IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Hadits

Macam-Macam Hadits Dhaif (2)

Jumat 26 Januari 2018 18:8 WIB
Share:
Macam-Macam Hadits Dhaif (2)
Penyebab hadits ditolak atau tidak bisa diterima ada dua: sanadnya tidak bersambung dan di dalam rangkaian sanadnya terdapat perawi yang bermasalah. Pembagian hadits dhaif dilihat dari terputusnya sanad sudah dibahas pada tulisan sebelumnya. Sebab itu, tulisan ini difokuskan pada penyebab kedua, perawi bermasalah.

Masalah perawi hadits biasanya terkait dengan dua aspek: ‘adalah dan dhabt. ‘Adalah berkaitan dengan moralitas atau integritas, sementara dhabt berkaitan dengan kekuatan hafalan.

Sebagaimana dijelaskan Mahmud Thahan dalam Taisiru Mustalahil Hadits, penyebab rusaknya ‘adalah seorang perawi karena suka berbohong, fasik atau pelaku maksiat, melakukan bid’ah tercela, dan lain-lain. Sementara penyebab rusaknya dhabt adalah karena sering lupa, hafalannya tidak bagus, sering salah, dan berbeda dengan orang yang lebih kuat hafalannya.

Berdasarkan penyebab di atas, ulama hadits membagi hadits dhaif menjadi beberapa macam. Di antara pembagiannya sebagai berikut:

Maudhu
Maudhu’ termasuk hadits yang paling parah kedhaifannya, bahkan sebetulnya maudhu’ bukanlah hadits karena tidak termasuk dari perkataan, perbuatan, dan ketetapan Rasul. Sebab itu, sebagian ulama tidak memasukkan maudhu’ sebagai kategori hadits dhaif.

Dalam musthalah hadits, maudhu’ berati:

هو الكذب المختلق المصنوع المنسوب إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم

Artinya, “Berita bohong yang dibuat-buat dan disandarkan kepada Rasulullah.”

Contoh hadits maudhu’ ialah hadits yang dibuat Muhammad bin Sa’id As-Syami. Dia mengatakan bahwa Humaid meriwayatkan hadits dari Anas, kemudian dari Rasulullah yang berkata:

أنا خاتم النبيين لا نبي بعدي إلا أن يشأ الله

Artinya, “Aku penutup para Nabi. Tidak ada Nabi setelahku, kecuali bila Allah menghendaki.”

Pernyataan di atas bukanlah perkataan Rasulullah, tetapi perkataan yang dibuat Muhammad bin Sa’id. Ini termasuk contoh hadits maudhu’ dan tidak boleh disebarluaskan kecuali dibarengi dengan penjelasan status haditsnya.

Matruk
Matruk ialah:

هو الحديث الذي في اسناده راو متهم بالكذب

Artinya, “Hadits yang terdapat di dalam sanadnya rawi yang terduga kuat berdusta.”

Mahmud Thahan menjelaskan, perawi hadits diduga kuat berdusta karena dua alasan: pertama, hadits tersebut tidak diriwayatkan kecuali darinya dan bertentangan dengan kaidah umum atau prinsip umum beragama; Kedua, di dalam sanad hadits ditemukan seorang perawi yang dalam kehidupan sehari-harinya suka berbohong.

Cara mengetahui perawi hadits berdusta atau tidak adalah dengan merujuk kitab biografi perawi hadits yang sudah didokumentasikan oleh ulama hadits. Kitab biografi tersebut menjelaskan nama lengkap perawi, guru dan muridnya, biografi kehidupannya, termasuk kredibilitas dan kekuatan hafalannya. Di antara buku biografi perawi hadits yang populer adalah Siyar A’lamin Nubala karya Adz-Dzahabi, Al-Jarhu wat Ta’dil karya Abu Hatim Ar-Razi, dan lain-lain.

Munkar
Ulama tidak satu suara dalam mendefenisikan hadits munkar. Ada banyak defenisi hadits munkar, tetapi yang paling populer ada dua defenisi:

هو الحديث الذي في اسناده راو فحش غلطه أو كثرت غفلته أو ظهر فسقه

Artinya, “Hadits yang di dalam sanadnya terdapat rawi yang sering salah atau suka lupa, dan tampak kefasikannya.”

Ada juga yang mendefenisikan dengan:

هو ما رواه الضعيف مخالفا لما رواه الثقة

Artinya, “Hadits yang diriwayatkan perawi dhaif bertentangan dengan perawi yang tsiqah.”

Dari dua defenisi di atas dapat dipahami bahwa hadits munkar adalah hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang sering lupa, sering melakukan kesalahan, dan berbuat fasik terang-terangan. Akibatnya, hadits yang diriwayatkannya itu bertentangan dengan perawi yang tsiqah (kredibel).

Ketiga macam hadits dhaif di atas: maudhu’, matruk, dan munkar termasuk tingkatan hadits dhaif yang paling parah. Artinya, tidak boleh dijadikan landasan dalam beramal, meskipun untuk fadhail a’mal, keutamaan amal ibadah tertentu untuk motivasi. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Share:
Rabu 24 Januari 2018 11:0 WIB
Apakah Hadits Nabi Dicatat Sejak Masa Sahabat?
Apakah Hadits Nabi Dicatat Sejak Masa Sahabat?
Ilustrasi (via wejdan.org)
Dalam kajian ilmu hadits, para ulama kebanyakan menyebutkan bahwa permulaan hadits disusun dan dicatat adalah sekitar abad kedua Hijriyah oleh Ibnu Syihab az Zuhri, atas titah Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Dinasti Umayyah. Pendapat ini dikuatkan oleh Imam Malik bin Anas.

Disebabkan oleh jauhnya jarak waktu antara masa hidup Nabi dengan mulai disusunnya kitab-kitab hadits, hal ini menjadi sasaran kritik pengkaji hadits orientalis maupun kalangan Muslim sendiri. Keaslian hadits sebagai sumber hukum Islam diragukan.

Mereka menyebutkan bahwa keterlambatan penyusunan hadits ini disebabkan beberapa kecenderungan. Pertama, konon budaya lisan di periode awal Islam lebih populer bagi kalangan sahabat dan tabi'in, begitu pula kemampuan hafalan mereka yang luar biasa. Alasan kedua adalah memang Nabi melarang para sahabat untuk menulis hadits. Kemudian yang terakhir, para sahabat memang kebanyakan tidak mampu menulis.

Bagaimana mungkin sejarah yang sudah terpaut nyaris dua abad bisa dicatat secara tepat? Sejauh mana budaya lisan bisa dipercaya dibanding tulisan?

Menjawab hal itu, seorang Begawan hadits Syekh Muhammad Mustafa Azami menyatakan bahwa hadits Nabi telah dicatat sejak masa sahabat. Dalam bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berjudul Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, Syekh Azami menyimpulkan beberapa catatan penting terkait bagaimana hadits sebenarnya telah dicatat sejak masa Rasulullah hidup.

Para sahabat, berikut tabi'in pendahulu, dianggap lebih mengutamakan kemampuan hafalan dan budaya lisan. Hal ini menjadi musykil melihat realitas bahwa meski kecerdasan seseorang bisa sangat hebat, namun tak bisa dipungkiri bahwa melakukan generalisir, gebyah uyah, bahwa seluruh sahabat memang hebat hafalannya adalah kesimpulan yang terburu-buru. Kecerdasan manusia tentu sangat beragam. Maka, pencatatan hadits dibutuhkan sejak masa awal Islam.

Selanjutnya adalah larangan Rasulullah untuk menulis hadits. Azami meneliti sekian hadits yang menjadi alasan bahwa hadits dilarang ditulis oleh Rasulullah. Dari sekian riwayat, hanya satu yang menurut beliau bisa dipertimbangkan, yaitu riwayat dari Abu Said al Khudri dalam Shahih Muslim.

لَا تَكْتُبُوا عَنِّي، وَمَنْ كَتَبَ عَنِّي غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ، وَحَدِّثُوا عَنِّي، وَلَا حَرَجَ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ - قَالَ هَمَّامٌ: أَحْسِبُهُ قَالَ - مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Artinya: “...Janganlah menulis ucapanku, dan barangsiapa menulis ucapanku selain Al-Qur’an, hendaknya ia menghapusnya. Dan barangsiapa mendusta atas diriku – kata Hammam, saya kira. Nabi bersabda – dengan sengaja, maka bersiaplah untuk masuk neraka.”

Terkait larangan Nabi untuk menulis hadits sebagaimana di atas, Imam Khatib al-Baghdadi menyebutkan bahwa beberapa sahabat dan tabi’in memiliki motif tersendiri mengapa mereka enggan untuk mencatat hadits. 

Salah satu alasan yang populer adalah khawatir tercampurnya isi hadits dengan Al Qur’an. Nabi melarang menulis hadits, bersamaan dengan menulis Al-Qur’an alih-alih di lembar yang sama agar tidak campur aduk. Demikian penjelasan hadits di atas, sebagaimana dijelaskan Imam an Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

Nabi selama hidup banyak berurusan dengan banyak penguasa di luar Madinah.Terjadi surat menyurat dari Nabi kepada mereka. Dengan demikian, tentunya para sahabat banyak yang memiliki kemampuan menulis yang baik untuk tugas menulis surat itu. Begitupun Al-Qur’an yang juga banyak ditulis di lembaran maupun pelepah kurma. Alasan bahwa kebanyakan sahabat tidak dapat menulis dapat terbantahkan.

Banyak hadits-hadits shahih yang menyebutkan bahwa Nabi mengizinkan para sahabat untuk menulis hadits dari beliau, baik yang berupa surat, maupun pernyataan dan ibadah beliau. Beberapa sahabat seperti Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, Ali bin Abu Thalib, disebutkan pernah menulis hadits dari Nabi.

Dari berbagai keterangan di atas, penting diketahui meskipun para sahabat dan tabi'in masa awal sangat memerhatikan kemungkinan tercampurnya lafal Al-Qur’an dan hadits, namun hal ini tidak menghalangi bahwa Nabi sendiri sudah memperkenankan hadits-hadits dari beliau untuk dicatat dan disebarkan ke generasi selanjutnya. 

Maka menolak hadits karena alasan bahwa ia tidak tercatat sedari masa Nabi, agaknya kurang tepat. Nabi sendiri memperkenankan hadits dan ucapan beliau ditulis selama tidak bersamaan dengan Al-Qur’an. Penjelasan ini kiranya dapat menambah semangat untuk mempelajari pribadi Nabi secara bijak. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)

Rabu 17 Januari 2018 10:5 WIB
Tinjauan Status Hadits 'Man Arafa Nafsahu Arafa Rabbahu'
Tinjauan Status Hadits 'Man Arafa Nafsahu Arafa Rabbahu'
Salah satu ungkapan yang sangat masyhur di kalangan praktisi tasawuf Islam dari dahulu hingga sekarang adalah man arafa nafsahu arafa rabbahu.

ُمَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه

Artinya, “Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.”

Banyak yang mempertanyakan otentisitas ungkapan tersebut sebagai hadits Nabi. Benarkah ia sebuah petuah yang langsung disampaikan oleh Nabi SAW atau sebatas kata-kata hikmah seorang ulama yang kemudian dinisbahkan kepada Nabi SAW?

Lalu bagaimana pula dengan pemaknaannya, apa relasi antara mengenal diri sendiri dan mengenal Tuhan? Sejauh mana pengenalan seseorang terhadap dirinya bisa mengantarkannya untuk mengenal Tuhannya? Beberapa pertanyaan ini akan dijabarkan dalam tulisan sederhana ini.

Sejumlah sarjana seperti Imam An-Nawawi, Ibnu Taimiyah, Az-Zarkasyi, Ibnu Athaillah, dan lain-lain telah melakukan penelitian serius terkait ungkapan tersebut. Pendapat mereka diracik secara apik oleh Imam As-Suyuthi dalam karyanya Al-Hawi lil Fatawa pada sub bahasan Al-Qaulul Asybah fi Haditsi Man Arafa Nafsahu Faqad Arafa Rabbahu. Terkait persoalan otentisitas, An-Nawawi menegaskan bahwa ungkapan itu tidak mempunyai validitas yang kuat sebagai hadits Nabi. Imam As-Suyuthi mengutip pendapat An-Nawawi sebagai berikut:

وَقَدْ سُئِلَ عَنْهُ النَّوَوِيُّ فِي فَتَاوِيهِ فَقَالَ : إِنَّهُ لَيْسَ بِثَابِتٍ.

Artinya, “Imam Nawawi pernah ditanya terkait ungkapan tersebut di dalam kumpulan fatwanya, lantas ia menjawab, ‘Ungkapan itu tidak mempunyai validitas sebagai hadits Nabi,’” (Lihat Imam As-Suyuthi, Al-Hawi lil Fatawa, Beirut, Darul Fikr, 2004, juz II, halaman 288).

Ibnu Taimiyah menilainya sebagai hadits maudhu’. Sedangkan Az-Zarkasyi dalam hadits-hadits masyhurnya mengutip perkataan Imam As-Sam’ani yang menyebutkan bahwa ungkapan itu merupakan perkataan dari seorang ulama sufi terkenal Yahya bin Muadz Ar-Razi.

Adapun Imam As-Suyuthi tidak memberikan komentar apapun terkait kutipan yang ia tuliskan di atas. Kita tidak mengetahui alasan As-Suyuthi tidak menarjih beberapa pendapat tersebut. Tetapi besar kemungkinan pendapatnya tidak jauh berbeda dengan pendapat ketiga ulama di atas sebelumnya.

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa ungkapan di atas berkemungkinan besar bukanlah hadits nabi, melainkan hanya perkataan salah seorang ulama yang bernama Yahya bin Muadz Ar-Razi yang terlanjur dianggap sebagai hadits oleh sebagian kalangan. Walaupun maknanya benar, tapi setidaknya pembacaan dua orang ulama hadits di atas, yaitu An-Nawawi dan As-Suyuthi cukup menjadi landasan bagi kita untuk tidak menyebutnya sebagai sebuah hadits, walaupun dari segi makna ia mempunyai cakupan dan kandungan yang sangat dalam dan detail.

Kalau persoalan ini sudah terjawab, lantas bagaimana cara kita menyikapi sebagian kalangan yang sudah terlanjur menganggapnya sebagai hadits? Perlukah kita melarang mereka untuk menyampaikan ungkapan tersebut dalam kajian-kajian mereka? Dalam hal ini, penulis lebih cenderung pada sikap guru kami almarhum Kiai Ali Mustafa Ya’qub dalam menjawab problem-problem seperti ini, yaitu dengan memberitahukan kepada mereka bahwa ungkapan itu bukanlah hadits nabi, tetapi hanya ucapan seorang ulama sufi semata.

Dengan kejelasan ini, bukan berarti kita melarang mereka untuk menyampaikan isi kandungan dari ungkapan tersebut, tetapi hanya sebagai langkah antisipatif terhadap ancaman yang pernah disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits sahihnya yang menyebutkan, “Barang siapa yang berdusta atas namaku, maka hendaklah ia mempersiapkan dirinya untuk menduduki singgasananya di dalam neraka.” Kita boleh menyampaikan apapun terkait jabaran ungkapan tersebut asalkan tidak menganggapnya sebagai hadits nabi. Apabila hal ini sudah dipahami, maka selesailah masalah terkait ungkapan tersebut.

Selanjutnya, terkait dengan kandungan makna Imam As-Suyuthi menjelaskan bahwa ketika seseorang mengetahui bahwa sifat-sifat yang melekat di dalam dirinya merupakan kebalikan dari sifat-sifat Allah SWT. Ketika ia mengetahui bahwa dirinya akan hancur, niscaya ia akan sadar bahwa Allah mempunyai sifat baqa’ (abadi). Begitu juga ketika ia mengetahui dirinya diliputi oleh dosa dan kesalahan, maka ia akan menyadari bahwa Allah bersifat Maha Sempurna dan Maha Benar. Selanjutnya orang yang mengetahui kondisi dirinya sebagaimana adanya, maka ia akan mengenal Tuhannya sebagaimana ada-Nya. Wallahu a’lam. (Yunal Isra)

Senin 15 Januari 2018 20:1 WIB
Macam-macam Hadits Dhaif (1)
Macam-macam Hadits Dhaif (1)
(via wejdan.org)
Hadits dhaif berarti hadits yang tidak memenuhi kriteria hadits shahih dan hasan. Ada banyak penyebab hadits dhaif, namun dari keseluruhan penyebab itu dapat disimpulkan menjadi dua sebab. Mahmud Thahan dalam Taisiru Musthalahil Hadits menjelaskan:

أما أسباب رد الحديث فكثيرة، لكنها ترجع بالجملة إلى أحد سببين رئيسين هما: سقط من الإسناد وطعن في الراوي

Artinya, “Penyebab hadits ditolak atau tidak bisa diterima ada banyak. Namun keseluruhannya merujuk pada dua sebab: sanadnya tidak bersambung dan di dalam rangkaian sanadnya terdapat rawi bermasalah.”

Ada dua penyebab utama hadits dhaif: keterputusan sanad dan perawinya bermasalah. Masing-masing penyebab itu dirinci lagi oleh para ulama sehingga pembagian hadits dhaif menjadi semakin banyak.

Mahmud Thahan menjelaskan, dilihat dari keterputusan sanad, hadits dhaif dapat dibagi menjadi enam macam: muallaq, mursal, mu’dhal, munqati’, mudallas, dan mursal khafi. Berikut penjelasannya:

Muallaq
Muallaq adalah setiap hadits yang tidak disebutkan rangkaian sanadnya dari awal sanad, baik satu orang rawi yang tidak disebutkan, dua rawi, maupun lebih. Yang terpenting, perawi hadits tidak disebutkan dari awal sanad.

المعلق هو ما حذف من مبدأ إسناده راو فأكثر على التوالي

Artinya, “Muallaq ialah hadits yang dihilangkan perawinya dari awal sanad, baik satu orang ataupun lebih secara berturut-turut.”
Misalnya, bila seseorang mengatakan “Rasulullah berkata” atau “Dari Sahabat Abu Hurairah bahwa Rasulullah berkata” tanpa menyebutkan rangkaian sanadnya dari awal, maka hadits tersebut dinamakan hadits mu’allaq.

Mursal
Mursal berarti:

ما سقط من آخر اسناده من بعد التابعي

Artinya, “Hadits yang dihilangkan perawi setelah thabi’in (sahabat) dari akhir sanadnya.”

Maksudnya hadits yang tidak disebutkan nama sahabat dalam rangkaian sanadnya. Periwayatan hadits pasti melalui sahabat, karena tidak mungkin tabi’in bertemu Rasulullah langsung. Bila ada hadits yang tidak menyebutkan sahabat dalam rangkaian sanadnya, dari tabi’in langsung lompat kepada Rasulullah, maka hadits itu bermasalah.

Misalnya, Imam Muslim bin Hajjaj pernah meriwayatkan hadits dari Muhammad bin Rafi’, dari Hujain, dari Al-Laits, dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, dari Sa’id bin Musayyab, bahwa Rasulullah pernah melarang jual beli dengan cara muzabanah, yaitu jual beli tanpa takaran. Redaksi haditsnya sebagai berikut:

عن سعيد ابن المسيب أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن بيع المزابنة

Artinya, “Dari Sa’id bin Musayyab bahwa Rasulullah SAW melarang jual  beli dengan cara muzabanah.”

Ulama menghukumi hadits di atas dengan mursal karena Sa’id bin Musayyab adalah seorang tabi‘in yang tidak mungkin bertemu Rasulullah SAW. Pasti Sa’id bin Musayyab mendengar hadits itu dari sahabat. Tetapi dalam rangkaian sanad hadits di atas tidak disebutkan nama sahabat yang menjadi perantara antara Sa’id bin Musayyab dan Rasulullah.

Mu’dhal
Mu’dhal berarti:

ما سقط من إسناده  اثنان فأكثر على التوالي

Artinya, “Hadits yang dalam rangkaian sanadnya terdapat dua perawi yang dihilangkan secara berturut-turut.”

Maksudnya, dalam rangkaian sanad ada dua perawi yang dihilangkan, syaratnya harus berturut-turut. Kalau tidak berturut-turut, misalnya di awal sanadnya ada perawi yang hilang, kemudian satu lagi di akhir sanad, maka ini tidak bisa dinamakan hadits mu’dhal.

Munqathi’
Munqathi’ berarti:

ما لم يتصل إسناده على أي وجه كان انقطاعه

Artinya, “Hadits yang rangkaian sanadnya terputus di manapun terputusnya.”

Persyaratan hadits munqathi’ lebih longgar daripada sebelumnya. Hadits munqathi’ tidak mensyaratkan harus berturut-turut atau jumlah perawi yang hilang ditentukan, selama ada dalam rangkaian sanad itu rawi yang hilang atau tidak disebutkan, baik di awal, pertengahan, maupun akhir sanad, maka hadits itu disebut munqathi’.

Mudallas
Ulama membagi dua macam hadits mudallas: tadlis isnad dan tadlis syuyukh.

Tadlis Isnad adalah:

أن يروي الراوي عمن قد سمع منه ما لم يسمع منه من غير أن يذكر أنه سمعه منه

Artinya, “Perawi hadits meriwayatkan hadits dari gurunya, tetapi hadits yang dia sampaikan itu tidak didengar langsung dari gurunya tanpa menjelaskan bahwa dia mendengar hadits darinya.”

Maksudnya, seorang rawi mendapatkan hadits dari orang lain, tetapi dia meriwayatkan dengan mengatasnamakan gurunya, di mana sebagian hadits dia terima dari gurunya tersebut. Padahal untuk kasus hadits itu dia tidak mendengar dari gurunya, tetapi dari orang lain.

Tadlis Syuyukh adalah:

أن يروي الراوي عن شيخ حديثا سمعه منه، فيسميه أو يكنيه أو ينسبه أو يصفه بما لا يعرف به كي لا يعرف

Artinya, “Seorang perawi meriwayatkan hadits yang didengar dari gurunya, tetapi dia menyebut gurunya tersebut dengan julukan yang tidak populer, tujuannya supaya tidak dikenal orang lain.”

Perawi sengaja menyebut gurunya dengan nama atau gelar yang tidak populer supaya orang lain tidak tahu siapa guru sebenarnya. Karena kalau disebut nama asli gurunya, bisa jadi guru perawi itu tidak tsiqah (dipercaya) dan haditsnya nanti menjadi bermasalah. Untuk menutupi kekurangan itu, dia mengelabui orang dengan menyebut nama yang tidak populer untuk gurunya.

Mursal Khafi
Mursal khafi berarti:

أن يروي عمن لقيه أو عاصره مالم يسمع منه بلفظ يحتمل السماع وغيره

Artinya, “Perawi meriwayatkan hadits dari orang yang semasa dengannya, tetapi sebenarnya dia tidak mendengar hadits itu darinya, dia sendiri meriwayatkannya dengan redaksi sima’ (seolah-olah dia mendengar langsung).”

Maksudnya, perawi menerima hadits dari orang yang semasa dengannya dan dia bertemu langsung dengan orang tersebut, namun sebenarnya dia tidak mendengar langsung hadits itu dari orang yang semasa dengannya. Namun persoalannya, dia meriwayatkan hadits seolah-olah dia mendengar langsung, padahal tidak seperti itu. Ini disebut dengan hadits mursal khafi, hukumnya dhaif. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)