IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Hadits
MUSTHALAH HADITS

Mengapa dan Kapan Muncul Hadits-hadits Palsu?

Rabu 28 Maret 2018 16:30 WIB
Share:
Mengapa dan Kapan Muncul Hadits-hadits Palsu?
(Foto: ss.lv)
Akhir-akhir ini kita sering menemukan hadits-hadits yang bertebaran di dunia maya. Beberapa bahkan divonis sebagai hadits palsu. Hadits-hadits palsu tersebut muncul dalam berbagai hal, mulai saat terjadinya kejadian-kejadian keagamaan tertentu, seperti Rajab, Ramadhan, dan lain sebagainya hingga karena kepentingan-kepentingan politik tertentu.

Muhammad ‘Ajjaj Al-Khatib dalam As-Sunnah Qablat Tadwin-nya menceritakan secara rinci kronologi munculnya hadits-hadits palsu pada zaman itu. Bermula pada peristiwa terbunuhnya Usman bin Affan yang berdampak pada mengkristalnya instabilitas politik antara kedua golongan, yakni Ali bin Abi Thalib yang didukung penuh oleh masyarakat Hijaz dan Irak serta Muawiyah yang didukung oleh masyarakat Mesir dan Syam.

Ketegangan antara kedua termanifestasi dalam Perang Siffin yang berujung pada peristiwa arbitrase (tahkim). Kesepakatan dilaksanakannya tahkim sendiri telah menimbulkan perpecahan dalam kelompok-kelompok Islam. Mulai munculnya Khawarij, Syiah (pro-Ali), dan golongan Pro-Muawiyah.

Hal ini juga dijelaskan oleh Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam Al-Manhalul Lathif fi Ushulil Hadits As-Syarif.

ظهر الوضع في السنة 41 من الهجرة حين تفرق المسلمون سياسيا وافترقوا إلى شيعة وخوارج وجمهور. وظهرت البدع والأهواء، فكان أهل الأهواء يختلقون أحاديث لتأييد مذاهبهم وترويج مابتدعوا

Artinya, “Pemalsuan hadits tampak sejak tahun 41 H, ketika terjadi perpecahan kaum Muslimin menjadi beberapa golongan secara politik, yaitu Syiah, Khawarij, dan jumhur shingga muncul para ahli bidah dan orang yang mengikuti hawa nafsunya. Mereka membuat-buat beberapa hadits untuk mendukung golongan mereka serta untuk menyebarkan perbuatan bidah mereka,” (Lihat Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki, Al-Manhalul Lathif fi Ushulil Hadits As-Syarif, [Madinah: Maktabah Malik Fahd, 2000], halaman 149).

Dipercaya atau tidak, ketiga golongan ini sebenarnya muncul atas landasan politik. Hal ini terbukti dari asal muasal berdirinya, yakni peristiwa tahkim antara Muawiyah dan Ali yang merupakan proses perebutan hak-hak politik.

Kemunculan tiga golongan inilah yang menjadi asal muasal munculnya hadits-hadits palsu yang digunakan untuk membela kepentingan-kepentingan mereka. Muncullah hadits-hadits palsu tentang kelebihan dan keutamaan khulafa’u rasyidin, kelebihan-kelebihan kelompok tertentu, kelebihan-kelebihan ketua-ketua partai, bahkan muncul pula hadits-hadits yang secara tegas mendukung aliran-aliran politik dan kelompok-kelompok agama tertentu.

Masa-masa instabilitas politik saat itu sebenarnya disebabkan adanya hoaks berupa hadits-hadits palsu yang telah terdistribusikan dengan sangat masif. Baik melalui mulut ke mulut, maupun dari mimbar-mimbar ceramah. Jika bisa dikategorikan, penyebaran hoaks berupa hadits-hadits palsu tersebut bisa dilakukan oleh per orangan atau per kelompok.

Dalam karyanya yang berjudul Al-Manhalul Lathif fi Ushulil Hadits As-Syarif, Sayyid Alawi Al-Maliki menjelaskan beberapa faktor dibuatnya hadits-hadits palsu: pertama, mempertahankan kepentingan pribadi; kedua, mendekatkan diri kepada pejabat tertentu (orang-orang yang berkepentingan); ketiga, mencari rizki; keempat, membela pendapat tertentu walaupun salah; kelima, menarik simpati orang untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan baik, termasuk mengajarkan anak-anak tentang agama.

Di sisi lain, Ajaj Al-Khatib menambahkan beberapa tujuan penggunaan hadits palsu, di antaranya: politik, diskriminasi etnis dan kabilah, serta kepentingan mengunggulkan mazhab fiqih atau kalam.

Ajaj Al-Khatib dan Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki sendiri memiliki pandangan sama terkait orang-orang yang melakukan pemalsuan hadits untuk mengajak kepada kebaikan. Namun, bagaimanapun juga yang dilakukan tetap tidak benar karena menghalalkan segala cara termasuk berbohong atas nama nabi. Hal ini sebagaimana penyebaran berita hoaks yang sering kita temukan untuk memotivasi spirit keagamaan seseorang. Tentu cara-cara seperti ini tidaklah benar.

Setelah muncul beberapa fitnah disebabkan adanya penyebaran hadits palsu tersebut, para ulama melakukan seleksi ketat untuk memilah-memilih “hadits” yang memang benar-benar hadits. Mujahadah para ulama menelurkan karya keilmuan yang luar biasa dan bisa kita pelajari hingga sekarang. Wallahu a‘lam. (M Alvin Nur Choironi)
Share:
Kamis 22 Maret 2018 12:0 WIB
Siapakah yang Disebut ‘Sahabat Nabi’ Itu?
Siapakah yang Disebut ‘Sahabat Nabi’ Itu?
Hadits dan sejarah terkait Nabi Muhammad, tentu tak lepas dari keterangan para sahabat beliau. Kebanyakan kita kenal sahabat Nabi yang populer, seperti Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Aisyah atau setidaknya yang kerap disebut dalam pelbagai kisah seperti Abu Hurairah dan Bilal bin Rabah. Namun ketika diminta menyebutkan lebih banyak nama, tentu pengetahuan kita terbatas.

Nabi Muhammad dalam sebuah riwayat hadits menyatakan bahwa kaum terbaik adalah kaum yang berada semasa dengan beliau, kemudian berturut-turut kaum setelahnya. Secara sederhana, sahabat kita pahami sebagai orang-orang yang pernah berjumpa dengan Nabi. Karena kedekatan dan pengetahuan mereka terhadap Nabi, peran sahabat begitu istimewa, khususnya dalam kajian hadits. 

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam al-Ishâbah fi Tamyîzis Shahâbah menyebutkan bahwa sahabat Nabi adalah “orang-orang yang berjumpa dengan Nabi dalam keadaan beragama Islam, dan meninggal juga dalam keadaan Islam.”

Dalam rangkaian sanad hadits, penyebutan sahabat berada di urutan setelah Nabi. Peran mereka baik sebagai orang yang melaksanakan suatu hal di depan Nabi, atau menjadi orang yang menyampaikan apa yang didengar dan dilihat dari pribadi Rasulullah SAW.

Sebagaimana disebutkan di awal, umumnya sahabat Nabi adalah yang populer dikisahkan, semisal sepuluh orang yang dikabarkan Nabi masuk surga (al-mubasysyarun bil jannah). Selain itu, sosok sahabat juga diketahui dari penyebutan dalam hadits, seperti kaum yang bersama Nabi saat perang Badar, lalu tokoh seperti Abdullah bin Ummi Maktum, Ukasyah, Dhimam bin Tsa’labah, Kaab bin Malik dan banyak lainnya.

Sebagian ulama menambahkan kriteria lebih detail untuk menggolongkan peran dan posisi sahabat. Ada yang menyebutkan bahwa sahabat Nabi yang lebih utama adalah orang yang dalam waktu lama bergaul bersama Rasulullah (thûlul mujâlasah atau thûlus shuhbah), atau pernah berperang bersama beliau. Dalam hal ini, keterangan sahabat tentang sejawatnya, atau pengakuan pernah berjumpa Nabi semasa beliau hidup menjadi cara kita mengetahui sosok sahabat, yang bisa ditelaah dalam kitab biografi perawi hadits.

Mengetahui bahwa pengertian sahabat adalah “orang-orang yang pernah berjumpa dengan Nabi”, tentu jumlahnya sangat banyak sekali, tidak terbatas pada sosok yang populer dikisahkan saja. Beberapa ulama hadits, seperti Abu Zur’ah Ar Razi, mengemukakan bahwa jumlah sahabat tak kurang dari 100.000 orang. Jumlah ini tentu dengan mempertimbangkan luasnya perjalanan Nabi dan interaksi beliau dengan masyarakat di berbagai daerah.

Demikian pengertian sahabat menurut kalangan ahli hadits, dan tentu berkat peran dan keteguhan hati dalam mendakwahkan dan memperjuangkan ajaran Islam, mereka menjadi wasilah kita di masa sekarang kepada teladan Rasulullah Muhammad SAW. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)

Senin 19 Maret 2018 17:15 WIB
MUSTHALAH HADITS
Ini Pengertian Hadits Shahih Muttashil
Ini Pengertian Hadits Shahih Muttashil
(Foto: ibtimes)
Sebuah hadits bisa dikatakan shahih jika memenuhi lima syarat yang telah ditetapkan oleh para ulama hadits. Lima syarat bisa kita jumpai dalam rangkuman syair yang digubah oleh Imam Al-Bayquni dalam Nadham Bayquni berikut ini:

أولها الصحيح وهو ما اتصل # إسناده ولم يشد أويعل

يرويه عدل ضابط عن مثله # معتمد في ضبطه ونقله

Artinya, “Pembagian hadits yang pertama adalah shahih, yaitu sanadnya bersambung serta tidak terdapat syadz atau illat, diriwayatkan oleh perawi yang adil serta dhabit serta kuat dhabit dan periwayatannya.”

Syarat pertama adalah ittishalus sanad, yakni sanadnya harus bersambung. An-Nawawi mengutip pendapat Imam Ibnu Shalah bahwa muttasil adalah hadits yang sanadnya bersambung baik itu marfu‘ (sampai Rasulullah SAW) atau mauquf (sampai sahabat) saja.

Imam As-Suyuthi dalam kitab Tadribur Rawi fi Syarhi Taqrib An-Nawawi menjelaskan bahwa syarat muttashil adalah semua perawi harus mendengar hadits tersebut dari gurunya.

قال ابن الصلاح بسماع كل واحد من رواته ممن فوقه.

Artinya, “Ibnu Shalah berpendapat bahwa muttashil adalah dengan mendengarnya setiap perawi atas orang sebelumnya,” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Tadribur Rawi fi Syarhi Taqrib An-Nawawi, [t.k.: Dar Taybah, t.t.], halaman 201).

Untuk memastikan ketersambungan sebuah sanad dan untuk memastikan bahwa seorang perawi benar-benar mendengarkan sebuah haditst dari gurunya, maka para ulama menetapkan beberapa syarat dan kriteria agar sebuah sanad dinyatakan muttashil.

Abdul Mahdi Abdul Qadir dalam kitabnya Thuruqul Hukum alal Hadits bis Sihhah wa Dhaif menjelaskan delapan syarat ittishal sanad. (Lihat Abdul Mahdi Abdul Qadir, Thuruqul Hukum alal Hadits bis Sihhah wa Dhaif, [Jeddah: Maktabah Iman, 2008], halaman 223-224).

Berikut delapan syarat tersebut:
Pertama, perawi tersebut harus semasa dengan gurunya. Cara untuk mengetahui bahwa perawi tersebut semasa atau tidak adalah dengan memeriksa tahun wafatnya di kitab tarajim. Jika seorang perawi tersebut lahir sebelum gurunya wafat, maka bisa dipastikan bahwa dia semasa.

Kedua, setelah memastikan bahwa seorang perawi satu masa dengan gurunya, selanjutnya adalah memastikan bahwa rawi tersebut bertemu dengan gurunya. Karena ada beberapa perawi yang satu masa tapi tidak pernah bertemu.

Caranya adalah dengan memeriksa makanur rihlah (tempat-tempat yang pernah dikunjungi) untuk mencari hadits. Jika salah satu tempat rihlahnya sesuai dengan tempat rihlah gurunya, atau tempat rihlah tersebut dilewati oleh gurunya, maka perawi tersebut dimungkinkan bertemu.

Ketiga, perawi mendengarkan langsung dari gurunya. Bisa jadi ada rawi yang pernah bertemu dengan gurunya, tetapi tidak pernah meriwayatkan hadits dari guru tersebut. Hal inilah yang disebut dalam musthalah hadits sebagai mursal khafi.

Keempat, menggunakan sighat ada’ yang pasti (jazm) seperti: سمعت" أو "حدثنا". Bukan menggunakan sighat tamridl (ruwiya an, hukiya an, atau kalimat lain yang mabni majhul).

Kelima, perawi tersebut masuk dalam daftar murid gurunya di kitab tarajim. Ini bisa kita periksa dari nama-nama orang yang pernah meriwayatkan dari gurunya. Biasanya dalam kitab tarajim, nama-nama tersebut disebutkan setelah kata rawa anhu (روى عنه) dalam biografi gurunya.

Keenam, guru tersebut masuk dalam daftar guru perawi. Hal ini juga bisa kita periksa sebagaimana poin kelima. Biasanya nama tersebut tercantum setelah kata rawa an (روى عن).

Ketujuh, tidak adanya ketetapan dari para imam hadits bahwa periwayatan rawi dari gurunya tersebut tidak muttashil. Misalnya sering kita temui dalam kitab tarajim, ungkapan para ulama bahwa rawi tersebut mudallis dari fulan. Seperti: Qâla Ibnu Hatim, fulan mudallis an fulan, dan lain sebagainya.

Kedelapan, tidak adanya ketetapan dari para Imam bahwa periwayatan seorang rawi dari gurunya mursal. Ini juga bisa kita jumpai di kitab tarajim sebagaimana dalam poin tujuh di atas.

Untuk itu perlu ada pemeriksaan terkait kesesuaian sebuah sanad hadits dan syarat-syarat di atas. Jika tidak sesuai, maka sanad tersebut munqathi’ (walaupun ada istilah khusus dalam beberapa kasus munqathi’), konsekuensinya adalah sanad tersebut divonis dhaif. Jika sesuai, maka sanad tersebut muttashil. Wallahu a’lam. (M Alvin Nur Choironi)
Senin 5 Maret 2018 14:1 WIB
Ini Keterangan Muhadditsin Perihal Hadits Bid’ah
Ini Keterangan Muhadditsin Perihal Hadits Bid’ah
(Foto: pinterest)
Bid’ah termasuk istilah yang sampai saat ini masih kontroversial di tengah masyarakat. Kata ini sering kali dilontarkan sebagian kelompok pada orang atau komunitas yang melakukan praktik keagamaan yang dianggap tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah SAW.

Menurut pemahaman kelompok ini, setiap amalan yang tidak pernah dikerjakan Rasulullah termasuk bagian dari bid’ah sehingga, praktik tahlilan, yasinan, maulid Nabi, dan lain-lain dianggap bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.

Ada beberapa dalil yang sering digunakan kelompok antibid’ah, di antaranya:

وَإِيَّاكُمْ  وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Artinya, “Jauhilah perkara baru karena semua bid’ah adalah sesat,” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Kalau dipahami sekilas memang hadits ini mengarahkan kita untuk menjauhi setiap perkara yang baru agar tidak terjebak dalam kesesatan. Tapi ternyata, para ulama tidak memahaminya demikian. Tidak semua perkara baru dianggap bid’ah. Salah satunya adalah Ibnu Daqiq Al-‘Id. Dalam Syarah Arba’in An-Nawawiyyah, Ibnu Daqiq menjelaskan:

اعلم أن المحدث على قسمين: محدث ليس له أصل في الشريعة فهذا باطل مذموم. ومحدث بحمل النظير على النظير فهذا ليس بمذموم، لأن لفظ المحدث ولفظ البدعة لا يذمان لمجرد الاسم، بل لمعنى المخالفة للسنة والداعي إلى الضلالة، ولا يذم ذلك مطلقا، فقد قال تعالى: ما يأتيهم من ذكر من ربهم محدث. وقال عمر رضي الله عنه: نعمت البدعة هذه، يعني التراويح

Artinya, “Ketahuilah bahwa muhdats (perkara baru) ada dua macam: Pertama, perkara baru yang tidak memiliki landasan dalam syariat. Ini dianggap batal dan tercela. Kedua, perkara baru yang memiliki kesamaan (landasan) dalam syariat. Model kedua ini tidak tercela karena kata ‘muhdats’ dan ‘bid’ah’ itu sendiri tidak tercela dari sisi namanya. Tetapi muhdats dan bid’ah dianggap tercela bila bertentangan dengan sunah dan membawa kepada kesesatan. Sebab itu, jangan dicela secara mutlak. Karena Allah berfirman, ‘Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al-Qur’an pun yang baru (diturunkan) dari Tuhan mereka’ (Surat Al-Anbiya ayat 2). Umar bin Khatab berkata, ‘Sebaik-baik bid’ah ini, yaitu shalat tarawih.”

Ibnu Daqiq Al-Id membagi bid’ah atau perkara baru menjadi dua kategori. Pertama, perkara baru yang tidak memiliki landasan syariat. Ini termasuk bagian dari kesesatan karena setiap ibadah dan amalan harus memiliki landasan syariat. Mengerjakan shalat shubuh empat rakaat misalnya, ini termasuk bid’ah dhalalah karena Nabi tidak pernah mengerjakan shalat shubuh empat raka’at dan tidak ada juga dalil Al-Qur’an dan hadits yang menguatkan amalan ini.

Kedua, perkara baru yang memiliki landasan syariat. Ini tidak tercela dan dibolehkan. Kata bid’ah sebetulnya bermakna netral dan tidak selalu berarti negatif. Kalau perkara baru tersebut memiliki landasan dalam syariat atau bisa dianalogikan dengan kasus sebelumnya, maka tidak termasuk bagian dari kesesatan.

Misalnya, Sayyidina Umar bin Khatab RA menginstruksikan shalat tarawih berjamaah dengan satu imam di masjid. Amalan ini tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah dan baru ada pada masa Umar bin Khatab RA. Umar RA sebagai seorang sahabat terdekat Rasulullah tidak mungkin mengamalkan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam. Sebab itu, shalat tarawih yang diajarkan Umar RA tidak dianggap bid’ah tercela, meskipun tidak pernah dilakukan Rasulullah SAW.

Jadi tidak semua perbuatan yang tidak dilakukan Rasulullah SAW termasuk bid’ah tercela. Bisa jadi perbuatan itu memang baru, tapi bisa dianalogikan dengan kasus lain yang ada pada masa Rasul atau dipahami dari dalil umum yang ada dalam Al-Qur’an dan hadits. Wallahu a'lam. (Hengki Ferdiansyah)