IMG-LOGO
Trending Now:
Jenazah

Doa Takziyah

Senin 8 Agustus 2016 15:3 WIB
Share:
Doa Takziyah
Ilustrasi: Gus Mus saat mengusung keranda KH Warsun Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, April 2013.
Taziyah atau melayat orang yang meninggal dunia merupakan bagian dari ibadah yang dianjurkan dalam Islam, baik sebelum jenazah dikebumikan maupun sesudahnya hingga sekitar tiga hari. Taziyah bermakna membantu, dengan membesarkan hati orang-orang yang ditinggalkan agar sabar, tenang, dan ikhlas terhadap musibah yang dialami. Karena itu nilai taziyah lebih dari sekadar berkunjung ke rumah duka. Ia mengandung pula empati, solidaritas sosial, doa, dan tentu saja pelaksanaan dari anjuran Rasulullah.

Saat melaksanakan taziyah, si pelayat dianjurkan membaca doa berikut ini:

أَعْظَمَ اللهُ أَجْرَكَ وَأَحْسَنَ عَزَاءَكَ وَغَفَرَ لمَيِّتِكَ

A‘dlamaLlâhu ajraka wa ahsana ‘azâ’aka wa ghafaraka li mayyitika

Artinya: "Semoga Allah memperbesar pahalamu, dan menjadikan baik musibahmu, dan mengampuni jenazahmu." (Lihat Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Adzkâr, Penerbit Darul Hadits, Kairo, Mesir)

Atau bisa juga:

إِنَّ لِلهِ تَعَالى مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمَّى فمُرْهَا فَلْتَصْبرْ وَلْتَحْتَسِبْ

Inna liLlâhi taâlâ mâ akhadza wa lahu mâ a’thâ wa kullu syai-in ‘indahu bi ajalin musammâ famurhâ faltashbir wal tahtasib

Artinya: “Sesungguhnya Allah maha memiliki atas apa yang Dia ambil dan Dia berikan. Segala sesuatu mempunyai masa-masa yang telah ditetapkan di sisi-Nya. Hendaklah kamu bersabar dan mohon pahala (dari Allah).” (HR Bukhari dan Muslim)

(Mahbib)
Tags:
Share:
Jumat 15 April 2016 10:15 WIB
Apa yang Dibaca Rasulullah saat Ziarah Kubur?
Apa yang Dibaca Rasulullah saat Ziarah Kubur?
Ziarah kubur termasuk di antara amalan yang dianjurkan dalam Islam. Mengunjungi makam lalu melantunkan dzikir dan doa-doa menjadi sarana (wasilah) seorang hamba untuk menghormati para pendahulu, mendoakan mereka, atau merenungi hidup yang kelak pasti akan berakhir.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam termasuk orang yang tak hanya mempraktikkan ziarah kubur tapi mengajarkan apa yang hendaknya dibaca saat seseorang berkunjung ke tempat pembaringan terakhir itu. Dalam Shahih Muslim dipaparkan bahwa setiap kali keluar rumah pada akhir malam menuju Baqi’ (makam para sahabat di Madinah yang kini menjadi makam Rasulullah sendiri), Rasulullah menyapa penduduk makam dengan kalimat berikut:

السَّلامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنينَ وَأتاكُمْ ما تُوعَدُونَ غَداً مُؤَجَّلُونَ وَإنَّا إنْ شاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاحقُونَ

Assalâmu‘alaikum dâra qaumin mu’minîn wa atâkum mâ tû‘adûn ghadan mu’ajjalûn, wa innâ insyâ-Allâhu bikum lâhiqûn (Assalamu’alaikum, hai tempat bersemayam kaum mukmin. Telah datang kepada kalian janji Tuhan yang sempat ditangguhkan besok, dan kami insyaallah akan menyusul kalian).

Usai membaca salam ini, Rasulullah lalu menyambungnya dengan berdoa “Ya Allah, ampunilah orang-orang yang disemayamkan di Baqi’.” Doa ini bisa kita ganti dengan memohonkan ampun kepada para ahli kubur tempat peziarah berkunjung.

Istiri Baginda Nabi, Siti A’isyah pernah bertanya tentang apa yang seharusnya dibaca kala ia pergi ke kuburan. Rasulullah mengajarkan bacaan dengan redaksi lain, namun dengan substansi yang tetap mirip, yakni mengucapkan salam, mendoakan kebaikan bagi ahli kubur, dan menyadari bahwa peziarah pun suatu saat akan berbaring di dalam tanah. Berikut jawaban Rasulullah: 

السَّلامُ على أهْلِ الدّيارِ مِنَ المُؤْمنينَ وَالمُسْلمينَ وَيَرْحَمُ اللَّهُ المُسْتَقْدِمِينَ مِنْكُمْ وَمِنَّا وَالمُسْتأخِرِين وَإنَّا إنْ شاءَ اللَّه بِكُمْ لاحِقُونَ

Assalâmu ‘alâ ahlid diyâr minal mu’minîna wal muslimîn yarhamukumuLlâhul-mustaqdimîn minkum wa minnâ wal musta’khirîn, wa wa innâ insyâ-Allâhu bikum lâhiqûn (Assalamu’alaikum, hai para mukmin dan muslim yang bersemayam dalam kubur. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka yang telah mendahului dan yang akan menyusul kalian dan [yang telah mendahului dan akan menyusul] kami.  Sesungguhnya kami insyaallah akan menyusul kalian."  

Jawaban Nabi atas pertanyaan Siti A’isyah yang terekam dalam Shahih Muslim itu sekaligus memberi isyarat bahwa ziarah juga bisa dilakukan oleh kaum perempuan. Hanya saja, para peziarah dilarang menangis di atas kuburan. Imam Nawawi dalam Al-Adzkâr mengatakan, para peziarah disunnahkan memperbanyak baca Al-Qur'an, dzikir, dan doa untuk penghuni kubur yang diziarahi serta seluruh umat Islam yang telah meninggal dunia. Ziarah dianjurkan dilaksanakan sesering mungkin dan diutamakan ke kuburan orang-orang saleh. (Mahbib)
Sabtu 23 Januari 2016 22:3 WIB
Menshalatkan Jenazah Teroris dan Koruptor
Menshalatkan Jenazah Teroris dan Koruptor
Aksi teror dan korupsi dengan segala bentuknya dan motifnya mendadak jadi kejahatan paling terkutuk setidaknya pada lima belas tahun terakhir di Indonesia. Bahkan orang-orang yang terlibat atau menikmati dua jenis kejahatan ini ikut juga melaknat perilaku teror dan perilaku koruptif yang dilakukan orang lain.

Aksi teror dan tindak kejahatan korupsi karenanya menjadi musuh masyarakat. Tidak heran saat aksi teror atau tindak kejahatan korupsi tercium oleh media, masyarakat mengumpat pelakunya dengan sebutan “Dajjal”.

Dampak kejahatan setingkat Dajjal ini bisa dilihat dan diraba langsung oleh pancaindra. Banyak sekali kerugian yang diderita oleh masyarakat akibat aksi teror dan tindakan korupsi.

Karena aksi teror, seorang istri menjadi janda, seorang suami menjadi duda, anak-anak menjadi yatim, orang-orang sehat menjadi cacat, aset-aset dan fasilitas umum menjadi rusak, orang-orang menjadi resah.

Sementara korupsi menurunkan derajat kemuliaan seseorang. Yang paling kentara, korupsi meruntuhkan keikhlasan. Mereka yang diamanahkan melayani masyarakat, justru merasa paling berjasa dan mengharapkan imbalan di luar gaji pokok. Layanan untuk masyarakat umum atau mewujudkan kepentingan umum bergeser menjadi layanan untuk kepentingan “pemborong”.

Atas dasar ini kejahatan teror dan perilaku busuk korupsi digolongkan sebagai dosa besar yang dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka. Khazanah ulama menyebutnya sebagai “kaba’ir” dosa besar yang mengundang laknat Allah beserta makhluk-Nya hingga ikan-ikan di dasar laut.

Terlebih lagi kejahatan teror. Kejahatan ini bisa juga masuk ke dalam kategori bid’ah dan zindik. Pasalnya pelaku teror kerap mengharamkan apa yang dihalalkan Allah dan menghalalkan apa yang diharamkan Allah seperti membunuh manusia dalam kondisi aman atau membunuh diri dengan meledakan bom di keramaian.

Aksi sweeping tempat-tempat hiburan atau rumah ibadah agama lain juga termasuk salah satu bentuk teror. Demikian juga aparat birokrasi yang menjadi centeng atas kepentingan-kepentingan perusahaan tertentu dengan mengintimidasi masyarakat demi kelancaran aktivitas perusahaan yang bersangkutan.

Tetapi segagah apa pun, teroris dan koruptor juga tetap mengalami kematian sebagaimana makhluk hidup pada umumnya. Lalu bagaimana kalau mereka wafat? Apakah umat Islam tetap diwajibkan untuk memandikan, mengafankan, menyembahyangkan, dan memakam jenazahnya? Ibnu Rusydi dalam Bidayatul Mujtahid menerangkan sebagai berikut.

وأجمع  أكثر أهل العلم على إجازة الصلاة على كل من قال لا إله إلا الله. وفي ذلك أثر أنه قال عليه الصلاة والسلام "صلوا على من قال " لا إله إلا الله " وسواء كان من أهل كبائر أو من أهل البدع، إلا أن مالكا كره لأهل الفضل الصلاة على أهل البدع، ولم ير أن يصلي الإمام على من قتله حدا. ومن العلماء من لم يجز الصلاة على أهل الكبائر ولا أهل البغي والبدع. وأما كراهية مالك الصلاة على أهل البدع فذلك لمكان الزجر والعقوبة لهم.

"Mayoritas ulama sepakat membolehkan umat Islam untuk menyembahkan jenazah setiap orang yang mengucapkan “Lâ ilâha illallâh” baik jenazah itu pelaku dosa besar maupun ahli bid‘ah. Hanya saja Imam Malik memakruhkan orang-orang terpandang atau terkemuka untuk ikut menyembahyangkan jenazah ahli bid’ah. Tetapi Imam Malik tidak berpendapat perihal pemerintah menyembahyangkan jenazah mereka yang terkena hukuman mati (hudud). Bahkan sebagian ulama tidak memperbolehkan masyarakat menyembahyangkan jenazah pelaku dosa besar, pelaku zina, dan pelaku bid‘ah. Pilihan makruh oleh Imam Malik lebih pada kecaman dan sanksi (sosial) untuk mereka."

Dari keterangan di atas, Ibnu Rusydi mengisyaratkan bahwa ulama, para kiai, para ustadz, modin, amil, dan juga orang terpandang di sebuah masyarakat tidak perlu hadir menyembahkan jenazah teroris, pelaku sweeping, koruptor, mereka yang menyalahgunakan jabatan.

Cukup masyarakat awam yang menghadiri upacara sembahyang dan pemakaman jenazah mereka. Ini merupakan bentuk sanksi sosial dan kecaman keras atas kejahatan-kejahatan besar seperti teror, korupsi, sweeping yang sangat merusak kehidupan masyarakat secara umum. Wallâhu a’lam. (Alhafiz K)

Jumat 22 Januari 2016 21:8 WIB
Menuntun Syahadat Orang Sakratulmaut dan Jenazah
Menuntun Syahadat Orang Sakratulmaut dan Jenazah
Pelafalan kalimat “Lâ ilâha illallâh” dianjurkan untuk mereka yang segar bugar. Pelafalan ini sangat dianjurkan terlebih lagi untuk mereka yang sedang menghitung detik-detik terakhir kehidupannya di dunia. Untuk mereka yang lemah seperti sakrat, orang lain bisa menuntunnya untuk pelafalan kalimat mulia ini. Praktik ini disebut talqin.

Talqin lazimnya dipraktikkan oleh kalangan pelaku tarekat. Tetapi praktik ini dilakukan umat Islam terhadap calon jenazah yang sedang sakratulmaut dan jenazah yang baru saja dimakamkan.

Habib Abdullah bin Husein bin Thahir Ba‘alawi dalam kitab Is‘adur Rafiq wa Bughyatus Shadiq menyebutkan cara menalqin orang sakit yang tengah mengalami peralihan dari alam dunia ke alam barzakh.

وإذا حضرته أمارات الموت ألقي ندبا على شقه الأيمن ووجهه للقبلة كما في اللحد فالأيسر على قفاه ويجعل وجهه وأخمصاه للقبلة ويلقن "لا إله إلا الله" بأن تذكر عنده بلا إلحاح بل يسن إذا قالها عدم إعادة ذكرها إلا إن تكلم بغيرها لتكون آخر كلامه لما صح "من كانت آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة" أي مع الفائزين.

Bila sudah datang tanda-tanda kematian, kita dianjurkan untuk membaringkan orang sakratulmaut itu di atas sisi kanan tubuhnya dan menghadapkan wajahnya ke arah kiblat seperti posisi jenazah di kubur. Sementara tengkuk belakang pada sisi kirinya. Wajah dan bagian tengah badannya dihadapkan ke arah kiblat.

Pada posisi itu kita dianjurkan untuk membimbingnya mengucap “Lâ ilâha illallâh” tanpa mendesaknya (dengan perlahan). Kita (cukup diam) tidak perlu mengulangi “Lâ ilâha illallâh” kalau ia sudah mengucapkannya. Lain soal kalau ia mengucapkan selain “Lâ ilâha illallâh”. Hal ini dimaksudkan agar “Lâ ilâha illallâh” menjadi ucapan terakhir yang keluar dari bibirnya sebagaimana hadits Rasulullah SAW “Siapa saja yang ucapan terakhirnya ‘Lâ ilâha illallâh’, masuk surga”. Maksudnya ia masuk surga bersama orang-orang yang beruntung di akhirat.

Namun patut untuk diperhatikan bahwa orang lain yang menuntun calon jenazah cukup seorang. Orang-orang di sekelilingnya juga diharapkan tidak membaca apapun atau suara-suara gaduh lainnya. Pasalnya, orang yang sedang sakratulmaut membutuhkan suasana tenang. Demikian anjuran Imam An-Nawawi dalam karyanya Al-Adzkar.

Adapun perihal menalqin jenazah yang baru dikebumikan, Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid menerangkan sebagai berikut.

الباب الأول فيما يستحب أن يفعل به عند الاحتضار وبعده. ويستحب أن يلقن الميت عند الموت شهادة أن لا إله إلا الله لقوله عليه الصلاة والسلام "لقنوا موتاكم شهادة أن لا إله إلا الله" وقوله "من كان آخر قوله لا إله إلا الله دخل الجنة"

Bab Pertama memuat perihal praktik yang dianjurkan saat menghadapi orang yang sedang sakratulmaut dan setelah orang itu wafat. Kita dianjurkan menuntun calon jenazah mengucap kalimat syahadat “Lâ ilâha illallâh” sesuai hadits Rasulullah SAW, “Bisikkan lah kalimat syahadat ‘Lâ ilâha illallâh’ kepada mayitmu,” dan hadits “Siapa saja yang ucapan terakhirnya ‘Lâ ilâha illallâh’, masuk surga.”

Kenapa jenazah juga perlu ditalqin? Karena usai dikebumikan, jenazah diharuskan menjawab pertanyaan malaikat yang ditugaskan untuk itu. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)