IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Hadits
MUSTHALAH HADITS

Inilah Cara Mengetahui Kesahihan Hadits

Selasa 26 Desember 2017 6:5 WIB
Share:
Inilah Cara Mengetahui Kesahihan Hadits
(via meydan.tv)
Hadits sahih ialah hadits yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh perawi yang berkualitas dan tidak lemah hafalannya, di dalam sanad dan matannya tidak ada syadz dan illat.

Mahmud Thahan dalam Taysiru Musthalahil Hadits menjelaskan hadits sahih adalah sebagai berikut:

ما اتصل سنده بنقل العدل الظابط عن مثله إلى منتهاه من غير شذوذ ولا علة

Artinya, “Setiap hadits yang rangkaian sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh perawi yang adil dan dhabit dari awal sampai akhir sanad, tidak terdapat di dalamnya syadz dan ‘illah.”

Dilihat dari definisi di atas, terdapat lima kriteria hadits sahih yang harus diperhatikan. Demikian pula ketika ingin mengetahui apakah hadits yang kita baca atau dengar sahih atau tidak, lima kriteria tersebut menjadi panduan utama. Kalau kelima kriteria itu ada dalam sebuah hadits, maka haditsnya sahih. Kalau tidak ada salah satunya berati hadits dhaif.

Sebagaimana dijelaskan Mahmud At-Thahan dalam Taysiru Musthalahil Hadits, kelima kriteria tersebut adalah sebagai berikut:

Ketersambungan Sanad
Ketersambungan sanad (ittishâlul sanad) berati masing-masing perawi bertemu antara satu sama lain. Salah satu cara yang digunakan untuk membuktikan masing-masing rawi bertemu ialah dengan cara melihat sejarah kehidupan masing-masing perawi, mulai dari biografi guru dan muridnya, tahun lahir dan tahun wafat, sampai rekaman perjalanannya.

Perawi Adil (Kredibilitas)
Setelah mengetahui ketersambungan sanad, langkah berikutnya adalah meneliti satu per satu biografi perawi dan melihat bagaimana komentar ulama hadits terhadap pribadi mereka. Perlu diketahui, adil (‘adalah) yang dimaksud di sini berkaitan dengan muruah atau nama baik.

Perawi yang semasa hidupnya pernah melakukan perbuatan yang melanggar moral dan merusak muruah, hadits yang diriwayatkannya tidak bisa diterima dan kualitasnya rendah.

Hafalan Perawi Kuat
Selain mengetahui muruah perawi, kualitas hafalannya juga perlu diperhatikan. Kalau hafalannya kuat, kemungkinan besar haditsnya sahih. Tapi kalau tidak kuat, ada kemungkinan hadits tersebut hasan, bahkan dhaif.

Tidak Ada Syadz
Syadz berati perawi tsiqah bertentangan dengan rawi lain yang lebih tsiqah darinya. Misalkan, ada dua hadits yang saling bertentangan maknanya. Untuk mencari mana kualitas hadits yang paling kuat, kualitas masing-masing perawi perlu diuji, meskipun secara umum sama-sama tsiqah. Dalam hal ini, perawi yang paling tsiqah dan kuat hafalannya lebih diprioritaskan.

Dengan demikian, untuk memastikan kesahihan hadits, perlu dikonfirmasi dengan riwayat lain, apakah tidak bertentangan dengan hadits lain atau tidak.

Tidak Ada ‘Illah
Illah yang dimaksud di sini adalah sesuatu yang dapat merusak kesahihan hadits, namun tidak terlalu kelihatan. Maksudnya, ada hadits yang dilihat sekilas terkesan sahih dan tidak ditemukan cacatnya. Namun setelah diteliti lebih dalam, ternyata di situ ada sesuatu yang membuat kualitas hadits menjadi lemah. Hal ini dalam musthalah hadits diistilahkan dengan ‘illah.

Itulah lima kriteria yang perlu diperhatikan pada saat menguji apakah sebuah hadits sahih atau tidak. Kalau hilang salah satu dari lima kriteria tersebut, kualitas hadits bisa jatuh pada kedhaifan.

Misalnya hadits riwayat Al-Bukhari tentang Rasulullah membaca Surat At-Thur saat magrib. Al-Bukhari meriwayatkan hadits sebagai berikut:

حدثنا عبد الله بن يوسف قال أخبرنا مالك عن ابن شهاب عن محمد بن جبير بن مطعم عن أبيه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم قرأ في المغرب بالطور

Artinya, “Abdullah bin Yusuf meriwayatkan dari Malik bin Anas, dari Ibnu Syihab, dari Muhammad bin Jubair , dari Muhammad bin Jubair bin Math’am, dari bapaknya (Jubair bin Math’am) yang berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah membaca Surat At-Thur saat magrib,’” (HR Al-Bukhari).

Riwayat di atas dihukumi sahih oleh para ulama hadits karena memenuhi kriteria hadits sahih. Dilihat dari ketersambungan sanad, masing-masing perawi terbukti bertemu antara satu sama lain; dilihat dari kualitas perawi semuanya dhabit dan ‘adil; serta tidak terdapat syadz dan illat dalam sanad hadits. Wallahu a‘lam. (Hengki Ferdiansyah)
Share:
Ahad 17 Desember 2017 10:30 WIB
Cara Memahami Hadits-hadits yang Bertentangan
Cara Memahami Hadits-hadits yang Bertentangan
Ilustrasi (via wejdan.org)
Dalam kajian hadits, seseorang akan sangat banyak membaca riwayat dalam satu kitab. Untuk satu tema saja, bisa terdapat sekian banyak lafal hadits yang diriwayatkan oleh berbagai perawi hadits. Belum lagi dengan hadits yang ditemukan dalam kitab lainnya.

Ketika membaca kitab-kitab hadits, seseorang bisa bingung ketika ada hadits-hadits yang saling bertentangan. Sebagai contoh, hadits tentang larangan melakukan ziarah kubur bagi perempuan. Dalam beberapa hadits disebutkan bahwa Nabi melaknat perempuan yang berziarah kubur, sebagai contoh:

عَنْ ابن عباس ،أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ زَائراتِ القُبُور

Artinya: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi Muhammad SAW melaknat perempuan yang berziarah kubur.”

Hadits tersebut diriwayatkan dalam Sunan an-Nasa’i dan Sunan Abu Dawud melalui sahabat Abdullah bin Abbas. Selain itu ada pula riwayat lain dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Imam at Tirmidzi dan beberapa ulama lainnya.

Jika hanya membaca riwayat hadits tersebut, seseorang bisa sampai kepada kesimpulan bahwa ziarah kubur itu terlarang bagi perempuan. Inilah yang menjadi kesulitan dari para pelajar yang hanya membaca hadits tertentu tanpa mengetahui redaksi dari riwayat lainnya. Padahal terkait larangan ziarah kubur bagi perempuan itu, banyak hadits yang menyatakan kebolehannya.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا ، فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الْمَوْتُ

Artinya: Dari Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda: dulu aku pernah melarang kalian berziarah kubur, maka sekarang berziarahlah, karena ia dapat mengingatkan akan kematian.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam al Hakim. Hadits ini menyatakan kebolehan ziarah kubur, baik untuk perempuan maupun laki-laki. Jika sebelumnya Nabi menyebutkan pernah melarang, namun sekarang sudah dibolehkan.

Dari kedua hadits tersebut, para ulama menyimpulkannya sebagai hadits yang shahih, sehingga bisa menjadi dasar hukum. Nah, bagaimana jika ada hadits-hadits yang bertentangan seperti itu? 

Para ahli hadits menyebutkan cara memahami hadits-hadits tersebut adalah ilmu mukhtalaful hadits, atau ilmu tentang hadits-hadits yang saling bertentangan. Terkait cara dan contoh dalam ilmu ini, Anda bisa merujuk karya terkait hadits-hadits bertentangan seperti Ikhtilaful Hadits karya Imam as-Syafi’i dan Ta’wil Mukhtalafil Hadits karya Imam Ibnu Qutaibah.

Ulama menyebutkan beberapa cara untuk mengurainya. Berikut penjelasannya:

Pertama, mengumpulkan riwayat (al-jam’u). Langkah ini diupayakan untuk bisa mengurai masalah perbedaan lafal yang ada, apalagi riwayat-riwayat yang bertentangan ini status hukumnya termasuk hadits yang sahih. Suatu hadits akan dikaji dan dibandingkan satu sama lain, baik dari segi kebahasaan maupun kaitannya dengan hadits lainnya.

Saat mempelajari hadits, maka sebisa mungkin untuk tidak berkesimpulan dahulu sebelum menemukan hadits lain yang ternyata memberikan riwayat lain yang memiliki maksud berbeda dari hadits tersebut. Informasi tunggal, dalam hadits yang sangat begitu banyaknya, kurang baik jika dipahami sepotong-potong, tanpa mempertimbangkan adanya hadits-hadits lain.

Kedua, mengetahui kemungkinan nasikh dan mansukh dari suatu hadits. Menurut ulama, semisal larangan Rasulullah SAW terkait satu hal bisa dibolehkan jika ada keterangan baru yang menyebutkan kebolehannya. 

Oleh sebagian ulama, hadits di atas tentang larangan ziarah kubur di atas termasuk dalam nasikh dan mansukh hadits. Selain melalui pernyataan Nabi sendiri, keterangan nasikh dan mansukh ini bisa diketahui dari keterangan sahabat, catatan sejarah atau ijma’ ulama terkait hal itu.

Ketiga, melakukan tarjih riwayat hadits. Hadits satu dan yang lain, selagi masih bisa diupayakan untuk membandingkan tingkat kesahihan, atau membandingkan riwayat satu dengan yang lain dalam lafalnya. Hal ini tentu dalam tingkatan yang dilakukan para ahli hadits yang sangat mumpuni.

Ketika para ulama tidak menemukan jalan keluar dari tiga metode di atas, para ulama mengambil sikap untuk tidak memberikan kesimpulan terlebih dahulu, atau tawaqquf, sampai ada keterangan lebih lanjut dari orang yang sudah meneliti pertentangan tersebut. Tapi hal ini konon jarang terjadi.

Mengetahui bahwa ternyata dalam periwayatan hadits banyak sekali adanya pertentangan, perlu dipahami bahwa dalam belajar agama, utamanya hadits, tidak dapat hanya sekedar mengenal satu hadits saja, melainkan juga harus mengetahui lainnya. 

Dengan demikian, kesimpulan hukum agama tentang satu hal tidak diambil terburu-buru, apalagi didakwahkan seakan-akan agama menjadi kaku. Ulama terdahulu telah mengajarkan kepada kita, bahwa dalam mempelajari agama, tidak bisa hanya mengandalkan informasi tunggal yang tidak dicermati benar-benar. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)

Jumat 15 Desember 2017 17:28 WIB
MUSTHALAH HADITS
Ini Tiga Ilmu Bantu untuk Memahami Hadits Rasulullah SAW
Ini Tiga Ilmu Bantu untuk Memahami Hadits Rasulullah SAW
(© pinterest)
Sebagaimana halnya Al-Quran, hadits juga mempunyai rumpun keilmuan yang beragam. Seseorang tidak dibenarkan untuk berdalil dengan menggunakan hadits Nabi Muhammad SAW sebelum menguasai secara mendalam ragam keilmuan hadits tersebut.

Hal ini berterima dalam akal sehat sederhana karena juga diterapkan dalam segala rumpun keilmuan yang ada. Seseorang tidak dibenarkan mengambil tindakan medis terhadap orang yang sakit kecuali kalau dia mempunyai sertifikat dokter dan menguasai ilmunya. Begitu juga, seseorang tidak diizinkan untuk mengajar kecuali jika ia menguasai bidang yang ia ajar dan lain sebagainya.

Almarhum Kiai Ali Mustafa Yaqub, salah seorang pakar hadits Nusantara, menjelaskan dalam salah sebuah bukunya sebagai berikut:

وتنحصر دراسات الحديث النبوي في العصر الحاضر على ثلاثة أمور : الأول ما يتعلق بمصطلح الحديث بما في ذلك الدفاع عن الحديث ضد منكري الحديث والمستشرقين. والثاني ما يتعلق بطرق تخريج الحديث ونقد المتون والأسانيد. والثالث ما يتعلق بفهم الحديث النبوي.

Artinya, “Kajian hadits pada masa sekarang terbagi menjadi tiga bahasan. Pertama, berkaitan dengan dengan Ilmu Musthalah Hadits, termasuk untuk mempertahankan hadits dari serangan orang-orang yang menolak hadits dan para orientalis. Kedua, berkaitan dengan metode takhrij serta kritik matan dan sanad hadits. Ketiga, bahasan yang berkaitan dengan metode pemahaman hadits.”

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa seseorang baru bisa dikatakan sebagai ahli hadits dalam konteks sekarang ketika dia menguasai tiga ilmu berikut:

Pertama, Ilmu Musthalah Hadits, yaitu ilmu yang berisi tentang istilah-istilah dasar dalam ilmu hadits, seperti apa yang dimaksud dengan sanad dan matan. Apa itu hadits sahih, hasan dan dhaif. Apa saja kriteria sebuah hadits disebut sahih, hasan dan dhaif. Apa yang dimaksud dengan istilah mutawatir lafzhi dan mutawatir maknawi. Apa yang dimaksud dengan hadits ahad dan variannya dan lain sebagainya.

Ilmu ini berfungsi untuk mempertahankan eksistensi hadits sebagai sumber kedua hukum Islam dari cengkeraman orang-orang yang tidak menyukainya.

Kedua, Ilmu Takhrij dan Dirasah Sanad, yaitu ilmu yang berisi tatacara mengidentifikasi sebuah teks apakah benar ia berstatus sebagai hadits Nabi atau bukan. Selain itu, ilmu ini juga berfungsi untuk membuktikan tingkat validitas sebuah ungkapan, apakah ia hadits sahih, hasan, atau dhaif dengan menganalisis segala sesuatu yang terdapat di dalam sanadnya.

Dengan menguasai ilmu ini, seseorang dapat mengatakan bahwa hadits ini bernilai sahih karena sanadnya bersambung hingga kepada Nabi Muhammad SAW dan semua perawi (pembawa beritanya) berstatus jujur dan adil, serta hasil penelitian lainnya.

Ketiga, Ilmu Thuruq Fahmil Hadits, yaitu ilmu yang berisi tentang tatacara serta kaidah-kaidah khusus dalam memahami teks hadits seperti kaidah tidak semua hadits sahih langsung diamalkan, tidak semua hadits dhaif langsung ditolak, kaidah membedakan antara hadits yang mengandung syariat dan hadits yang hanya sebatas budaya lokal Arab semata dan lain sebagainya.

Ilmu ini sangat penting dalam ranah pengaplikasian hadits sehingga orang yang menguasainya diharapkan dapat memahami konteks sebuah hadits dengan baik dan benar. Wallahu a’lam. (Yunal Isra)

Rabu 13 Desember 2017 22:1 WIB
MUSTHALAH HADITS
Posisi Hadits dalam Hukum Islam
Posisi Hadits dalam Hukum Islam
Hadits dalam hukum Islam dianggap sebagai mashdarun tsanin (sumber kedua) setelah Al-Quran. Ia berfungsi sebagai penjelas dan penyempurna ajaran-ajaran Islam yang disebutkan secara global dalam Al-Quran. Bisa dikatakan bahwa kebutuhan Al-Quran terhadap hadits sebenarnya jauh lebih besar ketimbang kebutuhan hadits terhadap Al-Quran.

Kendati demikian, seorang Muslim tidak dibenarkan untuk mengambil salah satu dan membuang yang lainnya karena keduanya ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Untuk mengeluarkan hukum Islam, pertama kali para ulama harus menelitinya di dalam Al-Quran. Kemudian setelah itu, baru mencari bandingan dan penjelasannya di dalam hadits-hadits Nabi karena pada dasarnya tidak satupun ayat yang ada dalam Al-Quran kecuali dijelaskan oleh hadits-hadits Nabi.

Dengan sinergi beberapa ayat dan hadits tersebut, seorang ulama bisa memutuskan hukum-hukum agama sesuai dengan persoalan yang dihadapi, tentunya dengan dukungan ilmu dan perangkat pengetahuan yang mumpuni terhadap kedua sumber tersebut.

Menurut Abdul Wahab Khallaf, seorang ahli hukum Islam berkebangsaan Mesir, hadits mempunyai paling tidak tiga fungsi utama dalam kaitannya dengan Al-Quran :

Pertama, hadits berfungsi sebagai penegas dan penguat segala hukum yang ada dalam Al-Quran seperti perintah shalat, puasa, zakat dan haji. Abdul Wahab Khallaf mengatakan,

إما أن تكون سنة مقررة ومؤكدة حكما جاء في القرآن

Artinya, “Adakalanya hadits berfungsi sebagai penegas dan penguat terhadap hukum yang ada dalam Al-Quran.”

Kedua, hadits juga berfungsi sebagai penjelas dan penafsir segala hukum yang bersifat global dalam Al-Quran, seperti menjelaskan tatacara shalat, puasa, zakat dan haji.

إما أن تكون سنة مفصلِّة ومفسِّرة لما جاء في القرآن

Artinya, “Adakalanya hadits berfungsi sebagai penjelas dan penafsir terhadap hukum global/umum yang disebutkan dalam Al-Quran.”

Ketiga, hadits juga berfungsi sebagai pembuat serta memproduksi hukum yang belum dijelaskan oleh Al-Quran seperti hukum mempoligami seorang perempuan sekaligus dengan bibinya, hukum memakan hewan yang bertaring, burung yang berkuku tajam dan lain sebagainya. Khallaf kembali mengatakan sebagai berikut.

وإما أن تكون سنة مثبِتَة ومنشِئَة حُكما سكت عنه القرآن

Artinya, “Adakalanya hadits berfungsi sebagai penetap dan pencipta hukum baru yang belum disebutkan oleh Al-Quran.”

Dengan demikian, karena begitu pentingnya posisi hadits dalam konsepsi hukum Islam, maka seseorang yang akan berkecimpung di dalamnya diharuskan untuk mengenal istilah dasar dalam ilmu hadits, menguasai kaidah-kaidah takhrij dan kajian sanadnya, serta mengetahui seluk beluk dan tatacara memahami redaksinya.

Pembacaan yang tidak paripurna serta serampangan terhadap hadits akan membuat seseorang keliru dan bahkan juga membuat keliru orang lain. Wallahu a’lam. (Yunal Isra)