IMG-LOGO
Trending Now:
Shalat

Bolehkah Memejamkan Mata saat Shalat?

Senin 19 Maret 2018 22:30 WIB
Share:
Bolehkah Memejamkan Mata saat Shalat?
(Foto: pinterest)
Shalat yang khusyuk lebih utama dari shalat yang tidak khusyuk. Bahkan sebagian ulama, seperti Imam Al-Ghazali, mensyaratkan shalat harus dalam keadaan khusyuk. Lalu bolehkan memejamkan mata saat shalat untuk mendapatkan kekhusyukan?

Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengupayakan shalat yang khusyuk. Sebagian orang menundukkan pandangan. Sebagian lagi melakukan shalat di tempat gelap. Ada juga yang melakukan shalat di tempat yang tenang atau jauh dari jalan raya, dan lain-lain.

Sebagian orang sengaja memejamkan mata ketika shalat. Tujuannya agar pikiran dan hatinya tetap tenang. Padahal dalam shalat juga kita dianjurkan mengarahkan pandangan ke tempat sujud. Pertanyaan yang muncul di tengah masyarakat adalah bagaimana hukum memejamkan mata ketika shalat?

Syekh Abu Bakar Syaththa Ad-Dimyati dalam I’anatut Thalibin merinci hukum memejamkan mata menjadi empat perincian:

Pertama, memejamkan mata saat shalat pada asalnya boleh dan tidak makruh karena memang tidak ada larangan khusus soal itu. Memajamkan mata dalam shalat dibolehkan selama aman dan tidak membahayakan. Ia mengatakan:

ولا يكره تغميض عينيه، أي لأنه لم يرد فيه نهي

Artinya, “Tidak dimakruhkan memejamkan mata saat shalat karena tidak ada dalil yang melarangnya.”

Kedua, memejamkan mata ketika shalat diwajibkan ketika ada yang tidak menutup aurat dalam saf shalat. Ini biasanya jarang terjadi, kecuali pada masyarakat yang sedang mengalami krisis pakaian.

Pada situasi tertentu, kalau pakaian yang menutup aurat tidak ditemukan, atau sarana lain yang digunakan untuk menutup aurat juga tidak ada, dibolehkan shalat dalam kondisi tanpa busana. Dalam situasi seperti ini kita diwajibkan memejamkan mata. Syekh Abu Bakar mengatakan:

وقد يجب التغميض إذا كان العرايا صفوفا

Artinya, “Wajib memejamkan mata kalau ada yang tidak busana dalam saf shalat.”

Ketiga, memejamkan mata disunnakan kalau shalat di tempat yang banyak gambar dan ukiran. Memejamkan mata disunnahkan dalam kondisi ini bila gambar dan ukiran tersebut bisa menganggu pikiran kita. Dalam I’anatul Thalibin dijelaskan:

وقد يسن كأن صلى لحائط مزوق ونحوه مما يشوش فكره

Artinya, “Disunahkan memejamkan mata bila shalat dekat dinding yang diukir dan seumpamanya jika hal itu bisa menganggu pikiran.”

Keempat, dimakruhkan memejamkan bila berbahaya, yaitu shalat di tempat yang banyak ular atau binatang yang membahayakan karena memejamkan mata bisa membahayakan tubuh.

Dengan demikian, bagi yang terbiasa memejamkan mata saat shalat pada intinya hukumnya itu boleh selama tidak membahayakan. Wallahu a'lam. (Hengki Ferdiansyah)
Tags:
Share:
Ahad 18 Maret 2018 20:0 WIB
Ke mana Pandangan Mata ketika Shalat?
Ke mana Pandangan Mata ketika Shalat?
(Foto: prayerinislam.com)
Shalat memiliki aturan khusus yang harus dipenuhi oleh setiap orang yang ingin mengerjakannya, termasuk pandangan mata ketika shalat. Aturan shalat terdiri ata dua: aturan sebelum shalat dan aturan saat mengerjakan shalat.

Sebelum shalat, orang harus berwudhu dulu, memastikan kalau tidak ada najis yang menempel pada baju dan tubuhnya, dan lain-lain. Sementara aturan dalam shalat adalah tidak boleh berbicara, banyak bergerak, tertawa, dan lain-lain.

Dalam shalat, seluruh anggota tubuh diatur posisinya dan tidak boleh melakukan gerakan di luar shalat lebih dari tiga kali karena hal itu dapat membatalkan shalat. Termasuk dalam hal ini soal pandangan atau ke mana seharusnya pandangan mata diarahkan saat shalat.

Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in menjelaskan:

وسن إدامة نظر محل سجوده لأن ذلك أقرب إلى الخشوع، ولو أعمى، وإن كان عند الكعبة أو في الظلمة، أو في صلاة الجنازة. نعم، السنة أن يقتصر  نظره على مسبحته عند رفعها في التشهد لخبر صحيح فيه..

Artinya, “Disunahkan melanggengkan pandangan mata ke arah tempat sujud supaya lebih khusyu’, sekalipun tuna tentra, sedang shalat dekat Ka’bah, shalat di tempat yang gelap, ataupun shalat jenazah. Namun disunahkan mengarahkan pandangan mata ke jari telunjuk, terutama ketika mengangkat jari telunjuk, saat tasyahud akhir, karena ada dalil shahih tentang kesunahan itu.”

Merujuk pada pendapat di atas, orang yang shalat dianjurkan mengarah ke tempat sujud, mulai dari takbiratul ihram sampai salam meskipun shalat di depan Ka’bah atau di tempat yang gelap. Anjuran menghadap tempat sujud itu bertujuan agar shalat yang dilakukan bisa lebih fokus dan khusyu’. Namun pada saat tasyahud akhir, dianjurkan mengarahkan pandangan mata ke jari telunjuk ketika mengangkatnya.

Dengan demikian, tidak pantas bila dalam shalat mata melirik ke kanan dan kiri, ke atas dan ke bawah, sebab bisa menganggu konsentrasi saat mengerjakan shalat. Apalagi sampai menggelengkan kepala ke kanan dan kiri, atau ke atas dan ke bawah.

Aktivitas itu bahkan bisa membatalkan shalat kalau lebih dari tiga kali gerakan. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)
Sabtu 10 Maret 2018 14:2 WIB
Sunah-sunah Ab’ad dalam Ibadah Shalat
Sunah-sunah Ab’ad dalam Ibadah Shalat
(Foto: iStock)
Shalat tidak hanya memiliki syarat dan rukun, tetapi juga memiliki kesunahan-kesunahan. Kesunahan dalam shalat ada dua, sunah ab’ad dan sunah hai’ah. Beberapa ulama, salah satunya, Zainuddin Al-Malibari bahkan menjelaskan sunah lain selain ab’ad dan hai’ah.

Adapun terkait sunah ab’ad, Abu Bakar Muhammad bin Syatha’ Dimyathi dalam kitab I‘anatut Thalibin menjelaskan bahwa sunah ab’ad adalah sunah yang dianjurkan kuat untuk diganti dengan sujud (sahwi) jika melewatkannya. Bahkan, menurut Syekh Muhammad bin Syatha’, sunah itu dinamai ab‘ad karena sunah tersebut menjadi bagian (ba’dhu) dari rukun shalat.

Ibnu Ruslan sebagaimana dikutip oleh Syekh Muhammad bin Syatha’ menulis sebuah nadham yang menjelaskan rincian sunah ab’ad berikut ini:

أبعاضها تشهد إذ تبتديه * * ثم القعود وصلاة الله فيهش على النبي وآله في الآخر * * ثم القنوت وقيام القادر في الاعتدال الثان من صبح وفي * * وتر لشهر الصوم إن ينتصف

Artinya, “Adapun ab’ad shalat adalah dimulai dengan tasyahud kemudian duduk tasyahud awal dan membaca shalawat untuk Nabi SAW kemudian qunut pada saat berdiri i’tidal di rakaat kedua shalat subuh dan witir di pertengahan bulan Ramadhan,” (Lihat Abu Bakar bin Syatha Ad-Dimyathi, Hasyiyah I’anatut Thalibin, [Beirut: Darul Fikr, tanpa catatan tahun], halaman 196).

Menurut Syekh Salim bin Sumair Al-Hadhrami dalam Kitab Safinatun Naja sunah ab’ad terdiri atas tujuh:

Pertama, tasyahud. Yang dimaksud tasyahud dalam hal ini adalah tasyahud yang tidak dilanjutkan dengan salam, yaitu tasyahud awal.

Adapun dalil atas hal ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Muslim yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW hanya duduk sekali dan dilanjutkan dengan dua sujud.

Hadits ini menunjukkan bahwa Rasul mengganti tasyahud pertama dengan dua sujud.

تعويضاً عن التشهد الأول الذي تركه بترك الجلوس له، فلو كان ركناً لاضطر إلى الإتيان به، ولم ينجبر تركه بسجود السهو

Artinya, “(Dua sujud yang dilakukan Rasul SAW) menjadi ganti dari tasyahud awal yang ditinggalkan Rasul karena tidak duduk tasyahud juga. Jika tasyahud termasuk rukun, maka tentu nabi akan melakukannya, serta tidak menggantikannya dengan sujud sahwi,” (Lihat Musthafa Al-Bugha dan Musthafa Al-Khin, Al-Fiqhul Manhaji ala Madzhabil Imamis Syafi'i, [Damaskus: Darul Qalam, 1992], halaman 145).

Kedua, duduk untuk tasyahud awal. Hal ini dilandaskan atas dalil hadits yang telah disebutkan di atas.

Ketiga, membaca shalawat nabi pada tasyahud awal sehingga dalam duduk tasyahud awal terdapat tiga hal yang termasuk sunah ab’ad. Jika sunah ini ditinggalkan, maka dianjurkan untuk digantikan dengan sujud sahwi, yaitu duduk tasyahud awal, membaca tasyahud awal, dan membaca shalawat kepada nabi pada tasyahud awal.

Keempat, membaca shalawat kepada keluarga nabi pada tasyahud akhir.

Kelima, membaca qunut.

Keenam, membaca shalawat salam kepada nabi pada qunut.

Ketujuh, membaca shalawat kepada keluarga nabi pada qunut.

Ada beberapa hal yang menyebabkan kebanyakan orang meninggalkan sunah ab’ad di atas sehingga dianjurkan untuk mengerjakan sujud sahwi. Di antaranya, adalah lupa, ragu telah melakukannya atau tidak. Wallahu a‘lam. (M Alvin Nur Choironi)
Sabtu 3 Maret 2018 17:0 WIB
Enam Kesunahan Shalat
Enam Kesunahan Shalat
(Foto: 3ageeb.com)
Shalat merupakan kewajiban yang harus dilakukan setiap umat Islam, khususnya bagi orang yang sudah memenuhi persyaratan shalat. Meninggalkan shalat adalah dosa. Orang yang meninggalkannya baik sengaja atau tidak sengaja diharuskan untuk menggantinya (qadha).

Sebagaimana ibadah pada umumnya, dalam shalat ada aturan yang harus dilakukan dan tidak sah shalat bila aturan tersebut tidak dilakukan. Dalam istilah fiqih ini disebut dengan rukun. Kemudian juga ada kesunahan shalat yang tidak berpengaruh pada sah atau tidaknya ibadah, tetapi dianjurkan untuk melakukannya. Inilah yang dimaksud dengan sunah shalat.

Para ulama membagi sunah shalat dalam dua kategori: sunah ab’ad dan sunah hai‘at. Dua pembagian ini mungkin sudah sangat populer, termasuk macam-macam dari dua bagian itu. Tetapi, Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in menjelaskan beberapa kesunnahan shalat lainnya di luar sunah ab’ad dan hai‘at. Di antara kesunahan shalat yang disebutkan Zainuddin Al-Malibari adalah:

سن دخول صلاة بنشاط وفراغ قلب وفيها خشوع وتدبر قراءة وذكر وإدامة نظر محل سجوده وذكر ودعاء سرا عقبها

Artinya, “Disunahkan mengerjakan shalat dengan semangat, hati dalam keadaan kosong, khusyuk, menghayati bacaan dan zikir, mengarahkan pandangan ke tempat sujud, zikir dan doa setelah shalat secara sir (tidak mengeraskan suara),” (Lihat Zainuddin Al-Malibari, Fathul Mu’in, [Jakarta: Darul Kutub Islamiyyah, 2009], halaman 49).

Merujuk pada penjelasan di atas, ada beberapa kesunahan yang dianjurkan pada saat mengerjakan shalat:

Pertama: mengerjakan shalat dengan semangat karena Allah SWT menyindir orang-orang munafik yang mengerjakan shalat dengan malas. Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 142:

وإذا قاموا إلى الصلاة قاموا كسالى

Artinya, “Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas.”

Sebagai orang beriman tentu kita tidak mau cara shalat kita disamakan dengan orang munafik. Sebab itu, jangan bermalas-malasan saat mengerjakan shalat.

Kedua: mengosongkan hati dari segala macam kesibukan dan pikiran. Saat shalat, usahakan pikiran fokus pada bacaan yang dibaca dan tidak memikirkan kegiatan yang dikerjakan sebelum shalat atau yang akan dikerjakan. Mengosongkan hati dan pikirin termasuk cara untuk melatih kefokusan (khusyuk).

Ketiga: mengerjakan shalat dengan penuh kekhusyukan. Pada saat shalat, usahakan pikiran fokus kepada Allah SWT dan tidak memikirkan yang lain. Memang khusyuk tidaklah mudah, tapi ini perlu diusahakan terus menerus.

Keempat: merenungi setiap bacaan dan zikir yang dibaca saat shalat. Merenungi dan menghayati bacaan shalat termasuk salah satu cara untuk meningkatkan kekhusyukan ibadah. Jangan sampai lisan kita membaca bacaan shalat, tetapi pikiran dan hati melayang entah ke mana.

Kelima: pandangan mengarah ke tempat sujud. Mengarah pandangan ke tempat sujud juga termasuk cara meningkatkan kefokusan. Ini disunahkan bagi orang buta sekalipun atau orang yang shalat dalam ruangan yang gelap.

Keenam: disunahkan setelah shalat zikir dan berdoa dengan tidak mengeraskan suara, khususnya bagi orang yang shalat sendiri. Namun bukan berati zikir dan doa mengeraskan suara setelah shalat tidak bolehkan. Hal ini tetap dibolehkan sebagaimana dijelaskan Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in:

يسن الإسرار بهما لمنفرد ومأموم وإمام لم يرد تعليم الحاضرين ولا تأمينهم لدعائه بسماعه

Artinya, “Disunahkan tidak mengeraskan zikir dan doa bagi orang yang shalat sendiri, serta bagi makmum dan imam yang tidak ingin mengajarkan makmumnya dan tidak (berharap) mereka mengamini doanya.”

Dengan kata lain, imam yang bertujuan untuk mengajarkan zikir kepada makmum atau membimbing makmum untuk tetap fokus dalam berzikir dibolehkan mengeraskan suara pada saat zikir. Imam yang ingin berdoa dan diamini bersama-sama oleh makmum juga dibolehkan.

Zikir bersama dengan mengeraskan suara setelah shalat bukanlah bid’ah tercela karena Nabi juga pernah melakukannya dengan para sahabat. Hal ini sebagaimana dikisahkan Ibnu Abbas dalam hadits Bukhari dan Muslim.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوبَةِ، كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (رواه البخاري ومسلم

artinya, “Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata, ‘Bahwa mengerasakan suara dalam berzikir ketika orang-orang selesai shalat maktubah itu sudah ada pada masa Nabi SAW,” (HR Bukhari-Muslim). Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)