IMG-LOGO
Warisan

Tujuh Penerima Bagian Pasti Seperenam dalam Warisan dan Syaratnya

Selasa 13 Maret 2018 20:30 WIB
Share:
Tujuh Penerima Bagian Pasti Seperenam dalam Warisan dan Syaratnya
Dalam hal siapa saja ahli waris yang bisa mendapatkan bagian pasti 1/6 (seperenam) Imam Muhammad bin Ali Ar-Rahabi dalam kitab Matnur Rahabiyyah-nya menuturkan:

والسدس فرض سبعة من العدد ... أب وام ثم بنت ابن وجد
والأخت بنت الأب ثــم الجـــده ... وولد الام تمام العده

(Muhammad bin Ali Ar-Rahabi, Matnur Rahabiyyah dalam ar-Rabahiyyatud Dîniyyah, Semarang, Toha Putra, tanpa tahun, halaman 24-25)

Dari kedua bait di atas dapat diambil satu pemahaman bahwa bagian pasti 1/6 (seperenam) diberikan kepada 7 (tujuh) orang ahli waris, yakni:

1. Bapak
2. Ibu
3. Cucu perempuan dari anak laki-laki
4. Kakek (bapaknya bapak)
5. Saudara perempuan seayah
6. Nenek
7. Saudara seibu

Baca juga: Penjelasan tentang Bagian Pasti dan Ashabah dalam Warisan
Dr. Musthafa Al-Khin dalam kitabnya al-Fiqhul Manhaji menjabarkan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh ketujuh ahli waris di atas untuk bisa mendapatkanbagian 1/6. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:

1. Bapaknya si mayit bisa mendapatkan bagian 1/6 dengan satu syarat adanya anak atau cucunya si mayit, baik laki-laki maupun perempuan, baik satu orang atau lebih.

Berdasarkan firman Allah dalam Surat An-Nisa ayat 11:

وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِنْ كَانَ لَهُ وَلَدٌ

Artinya: “dan bagi kedua orang tuanya si mayit masing-masing mendapatkan seperenam dari apa yang ditinggalkannya apabila ia memiliki anak.”

Hanya saja bila bapak bersamaan dengan anak perempuan atau cucu perempuan maka ia disamping mendapatkan bagian pasti 1/6 juga mendapatkan sisa harta waris (ashabah) bila masih ada sisa setelah diambil oleh para ahli waris yang mendapatkan bagian pasti (Musthafa Al-Khin, al-Fiqhul Manhaji, Damaskus, Darul Qalam, 2013, jilid II, halaman 291).

2. Ibu si mayit bisa mendapatkan bagian 1/6 bila memenuhi salah satu dari 2 syarat, yakni:

a. Adanya anak atau cucunya si mayit sebagaimana syaratnya bapak di atas.

Syarat ini didasarkan pada firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 11 sebagaimana tersebut pada persyaratan bapak di atas.

b. Bersamaan dengan adanya saudaranya si mayit lebih dari satu orang, baik saudara sekandung, saudara sebapak, ataupun saudara seibu atau gabungan dari ketiganya.

Berdasarkan firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 11:

فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ السُّدُسُ

Artinya: “Jika orang yang meninggal memiliki beberapa saudara maka bagi ibunya bagian seperenam.”

3. Kakek atau bapak dari bapaknya si mayit bisa mendapatkan bagian 1/6 bila memenuhi 2 syarat, yakni:

a. Adanya anak atau cucunya si mayit sebagaimana syaratnya bapak di atas.

b. Tidak adanya bapaknya si mayit.

Bila kakek menjadi ahli waris bersamaan dengan bapaknya si mayit maka ia terhalang oleh bapak untuk mendapatkan warisan (mahjûb). Ini dikarenakan bapak lebih dekat kepada si mayit dari pada kakek sehingga ia menjadi penghalang (hâjib) bagi kakeknya si mayit.

4. Nenek, baik ibu dari ibunya si mayit atau ibu dari bapaknya si mayit, baik berjumlah satu orang atau lebih, bisa mendapatkan bagian 1/6 bila memenuhi 2 syarat:

a. Tidak adanya ibunya si mayit. 

Bila nenek menjadi ahli waris berbarengan dengan adanya ibunya si mayit maka ia terhalang (mahjûb) untuk mendapatkan warisan. Ini dikarenakan seorang nenek menempati posisinya ibu. Bila sang ibu ada maka nenek terhalangi oleh ibu.

b. Tidak adanya orang yang menghalanginya untuk mendapatkan warisan.

Misalnya bapak bisa menghalangi ibunya bapak, kakek bisa menghalangi ibunya kakek, nenek yang lebih dekat ke mayit (jaddah qurbâ, misalnya buyut) bisa menghalangi nenek yang lebih jauh ke mayit (jaddah bu’dâ, misalnya canggah).

5. Cucu perempuan dari anak laki-lakinya si mayit, baik satu orang atau lebih, bisa mendapatkan bagian 1/6 bila memenuhi 3 syarat:

a. Bersamaan dengan satu orang anak perempuannya si mayit

b. Tidak bersamaan dengan anak laki-lakinya si mayit

c. Tidak bersamaan dengan ahli waris laki-laki yang mengashabahkan (mu’ashshib)-nya, yakni cucu laki-laki dari anak laki-lakinya si mayit.

Bila cucu peremuan ini bersamaan dengan anak perempuannya si mayit lebih dari satu atau bersamaan dengan anak laki-lakinya si mayit maka ia terhalang mendapatkan warisan (mahjûb).

Sedangkan bila ia bersamaan dengan mu’ashshibnya maka ia tidak mendapatkan bagian 1/6, tapi mendapatkan bagian sisa (ashabah) bersama dengan mu’ahshibnya, di mana pembagiannya cucu laki-laki mendapat dua kali bagian cucu perempuan.

6. Saudara perempuan sebapak, baik satu orang atau lebih, bisa mendapatkan bagian 1/6 dengan 3 syarat:

a. Tidak adanya anak (laki-laki atau perempuan) dan cucu (laki-laki atau perempuan) dari anak laki-lakinya si mayit.

b. Tidak ada orang tua laki-lakinya si mayit, yakni bapak dan kakek dari pihak bapaknya si mayit.

c. Tidak bersamaan dengan saudara laki-laki sekandungnya si mayit.

d. Bersamaan dengan satu orang saudara perempuan sekandungnya mayit

e. Tidak bersamaan dengan ahli waris laki-laki yang mengashabahkan (mu’ashshib)-nya, yakni saudara laki-laki sebapaknya si mayit

Bila saudara perempuan sebapak, baik satu orang atau lebih, memenuhi syarat-syarat tersebut di atas maka ia bisa mendapatkan bagian 1/6 dari harta warisan yang ditinggalkan saudaranya.

Dari syarat-syarat itu pula bisa dipahami bahwa saudara perempuan sebapak, baik satu orang atau lebih, benar-benar bisa mendapatkan bagian 1/6 bila ia bersamaan dengan saudara perempuan sekandungnya si mayit 1 orang saja, dan tidak ada ahli waris lain sebagimana disebutkan di atas.

Bila ia bersamaan dengan ahli waris lainnya maka ia tidak bisa mendapatkan bagian 1/6, namun bisa jadi ia mendapatkan bagian sisa (ashabah) atau bahkan tidak mendapat warisan apapun (mahjûb).

7. Saudara seibu, baik laki-laki atau perempuan, atau yang biasa disebut waladul umm bisa mendapatkan bagian 1/6 bila memenuhi 2 (dua) syarat:

a. Hanya satu orang.

Bila saudara seibu yang mewarisi berjumlah lebih dari satu orang maka mendapatkan bagian 1/3, bukan 1/6.

b. Tidak bersamaan dengan orang yang menghalanginya mendapatkan warisan. Orang-orang yang bisa menghalanginya adalah: bapak, kakek, anak laki-laki atau perempuan, dan cucu laki-laki atau perempuan.

Bila bersamaan dengan salah satu orang-orang tersebut maka saudara seibu tidak mendapatkan bagian warisan berapapun alias mahjûb.

Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)

Share:
Sabtu 10 Maret 2018 19:0 WIB
Dua Penerima Bagian Pasti Sepertiga dalam Warisan dan Syaratnya
Dua Penerima Bagian Pasti Sepertiga dalam Warisan dan Syaratnya
Dalam pembagian warisan, bagian pasti 1/3 (sepertiga) diberikan kepada 2 (dua) orang ahli waris, yakni ibu dan saudara seibu. Ini sebagaimana disampaikan oleh Imam Muhammad bin Ali Ar-Rahabi dalam kitab Matnur Rahabiyyah:

والثلث فرض الأم حيث لاولد ... ولا من الإخوة جمع ذوالعدد
وهــــو لــلإثنــين أواثـــنـــتين ... من ولد الام بغير مين

Artinya:
"Sepertiga itu bagiannya ibu bila tak ada anak
Juga bila tak ada saudara yang berbilangan banyak
Sepertiga juga bagi dua orang laki-laki atau perempuan
Dari anaknya ibu tanpa kebohongan."

(Muhammad bin Ali Ar-Rahabi, Matnur Rahabiyyah dalam ar-Rabahiyyatud Dîniyyah, Semarang: Toha Putra, tanpa tahun, halaman 21–22)
Tentunya kedua ahli waris tersebut bisa mendapatakan bagian 1/3 bila memenuhi syarat-syarat tertentu. Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam kitabnya al-Mu’tamad fil Fiqhis Syâfi’iy menjelaskan syarat-syarat tersebut sebagai berikut:

1. Seorang ibu bisa mendapatkan bagian 1/3 bila memenuhi dua syarat:

a. Tidak bersamaan dengan anaknya si mayit atau cucu dari anak laki-lakinya si mayit, baik laki-laki maupun perempuan, baik satu orang atau lebih.

Berdasarkan firman Allah dalam Surat An-Nisa ayat 11:

فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ الثُّلُثُ

Artinya: “Apabila orang yang meninggal tidak memiliki anak dan yang mewarisinya adalah kedua orang tuanya maka bagi ibunya bagian sepertiga.”

Bila seorang ibu bersamaan dengan anak atau cucunya si mayit maka ia hanya mendapatkan bagian 1/6, bukan 1/3.

b. Tidak bersamaan dengan saudaranya si mayit lebih dari satu orang, baik saudara si mayit itu laki-laki maupun perempuan, baik saudara sekandung, sebapak, ataupun seibu.

Bila bersamaan dengan saudaranya si mayit lebih dari satu orang maka ibu hanya mendapat bagian 1/6, bukan 1/3 (Wahbah Az-Zuhaili, al-Mu’tamad fil Fiqhis Syâfi’iy, Damaskus, Darul Qalam, 2011, juz IV, halaman 374).

Berdasarkan firman Allah dalam Surat An-Nisa ayat 11:

فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ السُّدُسُ

Artinya: “Apabila orang yang meninggal memiliki beberapa saudara maka bagi ibunya bagian seperenam.”

2. Saudara seibu.

Yang dimaksud saudara seibu di sini adalah saudaranya si mayit yang satu ibu namun beda bapak. Dalam hal warisan saudara seibu antara laki-laki dan perempuan dianggap sama, tidak dibedakan, sehingga ketika berkumpul saudara laki-laki seibu dan saudara perempuan seibu semuanya mendapat bagian yang sama rata, tidak berlaku hukum “laki-laki mendapat dua bagian perempuan”.

Sebagaimana disebutkan Imam Ar-Rahabi dalam baitnya:

وتستوى الإناث والذكور ... فيه كما قد أوضح المسطور

Artinya:
Dan sepadan (saudara seibu) perempuan dan laki-laki
Di dalam bagian seperenam sebagaimana telah dijelaskan Al-Qur’an yang tertulis

(Muhammad bin Ali Ar-Rahabi, tt: 24)

Firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 12:

فَإِنْ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ فَهُمْ شُرَكَاءُ فِي الثُّلُثِ

Artinya: “Bila saudara seibu itu lebih dari satu orang maka mereka bersekutu dalam mendapat bagian sepertiga.”

Dr. Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan bahwa saudara seibu atau yang dalam ilmu faraidl disebut dengan waladul umm bisa mendapatkan bagian 1/3 bila memenuhi dua syarat, yakni:

a. Lebih dari satu orang. Baik berupa laki-laki semua, perempuan semua, atau gabungan laki-laki dan perempuan, hukum mereka sama saja.

Bila saudara seibu hanya terdiri dari satu orang saja maka ia hanya mendapatkan bagian 1/6, bukan 1/3.

b. Tidak adanya orang-orang yang menghalanginya mendapatkan warisan, yakni orang tua laki-lakinya si mayit (bapak dan kakek) dan anak dan cucunya si mayit (anak laki-laki, cucu laki-laki dari anak laki-laki, anak perempuan, dan cucu perempuan dari anak laki-laki terus ke bawah) (Wahbah Az-Zuhaili, 2011: 373).

Bila saudara seibu bersamaan dengan salah satu dari orang-orang tersebut maka ia tidak mendapatkan apapun dari harta waris (mahjûb). Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut pada Bab Hijab, insya Allah.

Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)
Jumat 9 Maret 2018 20:30 WIB
Empat Penerima Bagian Pasti Dua Pertiga dalam Warisan dan Syaratnya
Empat Penerima Bagian Pasti Dua Pertiga dalam Warisan dan Syaratnya
Imam Muhammad bin Ali Ar-Rahabi menuturkan dalam kitabnya Matnur Rahabiyyah:

والثلثان للبنـات جمعـــاً ... ما زاد عن واحدة فسمعا
وهو كـذلك لبنات الإبن ... فافهم مقالى فهم صافي الذهن
وهو للأختين فمــا يريد ... قضى به الأحرار والعبيد
هــــذا إذاكـــن لأم وأب ... أو لأب فاعمل بهذا تصيب

(Muhammad bin Ali Ar-Rahabi, Matnur Rahabiyyah dalam ar-Rabahiyyatud Dîniyyah, Semarang, Toha Putra, tanpa tahun, halaman 19-20)

Keempat bait di atas menjelaskan bahwa bagian pati 2/3 (dua pertiga) diperuntukkan bagi 4 (empat) orang ahli waris, yakni:

1. Anak perempuan
2. Cucu perempuan dari anak laki-laki
3. Saudara perempuan sekandung
4. Saudara perempuan sebapak

Tentunya keempat ahli waris tersebut bisa mendapatkan bagian 2/3 dari harta warisan apabila memenuhi syarat-syarat tertentu. Sebagaimana disebutkan pada keempat bait di atas dan juga dijabarkan oleh Dr. Wahbah Zuhaili dalam kitab al-Mu’tamad fil Fiqhis Syâfi’i (Damaskus, Darul Qalam, 2011, juz IV, halaman 370) syarat-syarat yang mesti dipenuhi oleh keempat ahli waris untuk mendapatkan bagain 2/3 adalah:

1. Anak perempuan dengan syarat:

a. Lebih dari satu orang

b. Tidak bersamaan ahli waris laki-laki yang mengashabahkan (mu’ashshib)-nya yakni anak laki-lakinya si mayit.

Ketentuan ini berdasarkan firman Allah dalam Surat An-Nisa ayat 11:

فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ

“Bila anak-anak perempuan itu lebih dari dua orang maka bagi mereka dua pertiga dari apa yang ditinggalkan.”

Bila anak perempuan yang mewarisi lebih dari satu orang namun bersamaan dengan adanya anak laki-laki si mayit meski cuma satu orang maka anak perempuan tersebut tidak bisa mendapatkan bagian 2/3 dari harta waris, namun mereka mendapatkan bagian ashabah bersama-sama dengan sang anak laki-laki dengan pembagian anak laki-laki mendapat dua kali bagian dari anak perempuan. 

2. Cucu perempuan dari anak laki-laki bisa mendapatkan bagian 2/3 dengan syarat:

a. Lebih dari satu orang

b. Tidak bersamaan dengan ahli waris laki-laki yang mengashabahkan (mu’ashshib)-nya yakni cucu laki-laki dari anak laki-lakinya si mayit

c. Tidak bersamaan dengan anaknya si mayit baik laki-laki maupun perempuan, baik satu orang maupun lebih.

Bila cucu perempuan ini lebih dari satu orang namun bersamaan dengan adanya cucu laki-laki dari anak laki-lakinya si mayit, maka cucu perempuan ini tidak bisa mendapatkan bagian 2/3 namun mereka mendapatkan bagian ashabah karena adanya mu’ashshib.

Sedangkan bila para cucu perempuan ini bersamaan dengan anak laki-lakinya si mayit maka mereka menjadi terhalang (mahjûb) sehingga tidak mendapatkan bagian waris berapapun.

Adapun bila bersamaan dengan anak perempuannya si mayit tanpa adanya anak laki-laki si mayit maka bagian cucu perempuan yang lebih dari satu orang ini dirinci seabagi berikut:

a. Bila anak perempuannya hanya 1 orang maka cucu perempuan mendapatkan bagian 1/6 dari harta waris.

b. Bila anak perempuannya lebih dari 1 orang maka cucu perempuan menjadi terhalang (mahjûb) dari mendapat harta warisan. 

3. Saudara perempuan sekandung bisa mendapatkan bagian 2/3 harta waris dengan syarat:

a. Lebih dari satu orang

b. Tidak bersamaan dengan ahli waris laki-laki yang mengashabahkan (mu’ashshib)-nya yakni saudara laki-laki sekandungnya si mayit, baik satu orang atau lebih.

c. Tidak ada orang yang menghalanginya untuk mendapatkan bagian 2/3, baik menghalanginya secara keseluruhan tidak mendapat warisan (hijab hirmân) ataupun menghalanginya tidak mendapat secara utuh bagian 2/3 namun tetap mendapat bagian yang kurang dari itu (hijab nuqshân).

Adapun orang-orang yang bisa menghalangi saudara perempuan sekandung mendapatkan bagian 2/3 adalah:

- Bapak si mayit
- Kakek si mayit
- Anak laki-laki si mayit
- Cucu laki-laki dari anak laki-lakainya si mayit, terus ke bawah (buyut, canggah... dan seterusnya)
- Anak perempuannya si mayit
- Cucu perempuan dari anak laki-lakinya si mayit, terus ke bawah (buyut, canggah.... dan seterusnya).

Bila bersamaan dengan salah satu ahli waris tersebut maka saudara perempuan sekandung tidak lagi bisa mendapatkan bagian 2/3. Bisa jadi ia mendapatkan bagian ‘ashabah bil ghair, ‘ashabah ma’al ghair, atau bahkan terhalang sama sekali tidak mendapat warisan (mahjûb).  Penjelasan tentang ini akan disampaikan pada Bab Hijab dan Ashabah, insya Allah.

Yang demikian berdasarkan ijma’ para ulama yang didasarkan pada firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 176:

إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ لَيْسَ لَهُ وَلَدٌ وَلَهُ أُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَ وَهُوَ يَرِثُهَا إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهَا وَلَدٌ فَإِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثَانِ مِمَّا تَرَكَ وَإِنْ كَانُوا إِخْوَةً رِجَالًا وَنِسَاءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ

Artinya: “Jika seorang meninggal dunia dan ia tidak memiliki anak namun memiliki satu orang saudara perempuan maka bagi saudara perempuan itu separo dari apa yang ia tinggalkan, dan saudaranya yang laki-laki mewarisi (seluruh harta waris) saudara perempuan bila ia tidak memiliki anak. Tetapi jika saudara perempuan itu dua orang maka bagi keduanya dua pertiga  dari apa yang ditinggalkan (oleh yang meninggal). Dan jika mereka terdiri dari saudara-saudara laki-laki dan perempuan maka bagian seorang saudara laki-laki sepadan dengan bagian dua orang saudara perempuan.”

4. Saudara perempuan sebapak bisa mendapatkan bagian 2/3 dari harta waris dengan syarat:

a. Lebih dari satu orang

b. Tidak bersamaan dengan ahli waris laki-laki yang mengashabahkan (mu’ashshib)-nya, yakni saudara laki-laki sebapaknya si mayit.

c. Tidak adanya orang yang menghalanginya untuk mendapatkan bagian 2/3 sebagaimana pada syarat saudara perempuan sekandung di atas.

Dasar ketentuan ini sama dengan dasar yang menentukan saudara perempuan sekandung mengingat frasa “saudara perempuan (ukhtun)” pada ayat di atas berlaku mutlak, mencakup saudara perempuan sekandung dan saudara perempuan seayah. 

Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)
Kamis 8 Maret 2018 20:15 WIB
Penerima Bagian Pasti Seperdelapan dalam Warisan dan Syaratnya
Penerima Bagian Pasti Seperdelapan dalam Warisan dan Syaratnya
Perihal bagian pasti 1/8 (seperdelapan) Imam Muhammad bin Ali Ar-Rahabi menuturkan dalam kitab Matnur Rahabiyyah:

والثمن للزوجة والزوجات ... مع البنين أو مع البنات
أو مع أولاد البنين فا علــم ... ولا تظن الجمع شرطا فافهم

Artinya:
Seperdelapan untuk satu dan beberapa istri
Bersama anak laki-laki atau perempuan
Atau bersama anaknya anak laki-laki, ketahuilah
Jangan kau sangka kumpulnya istri jadi syarat, pahamilah

(Muhammad bin Ali Ar-Rahabi, Matnur Rahabiyyah dalam ar-Rabahiyyatud Dîniyyah, Semarang, Toha Putra, tanpa tahun), halaman 18-19)

Dari kedua bait di atas diketahui bahwa bagian pasti 1/8 hanya diperuntukkan untuk satu ahli waris saja yakni bagi istri si mayit, baik sang istri tersebut satu orang ataupun lebih.

Berdasarkan firman Allah dalam Surat An-Nisa ayat 12:

فَإِنْ كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُمْ

Artinya: “Apabila kalian memiliki anak maka bagi mereka (para istri) seperdelapan dari apa yang kalian tinggalkan.”

Dari kedua bait itu pula dipahami bahwa seorang istri bisa mendapatkan bagian 1/8 apabila memenuhi satu syarat yakni bersamaan dengan anaknya si mayit atau cucu dari anak laki-lakinya si mayit. Anak atau cucu ini bisa laki-laki atau perempuan, satu atau banyak orang, dari suami yang meninggal atau dari suami sebelumnya, dan bahkan baik dari hasil perkawinan yang sah ataupun dari hasil perzinaan.

Apabila syarat tersebut tidak dipenuhi, artinya bila tidak ada anak atau cucu dari anak laki-lakinya si mayit, maka istri tidak mendapatkan bagian 1/8 namun mendapatkan bagian 1/4.

Pun bagian 1/8 ini diberikan kepada istri baik berjumlah satu orang ataupun lebih. Bila jumlah istri yang menerima warisan lebih dari satu orang maka hasil dari bagian 1/8 tersebut dibagi rata kepada semua istri yang ada.

Sebagai contoh, seorang laki-laki meninggal dunia dan meninggalkan ahli waris 3 orang istri dan 2 orang anak laki-laki. Pembagian harta warisan sang suami tersebut adalah sebagai berikut:

a. 3 orang istri secara keseluruhan mendapatkan bagian 1/8 dari harta waris karena ia bersamaan dengan anaknya si mayit yakni 2 orang anak laki-laki. Hasil dari 1/8 itu kemudian dibagi rata kepada ketiga istri tersebut.

b. 2 anak laki-laki mendapatkan seluruh sisa harta waris yang sebelumnya telah diambil 1/8 oleh 3 orang istri.

Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)