IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Hadits

Beberapa Macam Proses Pemalsuan Hadits

Rabu 4 April 2018 13:0 WIB
Share:
Beberapa Macam Proses Pemalsuan Hadits
(Foto: ss.lv)
Sering kali kita menemukan hadits-hadits tersebar di beberapa pesan siaran (broadcast). Hadits tersebut biasanya disertakan dalam ajakan-ajakan mengerjakan suatu amalan di hari dan bulan-bulan tertentu.

Setelah dicari dalam beberapa kitab al-mashdar al-ashli, terkadang kita tidak menemukan hadits tersebut, bahkan secara maknapun tidak kita temukan. Kita bisa mengatakan bahwa hadits tersebut benar-benar palsu. Bisa jadi juga ucapan itu sengaja dibuat agar pesan siaran tersebut viral dan siapapun mau menyebarkannya dengan label hadits yang disematkan.

Sebenarnya, pemalsuan hadits terjadi karena beberapa sebab, salah satunnya adalah untuk motivasi mengerjakan amalan tertentu dalam beragama. Bahkan hal ini sudah terjadi jauh pada masa tabi‘in, sekitar abad ketiga Hijriah.

Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki menunjukkan beberapa sebab terjadinya pemalsuan hadits dalam kitab Al-Manhalul Lathif fi Ushulil Haditsis Syarif, beserta cara dan proses pemalsuan hadits tersebut.

Berikut beberapa proses pembuatan hadits palsu yang diungkap oleh Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki: (lihat: Muhammad bin Alawi Al-Maliki, Al-Manhalul Lathif fi Ushulil Haditsis Syarif, (Madinah: Maktabah Al-Malik Fahd, 2000), cetakan ketujuh, halaman 147-148).

Pertama, seseorang membuat suatu ucapan kemudian membuat sanad-sanadnya. Setelah itu ia meriwayatkannya dengan menyandarkan kepada Rasulullah SAW.

Kedua, mengambil ucapan dari para hakim atau ulama kemudian meriwayatkannya sebagai sebuah hadits yang disandarkan kepada Rasulullah SAW.

Ketiga, kesalahan seseorang dengan menyebut sebuah ucapan sebagai hadits Rasulullah SAW tanpa disengaja. Hal ini bisa disebut sebagai (syubhatul wadh’i) sebagaimana terjadi kepada Tsabit bin Musa Az-Zahid.

Ia menyebut sebuah kalimat yang ia sangka sebagai hadits padahal itu bukan hadits.

مَنْ كَثُرَتْ صَلاَتُهُ بِاللَّيْلِ حَسُنَ وَجْهُهُ بِالنَّهَارِ

Artinya, “Siapa yang banyak melakukan shalat di malam hari, maka wajahnya akan bersinar di siang harinya.”

Imam Ibnul Atsir dalam Jami‘ul Ushul fi Ahaditsir Rasul menjelaskan bahwa hadits di atas sebenarnya bukan sebuah hadits. Bukan juga pemalsuan secara sengaja yang dilakukan oleh Tsabit bin Musa Az-Zahid.

دخل على شريك بن عبد الله القاضي ، والمستملي بين يديه ، وشريك يقول : حدثنا الأعمش عن أبي سفيان عن جابر ، قال : قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم- ، ولم يذكر متن الحديث ، فلما نظر إلى ثابت بن موسى قال : «من كثر صلاته بالليل حسن وجهه بالنهار» وإنما أراد بذلك ، ثابت بن موسى لزهده وورعه ، فظن ثابت بن موسى أنه روى الحديث مرفوعًا بهذا الإسناد ، فكان ثابت يحدث به عن شريك عن الأعمش عن أبي سفيان عن جابر.

Artinya, “Suatu hari Tsabit bin Musa menghadap Syarik bin Abdullah Al-Qadhi, kemudian ia minta didiktekan sebuah hadits. Kemudian Syarik berkata, ‘Telah berkata kepadaku Sl-A’masy dari Abu Sufyan dari Jabir bahwa Rasulullah SAW bersabda.’ Namun Syarik tidak langsung mengucapkan matan hadits. Ketika Syarik melihat wajah Tsabit bin Musa, Syarik kemudian berkata, “Siapa yang banyak shalatnya di malam hari, ia akan bersinar wajahnya di siang hari.”

“Padahal yang dimaksud Syarik dalam ucapan tersebut adalah Tsabit bin Musa dan sikap wara’nya. Tetapi Tsabit mengira bahwa yang diucapkan Syarik kepadanya sebagai hadits yang marfu‘ dari Rasulullah SAW dengan sanad yang disebut Syarik tersebut sehingga Tsabit meriwayatkan matan hadits (palsu) tersebut dari Syarik dari A’masy dari Abu Sufyan dari Jabir,” (Lihat Majduddin Ibnul Atsir, Jami‘ul Ushul fi Ahaditsir Rasul, (Beirut: Maktabah Darul Bayan, 1969), juz I, halaman 142).

Keempat, hadits yang tidak bersumber dari Rasulullah SAW, melainkan dari sahabat atau tabi‘in dan seterusnya. Penyebutannya biasanya untuk menunjukkan bahwa hadits tersebut adalah mauquf dan tidak boleh disandarkan kepada Rasul, tetapi orang yang membacanya mengira bahwa hadits tersebut hadits palsu. Padahal antara hadits palsu dan mauquf berbeda.

Terkait hadits-hadits mauquf ini, Abu Hafs bin Budr Al-Mushili menulis sebuah kitab yang ditetapkan oleh ulama sebagai hadits palsu, padahal sebenarnya hadits tersebut mauquf. Kitab tersebut ditulis oleh Al-Mushili dengan judul Ma’rifatul Wuquf alal Mauquf.

Itulah beberapa proses pemalsuan hadits. Di antara empat macam di atas, ada proses pemalsuan yang disengaja dan ada yang tidak. Hanya 1-3 macam yang juga terjadi pada masa-masa sekarang ini. Wallahu a‘lam. (M Alvin Nur Choironi)
Share:
Selasa 3 April 2018 7:1 WIB
Cara Menyikapi Hadits Keutamaan Rajab
Cara Menyikapi Hadits Keutamaan Rajab
Salah satu fenomena menarik yang mungkin tidak ditemukan pada beberapa tahun sebelumnya adalah banyaknya orang-orang yang menyebarkan informasi keagamaan secara sukarela. Informasi itu disebar secara luas melalui media sosial, yaitu facebook, twitter, grup WA, dan media lainnya. Orang menyebar keutamaan puasa Rajab.

Di antara informasi yang sering disebar menjelang bulan Ramadhan ini adalah seputar keutamaan bulan Rajab. Ada banyak hadits disebarkan dengan tujuan untuk memotivasi orang memperbanyak ibadah puasa pada bulan Rajab.

Meskipun tujuan penyebaran informasi itu bagus, tapi sebagian orang ada juga yang mempermasalahkan hal itu karena memang kebanyakan hadits yang disebarkan melalui media sosial soal keutamaan Rajab adalah hadits yang bermasalah.

Hadits seputar keutamaan bulan Rajab ini sudah pernah dikaji oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani. Hasil kajiannya itu ditulis dalam kitab berjudul Tabyinul ‘Ajab bi Ma Warada fi Fadhli Rajab. Dalam kitab itu ia berkata:

لم يرد في فضل شهر رجب، ولا في صيامه ولا في صيام شيئ منه معين، ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة. وقد سبقني إلى الجزم بذلك الإمام أبو إسما عيل الهروي الحافظ.....ولكن اشتهر أن أهل العلم يتسمحون في إيرد الأحاديث في الفضائل وإن كان فيها ضعيف، ما لم تكن موضوعة

Artinya, “Tidak ada hadits shahih yang bisa dijadikan hujjah terkait keutamaan Rajab, puasa Rajab, atau puasa di hari tertentu di bulan Rajab, serta beribadah pada malam tertentu di bulan Rajab. Sebelumnya sudah ada yang melakukan kajian ini, yaitu Imam Abu Ismail Al-Harawi Al-Hafidz. Meskipun demikian, sesungguhnya para ulama membolehkan mengamalkan hadits tentang fadhilah amal, walaupun kualitasnya lemah, selama tidak maudhu’.”

Ibnu Hajar mengakui bahwa belum ditemukan dalil shahih dan spesifik terkait keutamaan bulan Rajab atau dalil khusus yang menyatakan keutamaan puasa di bulan Rajab. Namun dengan tidak adanya dalil shahih yang spesifik itu bukan berati puasa Rajab tidak boleh. Maksudnya bukan demikian.

Sebab dalam kajian hadits sendiri, beramal dengan hadits dhaif dibolehkan selama tidak berkaitan dengan akidah dan kualitas haditsnya tidak terlalu lemah. Apalagi dalam persoalan puasa Rajab, sebetulnya ada hadits shahih yang menjadi landasan kebolehan puasa Rajab.

Misalnya, dalam hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa ada sahabat yang bertanya kepada Sa’id Ibnu Jubair terkait puasa Rajab. Said menjawab, “Saya mendengar Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Rasulullah SAW berpuasa (berturut-turut) hingga kami menduga Rasulullah SAW selalu berpuasa, dan ia tidak puasa (berturut-turut) sampai kami menduga ia tidak  puasa,” (HR Muslim).

Kemudian dalam riwayat lain adalah hadits riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i, Al-Baihaqai, dan lain-lain yang menyebutkan bahwa Nabi memerintahkan salah seorang sahabatnya untuk berpuasa pada bulan-bulan mulia (asyhurul hurum). Sementara salah satu dari empat bulan yang dimuliakan dalam Islam adalah bulan Rajab.

Jadi dengan banyaknya beredar hadits dhaif tentang keutamaan Rajab bukan berati memperbanyak amalan pada bulan itu tidak dibolehkan, karena hadits dhaif itu sendiri masih boleh diamalkan dengan syarat tidak berkaitan dengan akidah dan kelemahannya tidak terlalu parah.

Selain itu juga masih ada riwayat lain yang shahih menyebut Nabi pernah mengerjakan puasa di bulan Rajab dan memerintahkan sahabat puasa di bulan yang mulia. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)
Rabu 28 Maret 2018 16:30 WIB
MUSTHALAH HADITS
Mengapa dan Kapan Muncul Hadits-hadits Palsu?
Mengapa dan Kapan Muncul Hadits-hadits Palsu?
(Foto: ss.lv)
Akhir-akhir ini kita sering menemukan hadits-hadits yang bertebaran di dunia maya. Beberapa bahkan divonis sebagai hadits palsu. Hadits-hadits palsu tersebut muncul dalam berbagai hal, mulai saat terjadinya kejadian-kejadian keagamaan tertentu, seperti Rajab, Ramadhan, dan lain sebagainya hingga karena kepentingan-kepentingan politik tertentu.

Muhammad ‘Ajjaj Al-Khatib dalam As-Sunnah Qablat Tadwin-nya menceritakan secara rinci kronologi munculnya hadits-hadits palsu pada zaman itu. Bermula pada peristiwa terbunuhnya Usman bin Affan yang berdampak pada mengkristalnya instabilitas politik antara kedua golongan, yakni Ali bin Abi Thalib yang didukung penuh oleh masyarakat Hijaz dan Irak serta Muawiyah yang didukung oleh masyarakat Mesir dan Syam.

Ketegangan antara kedua termanifestasi dalam Perang Siffin yang berujung pada peristiwa arbitrase (tahkim). Kesepakatan dilaksanakannya tahkim sendiri telah menimbulkan perpecahan dalam kelompok-kelompok Islam. Mulai munculnya Khawarij, Syiah (pro-Ali), dan golongan Pro-Muawiyah.

Hal ini juga dijelaskan oleh Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam Al-Manhalul Lathif fi Ushulil Hadits As-Syarif.

ظهر الوضع في السنة 41 من الهجرة حين تفرق المسلمون سياسيا وافترقوا إلى شيعة وخوارج وجمهور. وظهرت البدع والأهواء، فكان أهل الأهواء يختلقون أحاديث لتأييد مذاهبهم وترويج مابتدعوا

Artinya, “Pemalsuan hadits tampak sejak tahun 41 H, ketika terjadi perpecahan kaum Muslimin menjadi beberapa golongan secara politik, yaitu Syiah, Khawarij, dan jumhur shingga muncul para ahli bidah dan orang yang mengikuti hawa nafsunya. Mereka membuat-buat beberapa hadits untuk mendukung golongan mereka serta untuk menyebarkan perbuatan bidah mereka,” (Lihat Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki, Al-Manhalul Lathif fi Ushulil Hadits As-Syarif, [Madinah: Maktabah Malik Fahd, 2000], halaman 149).

Dipercaya atau tidak, ketiga golongan ini sebenarnya muncul atas landasan politik. Hal ini terbukti dari asal muasal berdirinya, yakni peristiwa tahkim antara Muawiyah dan Ali yang merupakan proses perebutan hak-hak politik.

Kemunculan tiga golongan inilah yang menjadi asal muasal munculnya hadits-hadits palsu yang digunakan untuk membela kepentingan-kepentingan mereka. Muncullah hadits-hadits palsu tentang kelebihan dan keutamaan khulafa’u rasyidin, kelebihan-kelebihan kelompok tertentu, kelebihan-kelebihan ketua-ketua partai, bahkan muncul pula hadits-hadits yang secara tegas mendukung aliran-aliran politik dan kelompok-kelompok agama tertentu.

Masa-masa instabilitas politik saat itu sebenarnya disebabkan adanya hoaks berupa hadits-hadits palsu yang telah terdistribusikan dengan sangat masif. Baik melalui mulut ke mulut, maupun dari mimbar-mimbar ceramah. Jika bisa dikategorikan, penyebaran hoaks berupa hadits-hadits palsu tersebut bisa dilakukan oleh per orangan atau per kelompok.

Dalam karyanya yang berjudul Al-Manhalul Lathif fi Ushulil Hadits As-Syarif, Sayyid Alawi Al-Maliki menjelaskan beberapa faktor dibuatnya hadits-hadits palsu: pertama, mempertahankan kepentingan pribadi; kedua, mendekatkan diri kepada pejabat tertentu (orang-orang yang berkepentingan); ketiga, mencari rizki; keempat, membela pendapat tertentu walaupun salah; kelima, menarik simpati orang untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan baik, termasuk mengajarkan anak-anak tentang agama.

Di sisi lain, Ajaj Al-Khatib menambahkan beberapa tujuan penggunaan hadits palsu, di antaranya: politik, diskriminasi etnis dan kabilah, serta kepentingan mengunggulkan mazhab fiqih atau kalam.

Ajaj Al-Khatib dan Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki sendiri memiliki pandangan sama terkait orang-orang yang melakukan pemalsuan hadits untuk mengajak kepada kebaikan. Namun, bagaimanapun juga yang dilakukan tetap tidak benar karena menghalalkan segala cara termasuk berbohong atas nama nabi. Hal ini sebagaimana penyebaran berita hoaks yang sering kita temukan untuk memotivasi spirit keagamaan seseorang. Tentu cara-cara seperti ini tidaklah benar.

Setelah muncul beberapa fitnah disebabkan adanya penyebaran hadits palsu tersebut, para ulama melakukan seleksi ketat untuk memilah-memilih “hadits” yang memang benar-benar hadits. Mujahadah para ulama menelurkan karya keilmuan yang luar biasa dan bisa kita pelajari hingga sekarang. Wallahu a‘lam. (M Alvin Nur Choironi)
Kamis 22 Maret 2018 12:0 WIB
Siapakah yang Disebut ‘Sahabat Nabi’ Itu?
Siapakah yang Disebut ‘Sahabat Nabi’ Itu?
Hadits dan sejarah terkait Nabi Muhammad, tentu tak lepas dari keterangan para sahabat beliau. Kebanyakan kita kenal sahabat Nabi yang populer, seperti Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Aisyah atau setidaknya yang kerap disebut dalam pelbagai kisah seperti Abu Hurairah dan Bilal bin Rabah. Namun ketika diminta menyebutkan lebih banyak nama, tentu pengetahuan kita terbatas.

Nabi Muhammad dalam sebuah riwayat hadits menyatakan bahwa kaum terbaik adalah kaum yang berada semasa dengan beliau, kemudian berturut-turut kaum setelahnya. Secara sederhana, sahabat kita pahami sebagai orang-orang yang pernah berjumpa dengan Nabi. Karena kedekatan dan pengetahuan mereka terhadap Nabi, peran sahabat begitu istimewa, khususnya dalam kajian hadits. 

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam al-Ishâbah fi Tamyîzis Shahâbah menyebutkan bahwa sahabat Nabi adalah “orang-orang yang berjumpa dengan Nabi dalam keadaan beragama Islam, dan meninggal juga dalam keadaan Islam.”

Dalam rangkaian sanad hadits, penyebutan sahabat berada di urutan setelah Nabi. Peran mereka baik sebagai orang yang melaksanakan suatu hal di depan Nabi, atau menjadi orang yang menyampaikan apa yang didengar dan dilihat dari pribadi Rasulullah SAW.

Sebagaimana disebutkan di awal, umumnya sahabat Nabi adalah yang populer dikisahkan, semisal sepuluh orang yang dikabarkan Nabi masuk surga (al-mubasysyarun bil jannah). Selain itu, sosok sahabat juga diketahui dari penyebutan dalam hadits, seperti kaum yang bersama Nabi saat perang Badar, lalu tokoh seperti Abdullah bin Ummi Maktum, Ukasyah, Dhimam bin Tsa’labah, Kaab bin Malik dan banyak lainnya.

Sebagian ulama menambahkan kriteria lebih detail untuk menggolongkan peran dan posisi sahabat. Ada yang menyebutkan bahwa sahabat Nabi yang lebih utama adalah orang yang dalam waktu lama bergaul bersama Rasulullah (thûlul mujâlasah atau thûlus shuhbah), atau pernah berperang bersama beliau. Dalam hal ini, keterangan sahabat tentang sejawatnya, atau pengakuan pernah berjumpa Nabi semasa beliau hidup menjadi cara kita mengetahui sosok sahabat, yang bisa ditelaah dalam kitab biografi perawi hadits.

Mengetahui bahwa pengertian sahabat adalah “orang-orang yang pernah berjumpa dengan Nabi”, tentu jumlahnya sangat banyak sekali, tidak terbatas pada sosok yang populer dikisahkan saja. Beberapa ulama hadits, seperti Abu Zur’ah Ar Razi, mengemukakan bahwa jumlah sahabat tak kurang dari 100.000 orang. Jumlah ini tentu dengan mempertimbangkan luasnya perjalanan Nabi dan interaksi beliau dengan masyarakat di berbagai daerah.

Demikian pengertian sahabat menurut kalangan ahli hadits, dan tentu berkat peran dan keteguhan hati dalam mendakwahkan dan memperjuangkan ajaran Islam, mereka menjadi wasilah kita di masa sekarang kepada teladan Rasulullah Muhammad SAW. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)