IMG-LOGO
Bahtsul Masail

Hukum Trading Forex

Jumat 5 Januari 2018 9:2 WIB
Share:
Hukum Trading Forex
(© pinterest)
Assalamu alaikum wr wb
Redaksi Bahtsul Masail NU Online. Seiring berkembangnya dunia internet di kalangan masyarakat, timbul budaya baru berupa senang menghasilkan uang secara instan dan mudah, misalnya seperti bermain forex atau jual beli mata uang. Pertanyaannya, apa hukum bermain dalam dunia Forex. Terima kasih atas penjelasannya. Wassalamu alaikum wr wb. (Anwar/Cibarusah, Bekasi)

Jawaban
Wa’alaikum salam wr. wb.
Penanya yang budiman. Semoga Saudara Anwar senantiasa dirahmati dan diberkahi oleh Allah SWT. Pada dasarnya Allah SWT menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Terkait dengan hukum transaksi via eletronik, Muktamar NU ke-32 di Makassar Tahun 2010 menyatakan boleh dilakukan manakala barang yang diperdagangkan (mabi’) memiliki unsur yang jelas menurut ciri dan sifatnya secara urfy. Jika hal ini dibawa pada kasus perdagangan kurs mata uang, maka nilai kurs yang diketahui oleh masing-masing pihak penjual dan pembeli dalam pasar bursa valuta merupakan bagian dari ‘urfy tersebut.

Penanya yang budiman. Forex (foreign exchange) pada dasarnya merupakan transaksi tukar menukar valuta (mata uang asing). Hukum barter mata uang asing di pasaran tunai pada dasarnya adalah boleh. Hal ini berangkat dari makna zhahir hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih Bukhary, Kitab Al-Buyu’:

وبيعوا الذهب بالفضة والفضة بالذهب كيف شئتم

Artinya, “Dagangkanlah emas dengan perak dan perak dengan emas sekehendakmu.”

Selanjutnya, kita lihat dulu sistem perdagangan forex di pasar onlinenya. Apakah sistem ini memenuhi rukun jual beli? Kita harus menelitinya terlebih dahulu.

Sebuah transaksi jual beli diperbolehkan manakala barang yang diperjualbelikan adalah bukan barang yang haram, tidak terdapat unsur menipu, menyembunyikan yang cacat, dan mengandung unsur judi (maisir)/spekulatif. Maksud dari spekulatif ini adalah semacam tebak menebak harga. Kalau beruntung mendapatkan barang yang bagus, kalau tidak beruntung mendapatkan barang yang jelek. Syekh Yusuf Al-Qaradhawy dalam Kitab Al-Halal wal Haram halaman 273 menjelaskan:

الميسرـــ هو كل ما لا يخلوا اللاعب فيه من ربح أو خسارة

Artinya, “Al-maisir adalah segala hal yang memungkinkan seorang pemain mengalami untung atau rugi.”

Biasanya unsur spekulatif didasari oleh adanya “tidak diketahuinya harga” saat “pembeli memutuskan membeli” dengan “saat diterimanya barang pembelian.” Imam Nawawi dalam Kitab Al-Majmuk Syarah Al-Muhadzdzab menyebut transaksi model ini sebagai bai’u hablil hablah, yaitu jual beli kandungannya anak yang masih ada di dalam kandungan. Madzhab Syafi’i dan himpunan para ahli ushul menyebutkan bahwa jual beli semacam ini adalah bathil disebabkan adanya perbedaan harga saat awal transaksi dengan saat diterimanya barang. Hal ini berangkat dari penafsiran hadits riwayat Imam Muslim dalam Kitab Shahih Muslim:

نهى عن بيع حبل الحبلة

Artinya, “Rasulullah melarang jual beli kandungannya kandungan.”

Dari pelbagai keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa jual beli valas di pasar tunai hukumnya boleh. Namun di pasar online, hukumnya diperinci:

1.Haram, manakala harga tidak sesuai dengan saat pembeli memutuskan melakukan transaksi dengan saat transaksi tersebut diterima oleh penjual (broker).

2.Boleh, manakala harga saat beli adalah sama dengan saat diterimanya transaksi oleh penjual (broker).

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.



(Muhammad Syamsudin)

Share:
Rabu 3 Januari 2018 21:25 WIB
Hukum Bermakmum dengan Imam Lain Madzhab
Hukum Bermakmum dengan Imam Lain Madzhab
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Redaksi bahtsul masail NU Online, sebelumnya, izinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Sulkhan, seorang mahasiswa baru di salah satu universitas di Yogyakarta. Saya ingin bertanya, bagaimana hukumnya jika orang yang bermadzhab Imam Syafi'i yang notabene mewajibkan basmalah pada setiap Surat Al-Fatihah dalam shalat menjadi makmum terhadap imam yang tidak membaca basmalah pada Surat Al-Fatihah dalam shalat (bisa jadi madzhab lain, Muhammadiyah atau juga Wahabi)? Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb. (Sulkhan/ Yoyakarta).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmatNya untuk kita semua. Keragaman di negara kita ini tidak dapat dihindarkan. Ia adalah keniscayaan yang merupakan sunatullah yang patut untuk disyukuri dan disikapi dengan bijak, tidak terkecuali dalam urusan keyakinan bermadzhab.

Membaca basmalah dalam Surat Al-Fatihah memang menjadi permasalahan yang diperselisihkan di antara ulama. Menurut Madzhab Syafi’I, membaca basmalah di setiap rakaat sebelum membaca Surat Al-Fatihah adalah wajib. Kalangan madzhab Hanafi dan Hanbali berpendapat sunah. Menurut madzhab Maliki, hukumnya makruh sebagai tercantum pada kitab Al-Fiqh alal Madzahibil Arba'ah karya Syekh Abdurrahman Al-Jaziri, Beirut, Darul Fikr, 2008 M, juz I, halaman 221.

Dalam kaitannya dengan shalat berjama’ah, menurut pendapat kuat dalam madzhab Syafi’i, salah satu yang harus terpenuhi bagi makmum adalah tidak meyakini batal shalat imamnya. Semisal makmum bermadzhab Syafi’i yang meyakini wajibnya basmalah, sedangkan imamnya bermadzhab Hanafi yang meninggalkan bacaan basmalah karena meyakini bahwa basmalah hanya sunah. Dalam kasus tersebut, shalatnya makmum tidak sah.

Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Al-Minhajul Qawim mengatakan sebagai berikut:

وَأَنْ لَا يَعْتَقِدَ بُطْلَانَهَا ) أَيْ بُطْلَانَ صَلَاةِ إِمَامِهِ ...اِلَى اَنْ قَالَ...(كَحَنَفِيٍّ) أَوْ غَيْرِهِ اِقْتَدَى بِهِ شَافِعِيٌّ وَقَدْ (عَلِمَهُ تَرَكَ فَرْضًا) كَالْبَسْمَلَةِ مَا لَمْ يَكُنْ أَمِيْراً أَوِ الطُّمَأْنِيْنَةِ أَوْ أَخَلَّ بِشَرْطٍ كَأَنْ لَمِسَ زَوْجَتَهُ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ فَلَا يَصِحُّ اقْتِدَاءُ الشَّافِعِيِّ بِهِ حِيْنَئِذٍ اِعْتِبَارًا بِاعْتِقَادِ الْمَأْمُوْمِ لِأَنَّهُ يَعْتَقِدُ أَنَّهُ لَيْسَ فِيْ صَلَاةٍ

Artinya, “Di antara syarat berjama’ah adalah makmum tidak meyakini batalnya shalat imamnya. Seperti imam yang bermadzhab Hanafi yang diikuti oleh makmum bermadzhab Syafi’i, sementara makmum Syafi’i mengetahui imamnya yang bermadzhab Hanafi meninggalkan kewajiban menurut keyakinannya seperti membaca basmalah atau thuma’ninah, selama imamnya bukan pemimpin. Atau makmum mengetahui imamnya meninggalkan syarat sah shalat seperti memegang istrinya dan langsung shalat tanpa berwudhu’ terlebih dahulu. Maka tidak sah shalatnya makmum yang bermadzhab Syafi’i dalam permasalah ini, karena mempertimbangkan keyakinan makmum, sebab ia meyakini bahwa imamnya tidak berada dalam shalat yang sah,” (Lihat Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhajul Qawim Hamisy Hasyiyah At-Tarmasi, Jeddah, Darul Minhaj, cetakan pertama, 2011, juz III, halaman 700).

Sementara menurut pendapat lemah dari madzhab Syafi’i, permasalahan sahnya berjama’ah dititikberatkan pada keyakinan imamnya, meskipun menurut madzhab yang dianut makmum menghukumi tidak sah. Dalam permasalahan imamnya yang tidak membaca basmalah karena ia bermadzhab Hanafi, sementara makmumnya bermadzhab Syafi’i yang meyakini kewajiban basmalah, maka shalatnya makmum tetap dinyatakan sah. Karena imam sudah benar melakukan tuntunan shalat sesuai dengan madzhab yang dianutnya. Berbeda apabila yang imamnya bermadzhab Hanafi melakukan kesalahan menurut madzhabnya, meskipun menurut madzhab makmumnya bukan merupakan sebuah kesalahan, maka shalatnya makmum tidak sah.

Syekh Al-Khathib As-Syarbini mengatakan:

وَلَوْ اقْتَدَى شَافِعِيٌّ بِحَنَفِيٍّ ) فَعَلَ مُبْطِلًا عِنْدَنَا دُونَهُ كَأَنْ ( مَسَّ فَرْجَهُ ) أَوْ تَرَكَ الطُّمَأْنِينَةَ أَوْ الْبَسْمَلَةَ أَوْ الْفَاتِحَةَ أَوْ بَعْضَهَا ( أَوْ ) عِنْدَهُ دُونَنَا كَأَنْ ( افْتَصَدَ فَالْأَصَحُّ الصِّحَّةُ ) أَيْ صِحَّةُ الِاقْتِدَاءِ ( فِي الْفَصْدِ دُونَ الْمَسِّ ) وَنَحْوِهِ مِمَّا تَقَدَّمَ ( اعْتِبَارًا بِنِيَّةِ ) أَيْ اعْتِقَادِ ( الْمُقْتَدِي ) لِأَنَّهُ مُحْدِثٌ عِنْدَهُ بِالْمَسِّ دُونَ الْفَصْدِ ، وَالثَّانِي عَكْسُ ذَلِكَ اعْتِبَارًا بِاعْتِقَادِ الْمُقْتَدَى بِهِ

Artinya, “Apabila makmum penganut madzhab Syafi’i mengikuti imam penganut madzhab Hanafi yang melakukan perkara yang membatalkan shalat menurut keyakinan makmum, bukan keyakinan imam, seperti memegang kemaluan, meninggalkan thuma’ninah, basmalah, Surat Al-Fatihah atau sebagiannya, atau jika imam melakukan perkara yang membatalkan menurut keyakinannya, bukan menurut keyakinan makmum, seperti berbekam (menurut madzhab Hanafi dapat membatalkan wudhu’, sementara menurut madzhab Syafi’i tidak membatalkan), maka menurut pendapat kuat shalat jama’ahnya makmum sah dalam permasalahan imamnya berbekam, bukan permasalahan menyentuh kemaluannya, karena mempertimbangkan pada keyakinan makmum. Sebab imam dinyatakan berhadats menurut keyakinan makmum karena menyentuh kemaluan, bukan karena berbekam. Menurut pendapat kedua, berkebalikan dari pendapat pertama (sah dalam permasalahan imamnya menyentuh kemaluan, dan tidak sah dalam persoalan imamnya berbekam), karena mempertimbangkan kepada keyakinan imam,” (Lihat Syekh Khathib As-Syarbini, Mughnil Muhtaj, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, cetakan ketiga, 2011 M, juz I, halalaman 332).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hukum shalatnya makmum yang bermadzhab Syafi’i sebagaimana ditanyakan oleh penanya di atas merupakan ikhtilaf di kalangan ulama. Menurut pendapat kuat, tidak sah. Sementara menurut pendapat lemah, sah.

Kedua pendapat tersebut memiliki tendensi masing-masing. Keduanya dapat diikuti. Saran kami, dalam kondisi tidak terdesak, sebisa mungkin agar makmum memastikan shalatnya imam tidak batal menurut keyakinan yang dianut makmum. Namun apabila kondisinya menuntut agar bermakmum kepada imam yang berbeda madzhab, seperti untuk menjaga keharmonisan hubungan bertetangga, maka tidak ada salahnya mengikuti pendapat kedua dari madzhab Syafi’i yang menghukumi sah sebagaimana penjelasan di atas.

Demikian semoga bermanfaat. Semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk konsisten menjalankan ibadah. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,  
Wassalamu 'alaikum Wr. Wb.


(M Mubasysyarum Bih)
Ahad 31 Desember 2017 22:0 WIB
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Antara Sunah dan Bid'ah
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Antara Sunah dan Bid'ah
(© picssr.com)
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, sebagian besar umat Islam memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW setiap tahunnya. Peringatan itu diadakan kadang tidak persis tepat di tanggal dan bulan kelahirannya. Banyak mereka yang mengadakan bahkan sebulan atau dua bulan setelah dari hari kelahirannya. Sementara sebagian Muslim lainnya mempersoalkan peringatan maulid yang menurut mereka tidak memiliki landasan hukum dalam Islam. Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Saiful Huda/Kalimantan Selatan).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Diskusi umat Islam terkait peringatan maulid hingga kini belum berhenti. Sebagian orang mempermasalahkan dasar peringatan maulid sehingga bagi sebagian orang peringatan maulid merupakan perkara bid’ah, suatu amalan yang tidak pernah ada di masa Rasulullah dan bersifat tercela.

Sebagian ulama memandang bahwa peringatan maulid Nabi Muhammad SAW dipahami sebagai bentuk syukur terhadap Allah. Ibadah sebagai rasa syukur kepada Allah atas sesuatu kegembiraan menemukan landasannya sehingga peringatan maulid Nabi Muhammad SAW adalah sunah sebagai keterangan berikut ini:

واستنبط الحافظ ابن حجر تخريج عمل المولد على أصل ثابت في السنة وهو ما في الصحيحين أن النبي صلى الله عليه وسلم قدم المدينة فوجد اليهود يصومون يوم عاشوراء فسألهم فقالوا هو يوم أغرق الله فيه فرعون ونجى موسى ونحن نصومه شكرا

Artinya, “Syekh Ibnu Hajar melakukan istinbath amaliyah maulid pada landasan di dalam sunah, yaitu riwayat di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim bahwa Rasulullah SAW tiba di Kota Madinah dan mendapati masyarakat Yahudi berpuasa Asyura. Ketika Rasulullah SAW menanyakan masalah ini, mereka menjawab, ‘Ini adalah hari di mana Allah menenggelamkan Fir‘aun’ dan menyelamatkan Nabi Musa AS. Kami berpuasa sebagai bentuk syukur kepada Allah,’” (Lihat Sayyid Bakri bin Sayid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I‘anatut Thalibin, Beirut, Darul Fikr, 2005 M/1425-1426 H, juz III, halaman 414-).

Sebagian ulama, Syekh Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki Al-Hasani, mencoba menjelaskan lebih jernih masalah peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. Sebelum bicara lebih jauh soal vonis terhadap maulid dalam timbangan syariat Islam, Sayyid Muhammad Alwi menjelaskan hal paling mendasar perihal ini. hal ini dimaksudkan agar diskusi tidak melebar ke luar masalah yang dibicarakan.

Menurut Sayyid Muhammad Alwi, pokok masalah dalam diskusi soal peringatan maulid ini sebenarnya sederhana. Pertama, yang harus dijawab terlebih dahulu adalah status apa yang kita kenakan untuk peringatan maulid. Apakah peringatan maulid itu ibadah atau adat/tradisi? Ini pertanyaan fundamental yang perlu dijawab terlebih dahulu. Dari pertanyaan ini, kita–menurutnya–dapat membahas masalah dengan klir.

Sayyid Muhammad Alwi mengatakan bahwa peringatan maulid itu bersumber dari tradisi yang dilakukan umat Islam turun temurun. Oleh karena hanya tradisi, maka peringatan maulid tidak bisa divonis sebagai bid‘ah. Pasalnya, dalam kajian Islam sesuatu yang bisa divonis sebagai sebuah bid‘ah atau sunah adalah amal ibadah, bukan amal tradisi atau adat sebagaimana keterangan Sayyid Muhammad Alwi berikut ini:

وقد كتبنا عن المولد النبوي كثيرا، وتحدثنا عنه في الإذاعة والمجامع العامة مرارابما يظهر معه وضوح مفهومنا عن المولد الشريف. إننا نقول – وقد قلنا من قبل – إن الاجتماع لأجل المولد النبوي الشريف ما هو إلا أمر عادي وليس من العبادة من شيء، وهذا ما نعتقده وندين الله تعالى به. وليتصور من شاء ما يتصور؛ لأن الإنسان هو المصدق فيما يقوله عن نفسه وحقيقة معتقده لا غيره. ونحن نقول في كل محفل ومجمع ومناسبة: إن هذا الاجتماع بهذه الكيفية أمر عادي ليس من عبادة من شيء، فهل يبقى هذا إنكار لمنكر واعتراض لمعترض، لكن المصيبة الكبرى في عدم الفهم ولهذا يقول الإمام الشافعي: "ما جادلت عالما إلا غلبته ولا جادلت جاهلا إلا غلبني"

Artinya, “Kami sudah sering menulis perihal mauled nabi. Kami telah membicarakan ini berkali-kali di radio dan forum terbuka dengan penjelasan yang kami pahami atas maulid nabi. Kami mengatakan, sebagaimana yang sudah-sudah– bahwa forum yang diadakan untuk memperingati kelahiran nabi tidak lain adalah masalah adat atau tradisi saja dan bukan ibadah sama sekali. Ini akidah yang kami yakini dan agama Allah yang kami peluk. Silakan siapa saja boleh membayangkan pertemuan ini karena kecenderungan manusia  itu tidak lain mau benar sendiri dan apa yang dibayangkan olehnya. Di setiap peringatan, pertemuan, dan kesempatan, kami mengatakan bahwa pertemuan untuk peringatan maulid dengan rangkaian acara seperti ini adalah masalah adat atau tradisi, bukan ibadah. Apakah harus ada lagi pengingkaran atau penolakan atas masalah ini? tetapi musibah terbesar adalah gagal paham. Oleh karena itu Imam As-Syafi’i berkata, ‘Kalau menghadapi debat dengan orang alim cendekia, aku selalu menang. Tetapi kalau debat menghadapi orang bodoh, aku kalah,’” (Lihat Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, Mafahim Yajibu an Tushahhah, Surabaya, Haiatus Shafwah Al-Malikiyyah, tanpa catatan tahun, halaman 339-340).

Sayyid Muhammad Alwi mengatakan bahwa dalam membahas maulid perbedaan antara ibadah dan adat/tradisi ini harus diperjelas dulu di awal. Kalau tidak, maka diskusi akan melebar ke luar substansi persoalan. Siapa bicara apa saja dan siapa saja dapat berbicara apa. Padahal perbedaan antara ibadah dan adat/tradisi adalah masalah sepele yang santri junior sekalipun dapat memahaminya dengan mudah.

إن أقل الطلاب علما يعلم الفرق بين العادة والعبادة وحقيقة هذه وتلك. فإذا قال القائل: هذه عبادة مشروعة بكيفيتها، نقول له: أين الدليل؟ وإذا قال هذه عادة، نقول له: اصنع ما تشاء، لأن الخطر كل الخطر والبلاء الذي نخشاه كلنا هو أن يلبس ثوب العبادة لفعل مبتدع غير مشروع بل من اجتهاد البشر: هذا ما لا يرضاه بل نحاربه ونحذر به

Artinya, “Santri paling junior sekalipun dapat membedakan kedudukan atau hakikat tradisi dan ibadah. Kalau ada orang mengatakan, ‘Peringatan maulid itu adalah ibadah yang disyariatkan cara pelaksanaannya.’ Kami akan bertanya, ‘Mana dalilnya?’ kalau orang itu mengatakan bahwa peringatan maulid adalah hanya tradisi, maka kami mengatakan, ‘Silakan, lakukan sesukamu.’ Bahaya dan bala yang kita khawatirkan adalah ‘pakaian’ ibadah yang dikenakan untuk perbuatan bid‘ah yang tidak disyariatkan, tetapi hasil ijtihad manusia. Ini justru tidak diridhai Allah, yang kita perangi dan waspadai,” (Lihat Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani, Mafahim Yajibu an Tushahhah, Surabaya, Haiatus Shafwah Al-Malikiyyah, tanpa catatan tahun, halaman 340).

Dari keterangan ini Sayyid Muhammad Alwi sekapat bahwa segala bentuk bidah harus dihapus karena tidak sesuai dengan syariat. Tetapi apakah peringatan maulid adalah bid’ah, di sini Sayyid Muhammad Alwi tidak sepakat. Baginya, peringatan maulid hanya adat/tradisi belaka sehingga berada di luar vonis sunah atau bid‘ah.

Meskipun hanya tradisi, Sayyid Muhammad Alwi menganjurkan umat Islam untuk terus mengadakan peringatan maulid karena acara itu mengandung kalimat-kalimat thayyibah, sifat-sifat terpuji Rasulaullah SAW, nasihat-nasihat, keberkahan, dan faidah lainnya.

Hemat kami, uraian Sayyid Muhammad Alwi cukup klir. Untuk mengurai persoalan yang tidak kunjung selesai didiskusikan umat Islam, ia memetakan terlebih dahulu peringatan maulid ke dalam sunah atau adat. Dari situ, kajian bergerak fokus pada persoalan. Dengan pemetaan masalah di awal, ia mengantisipasi diskusi bertele-tele dan diskusi di luar substansi masalah yang justru membuat rumit persoalan.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.



(Alhafiz Kurniawan)
Sabtu 30 Desember 2017 9:1 WIB
Hukum Beragama dengan Rujukan Langsung Al-Quran dan Hadits
Hukum Beragama dengan Rujukan Langsung Al-Quran dan Hadits
Assalamu ’alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online yang kami hormati. Kadang kami menjumpai ada seorang yang kadar pengetahuan agamanya masih meragukan karena memang baru belajar Islam belum lama tetapi ia dengan percaya diri mengatakan, “Saya tidak mengikuti salah satu madzhab manapun, saya hanya mengamalkan apa yang disampaikan Al-Quran dan Sunah.”

Ketika ada orang lain yang memberikan penjelasan dengan merujuk kepada ulama yang kompeten dalam bidangnya, ia enggan menerimanya. Hal ini karena disebabkan ia merasa sudah bisa memahami kandungan ayat atau hadits yang ia sampaikan. Yang ingin kami tanyakan apakah sikap orang tersebut dapat dibolehkan? Wassalamu ’alaikum. wr. wb. (Nama Dirahasiakan/Jakarta)

Jawaban
Assalamu ’alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Pengambilan putusan hukum dengan langsung merujuk pada nash Al-Quran maupun hadits adalah pekerjaan yang tidak bisa dilakukan sembarang orang. Hanya orang-orang yang memiliki daya intektual yang memadai dengan ketentuan-ketentuan yang ketat.

Karena memang faktanya memahami sebuah ayat atau hadits bukanlah pekerjaan mudah, dibutuhkan penguasaan berbagai disiplin ilmu seperti ilmu tafsir, ilmu mushtalahul hadits, sharaf, nahwu, dan lain sebagainya. Di samping itu yang tak kalah pentingnya adalah menelisik pandangan-pandangan ulama sebelumnya yang mu’tabar.

Misalnya ketika kita berbicara tentang status hukum kejadian tertentu dengan merujuk kepada Al-Quran atau hadits, maka salah satu hal yang tidak bisa diabaikan adalah memperhatikan pandangan para fuqaha terdahulu tentang bagaimana mereka memahami ayat atau hadits tersebut. Begitu juga pandangan para ahli tafsir atau pensyarah hadits yang sudah mu’tabar atau diakui.

Dari sini kemudian muncul pertanyaan apakah sikap orang tersebut dibolehkan mengingat ia adalah orang yang pengetahuan agamanya masih meragukan karena baru belajar tentang Islam?

Dalam kontkes ini, ada baiknya kami mengetengahkan kembali pandangan Muhammad Amin Al-Kurdi Al-Irbili, seorang ulama besar yang wafat pada tahun 1914, penganut Madzhab Syafi’i dan Tarekat Naqsyabandiyyah. Dalam Kitab Tanwirul Qulub yang merupakan kitab yang sudah masyhur di kalangan pesantren, ia mengatakan sebagai berikut:

وَمَنْ لَمْ يُقَلِّدْ وَاحِدًا مِنْهُمْ وَقَالَ أَنَا أَعْمَلُ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مُدَّعِيًا فَهْمَ اْلأَحْكَامِ مِنْهُمَا فَلاَ يُسْلَمُ لَهُ بَلْ هُوَ مُخْطِئٌ ضَالٌّ مُضِلٌّ سِيَّمَا فِيْ هَذَا الزَّمَانِ الَّذِيْ عَمَّ فِيْهِ الْفِسْقُ وَكَثُرَتْ فِيْهِ الدَّعْوَى الْبَاطِلَةُ  لِأَنَّهُ اسْتَظْهَرَ عَلَى أَئِمَّةِ الدِّيْنِ وَهُوَ دُوْنَهُمْ فِي الْعِلْمِ وَالْعَدَالَةِ وَاْلإِطِّلاَعِ

Artinya, “Barang siapa yang tidak mengikuti salah satu dari mereka (imam-imam madzhab) dan berkata, ‘Saya beramal berdasarkan Al-Quran dan hadits,’ dan mengaku telah mampu memahami hukum-hukum Al-Quran dan hadits, maka orang tersebut tidak bisa diterima. Ia bahkan termasuk orang yang bersalah, sesat dan menyesatkan, terutama pada masa sekarang ini di mana kefasikan merajalela dan banyak tersebar dakwaan atau klaim-klaim batil. Pasalnya, ia ingin mengungguli para pemimpin agama padahal ia di bawah mereka dalam ilmu, amal, integritas, dan analisis,” (Lihat Muhammad Amin Al-Kurdi Al-Irbili, Tanwirul Qulub fi Mu’amalati ‘Allamil Ghuyub, Beirut, Darul Fikr, 1994 M/1414 H, halaman 75).

Jika pandangan Muhammad Amin Al-Kurdi Al-Irbili ini ditarik ke dalam konteks pertanyaan di atas, maka pesan penting yang ingin disampaikan adalah ketidakbolehan bagi kita sebagai orang awam ketika berbicara mengenai persoalan untuk merujuk langsung Al-Quran dan hadits dengan mengabaikan pandangan-pandangan ulama yang sudah dianggap mu’tabar atau diakui dan diterima pendapatnya.

Hal ini lebih dikarenakan kerendahan tingkat keilmuan, amaliah, dan analisis kita dibanding dengan mereka. Lain ceritanya ketika yang berbicara tentang suatu hukum adalah orang-orang yang bisa dikategorikan sebagai orang yang mumpuni, memiliki pengetahuan mendalam dan luas tentang hukum Islam.

Demikian jawaban singkat yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq,
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.



(Mahbub Maafi Ramdlan)