IMG-LOGO
Trending Now:
Hikmah

Balasan Tak Terduga KH Hasyim Asy’ari saat Dikerjai Santrinya

Jumat 16 Februari 2018 18:31 WIB
Balasan Tak Terduga KH Hasyim Asy’ari saat Dikerjai Santrinya
KH Muhammad Hasyim Asy'ari.
Alkisah, KH Muhammad Hasyim Asy’ari – pendiri organisasi Nahdlatul Ulama - memiliki seorang santri dari bernama Sulam Syamsun. Ia adalah ayah dari Munyati Sulam, penyiar di TVRI yang biasanya disuruh qira’ah. Sulam Syamsun ini adalah santri yang tergolong bandel. Saking bandelnya, ia sampai memiliki banyak hutang.

Pada suatu waktu pasca hari raya, setelah musim liburan, Sulam tidak berani kembali ke pondok. Ia kemudian berkirim surat kepada kiainya, KH Hasyim Asy’ari yang kurang lebih isinya: 

Teruntuk Hadratussyekh Hasyim Asy’ari. Ini saya ayahanda Sulam. Mengabarkan, bahwa Sulam tidak bisa kembali ke pondok, karena Sulam telah meninggal dunia. Jika ada salahnya mohon dimaafkan. Jika ada utangnya mohon untuk di-ikhlasaken.

Mendapat surat seperti itu, Kiai Hasyim menangis (muwun), karena salah satu santrinya meninggal dunia. Kemudian beliau mengumpulkan para santri untuk diajak shalat ghaib (sholat yang dilakukan tatkala seorang muslim yang meninggal dunia pada tempat yang jauh dan tidak memungkinkan didatangi). Setelah shalat ghaib, beliau mengumumkan:

“Hadirin sekalian, ini Sulam telah meninggal dunia. Maafkan kesalahannya, ya? Dimaafkan, ya?,” pinta Kiai Hasyim, dalam bahasa Jawa.

Semua santri menjawab: “Nggih...” (Iya)

Kemudian yang agak berat, soal utang. “Kalau ada utangnya, diikhlaskan, ya?”

Karena Kiai Hasyim yang berbicara, semua santri menjawab kompak: “nggih...
 
“Halal?”

“Halal,” jawab santri, serempak.

Tak dinyana, tiba-tiba kemudian, dari pintu pondok, Sulam berlari mendekat sambil berteriak: “matur nuwuuun” (terima kasih....!)

Melihat kelakuan santrinya yang “kurang ajar” seperti itu, Kiai Hasyim bukannya marah, malah justru menangis, merangkul Sulam.

Alhamdulillah, Lam, kamu masih hidup. Aku kira meninggal dunia beneran. Ya sudah, aku sudah terlanjur mengikrarkan: kamu di sini sudah tidak punya salah dan tidak punya hutang. Adapun yang masih belum ikhlas dengan hutangmu, karena kamu masih hidup, Lam, dan aku sudah berbicara, aku yang menanggungnya sekarang. Jadi kalau ada yang punya hutang di Sulam, atau yang dihutangi Sulam, tagihlah aku,” tutur Kiai Hasyim.

Itulah, sekelumit kisah kearifan sosok KH Hasyim Asy’ari. Juga salah satu potret kenyonyolan santri sekaligus keteladanan kiai dalam balutan kultur pesantren. Kekonyolannya jelas, bahwa Sulam mencari akal agar bagaimana hutangnya bisa lunas dengan caranya yang seorang “santri nakal”.

Di sisi lain, kita melihat bagaimana sang pendiri NU, yang kini ekspansi kulturalnya dikespor ke berbagai negara itu, tak mudah marah. Beliau memperlakukan santri yang nakal diluar batas kewajaran pun – dengan mengaku telah meninggal sekalipun – dengan penuh kasih sayang dan cinta. Beliau membalas kekonyolan dengan harum kebaikan.

Ini baru akhlak seorang ulama Kiai Hasyim Asy'ari, belum Baginda Nabi Muhammad SAW yang akhlaknya tak ada tandingannya. Itu mengapa, jika Nabi terlalu jauh bagi kita untuk menggapai-gapai keteladanannya, kita bisa melihat percikan cahayanya dalam diri seorang ulama. Ulama yang benar-benar ulama. Ulama yang tak sekadar hafal beberapa ayat atau hadis dan “berbaju ulama”. Namun juga akhlaknya. Cinta dan kasih sayangnya kepada siapa saja.

Adakah orang yang mengaku atau merasa ulama, pemimpin, intelektual, dan kita semua umat Islam hari ini – mampu melaksanakan serpihan keteladannya? Melaksanakan dan menerjemahkan agama dengan cinta dan kasih sayang, ditengah godaan setan berupa hasud, marah, dan dendam? Semoga kisah di atas mampu menyadarkan: betapa indah cinta dan kasih sayang. (Ahmad Naufa)

Sumber kisah: sejarah tutur yang disampaikan oleh Kiai Ahmad Muwafiq, orator ulung Nahdlatul Ulama dalam ceramahnya di Pucung, Tirto, Pekalongan, Jawa Tengah, 6 Januari 2017 lalu.
Tags:
Kamis 15 Februari 2018 13:24 WIB
Saat Gus Dur ‘Gagal’ Bertemu Mbah Mutamakkin di Alam Kubur
Saat Gus Dur ‘Gagal’ Bertemu Mbah Mutamakkin di Alam Kubur
Gus Dur dan KH Abdullah Salam. (Dok. istimewa)
Memahami sosok KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (1940-2009) tak lepas dari seorang tokoh yang rajin bersilaturrahim dengan siapa pun. Baik dengan orang yang masih hidup maupun orang yang sudah meninggal. Bahkan, Gus Dur adalah salah seorang yang dianggap mampu berkomunikasi dengan orang yang diziarahinya di alam kubur.

Ketika menghadapi berbagai problem bangsa, baik saat belum menjadi Presiden RI maupun setelah memangku jabatan presiden, Gus Dur lebih memilih berkomunikasi dengan orang yang sudah meninggal dengan mengunjungi makamnya, ketimbang melakukan lobi-lobi politik.

“Saya datang ke makam, karena saya tahu, mereka yang mati itu sudah tidak punya kepentingan lagi.” (Wisdom Gus Dur, 2014)

Ada sebuah kisah ketika Gus Dur ingin berkunjung ke makam salah seorang leluhurnya, Syekh Ahmad Mutamakkin di Kajen, Pati, Jawa Tengah. Gus Dur memang selalu menyempatkan mampir ke makam Mbah Mutamakkin saat sedang melewati daerah Pati.

Menurut riwayat yang diceritakan KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Gus Dur kala itu mengabarkan ingin bertemu dengan dua orang kiai dari Kajen, Mbah Mutamakkin (hidup di masa Sunan Amangkurat IV, 1719-1726 M) dan Mbah Dullah (KH Abdullah Salam, 1917-2001). Bedanya, Gus Dur ingin bertemu Mbah Dullah di rumahnya, sedangkan Mbah Mutamakkin ingin ditemui Gus Dur di makamnya yang memang tidak pernah sepi peziarah.

Hal itu Gus Mus ungkapkan ketika sedang berbincang santai dengan KH Husein Muhammad Cirebon. Ketika itu, Gus Mus langsung meminta Kiai Husein untuk menyampaikan keinginan Gus Dur tersebut ke Mbah Dullah.

Kiai Husein langsung menuju Kajen, Margoyoso untuk menemui kiai kharismatik yang lahir 1917 (informasi dari KH Ma’mun Muzayyin, menantu Mbah Dullah) ini. Kiai Husein langsung menyampaikan tujuannya menemui Mbah Dullah.

“Wah, Gus Dur tidak akan bertemu dengan Mbah Mutamakkin, beliau sedang keluar,” tutur Mbah Dullah kepada Kiai Husein. (Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus, 2015)

Kiai Husein sendiri sudah mafhum apa yang dimaksud Mbah Mutamakkin sedang keluar seperti yang diungkapkan oleh Mbah Dullah. Orang-orang sholeh memang kerap mempunyai cara tersendiri dalam berkomunikasi meskipun secara jasad sudah meninggal. Hal ini tentu di luar batas nalar manusia pada umumnya, sebab ulama mempunyai keistimewaan yang disebut karomah.

Informasi dari Mbah Dullah tersebut disimpan oleh Kiai Husein dan akan dikabarkan ketika dirinya bertemu langsung dengan Gus Dur. Kiai Husein tidak mau orang lain salah paham ketika dirinya menyampaikan kabar dari salah seorang kiai sufi dan zahid (bersajaha, zuhud) tersebut.

Atas keinginannya untuk sowan kepada dua orang kiai Kajen tersebut, Gus Dur pun langsung meluncur ke Kajen dan ternyata langsung menuju rumah Mbah Dullah. Gus Dur sendiri tidak mampir ke rumah Kiai Husein. Kiai Husein pun tidak sempat mengabari Gus Dur mengenai penjelasan Mbah Dullah terkait kabar Mbah Mutamakkin.

Usai tiba di Kajen, mestinya Gus Dur menemui Mbah Mutamakkin terlebih dahulu sebelum menuju rumah Mbah Dullah. “Lah, jarene (katanya) menemui Mbah Mutamakkin dulu, kok ke sini (rumah Mbah Dullah) dulu?” tanya Shinta Nuriyah yang saat itu ikut mendampingi Gus Dur.

Gus Dur menjawab singkat, “Mbah Mutamakkin ora ono, lagek metu (Mbah Mutamakkin tidak ada, sedang keluar).”

Bagaimana Gus Dur mengetahui kabar Mbah Mutamakkin sedang keluar? Padahal kabar dari Mbah Dullah tersebut belum disampaikan kepada Gus Dur. Itulah pertanyaan pertama yang muncul di benak Kiai Husein.

Menurut Kiai Husein, itulah salah satu tanda kewalian Gus Dur. Orang semacam itu acap kali paham hal-hal yang orang pada umumnya tidak mengerti sehingga Gus Dur sering dinilai weruh sak durunge winara (mengetahui sebelum kejadian). Wallahu a’lam bisshowab... (Fathoni Ahmad)
Kamis 15 Februari 2018 6:0 WIB
Cara Ulama Menghormati Pendapat Anak Muda
Cara Ulama Menghormati Pendapat Anak Muda
Ilustrasi (thesufi.com)
Alkisah, seorang ulama terkemuka bernama Syekh Man’usy al-Maghribi dalam sebuah forum melontarkan penolakan terhadap pendapat Imam asy-Syafi’i yang mengatakan:

إِذَا دَخَلَ شَرْطٌ عَلَى شَرْطٍ، فَلَا يُوْجَبُ الْحُكْمَ إِلَّا بِتَقْدِيْمِ الْمُؤَخَّرِ

Artinya: “Jika satu syarat masuk ke dalam syarat yang lain maka tidak akan ada konsekuensi hukum, kecuali mendahulukan syarat terakhir.”

Dalam kitab Maraqil ‘Ubudiyah karya Syekh Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin Arabi al-Jawi al-Bantani dicontohkan, jika seseorang berkata pada istrinya dengan ucapan berikut: Bila engkau masuk rumah ini maka aku akan menalakmu. Bagi Imam asy-Syafi’i, hukum talak tidak terjadi kecuali bila wanita (istri) itu masuk ke dalam rumah. Syekh Man’usy pun menyampaikan kepada semua ulama dari empat mazhab yang hadir bahwa pendapat Imam asy-Syafi’i itu tidak ditemukan dalilnya dalam ungkapan bangsa Arab.

Ada ulama yang bernama Syekh Hamdan membantah pendapat Syekh Man’usy tersebut. Seketika, ulama yang lain pun mencemoohkannya. Syeikh Hamdan yang usianya paling muda di antara yang lain menguatkan pendapat Imam asy-Syafi’i. Menurutnya, apa yang dikatakan Imam asy-Syafi’i itu benar adanya.

Tapi Syekh Man’usy memberikan kesempatan Syeikh Hamdan untuk memberikan pendapat. Syekh Man’usy pun berkata, “Antara kita dan kebenaran tidak ada permusuhan, walaupun kebenaran itu datang dari seorang yang masih remaja. Sedangkan di antara kekhususan kami adalah menerima kebenaran dari mana pun datangnya. Tidak terkecuali dari seorang pemuda.”

Kemudian Syekh Man’usy menoleh kepada Hamdan seraya berkata, “Katakanlah, apa pendapatmu?” Lalu Syekh Hamdan menjawab, “Bagaimana pendapatmu tentang perkataan seorang penyair dalam struktur al-bahr al-basith ini?”

إِنْ يَّسْتَغِيْثُوْا بِنَا إِنْ يُّذْعَرُوْا يَجِدُوْا >< مِنَّا مَعَاقِدَ عِزَ زَانَهَا كَرُمَ

Artinya: “Jika mereka takut lalu meminta bantuan kepada kami, niscaya mereka akan mendapatkannya. Tempat-tempat kemuliaan yang dihiasi kemurahan hati.”

Menurut Syekh Hamdan, syair di atas menunjukkan bahwa pertolongan itu dibutuhkan setelah adanya rasa takut. Dan bukan sebelum adanya rasa takut. Adapun yang dikatakan Imam asy-Syafi’i itu benar karena dibuktikan dengan pernyataan fasih bangsa Arab. Mendengar pendapat itu, Syekh Man’usy pun tersenyum. Ia lantas berkata: “Benar yang kau katakan, wahai anakku,” lalu ia mendoakannya.

Ulama adalah pewaris para nabi. Maka, ulama mesti mencerminkan akhlak mulia yang diajarkan Rasulullah. Memuliakan orang tanpa melihat usia, suku, ras, dan agama. Seorang ulama juga mesti membuka diri (inklusif). Ia harus menyadari bahwa pendapat yang dipegang bisa juga keliru.

Kisah ini memuat pelajaran tentang kebijaksanaan ulama sepuh dalam menyikapi perbedaan pendapat orang lain. Ia terbuka menerima kebenaran dari mana saja dan dari siapa saja. Tak terbatas pada perbedaan usia maupun mazhab. Apalagi hanya berbeda organisasi. Usianya yang lebih tua tidak membuatnya lantas merasa paling benar. Begitu juga ulama yang usianya lebih muda harus juga tahu diri. Artinya tetap mengedepankan akhlak yang mulia dalam menyampaikan ketidaksetujuannya atas satu pendapat. (Suhendra)


Rabu 14 Februari 2018 9:30 WIB
Kisah Cinta Sejati pada Zaman Nabi
Kisah Cinta Sejati pada Zaman Nabi
“Kebenaran cinta terletak pada tiga hal: memilih ucapan kekasih daripada ucapan orang lain, memilih duduk bersama kekasih daripada duduk bersama orang lain, dan memilih kerelaan kekasih daripada kerelaan orang lain.”

Ada sebuah kisah yang sangat menarik tentang ketulusan cinta dan kasih sayang. Kisah yang diambil dari kitab ‘Uqudul Lujain karya Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani ini menggambarkan betapa cinta sejati mampu membutakan seseorang hingga ia rela melakukan hal apa pun demi membuktikan cintanya terhadap sesuatu yang ia cintai.

Ikhwal tentang pembuktian cinta sejati seharusnya tidak perlu menunggu momentum tertentu. Seperti yang saat ini marak dilakukan oleh mayoritas orang dengan mengusung Hari Valentine. Cinta sejati tidak melihat waktu kapan harus dibuktikan tapi ia benar-benar muncul setiap saat sebagai pembuktian ketulusan hati. Karena cinta sejati ada di setiap waktu dan setiap tarikan nafas manusia. 

Suatu ketika, seorang wanita keluar dari rumah untuk mendengarkan petuah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam beserta para sahabatnya. Di tengah jalan ada seorang pemuda yang melihatnya. Pemuda itu bertanya: “Wahai wanita yang mulia! Kamu mau pergi ke mana?” Wanita itu menjawab, “Aku ingin mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan duduk di sisinya dan mendengarkan sabdanya yang indah.”

“Apakah kamu mencintai Nabi?” tanya si pemuda itu. “Ya aku mencintainya,” jawab wanita itu. Si pemuda berkata lagi, “Demi kebenaran cintamu kepadanya, bukalah kerudungmu sampai aku dapat melihat wajahmu.”

Saat pemuda itu menyumpah dengan mengatasnamakan cinta kepada sang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lantas ia membuka kerudungnya sehingga pemuda itu benar-benar dapat melihat wajahnya.

Sesampai di rumah, ia menceritakan kejadian itu kepada suaminya. Penuturannya menggoyahkan hati si suami. Dalam hati, suaminya berkata, “Aku harus bisa membuktikan kebenaranya supaya aku lega. Dan aku juga harus mengujinya.” 

Suaminya lantas menyalakan tungku, pada tungku tersebut terdapat tempat atau lubang untuk meletakkan wajan untuk memasak roti. Dengan sabar suaminya menunggu sampai tungku menyala penuh. Setelah api menyala penuh, ia berkata pada istrinya, ”Demi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, masuklah ke dalam tungku itu.” 

Saat ia disumpah atas nama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, seketika itu ia langsung menceburkan diri ke dalam lubang tungku tanpa mempedulikan nyawanya karena benar-benar mencintai Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Melihat istri benar-benar menceburkan diri ke dalam tungku dan tenggelam di dalam api, si suami menjadi sangat menyesal dan sadar akan kebenaran ucapan istrinya. Lalu ia pergi menghadap Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan menceritakan semua kisah tentang istri beserta keadaanya saat itu.

Setelah mendengar penuturan cerita dari si suami, Nabi besabda, ”Pulanglah dan keluarkan ia dari dalam tungku.” Si suami pun akhirnya pulang dan segera mengeluarkan istrinya dari kepungan api yang memenuhi tungku. Namun anehnya, setelah ia berhasil mengeluarkan istrinya dari kepungan api tersebut didapatinya sang istri tidak apa-apa, badannya basah penuh keringat, seakan-akan ia habis dari pemandian air hangat (uap). (Zaenal Faizin)