IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Tauhid

Hubungan 20 Sifat Wajib bagi Allah dengan al-Asma’ al-Husna

Ahad 25 Maret 2018 17:30 WIB
Share:
Hubungan 20 Sifat Wajib bagi Allah  dengan al-Asma’ al-Husna
Ilustrasi (Youtube)
Bila 20 sifat wajib merupakan sifat-sifat pokok kesempurnaan Allah, bagaimana hubungannya dengan al-Asmâ’ al-Husnâ (secara bahasa: nama-nama Allah yang indah)? Rasionalkah sifat wajib yang hanya 20 mencakup 99 al-Asmâ’ al-Husnâ? Tidakkah 20 sifat wajib justru menafikannya?

Bila mengetahui makna sebenarnya dari masing-masing al-Asmâ’ al-Husnâ, maka orang akan memahami bahwa 99 al-Asmâ’ al-Husnâ itu sudah tercakup dalam sifat wajib yang dirumuskan ulama Ahlussunnah wal Jama’ah. Sebagaimana dalam al-Maqshad al-Asna Imam al-Ghazali (450-505 H/1058-1111 M) menulis pasal khusus tentang rasionalisasi kembalinya al-Asmâ’ al-Husnâ pada Dzat Allah (sifat wujud) dan tujuh sifat ma’ani sesuai akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah. 

Baca: Dalil dan Penjelasan tentang 20 Sifat Wajib bagi Allah
Lebih lanjut Imam al-Ghazali (450-505 H/1058-1111 M) dalam al-Maqshad al-Asnâ fî Syarh Asmâ’ Allah al-Husnâ menjelaskan, meskipun nama al-Asmâ’ al-Husnâ sangat banyak, namun secara substantif kembali pada Dzat dan tujuh sifat ma’ani, yaitu melalui 10 kategori berikut:

a. Al-Asmâ’ al-Husnâ yang kembali pada Dzat, seperti Allah. Begitu pula al-Haq yang diartikan Dzat Allah yang wajib wujudnya.

b. Al-Asmâ’ al-Husnâ yang kembali pada Dzat dan menafikan ketidakpantasan, seperti al-Quddûs, as-Salâm, dan semisalnya. Sebab al-Quddûs menunjukkan Dzat Allah sekaligus menafikan sifat-sifat yang tidak pantas bagi-Nya yang terbersit di hati manusia, sedangkan as-Salâm menunjukan Dzat Allah sekaligus menafikan aib yang tidak pantas bagi-Nya.

c. Al-Asmâ’ al-Husnâ yang kembali pada Dzat disertai penyandaran pada hal lain (idhâfah), seperti al-‘Aliyy , al-‘Adhîm dan semisalnya. Sebab al-‘Aliyy menunjukkan Dzat Allah yang derajatnya di atas seluruh dzat selainnya, sedangkan al-‘Adhîm menunjukkan Dzat dari melampaui seluruh batas pengetahuan (idrâk) manusia.

d. Al-Asmâ’ al-Husnâ yang kembali pada Dzat, disertai menafikan ketidakpantasan dan penyandaran pada hal lain, seperti al-Mulk dan al-‘Azîz. Sebab al-Mulk menunjukkan Dzat Allah yang tidak membutuhkan apa pun dan segala sesuatu selain-Nya pasti membutuhkan-Nya, sedangkan al-‘Aziz menunjukkan makna Dzat Allah yang tidak ada bandingannya. 

e. Al-Asmâ’ al-Husnâ yang kembali pada salah satu sifat ma’ani, seperti al-‘Alîm, al-Qâdir, dan semisalnya. Sebab al-‘Alîm menunjukkan sifat ‘ilm, sedangkan al-Qâdir menunjukkan sifat qudrah.

f. Al-Asmâ’ al-Husnâ yang kembali pada sifat ‘ilm disertai penyandaran pada hal lain, seperti al-Khabîr, al-Hakîm dan semisalnya. Sebab al-Khabîr menunjukkan sifat ‘ilm dengan disandarkan pada hal-hal yang samar, sedangkan al-Hakîm menunjukan sifat ‘ilm dengan disandarkan pada hal-hal yang mulia. 

g. Al-Asmâ’ al-Husnâ yang kembali pada sifat qudrah disertai penyandaran pada hal lain, seperti al-Qahhâr, al-Qawiyy, dan semisalnya. Sebab al-Qahhâr menunjukkan sifat qudrah disertai pengaruh penguasaannya pada hal yang dikuasai, sedangkan al-Qawiyy menunjukkan makna sifat qudrah disertai kesempurnaannya.

h. Al-Asmâ’ al-Husnâ yang kembali pada sifat irâdah disertai penyandaran pada suatu perbuatan, seperti ar-Rahmân, ar-Rahîm, ar-Ra’ûf dan semisalnya. Sebab ar-rahmah sebagai kata dasar ar-Rahmân dan ar-Rahîm kembali pada sifat irâdah dengan disandarkan pada perbuatan memenuhi kebutuhan makhluk yang lemah, sedangkan ar-ra’fah sebagai kata dasar ar-Ra’ûf berarti rahmat yang sangat maksimal. 

i. Al-Asmâ’ al-Husnâ yang kembali pada sifat-sifat al-fi’l (perbuatan Allah), seperti al-Khâliq, al-Wahhâb. Sebab al-Khâliq menunjukkan perbuatan Allah dalam menciptakan makhluk, sedangkan ar-Razzâq yang menunjukkan perbuatan Allah dalam menciptakan rezeki dan orang yang diberi rezeki, menyampaikan rezeki kepadanya, serta menciptakan berbagai sebab sehingga ia mampu menikmatinya. 

j. Al-Asmâ’ al-Husnâ yang kembali pada sifat-sifat al-fi’l (perbuatan Allah) disertai hal lain, seperti al-Majîd, al-Karîm. Sebab al-Majîd menunjukkan perbuatan Allah dalam memuliakan makhluk yang sangat luas disertai kemuliaan Dzat-Nya, sedangkan al-Karîm menunjukkan perbuatan Allah yang bila berjanji pasti memenuhi, bila memberi pasti melebihi harapan, dan tidak memperdulikan seberapa banyak pemberian-Nya dan kepada siapa memberinya, disertai kemuliaan Dzat-Nya.

Di akhir penjelasannya Imam al-Ghazali menegaskan:

فَلَا تَخْرُجُ هٰذِهِ الْأَسَامِي وَغَيْرُهُا عَنْ مَجْمُوعِ هٰذِهِ الْأَقْسَامِ الْعَشْرَةِ. فَقِسْ مَا أَوْرَدْنَاهُ بِمَا لَمْ نُورِدُهُ. فَإِنَّ ذٰلِكَ يَدُلُّ عَلٰى وَجْهِ خُرُوجِ الْأَسَامِي عَنِ التَّرَادُفِ مَعَ رُجُوعِهَا إِلٰى هٰذِهِ الصِّفَاتِ الْمَحْصُرَةِ الْمَشْهُورَةِ.

“Maka al-Asmâ’ al-Husnâ (yang 99) ini dan selainnya tidak keluar dari 10 kategori ini. Qiyaskan al-Asmâ’ al-Husnâ yang telah aku sebutkan dengan yang tidak aku sebutkan. Sebab hal itu akan menunjukkan tidak terjadinya kesamaan (sinonim) pada Asma’ al-Husna sekaligus menunjukkan kembalinya Asma’ al-Husna pada tujuh sifat (ma’ani dan Dzat/sifat wujud) yang masyhur ini.”

Pola pendekatan al-Ghazali ini kemudian diikuti oleh al-Fakhr ar-Razi (544-606 H/1150-1210 M) dalam Syarh al-Asmâ’ al-Husnâ dan Abu al-‘Abbas Ahmad bin Mu’id al-‘Uqlisi (w. 550 H/1155 M) sebagaimana disinggung al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari. Bahkan menurut al-Hafizh Ibn Hajar sendiri, al-Asmâ’ al-Husnâ sebenarnya dari sisi dilâlah dapat diklasifikasikan dalam empat kategori, yaitu (a) yang menunjukkan Dzat Allah saja yaitu Allah, (b) yang menunjukkan sifat yang tetap bagi Allah seperti al-‘Alîm, al-Qâdir, as-Samî’ al-Bashîr, (c) yang menunjukkan penyadaran pada sesuatu, seperi al-Khâliq dan ar-Razzâq, dan (d) yang menafikan ketidakpantasan seperti al-‘Aliyy dan al-Quddûs.

Adapun anggapan bahwa 20 sifat wajib menafikan al-Asmâ’ al-Husnâ adalah anggapan yang tidak tepat, sebab tidak ditemukan sama sekali data valid maupun argumentasi kuat yang menunjukkannya. Bahkan Imam as-Sanusi selaku perumusnya justru menulis kitab khusus untuk menjelaskan makna-makna al-Asmâ’ al-Husnâ yang berjudul Syarhal-Asmâ’ al-Husnâ, seperti cetakan pertama yang diterbitkan Muassasah al-Ma’arif Bairut Lebanon pada 1429 H/2008 M edisi tahqiq Nizar Hamadi. 


Yusuf Suharto, Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur

(Tulisan ini disarikan dan dimodifikasi dari buku Khazanah Aswaja oleh Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur)
Tags:
Share:
Sabtu 24 Maret 2018 19:15 WIB
Dalil dan Penjelasan tentang 20 Sifat Wajib bagi Allah
Dalil dan Penjelasan tentang 20 Sifat Wajib bagi Allah
Ahlussunnah wal Jama’ah meyakini bahwa Allah itu bersifat dengan sifat-sifat yang sempurna, dan mustahil bersifat sebaliknya. Para ulama kemudian menetapkan apa yang disebut (dalam istilah Jawa, red) Aqaid Seket (akidah 50 sebagaimana diterangkan dalam beberapa kitab akidah Ahlusssunnah wal Jama'ah adalah akidah tentang sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah; dan bagi para Nabi).

Konsep sifat wajib, mustahil, dan jaiz berangkat dari kenyataan, bahwa untuk membuktikan eksistensi mayoritas sifat tersebut meskipun terdapat dalil naqli berupa Al-Qur’an dan hadits yang merupakan sumber akidah, tetap membutuhkan penalaran akal sehat, yang dalam konteks ini dikenal hukum 'aqli yang ada tiga, yaitu wajib, mustahil, dan jaiz 'aqli. Terlebih bagi orang yang sama sekali belum percaya terhadap eksistensi Allah sebagai Tuhan maupun eksistensi para Rasul. Bagaimana mungkin orang bisa menyakini kebenaran Al-Qur’an dan hadits sebagai dalil eksistensi Allah, sementara ia bahkan belum meyakini eksistensi Allah sebagai Tuhan dan para Rasul-Nya? Tentu ia tidak menerima Al-Qur’an dan hadits sebagai dalil pembuktiannya. 

Adapun maksud istilah wajib 'aqli adalah segala hal yang menurut akal pasti adanya atau tidak dapat diterima ketiadaannya; maksud mustahil 'aqli adalah segala hal yang menurut akal pasti tidak ada atau tidak diterima adanya; sedangkan jaiz 'aqli adalah segala hal yang menurut akal bisa saja ada maupun tidak, atau diterima ada maupun ketiadaannya. Sifat gerak dan diam bagi makhluk dapat dijadikan permisalan dalam hal ini. Ilustrasi wajib, mustahil, dan jaiz 'aqli secara berurutan adalah: (1) akal pasti mengharuskan salah satu dari diam dan bergerak terjadi pada makhluk, (2) akal tidak akan membenarkan keduanya secara bersamaan tidak terjadi padanya; dan (3) akal menerima ada dan ketiadaaan salah satunya dari makhluk. Demikian antara lain dijelaskan Syekh Muhammad as-Sanusi, dalam Syarh Umm al-Barahain.

Klasifikasi Sifat Wajib 20

Sifat-sifat wajib bagi Allah yang terdiri atas 20 sifat itu dikelompokkan menjadi 4 sebagai berikut:

1.Sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan Dzat Allah. Sifat nafsiyah ini ada satu, yaitu wujûd.

2.Sifat Salbiyah, yaitu sifat yang meniadakan adanya sifat sebaliknya, yakni sifat-sifat yang tidak sesuai, atau sifat yang tidak layak dengan kesempurnaan Dzat-Nya. Sifat Salbiyah ini ada lima, yaitu: qidâm, baqâ’, mukhâlafatu lil hawâditsi, qiyâmuhu binafsihi, dan wahdâniyat.

3.Sifat Ma’ani, yaitu sifat- sifat abstrak yang wajib ada pada Allah. Yang termasuk sifat ma’ani ada tujuh yaitu: qudrat, irâdat, ‘ilmu, hayât, sama', bashar, kalam.

4.Sifat Ma’nawiyah, adalah kelaziman dari sifat ma’ani. Sifat ma’nawiyah tidak dapat berdiri sendiri, sebab setiap ada sifat ma’ani tentu ada sifat ma’nawiyah. Bila sifat ma'ani telah didefinisikan sebagai sifat yang ada pada sesuatu yang disifati yang otomatis menetapkan suatu hukum padanya, maka sifat ma'nawiyah merupakan hukum tersebut. Artinya, sifat ma'nawiyah merupakan kondisi yang selalu menetapi sifat ma'ani. Sifat 'ilm misalnya, pasti dzat yang bersifat dengannya mempunyai kondisi berupa kaunuhu 'âliman (keberadannya sebagi Dzat yang berilmu). Dengan demikian itu, sifat ma'nawiyyah juga ada tujuh sebagaimana sifat ma'ani.

Kedudukan Sifat Wajib 20

Subtansisifat-sifat wajib bagi Allah telah menjadi kajian ulama Ahlussunnah wal Jama’ah dalam rentang sejarah sejak masa Abu al-Hasan al-Asy'ari (260-324 H/874-936 M) dan Abu Manshur al-Maturudi (238-333 H/852¬-944 M), al-Qadhi Abu Bakr al-Baqillani (338-403 H/950-1013 M), dan Imam al-Haramain (419-478 H/1028-1085 M), hingga sekarang. Namun yang merumuskan secara praktis menjadi 20 Sifat Wajib bagi Allah adalah al-Imam Muhammad bin Yusuf bin Umar bin Syu’aib as-Sanusi al-Hasani (832-895 H/1428-1490 M), asal kota Tilmisan (Tlemcen) Aljazair, seorang yang multidisipliner: muhaddits, mutakalllim, manthiqi, muqri’, dan pakar keilmuan lainnya. Dalam al-‘Aqidah as-Sughra yang terkenal dengan judul Umm al-Barahain Imam as-Sanusi mengatakan:

فَمِمَّا يَجِبُ لِمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ عِشْرُونَ صِفَةً.

“Maka di antara sifat wajib bagi Allah Tuhan Kita-Yang Maha Agung dan Maha Perkasa-adalah 20 sifat.” 

Dalam ranah keimanan terhadap Allah secara umum setiap mukallaf wajib meyakini sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi-Nya. Sehingga ia harus:

1. Meyakini secara mantap tanpa keraguan, bahwa Allah pasti bersifat dengan segala kesempurnaan yang layak bagi keagungan-Nya.

2. Meyakini secara mantap tanpa keraguan, bahwa Allah mustahil bersifat dengan segala sifat kekurangan yang tidak layak bagi keagungan-Nya.

3. Meyakini secara mantap tanpa keraguan, bahwa Allah boleh saja melakukan atau meninggalkan segala hal yang bersifat jaiz(mumkin), seperti menghidupkan manusia dan membinasakannya.

Inilah akidah yang harus diyakini secara umum. Selain itu, setiap mukallaf wajib meyakini secara terperinci sifat wajib 20 yang menjadi sifat-sifat pokok kesempurnaan (shifat asâsiyyah kamâliyyah) Allah sebagai Tuhan, 20 sifat mustahil, dan satu sifat Jaiz bagi-Nya. Namun hal ini bukan berarti membatasi sifat Allah sebagaimana disalahpahami sebagian orang, tetapi karena sifat-sifat ini yang sering diperdebatkan di sepanjang sejarah umat Islam, maka dengan menetapkannya menjadi jelas bahwa Allah bersifat dengan segala kesempurnaan dan tersucikan dari segala kekurangan.

Sifat Wajib 20 Tidak Membatasi Kesempurnaan Allah

Apakah sifat wajib 20 membatasi kesempurnaan Allah?Jawabannya adalah bahwa sifat 20 itu tidak membatasi kesempurnaan Allah yang tidak terbatas. Justrusifat wajib 20 itu merupakan sifat-sifat pokok kesempurnaan Allah yang tidak terbatas jumlahnya,yang tidak mampu diketahui oleh manusia secara menyeluruh. Imam as-Sanusi dalam Syarh Umm al-Barahain  menjelaskan:

(ص) )فَمِمَّا يَجِبُ لِمَوْلاَنَا جَلَّ وَعَزَّ عِشْرُوْنَ صِفَةً( (ش) أَشَارَ بِمِنْ التَّبْعِيْضِيَّةِ إِلَى أَنَّ صِفَاتِ مَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ الْوَاجِبَةَ لَهُ لَا تَنْحَصِرُ فِيْ هَذِهِ الْعِشْرِيْنَ، إِذْ كَمَالَاتُهُ تَعَالَى لَا نِهَايَةَ لَهَا، لَكِنْ الْعَجْزُ عَنْ مَعْرِفَةِ مَا لَمْ يَنْصُبْ عَلَيْهِ دَلِيْلٌ عَقْلِيٌّ وَلَا نَقْلِيٌّ لَا نُؤَاخِذُ بِهِ بِفَضْلِ اللهِ تَعَالَى


“Kitab Asal (Umm al-Barahain) berisyarat dengan huruf مِنْ  tab'idiyah untuk menunjukkan, bahwa sifat-sifat Allah–Jalla wa ‘Azza–tidak terbatas pada 20 sifat ini, sebab kesempurnaan-Nya tidak terbatas, namun ketidakmampuan mengetahui sifat-sifat yang tidak terjelaskan oleh dalil 'aqli dan naqli membuat kita tidak disiksa karenanya, berkat anugerah Allah Ta'ala.”


Yusuf Suharto, Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur

(Tulisan ini disarikan dan dimodifikasi dari buku Khazanah Aswaja oleh Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur)
Selasa 20 Maret 2018 3:0 WIB
Enam Jenis Peristiwa Khariqul Adat
Enam Jenis Peristiwa Khariqul Adat
Khariqul adat berasal dari dua kata, yaitu khariq yang bermakna menyalahi atau menembus koyak, dan al-‘adat adalah kebiasaan. Jika digabungkan, khariqul adat berarti beberapa perkara yang menyalahi kebiasaan.

Dalam pembahasan ilmu tauhid, ada enam perkara yang dapat menyalahi kebiasaan. Itu semua hukumnya adalah boleh secara akal. Boleh secara akal dalam ilmu tauhid disebut juga ‘jaiz ‘aqli’ yang definisinya adalah sesuatu yang menerima ada dan tiada pada dzatnya. Artinya, ada dan tiadanya bisa diterima oleh akal, meskipun menyalahi adat dan kebiasaan.

Contoh, api itu panas, dan ia sudah menjadi adat (sudah biasanya) api itu bersifat panas. Namun ketika api tidak panas, sebutlah dingin, maka ia sudah menyalahi kebiasaan. Lantas, apakah secara hukum aqli bertentangan? Tentu tidak. Kita berpatokan pada definisi jaiz ‘aqli, yaitu sesuatu yang menerima ada dan tiada pada dzatnya. Ia dapat terjadi, juga tidak terjadi.

Apakah kenyataannya pernah terjadi api itu tidak panas? Jawabannya adalah pernah. Ketika Nabi Ibrahim hendak dibakar, nyatanya ia tidak terbakar. Allah SWT menjadikannya dingin.

Yang mempengaruhi kebiasaan adalah Allah SWT, bukan sesuatu itu sendiri. Contoh, cabai itu pedas. Namun, Allah menjadikannya pedas. Ketika cabai itu rasanya manis, maka otomatis ia menyalahi hukum adat. Ini sah saja bagi kita dengan patokan bahwa yang mempengaruhi/membuat (dalam ilmu tauhid biasa disebut mu’tsir) cabai itu pedas adalah Allah SWT.

Kitab Al-Haqâiqul Jaliyyah fî Syarh Nazhm Al-Kharîdatil Bahiyyah (Syekhah Syifa binti Hitou, Al-Haqâ’iqul Jaliyyah fî Syarh Nazhm Al-Kharîdatil Bahiyyah, halaman 21) menyebut enam perkara yang di luar kebiasaan.

1. Mukjizat
Mukjizat adalah perkara di luar kebiasaan yang diperlihatkan oleh Allah melalui rasul dan nabi-Nya untuk membenarkan kenabiannya. Contohnya, Nabi Ibrahim yang tidak terbakar oleh api karena Allah menjadikannya dingin, air keluar dari sela jari Nabi Muhammad SAW, Nabi Isa dapat menghidupkan orang mati dan banyak contoh mukjizat lainnya.

2. Al-Irhash
Irhash sama seperti mukjizat. Tetapi ia muncul sebelum masa kenabian (bi’tsah) sebagai pengantar atau permulaan dari alamat kenabian, seperti peristiwa bebatuan dan pepohonan yang mengucapkan salam kepada nabi Muhammad dan dibelahnya dada beliau ketika masa kanak-kanak.

3. Karamah atau Keramat
Karamah atau keramat sama seperti mukjizat. Namun karamah Allah perlihatkan melalui orang-orang saleh dan para auliya. Seperti karamah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang banyak kita dapatkan dalam buku-buku biografinya.

4. Ma‘unah (pertolongan)
Ma‘unah atau pertolongan muncul pada manusia umumnya sebagai bentuk pertolongan Allah kepada mereka, dan terjadi pada perkara umum pula seperti sembuhnya orang yang sudah putus asa bahwa ia tak akan sembuh sama sekali. Derajat ma‘unah ini tidak mencapai irhash maupun mukjizat meski ia dikategorikan sebagai perkara di luar kebiasaan.

5. Istidrâj
Istidrâj diperlihatkan Allah melalui orang-orang kafir dan fasik sebagai fitnah, tipuan, dan bencana bagi orang-orang di sekitar mereka. Contoh, orang kafir semakin sejahtera. Orang durhaka menjalani hidup lancar tanpa cobaan berarti.

6. Ihânah (penghinaan)
Ihânah Allah perlihatkan pada siapa yang ingin Dia hinakan, dengan adanya perkara di luar kebiasaan namun tidak sesuai dengan tujuannya, seperti yang pernah terjadi pada Musailamah Al-Kadzzab.

Musailamah pernah berdoa untuk orang yang buta satu matanya, agar matanya yang buta itu menjadi sembuh bisa melihat. Namun yang terjadi, Musailamah malah membutakan semua matanya. Musailimah meludah ke dalam sumur supaya menjadi manis rasa airnya. Namun, air sumur itu berubah menjadi asin yang sangat asin. Wallahu a’lam. (Amien Nurhakim)
Senin 26 Februari 2018 13:30 WIB
Apakah Akhirat itu Kekal padahal Ia Makhluk?
Apakah Akhirat itu Kekal padahal Ia Makhluk?
Allah itu bersifat dengan segala sifat kesempurnaan dan tersucikan dari segala sifat kekurangan. Dalam lingkungan para ulama yang bermazhab Asy’ari, dikenal sifat-sifat wajib Allah yang dua puluh yang menjadi sifat-sifat pokok kesempurnaan (shifat asasiyyah kamaliyyah) Allah.

Salah satu sifat wajib bagi Allah adalah mukhalafatuhu lil hawaditsi (Allah berbeda dari makhluk-makhluk-Nya). Artinya, Allah wajib berlainan atau tidak sama dengan al-hawadits (hal-hal baru atau makhluk-Nya).

Di antara dalil sifat mukhalafatuh li al-hawadits adalah berikut:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS. As-Syura: 11)

Al-hawadits itu memiliki dua segi (jihah). Yang pertama, wujud (keberadaan) hawadits itu didahului oleh ketiadaan (al-‘adam). Kedua, hawadits itu memiliki sifat imkan (berkemungkinan). Artinya, wujud atau keberadaan hawadits itu, memungkinkan masih terus berlangsung, dan mungkin juga berubah menjadi tidak ada (‘adam). Demikian pula sebaliknya, ketika sesuatu itu tidak ada (‘adam), maka ketiadaannya mungkin terus berlangsung, atau berubah dari tidak ada (’adam) menjadi ada (wujud).

Maka dengan adanya segi yang kedua ini, dapat dipahami bahwa Allah itu mukhalafah lil hawaditsi dari segi imkan-nya. Artinya, Allah mukhalafah dengan hawadits, sebab wujud-nya Allah itu adalah wajib dzati (secara dzat wajib ada), yang mustahil berubah menjadi tidak ada (‘adam), baik dari ketiadaan kemudian menjadi ada (‘adam sabiq lil wujud), atau ketiadaan yang didahului ada (‘adam lahiq lil wujud).

Hal ini berbeda dengan hawadits yang wujudnya itu bersifat mungkin. Yang demikian itu bermakna bahwa keberadaan hawadits itu bisa berubah menjadi tidak ada (‘adam) kapan saja menurut kehendak Allah.  Demikian juga dengan hawadits yang bernama akhirat, surga dan neraka. Jika Allah menghendaki kekekalannya, setelah sebelumnya akhirat adalah tidak ada, maka itu adalah sesuatu yang mungkin. Dan kenyataannya bahwa Allah memberitahukan kepada kita semua bahwa kenikmatan surga dan siksa neraka itu kekal.

Ada Makhluk yang Dikekalkan Allah
Allah itu bersifat Baqa’, artinya wujud Allah itu kekal; tidak mengalami kemusnahan. Allah berfirman:

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ 

"Bahwa semua selain Allah akan hancur." (QS. Al-Qashash : 88)

Menurut Syekh Ibrahim al-Laqani dalam Jauharatut Tauhid, keumuman ayat ini telah di-takhshish (dispesifikasi). 

و كل شيء هالكٌ قد خصصُوا عمومَه فاطلُب لما قد لخصوا

“Para ulama telah mentakshish keumuman ayat ‘kullu syai’in hâlikun’. Maka carilah apa-apa yang telah mereka ringkaskan.”

Para ulama telah men-takhshish keumuman ayat tersebut dengan  beberapa makhluk yang Allah kehendaki untuk kekal dan tidak mengalami kehancuran, yang menurut keterangan beberapa hadits merupakan pengecualian seperti: surga, neraka, arsy, kursy, ruh, dan lain-lain. Ada juga yang berpendapat bahwa maksud ayat ini adalah, bahwa segala sesuatu akan musnah kecuali amal yang dikerjakan karena Allah. Atau maksud hâlikun itu adalah qâbilun lil halak (menerima kerusakan), sebagaimana disebutkan para ulama, misalnya Syekh Al-Baijuri dalam Tuhfatul Murid, dan Syekh Nawawi al-Bantani dalam Tafsir Marah Labid.

Syekh Jalaluddin as-Suyuthi, sebagaimana dikutip Syekh Al-Baijuri dan Syekh Nawawi al-Bantani menyebutkan nazam tentang delapan hal yang kekal sebagai berikut:


ثمَانيةٌ حكْم البقاء يعُمها من الخلق والباقُون في حيز العدَم
هي العرْش والكرسي نار وجنة وعجب وارواح كذا اللوحُ والقلم

“Ada delapan hal dari makhluk ini yang hukum kekekalan meratainya, sedangkan  yang lain berada di wilayah ketiadaan. Yaitu arasy, kursi, neraka, surga, ajbudz dzanab (tulang ekor), dan ruh. Demikian juga lauh mahfudz dan qalam (pena).”

Kekalnya Surga Neraka
Banyak dalil Al-Quran dan hadits yang menyatakan bahwa penduduk surga dan neraka itu kekal (khâlidin), misalnya dalam Surat Hud ayat 106-108:

فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُوا فَفِي النَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ 

خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ 

وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ۖ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ

"Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka. Di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik napas (dengan merintih). Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga. Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain) sebagai karunia yang tidak ada putus-putusnya." (QS. Hud : 106-108)

Tentang kekekalan kenikmatan surga dan siksa neraka, Syekh Al-Bayjury dalam Tuhfatul Murid ‘ala Syarhi Jauharatit Tauhid menyatakan:

ونعيمُ الجنة وعذابُ النار له أول ولا آخرله فكلٌ منهما باق لكنْ شرْعاً لا عقلا لأن العقل يُجوّز عدمَهما

“Kenikmatan surga dan siksa neraka itu ada permulaannya, tapi tidak berakhir. Setiap keduanya adalah kekal, tetapi dikekalkan (baqin) oleh agama, bukan oleh akal. Karena akal itu memungkinkan ketiadaannya.”

Di antara hadits yang menetapkan kekekalan surga dan neraka adalah hadits shahih, termasuk di dalamnya tentang "penyembelihan" (diakhirinya) kematian.

عن ابْن عُمر قال : قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم  إذا صَار أهلُ الجنة إلى الجنة وأهل النار إلى النار جيءَ بالموْت حتى يجعَل بين الجنة والنار ثم يذبح ثم يُنادي مناد يا أهل الجنة لا موت و يا أهل النار لا موت فيزدادُ أهلُ الجنة فرحًا إلى فرحهم ويزداد أهل النار حُزناً إلى حزنهم

Dari Ibnu Umar berkata, Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Ketika ahli surga telah masuk ke dalam surga dan ahli neraka telah masuk ke dalam neraka, didatangkanlah al-maut (kematian) sampai tempat di antara surga dan neraka, kemudian disembelih. Lalu akan memanggil seorang penyeru: "Wahai penduduk surga, tidak ada (lagj) kematian. Wahai penduduk neraka, tidak ada (lagi) kematian.Maka penduduk surga bertambah gembira di atas kegembiraan mereka, dan penduduk neraka bertambah sedih di atas kesedihan mereka." (HR. Bukhari).

Dengan demikian menjadi jelas bahwa ada perbedaan antara kekalnya Allah dengan kekalnya surga dan neraka. Kekalnya Allah bersifat dzatiyah dan hukumnya wajib (pasti), baik dari segi aqal ataupun agama (syara’) serta tidak ada permulaannya, sedangkan kekalnya surga dan neraka itu tidak bersifat dzatiyah namun karena dikehendaki oleh Allah dan juga wajib dari segi syara’ saja, tidak dari segi akal, serta keduanya ada permulaanya. 

Keyakinan ini bahkan merupakan kesepakatan (ijmak) para ulama Ahlissunnah wal Jamaah sebagaimana dinyatakan oleh Syekh Abdul Qahir al-Bahghdady dalam Al-Farqu Baynal Firaq sebagai berikut:

وَ أَجْمَعُوا ايْضا عَلى جَوَاز الفَنَاء على الْعَالَم كله منْ طَريق القُدْرَة والامكان, وَانما قالُوا بتأييْد الْجَنة, وتأييْد الجهَنم وَعَذابها منْ طَريق الشرْع

“Ahlussunnah juga sepakat tentang kemungkinan kemusnahan keseluruhan alam semesta, ditinjau dari segi qudrah Allah dan segi kemungkinan secara akal. Namun, mereka (Ahlussunnah wal Jama’ah) berpendapat tentang keabadian surga, dan keabadian neraka dan siksanya itu dari segi agama (syara’).


Yusuf Suharto, Tim Narasumber Aswaja NU Center Jatim, dosen Aswaja Institut KH Abdul Chalim, Mojokerto