IMG-LOGO
Trending Now:
Hikmah

Kisah Pahala Surat Yasin di Hari Jumat yang Dirasakan Ahli Kubur

Jumat 2 Februari 2018 6:0 WIB
Kisah Pahala Surat Yasin di Hari Jumat yang Dirasakan Ahli Kubur
Ilustrasi (islam.ru)
Dikabarkan dari al-Hasan bin al-Haitsam bahwa suatu ketika ia mendengar Abu Bakar al Athrusyi bin Abi Nashr bin At-Timar bercerita:

Suatu masa terdapat seorang anak laki-laki yang senantiasa mendatangi pekuburan ibunya setiap hari Jumat. Setiap kali bersanding dengan pusara ibunya, ia akan dengan khusyuk melantunkan Surat Yasin.

Ia terlihat begitu khusyuk, dibacanya ayat-ayat Al-Quran itu dengan penuh khidmat. Sambil sesekali ketika menghentikan bacaan untuk mengambil napas, ia mengenang masa-masa indah dengan ibunya. Sungguh, pemandangan itu begitu memilukan, melihat seorang anak yang duduk terpekur sambil membaca Al-Quran di samping pusara ibunda tercintanya. 

Ketika ia telah selesai, ia kemudian berdoa:

"Ya Allah, sesungguhnya aku membagikan pahala membaca Surat Yasin ini. Maka jadikanlah bagian itu terhaturkan kepada para arwah yang bersemayam di pekuburan ini."

(Baca juga: Belajar Toleransi dari Imam Syafi’i saat Ziarahi Makam Abu Hanifah)
Seminggu kemudian, tepat di hari Jumat berikutnya, anak tersebut kembali melakukan rutinitas mingguannya itu. Mendatangi pusara ibunya, duduk dengan khusyuk, dan kemudian melantunkan Surat Yasin untuk dihadiahkan kepada ibundanya serta para arwah di pemakaman itu.

Tiba-tiba saja saat ia hendak beranjak, datang seorang wanita yang bertanya kepadanya, "Apakah engkau adalah Fulan bin Fulanah, apakah engkau adalah putra dari ibu yang dikubur dalam pusara ini?" 

"Ya," jawab anak itu singkat.

"Sesungguhnya aku memiliki seoang putri yang telah meninggal, kemudian aku bermimpi bertemu dengannya. Dalam mimpi itu, kulihat ia sedang duduk-duduk di samping pusaranya. 

Kemudian aku bertanya padanya, ’Gerangan apa yang membuatmu terduduk di sini?’ Ia lantas menjawab, 'Sesungguhnya Fulan bin Fulanah mendatangi pekuburan ibunya, kemudian ia membaca Surat Yasin dan menghadiahkan pahala bacaannya kepada ibunya dan kami, para ahli kubur yang arwahnya bersemayam di pemakaman ini. Maka dari itulah, aku mendapatkan manfaatnya sehingga aku diampuni’."

Subhanallah, dari kisah diatas. dapat dipetik hikmah betapa amal shalih yang dilakukan oleh orang hidup dan kemudian pahalanya dihaturkan kepada orang yang sudah meninggal benar-benar tersampaikan. Apalagi, jikalau amal tersebut dilakukan di waktu-waktu yang mustajabah, waktu berdoa yang berpeluang besar untuk dikabulkan seperti hari Jumat. Sungguh, beruntung sekalai orang-orang yang mau mempergunakan hari Jumatnya untuk dimuliakan dengan memenuhinya dengan amal-amal kebaikan seperti ziarah kubur dan membaca Al-Quran. Karena para ulama pun juga menjuluki hari Jumat sebagai Sayyidul Ayyam, induk dari segala hari dalam seminggu. (Ulin Nuha Karim)

Disarikan dari kitab Tahqiqul Amal fîmâ Yanfa'ul Mayyita Minal A'mâl karya Abuya Sayyid Muhammad bin Alwi al Maliki al Hasani, halaman 60

Share:
Selasa 30 Januari 2018 7:0 WIB
Delapan Pelajaran Istimewa Hatim al-‘Asham Berguru 30 Tahun
Delapan Pelajaran Istimewa Hatim al-‘Asham Berguru 30 Tahun
Ilustrasi (thesufi.com)
Sudah maklum adanya bahwa mencari ilmu hukumnya wajib, utamanya ilmu agama dan syariat yang menjadi kunci keberhasilan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Mencari ilmu sangat wajib bagi setiap orang muslim” (HR. Ath-Thabrani)

Sungguh beruntung sekali orang yang diberi kesempatan oleh Allah ta’ala untuk bisa belajar dan mengeyam pendidikan agama. Namun tidak semua orang mengerti terhadap cara dan tujuan yang benar di dalam mencari ilmu.

Oleh sebab itu, pentinglah kiranya bagi kita belajar dari teladan-teladan yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita di dalam cara dan tujuan yang benar dalam mencari ilmu. Di antaranya adalah teladan yang diriwayatkan dari seorang ulama besar di masanya. Beliau adalah Hatim al-Asham, murid Syaqiq al-Balkhi radliyallahu ‘anhuma.
 
Suatu ketika Syaqiq bertanya kepada Hatim, “Berapa lama engkau menemaniku?”

Hatim menjawab, “Tiga puluh tiga tahun.”

“Lalu apa yang telah engkau pelajari dariku selama ini?” lanjut Syaqiq. 

“Delapan pengetahuan,” jawab Hatim. 

Inna lillahi wa inna ilahi raji’un. Umurku telah habis bersamamu namun engkau tidak belajar kecuali delapan permasalahan,” jawab Syaqiq keheranan.

“Wahai guruku, aku tidak mempelajari selain delapan permasalahan itu, dan sungguh aku tidak suka berbohong,” Hatim meyakinkan.

“Sampaikan delapan permasalahan itu, agar aku mendengarnya,” lanjut Syaqiq.
 
Hatim berkata, “Aku melihat seluruh manusia. Kemudian aku melihat masing-masing dari mereka mencintai kekasihnya. Ia bersama kekasihnya tersebut hingga sampai kubur. Namun, ketika ia sudah sampai kubur, maka apa yang ia kasihi meninggalkannya. Maka aku jadikan amal-amal baik sebagai kekasihku. Sehingga, ketika aku masuk kubur, maka kekasihku masuk ke kubur bersamaku.”

“Bagus wahai Hatim. Lalu apa yang kedua?” sahut Syaqiq.

Hatim melanjutkan, “Aku melihat firman Allah azza wa jalla:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى، فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

“Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at: 40 - 41)

Aku yakin bahwa sesungguhnya firman Allah subhanahu wa ta’ala adalah benar. Maka aku memaksa nafsuku untuk menolak hawa (kesenangannya) hingga nafsuku tenang untuk taat kepada Allah ta’ala. Yang ketiga, sesungguhnya aku melihat seluruh manusia. Aku melihat setiap orang yang memiliki sesuatu yang berharga dan bernilai, maka ia akan mengangkat dan menjaganya. Kemudian aku melihat firman Allah azza wa jalla:

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللهِ بَاقٍ 

“Apa yang di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.”(QS. An-Nahl: 96)

Sehingga, setiap aku memiliki sesuatu yang bernilai dan berharga, maka aku hadapkan kepada Allah agar tetap terjaga di sisi-Nya. Yang keempat, sesungguhnya aku melihat semua manusia ini. Aku melihat bahwa masing-masing dari mereka kembali ke harta, keturunan mulia, kemuliaan dan nasab. Aku renungkannya, ternyata semua itu tidak ada artinya. Kemudian aku melihat firman Allah ta’ala:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ 

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS. al-Hujurat: 13)

Maka aku beramal taqwa berharap aku menjadi orang yang mulia di sisi Allah. Yang kelima, sesungguhnya aku melihat semua manusia ini. Sebagian dari mereka mencela sebagian yang lain, dan sebagian dari mereka melaknat sebagian yang lain. Penyebab semua ini adalah sifat dengki. Kemudian aku melihat firman Allah azza wa jalla:

نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا 

“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.”(QS. Az-Zukhruf: 32)

Maka aku tinggalkan sifat dengki dan aku menjauh dari manusia. Aku yakin bahwa sesungguhnya pembagian sudah ada dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Maka aku menghindari permusuhan dengan manusia.

Keenam, aku melihat para manusia. Sebagian dari mereka berbuat zalim pada sebagian yang lain. Dan sebagian dari mereka memerangi sebagian yang lain. Kemudian aku kembali kepada firman Allah ta’ala:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu).”(QS. Fathir: 6)

Maka aku hanya memusuhi setan saja. Dan aku berusaha sekuat tenaga waspada dan berhati-hati padanya. Karena sesungguhnya Allah ta’ala telah bersaksi bahwa sesungguhnya setan adalah musuhku. Maka akutidak memusuhi makhluk selain setan.

Yang ketujuh, aku melihat para manusia, masing-masing dari mereka mencari serpihan roti hingga ada yang menghinakan diri sendiri untuk mendapatkannya. Dan mereka terjerumus ke dalam sesuatu yang tidak halal. Kemudian aku melihat firman Allah ta’ala:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا 

“Dan tidak ada suatu binatang melata (makhluk hidup) pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya.”(QS. Huud: 6)

Maka aku yakin bahwa sesungguhnya aku merupakan salah satu dari dawwab (makhluk hidup) ini yang ditanggung rezekinya oleh Allah. Maka aku tersibukan dengan apa yang menjadi hak Allah ta’ala atas diriku, dan aku meninggalkan apa yang menjadi hakku di sisi-Nya. 

Yang kedelapan, aku melihat para manusia berpasrah diri dan bertawakkal kepada makhluk. Sebagian tawakkal pada kebunnya, sebagaian lagi tawakkal pada dagangannya, sebagian lain tawakkal pada pekerjaannya, dan sebagian lain lagi mengandalkan kesehatan badannya. Semua makhluk tawakkal pada makhluk yang lain yang sama lemahnya dengannya. Kemudian aku kembali pada firman Allah ta’ala:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Maka aku berserah diri kepada Allah azza wa jalla. Aku yakin Allahlah Tuhan yang mencukupiku.”

Dengan senyum penuh bangga dan bahagia Syaqiq berkata, “Wahai Hatim, semoga Allah ta’ala memberi taufiq padamu. Sesungguhnya aku telah melihat ilmu-ilmu di dalam kitab Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an al-Adhim. Aku menemukan semua jenis kebaikan dan ajaran agama. Semuanya berkutat pada delapan permasalahan ini. Sehingga, orang yang mengamalkannya, maka sesungguhnya ia telah mengamalkan keempat Kitabullah.”

Semoga kita dapat mengambil kedelapan pelajaran penting yang telah disampaikan oleh Hatim al-Asham, amin ya rabbal alamin. Wallahu a’lam. (Moh. Sibromulisi)


Kisah diambil dari keterangan al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, Beirut, Dar al-Fikr al-Ilmiyah, cetakan kelima, jilid I, halaman 145 – 147.
Ahad 28 Januari 2018 21:52 WIB
Syair Sunda Akhir Zaman Abah Adang
Syair Sunda Akhir Zaman Abah Adang
Dalam beberapa literatur kitab kuning maupun hadits, kita dapat menjumpai nasihat-nasihat Nabi Muhammad SAW tentang akhir zaman. Pada akhir zaman, fitnah tersebar dimana-mana hingga tanda-tanda hari akhir akan terjadi.

Ketika mengikuti pangaosan (pengajian) bulan Syawal di Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah Cipulus, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, saya dan santri-santri lain diberi sebuah buku kecil nan tipis yang dapat dimasukan ke saku baju. Buku itu berisi tata tertib santri beserta beberapa doa, wiridan dan syiiran.

Salah satu syair yang termaktub disana berisikan tentang dawuh Nabi di akhir zaman. Syair itu di tulis Abah Adang yang sekarang memimpin pondok pesantren Al-Hikamussalafiyyah. Bunyi syairnya adalah:

Dawuh Nabi jaga di akhir zaman # Umat teu daraek ngaji ka ajengan

Dicobana ku Allah tilu cobaan # Ka hijina jalma maot teu imanan

Kaduana dilaan berkah kasabna # Sabab teu apal kana elmu-elmuna

Katiluna dicoba ku sulthon dzolim # Bongan jalma osok ngajauhan alim

Dawuh Nabi saha jalma pipisahan # Ti ulama nyingkir malah ngajauhan

Maka paeh hatena eta jalma teh # jeung lolong tina tho’at ka gusti Allah

Artinya adalah:

Dawuh Nabi di akhir zaman # Umat tidak mau ngaji ke kiai (ajengan)

Dicobalah oleh Allah dengan tiga cobaan # yang pertama seseorang meninggal tanpa membawa iman

Kedua, dicabut berkah dari hasil usahanya # karena tidak tahu ilmu-ilmunya

Ketiga, diuji dengan pemimpin yang zalim # Karena suka menjauhi ulama

Dawuh Nabi siapa orang yang berpisah # Dari Ulama, menyingkir malah tambah menjauh

Maka hatinya pun mati # dan buta dari taat kepada Allah Subhanahu wa taala

Di bawah syair ini tertulis bahwa sumbernya berasal dari hadis yaitu:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَيَأْتِي زَمَانٌ عَلَى أُمَّتِيْ يَفِرُّوْنَ مِنَ الْعُلَمَاءِ، فَيَبْتَلِيْهِمُ اللهُ تَعَالَى بِثَلاَثِ بَلِيَاتٍ

Artinya Nabi bersabda, “Kelak akan datang suatu masa pada umatku, mereka menjauh dari para ulama, maka Allah akan memberikan tiga cobaan kepada mereka.”

Jika melihat hadis yang tercantum di kitab itu ternayata tidak lengkap, karena ketiga perihal tentang cobaan itu belum dirincikan. Meskipun begitu, hadits ini terdapat juga dalam kitab Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi Al‐Bantani, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

سَيَأْتِيْ زَمَانٌ عَلَى اُمَّتِيْ يَفِرُّوْنَ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَالْفُقَهَاءِ فَيَبْتَلِيْهِمُ اللهُ تَعَالَى بِثَلاَثِ بَلِيَّاتٍ: اُوْلاَهَا يَرْفَعُ بَرَكَةَ مِنْ كَسْبِهِمْ وَالثَّانِيَةُ يُسَلِّطُ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِمْ سُلْطَانًا ظَالِمًا وَالثَّالِثَةُ يَخْرُجُ مِنَ الدُّنْيَا بِغَيْرِ اِيْمَانٍ

“Akan datang satu zaman atas umatku dimana mereka lari (menjauhkan diri) dari (ajaran dan nasihat) ulama’ dan fuqaha’, maka Allah Taala menimpakan tiga macam musibah atas mereka, yaitu: pertama, Allah mengangkat (menghilangkan) keberkahan dari hasil usaha mereka, kedua, Allah menjadikan penguasa yang zalim untuk mereka dan, ketiga,  Allah mengeluarkan mereka dari dunia ini tanpa membawa iman

Syair ini biasanya dibaca ketika hendak memulai pengajian, dengan menggunakan nada shalawat yang sudah akrab didengar. Syair ini juga mengingatkan kita supaya terus mengaji pada para ajengan dan kiai agar selamat di hari akhir nanti. Wallahu a’lam. (Amin Nur Hakim)

Sabtu 27 Januari 2018 17:30 WIB
Kisah Kesaksian Hadirnya Rasulullah saat Mahallul Qiyam
Kisah Kesaksian Hadirnya Rasulullah saat Mahallul Qiyam
Ilustrasi (via fiqihmenjawab)
Selasa malam Rabu, 23 Januari 2018, pukul 21.30 lebih.

Malam ini aku baru saja masuk rumah setelah sebelumnya sejak ba’da shalat Isya tadi aku bersilaturahim ke rumah seorang teman: Ustadz Iman Baihaki. Kami berbincang banyak hal terutama soal rencana pendirian pesantren di Kota Tegal.

Di tengah perbincangan malam ini Ustadz Baihaki menyampaikan kepadaku bahwa ia memiliki jam’iyah binaan yang kegiatannya membaca maulid nabi. Menurutnya, ada salah satu anggota jam’iyah, seorang anak kecil yang masih duduk di kelas 4 SD, yang bila saatnya mahallul qiyam anak itu pasti jatuh semaput, tak sadarkan diri. Ini selalu terjadi setiap kali si anak mengikuti pembacaan maulid dan sampai pada sesi mahallul qiyam.

“Bahkan,” sambung sang ustadz, “pernah satu ketika ibunya mendapat giliran jam’iyahan ibu-ibu di kampungnya. Para ibu anggota jam’iyahan itu sudah hadir dan memulai membaca maulid. Sementara si anak asyik bermain di halaman rumah. Anehnya ketika masuk sesi mahallul qiyam di mana para ibu itu berdiri, si anak yang sedari tadi asyik bermain tiba-tiba menghentikan permainannya dan berlari menuju pintu dan serta merta berdiri tegak di depan pintu. Tak berapa lama kemudian ia terjatuh, pingsan.”

“Setiap kali itu terjadi ia baru sadar dari pingsannya setelah sesi mahallul qiyam selesai,” imbuh Ustadz Baihaki.

Setelah hal ini beberapa kali terjadi sang bapak mencoba bertanya perihal apa yang dialaminya. Pada mulanya si anak diam. Namun setelah berulang ditanya akhirnya si anak bercerita, “Setiap kali mulai mahalaul qiyam saya selalu melihat tempat dibacanya maulid penuh sesak dengan ribuan orang. Wajah mereka bercahaya. Namun di tengah-tengah mereka ada satu orang yang bisa saya lihat tubuhnya namun tak bisa saya lihat wajahnya, karena cahaya yang terpancar sangat luar biasa terang sekali.”

Siapa orang-orang itu?

Si anak bercerita, “Ada Abu Bakar Sidiq, ada Umar, Fatimah, Khadijah dan sebagainya.”

“Bagaimana kau mengenali mereka?” tanya Ustadz Baihaki.

“Karena mereka mengenalkan diri pada saya.”

Ustadz Baihaki melanjutkan ceritanya, “Bahkan ketika di masjid Agung sedang dibaca maulid dan sampai pada mahallul qiyam pun anak itu yang berada di rumah sempat pingsan. Ia mengaku melihat masjid agung penuh sesak dengan hadirnya ribuan orang saat mahallul qiyam.”

“Saya pernah menyampaikan hal ini kepada beberapa ulama dan habaib, termasuk kepada Kiai Subhan Makmun (pengasuh Pesantren Assalafiyah Luwungragi Brebes dan Rais Syuriyah PBNU). Mereka mengatakan bahwa ini benar, cahaya yang terang benderang itu yakin adalah Baginda Rasulullah, dan meminta saya untuk menjaga anak tersebut.”

Mendengar cerita temanku yang alumni hadramaut ini bulu kudukku tiba-tiba berdiri, merinding. Aku merasa bersyukur bahwa silaturahmiku malam ini benar-benar memberi keberkahan. Aku makin yakin pada apa yang disampaikan para guru, bahwa ketika mahallul qiyam Baginda Kanjeng Nabi Muhammad hadir di tengah-tengah kita.

Maka malam ini ketika aku baru saja masuk ke dalam rumah, kuraih alat tulisku, kutulis kisah penuh berkah itu.

Bagi Anda yang mempercayai kehadiran Kanjeng Nabi di saat mahallul qiyam semoga kisah ini menambah keyakinan Anda itu. Dan bagi Anda yang hanya mempercayai bahwa kebenaran hanya ada pada materi teori dan logika, maka tak harus percaya. Tetaplah pada keyakinan bahwa mata dan akal logika adalah segalanya.


Yazid Muttaqin, santri alumni Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Solo, kini bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara di lingkungan Kemenag Kota Tegal.