab senandung adzan muadzdzin memiliki waktunya sendiri, belajar, membaca tasbih dan membaca Al-Quran memiliki waktunya sendiri. Sebagaimana tidak ada bagi hamba menjadikan posisi membaca surat Al-Fatihah sebagai ajang untuk untuk istighfar, sujud sebagai kesempatan untuk membaca Al-Quran, atau posisi tasyahhud untuk yang lainnya,” (Lihat Al-Bakri Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I’anatut Thalibin, Beirut, Darul Fikr, tanpa tahun, juz I, halaman 279).

Demikian penjelasan singkat dari kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Dan kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari pembaca.

Wallahul Muwaffiq ila Aqwamith Thariq,
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.



(Mahbub Maafi Ramdlan)
Share:
Ahad 19 November 2017 20:3 WIB
Pandangan Islam Terhadap Penyandang Disabilitas
Pandangan Islam Terhadap Penyandang Disabilitas

Oleh Ahmad Muntaha AM
A. Pengertian Disabilitas
Merujuk UU No 04 tahun 1997, penyandang disabilitas yang dibahasakan dengan istilah penyandang cacat diartikan sebagai setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan/atau mental, yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan secara selayaknya, yang terdiri dari: a) penyandang cacat fisik; b) penyandang cacat mental; dan c) penyandang cacat fisik dan mental. Lebih lanjut undang-undang ini menjelaskan:

a. Cacat fisik adalah kecacatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi tubuh, antara lain gerak tubuh, penglihatan, pendengaran, dan kemampuan bicara;

b. Cacat mental adalah kelainan mental dan atau tingkah laku, baik cacat bawaan maupun akibat dari penyakit;

c. Cacat fisik mental adalah keadaan seseorang yang menyandang dua jenis kecacatan sekaligus.

Dari sini dapat diketahui, bahwa maksud disabilitas adalah kelainan fisik dan/atau mental, yang dapat mengganggu atau menjadi rintangan bagi penyandangnya untuk melakukan aktivitas sebagaimana umumnya orang.

B. Penyandang Disabilitas dalam Perspektif Al-Qur’an, Hadits, dan Ulama Mazhab

Dalam perspektif Islam, penyandang disabilitas identik dengan istilah dzawil âhât, dzawil ihtiyaj al-khashah atau dzawil a’dzâr: orang-orang yang mempunyai keterbatasan, berkebutuhan khusus, atau mempunyai uzur.

Nilai-nilai universalitas Islam seperti al-musawa (kesetaraan/equality: Surat Al-Hujurat: 13), al-‘adalah (keadilan/justice: Surat An-Nisa: 135 dan Al-Maidah ayat 8), al-hurriyyah (kebebasan/freedom: Surat At-Taubah ayat 105) dan semisalnya, sebagaimana Keputusan Muktamar NU Ke-30 tahun 1999 di Kediri  meniscayakan keberpihakan terhadap penyandang disabilitas sekaligus menegasi sikap dan tindakan diskriminatif terhadap mereka.

Lebih spesifik Al-Quran, Hadits, dan pendapat para ulama secara tegas menyampaikan pembelaan terhadap penyandang disabilitas:

1. An-Nur ayat 61:

لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَى حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَنْ تَأْكُلُوا مِنْ بُيُوتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ آبَائِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أُمَّهَاتِكُمْ ... (النور: 61)

Artinya, “Tidak ada halangan bagi tunanetra, tunadaksa, orang sakit, dan kalian semua untuk makan bersama dari rumah kalian, rumah bapak kalian atau rumah ibu kalian …” (Surat An-Nur ayat 61).

Ayat ini secara eksplisit menegaskan kesetaraan sosial antara penyandang disabilitas dan mereka yang bukan penyandang disabilitas. Mereka harus diperlakukan secara sama dan diterima secara tulus tanpa diskriminasi dalam kehidupan sosial, sebagaimana penjelasan Syekh Ali As-Shabuni dalam Tafsir Ayatul Ahkam (I/406):

يَقُولُ الله جَلَّ ذِكْرُهُ مَا مَعْنَاهُ: لَيْسَ عَلَى أَهْلِ الْأَعْذَارِ وَلَا عَلَى ذَوِي الْعَاهَاتِ (الْأَعْمَى وَالْأَعْرَجِ وَالْمَرِيضِ) حَرَجٌ أَنْ يَأْكُلُوا مَعَ الْأَصِحَّاءِ، فَإِنَّ الله تَعَالَى يَكْرَهُ الكِبْرَ وَالْمُتَكَبِّرِينَ وَيُحِبُّ مِنْ عِبَادِهِ التَّوَاضُعَ.

Artinya, “Substansi firman Allah Ta’ala (Surat An-Nur ayat 61) adalah bahwa tidak ada dosa bagi orang-orang yang punya uzur dan keterbatasan (tunanetra, pincang, sakit) untuk makan bersama orang-orang yang sehat (normal), sebab Allah Ta’ala membenci kesombongan dan orang-orang sombong dan menyukai kerendahhatian dari para hamba-Nya.”

Bahkan dari penafsiran ini menjadi jelas bahwa Islam mengecam sikap dan tindakan diskriminatif terhadap para penyandang disabilitas. Terlebih diskriminasi yang berdasarkan kesombongan dan jauh dari akhlaqul karimah.

2. ‘Abasa 1-11:

عَبَسَ وَتَوَلَّى (1) أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى (2) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى (3) أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى (4) أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى (5) فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى (6) وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى (7) وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى (8) وَهُوَ يَخْشَى (9) فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّى (10) كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ (11) ... (عبس/1-11)

Artinya, “Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling. Karena seorang tuna netra telah datang kepadanya. Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali ia ingin menyucikan dirinya (dari dosa). Atau ia ingin mendapatkan pengajaran yang memberi manfaat kepadanya. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (para pembesar Quraisy), maka engkau (Muhammad) memperhatikan mereka. Padahal tidak ada (cela) atasmu kalau ia tidak menyucikan diri (beriman). Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sementara ia takut kepada Allah, engkau (Muhammad) malah mengabaikannya. Sekali-kali jangan (begitu). Sungguh (ayat-ayat/surat) itu adalah peringatan. …” (Surat ‘Abasa ayat 1-11).

Ulama mufassirin meriwayatkan, bahwa Surat ‘Abasa turun berkaitan dengan salah seorang sahabat penyandang disabilitas, yaitu Abdullah bin Ummi Maktum yang datang kepada Nabi Muhammad SAW untuk memohon bimbingan Islam namun diabaikan. Kemudian turunlah Surat ‘Abasa kepada beliau sebagai peringatan agar memperhatikannya, meskipun tunanetra. Bahkan beliau diharuskan lebih memperhatikannya daripada para pemuka Quraisy. Sejak saat itu, Nabi Muhammad SAW sangat memuliakannya dan bila menjumpainya langsung menyapa:

مَرْحَبًا بِمَنْ عَاتَبَنِي فِيهِ رَبِّي

Artinya, “Selamat wahai orang yang karenanya aku telah diberi peringatan oleh Tuhanku.”

Semakin jelas, melihat sababun nuzul Surat ‘Abasa, Islam sangat memperhatikan penyandang disabilitas, menerimanya secara setara sebagaimana manusia lainnya dan bahkan memprioitaskannya.

3. Hadits Abu Dawud

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَّ الرَّجُلَ لَيَكُونَ لَهُ الدَّرَجَةُ عِنْدَ اللهِ لَا يَبْلُغُهَا بِعَمَلٍ حَتَّى يُبْتَلَى بِبَلَاءٍ فِي جِسْمِهِ فَيَبْلُغَهَا بِذَلِكَ. (رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ)  

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh seseorang niscaya punya suatu derajat di sisi Allah yang tidak akan dicapainya dengan amal, sampai ia diuji dengan cobaan di badannya, lalu dengan ujian itu ia mencapai derajat tersebut,’” (HR Abu Dawud).

Hadits ini memberi pemahaman bahwa di balik keterbatasan fisik (disabilitas) terdapat derajat yang mulia di sisi Allah ta’ala.

4. Pendapat Imam Al-Qurthubi

Berkaitan perintah shalat dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 43, pemuka ulama ahli tafsir asal Cordova Spanyol, Imam Al-Qurthubi (wafat 671 H/1273 M), menyatakan:

وَلَا بَأْسَ بِإِمَامَةِ الْأَعْمَى وَالْأَعْرَجِ وَالْأَشَلِّ وَالْأَقْطَعِ وَالْخَصِيِّ وَالْعَبْدِ إِذَا كَانَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَ عَالِمًا بِالصَّلَاةِ.  

Artinya “Tunanetra, orang pincang, orang lumpuh, orang yang terputus tangannya, orang yang dikebiri, dan hamba sahaya tidak mengapa menjadi imam shalat bila masing-masing dari mereka mengetahui tatacara shalat.”

Imam Al-Qurtubi dan para ulama lainnya tidak mempermasalahkan disabilitas. Menurutnya, penyandang disabilitas  semisal tunanetra, tunadaksa dan lainnya boleh-boleh saja menjadi imam shalat asalkan mengetahui tatacaranya. Hal ini meniscayakan pengakuan Islam atas peran para penyandang disabilitas dalam kehidupan sosial kemasyarakatan bahkan dalam peribadahan.

5. Pendapat Imam Ar-Ramli As-Shaghir

Ketika menjelaskan syarat mahram yang menemani wanita saat bepergian Imam Ar-Ramli As-Shaghir (919-1004 H/1513-1596 M), mufti Syafi’i negeri Mesir pada masanya ini menyatakan:

وَاشْتِرَاطُ الْعَبَّادِيِّ الْبَصَرَ فِيهِ مَحْمُولٌ عَلَى مَنْ لَا فِطْنَةَ مَعَهُ وَإِلَّا فَكَثِيرٌ مِنْ الْعُمْيَانِ أَعْرَفُ بِالْأُمُورِ وَأَدْفَعُ لِلتُّهَمِ وَالرِّيَبِ مِنْ كَثِيرٍ مِنْ الْبُصَرَاءِ

Artinya, “Pengajuan syarat mampu melihat bagi mahram yang menemani wanita saat berpergian oleh Al-‘Abbadi diarahkan dalam konteks orang yang tidak mempunyai kecakapan. Di luar konteks itu, maka banyak tunanetra yang lebih mengetahui berbagai permasalahan dan lebih mampu menolak kesalahpahaman dan praduga daripada orang-orang yang bisa melihat.”

Pendapat ulama ini terang-terangan mengakui dan mengapresiasi peran penyandang disabilitas dalam menjaga kehormatan dan keselamatan para mahram atau keluarganya.

C. Implementasi Keberpihakan Islam Terhadap Penyandang Disabilitas

Pandangan Islam sebagaimana uraian di atas menegaskan semangat keberpihakan Islam terhadap penyandang disabilitas. Implementasi keberpihakan Islam terhadap penyandang disabilitas dilakukan dengan beberapa hal sebagai berikut:

1. Mengarusutamakan pemahaman bahwa Islam memandang penyandang disabilitas setara dengan manusia lainnya.

2. Mendorong penyandang disabilitas untuk mensyukuri segala kondisi dirinya sebagai berkah dari Allah SWT.

3. Mendorong penyandang disabilitas untuk bersikap optimis, mandiri dan mengoptimalkan segala potensinya untuk hidup dan berperan secara lebih luas di tengah kehidupan masyarakat sebagaimana umumnya.

4. Mendorong penyadang disabilitas untuk memperjuangkan hak-hak asasinya: baik hak di bidang pendidikan, sosial, hukum, politik, ekonomi, maupun hak-hak lainnya.

5. Menentang segala sikap dan perlakuan diskriminatif terhadap penyandang disabilitas baik yang dilakukan oleh individu, masyarakat maupun lembaga.

6. Mendukung advokasi terhadap penyandang disabilitas oleh masyarakat, pemerintah, organisasi-organisasi lainnya.


*) Penulis adalah Wakil Sekretaris LBM PWNU Jawa Timur.

Jumat 3 November 2017 23:7 WIB
Hukum Ambil Jatah Subsidi Pemerintah oleh Mereka yang Tidak Berhak
Hukum Ambil Jatah Subsidi Pemerintah oleh Mereka yang Tidak Berhak
(© BelajarTani.com)
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Pengasuh rubrik Bahtsul Masail NU Online, pemerintah selama ini kerap menggelontorkan subsidi dengan sasaran tertentu di masyarakat, biasanya masyarakat miskin dengan ukuran-ukuran yang ditetapkan pemerintah. Tetapi pada praktiknya banyak juga mereka yang tidak berhak atas subsidi itu ikut mengambil subsidi dari pemerintah, sebut saja subsidi pengadaan rumah, pupuk, dan lain sebagainya. Pertanyaan saya, bagaimana hukum Islam memandang masalah ini? Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Sukendar/Purwakarta)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya dan pembaca yang budiman. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita semua. Masalah ini dapat diperjelas terlebih dahulu.

Dalam bayangan kami deskripsi masalahnya kira-kira adalah bahwa orang-orang mampu yang berada di luar sasaran subsidi ikut mengambil subsidi rumah, pupuk, atau barang kebutuhan bersubsidi lainnya yang disediakan pemerintah. Dengan itu mereka menghilangkan kesempatan masyarakat tertentu yang disasar pemerintah karena jumlah kuota subsidi yang tersedia terbatas.

Kalau gambaran kasusnya seperti ini, kami memandang masalah ini berkaitan erat dengan praktik ghashab, yaitu merampas hak milik orang lain tanpa hak. Praktik ini salah satu bentuk kejahatan yang tercela dan diharamkan menurut syariat sebagai diterangkan Syekh Abu Zakariya Al-Anshari dalam Hasyiyatus Syarqawi berikut ini.

باب الغصب (هو) لغة أخذ الشئ ظلما وشرعا (استيلاء على حق الغير) ولو منفعة كإقامة من قعد بمسجد أو بسوق أو غير مال كزبل (بغير حق) . والأصل فى تحريمه قبل الإجماع آيات كقوله تعالى لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ  وخبر كخبر إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ وخبر مَنْ ظَلَمَ قِيدَ شِبْرٍ مِنَ أَرْضِ طُوِّقَهُ مِنْ سَبْعِ أَرَضِينَ رواهما الشيخان

Artinya, “Bab ghashab (ghashab) dalam pengertian bahasa adalah mengambil sesuatu secara zalim. Sedangkan menurut syariat, ghashab adalah (menguasai hak orang lain) sekalipun berbentuk manfaat seperti membangunkan orang yang duduk di masjid atau di pasar atau bukan harta seperti sampah (tanpa hak). Dasar keharaman ghashab selain ijmak adalah firman Allah SWT (Al-Baqarah ayat 88), ‘Jangalan kalian makan harta sesama kalian dengan jalan batil,’ sabda Rasulullah SAW, ‘Sungguh, darah, harta, kehormatanmu haram bagimu,’ dan sabda Rasulullah SAW, ‘Siapa yang menganiaya (orang lain) meski sejengkal tanah, kelak ia akan dikalungkan dengan tanah itu sedalam tujuh lapis bumi.’ Keduanya diriwayatkan Bukhari dan Muslim,” (Lihat Syekh Abu Zakariya Al-Anshari, Tahrir dalam Hasyiyatus Syarqawi ala Tuhfatit Thullab bi Syarhi Tahriri Tanqihil Lubab, Beirut, Darul Fikr, 2006 M/1426-1427 H, juz II, halaman 143-144).

Syekh Abu Zakariya Al-Anshari mengikuti pandangan Imam An-Nawawi terkait definisi ghashab. Menurutnya, definisi imam An-Nawawi lebih berkaitan dengan persoalan hukum ketimbang definisi Imam Ar-Rafi‘i yang berkaitan dengan persoalan moral dan dosa.

وقولي بغير حق تبعت فيه الروضة بدل قوله كالرافعي عدوانا ليشمل ما لو أخذ مال غيره يظن أنه ماله فإنه غصب وإن خلا عن الإثم. وقول الرافعي: إن الثابت فى هذه حكم الغصب لا حقيقته ممنوع وكأنه جرى على الغالب من أن الغصب يستلزم الإثم

Artinya, “Perkataanku ‘tanpa hak’ mengikut redaksi kitab Raudhah sebagai ganti redaksi Ar-Rafi’I ‘zalim’ karena di dalamnya mengandung juga praktik mengambil harta orang lain dengan mengira bahwa harta itu adalah miliknya, maka itu terbilang ghashab sekalipun sunyi dari dosa. Redaksi Ar-Rafi’i, ‘Yang tetap pada kasus ini adalah hukum ghashab, bukan hakikatnya’ mesti ditolak. Pasalnya, putusan itu mengandaikan secara umum bahwa ghashab itu melazimkan dosa,” (Lihat Syekh Abu Zakariya Al-Anshari, Tahrir dalam Hasyiyatus Syarqawi ala Tuhfatit Thullab bi Syarhi Tahriri Tanqihil Lubab, Beirut, Darul Fikr, 2006 M/1426-1427 H, juz II, halaman 144).

Hukum syariat sudah bicara jelas terkait pengambilan subsidi oleh mereka yang tidak berhak menerimanya. Kalau pun aktivitas ghashab itu tidak berkaitan dengan dosa dengan misalnya ia menganggap dirinya berhak padahal sebenarnya tidak berhak dengan ukuran-ukuran tertentu, maka hukum positif mesti jalan demi ketertiban sosial.

Pemerintah harus membatalkan kontrak atau melakukan penarikan atas aset bersubsidi yang diambil oleh warga yang tidak berhak sesuai dengan kewenangan yang diatur dalam UU.

Demikian jawaban kami, semoga dipahami dengan baik. Demikian jawaban singkat ini. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.



(Alhafiz Kurniawan)

Selasa 31 Oktober 2017 6:3 WIB
Hukum Belajar Bahasa Isyarat (2)?
Hukum Belajar Bahasa Isyarat (2)?
(© tribunnews.com)
Assalamu ’alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online yang kami hormati. Syarat orang yang masuk Islam adalah mengucapkan dua kalimat syahadat. Lantas bagaimana jika ada orang yang tidak bisa bicara atau bisu mau masuk Islam, apakah syahadat yang diucapkan melalui bahasa isyarat itu sudah dianggap sah sehingga orang tesebut dihukumi sebagai Muslim setelah mengucapkannya? Selanjutnya sebagai tambahan, apakah hukumnya belajar bahasa isyarat? Mohon penjelasannya, karena ada orang bisu yang non-Muslim hendak masuk Islam tetapi kebingungan bagaimana cara bersyahadatnya. Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Adi/Jakarta)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Dalam kesempatan ini kami akan menjawab pertanyaan kedua yang terkait dengan hukum belajar bahasa isyarat. Ilmu bahasa sebagaimana dikemukakan oleh Abu Hamid Al-Ghazali merupakan tangga untuk mengetahui pelbagai pengetahuan. Karena itu menurut Imam Al-Ghazali, barangsiapa yang tidak mengetahui ilmu bahasa, maka ia tidak memilik jalan untuk mendapatkan pengetahuan.

إِنَّ عِلْمَ اللُّغَةِ سُلَّمٌ وَمِرْقَاةٌ إِلَى جَمِيعِ الْعُلُومِ وَمَنْ لَمْ يَعْلَمِ اللُّغَةِ فَلَا سَبِيلَ لَهُ إِلَى تَحْصِيلِ الْعُلُومِ

Artinya, “Sungguh ilmu bahasa adalah tangga menuju gerbang semua pengetahuan. Barangsiapa yang tidak mengetahui bahasa, maka tidak ada jalan baginya untuk mendapatkan pengetahuan,” (Lihat Abu Hamid Al-Ghazali, Ar-Risalah Al-Laduniyyah, dalam Majmu’atur Rasa`il lil Imam Al-Ghazali, Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, 2006, halaman 65).

Apa yang dikemukakan Abu Hamid Al-Ghazali jika hemat kami juga mencakup di dalamnya adalah bahasa isyarat, di mana merupakan bahasa yang biasanya digunakan oleh kalangan yang mengalami gangguan pendengaran fisik dan bisu. Melalui bahasa isyarat kita bisa mengerti dunia orang-orang yang bisu dan tuli dan memahami apa yang mereka inginkan.

Dari sini kemudian muncul pertanyaan, bagaimana menjelaskan ajaran-ajaran Islam kepada mereka yang mengalami gangguan pendengaran dan bisu? Jika kita menggunakan bahasa yang dipakai orang dengan pendengaran baik jelas mereka tidak bisa memahami apa yang kita sampaikan.

Cara yang efektif tentunya adalah menggunakan bahasa isyarat. Jika demikian, lantas bagaimana hukum mempelajari bahasa isyarat dalam konteks ini?

Islam dengan semua nilai-nilai ajaran yang dibawanya diperuntukan bukan hanya untuk kalangan yang sempurna secara fisik, tetapi juga diperuntukkan untuk kalangan yang mengalami kekurangan fisik seperti orang tuli dan bisu. Karena itu kemudian dikatakan bahwa Islam dihadirkan untuk seluruh alam semesta sebagai rahmat.

Dalam literatur-literatur fikih kewajiban dibagi setidaknya menjadi dua. Pertama, kewajiban individual atau yang dikenal dengan istilah fardlu ‘ain. Kedua adalah kewajiban kolektif yang dikenal dengan istilah fardlu kifayah. Dalam hal yang kedua, jika sudah ada kelompok atau individu yang melaksanakannya maka gugurlah kewajiban bagi yang lain. Berbeda dengan yang pertama.

Di antara kewajiban kolektif—sebagaimana dikemukakan dalam kitab Mughnil Muhtaj—adalah menghadirkan argumen-argumen ilmiah, misalnya yang terkait dengan bukti atau dalil atas eksistensi Allah SWT, sifat-sifat baik yang wajib atau mustahil bagi-Nya, penetapan kenabian, dan kebenaran para rasul. Begitu juga menjelaskan berbagai kerancuan dan kepelikan dalam persoalan agama agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

وَمِنْ فُرُوضِ الْكِفَايَةِ الْقِيَامُ بِإِقَامَةِ الْحُجَجِ) الْعِلْمِيَّةِ ، وَهِيَ الْبَرَاهِينُ الْقَاطِعَةُ عَلَى إثْبَاتِ الصَّانِعِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَا يَجِبُ لَهُ مِنْ الصِّفَاتِ وَمَا يَسْتَحِيلُ عَلَيْهِ مِنْهَا وَعَلَى إثْبَاتِ النُّبُوَّاتِ وَصِدْقِ الرُّسُلِ ، وَمَا وَرَدَ الشَّرْعُ بِهِ مِنْ الْحِسَابِ وَالْمَعَادِ وَالْمِيزَانِ وَغَيْرِ ذَلِكَ... (وَحَلِّ الْمُشْكِلَاتِ فِي الدِّينِ) وَدَفْعِ الشُّبْهَةِ

Artinya, “(Di antara fardlu kifayah adalah menghadirkan argumen-argumen) ilmiah yaitu dalil-dalil pasti yang menunjukkan atas eksistensi Sang Pencipta Yang Maha Suci dan Luhur, sifat-sifat yang wajib dan yang mustahil bagi-Nya, penetapan kenabian dan kebenaran para rasul, dan apa yang dikemukakan oleh syara’ seperti persoalan perhitungan amal, kiamat, dan timbangan amal dan selainnya...(dan mengurai berbagai kemusykilan dalam agama) dan mencegah ketidakjelasan (pemahaman atas agama, pent),” (Lihat Muhammad Khathib Asy-Syarbini, Mughnil Muhtaj, Beirut, Darul Fikr, juz IV, halaman 210).

Poin penting yang ingin dikemukakan di sini adalah bahwa mendakwahkan nilai-nilai ajaran agama melalui argumen ilmiah begitu juga meluruskan hal–hal yang dianggap dapat merancukan pemahaman terhadap agama merupakan amanat kolektif atau fardlu kifayah. Sampai di sini tidak ada persoalan berarti.

Persoalan akan muncul manakala hal tersebut dijelaskan kepada orang-orang yang mengalami ganguan pendengaran atau tuli dan orang bisu di mana bahasa yang digunakan adalah bahasa isyarat. Padahal mereka juga adalah kalangan yang berhak mendapatkan pemahaman agama yang benar. Penjelasan hal itu dengan bahasa yang kita gunakan jelas tidak akan dapat membuat mereka mengerti kecuali dengan bahasa mereka sendiri, yaitu bahasa isyarat.

Dari sinilah kemudian muncul kebutuhan untuk mempelajari bahasa isyarat sebagai sarana untuk berdakwah kepada mereka yang mengalami gangguan pendengaran maupun gangguan pembicaraan.

Karenanya menurut hemat kami, apabila mendakwahkan ajaran Islam adalah amanat kolektif (fardlu kifayah) bagi umat Islam—di mana ladang dakwah mereka ternyata bukan hanya kelompok masyarakat yang tidak mengalami kekurangan fisik.

Namun juga ada kelompok lain di luar mereka seperti kalangan yang mengalami gangguan pendengaran dan pembicaraan di mana komunikasi sehari-sehari yang mereka gunakan adalah bahasa isyarat—maka hukum mempelajari bahasa isyarat juga merupakan fardlu kifayah.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga dapat dipahami dengan baik dan bermanfaat. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwmith thariq,
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.



(Mahbub Ma’afi Ramdlan)