IMG-LOGO
Ilmu Hadits
MUSTHALAH HADITS

Ini Pengertian Hadits Shahih Muttashil

Senin 19 Maret 2018 17:15 WIB
Ini Pengertian Hadits Shahih Muttashil
(Foto: ibtimes)
Sebuah hadits bisa dikatakan shahih jika memenuhi lima syarat yang telah ditetapkan oleh para ulama hadits. Lima syarat bisa kita jumpai dalam rangkuman syair yang digubah oleh Imam Al-Bayquni dalam Nadham Bayquni berikut ini:

أولها الصحيح وهو ما اتصل # إسناده ولم يشد أويعل

يرويه عدل ضابط عن مثله # معتمد في ضبطه ونقله

Artinya, “Pembagian hadits yang pertama adalah shahih, yaitu sanadnya bersambung serta tidak terdapat syadz atau illat, diriwayatkan oleh perawi yang adil serta dhabit serta kuat dhabit dan periwayatannya.”

Syarat pertama adalah ittishalus sanad, yakni sanadnya harus bersambung. An-Nawawi mengutip pendapat Imam Ibnu Shalah bahwa muttasil adalah hadits yang sanadnya bersambung baik itu marfu‘ (sampai Rasulullah SAW) atau mauquf (sampai sahabat) saja.

Imam As-Suyuthi dalam kitab Tadribur Rawi fi Syarhi Taqrib An-Nawawi menjelaskan bahwa syarat muttashil adalah semua perawi harus mendengar hadits tersebut dari gurunya.

قال ابن الصلاح بسماع كل واحد من رواته ممن فوقه.

Artinya, “Ibnu Shalah berpendapat bahwa muttashil adalah dengan mendengarnya setiap perawi atas orang sebelumnya,” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Tadribur Rawi fi Syarhi Taqrib An-Nawawi, [t.k.: Dar Taybah, t.t.], halaman 201).

Untuk memastikan ketersambungan sebuah sanad dan untuk memastikan bahwa seorang perawi benar-benar mendengarkan sebuah haditst dari gurunya, maka para ulama menetapkan beberapa syarat dan kriteria agar sebuah sanad dinyatakan muttashil.

Abdul Mahdi Abdul Qadir dalam kitabnya Thuruqul Hukum alal Hadits bis Sihhah wa Dhaif menjelaskan delapan syarat ittishal sanad. (Lihat Abdul Mahdi Abdul Qadir, Thuruqul Hukum alal Hadits bis Sihhah wa Dhaif, [Jeddah: Maktabah Iman, 2008], halaman 223-224).

Berikut delapan syarat tersebut:
Pertama, perawi tersebut harus semasa dengan gurunya. Cara untuk mengetahui bahwa perawi tersebut semasa atau tidak adalah dengan memeriksa tahun wafatnya di kitab tarajim. Jika seorang perawi tersebut lahir sebelum gurunya wafat, maka bisa dipastikan bahwa dia semasa.

Kedua, setelah memastikan bahwa seorang perawi satu masa dengan gurunya, selanjutnya adalah memastikan bahwa rawi tersebut bertemu dengan gurunya. Karena ada beberapa perawi yang satu masa tapi tidak pernah bertemu.

Caranya adalah dengan memeriksa makanur rihlah (tempat-tempat yang pernah dikunjungi) untuk mencari hadits. Jika salah satu tempat rihlahnya sesuai dengan tempat rihlah gurunya, atau tempat rihlah tersebut dilewati oleh gurunya, maka perawi tersebut dimungkinkan bertemu.

Ketiga, perawi mendengarkan langsung dari gurunya. Bisa jadi ada rawi yang pernah bertemu dengan gurunya, tetapi tidak pernah meriwayatkan hadits dari guru tersebut. Hal inilah yang disebut dalam musthalah hadits sebagai mursal khafi.

Keempat, menggunakan sighat ada’ yang pasti (jazm) seperti: سمعت" أو "حدثنا". Bukan menggunakan sighat tamridl (ruwiya an, hukiya an, atau kalimat lain yang mabni majhul).

Kelima, perawi tersebut masuk dalam daftar murid gurunya di kitab tarajim. Ini bisa kita periksa dari nama-nama orang yang pernah meriwayatkan dari gurunya. Biasanya dalam kitab tarajim, nama-nama tersebut disebutkan setelah kata rawa anhu (روى عنه) dalam biografi gurunya.

Keenam, guru tersebut masuk dalam daftar guru perawi. Hal ini juga bisa kita periksa sebagaimana poin kelima. Biasanya nama tersebut tercantum setelah kata rawa an (روى عن).

Ketujuh, tidak adanya ketetapan dari para imam hadits bahwa periwayatan rawi dari gurunya tersebut tidak muttashil. Misalnya sering kita temui dalam kitab tarajim, ungkapan para ulama bahwa rawi tersebut mudallis dari fulan. Seperti: Qâla Ibnu Hatim, fulan mudallis an fulan, dan lain sebagainya.

Kedelapan, tidak adanya ketetapan dari para Imam bahwa periwayatan seorang rawi dari gurunya mursal. Ini juga bisa kita jumpai di kitab tarajim sebagaimana dalam poin tujuh di atas.

Untuk itu perlu ada pemeriksaan terkait kesesuaian sebuah sanad hadits dan syarat-syarat di atas. Jika tidak sesuai, maka sanad tersebut munqathi’ (walaupun ada istilah khusus dalam beberapa kasus munqathi’), konsekuensinya adalah sanad tersebut divonis dhaif. Jika sesuai, maka sanad tersebut muttashil. Wallahu a’lam. (M Alvin Nur Choironi)
Senin 5 Maret 2018 14:1 WIB
Ini Keterangan Muhadditsin Perihal Hadits Bid’ah
Ini Keterangan Muhadditsin Perihal Hadits Bid’ah
(Foto: pinterest)
Bid’ah termasuk istilah yang sampai saat ini masih kontroversial di tengah masyarakat. Kata ini sering kali dilontarkan sebagian kelompok pada orang atau komunitas yang melakukan praktik keagamaan yang dianggap tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah SAW.

Menurut pemahaman kelompok ini, setiap amalan yang tidak pernah dikerjakan Rasulullah termasuk bagian dari bid’ah sehingga, praktik tahlilan, yasinan, maulid Nabi, dan lain-lain dianggap bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.

Ada beberapa dalil yang sering digunakan kelompok antibid’ah, di antaranya:

وَإِيَّاكُمْ  وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Artinya, “Jauhilah perkara baru karena semua bid’ah adalah sesat,” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Kalau dipahami sekilas memang hadits ini mengarahkan kita untuk menjauhi setiap perkara yang baru agar tidak terjebak dalam kesesatan. Tapi ternyata, para ulama tidak memahaminya demikian. Tidak semua perkara baru dianggap bid’ah. Salah satunya adalah Ibnu Daqiq Al-‘Id. Dalam Syarah Arba’in An-Nawawiyyah, Ibnu Daqiq menjelaskan:

اعلم أن المحدث على قسمين: محدث ليس له أصل في الشريعة فهذا باطل مذموم. ومحدث بحمل النظير على النظير فهذا ليس بمذموم، لأن لفظ المحدث ولفظ البدعة لا يذمان لمجرد الاسم، بل لمعنى المخالفة للسنة والداعي إلى الضلالة، ولا يذم ذلك مطلقا، فقد قال تعالى: ما يأتيهم من ذكر من ربهم محدث. وقال عمر رضي الله عنه: نعمت البدعة هذه، يعني التراويح

Artinya, “Ketahuilah bahwa muhdats (perkara baru) ada dua macam: Pertama, perkara baru yang tidak memiliki landasan dalam syariat. Ini dianggap batal dan tercela. Kedua, perkara baru yang memiliki kesamaan (landasan) dalam syariat. Model kedua ini tidak tercela karena kata ‘muhdats’ dan ‘bid’ah’ itu sendiri tidak tercela dari sisi namanya. Tetapi muhdats dan bid’ah dianggap tercela bila bertentangan dengan sunah dan membawa kepada kesesatan. Sebab itu, jangan dicela secara mutlak. Karena Allah berfirman, ‘Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al-Qur’an pun yang baru (diturunkan) dari Tuhan mereka’ (Surat Al-Anbiya ayat 2). Umar bin Khatab berkata, ‘Sebaik-baik bid’ah ini, yaitu shalat tarawih.”

Ibnu Daqiq Al-Id membagi bid’ah atau perkara baru menjadi dua kategori. Pertama, perkara baru yang tidak memiliki landasan syariat. Ini termasuk bagian dari kesesatan karena setiap ibadah dan amalan harus memiliki landasan syariat. Mengerjakan shalat shubuh empat rakaat misalnya, ini termasuk bid’ah dhalalah karena Nabi tidak pernah mengerjakan shalat shubuh empat raka’at dan tidak ada juga dalil Al-Qur’an dan hadits yang menguatkan amalan ini.

Kedua, perkara baru yang memiliki landasan syariat. Ini tidak tercela dan dibolehkan. Kata bid’ah sebetulnya bermakna netral dan tidak selalu berarti negatif. Kalau perkara baru tersebut memiliki landasan dalam syariat atau bisa dianalogikan dengan kasus sebelumnya, maka tidak termasuk bagian dari kesesatan.

Misalnya, Sayyidina Umar bin Khatab RA menginstruksikan shalat tarawih berjamaah dengan satu imam di masjid. Amalan ini tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah dan baru ada pada masa Umar bin Khatab RA. Umar RA sebagai seorang sahabat terdekat Rasulullah tidak mungkin mengamalkan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam. Sebab itu, shalat tarawih yang diajarkan Umar RA tidak dianggap bid’ah tercela, meskipun tidak pernah dilakukan Rasulullah SAW.

Jadi tidak semua perbuatan yang tidak dilakukan Rasulullah SAW termasuk bid’ah tercela. Bisa jadi perbuatan itu memang baru, tapi bisa dianalogikan dengan kasus lain yang ada pada masa Rasul atau dipahami dari dalil umum yang ada dalam Al-Qur’an dan hadits. Wallahu a'lam. (Hengki Ferdiansyah)
Senin 26 Februari 2018 21:0 WIB
Keutamaan 'Shahih al-Bukhari' dan 'Shahih Muslim'
Keutamaan 'Shahih al-Bukhari' dan 'Shahih Muslim'
Ilustrasi (wejdan.org)
Para pengaji hadits tentu tidak luput dari dua nama ini: Imam al-Bukhari dan Imam Muslim. Keduanya merupakan penyusun kitab hadits yang sering dirujuk, karena hadits-hadits yang dimuat oleh keduanya dipandang sebagai sumber mumpuni.

Ulama hadits pada masa Imam al-Bukhari (wafat 256 H) dan Imam Muslim (wafat 261 H) maupun setelahnya bersepakat bahwa kumpulan hadits yang dimuat dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, yang jamak disebut Shahihain, adalah kitab yang lebih utama dibanding kitab hadits lain. Dua kitab ini dinilai sebagai kitab hadits yang menetapkan syarat-syarat kesahihan hadits yang ketat.

Syarat kesahihan riwayat hadits adalah ketersambungan sanad antarperawinya, lalu para perawinya adalah pribadi yang saleh dan terjaga kepribadiannya (‘adalah) lagi kuat hafalannya (dlabth). Selain itu pada matan-nya (redaksi hadits) tidak terdapat kejanggalan (syadz) dan cela (‘illat).

Imam al-Bukhari maupun Imam Muslim memegang teguh kelima syarat tersebut, dengan kriteria yang lebih ketat. Semisal, Imam al-Bukhari menggunakan syarat keharusan para perawi benar-benar untuk saling bertemu (tsubutul liqa’) sebagai kriteria ketersambungan sanad dalam Shahih-nya. Sedangkan bagi kalangan ulama hadits lain, adanya kemungkinan para perawi untuk bertemu secara masa dan tempat (imkaniyatul liqa’) dipandang sudah memenuhi syarat ketersambungan sanad.

Begitupun dalam Shahih Muslim, salah satu syarat yang dipertimbangkan ketat adalah bahwa beliau menggunakan hadits-hadits yang disandarkan pada Nabi (marfu’) lebih banyak. Sehingga riwayat dalam kitab Shahih Muslim yang disandarkan pada sahabat (mauquf) maupun generasi setelahnya jumlahnya hanya sedikit.

Imam an Nawawi (wafat 676 H) memberikan komentar bahwa dua kitab shahih–yaitu Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim–merupakan kitab yang disepakati kesahihan haditsnya oleh ulama ahli hadits. Begitu pula Imam Ibnu Shalah (wafat 643 H), menyebutkan dalam karyanya tentang ilmu hadits yang berjudul Muqaddimah Ibnu Shalah bahwa hadits-hadits yang dihimpun oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam Shahihain, merupakan hadits sahih yang derajatnya paling tinggi, atau kerap disebut muttafaq ‘alaih.

Tidak semua hadits yang dinilai sahih oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dihimpun dalam dua kitab sahih tersebut. Keduanya juga menyusun kitab hadits lain selain Shahihain. Imam Muslim menyatakan dalam pengantar Shahih Muslim, bahwa, “...tidaklah semua hadits yang aku nilai sahih terhimpun dalam kitab sahih ini. Aku hanya meletakkan hadits-hadits yang telah banyak disebut dan disepakati oleh mayoritas ulama.”

Demikian mengapa posisi kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dipandang istimewa di kalangan ulama ahli hadits, begitu pula ahli fiqih. Melalui syarat-syarat kesahihan yang ketat, Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim telah menghasilkan karya yang istimewa dan selalu dirujuk serta dikaji umat Islam. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)

Rabu 14 Februari 2018 22:3 WIB
Ini Cara Mengetahui Kredibilitas Perawi Hadits
Ini Cara Mengetahui Kredibilitas Perawi Hadits
(via twitter)
Hadits shahih harus memenuhi beberapa persyaratan: ketersambungan sanad, perawi adil, hafalan perawi kuat, tidak ada syadz, dan tidak ada ‘illah. Lima persyaratan ini disimpulkan dari defenisi hadits shahih itu sendiri. Kalau hilang salah satu dari lima syarat ini, kualitas hadits berubah menjadi dhaif.

Di antara persyaratan hadits shahih yang harus dipenuhi adalah perawi harus adil dan dhabith (hafalannya kuat). Menurut Mahmud Thahan dalam Kitab Taysiru Musthalahil Hadits, yang dimaksud dengan ‘adil (‘adalah) dan dhabit di sini adalah sebagai berikut:

العدالة: ويعنون بها أن يكون الراوي مسلما بالغا عاقلا سليما من اسباب الفسق سليما من خوارم المروءة. والضبط: ويعنون به أن يكون الراوي غير مخالف للثقات ولا سيء الحفظ ولا فاحش الغلط ولا مغفلا ولا كثير الأوهام

Artinya, “’Adalah (adil) ialah perawinya Muslim, baligh, berakal, tidak melakukan perbuatan fasik, dan tidak rusak moralnya. Sedangkan dhabit ialah periwayatan perawi tidak bertentangan dengan perawi tsiqah lainnya, hafalannya tidak jelek, jarang salah, tidak lupa, dan tidak keliru.”

Adil yang dimaksud dalam istilah ilmu hadits berati seorang perawi harus beragama Islam, baligh dan berakal, serta tidak melakukan perbuatan fasik dan moralitasnya tidak rusak. Dengan demikian, kalau ada perawi yang melakukan perbuatan tercela atau pernah bohong misalnya, maka hadits yang diriwayatkannya tidak bisa diterima.

Adapun dhabit berkaitan dengan kekuatan hafalan dan seorang perawi jarang melakukan kesalahan. Orang yang kekuatan hafalannya bagus, periwayatannya tidak akan bertentangan atau menyalahi hadits yang diriwayatkan oleh perawi tsiqah lainnya. Kalau ada perawi yang meriwayatkan hadits bertentangan dengan perawi tsiqah, besar kemungkinan hafalannya bermasalah.

Dalam Kitab Taysiru Musthalahil Hadits, Mahmud Thahan juga menjelaskan cara untuk mengetahui perawi itu adil dan dhabit. Menurutnya, ada dua cara yang bisa dilakukan untuk mengetahui keadilan perawi:

Pertama, kualiatas perawi hadits dapat diketahui berdasarkan pengakuan dari perawi lain atau ulama hadits.

Kedua, kualitas perawi hadits bisa diketahui dari popularitasnya. Orang yang sudah populer kualitas dan kealimannya tidak perlu lagi pengakuan dari ulama hadits. Maksudnya, tanpa pengakuan pun periwayatannya sudah bisa diterima karena sudah populer. Misalnya, hadits-hadits yang disampaikan oleh imam empat madzhab, Sufyan Ats-Tsauri, ‘Azra’i, dan ulama terkenal lainnya.

Adapun cara mengetahui kualitas hafalan perawi adalah dengan cara membandingkan hadits yang disampaikannya dengan perawi tsiqah lainnya. Kalau hadits yang disampaikannya sesuai dengan perawi tsiqah lainnya berarti kualitas hafalannya bagus. Apabila bertentangan dan berbeda dengan perawi tsiqah, maka hafalannya dianggap bermasalah dan tidak bisa dijadikan pedoman kalau kesalahannya terlalu fatal. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)