IMG-LOGO
Trending Now:
Fiqih Perbandingan

Perbedaan Pandangan Ulama Fiqih tentang Qunut Subuh

Sabtu 7 April 2018 18:15 WIB
Share:
Perbedaan Pandangan Ulama Fiqih tentang Qunut Subuh
Ilustrasi (© Reuters)
Keragaman Muslim Indonesia meniscayakan ragam pelaksanaan ibadah di masyarakat. Tak terkecuali dalam shalat. Dahulu, atau barangkali hingga saat ini, yang masih menjadi “pembeda” antargolongan Muslim adalah perkara doa qunut saat shalat Subuh. Tentu bagi kebanyakan kalangan Nahdliyin perbedaan qunut Subuh ini sudah familiar.

“Masjid yang di sana Subuhnya tidak pakai qunut. Kayaknya imam masjidnya dari kalangan anu.” Demikian kurang lebih ‘rasan-rasan’ yang biasa kita dengar.

Penyebab perbedaan qunut yang paling mencolok adalah beda pemahaman hadits dan cara qiyas, sebagaimana disebutkan Imam Ibnu Rusyd dalam Bidâyatul Mujtahid wa Nihâyatul Muqtashid. Bagi kalangan mazhab Abu Hanifah, qunut hanya dilakukan kala shalat witir.

Baca juga: Ketika Imam Syafii Tidak Qunut
Mazhab Ahmad bin Hanbal menyebutkan kesunnahan qunut Subuh ini hanya pada momen nazilah, yaitu ketika umat muslim dilanda musibah. Sedangkan bagi kalangan bermazhab Syafi’i, seperti kebanyakan diamalkan di Indonesia, membaca doa qunut Subuh termasuk sunnah ab’adl, yang jika ditinggalkan maka dianjurkan melakukan sujud sahwi.

Para ulama kalangan mazhab Syafi’i menyandarkan pendapat perkara qunut ini salah satunya pada hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik sebagai berikut:

مَا زَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا

Artinya: “Rasulullah SAW senantiasa berqunut di shalat fajar (shalat Subuh) sampai beliau meninggal dunia.” (HR. Ahmad)

Selain itu, pengamalan qunut Subuh ini juga dilakukan para sahabat, seperti Umar bin Khattab. Namun bagi sebagian ulama, hadits yang digunakan di atas masih perlu dipahami latar belakangnya serta perlu dibandingkan dengan hadits lain. Sebagaimana dikutip Ibnu Qudamah dalam al-Mughni, berikut hadits perihal qunutnya Nabi di waktu Subuh yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:

إنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - كَانَ لَا يَقْنُتُ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ، إلَّا إذَا دَعَا لِقَوْمٍ، أَوْ دَعَا عَلَى قَوْمٍ

Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah SAW tidak berqunut ketika shalat fajar (shalat Subuh), kecuali ketika mendoakan kebaikan atau keburukan untuk suatu kaum.” (HR. Muslim)

Hadits Anas bin Malik yang menjadi hujjah untuk berqunut Subuh di atas dipahami ulama bukan sebagai doa, melainkan maksud qunut di sana adalah berdiri lebih lama dan membaca doa yang lebih umum. Kemudian terkait Umar bin Khattab yang berqunut saat shalat Subuh, dipahami sebagian ulama bahwa beliau melakukannya pada momen musibah dan perang (nazilah) kala itu. Demikian kurang lebih yang dicatat Ibnu Qudamah.

Baca juga: Panduan Lengkap Qunut Nazilah
Imam Malik bin Anas dalam istilah fiqihnya membedakan perkara yang dianjurkan antara sunnah dan mustahab. Qunut menurut Imam Malik tergolong amalan yang mustahab, yaitu hal yang dianjurkan namun Nabi tidak mengamalkannya secara terus-menerus semasa hidup. Berdasarkan beberapa riwayat hadits, disebutkan bahwa Nabi pernah berqunut selama sekian hari, lantas beliau meninggalkannya.

Menurut Imam Malik pula, doa qunut hendaknya dilakukan sebelum ruku’ secara pelan (sirr), berbeda dengan mazhab Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal yang berpendapat bahwa qunut dibaca setelah ruku’.

‘Ala kulli hal, demikian beberapa hujjah yang menyebabkan beda pengamalan qunut Subuh di masyarakat. Kini perdebatan yang dulu memicu polemik di masyarakat ini tampak kian lunak, utamanya di masyarakat kota. Kalangan Nahdliyin yang biasa berqunut, biasa saja mengikuti jamaah Subuh yang tanpa qunut. Begitu pula kalangan yang tidak biasa berqunut, tidak keberatan membaca qunut dalam shalat mengikuti lumrahnya masyarakat.

Baca juga: Hukum Bermakmum kepada Imam yang Beda Mazhab
Mengutip pendapat Imam Sufyan ats Tsauri, sebagaimana dikutip oleh Imam at Tirmidzi dalam Sunan at Tirmidzi terkait qunut:

إِنْ قَنَتَ فِي الفَجْرِ فَحَسَنٌ، وَإِنْ لَمْ يَقْنُتْ فَحَسَنٌ

“Jika seseorang ingin melakukan qunut di waktu Subuh, maka itu ‘hasan’ (baik, dan termasuk sunnah). Dan jika tidak berqunut, itu juga ‘hasan’.”

Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)

Tags:
Share:
Rabu 14 Maret 2018 10:30 WIB
Memahami Beda Pendapat Bacaan Basmalah Surat al-Fatihah dalam Shalat
Memahami Beda Pendapat Bacaan Basmalah Surat al-Fatihah dalam Shalat
Ilustrasi (prayerinislam.com)
Suatu ketika penulis mengikuti jamaah shalat Maghrib di sebuah masjid di daerah pinggiran Jakarta. Rupanya, sang imam tidak membaca basmalah dengan jelas (jahr). Padahal, pemahaman yang lumrah di kampung, sebagaimana penulis pahami dalam kitab-kitab fiqih dasar mazhab Syafii di pesantren, membaca basmalah Surat al-Fatihah mesti secara jelas. 

Setelah dicermati di papan pengumuman masjid, rupanya masjid tempat penulis ikut shalat ini didirikan salah satu organisasi Islam selain NU. Tentu tidak bisa digeneralisasi apakah seluruh imam masjid di sini melakukan hal serupa. Melihat beragamnya masyarakat Muslim di sekitar kita, agaknya ragam pemahaman, lebih-lebih dalam masalah fiqih, menjadi niscaya.

Salah satu hal yang dibicarakan adalah persoalan membaca basmalah Surat al-Fatihah dalam shalat-shalat yang Fatihahnya dibaca keras, sebagaimana disebutkan di atas. Tulisan ini bermaksud memberi sedikit ulasan tentang perbedaan ulama terkait basmalah Surat al-Fatihah.

Baca juga: Sebab-sebab Perbedaan Pendapat Ulama
Perbedaan pendapat ini disebutkan dalam kitab Bidâyatul Mujtahid karya Muhammad Ibnu Rusyd, seorang ulama dari mazhab Maliki. Sebagai informasi, Ibnu Rusyd pengarang kitab Bidâyatul Mujtahid ini juga ahli filsafat yang menulis kitab Tahâfut at-Tahafut (bantahan atas kitab karya Imam al-Ghazali yang berjudul Tahâfutul Falâsifah [Kerancuan para Filsuf], red). Di Eropa Ibnu Rusyd dikenal sebagai ‘Averroes’.

Kembali ke diskusi terkait bacaan basmalah Surat al-Fatihah tadi. Selain dalam Bidâyatul Mujtahid, syarahnya yang berjudul Subulus Salâm karya Imam ash-Shan’ani, atau kitab al-Mughni karya Ibnu Qudamah, salah satu ulama mazhab Ahmad bin Hanbal, bisa dirujuk. 

Baca juga: Mengenal Kitab-kitab Fiqih Perbandingan Mazhab
Perbedaan ini dikategorikan Ibnu Rusyd dalam dua sebab: apakah basmalah harus dibaca secara keras (jahr) dalam shalat, dan apakah basmalah merupakan bagian dari Surat al-Fatihah?

Kalangan ulama mazhab ada yang menyebutkan bahwa basmalah tak perlu dibaca dalam al-Fatihah seperti kalangan mazhab Maliki, kemudian ada yang menyebutkan bahwa basmalah tetap dibaca namun secara pelan (sirr) seperti mazhab Ahmad bin Hanbal, dan sebagaimana banyak diamalkan di Indonesia dalam mazhab Syafii, basmalah dibaca dalam Surat al-Fatihah sesuai shalat yang dilakukan: pelan untuk shalat yang bacaannya pelan (sirr), dan mengeraskannya di shalat yang jahr.

Menurut Ibnu Rusyd, perbedaan yang paling menonjol adalah dalam penilaian dan pemahaman hadits. Hadits tentang bacaan basmalah Rasulullah secara jahr beberapa di antaranya diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, bahwasanya beliau menyebutkan Nabi membaca basmalah dalam shalat secara jahr. Hadits dengan maksud serupa juga diriwayatkan oleh Ummu Salamah sebagai berikut:

أَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَرَأَ فِي الصَّلَاةِ: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، وَعَدَّهَا آيَةً، وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ اثْنَيْنِ 

Artinya: “Sesungguhnya Nabi membaca ‘bismillahirrahmanirrahim’, dan menganggapnya sebagai satu ayat, dan ‘alhamdu lillahi rabbil ‘alamin’ sebagai yang kedua.” (HR. Abu Dawud)

Kalangan mazhab Maliki, sebagaimana disebutkan Ibnu Rusyd, salah satunya merujuk hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik dan Ibnu Abdullah bin Mughaffal, bahwa Nabi dan beberapa sahabat tidak membaca basmalah Surat al-Fatihah saat shalat.

…وَقَدْ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَعَ أَبِي بَكْرٍ، وَمَعَ عُمَرَ، وَمَعَ عُثْمَانَ، فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقُولُهَا، فَلاَ تَقُلْهَا، إِذَا أَنْتَ صَلَّيْتَ فَقُلْ: "الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ".

Artinya: "… Aku pernah shalat bersama Nabi, Abu Bakar, Umar dan Utsman, namun aku belum pernah mendengar mereka membacanya (basmalah). Maka jangan ucapkan itu, dan jika melaksanakan shalat maka baca, ‘alhamdulillahirabbil ‘alamin’ (maksudnya Surat al-Fatihah, tanpa basmalah).” (HR. Tirmidzi)

Beberapa kalangan yang menganggap wajib membaca basmalah menilai hadits tersebut kurang kuat sebagai hujjah karena melihat adanya ragam variasi riwayat yang tampak bertentangan dalam sanad yang sama.

Selanjutnya yang kedua adalah perbedaan hujjah terkait kedudukan basmalah dalam Surat al-Fatihah. Ulama yang menyebutkan bahwa basmalah merupakan bagian dari Surat al-Fatihah, maka menjadikan membaca basmalah dalam shalat menjadi wajib, seperti Imam asy-Syafi’i. Ulama mazhab lain yang menilai bahwa basmalah bukan bagian dari Surat al-Fatihah, menilai bahwa membacanya tidak wajib dalam shalat.

Diskusi ini menunjukkan bahwa penetapan hukum basmalah dalam Surat al-Fatihah ini terletak pada pemahaman dan penilaian atas hadits. Masing-masing mujtahid dan ulama memiliki metodenya masing-masing, yang kesemuanya bersandar pada hadits-hadits yang dinilai shahih.

Tentu diskusi basmalah ini cukup rumit untuk kalangan yang tidak banyak mengkaji hal tersebut. Kiranya menyesuaikan diri dengan ajaran yang diamalkan sehari-hari di tiap masyarakat adalah pilihan yang lebih bijak. Wallahu a’lam(Muhammad Iqbal Syauqi)

Selasa 13 Maret 2018 15:30 WIB
Diskusi Imam Syafi’i dan Sufyan ats-Tsauri soal Kulit Binatang
Diskusi Imam Syafi’i dan Sufyan ats-Tsauri soal Kulit Binatang
Jika belajar kitab-kitab fiqih mazhab Imam Syafi’i, kita akan mendapatkan pembahasan yang berkaitan tentang kebolehan menyamak kulit hewan kecuali anjing dan babi atau yang lahir dari salah satu dari keduanya, sebagaimana yang tercantum dalam kitab Fathul Qarîb al-Mujîb fî Syarh Alfâdhit Taqrîb:

(وجلود الميتة) كلها (تطهُر بالدباغ) سواء في ذلك ميتة مأكول اللحم وغيره


Artinya: “Semua kulit bangkai dapat suci dengan proses penyamakan, entah dari hewan yang boleh dimakan dagingnya maupun yang tidak. (Syekh Muhammad bin Qasim, Fathul Qarîb al-Mujîb fî Syarh Alfâdhit Taqrîb, Beirut, Daar Ibn Hazm, 2005, halaman 28)

Pembahasan ini cukup masyhur dalam mazhab Imam Syafi’i karena letak pembahasannya pun di awal, yaitu dalam bab bersuci (thaharah). Namun, meski demikian, ternyata pada awalnya Imam Syafi’i adalah salah satu ulama yang berpendapat tidak dibolehkannya menyamak kulit hewan. Konon beliau pernah berdiskusi dengan imam Sufyan ats-Tsauri tentang masalah ini.

Kitab Syarh al-Yâqût an-Nafîs karya Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiri , Jedah, Darul Minhaj, 2007, halaman 63) pernah memaparkan kisah tentang perbedaan argumentasi yang terjadi di antara dua ulama besar tersebut.

Semula Imam Syafi’i berpendapat bahwa kulit hewan tidak bisa disucikan meskipun disamak. Beliau menggunakan dalil pada surat yang dikirimkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Juhaimah:

إنِّي كُنْتُ رَخَّصْتُ لَكُمْ فِي جُلُودِ الْمَيْتَةِ فَإِذَا جَاءَكُمْ كِتَابِي هَذَا فَلَا تَنْتَفِعُوا مِنَ الْمَيْتَةِ بِإِهَابٍ وَلَاعَصَبٍ

Artinya: “Sesunguhnya aku telah memberi kemudahan kepada kamu dalam hal kulit bangkai, maka apabila surat ini sampai kepadamu maka jangan kamu ambil manfaat dari kulit bangkai, baik dengan disamak atau dengan membalut .” (Mu'jam al-Ausath)

Sedangkan Imam Sufyan ats-Tsauri berpendapat bahwa kulit bangkai bisa disucikan dengan cara disamak. Dalil yang beliau gunakan sebagai dasar pendapat tersebut adalah hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ وَجَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَاةً مَيِّتَةً أُعْطِيَتْهَا مَوْلَاةٌ لِمَيْمُونَةَ مِنْ الصَّدَقَةِ فَقَالَ النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلَّا انْتَفَعْتُمْ بِجِلْدِهَا قَالُوا إِنَّهَا مَيْتَةٌ قَالَ إِنَّمَا حَرُمَ أَكْلُهَا

Artinya: “Dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anh ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemukan bangkai domba yang diberikan kepada bekas budaknya Maimunah sebagai sedekah. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Kenapa kulitnya tidak engkau manfaatkan?’ Mereka berkata: Itu bangkai, wahai Rasulullah. Beliau menjawab: “Sesungguhnya yang haram itu hanya memakannya.” (Shahihul Bukhari)

Adapun kesimpulan dari diskusi kedua imam fiqih itu adalah masing-masing dari mereka mencabut statemennya. Kemudian Imam Sufyan ats-Tsauri mengikuti pendapat Imam Syafi’i, yaitu tidak ada bagian yang suci sama sekali dari bangkai hewan, sementara Imam Syafi’i mengikuti pendapat Imam Sufyan ats-Tsauri yang berpendapat bahwa kulit dapat disucikan dengan cara disamak.

Baca: Sebab-sebab Perbedaan Pendapat Ulama (1)
Baca: Sebab-sebab Perbedaan Pendapat Ulama (2)
Dengan demikian, kita dapat melihat kedua ulama besar ini tidak fanatik terhadap pendapatnya masing-masing. Mereka menggunakan pendapat teman diskusi untuk menyempurnakan kekurangan pendapat sendiri. Demikianlah seharusnya orang berdebat: masing-masing berangkat dari motivasi ingin mencari kebenaran, bukan sekadar pembenaran.
 
Begitupun pada masa ini, mencari pembenaran bukanlah suatu hal yang terpuji dalam memegang suatu pendapat, apalagi sampai memaksakan pendapatnya agar diikuti orang lain, cukup kita tengok tradisi ulama kita sejak dahulu kala, betapa mereka toleransinya terhadap perbedaan pendapat dan tidak memonopoli kebenaran secara sepihak saja.Wallahu a’lam. (Amien Nurhakim)

Selasa 13 Maret 2018 10:45 WIB
Sebab-sebab Perbedaan Pendapat Ulama (2-Habis)
Sebab-sebab Perbedaan Pendapat Ulama (2-Habis)
Sebelumnya telah dibahas tentang tiga sebab yang membuat para ulama berbeda pendapat, yakni perbedaan qira’at (bacaan Al-Qur’an), kuantitas hadits yang diketahui, dan keraguan atas kesahihan hadits. Berikut ini adalah tiga sebab berikutnya yang—sebagaimana penjelasan terdahulu—juga kian menunjukkan kedalaman wawasan mereka, kuatnya argumentasi yang mereka bangun, dan karenanya perbedaan di antara mereka adalah hal yang sangat bisa dimaklumi.

Baca juga: Sebab-sebab Perbedaan Pendapat Ulama (1)
Sebab keempat adalah, perbedaan dalam memahami dan menafsiri teks. Sebagaimana diketahui, teks Al-Qur’an dan Hadits tidak disajikan dalam bentuk satu tipe saja, melainkan dalam banyak tipe. Ada teks yang qat’iyyud dalâlah, dan ada teks yang dzanniyyud dalâlah.  

Teks qat’iyyud dalâlah yaitu teks yang ungkapan kata-katanya menunjukkan makna dan maksud tertentu dengan tegas dan jelas sehingga tidak mungkin difahami makna lain, seperti macam-macam ukuran dan takaran. Sedangkan teks dzanniyyud dalâlah adalah teks yang ungkapan kata-katanya memiliki banyak makna dan mengandung multi penafsiran. Akibatnya, ulama berbeda dalam menentukan makna yang paling tepat menurut keyakinan masing-masing. Perbedaan dalam menentukan makna yang tepat mengakibatkan perbedaan dalam hukum fiqih. (Hamad bin Hamdi Al-Sha’idi, Asbâbu Ikhtilafil Fuqahâ fil Furu’il Fiqhiyyah, Madinah: Universitas Islam Madinah Press, 2011, hal 82-83).

Dalam surat Al-Baqarah ayat 228, Allah subhanahu wata‘ala berfirman:

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ

“Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'

Ayat tersebut menjelaskan bahwa iddah perempuan yang dicerai suaminya, dan masih dalam usia menstruasi adalah tiga quru’. Para ulama berbeda pendapat dalam memahami makna quru’. Aisyah, Ibnu Umar, dan Zaid bin Tsabit mengartikannya suci, sedangkan Abu Bakar, Umar, Ali, Usman, dan mayoritas sahabat mengartikannya haid.

Imam Syafi’i, Malik, dan Ahmad – dalam satu riwayat – memilih pendapat pertama, yaitu quru’ berarti suci. Sedangkan Abu Hanifah memilih pendapat kedua, yaitu quru’ bermakna haid. 

Perbedaan ini memiliki dampak yang cukup signifikan dalam hukum Islam, terutama dalam dua masalah, yaitu: pertama, waktu selesainya iddah. Berdasarkan pendapat pertama, perempuan yang dicerai akan habis masa iddahnya ketika ia memasuki masa haid ketiga. Sebab, ia telah melewati tiga kali masa suci, yaitu: masa suci di mana ia dicerai, masa suci antara haid pertama dan kedua, serta masa suci antara haid kedua dan ketiga. Sedangkan, berdasarkan pendapat kedua, masa iddahnya akan selesai ketika ia memasuki masa suci keempat. Kedua, kebolehan menikah. Berdasarkan pendapat pertama, perempuan yang dicerai boleh menikah dengan laki-laki lain saat ia memasuki masa haid ketiga. Sedangkan, berdasarkan pendapat kedua, ia baru boleh menikah setelah memasuki masa suci keempat. 

Kelima, pertentangan antardalil. Dalam sebuah permasalahan, tidak jarang terdapat banyak dalil yang kadang terlihat saling bertentangan, seperti dalam masalah batalnya wudhu sebab menyentuh kemaluan (dzakar), di mana ada dua hadits yang saling bertentangan. Hadits pertama adalah hadits riwayat Basrah binti Shafwan bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلَا يُصَلِّي حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Barangsiapa menyentuh kemaluannya maka dia tidak boleh melakukan shalat sampai dia berwudhu.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Sedangkan hadits kedua adalah hadits riwayat Thalq bin Ali:
 
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنِ الرَّجُلِ يَمَسُّ ذَكَرَهُ فِي الصَّلَاةِ فَقَالَ: هَلْ هُوَ إِلَّا بِضْعَةٌ مِنْكَ

“Bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang hukum laki-laki yang menyentuh kemaluannya saat sedang shalat, lalu beliau menjawab: Bukankah ia hanya bagian dari tubuhmu.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud, dan Nasa’i).

Ulama mazhab Syafi’i, Hambali, dan Maliki memilih hadits pertama, sehingga mereka menyatakan bahwa menyentuh kemaluan dapat membatalkan wudhu. Sedangkan Abu Hanifah dan murid-muridnya berpegangan pada hadits kedua dan menegaskan ketidakbatalan wudhu karena menyentuh kemaluan.   

Begitu pulaterkait hukum sperma; suci atau najis? Ulama mazhab Syafi’i, Hambali, dan para ulama hadits mengatakan bahwa sperma hukumnya suci. Jika ia terkena pakaian maka shalat seseorang tetap dihukumi sah sekalipun pakaian tersebut belum dicuci atau sperma tersebut belum digosok. Mereka berpedoman pada hadits riwayat Aisyah:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كُنْتُ أَفْرُكُ الْمَنِيَّ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَذْهَبُ فَيُصَلِّي فِيهِ

“Dari ‘Aisyah, ia berkata: Aku pernah menggosok mani dari pakaian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, lalu ia pergi, kemudian ia shalat dengan pakaian itu. (HR Jama’ah, kecuali Bukhari).”

Sementara ulama mazhab Hanafi dan Maliki menegaskan bahwa sperma hukumnya najis. Mereka berpedoman pada hadits riwayat Aisyah:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: كُنْتُ أَغْسِلُ الجَنَابَةَ مِنْ ثَوْبِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَخْرُجُ إِلَى الصَّلَاةِ، وَإِنْ بَقَعَ الْمَاءُ فِي ثَوْبِهِ

“Dari Aisyah radiyallahu anha: Aku pernah mencuci mani yang terdapat di baju Rasulullah shalallahu’alaihi wasalam, beliau keluar untuk melaksanakan shalat dalam keadaan bekas cucian masih tampak dipakaian.” (HR. Bukhari). (Musthafa Said al-Khin, Atsarul Ikhtilaf fil Qawaid al-Ushuliyyah fi Ikhtilafil Fuqaha, Beirut: Al-Resalah, cet. 7, 1998, hal 70-109).

Keenam, perbedaan kaidah istinbat hukum. Para ulama mazhab memiliki kaidah istinbat hukum masing-masing. Misalnya, mazhab Hanafi menggunakan metode Istihsan, sedangkan mazhab syafi’i tidak menggunakannya. Mazhab Maliki mengadopsi tradisi penduduk Madinah (amalu ahlil Madinah), sementara mazhab lain tidak memakainya.  Perbedaan kaidah ini menyebabkan perbedaan pendapat mereka dalam hukum Islam.  

Contohnya, hukum jual beli mu’athah. Jual beli Mua’thahdilaksanakan dengan cara barteran antara penjual dan pembeli, di mana penjual memberikan barang kepada pembeli, dan pembeli memberikan uang kepada penjual, tanpa menyebutkan kata ijab dan qabul.

Menurut imam Ahmad bin Hambal, ulama mazhab Maliki, ulama mazhab Hanafi, dan sebagian ulama mazhab Syafi’i, jual beli mu’athah hukumnya sah. Mereka beralasan bahwa Allah SWT menghalalkan jual beli secara mutlak tanpa menjelaskankan tata caranya. Oleh sebab itu, tata cara jual beli tersebut dikembalikan kepada tradisi (urf) masing-masing masyarakat.

Sedangkan menurut sebagian ulama mazhab Syafi’i, jual beli mu’athah tidak sah karena syarat sah jual beli adalah keridhaan kedua belah pihak, sementara rasa ridha tidak bisa diketahui kecuali dengan adanya ijab dan qabul. 

Imam al-Kurkhi dari mazhab Hanafi mensyahkan mu’athah dengan syarat objek jual-beli merupakan sesuatu yang tidak besar dan dianggap remeh. (Musthafa Dibul Bugha, Atsarul Adillah al-Mukhtalafu fiha fil Fiqhil Islami, Damaskus, Darul Imam al-Bukhari, t.t, hal 284-287).

Menurut penulis, pendapat pertama merupakan pendapat yang kuat dan sesuai dengan realitas tradisi masyarakat sekarang, di mana seorang pembeli tidak harus bertransaksi langsung dengan penjual, melainkan pembeli cukup membayar sejumlah nominal uang yang biasanya tertera di barang kepada kasir. Begitu pula dengan kelaziman yang terjadi dalam jual-beli di warung makan; pembeli biasa memesan makanan terlebih dahulu, lalu memakannya tanpa bertanya harga barang pesanan itu, baru kemudian membayarnya. Bahkan lebih canggih dari itu, di beberapa tempat telah berlaku penjualan minuman mekanik. Hanya dengan memasukkan koin atau uang dengan besaran tertentu ke dalam kotak, muncullah minuman yang diinginkan. Karenanya, tradisi-tradisidalam transaksi modern seperti ini layak untuk dijadikan pertimbangan dalam menentukan sebuah hukum, sebagaimana kaidah fikih berbunyi:

اَلْعَادَةُ مُحَكَّمَةٌ

“Adat kebiasaan dapat dijadikan hukum.”

اَWallahu A’lam.


Husnul Haq, Dosen IAIN Tulungagung dan Pengurus LDNU Jombang.