IMG-LOGO
Trending Now:
Bahtsul Masail

Melaksanakan Tahlilan Sampai Berutang, Apa Hukumnya?

Selasa 30 Januari 2018 23:0 WIB
Share:
Melaksanakan Tahlilan Sampai Berutang, Apa Hukumnya?
Ilustrasi (via google plus)
Pertanyaan
Assalamualaikum wr. wb.
Dewan redaksi yang terhormat, mohon agar dijelaskan secara rinci tentang dalil-dalil tahlilan serta mohon dijelaskan bagaimana hukumnya melaksanakan tahlilan dengan menyuguhkan makanan pada jamaah jika dananya berasal dari utang? Mengingat sering terjadi pihak keluarga yang ditinggalkan memaksakan diri sampai berutang demi melaksanakan tahlilan karena takut akan menjadi pergunjingan warga jika tidak melaksanakannya. Wassalamualaikum wr. wb. (Muhammad Royani Shodiq, Brebes)

Jawaban
Assalamualaikum wr. wb.
Saudara Muhammad Royani dan para pembaca yang budiman, terima kasih atas pertanyaan yang diajukan. Persoalan tahlilan khas tradisi NU dengan segala problematikanya memang perlu sekali untuk dikaji bersama dengan memberikan pemahaman bagi kita semua, khususnya para jamaah Nahdliyyin.

Para pembaca yang budiman, menyesuaikan dengan pertanyaan yang masuk, dalam pemaparan kali ini kami akan lebih menitikberatkan pada persoalan “penyuguhan makanan pada saat talilan”, bukan membahas dalil tahlilan itu sendiri, yang sudah pernah dibahas oleh dewan redaksi.

(Baca: Tentang Tahlilan dan Dalilnya)
Pada prinsipnya, penyuguhan makanan yang dilakukan pada saat tahlilan adalah bagian dari bersedekah yang kita tahu pahalanya bisa sampai kepada mayit. Hal ini senada dengan hadits yang tertera dalam Sahih Muslim (Beirut: Dar Ihya al-Turats, 2010), juz III, hal. 1255, hadits no. 1631:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ 

Artinya: “Apabila seorang manusia telah meninggal, maka terputus baginya semua amalnya, kecuali dari tiga hal: kecuali dari sedekah yang berkelanjutan, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”

Keterangan hadits di atas ditambah pula dengan keterangan pada hadits shahih lainnya, yakni:

عَنْ بْنِ عَبَّاسٍ أنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ إنَّ أمِّي تُوُفِّيَتْ أَفَيَنْفَعُهَا إنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ قَالَ فَإنَّ لِيْ مَخْزَفًا فَأشْهِدُكَ أَنِّي قَدْ تَصَدَّقْتُ بَهَ عَنْهَا. رواه الترمذي

Artinya: “Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya ada seorang laki-laki bertanya, ‘Wahai Rasulullah SAW, sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia, apakah ada manfaatnya jika aku bersedekah untuknya?" Rasulullah menjawab, ‘Ya’. Laki-laki itu berkata, ‘Aku memiliki sebidang kebun, maka aku mempersaksikan kepadamu bahwa aku akan menyedekahkan kebun tersebut atas nama ibuku’.” (HR Tirimidzi)

Selanjutnya, masalah tradisi di Indonesia yang melakukan tahlilan dengan menyediakan jamuan makan selama 7 hari (jawa: mitung dina), hal tersebut hukumnya bukanlah bid’ah, namun justru sunnah sebagaimana disebutkan oleh Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi dalam kitab al-Hawi li al-Fatawi (Beirut: Dar al-Fikr, 2000), juz II, hal. 178:

قال الامام أحمد بن حنبل رضي الله عنه فى كتاب الزهد له : حدثنا هاشم بن القاسم قال: حدثنا الأشجعى عن سفيان قال
قال طاوس: ان الموتى يفتنون فى قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام , قال الحافظ ألو نعيم فى الجنة: حدثنا أبو بكر بن مالك حدثنا عبد الله بن أحمد بن حنبل حدثنا أبى حدثنا هاشم بن القاسم حدثنا الأشجعى عن سفيان قال: قال طاوس: ان الموتى يفتنون فى قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام

Artinya: “Telah berkata Imam Thawus (ulama besar generasi tabi’in, wafat kira-kira tahun 110 H/729 M): Sesungguhnya orang-orang yang meninggal akan mendapat ujian dari Allah dalam kuburan mereka selama 7 hari. Maka, disunnahkan bagi mereka yang masih hidup mengadakan jamuan makan (sedekah) untuk orang-orang yang sudah meninggal selama hari-hari tersebut.”

Meskipun demikian, sekali lagi kita harus mengingat bahwa bersedekah dengan mengadakan jamuan makan pada saat tahlilan itu hukumnya adalah sunnah belaka. Bukan wajib. Oleh karena itu, tidak boleh memaksakan diri. 

Dalam pandangan syariat, niat baik melakukan kesunnahan ini bisa menjadi makruh, bahkan bisa menjadi haram, jika dilaksanakan tidak sesuai dengan konteks. Demikian pula halnya dengan jamuan makan pada saat tahlilan akan menjadi makruh hukumnya apabila dirasa hal tersebut memberatkan bagi ahli waris mayit hingga mereka sampai berutang hanya untuk mengadakan jamuan makan tersebut. Bahkan bisa juga menjadi haram semisal apabila jamuan makan yang diberikan berasal dari harta yang haram, membuat utang-utang mayit tidak terbayarkan, atau menyita harta waris yang seharusnya dipertuntukkan bagi anak yatim.

Solusi yang kami tawarkan kepada para pembaca yang budiman apabila terjadi kasus yang demikian adalah seyogianya yang mengadakan tahlilan cukup anggota keluarga saja, tidak perlu terlalu banyak mengundang pihak-pihak lain apabila dirasa berat untuk memberikan jamuan kepada mereka.

Mengenai risiko akan dijadikan bahan gunjingan oleh masyarakat, inilah tugas kita bersama untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terkait hal ini sehingga jangan sampai kesunnahan tahlilan yang sudah membudaya ini malah menjadi persoalan yang memberatkan bagi sebagian pihak.

Pada dasarnya, syariat Islam memandang keluarga yang ditinggalkan sebagai pihak yang lemah (dlaif) karena sedang berduka, yang oleh karena itu disunnahkan bagi kerabat dan tetangganya untuk menghidangkan makanan bagi keluarga mayit, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Syafi’i dalam kitab al-Umm (Beirut: Dar al-Fikr, 2000), juz I, hal. 387:

وأحب لجيران الميت أو ذي قرابته أن يعملوا لأهل الميت في يوم يموت وليلته طعاما يشبعهم فإن ذلك سنة وذكر كريم وهو من فعل أهل الخير قبلنا وبعدنا لأنه لما جاء نعي جعفر قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اجعلوا لآل جعفر طعاما فإن قد جاءهم أمر يشغلهم

Artinya: “Dan saya menyukai apabila tetangga si mayit atau kerabatnya membuat makanan untuk keluarga mayit pada hari meninggal dan pada malam harinya yang dapat mengenyangkan mereka, hal itu sunah dan merupakan sebutan yang mulia, dan merupakan pekerjaan orang-orang yang menyenangi kebaikan, karena tatkala datang berita wafatnya Ja’far, maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far, karena telah datang kepada mereka urusan yang menyibukkan’.”

Dalam tradisi Nusantara, pernyataan Imam Syafi’i ini sudah dilaksanakan. Hal tersebut bisa kita lihat pada budaya di Nusantara di mana ketika ada berita duka, maka umumnya kerabat atau para tetangga bertakziah sambil membawa beras (makanan pokok) yang diperuntukkan bagi pihak keluarga yang sedang berduka.

Demikian pemaparan kali ini, semoga bisa dipahami dengan baik. Wallahu a’lam bi-shawab.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq 

Wassalamu 'alaikum wr. wb.

(Muhammad Ibnu Sahroji)
Tags:
Share:
Selasa 30 Januari 2018 22:2 WIB
Bagaimana Khutbah usai Shalat Gerhana Bulan Sendiri?
Bagaimana Khutbah usai Shalat Gerhana Bulan Sendiri?
(© iStock)
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, saya mau bertanya, shalat sunah gerhana dikerjakan secara berjamaah lalu disusul dengan dua khutbah. Pertanyaannya, bagaimana dengan khutbah orang yang shalat sunah gerhana sendiri? Maksud saya, apakah ketiadaan khutbah berpengaruh pada shalat? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Hamba Allah/Jakarta Selatan).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Sebagaimana diketahui bahwa gerhana matahari dan gerhana bulan merupakan gejala alam. Keduanya merupakan tanda kebesaran Allah SWT yang tidak berkaitan dengan kelahiran dan kematian seseorang.

Ketika gerhana terjadi, kita dianjurkan untuk melakukan shalat sunah dua rakaat dengan kaifiat yang diatur salah satunya dalam Madzhab Syafi’i, yaitu satu rakaat dengan dua rukuk dan dua itidal. Tetapi kita bisa juga melakukan shalat sunah gerhana dengan kaifiat sebagaimana shalat sunah dua rakaat pada umumnya seperti pandangan Madzhab Hanafi dan Madzhab Maliki.

Kita yang memiliki kesempatan dan tanpa uzur dianjurkan untuk merapat ke masjid yang mengadakan shalat gerhana secara berjamaah. Di dalamnya kita ikut shalat dan mendengarkan dua khutbah dengan penuh khidmat.

Tetapi kita yang tidak sempat atau memiliki uzur tertentu tetap dianjurkan untuk melakukan shalat sunah gerhana sendiri demi meraih keutamaannya. Pasalnya shalat gerhana termasuk kategori shalat sunah muakkad.

Adapun khutbahnya, tidak perlu dilakukan. Artinya, orang yang melakukan shalat gerhana sendiri tidak dianjurkan untuk mengadakan khutbah sebagaimana jamaah perempuan. Meskipun demikian, ia tetap mendapat keutamaan shalat sunah gerhana. Hal ini disebutkan oleh Syekh Ibrahim Al-Baijuri berikut ini:

ويخطب الإمام) أي أو نائبه وتختص الخطبة بمن يصلى جماعة من الذكور فلا خطبة لمنفرد ولا لجماعة النساء، فلو قامت واحدة منهن ووعظتهن فلا بأس به كما في خطبة العيد

Artinya, “(Imam) atau penggantinya (menyampaikan khutbah), khutbah setelah shalat gerhana sunah disampaikan secara khusus untuk jamaah laki-laki yang melakukan shalat gerhana berjamaah. Laki-laki yang melakukan shalat gerhana sendiri atau jamaah khusus perempuan shalat gerhana tidak disunahkan menyampaikan khutbah gerhana. Tetapi kalau salah seorang dari jamaah wanita itu berdiri dan menyampaikan nasihat di hadapan sesamanya, tidak masalah. Hal ini berlaku juga sebagaimana khutbah shalat Id oleh jamaah khusus wanita,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Ibnil Qasim, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, 1999 M/1420 H, juz I, halaman 440).

Keterangan Syekh Ibrahim Al-Baijuri ini menerangkan dengan jelas bahwa shalat gerhana dan khutbah gerhana tidak berkaitan. Artinya, shalat sunah gerhana tanpa khutbah setelah itu tetap sah.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.



(Alhafiz Kurniawan)
Ahad 28 Januari 2018 21:46 WIB
Tata Cara Shalat Gerhana Bulan dalam Empat Madhzab
Tata Cara Shalat Gerhana Bulan dalam Empat Madhzab
(© reuters)

Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, shalat gerhana matahari terdiri dua rakaat dengan dua Surat Al-Fatihah dan dua rukuk pada setiap rakaat. Tetapi bagaimana dengan cara shalat gerhana bulan, apakah praktiknya sama dengan gerhana matahari atau berbeda? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Abdurrauf/Pidie).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Sebagaimana diketahui bahwa gerhana matahari dan gerhana bulan merupakan fenomena alam yang menjadi tanda kebesaran Allah SWT.

Dalam pada itu Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk shalat dua rakaat dengan dua Surat Al-Fatihah dan dua rukuk pada setiap rakaat dan disusul dengan dua khutbah. Untuk shalat gerhana matahari, ulama menyepakati hal ini sebagai tata caranya karena memang Rasulullah SAW mencontohkan demikian. Sampai di sini tidak ada masalah.

Silakan baca: Tata Cara Shalat Gerhana Bulan

Adapun terkait cara shalat gerhana bulan, para ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama menganalogikan cara shalat gerhana bulan dengan cara shalat gerhana matahari. Sementara ulama lain menyatakan bahwa cara shalat gerhana bulan sama saja dengan cara shalat sunah lainnya, cukup dikerjakan sendiri-sendiri di rumah masing-masing.

Syekh Hasan Sulaiman Nuri dan Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki menjelaskan perbedaan pendapat ulama dalam Ibanatul Ahkam, Syarah Bulughul Maram sebagai berikut:

أما خسوف القمر فقالت الشافعية والحنابلة هي ركعتان في كل ركعة؛ ركوعان كصلاة كسوف الشمس في جماعة. وقالت الحنفية صلاة الخسوف ركعتان بركوع واحد كبقية النوافل وتصلى فرادى، لأنه خسف القمر مرارا في عهد الرسول ولم ينقل أنه جمع الناس لها فيتضرع كل وحده، وقالت المالكية: ندب لخسوف القمر ركعتان جهرا بقيام وركوع واحد كالنوافل فرادى في المنازل وتكرر الصلاة حتى ينجلي القمر أو يغيب أو يطلع الفجر وكره إيقاعها في المساجد جماعة وفرادى.

Artinya, “Shalat gerhana bulan, bagi kalangan syafiiyah dan hanbaliyah, adalah dua rakaat dengan dua rukuk pada setiap rakaatnya persis seperti mengamalkan shalat gerhana matahari secara berjamaah. Kalangan Hanafi mengatakan, shalat gerhana bulan itu berjumlah dua rakaat dengan satu rukuk pada setiap rakaatnya sebagai shalat sunah lain pada lazimnya, dan dikerjakan secara sendiri-sendiri. Pasalnya, gerhana bulan terjadi berkali-kali di masa Rasulullah SAW tetapi tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa Rasul mengumpulkan orang banyak, tetapi beribadah sendiri. Kalangan Maliki menganjurkan shalat sunah dua rakaat karena fenomena gerhana bulan dengan bacaan jahar (lantang) dengan sekali rukuk pada setiap kali rakaat seperti shalat sunah pada lazimnya, dikerjakan sendiri-sendiri di rumah. Shalat itu dilakukan secara berulang-ulang sampai gerhana bulan selesai, lenyap, atau terbit fajar. Kalangan Maliki menyatakan makruh shalat gerhana bulan di masjid baik berjamaah maupun secara sendiri-sendiri,” (Lihat Syekh Hasan Sulaiman Nuri dan Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam Syarah Bulughul Maram, Beirut, Darul Fikr, cetakan pertama, 1996 M/1416 H, juz I, halaman 114).

Keterangan ini cukup jelas memilah pendapat para ulama. Madzhab Syafii berpendapat bahwa shalat gerhana bulan dilakukan secara berjamaah di masjid sebagaimana shalat gerhana matahari. Pendapat ini juga dipakai oleh Ahmad bin Hanbal, Dawud Az-Zhahiri, dan sejumlah ulama. Sedangkan Imam Malik dan Imam Hanafi berpendapat sebaliknya. Bagi keduanya, shalat gerhana bulan tidak dilakukan secara berjamaah, tetapi dilakukan secara sendiri-sendiri sebanyak dua rakaat seperti dua rakaat shalat sunah lainnya.

Ibnu Rusyd mencoba memetakan sebab perbedaan di kalangan ulama perihal tata cara shalat sunah gerhana bulan. Dalam Bidayatul Mujtahid, ia memperlihatkan pendekatan yang dilakukan masing-masing ulama sebagai berikut ini:

سبب اختلافهم اختلافهم في مفهوم قوله عليه الصلاة والسلام: "إن الشمس والقمر آيتان من آيات الله لا يخسفان لموت أحد ولا لحياته فإذا رأيتموهما فادعوا الله وصلوا حتى يكشف ما بكم وتصدقوا" خرجه البخاري ومسلم. فمن فهم ههنا من الأمر بالصلاة فيهما معنى واحدا وهي الصفة التي فعلها في كسوف الشمس رأى الصلاة فيها في جماعة. ومن فهم من ذلك معنى مختلفا لأنه لم يرو عنه عليه الصلاة والسلام أنه صلى في كسوف القمر مع كثرة دورانه قال المفهوم من ذلك أقل ما ينطلق عليه اسم صلاة في الشرع وهي النافلة فذا وكأن قائل هذا القول يرى أن الأصل هو أن يحمل اسم الصلاة في الشرع إذا ورد الأمر بها على أقل ما ينطلق عليه هذا الاسم في الشرع إلا أن يدل الدليل على غير ذلك فلما دل فعله عليه الصلاة والسلام في كسوف الشمس على غير ذلك بقي المفهوم في كسوف القمر على أصله والشافعي يحمل فعله في كسوف الشمس بيانا لمجمل ما أمر به من الصلاة فيهما فوجب الوقوف عند ذلك. وزعم أبو عمر بن عبد البر أنه روي عن ابن عباس وعثمان أنهما صليا في القمر في جماعة ركعتين في كل ركعة ركوعان مثل قول الشافعي

Artinya, “Sebab perbedaan itu terletak pada perbedaan pandangan mereka dalam memahami hadits Rasulullah SAW, ‘Matahari dan bulan adalah dua tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak terjadi gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Kalau salah seorang kalian melihat keduanya, sebutlah nama Allah dan shalatlah sampai Allah membuka gerhana itu, dan bersedekahlah,’ HR Bukhari. Ulama yang memahami di sini sebagai perintah shalat pada kedua gerhana dengan sebuah pengertian yaitu sifat shalat yang telah dikerjakan Rasulullah SAW ada saat gerhana matahari, memandang bahwa shalat pada gerhana matahari dilakukan secara berjamaah.” Sedangkan ulama yang memahami hadits ini dengan sebuah pengertian berbeda, sementara belum ada riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW melakukan shalat gerhana bulan padahal fenomena itu terjadi berkali-kali sema beliau hidup, berpendapat bahwa pengertian yang dapat ditarik dari teks hadits ini adalah sekurang-kurang sebutan shalat dalam syara’, yaitu shalat sunah sendiri. Ulama ini seakan memandang bahwa pada asalnya kata ‘shalat’ di dalam syarak bila datang perintah padanya harus dipahami dengan konsep paling minimal yang mengandung sebutan itu dalam syariat kecuali ada dalil lain yang menunjukkan hal yang berlainan. Ketika sikap Nabi SAW menghadapi gerhana matahari berbeda dengan itu, maka konsep terkait gerhana bulan tetap dipahami sebagai aslinya. Sedangkan Imam Syafi’i memahami sikap Nabi SAW dalam melewati gerhana matahari sebagai penjelasan atas keijmalan perintah shalat oleh Rasulullah pada kedua gerhana tersebut sehingga konsep atas amaliah gerhana bulan harus berhenti di situ. Sementara Abu Amr bin Abdil Bar meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Utsman RA bahwa keduanya melaksanakan shalat dua rakaat secara berjamaah saat gerhana bulan dengan dua rukuk pada setiap rakaatnya seperti pendapat Imam As-Syafi’i,” (Lihat Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2013 M/1434 H, cetakan kelima, halaman 199).

Perbedaan pendapat ini berimbas pada bacaan di dalam shalat itu sendiri. Tetapi dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa para ulama berbeda pendapat perihal cara pelaksanaan shalat gerhana bulan. Kita sebaiknya tidak perlu memaksakan pendapat ulama manapun kepada orang lain. Tetapi sebaiknya kita saling menghargai hasil ijtihad para ulama dan menghargai pandangan orang lain sesuai madzhab mereka.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.



(Alhafiz Kurniawan)

Sabtu 27 Januari 2018 15:1 WIB
Setelah Wahyu Tak Turun Lagi, Apakah Tugas Jibril?
Setelah Wahyu Tak Turun Lagi, Apakah Tugas Jibril?
(via infoyunik.com)
Assalamu alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, sebagaimana kita ketahui, Jibril adalah satu dari sepuluh malaikat (yang wajib diketahui) yang bertugas menyampaikan wahyu kepada para rasul. Di zaman sekarang, sudah tidak ada lagi nabi dan rasul (secara zhahir; alias meninggal) yang berhak menerima wahyu Allah. Lantas, bagaimana dengan nasib Malaikat Jibril dengan tugasnya tersebut? Apa iya malaikat Jibril sudah nganggur lantaran sudah tidak ada lagi nabi dan rasul penerima wahyu? Mohon jawabannya kiai, karena hamba benar-benar makhluk yang berstatus al-faqir. Wassalamu ‘alaikum wr.wb. (Rasyid)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Sebagaimana yang sudah maklum bersama bahwa Jibril merupakan malaikat yang diberi tugas untuk menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW. Seiring dengan berakhirnya wahyu, maka tugasnya pun berakhir.

Dari sini kemudian muncul pertanyaan yang agak provokatif, apakah setelah tugas menyampaikan wahyu Jibril menjadi malaikat pengangguran? Tentu jawabanya adalah tidak, sebab tugas malaikat Jibril bukan hanya sebatas menyampaikan wahyu, tetapi ada tugas-tugas lain yang diembannya.

Dalam Kitab Al-Haba`ik fi Akhbaril Mala`ik yang ditulis oleh Jalaluddin As-Suyuthi terdapat pembahasan mengenai empat panglima malaikat yang mengelola urusan dunia. Dalam hal ini ia menghadirkan pelbagai macam riwayat, salah satunya adalah riwayat Ibnu Abi Hatim, Abus Syekh, dan Al-Baihaqi dari Ibnu Sabith.

Dalam riwayat tersebut dikatakan bahwa ada empat malaikat diberi tugas untuk mengelola dunia. Dari empat malaikat tersebut adalah Jibril yang salah satu tugasnya adalah mengurusi angin, Mikail mengurusi urusan hujan dan tumbuh-tumbuhan, dan Izrail diberi tugas mencabut nyawa. Sedang Israfil diberi tugas untuk menyampaikan perintah kepada mereka.

رُؤُوسُ الْمَلَائِكَةِ الْأَرْبَعةِ اَلَّذِينَ يُدَبِّرُونَ أَمْرَ الدُّنْيَا. (أَخْرَجَ) ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ وَأَبُو الشَّيْخِ فِى الْعُظْمَةِ وَالبَيْهَقِيُّ فِى الشُّعَبِ عَنِ ابْنِ سَابِطٍ قَالَ: يُدَبِّرُ أَمْرَ الدُّنْيَا أَرْبَعَةٌ : جِبْريلُ وَ مِيكَائِيلُ وَ مَلَكُ الْمَوْتِ وَ إِسْرَافِيلُ فَأَمَّا جِبْرِيلُ فَوُكِّلَ بِالرِّيَاحِ وَ الْجُنُودِ وَ أَمَّا مِيكَائِيلُ فَوُكِّلَ بِالْقَطْرِ وَ النَّبَاتِ وَ أَمَّا مَلَكُ الْمَوْتِ فَوُكِّلَ بِقَبْضِ الْأَرْوَاحِ وَ أَمَّا إِسْرَافِيلُ فَهُوَ يَنْزِلُ بِالْأَمْرِ عَلَيْهِمْ

Artinya, “Empat panglima malaikat yang mengurusi urusan dunia. Ibnu Abi Hatin dan Abus Syekh meriwayatkan dalam kitab Al-‘Uzhmah dan Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman dari Ibnu Sabith ia berkata, ‘Empat Malaikat yang mengurusi urusan dunia yaitu Jibril, Mikail, Malaikat Maut, dan Israfil. Jibril diserahi untuk mengatur angin dan para tentara, Mikail diserahi untuk mengurus hujan dan tumbuh-tumbuhan, Malaikat Maut diserahi untuk mencabut nyawa, sedangkan Israfil diserahi tugas menyampaikan perintah kepada mereka,” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Haba`ik fi Akhbaril Mala`ik, Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, cetakan pertama, 1985 M/1405 H, halaman 16).

Tugas lain yang diemban Jibril adalah memenuhi hajat atau kebutuhan manusia. Dalam sebuah riwayat Al-Baihaqi dari Tsabit dikatakan bahwa Allah mendelegasikan Jibril untuk mengurusi hajat manusia.

Apabila orang mukmin berdoa, Allah menahan Jibril sejenak untuk mengabulkan doanya. Hal ini terjadi karenak Allah senang mendengarkan lantunan doa orang Mukmin. Lainnya halnya apabila yang berdoa adalah orang kafir, maka Allah langsung mengintruksikan kepada Jibril untuk segara memenuhinya. Hal ini karena Allah tidak menyukai mendengar lantunan doanya.

وَأَخْرَجَ الْبَيْهَقِيُّ عَنْ ثَابِتٍ قَالَ بَلَغَنَا أَنَّ اللهَ تَعَالَى وَكَّلَ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ بِحَوائِجِ النَّاسِ، فَإِذَا سَأَلَ الْمُؤْمِنُ ، قَالَ يَا جِبْرِيلُ: احْبِسَ حَاجَتَهُ فَإِنِّي اُحِبُّ لِدُعَائِهِ، وَإِذَا دَعَا الْكَافِر، قَالَ يَا جِبْرِيلُ أَقْضِ حَاجَتَهُ فَإِنِّي أُبْغِضُ دُعَائَهُ

Artinya, “Al-Baihaqi meriwayatkan dari Tsabit, dia berkata, ‘Telah sampai kepadaku riwayat yang menyatakan bahwa Allah SWT mendelegasikan Malaikat Jibril AS dalam urusan memenuhi hajat hidup manusia. Apabila seorang Mukmin berdoa, maka Allah pun berkata kepada Jibril AS, ‘Wahai Jibril! Tahan dulu untuk memenuhi hajatnya karena Aku sungguh sangat senang mendengar lantunan doanya.’ Apabila orang kafir berdoa, Allah pun berkata kepadanya, ‘Wahai Jibril! Penuhi apa yang menjadi hajatnya karena sesungguhnya Aku tidak suka mendengar lantunan doanya,’’” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Haba`ik fi Akhbaril Mala`ik, Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, cetakan pertama, 1985 M/1405 H, halaman 24).

Dua riwayat di atas dalam pandangan kami sudah cukup untuk menjawab pertanyan penanya. Simpulannya adalah bahwa setelah selesai menyampaikan wahyu kepada para nabi dan rasul, bukan berarti kemudian malaikat Jibril tidak melakukan apa-apa. Sebab, tugas yang diembannya bukan hanya sebatas itu tetapi masih ada tugas-tugas lainnya. Contohnya adalah seperti dikemukakan dalam dua riwayat di atas.

Demikian jawaban dari kami semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu alaikum wr. wb.



(Mahbub Ma’afi Ramdlan)