IMG-LOGO
Trending Now:
Ekonomi Syariah

Mata Uang Fiat dan Unsur Penyusunnya

Ahad 8 April 2018 21:10 WIB
Share:
Mata Uang Fiat dan Unsur Penyusunnya
Ilustrasi (transferwise.com)
Pada pembahasan yang telah lalu kita sudah membahas tentang mata uang logam, dan mata uang kertas klasik yang mana ia berperan layaknya surat jaminan atas kepemilikan suatu aset berupa logam mulia, yaitu emas dan perak. Karena adanya jaminan ini, maka mata uang logam dan mata uang klasik disebut juga sebagai mata uang komoditas. Maksudnya adalah bahwa ia merupakan bentuk surat jaminan atas suatu aset. 
Dalam perkembangannya, mata uang ini dalam dunia perbankan melahirkan angka inflasi yang tinggi dalam dunia perbankan. Ia dapat menjelma menjadi sebuah mata uang yang tanpa jaminan aset berupa logam mulia. Uang jelmaan ini selanjutnya disebut dengan “fiat”. Lebih jelasnya, bisa anda lihat pada tabel yang digambarkan sebelum unggahan di kanal ini! 
Sebagai resiko usaha, uang fiat ini tidak bisa didiamkan begitu saja. Yang menjadi persoalan bagaimana selanjutnya uang ini dapat berperan sebagai alat tukar atas suatu barang, padahal ia tidak memiliki jaminan berupa aset? Persoalan ini kemudian mengundang pemikiran dari para pialang pasar di seluruh dunia. 

Perlu diketahui bahwa uang bisanya dijadikan sebagai alat tukar manakala ia memiliki “Standar Nilai Tukar” (qîmatul mitslî) yang diakui oleh pasar. Sebagaimana sejarah uang sebelumnya yang menjadikan garam sebagai alat tukar, ia wajib memiliki standar nilai tukar. Selain itu, uang juga harus memiliki nilai nominal (mutaqawwam) yang bisa dijamin keberadaannya. Bila dalam sejarah uang klasik, nilai mutaqawwam ditentukan berdasarkan wujud (ainul mitslî), maka pada uang fiat, keberadaan mutaqawwam ini ditentukan berdasarkan apa? Padahal sebagai mutaqawwam, ia harus memiliki nilai manfaat. Jika garam seberat 1 kg memiliki nilai manfaat yang bisa digunakan untuk bumbu masak, emas bisa digunakan sebagai perhiasan, nilai manfaat uang fiat ini terletak di mana?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita perlu mengetahui bagaimana uang fiat ini dibuat. Ada beberapa prosedur bagaimana uang fiat ini dibuat dan diproses, antara lain: (1) uang fiat dibuat oleh pemerintah, (2) uang ini dibikin berdasarkan regulasi global sistem perbankan, dan (3) uang fiat bisa dipergunakan sebagai alat tukar karena faktor nilai kepercayaan yang terdapat didalamnya disebabkan legal/sahnya uang tersebut sebagai alat tukar. 

Berdasarkan prosedur penerbitan tersebut, maka nilai mutaqawwam uang fiat ini terletak pada “nilai kepercayaan” (amânah) uang tersebut sebagai alat tukar karena dilegalkan oleh pemerintah. Nilai kepercayaan ini terbentuk selain karena faktor dilegalkan, ia juga ditentukan berdasarkan hasil kurs perdagangan antar negara. Dengan demikian, secara tidak langsung, sisi mutaqawwam uang sudah jauh berbeda dengan mata uang klasik. Bila mata uang klasik ditentukan berdasarkan “aset terjamin”, maka mata uang fiat ditentukan berdasar kurs (sharf) di pasar internasional (masharif tijâry). 

Dengan memahami hal ini, maka sebenarnya dalam uang fiat ini menyimpan “unsur tijariyah” yang bergantung pada “nilai kepercayaan” uang tersebut sebagai “alat tukar” di pasaran. Singkatnya, uang fiat bergantung pada pasar. Dengan demikian, nilai nominal (mutaqawwam) uang juga bergantunng pada pasar. Inilah yang membedakan uang fiat dengan uang kertas klasik berjamin aset. Oleh karena itu, para sarjana ekonomi selalu menyebut bahwa uang fiat adalah uang yang tidak memiliki nilai intrinsik (nilai bahan). Ia hanya menyimpan nilai ekstrinsik, yaitu nilai tukar yang diakui dan mendapatkan legalitas dari negara.

Perpindahan unsur penyusun ini secara tidak langsung membawa imbas dan pengaruh yang besar di masyarakat. Salah satu contohnya adalah apabila seseorang meminjam uang 100 ribu rupiah, pada dasarnya ia tidak meminjam wujud uang, melainkan meminjam nilai tukar. Pernahkah saudara pembaca mencermati bahwa bila harga BBM (Bahan Bakar Minyak) naik, maka harga kebutuhan bahan pokok rumah tangga menjadi naik pula? Mengapa? Jangan lupa bahwa kajian kita adalah fokus pada unsur pembentuk Uang Fiat!

Jika kita teliti lebih lanjut, maka inflasi yang terjadi pada harga bahan pokok adalah sebuah resiko dari kenaikan BBM. Artinya, bahwa harga dan manfaat BBM merupakan standar (mitsil) harga. Kenaikannya menyebabkan kenaikan bahan pokok. Turunnya, juga membawa imbas turunnya harga bahan pokok. Jika harga ditentukan oleh “bahan uang” (mutaqawwam), maka semestinya kenaikan harga BBM tidak membawa pengaruh pada harga bahan pokok. Demikian pula, seharusnya tidak perlu ada kenaikan harga BBM, karena “bahan uang” tertentu pada dasarnya adalah sama harganya dengan harga BBM per liternya. Namun, mengapa harus naik? Tidak lain jawabnya adalah sedang ada penurunan “nilai kepercayaan uang” terhadap BBM. Dengan demikian, “nilai kepercayaan” uang tersebut yang diambil, dan bukan “nilai bahan”. 

Hal yang berbeda akan terjadi apabila pertukaran terjadi antar bahan. Misal, 1 gram emas dapat ditukar dengan 30 kg beras. Ketika emas yang diserahkan adalah seberat 2 gram, maka imbal baliknya adalah pihak lawan harus menyerahkan 60 kg beras. Atau sebaliknya, pihak penjual harus mengembalikan 1 gram emas sebagai bentuk selisih. Kejadian seperti ini bisa berlangsung manakala ia terjadi pada pasar yang masih steril. Dan yang perlu menjadi catatan adalah emas dan beras di sini keduanya adalah sama-sama merupakan barang komoditas. Berbeda apabila emas tersebut adalah uang. Maka ia memiliki nilai tukar sekaligus nilai bahan. Andai nilai tukar hilang, maka ia masih berwujud nilai bahan. Nilai bahan ini masih bisa dipertukarkan disebabkan bisa dipergunakan untuk kebutuhan lain, seperti diubah menjadi perhiasan, dan lain sebagainya. Namun keberadaan nilai bahan ini hilang, pada uang fiat. Yang tersisa adalah nilai tukar. 

Sekarang, bayangkan bahwa anda memegang sebuah uang senilai 50 ribu rupiah. Anda bisa menggunakannya untuk membeli kebutuhan-kebutuhan yang senilai dengan itu. Dan sekarang bayangkan kembali, bahwa gambar yang terdapat uang anda hilang sehingga yang tersisa tinggal lembar kertas kosong. Apakah anda masih bisa menggunakannya kembali? Tentu tidak bukan? Semoga bermanfaat!

Wallahu a’lam bish shawab

Muhammad Syamsudin, Pegiat Kajian Fiqih Terapan dan Pengasuh Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri, P. Bawean, Jatim

Share:
Senin 2 April 2018 15:30 WIB
Uang Kertas Klasik dan Pengaruhnya terhadap Inflasi
Uang Kertas Klasik dan Pengaruhnya terhadap Inflasi
Ilustrasi (© Reuters)
Tulisan terdahulu menyebutkan bahwa, uang kertas dulunya merupakan pengganti dari uang logam dengan peran fungsi tambahan uang, yakni sebagai tanda bukti kepemilikan atas suatu logam mulia (emas dan perak) yang disimpan di pandai besi. Dengan demikian, jika disamakan dengan macam-macam surat berharga dewasa ini, maka ia menyerupai sebuah sertifikat hak kepemilikan. Bedanya, hak milik itu tidak bisa diambil dan dimanfaatkan oleh pemegang surat bukti tersebut (bretton wood system). Barang yang menjadi jaminan selalu ada pada tempat penyimpanan harta, yakni para pencetak logam mulia yang terdiri dari tukang pandai besi.

Penggunaan uang kertas dengan peran dan fungsi sebagaimana di atas berlangsung lama, sampai terbentuknya negara modern. Dan mata uang kertas pertama yang dikenal oleh kalayak modern adalah mata uang dolar dengan gambar Benjamin Franklin yang diabadikan sebagai simbol gambar, dan dianggap sebagai Bapak Penemu Uang Kertas. Apakah ini benar? 

Catatan sejarah, sebenarnya membuktikan bahwa hal itu ada benarnya dan ada juga salahnya. Sisi kebenarannya adalah memang ia merupakan Bapak Uang Kertas modern yang saat ini dipergunakan oleh Amerika. Tidak benarnya, karena catatan sejarah membuktikan bahwa Cina adalah bangsa yang pertama kali menggunakan uang kertas yang saat itu berbahan dasar kulit kayu. Bahkan Cina sudah menggunakan uang kertas ini sejak abad ke-2 Masehi. Uang kertas modern, baru diadopsi oleh Amerika pasca ekspedisi Marcopolo, yakni sekitar abad ke-13 Masehi. Jadi, 11 tahun sudah Cina menggunakan mata uang kertas itu, baru kemudian Amerika mengadopsinya. Uang kertas sendiri masuk ke tanah air yaitu kurang lebih awal abad ke-16 Masehi, yaitu era sebelum kemerdekaan. Namun, dalam kesempatan ini kita tidak akan banyak bercerita soal sejarah bagaimana introduksinya uang kertas tersebut, dan siapa tokoh-tokohnya. Kita hanya akan fokus pada aspek kajian perkembangan fungsi mata uang sehingga ia berperan sebagai alat tukar yang mengandung nilai tukar barang. 

Kembali kita garis bawahi bahwa awal mula uang kertas adalah sebagai surat tanda bukti atas kepemilikan suatu aset logam mulia. Aset cadangan ini, di era negara modern tidak lagi dipegang oleh para tukang pandai besi. Akan tetapi, ia dikelola oleh negara. Dan sebagai bukti penjagaan atas aset, seluruh cadangan emas yang dijadikan jaminan resmi uang kertas mulai dihandel oleh negara. Oleh karena itu pula, agar semua orang tidak merasa berhak menerbitkan sebuah keping mata uang – baik logam maupun kertas - maka pencetakan uang menjadi diambil oleh negara. Sampai di sini, maka uang kertas menjadi memiliki fungsi tambahan lain, yaitu sebagai “representasi” atas suatu aset emas dan perak yang disimpan dalam brankas negara. Perubahan terjadi pada tempat penyimpanan representasi emasnya. Jika, uang kertas klasik merupakan representasi atas suatu aset logam mulia yang terdapat pada tukang pandai besi, maka uang kertas modern merupakan representasi atas suatu aset logam mulia yang disimpan oleh negara dengan alasan keamanan. 

Pernyataan bahwa uang kertas merupakan pernyataan atas kepemilikan suatu aset emas yang disimpan dalam bentuk cadangan negara ini ternyata berujung pada masalah. Semenjak terbentuknya unit perbankan sebagai tempat menyimpan uang, dengan rasio suku bunga yang ditetapkan untuk sejumlah deposit (tabungan), ternyata menyisakan permasalahan yang tidak kecil. Andaikan saat itu, sistem ekonomi syariah, dengan murabahah dan mudharabahnya sudah diterapkan, tetap saja hal itu akan menyisakan masalah baru bila mana kebijakan suku bunga ini diadopsi oleh perbankan. Bagaimana hal itu terjadi? Perhatikan tabel berikut ini!



Bayangkan bahwa Tabel di atas adalah ilustrasi penduduk satu negara yang seluruhnya menabung pada satu Bank X! Dan ingat, bahwa kita masih fokus pada pembahasan uang kertas sebagai representasi dari sebuah aset cadangan emas! Jumlah Total uang simpanan merupakan sebuah angka riil uang yang memiliki jaminan atas aset emas. Kebijakan perbankan yang menetapkan rasio suku bunga simpanan sebesar 2,5% deposit, dapat memunculkan uang baru yang tidak memiliki jaminan atas aset simpanan emas bukan? Dengan demikian, selisih antara “angka fiat” dengan “angka riil” sebesar 1,5 juta rupiah, adalah terdiri atas lembaran kertas uang tanpa cadangan aset. Dan andaikan seluruh nasabah itu meminta aset emas yang dijaminkan, maka ada kurang lebih 1,5 juta rupiah yang hanya berupa lembar uang kertas tidak bernilai, disebabkan tidak memiliki stok jaminan. 

Bca juga: Sejarah Uang sebagai Alat Tukar
Permasalahan di atas adalah awal bagi munculnya teori penciptaan uang fiat, sebagaimana uang yang kita pergunakan saat ini. Dan ilustrasi sebagaimana yang sudah disampaikan di atas, adalah bukan yang tidak pernah terjadi dalam sejarah. Hubungan bilateral antara Perancis dan Amerika pada kisaran 1960-an, pernah tercatat sebagai faktor lahirnya uang fiat dewasa ini. 

Suatu ketika, banyak lembaran mata uang dolar beredar di lingkup masyarakat Perancis. Karena banyaknya peredaran tersebut, yang menyebabkan mata uang Perancis menjadi jatuh, akhirnya Perancis memutuskan untuk mengakuisisi semua dolar tersebut. Setelah terkumpul, Perancis kemudian memanfaatkan jalur resmi praktik perbankan, bahwa setiap lembar mata uang adalah representasi cadangan emas negara.. Perancis memanfaatkan lembaran dolar Amerika tersebut untuk meminta cadangan emas Amerika. Dan karena hal itu adalah legal dalam kancah dunia perbankan, Amerika mahu tidak mahu harus mensetujuinya. Jadilah kemudian, hampir separuh cadangan emas Amerika diangkut ke Perancis. Dengan demikian, yang di Amerika saat itu hanya tersisa lembaran uang tanpa nilai. Inilah yang melatarbelakangi pernah jeblognya ekonomi Amerika pada kisaran awal tahun 1960-an. Ini juga yang selanjutnya menjadi latar belakang terbitnya Fiat Money, atau mata uang fiat, sebagaimana yang kita temui sekarang ini. Insyaallah akan kita kupas pada tulisan berikutnya! Wallahu a’lam.


Muhammad Syamsudin, Pegiat Kajian Fiqih Terapan dan Pengasuh Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri, P. Bawean, Jawa Timur

Ahad 1 April 2018 14:30 WIB
Sejarah Mata Uang Logam dan Uang Kertas
Sejarah Mata Uang Logam dan Uang Kertas
Ilustrasi (shutterstock)
Setelah ditemukannya koin emas dan perak (nuqud) sebagai alat untuk tukar menukar yang mengandung dua unsur fungsi, yakni berfungsi sebagai alat tukar (mutaqawwam) dan nilai tukar (qîmatul mitsli), secara perlahan keberadaan koin ini mengalami perubahan fungsi. Namun, perubahan fungsi ini tidak menghilangkan fungsi utama yaitu sebagai alat tukar dan nilai tukar. 

Baca juga: Sejarah Uang sebagai Alat Tukar
Karena bahan emas di alam jumlahnya terbatas, maka dibuatlah sebuah cara agar koin (nuqud) ini juga berperan sebagai satuan hitung yang kecil. Akhirnya dibuatlah sebuah koin dengan bahan yang berkualitas lebih rendah dari emas, yaitu perak (al-wâriq). Selanjutnya, koin ini diberi nilai satuan hitung diatasnya yang menunjukkan nilai tukar uang itu. Dengan begitu, koin baru ini (al-wâriq) berubah menjadi 3 fungsi, yaitu: (1) sebagai alat tukar, (2) sebagai nilai tukar, dan (3) sebagai satuan hitung.  Berangkat dari sini, satuan-satuan lebih kecil lagi mulai dibuat dengan bahan yang lebih rendah nilainya dibanding perak. Akhirnya ditemukanlah bahan yang terbuat dari tembaga. Uang yang terbuat dari tembaga ini selanjutnya disebut fulus. Orang Barat menyebutnya valas. Dewasa ini marak dilaksanakan perdagangan valas, yang sejatinya adalah memperdagangkan uang tembaga ini untuk dimanfaatkan bagi kebutuhan lain yang lebih bernilai dibanding ia berwujud sebagai uang. Tapi, ini adalah asumsi awal. Bisa jadi, di lapangan tidak demikian adanya. 

Berdasarkan asumsi ini, maka menurut pembaca, jika ada pertanyaan mengapa pemerintah mengeluarkan satuan mata uang logam 100 dan 500 rupiah dengan dua bahan yang berbeda? Sebenarnya, jawabannya adalah erat kaitannya dengan perdagangan valas ini. Hikmah dasar yang bisa kita tarik dari sini adalah kearifan masyarakat mau menggunakan mata uang logam sehingga tetap memiliki nilai, sebenarnya turut membantu tidak jatuhnya nilai tukar rupiah di perdagangan valas. Tentu ini membutuhkan kajian tersendiri. Insyaallah kelak akan disampaikan.

Mari kita kembali kepada sejarah mata uang. Semenjak manusia mulai hidup tersebar ke berbagai pelosok daerah dan negara, manusia menjadi semakin sulit untuk melakukan pertukaran bila harus menggunakan uang logam. Hal ini disebabkan, karena uang logam tidak terbuat dari bahan yang praktis untuk dibawa. Dalam kapasitas perdagangan yang besar, dibutuhkan keping logam yang banyak pula, sehingga menyulitkan bagi pedagang untuk membawanya. Faktor kesulitan ini selanjutnya di atasi dengan membuat sebuah alat tukar yang praktis, ringan di bawa dan mudah disimpan dan harus memiliki nilai manfaat yang menentukan nilai tukar. Pada akhirnya lahirlah uang kertas (al-aurâqul mâliyah).

Baca juga: Bentuk-bentuk Cara Transaksi Jual Beli dalam Perspektif Fiqih
Jika pada uang logam, ada “nilai bahan” yang berperan dalam menjaga “nilai tukar” koin, maka pada uang kertas, nilai apa yang bisa membuat uang kertas ini tetap memiliki jaminan “nilai tukar” barang. Jika sebelumnya, andai mata uang emas tidak digunakan dalam perdagangan, koin emas sendiri bisa dilebur oleh pemiliknya untuk dijadikan perhiasan. Dengan demikian, “nilai bahan” emas tetap memiliki “nilai manfaat”. Namun, pada uang kertas ini, penyandaran kepada “nilai bahan” (‘ain al-mitsli) adalah jelas tidak mungkin, karena pada dasarnya ia hanya berupa kertas yang di atasnya dituliskan satuan nilai, sehingga apabila tulisannya itu hilang, maka “nilai tukar”-nya menjadi hilang juga (bi lâ naf’in). Itulah sebabnya kemudian disusunlah sistem jaminan (dlamman). Tentu barang yang menjadi jaminan adalah berupa barang berharga, yang terdiri atas emas dan perak. Pada akhirnya, setiap orang yang memiliki lembar uang kertas itu, menjadi “bermakna” bahwa ia memiliki sebuah benda yang dijaminkan dengan bukti kepemilikan berupa uang kertas tersebut. Persoalannya kemudian, di mana benda yang dijaminkan itu berada?

Saat awal belum adanya perbankan, benda-benda yang dijaminkan ini berada di tukang pandai besi yang piawai dalam menyetak emas batangan. Orang yang memiliki uang kertas, bisa mengambil logam mulia ini di tukang pandai yang sesuai dengan yang tertera di kertas yang ia bawa. 

Sampai di sini, dapat disimpulkan bahwa peran dan fungsi uang menjadi berubah. Ia tidak lagi hanya memiliki fungsi: 1) alat tukar (mutaqawwam), 2) nilai tukar (‘iwâdl al-mitsli) dan 3) sebagai satuan hitung (qîmah). Uang kertas memiliki fungsi tambahan selain dari ketiga fungsi tersebut. Fungsi tambahan itu adalah 4) ia berperan sebagai “tanda bukti kepemilikan” atas suatu bagian logam mulia (emas) yang terdapat di sebuah tukang pandai besi tertentu. Namun, keberadaan fungsi yang keempat ini tidak dapat dipisahkan dari fungsi utama uang sebagaimana yang sudah disebutkan terdahulu, yaitu sebagai benda yang memiliki “nilai tukar” (qîmatul mitsli). Wallahu a’lam.


Muhammad Syamsudin, Pegiat Kajian Fiqih Terapan dan Pengasuh Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri, P. Bawean, Jatim

Sabtu 31 Maret 2018 20:30 WIB
Sejarah Uang sebagai Alat Tukar
Sejarah Uang sebagai Alat Tukar
Ilustrasi (IndonesiaExpat.biz)
Manusia lahir dengan bekal anugerah Allah SWT berupa pancaindera (al-khawwash). Dengan pancaindera, ia bisa mengenal lingkungan sekelilingnya, dan dapat menyebut nama-nama benda yang ada (QS Al Baqarah: 31). Dengan berbagai sebutan ini, manusia mulai mengenal kebutuhan. Kebutuhan yang pertama adalah kebutuhan pokok yang berhubungan dengan menjaga kehidupannya. Agar tetap lestari, ia membutuhkan makanan dan minuman. Untuk mencukupi kebutuhannya ini, Allah mengilhamkan kepada manusia agar berburu dan bercocok tanam. 

Seiring bertambahnya jumlah manusia dan berkurangnya spesies hewan buruan, maka mulailah lahir kebutuhan yang lain. Kebutuhan itu berupa upaya memenuhi kekurangan suplai makanan. Semula manusia memenuhinya dengan jalan merebut makanan yang sudah dimiliki oleh orang lain. Mulailah terjadi adanya penindasan yang kuat terhadap yang lemah. Di sisi yang lain, manusia dengan bekal anugerah akal dan budi, manusia mulai mencoba mengatasi kebutuhannya ini dengan jalan damai. Mereka kemudian membangun ide tukar menukar barang (barter). Sejak saat itu, mulailah dikenal sistem pertukaran barang yang menjadi cikal bakal dari perdagangan modern dewasa ini. 

Selang beberapa waktu setelah mentradisinya sistem barter, mulailah muncul kesulitan-kesulitan menerapkan sistem pertukaran itu. Manusia mulai kesulitan untuk menemukan orang lain yang memiliki barang yang dibutuhkannya. Kadang ia mendapati barang yang diperlukan, namun ternyata barang itu bernilai tukar tinggi. Konsep orang yang butuh selalu harus membayar dengan harga yang mahal untuk mendapatkan barang yang dibutuhkan ini, akhirnya mendorong orang untuk menciptakan “alat tukar” (mutaqawwam). Dengan demikian, keberadaan alat tukar pertama ini adalah dimaksudkan untuk mengatasi persoalan naik-turunnya harga (inflasi) akibat faktor terdesaknya kebutuhan. Selanjutnya, alat tukar ini dikenal dengan istilah “nilai tukar/nilai takar” (‘iwadl al-mitsli/qîmatu al-mitsli/al-waznu al-mitsli). 

Alat tukar pertama yang diperkenalkan dalam sejarah Romawi, adalah garam (salirium). Begitu lekatnya garam dipergunakan, sampai sekarang dalam kamus bahasa Inggris, penyebutan gaji masih menggunakan istilah salary yang berarti gaji/imbalan. Sejarah kemudian berbicara bahwa penggunaan garam sebagai alat tukar tidak efektif disebabkan ia tidak memiliki pecahan-pecahan kecil. Kendala lain dari penggunaan garam sebagai alat tukar (mutaqawwam) adalah mudahnya garam mengalami penyusutan sehingga tidak bisa disimpan lama. Selain itu, keberadaan garam sebagai alat tukar juga membutuhkan jasa lain yang berupa alat angkutan karena faktor bobot yang ia miliki. Berangkat dari latar belakang ini, dicarilah ide untuk membuat alat tukar lain yang mampu bertahan lama, tidak mudah mengalami kerusakan, dan praktis di bawa ke mana saja serta mudah disimpan/ditabung. 

Setelah ditemukannya logam, pada akhirnya, logam ini kemudian dijadikan sebagai alat tukar pengganti garam. Karena banyak orang yang bisa membuat logam sendiri dengan berbekal kemampuannya, maka ditentukanlah syarat logam yang bisa dijadikan sebagai alat tukar sebagai barang yang harus bernilai tinggi. Logam ini pada akhirnya disepakati berupa emas dan perak. Semenjak itu, mulailah era emas dan perak sebagai alat tukar. Ia diciptakan dalam bentuk koin-koin. Inilah koin pertama atau mata uang pertama kali yang diperkenalkan dalam sejarah manusia. Koin ini, di Al-Qur’an, bisa mudah kita temukan keterangannya pada kisah Ashabul Kahfi. 

Melihat sejarah bagaimana munculnya mata uang ini, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa pada dasarnya di dalam sebuah mata uang, tersimpan dua unsur: fungsi dan nilai. Keduanya secara bersama-sama berdiri sebagai satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Kedua fungsi dan nilai mata uang (koin) tersebut adalah sebagai berikut:

- Sebagai alat tukar (mutaqawwam) yang berguna untuk menukarkan barang. 
- Sebagai nilai tukar (al-‘iwadl al-mitsli, al-qîmatu al-mitsli, atau al-tsamanu al-mitsli). 

Uang sebagai “nilai tukar” memiliki dua unsur penyusun, yaitu:

- Nilai bahan yang terdiri atas logam berharga yakni berupa emas
- Nilai tertera yang terdiri atas angka atau satuan yang tertulis di atasnya. 

Antara kedua nilai bahan dan nilai tertera ini terkadang bisa dipisahkan. Pernahkah saudara pembaca menemukan keping uang 500 rupiah dengan bahan yang berbeda? Karena bahannya berbeda, sejatinya ia memiliki nilai tukar yang berbeda. Namun, perbedaan nilai tukar berdasar bahan ini dijembatani oleh satuan angka yang tertuang di atas koin. Kelak insyaallah akan dijelaskan lebih lanjut, fungsinya. Wallahu a’lam.


Muhammad Syamsudin, Pegiat Kajian Fiqih Terapan dan Pengasuh Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri, P. Bawean, Jatim