IMG-LOGO
Hikmah

Pesan Mursyid Naqsyabandiyah Khalidiyah untuk Pengguna Medsos

Jumat 9 Maret 2018 18:15 WIB
Pesan Mursyid Naqsyabandiyah Khalidiyah untuk Pengguna Medsos
Syekh Irfai Nahrawi, mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah
Di zaman yang yang penuh terjangan informasi layaknya air bah ini, suka tidak suka, pertahanan terakhir terletak pada kedewasaan seseorang. Sejauh mana akal budinya telah dilatih untuk memetakan, merinci dan menyediakan wawasan yang luas sebagai bahan mengevaluasi informasi. 

Lebih penting dari itu, faktor kematangan emosional dan kejernihan spiritual akan mendeterminasi sikap dan tindakan terhadap informasi-informasi tersebut. Manusia kini dituntut serba sigap dan dipersenjatai, karena arena informasi telah berubah menjadi arena pertempuran pengaruh-mempengaruhi. Ini berita buruk bagi mereka yang beranggapan bahwa pengucilan dari informasi adalah jalan untuk istiqomah pada sebuah prinsip dan ajaran tertentu.

Faktanya, sebagian besar masyarakat kita justru kewalahan. Media sosial seringkali menyemburkan informasi-informasi bohong, hoaks, fitnah dan konten-konten caci maki dan penghinaan yang efektif menyulut kemarahan, kebencian, perasaan terteror dan pada akhirnya mulai memunculkan kecurigaan dan benih permusuhan. Ini dibuktikan dengan dampak yang timbul dari maraknya penyebaran isu teror terhadap ulama, akhir-akhir ini.

Adalah Syekh Muhammad Irfa’i Nahrowi, kiai enerjik yang belakangan hari sering “turun gunung” ini, mewanti-wanti agar tetap teguh menghadapkan hati pada kebenaran. Mursyid tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah ini berpesan agar tidak ikut-ikutan menjadi reaksioner terhadap wacana-wacana publik yang kerap memancing-mancing dalam ketenangan kita.

Melalui pesan Whatsapp yang dituliskan putranya, Gus Atabik Janka Dausat, Anggota Dewan Khos Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW) ini menggugah kita untuk menemukan poin penting dari aneka ragam “cuitan” yang membanjiri kita. Pesan ini mengingatkan kita bahwa dalam kitab suci kita sudah tersedia petunjuk teknis untuk menghadapi arus informasi yang sedahsyat apa pun.

"Salam hormat untuk saudaraku seagama dan sebangsa. Saudaraku kaum Muslimin, di tengah maraknya gelombang fitnah yang berdampak pertikaian dan perpecahan, dari hoaks hingga ujaran kebencian, dari sekian banyak ayat Al-Qur'an untuk mengatasi problematika “zaman now” yang muncul, jangan tinggalkan ayat ini.”


لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

(An-Nisa' 114)

Tidak ada kebaikan dari banyak “cuitan” mereka, kecuali “cuitan” dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau menciptakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar.”

“Bersaudaralah saudaraku, bersatulah bangsaku, mari bersama-sama berusaha dan memohon kepada Allah (beribtihal) untuk memadamkan kobaran api neraka di dunia ini sebagai jalan awal untuk kita membangun surga dunia dan surga yang hakiki di kehidupan nanti. Jangan relakan api neraka membakar dada dan pikiran setiap kita.”


“Kenapa suka membesar-besarkan masalah menjadi watak. Di mana Islam? Di mana Iman dan Ihsan? Juga di mana Allah SWT dan Rasul SAW? Tidakkah Abu Lahab telah terkubur dalam runtuhnya tirani jahiliyah?”

اللهم ارحمنا من زمن هذا واحداق الفتن وتطاول اهل الجرأة علينا واستضعافهم ايانا واجعلنا فى عياذ منيع وحرز حصين من جميع خلقك حتى تبلغنا اجلنا معافا


اللهم اهدنا الصراطك المستقيم
والسلام عليكم.......

Dengan pesan beliau ini, kita diajak menfilter kembali dalam pilihan merespon sekian banyak sumber informasi (cuitan) kita mestinya berfokus pada (mereka) yang selalu mengajak; pada sedekah (kedermawanan), pada perbuatan kebaikan dan pada perjuangan menciptakan perdamaian di antara manusia. Karena tiada kebaikan kecuali pada mereka yang tiada lelahnya mengajak untuk mengerjakan amaliah-amaliah sosial yang mengandung nilai-nilai kemanusiaan tersebut demi mengharap keridloanNya. (Fuad Al-Athor/Abdullah Alawi)

Kamis 8 Maret 2018 20:0 WIB
Meneladani Kemandirian Kiai Sahal
Meneladani Kemandirian Kiai Sahal
Suatu hari KH MA Sahal Mahfudh menghadiri sebuah acara yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Surabaya. Acara tersebut cukup elit karena dihadiri juga oleh duta-duta besar negara sahabat. Selepas acara ini, ada cerita menarik yang menunjukkan betapa Kiai Sahal begitu sangat mandiri dalam hal ekonomi.

Selama mengikuti acara itu yang berlangsung dua hari, Kiai Sahal menginap di salah satu hotel berbintang. Ia membayar hotel dengan uangnya sendiri dan menolak ketika ada panitia yang hendak membayarkannya. Dalam hal ini, Kiai Sahal berdalih bahwa ia tidak ingin menggunakan uangnya NU walau hanya sepeser pun. Bahkan, ia menekankan untuk membuat NU mandiri, bukan malah meminta kemandirian diri dari NU. 

Kalau seandainya Kiai Sahal mau, maka ia bisa saja mendapatkan pelayanan level wahid dengan mudah karena pada saat itu Kiai Sahal menjabat sebagai pimpinan tertinggi (Rais 'Aam) di organisasi yang berlambangkan bola dunia itu. Namun nyatanya ia tidak melakukannya. 

Itu adalah satu dari sekian cerita tentang kemandirian Kiai Sahal. Yang perlu diperhatikan adalah sifat kemandirian Kiai Sahal, dalam hal ini bidang ekonomi, bukan lah sesuatu yang ujug-ujug ada. Hal itu sudah mulai terbentuk sejak Kiai Sahal menjalani masa kanak-kanaknya. 

Dalam buku Kiai Sahal; Sebuah Biografi, Sahal kecil adalah seorang yang begitu aktif, kreatif, dan mandiri. Di usianya yang masih kanak-kanak, Kiai Sahal sudah berusaha untuk hidup mandiri dan mencari uang sendiri dengan melakukan berbagai macam upaya. 

Salah satunya adalah dengan jualan kacang goreng. Iya, Sahal kecil sudah berbisnis dengan menjual kacang goreng di ‘kantin kejujuran’ yang ia bangun, yaitu di depan rumah Mbah Nawawi, salah seorang ulama Kajen yang disegani pada saat itu. Barang dagangan Kiai Sahal tersebut habis dibeli oleh para tamu yang sowan ke Mbah Nawawi.   

Untuk mendapatkan uang, Sahal kecil juga membersihkan Makam Kanjengan Keraton Surakarta yang ada di desa Kajen. Ceritanya, ada salah seorang keluarga yang sedang berziarah di makam tersebut. Melihat ada anak-anak kecil di sekitar makam, maka peziarah tersebut menyuruh anak-anak tersebut, salah satunya Kiai Sahal, untuk membersihkan area makam dengan memberinya imbalan uang. Memang, Sahal kecil sering bermain dengan temannya di sekitar area makam tersebut.

Pengalaman-pengalaman tersebut tentu juga menjadi modal penting Kiai Sahal dalam membangun kemandirian dan ekonomi umat. Dalam buku Islam Nusantara Dalam Tindakan; Samudra Hikmah Kiai-Kiai Kajen, Kiai Sahal adalah orang yang aktif dalam membina dan membina kemandirian dan ekonomi masyarakat kecil di sekitar tempat tinggalnya di Kajen Pati. 

Mula-mula Kiai Sahal mendirikan Biro Pengembangan Pesantren Dan Masyarakat (BPPM) untuk mendorong masyarakat kecil memiliki pendapatan, pendidikan, dan kesehatan. Kemudian dibentuklah KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) untuk memantau program-programnya hingga didirikanlah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) untuk membantu memberikan bantuan modal kepada para pelaku usaha kecil.

Itulah sepenggal kisah tentang kemandirian Kiai Sahal. Pengalaman-pengalaman tersebut sedikit banyak telah mempengaruhi karakter dan kepribadian mandiri Kiai Sahal. Hingga meskipun sudah menjadi orang nomor satu di PBNU dan MUI (Majelis Ulama Indonesia), Kiai Sahal masih memegang erat sifat kemandirian. (A Muchlishon Rochmat)
Selasa 6 Maret 2018 9:21 WIB
Saat Gus Dur Dipanggil Sang Kakek ke Tebuireng
Saat Gus Dur Dipanggil Sang Kakek ke Tebuireng
Siang itu, di rumah sederhana penuh kehangatan dan keakraban, dua orang sahabat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) membincang segala seuatu dengan renyah penuh humor-humor segar.

Gus Dur yang ditemani istrinya Sinta Nuriyah duduk lesehan bahkan terkadang tiduran di rumah Gus Mus. Konon, seperti diriwayatkan oleh KH Husein Muhmmad Cirebon, pertemuan kedua sahabat tersebut terjadi sekitar seminggu sebelum Gus Dur berpulang atau wafat.

Gus Dur memang kerap mampir di kediaman Gus Mus. Pertemuan terakhir dengan Gus Mus di Leteh, Rembang itu memang sedikit mengundang tanda tanya. Hal itu muncul mengingat Gus Dur masih dalam kondisi sakit. Bahkan, selama 10 hari, Gus Dur sulit makan.

Namun, di rumah Gus Mus, Gus Dur justru begitu semangat melahap makanan sederhana yang disediakan oleh Gus Mus dan keluarga. Hal ini membuat Sinta Nuriyah sedikit terkesiap karena selama hampir dua minggu Gus Dur sulit makan. 

Dalam momen berharga tersebut, Gus Mus mengungkapkan, seperti biasa Gus Dur datang ke rumahnya sekadar ingin bertemu, istirahat, dan lesehan di atas tikar sambil ngobrol ke sana kemari, kadang sambil tiduran. 

Jika kami bertemu, Gus Dur akan bercerita tentang situasi bangsa dan negara, keadaan NU, keadaan para kiai, dan satu hal yang tidak pernah ditinggalkan Gus Dur: bercerita hal-hal unik, menarik, dan lucu-lucu yang membuat kami dan semua orang tertawa terbahak-bahak. Gus dur selalu saja membawa cerita unik, lelucon atau humor-humor baru, seperti tak pernah habis. (Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus, 2015)

Seperti itulah ungkapan Gus Mus setiap ngobrol santai bersama Gus Dur. Suasana obrolan didukung oleh interior ruang tamu di rumah Gus Mus yang terlihat begitu hangat dan santai. Dua sahabat tersebut larut dalam cerita-cerita menyegarkan tanpa kering substansi.

Pembawaan Gus Dur yang santai juga diungkapkan oleh Ahmad Tohari (Gus! Sketsa Seorang Guru Bangsa, 2017). Awal mengenal Gus Dur lewat tulisan-tulisannya di media massa pada 1970-an, Ahmad Tohari melihat bahwa Gus Dur adalah sosok cerdas dan serius. Setidaknya, pria kelahiran Banyumas tersebut melihat dari gagasan dan kaca mata berlensa tebal yang dipakai Gus Dur.

Penilaian cerdas sudah pasti iya, namun penilaian serius melenceng jauh. Karena setelah ia bertemu dan bertatap muka langsung dengan Gus Dur pada tahun 1980-an, Ahmad Tohari justru merasakan kehangatan dan sikap santai seorang Gus Dur. Belum lagi guyonan-guyonan cerdas yang keluar dari mulutnya membuat siapa saja dapat merasakan suasana cair ketika berhadapan dengan Gus Dur.

Obrolan bareng Gus Mus hampir selesai. Walaupun Gus Dur mengatakan bahwa mampirnya dia hanya sebentar, tetapi tak terasa hampir dua jam berlalu dua sahabat itu bercengkerama. Sedang asyik-asyiknya ngobrol dan bercanda ria, tiba-tiba Gus Dur bilang, “Gus Mus, aku harus segera berangkat ke Tebuireng, aku dipanggil Si Mbah.”

Gus Mus paham betul apa yang dimaksud ‘Si Mbah’ oleh Gus Dur. Ia adalah Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, kakek Gus Dur. Gus Dur kemudian bangkit dan mohon pamit kepada Gus Mus dan keluarganya untuk meneruskan perjalanan ke Jombang memenuhi panggilan kakeknya yang ‘dibisikkan’ kepadanya itu.

Jika Si Mbah sudah memanggil, Gus Dur akan segera datang, tanpa berbicara papun. Begitu pula jika ibunya memanggil. Di tengah perjalanan menuju Tebuireng, tetiba Gus Dur juga ingin menyambangi atau berziarah ke makam Mbah Wahab Chasbullah Tambakberas, guru pertama yang mengajari Gus Dur kebebasan berpikir.

Setelah itu, Gus Dur langsung menuju ke makam kakek, ayahnya dan anggota keluarga lainnya di Tebuireng. Gus Dur berjalan kaki menuju makam. Seperti biasa, Gus Dur membaca tahlil dan berdoa dengan khusyu beberapa saat. Konon diceritakan, Gus Dur tidak hanya sekadar berdoa, tetapi ia sedang berbicara dengan sang kakek. Wallahu a’lam bisshowab. (Fathoni Ahmad)
Ahad 4 Maret 2018 18:30 WIB
Ijazah Kiai Baedlowie Syamsuri saat Istri Hilang
Ijazah Kiai Baedlowie Syamsuri saat Istri Hilang
(Dari kiri) KH Mahrus Ali, KH Arwani Amin, dan KH Baedlowie Syamsuri
Saat musim haji tahun 2006 silam. Ada sepasang suami-istri yang sedang khusyuk berdoa di pelataran Masjidil Haram. Saking khusyuknya, ia tak menghiraukan apa pun yang terjadi di sekitarnya dan bagaimana kondisi saat itu juga.

Sang suami terutama, terlihat sangat konsentrasi menikmati momen bermunajat kepada Allah subhânahu wata‘âlâ. Sambil menengadah tangan dan menutup rapat kedua bola mata, laki-laki itu berkomat-kamit merapalkan untain harapannya.

Betapa kagetnya ia saat selesai bermunajat dan kembali membuka matanya. Sang istri yang sangat  ia cintai, mendadak hilang dari pengamatannya. Pandangannya semakin terbatas karena berjubel dengan lalu lalang jamaah dari seluruh dunia. Ia begitu bingung. Gelisah nan gundah gulana begitu menyelubung dalam relung hatinya. Maklum, manusia manakah yang tidak akan gelisah ketika seseorang yang dicinta tiba-tiba menghilang entah ke mana.

Ia bergegas melangkah gontai berbalik arah menuju maktab penginapannya. Di tengah perjalanan, nalurinya memberikan isyarat untuk meminta pertolongan kepada seorang kiai yang juga satu daerah dengannya. Ya, itu adalah Kiai Ahmad Baedlowi Syamsuri, putra keempat dari pendiri Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, Kiai Syamsuri Dahlan.

"Yai, tolong saya. Saya kehilangan  istri," adu suami tersebut pada Kiai Baidlowie

Setelah mendengar bagaimana kronologi hilangnya sang istri dengan seksama. Kiai Baidlowie lantas memberikan ijazah:

وَاللهُ مُخْرِجٌ مَّا كُنْتُمْ تَكْتُمُوْنَ

…Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan." (QS al-Baqarah: 72)

"Sekarang kembalilah ke Masjidil Haram. Selama di perjalanan, ayat itu bacalah berulang-ulang. Dibuat dzikiran. Sesampainya di sana laksanakanlah shalat hajat,"  jelas Kiai Baidlowie.

Dengan penuh harap, bapak itu kemudian kembali menuju Masjidil Haram sembari merapalkan ijazah dari Kiai Baidlowie. Sesekali, matanya menelisik meraba pemandangan kerumunan manusia yang sedang melakukan ibadah haji. Dengan harapan, mungkin saja ia bisa menemukan bayangan istri tercintanya di antara jutaan orang tersebut.

Dan benar, ia berhasil menemukan istrinya di pelataran Masjidil Haram. Betapa bahagianya ia. Pasangan pasutri ini kemudian bergegas menuju ke maktab kiai guna mengucapkan terima kasih dan meluapkan kebahagiaannya.

Kiai Baidlowie terlihat juga ikut senang atas kejadian tersebut. Namun sebelum beranjak pamit, sang kiai lantas berujar:

"Oh ya, lha tadi juga sudah shalat hajat?" selidik Kiai.

"Ehm... Ya tidaklah kiai. Saya tidak jadi shalat hajat. Kan, hajat saya sudah terkabul. Istri saya sudah ketemu."

Sontak mereka semua tertawa begitu lepasnya mendengar jawaban lugu dari bapak-bapak yang sempat kehilangan istri itu. (Ulin Nuha Karim)