IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Hadits

Keutamaan 'Shahih al-Bukhari' dan 'Shahih Muslim'

Senin 26 Februari 2018 21:0 WIB
Share:
Keutamaan 'Shahih al-Bukhari' dan 'Shahih Muslim'
Ilustrasi (wejdan.org)
Para pengaji hadits tentu tidak luput dari dua nama ini: Imam al-Bukhari dan Imam Muslim. Keduanya merupakan penyusun kitab hadits yang sering dirujuk, karena hadits-hadits yang dimuat oleh keduanya dipandang sebagai sumber mumpuni.

Ulama hadits pada masa Imam al-Bukhari (wafat 256 H) dan Imam Muslim (wafat 261 H) maupun setelahnya bersepakat bahwa kumpulan hadits yang dimuat dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, yang jamak disebut Shahihain, adalah kitab yang lebih utama dibanding kitab hadits lain. Dua kitab ini dinilai sebagai kitab hadits yang menetapkan syarat-syarat kesahihan hadits yang ketat.

Syarat kesahihan riwayat hadits adalah ketersambungan sanad antarperawinya, lalu para perawinya adalah pribadi yang saleh dan terjaga kepribadiannya (‘adalah) lagi kuat hafalannya (dlabth). Selain itu pada matan-nya (redaksi hadits) tidak terdapat kejanggalan (syadz) dan cela (‘illat).

Imam al-Bukhari maupun Imam Muslim memegang teguh kelima syarat tersebut, dengan kriteria yang lebih ketat. Semisal, Imam al-Bukhari menggunakan syarat keharusan para perawi benar-benar untuk saling bertemu (tsubutul liqa’) sebagai kriteria ketersambungan sanad dalam Shahih-nya. Sedangkan bagi kalangan ulama hadits lain, adanya kemungkinan para perawi untuk bertemu secara masa dan tempat (imkaniyatul liqa’) dipandang sudah memenuhi syarat ketersambungan sanad.

Begitupun dalam Shahih Muslim, salah satu syarat yang dipertimbangkan ketat adalah bahwa beliau menggunakan hadits-hadits yang disandarkan pada Nabi (marfu’) lebih banyak. Sehingga riwayat dalam kitab Shahih Muslim yang disandarkan pada sahabat (mauquf) maupun generasi setelahnya jumlahnya hanya sedikit.

Imam an Nawawi (wafat 676 H) memberikan komentar bahwa dua kitab shahih–yaitu Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim–merupakan kitab yang disepakati kesahihan haditsnya oleh ulama ahli hadits. Begitu pula Imam Ibnu Shalah (wafat 643 H), menyebutkan dalam karyanya tentang ilmu hadits yang berjudul Muqaddimah Ibnu Shalah bahwa hadits-hadits yang dihimpun oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam Shahihain, merupakan hadits sahih yang derajatnya paling tinggi, atau kerap disebut muttafaq ‘alaih.

Tidak semua hadits yang dinilai sahih oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dihimpun dalam dua kitab sahih tersebut. Keduanya juga menyusun kitab hadits lain selain Shahihain. Imam Muslim menyatakan dalam pengantar Shahih Muslim, bahwa, “...tidaklah semua hadits yang aku nilai sahih terhimpun dalam kitab sahih ini. Aku hanya meletakkan hadits-hadits yang telah banyak disebut dan disepakati oleh mayoritas ulama.”

Demikian mengapa posisi kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dipandang istimewa di kalangan ulama ahli hadits, begitu pula ahli fiqih. Melalui syarat-syarat kesahihan yang ketat, Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim telah menghasilkan karya yang istimewa dan selalu dirujuk serta dikaji umat Islam. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)

Tags:
Share:
Rabu 14 Februari 2018 22:3 WIB
Ini Cara Mengetahui Kredibilitas Perawi Hadits
Ini Cara Mengetahui Kredibilitas Perawi Hadits
(via twitter)
Hadits shahih harus memenuhi beberapa persyaratan: ketersambungan sanad, perawi adil, hafalan perawi kuat, tidak ada syadz, dan tidak ada ‘illah. Lima persyaratan ini disimpulkan dari defenisi hadits shahih itu sendiri. Kalau hilang salah satu dari lima syarat ini, kualitas hadits berubah menjadi dhaif.

Di antara persyaratan hadits shahih yang harus dipenuhi adalah perawi harus adil dan dhabith (hafalannya kuat). Menurut Mahmud Thahan dalam Kitab Taysiru Musthalahil Hadits, yang dimaksud dengan ‘adil (‘adalah) dan dhabit di sini adalah sebagai berikut:

العدالة: ويعنون بها أن يكون الراوي مسلما بالغا عاقلا سليما من اسباب الفسق سليما من خوارم المروءة. والضبط: ويعنون به أن يكون الراوي غير مخالف للثقات ولا سيء الحفظ ولا فاحش الغلط ولا مغفلا ولا كثير الأوهام

Artinya, “’Adalah (adil) ialah perawinya Muslim, baligh, berakal, tidak melakukan perbuatan fasik, dan tidak rusak moralnya. Sedangkan dhabit ialah periwayatan perawi tidak bertentangan dengan perawi tsiqah lainnya, hafalannya tidak jelek, jarang salah, tidak lupa, dan tidak keliru.”

Adil yang dimaksud dalam istilah ilmu hadits berati seorang perawi harus beragama Islam, baligh dan berakal, serta tidak melakukan perbuatan fasik dan moralitasnya tidak rusak. Dengan demikian, kalau ada perawi yang melakukan perbuatan tercela atau pernah bohong misalnya, maka hadits yang diriwayatkannya tidak bisa diterima.

Adapun dhabit berkaitan dengan kekuatan hafalan dan seorang perawi jarang melakukan kesalahan. Orang yang kekuatan hafalannya bagus, periwayatannya tidak akan bertentangan atau menyalahi hadits yang diriwayatkan oleh perawi tsiqah lainnya. Kalau ada perawi yang meriwayatkan hadits bertentangan dengan perawi tsiqah, besar kemungkinan hafalannya bermasalah.

Dalam Kitab Taysiru Musthalahil Hadits, Mahmud Thahan juga menjelaskan cara untuk mengetahui perawi itu adil dan dhabit. Menurutnya, ada dua cara yang bisa dilakukan untuk mengetahui keadilan perawi:

Pertama, kualiatas perawi hadits dapat diketahui berdasarkan pengakuan dari perawi lain atau ulama hadits.

Kedua, kualitas perawi hadits bisa diketahui dari popularitasnya. Orang yang sudah populer kualitas dan kealimannya tidak perlu lagi pengakuan dari ulama hadits. Maksudnya, tanpa pengakuan pun periwayatannya sudah bisa diterima karena sudah populer. Misalnya, hadits-hadits yang disampaikan oleh imam empat madzhab, Sufyan Ats-Tsauri, ‘Azra’i, dan ulama terkenal lainnya.

Adapun cara mengetahui kualitas hafalan perawi adalah dengan cara membandingkan hadits yang disampaikannya dengan perawi tsiqah lainnya. Kalau hadits yang disampaikannya sesuai dengan perawi tsiqah lainnya berarti kualitas hafalannya bagus. Apabila bertentangan dan berbeda dengan perawi tsiqah, maka hafalannya dianggap bermasalah dan tidak bisa dijadikan pedoman kalau kesalahannya terlalu fatal. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)
Selasa 13 Februari 2018 19:45 WIB
Kajian Hadits Soal Kesunahan Membunuh Cicak
Kajian Hadits Soal Kesunahan Membunuh Cicak
(via wejdan.org)
Saat masih kecil, kita beserta teman-teman di desa sering memburu cicak. Salah satu motivasi kita saat itu adalah kesunahan yang “katanya” didasarkan pada sebuah riwayat hadits.

Saat itu, kita sama sekali tidak mengerti bagaimana bunyi haditsnya. Namun saya saat itu sempat ditegur dan dimarahi orang tua. Kata orang tua, “Cicak juga ingin hidup nyaman seperti kita. Mereka punya keluarga. Kalau ia mati, siapa yang akan memberi makan anak-anaknya.”

Begitulah kiranya kata-kata orang tua saya sembari mencontohkan kalau cicak itu adalah orang tua saya sendiri. Tentu saya, bahkan kita semua tak akan mau jika orang tua kita meninggal karena dibunuh orang lain.

Dan ternyata memang benar, dalam hadits riwayat Muslim terdapat sebuah hadits yang menjelaskan beberapa keutamaan membunuh cicak.

مَنْ قَتَلَ وَزَغًا فِى أَوَّلِ ضَرْبَةٍ كُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَفِى الثَّانِيَةِ دُونَ ذَلِكَ وَفِى الثَّالِثَةِ دُونَ ذَلِكَ

Artinya, “Barang siapa yang membunuh cicak sekali pukul, maka dituliskan baginya pahala seratus kebaikan. Barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala yang kurang dari pahala pertama. Barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala lebih kurang dari yang kedua,” (HR Muslim).

Hal ini tentu menjadikan kita bertanya-tanya, benarkah Rasulullah sejahat itu? Padahal dalam riwayat hadits yang lain, tergambar jelas bahwa Rasulullah sangat menyayangi binatang. Tapi mengapa kepada hewan kecil sejenis cicak Rasulullah begitu kejam?

Hal ini tentu paradoks bagi kita. Oleh karena itu, marilah kita pahami hadits anjuran membunuh cicak tersebut dengan seksama, tentunya dengan ilmu pemahaman hadits (fiqhul matan hadits) sesuai yang diajarkan oleh para ulama kita.

Pertama, mengenai redaksi hadits yang digunakan. Dalam memahami hadits, kita harus memastikan redaksi kata yang dipakai dalam hadits tersebut digunakan untuk menyebutkan hal apa pada waktu dahulu. Bukan malah mengartikannya dengan arti yang digunakan manusia zaman sekarang.

Hal ini disebut oleh Al-Qaradhawi dalam Kaifa Nata‘amal ma'a Sunnah-nya sebagai "At-ta'kid min madlulati alfazhil hadits".

Maka kata harus memastikan, kata 'al-auzagh' dalam hadits tersebut apakah untuk menunjukkan kata cicak seperti cicak-cicak di rumah kita atau tidak.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Muslim-nya menjelaskan bahwa auzagh yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah yang sejenis saamul abrash, yakni cicak yang dapat mendatangkan penyakit. Atau ditegaskan lagi oleh An-Nawawi sebagai al-hasyaratul mu'dzi (hewan yang dapat menyakiti).

قال أهل اللغة الوزغ وسام أبرص جنس فسام أبرص هو كباره واتفقوا على أن الوزغ من الحشرات المؤذيات وجمعه أوزاغ ووزغان وأمر النبى صلى الله عليه و سلم بقتله وحث عليه ورغب فيه لكونه من المؤذيات

Artinya, “Para ahli bahasa mengatakan bahwa cicak dan tokek belang adalah satu jenis, sedangkan tokek belang merupakan jenis cicak yang besar. Para ahli bahasa sepakat bahwa cicak merupakan binatang yang menyakiti. Bentuk jamaknya adalah auzag dan wazghan. Nabi SAW memerintahkan dan menganjurkan untuk membunuhnya karena ia merupakan salah satu hewan yang bisa membuat sakit,” (Lihat Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Minhaj Syarhu Sahihi Muslim, Beirut, Dar Ihya’it Turats, 1392 H, juz 14, halaman 236).

Dari penjelasan An-Nawawi ini, tergambar jelas bahwa kata auzagh dalam hadits tersebut sama sekali tidak untuk cicak-cicak yang hidup damai di rumah-rumah kita.

Kedua, mengapa diberikan kebaikan (hasanat) bagi membunuhnya dengan pukulan-pukulan tertentu?
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa anjuran membunuh jenis cicak dalam hadits itu karena ia dapat menularkan penyakit.
Menurut An-Nawawi, anjuran untuk membunuh hewan ini dengan pukulan tertentu karena semakin cepat dibunuh, maka akan semakin membuat diri kita aman dari penyakit.

وأما سبب تكثير الثواب فى قتله بأول ضربة ثم ما يليها فالمقصود به الحث على المبادرة بقتله والاعتناء به وتحريس قاتله على أن يقتله بأول ضربة فانه اذا أراد أن يضربه ضربات ربما انفلت وفات قتله

Artinya, “Adapun sebab banyaknya pahala yang akan didapatkan saat membunuh dengan sekali pukulan dan seterusnya adalah anjuran untuk membunuh secepatnya dan memusatkan perhatian serta menjaga pembunuhnya. Karena jika membunuhnya dengan beberapa kali pukulan ditakutkan lolos,” (Lihat Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Minhaj Syarah Sahihi Muslim, Beirut, Dar Ihya’ Turats, 1392 H, juz 14, halaman 236).

Tentunya jika cicak itu lolos, bisa menyakiti orang yang akan membunuhnya. Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa cicak dibunuh karena meniupi api agar membakar Ibrahim AS, berdasarkan hadits riwayat Bukhari.

عَنْ أُمِّ شَرِيكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ وَقَالَ كَانَ يَنْفُخُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلاَم

Artinya, “Rasulullah SAW memerintahkan untuk membunuh cicak. Beliau bersabda, ‘Dahulu cicak ikut membantu meniup api Ibrahim AS,’” (HR Bukhari).

Namun hadits ini juga tidak bisa dijadikan alasan untuk membunuh cicak karena illat sebenarnya dari hadits tersebut adalah membahayakan Ibrahim, sama seperti cicak pada masa Rasul saat itu yang dianggap menimbulkan penyakit kusta sebagaimana disebutkan Badruddin Al-Aini dalam Umdatul Qari:

ويصير ذلك مادة لتولد البرص

Artinya, “Cicak tersebut terdapat zat yang dapat menimbulkan penyakit kusta,” (Lihat Badruddin Al-Aini, Umdatul Qari Syarah Sahih Bukhari, Beirut, Dar Ihya Turats, tanpa tahun, juz XV, halaman 250).

Dengan demikian argumen yang seharusnya dibangun adalah karena hewan itu membahayakan kita, bukan karena yang lain, apalagi karena dendam atas Nabi Ibrahim AS.

Oleh karena itu hadits ini tidak boleh dipahami dengan bahasa yang digunakan sekarang yakni kata auzagh dalam hadits tersebut disamakan dan diartikan dengan cicak di rumah-rumah kita. Apakah cicak di rumah kita bisa menimbulkan penyakit?

Tentu akan sangat kasihan sekali jika cicaknya diburu oleh anak-anak kecil yang tak tahu apa-apa hanya karena iming-iming pahala mengerjakan sunah. Wallahu a'lam. (Muhammad Alvin Nur Choironi)
Senin 29 Januari 2018 13:4 WIB
Macam-Macam Hadits Dhaif (3)
Macam-Macam Hadits Dhaif (3)
(© pinterest)
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, ada dua penyebab utama kedhaifan hadits: rantaian sanadnya tidak bersambung dan perawi haditsnya tidak kredibel. Penyebab perawi hadits tidak kredibel ini ada dua pula: moralitasnya rusak (tidak adil) dan hafalannya tidak kuat.

Pembagian hadits dhaif karena rusaknya moralitas perawi sudah dibahas pada tulisan sebelumnya, seperti hadits maudhu’, munkar, dan matruk.

Tulisan kali ini akan membahas pembagian hadits dhaif berikutnya, yaitu lantaran lemahnya hafalan perawi. Di antara macam hadits dhaif yang disebabkan oleh lemahnya hafalan perawi adalah maqlub, mudraj, dan muththarib. Penjelasannya berikut ini:

Maqlub
Mahmud Thahan dalam Taisiru Musthalahil Hadits mendefenisikan hadits maqlub dengan kalimat berikut ini:

إبدال لفظ بآخر في سند الحديث أو متنه بتقديم أو تأخير ونحوه

Artinya, “Hadits yang sanad atau matannya berubah karena ada lafal yang mestinya diakhirkan tapi didahulukan, atau yang mestinya di awal tapi diakhirkan.”

Terjadi perubahan dalam sanad ataupun matan hadits disebabkan oleh kurang kuatnya hafalan perawi. Akibatnya, susunan sanad ataupun matan hadits terbolak-balik. Misalnya, dalam sanad hadits nama perawi mestinya Ka’ab bin Murrah, tapi karena hafalan perawi tidak kuat, akhirnya berubah menjadi Murrah bin Ka’ab.

Perubahan itu tidak hanya terjadi pada sanad, dalam beberapa kasus juga terjadi pada matan hadits. Misalnya, dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah disebutkan bahwa ada tujuh kelompok yang mendapatkan naungan di hari akhirat kelak, di antaranya:

رجل تصدق بصدقة فأخفاها حتى لا تعلم يمينه ما تنفق شماله

Artinya, “Orang yang tidak ria ketika bersedekah, sehingga tangan kanannya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kirinya.”

Sementara dalam riwayat lain, sebagian rawi meriwayatkan hadits di atas dengan redaksi yang terbalik, meskipun substansi hadits pada hakikatnya tidak berubah. Redaksi lain berbunyi:

حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه

Artinya, “Tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.”

Mengubah atau membolak-balik susunan hadits, baik matan ataupun sanadnya, jelas tidak boleh. Namun dalam beberapa kondisi dibolehkan, seperti yang dijelaskan Mahmud Thahan, khususnya pada saat menguji hafalan perawi atau karena perawi itu lupa dengan catatan kesalahannya tidak fatal. Kalau kesalahannya fatal, maka termasuk ke dalam hadits dhaif yang tidak bisa diamalkan.

Mudraj
Hadits kategori Mudraj ialah:

ما غير سياق اسناده أو أدخل في متنه ما ليس منه بلا فصل

Artinya, “Hadits yang susunan sanadnya berubah atau di dalam matannya ditemukan tambahan yang sebetulnya bukan bagian dari matan hadits, tanpa ada pemisah.”

Mudraj berati hadits yang di dalamnya terdapat tambahan atau sisipan dari perawi yang sebenarnya bukan bagian dari hadits. Misalnya, Abu Hurairah meriwayatkan:

أسبغوا الوضوء، ويل للاعقاب من النار

Artinya, “Sempurnakan wudhu, celakalah mata kaki dari api neraka.”

Redaksi “أسبغوا الوضوء” pada hadits di atas bukanlah bagian dari perkataan Nabi, tetapi perkataan Abu Hurairah. Menurut Mahmud Thahan, menambahkan kata atau kalimat dalam hadits hukumnya diharamkan, kecuali kalau tujuannya untuk menjelaskan kalimat yang asing atau tidak jelas maknanya.

Mudhtharib
Mahmud Thahan dalam Taisiru Musthalahil Hadits menjelaskan, hadits Mudhtharib adalah sebagai berikut:

ما روي على أوجه مختلفة متساوية في القوة

Artinya, “Hadits yang memiliki varian riwayat dan kualitasnya sama.”

Maksudnya adalah hadits yang diriwayatkan dari berbagai macam jalur periwayatan, maknanya saling kontradiksi, dan tidak bisa dikuatkan salah satunya karena kualitasnya sama.

Kontradiksi periwayatan itu bisa terjadi pada satu orang ataupun kelompok. Bisa jadi satu orang meriwayatkan beberapa hadits dengan tema yang sama, tetapi saling kontradiksi, atau sebagian perawi bertentangan riwayatnya dengan perawi yang lain.

Dikarenakan tidak bisa ditarjih ataupun dikompromikan, keseluruhan riwayat tersebut tidak diamalkan, kecuali kalau ditemukan solusinya. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)