IMG-LOGO
Ilmu Tauhid

Saat Kufur dan Syirik Terbersit di Hati Seorang Mukmin

Rabu 11 April 2018 21:15 WIB
Share:
Saat Kufur dan Syirik Terbersit di Hati Seorang Mukmin
(Foto: islamcity.org)
Benih-benih kekufuran dan kemusyrikan sesekali menyembul tiba-tiba di benak orang yang beriman. Bisikan kemusyrikan atau kekufuran yang sekejap melintas dan terbersit begitu saja. Hal ini tentu saja menjadi perhatian para ulama.

Tiba-tiba saja terbayang dalam benak kita sesuatu yang tidak layak atau terlarang dalam akidah keimanan kita. Benih-benih pikiran yang terbersit di dalam hati ini muncul begitu saja di luar kuasa manusia. Hanya saja bibit-bibit kemusyrikan dan kekufuruan yang masih dalam angan-angan ini tidak dihitung oleh Allah SWT.

فأما الخواطر، وحديث النفس، إذا لم يستقر ويستمر عليه صاحبه فمعفو عنه باتفاق العلماء، لانه لا اختيار له في وقوعه، ولا طريق له إلى الانفكاك عنه وهذا هو المراد بما ثبت في الصحيح عن رسول الله (صلى الله عليه وسلم) أنه قال: إن الله تجاوز لامتي ما حدثت به أنفسها ما لم تتكلم به أو تعمل.

Artinya, “Adapun angan-angan yang lewat di benak seseorang dan bisikan di dalam hati bila tidak tetap atau tidak ditetapkan oleh yang bersangkutan maka itu dimaaf berdasarkan kesepakatan ulama. Pasalnya, lalu lalang angan-angan (khawatir) itu bukan pilihan kita. Tiada jalan untuk melepaskan diri. Ini yang dimaksud dalam sabda Rasulullah SAW, ‘Sungguh, Allah memaafkan umatku atas ucapan yang terbersit di dalam dirinya selagi tidak diutarakan atau diamalkan,’” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 296).

Ulama membahas lebih lanjut sabda Rasulullah SAW tersebut. Menurut ulama, kekufuran dan kemusyrikan yang melintas dalam benak seseorang tidak lantas membuatnya keluar dari keimanan sebagai keterangan Imam An-Nawawi berikut ini:

قال العلماء: المراد به الخواطر التي لا تستقر. قالوا: وسواء كان ذلك الخاطر غيبة أو كفرا أو غيره، فمن خطر له الكفر مجرد خطر من غير تعمد لتحصيله، ثم صرفه في الحال، فليس بكافر، ولا شئ عليه.

Artinya, “Ulama mengatakan, maksud dalam hadits itu adalah angan-angan yang tidak langgeng. Mereka mengatakan, semua itu sama saja apakah bisikan yang terbersit baik ghibah, kekufuran, maupun pikiran tak layak lainnya. Seseorang yang terbersit di dalam hatinya bibit kekufuran tanpa sengaja, lalu ia menyingkirkan angan itu seketika, maka tidak kafir. Angan-angan seperti itu tidak bermakna apapun,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 296).

Angan-angan kemusyrikan dan kekufuran bukan sesuatu yang bermakna. Oleh karenanya, Allah memaafkan lintasan pikiran sekeji apapun yang memang di luar kuasa manusia. Tetapi lintasan pikiran semacam ini mesti segera ditepis dengan mengalihkan perhatian batin kita kepada hal lain sebagai keterangan berikut ini:

وسبب العفو ما ذكرناه من تعذر اجتنابه، وإنما الممكن اجتناب الاستمرار عليه فلهذا كان الاستمرار وعقد القلب حراما ومهما عرض لك هذا الخاطر بالغيبة وغيرها من المعاصي، وجب عليك دفعه بالاعراض عنه وذكر التأويلات الصارفة له عن ظاهره

Artinya, “Sebab pemaafan atas apa yang kami uraikan adalah karena tidak mungkin menghindari angan-angan yang terbersit. Yang mungkin dilakukan adalah menghindari kelanggengannya dan menghindari pembenaran oleh hati. Ketika ghibah dan maksiat lain terbersit di benakmu, maka kamu wajib menolaknya dengan cara berpaling atau memaknainya dengan tafsiran yang berseberangan dari harfiyahnya,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 296).

Benih-benih kemusyrikan dan kekufuran ini tumbuh di hati orang beriman. “Pikiran-pikiran” terlarang itu mencoba mengganggu keyakinan orang yang beriman. Pikiran yang terbersit itu memang menggoda anak manusia karena semata keimanan yang tertanam di hati mereka sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut ini:

وحكي أن رجلا شكا إلى النبي صلى الله عليه وسلم وسوسة الشيطان فقال إن الشيطان لا يدخل بيتا ليس فيه شيئ، فذلك من محض الإيمان.

Artinya, “Diceritakan bahwa seorang sahabat mengadu kepada Nabi SAW perihal was-was yang diembuskan setan. Rasulullah SAW mengatakan, ‘Setan tidak masuk rumah di mana tak ada apapun di dalamnya.’ Itu semata-mata karena iman,” (Lihat Syekh Said M Ba’asyin, Busyral Karim, [Beirut: Darul Fikr, 2012 H/1433-1434 M], juz I, halaman 246).

Syekh Ar-Ramli dalam Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj mengajarkan sebuah doa agar Allah SWT menyelamatkan kita dari kemusyrikan dan gangguan pikiran yang dapat membawa kekufuran. Doa ini disarankan dibaca sebagai tambahan doa duduk di antara dua sujud.

رَبِّ هَبْ لِي قَلْبًا تَقِيًّا نَقِيًّا مِنْ الشِّرْكِ بَرِّيًّا لَا كَافِرًا وَلَا شَقِيًّا وَارْفَعْنِي وَارْحَمْنِي

Rabbi hab lî qalban taqiyyâ, naqiyyan minas syirki bariyya, lâ kâfiraw walâ syaqiyyâ, warfa‘nî warhamnî.

Artinya, “Tuhanku, berikan untukku anugerah hati yang takwa, suci-bebas dari syirik, tidak kufur, dan tidak celaka. Tuhanku, angkatlah derajatku dan turunkan rahmat-Mu bagiku.”

Semoga Allah SWT melindungi akidah kita dari dosa kemusyrikan dan kekufuran. Di samping itu, kita juga dianjurkan untuk menguatkan kembali akidah melalui kajian sifat dua puluh atau akidah 50 dalam pengertian Ahlussunah wal Jamaah. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Share:
Rabu 28 Maret 2018 15:45 WIB
Faedah Istiqamah Berdzikir La Ilaha illallah Muhammad Rasulullah
Faedah Istiqamah Berdzikir La Ilaha illallah Muhammad Rasulullah
Dzikir Lâ Ilâha illalLâh Muhammad RasûluLlâh sering kita dengar lantunannya. Dzikir ini terdiri dari 2 pernyataan. Yang pertama adalah mengesakan Allah, yakni tiada yang memiliki sifat ulûhiyah atau ketuhanan kecuali Allah, dan yang kedua adalah penegasan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan-Nya.

Sudah lazim bahwa tiap-tiap dzikir memiliki faedah. Ya, meski itu bukanlah tujuan utama dari dzikir. Tujuan utamanya adalah mendekatkan kita kepada Allah subhanahu wata’ala. Lantas, apakah faedah dari dzikiran ini?
Disebutkan dalam kitab Syarah Ummul Barâhîn karya Imam Abdullah Muhammad bin Yusuf as-Sanusy al-Asy’ary (Jakarta, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 2013, halaman 72), keutamaan-keutamaan mengistiqamahkan dzikiran ini. Faedah tersebut terbagi menjadi dua, pertama kembali kepada budi pekerti yang baik dalam agama, yang kedua kembali kepada karamah.

Keutamaan yang pertama terbagi menjadi delapan keutamaan: 

• Menumbuhkan sifat zuhud. Yang dimaksud zuhud adalah kosongnya hati dari mengandalkan pada sesuatu yang fana (duniawi). 

• Menumbuhkan sifat tawakal. Tawakal yaitu kepercayaan hati terhadap Allah yang Maha Pemelihara dan Maha Haq. Seseorang yang tawakal atau berserah diri kepada Allah SWT, maka jiwanya akan selalu tenang dan tidak bingung jika menemukan berbagai macam sebab dan masalah, karena ia sudah menyerahkan semuanya kepada Allah. Meski begitu, ia pun tidak melupakan usaha yang menolongnya dari suatu permasalahan dalam hidupnya.

• Menumbuhkan sifat malu dalam dirinya yang akan membuatnya selalu mengagungkan Allah dan mengingat-Nya, mematuhi larangan dan perintah-Nya; mencegah diri untuk mengadu kepada makhluk yang sarat kelemahan dan kefakiran dan senantiasa mengadu kepadan-Nya

• Menumbuhkan sifat kaya, maksudnya adalah kaya hati dengan terselamatkannya hati dari fitnah berbagai sebab (mahluk).

• Menumbuhkan sifat fakir. Fakir artinya membiarkan hati terputus dari dunia karena kesenangan memperoleh dan memperbanyak hal duniawi, karena semua keputusannya telah pasti, yaitu ditentukan oleh Allah subhanahu wata’ala.

• Menimbulkan futuwah, yaitu menjauhkan diri dari menuntut mahluk lain untuk berbuat baik kepada dirinya. Jika ia melakukan kebaikan, maka ia yakin bahwa kebaikannya bersumber dari Allah, begitu pun sebaliknya, maka ia merasa tak perlu menuntut manusia untuk berbuat baik kepadanya, toh semua kebaikan bersumber dari pencipta manusia.

• Menimbulkan rasa bersyukur. Rasa bersyukur bermakna mengkhususkan hati dengan memuji Allah Ta’ala dan tetap melihat berbagai nikmat yang diperolehnya bahkan di sela-sela kesengsaraan.

Adapun faedah yang kedua kembali kepada karamah yang masuk kategori amr khâriqul ‘adah (perkara di luar kebiasaan). Di antara karamah atau kejadian istimewa itu adalah:

• Adanya keberkahan dalam makanan dan semisalnya, sehingga makanan sedikit cukup untuk orang banyak, hal ini dapat saja terlihat pada para waliyyullah. 

• Mudahnya memperoleh uang atau barang yang dibutuhkan. Dalam kitab ini disebutkan suatu riwayat dari Syekh Abu Abdillah at-Tawuddy membutuhkan pakaian bagi anak dan istrinya. Jumlah anaknya banyak. Beliau pun membeli secarik kain dan membawanya ke tukang jahit kemudian memberikan ujung kain itu dan memegang ujung kain yang lain. Si penjahit mulai menarik dan menggunting kain itu sedikit demi sedikit sampai menghasilkan banyak baju—padahal biasanya dengan secarik kain itu tak akan bisa mengahsilkan baju kecuali sedikit. Kemudian si penjahit berkata: “Wahai tuanku, secarik kain ini tidak akan selesai selamanya (untuk dibuat baju).” Kemudian Syekh Abu Abdillah berkata sambil melempar sisa kain kepada penjahit tersebut agar tak semakin panjang karena khawatir dapat menimbulkan fitnah: “Itu sudah selesai.”

• Terbukanya hakikat apa yang hendak digunakannya. Contoh dalam makanan, ia dapat mengetahui mana yang halal dari yang haram dan syubhat dengan berbagai tanda yang ditemukannya, adakalanya dari batin atau lahirnya, atau dari selainnya.

Baca juga: Enam Jenis Peristiwa Khariqul Adat
Demikianlah beberapa faedah yang dapat diambil dari mendawamkan dzikir ini, meskipun sebenarnya banyak sekali faedah lainnya, yang tentu tak dapat dituangkan semuanya dalam kitab ini. Waallahu a’lam. (Amien Nurhakim)

Ahad 25 Maret 2018 17:30 WIB
Hubungan 20 Sifat Wajib bagi Allah dengan al-Asma’ al-Husna
Hubungan 20 Sifat Wajib bagi Allah  dengan al-Asma’ al-Husna
Ilustrasi (Youtube)
Bila 20 sifat wajib merupakan sifat-sifat pokok kesempurnaan Allah, bagaimana hubungannya dengan al-Asmâ’ al-Husnâ (secara bahasa: nama-nama Allah yang indah)? Rasionalkah sifat wajib yang hanya 20 mencakup 99 al-Asmâ’ al-Husnâ? Tidakkah 20 sifat wajib justru menafikannya?

Bila mengetahui makna sebenarnya dari masing-masing al-Asmâ’ al-Husnâ, maka orang akan memahami bahwa 99 al-Asmâ’ al-Husnâ itu sudah tercakup dalam sifat wajib yang dirumuskan ulama Ahlussunnah wal Jama’ah. Sebagaimana dalam al-Maqshad al-Asna Imam al-Ghazali (450-505 H/1058-1111 M) menulis pasal khusus tentang rasionalisasi kembalinya al-Asmâ’ al-Husnâ pada Dzat Allah (sifat wujud) dan tujuh sifat ma’ani sesuai akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah. 

Baca: Dalil dan Penjelasan tentang 20 Sifat Wajib bagi Allah
Lebih lanjut Imam al-Ghazali (450-505 H/1058-1111 M) dalam al-Maqshad al-Asnâ fî Syarh Asmâ’ Allah al-Husnâ menjelaskan, meskipun nama al-Asmâ’ al-Husnâ sangat banyak, namun secara substantif kembali pada Dzat dan tujuh sifat ma’ani, yaitu melalui 10 kategori berikut:

a. Al-Asmâ’ al-Husnâ yang kembali pada Dzat, seperti Allah. Begitu pula al-Haq yang diartikan Dzat Allah yang wajib wujudnya.

b. Al-Asmâ’ al-Husnâ yang kembali pada Dzat dan menafikan ketidakpantasan, seperti al-Quddûs, as-Salâm, dan semisalnya. Sebab al-Quddûs menunjukkan Dzat Allah sekaligus menafikan sifat-sifat yang tidak pantas bagi-Nya yang terbersit di hati manusia, sedangkan as-Salâm menunjukan Dzat Allah sekaligus menafikan aib yang tidak pantas bagi-Nya.

c. Al-Asmâ’ al-Husnâ yang kembali pada Dzat disertai penyandaran pada hal lain (idhâfah), seperti al-‘Aliyy , al-‘Adhîm dan semisalnya. Sebab al-‘Aliyy menunjukkan Dzat Allah yang derajatnya di atas seluruh dzat selainnya, sedangkan al-‘Adhîm menunjukkan Dzat dari melampaui seluruh batas pengetahuan (idrâk) manusia.

d. Al-Asmâ’ al-Husnâ yang kembali pada Dzat, disertai menafikan ketidakpantasan dan penyandaran pada hal lain, seperti al-Mulk dan al-‘Azîz. Sebab al-Mulk menunjukkan Dzat Allah yang tidak membutuhkan apa pun dan segala sesuatu selain-Nya pasti membutuhkan-Nya, sedangkan al-‘Aziz menunjukkan makna Dzat Allah yang tidak ada bandingannya. 

e. Al-Asmâ’ al-Husnâ yang kembali pada salah satu sifat ma’ani, seperti al-‘Alîm, al-Qâdir, dan semisalnya. Sebab al-‘Alîm menunjukkan sifat ‘ilm, sedangkan al-Qâdir menunjukkan sifat qudrah.

f. Al-Asmâ’ al-Husnâ yang kembali pada sifat ‘ilm disertai penyandaran pada hal lain, seperti al-Khabîr, al-Hakîm dan semisalnya. Sebab al-Khabîr menunjukkan sifat ‘ilm dengan disandarkan pada hal-hal yang samar, sedangkan al-Hakîm menunjukan sifat ‘ilm dengan disandarkan pada hal-hal yang mulia. 

g. Al-Asmâ’ al-Husnâ yang kembali pada sifat qudrah disertai penyandaran pada hal lain, seperti al-Qahhâr, al-Qawiyy, dan semisalnya. Sebab al-Qahhâr menunjukkan sifat qudrah disertai pengaruh penguasaannya pada hal yang dikuasai, sedangkan al-Qawiyy menunjukkan makna sifat qudrah disertai kesempurnaannya.

h. Al-Asmâ’ al-Husnâ yang kembali pada sifat irâdah disertai penyandaran pada suatu perbuatan, seperti ar-Rahmân, ar-Rahîm, ar-Ra’ûf dan semisalnya. Sebab ar-rahmah sebagai kata dasar ar-Rahmân dan ar-Rahîm kembali pada sifat irâdah dengan disandarkan pada perbuatan memenuhi kebutuhan makhluk yang lemah, sedangkan ar-ra’fah sebagai kata dasar ar-Ra’ûf berarti rahmat yang sangat maksimal. 

i. Al-Asmâ’ al-Husnâ yang kembali pada sifat-sifat al-fi’l (perbuatan Allah), seperti al-Khâliq, al-Wahhâb. Sebab al-Khâliq menunjukkan perbuatan Allah dalam menciptakan makhluk, sedangkan ar-Razzâq yang menunjukkan perbuatan Allah dalam menciptakan rezeki dan orang yang diberi rezeki, menyampaikan rezeki kepadanya, serta menciptakan berbagai sebab sehingga ia mampu menikmatinya. 

j. Al-Asmâ’ al-Husnâ yang kembali pada sifat-sifat al-fi’l (perbuatan Allah) disertai hal lain, seperti al-Majîd, al-Karîm. Sebab al-Majîd menunjukkan perbuatan Allah dalam memuliakan makhluk yang sangat luas disertai kemuliaan Dzat-Nya, sedangkan al-Karîm menunjukkan perbuatan Allah yang bila berjanji pasti memenuhi, bila memberi pasti melebihi harapan, dan tidak memperdulikan seberapa banyak pemberian-Nya dan kepada siapa memberinya, disertai kemuliaan Dzat-Nya.

Di akhir penjelasannya Imam al-Ghazali menegaskan:

فَلَا تَخْرُجُ هٰذِهِ الْأَسَامِي وَغَيْرُهُا عَنْ مَجْمُوعِ هٰذِهِ الْأَقْسَامِ الْعَشْرَةِ. فَقِسْ مَا أَوْرَدْنَاهُ بِمَا لَمْ نُورِدُهُ. فَإِنَّ ذٰلِكَ يَدُلُّ عَلٰى وَجْهِ خُرُوجِ الْأَسَامِي عَنِ التَّرَادُفِ مَعَ رُجُوعِهَا إِلٰى هٰذِهِ الصِّفَاتِ الْمَحْصُرَةِ الْمَشْهُورَةِ.

“Maka al-Asmâ’ al-Husnâ (yang 99) ini dan selainnya tidak keluar dari 10 kategori ini. Qiyaskan al-Asmâ’ al-Husnâ yang telah aku sebutkan dengan yang tidak aku sebutkan. Sebab hal itu akan menunjukkan tidak terjadinya kesamaan (sinonim) pada Asma’ al-Husna sekaligus menunjukkan kembalinya Asma’ al-Husna pada tujuh sifat (ma’ani dan Dzat/sifat wujud) yang masyhur ini.”

Pola pendekatan al-Ghazali ini kemudian diikuti oleh al-Fakhr ar-Razi (544-606 H/1150-1210 M) dalam Syarh al-Asmâ’ al-Husnâ dan Abu al-‘Abbas Ahmad bin Mu’id al-‘Uqlisi (w. 550 H/1155 M) sebagaimana disinggung al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari. Bahkan menurut al-Hafizh Ibn Hajar sendiri, al-Asmâ’ al-Husnâ sebenarnya dari sisi dilâlah dapat diklasifikasikan dalam empat kategori, yaitu (a) yang menunjukkan Dzat Allah saja yaitu Allah, (b) yang menunjukkan sifat yang tetap bagi Allah seperti al-‘Alîm, al-Qâdir, as-Samî’ al-Bashîr, (c) yang menunjukkan penyadaran pada sesuatu, seperi al-Khâliq dan ar-Razzâq, dan (d) yang menafikan ketidakpantasan seperti al-‘Aliyy dan al-Quddûs.

Adapun anggapan bahwa 20 sifat wajib menafikan al-Asmâ’ al-Husnâ adalah anggapan yang tidak tepat, sebab tidak ditemukan sama sekali data valid maupun argumentasi kuat yang menunjukkannya. Bahkan Imam as-Sanusi selaku perumusnya justru menulis kitab khusus untuk menjelaskan makna-makna al-Asmâ’ al-Husnâ yang berjudul Syarhal-Asmâ’ al-Husnâ, seperti cetakan pertama yang diterbitkan Muassasah al-Ma’arif Bairut Lebanon pada 1429 H/2008 M edisi tahqiq Nizar Hamadi. 


Yusuf Suharto, Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur

(Tulisan ini disarikan dan dimodifikasi dari buku Khazanah Aswaja oleh Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur)
Sabtu 24 Maret 2018 19:15 WIB
Dalil dan Penjelasan tentang 20 Sifat Wajib bagi Allah
Dalil dan Penjelasan tentang 20 Sifat Wajib bagi Allah
Ahlussunnah wal Jama’ah meyakini bahwa Allah itu bersifat dengan sifat-sifat yang sempurna, dan mustahil bersifat sebaliknya. Para ulama kemudian menetapkan apa yang disebut (dalam istilah Jawa, red) Aqaid Seket (akidah 50 sebagaimana diterangkan dalam beberapa kitab akidah Ahlusssunnah wal Jama'ah adalah akidah tentang sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah; dan bagi para Nabi).

Konsep sifat wajib, mustahil, dan jaiz berangkat dari kenyataan, bahwa untuk membuktikan eksistensi mayoritas sifat tersebut meskipun terdapat dalil naqli berupa Al-Qur’an dan hadits yang merupakan sumber akidah, tetap membutuhkan penalaran akal sehat, yang dalam konteks ini dikenal hukum 'aqli yang ada tiga, yaitu wajib, mustahil, dan jaiz 'aqli. Terlebih bagi orang yang sama sekali belum percaya terhadap eksistensi Allah sebagai Tuhan maupun eksistensi para Rasul. Bagaimana mungkin orang bisa menyakini kebenaran Al-Qur’an dan hadits sebagai dalil eksistensi Allah, sementara ia bahkan belum meyakini eksistensi Allah sebagai Tuhan dan para Rasul-Nya? Tentu ia tidak menerima Al-Qur’an dan hadits sebagai dalil pembuktiannya. 

Adapun maksud istilah wajib 'aqli adalah segala hal yang menurut akal pasti adanya atau tidak dapat diterima ketiadaannya; maksud mustahil 'aqli adalah segala hal yang menurut akal pasti tidak ada atau tidak diterima adanya; sedangkan jaiz 'aqli adalah segala hal yang menurut akal bisa saja ada maupun tidak, atau diterima ada maupun ketiadaannya. Sifat gerak dan diam bagi makhluk dapat dijadikan permisalan dalam hal ini. Ilustrasi wajib, mustahil, dan jaiz 'aqli secara berurutan adalah: (1) akal pasti mengharuskan salah satu dari diam dan bergerak terjadi pada makhluk, (2) akal tidak akan membenarkan keduanya secara bersamaan tidak terjadi padanya; dan (3) akal menerima ada dan ketiadaaan salah satunya dari makhluk. Demikian antara lain dijelaskan Syekh Muhammad as-Sanusi, dalam Syarh Umm al-Barahain.

Klasifikasi Sifat Wajib 20

Sifat-sifat wajib bagi Allah yang terdiri atas 20 sifat itu dikelompokkan menjadi 4 sebagai berikut:

1.Sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan Dzat Allah. Sifat nafsiyah ini ada satu, yaitu wujûd.

2.Sifat Salbiyah, yaitu sifat yang meniadakan adanya sifat sebaliknya, yakni sifat-sifat yang tidak sesuai, atau sifat yang tidak layak dengan kesempurnaan Dzat-Nya. Sifat Salbiyah ini ada lima, yaitu: qidâm, baqâ’, mukhâlafatu lil hawâditsi, qiyâmuhu binafsihi, dan wahdâniyat.

3.Sifat Ma’ani, yaitu sifat- sifat abstrak yang wajib ada pada Allah. Yang termasuk sifat ma’ani ada tujuh yaitu: qudrat, irâdat, ‘ilmu, hayât, sama', bashar, kalam.

4.Sifat Ma’nawiyah, adalah kelaziman dari sifat ma’ani. Sifat ma’nawiyah tidak dapat berdiri sendiri, sebab setiap ada sifat ma’ani tentu ada sifat ma’nawiyah. Bila sifat ma'ani telah didefinisikan sebagai sifat yang ada pada sesuatu yang disifati yang otomatis menetapkan suatu hukum padanya, maka sifat ma'nawiyah merupakan hukum tersebut. Artinya, sifat ma'nawiyah merupakan kondisi yang selalu menetapi sifat ma'ani. Sifat 'ilm misalnya, pasti dzat yang bersifat dengannya mempunyai kondisi berupa kaunuhu 'âliman (keberadannya sebagi Dzat yang berilmu). Dengan demikian itu, sifat ma'nawiyyah juga ada tujuh sebagaimana sifat ma'ani.

Kedudukan Sifat Wajib 20

Subtansisifat-sifat wajib bagi Allah telah menjadi kajian ulama Ahlussunnah wal Jama’ah dalam rentang sejarah sejak masa Abu al-Hasan al-Asy'ari (260-324 H/874-936 M) dan Abu Manshur al-Maturudi (238-333 H/852¬-944 M), al-Qadhi Abu Bakr al-Baqillani (338-403 H/950-1013 M), dan Imam al-Haramain (419-478 H/1028-1085 M), hingga sekarang. Namun yang merumuskan secara praktis menjadi 20 Sifat Wajib bagi Allah adalah al-Imam Muhammad bin Yusuf bin Umar bin Syu’aib as-Sanusi al-Hasani (832-895 H/1428-1490 M), asal kota Tilmisan (Tlemcen) Aljazair, seorang yang multidisipliner: muhaddits, mutakalllim, manthiqi, muqri’, dan pakar keilmuan lainnya. Dalam al-‘Aqidah as-Sughra yang terkenal dengan judul Umm al-Barahain Imam as-Sanusi mengatakan:

فَمِمَّا يَجِبُ لِمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ عِشْرُونَ صِفَةً.

“Maka di antara sifat wajib bagi Allah Tuhan Kita-Yang Maha Agung dan Maha Perkasa-adalah 20 sifat.” 

Dalam ranah keimanan terhadap Allah secara umum setiap mukallaf wajib meyakini sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi-Nya. Sehingga ia harus:

1. Meyakini secara mantap tanpa keraguan, bahwa Allah pasti bersifat dengan segala kesempurnaan yang layak bagi keagungan-Nya.

2. Meyakini secara mantap tanpa keraguan, bahwa Allah mustahil bersifat dengan segala sifat kekurangan yang tidak layak bagi keagungan-Nya.

3. Meyakini secara mantap tanpa keraguan, bahwa Allah boleh saja melakukan atau meninggalkan segala hal yang bersifat jaiz(mumkin), seperti menghidupkan manusia dan membinasakannya.

Inilah akidah yang harus diyakini secara umum. Selain itu, setiap mukallaf wajib meyakini secara terperinci sifat wajib 20 yang menjadi sifat-sifat pokok kesempurnaan (shifat asâsiyyah kamâliyyah) Allah sebagai Tuhan, 20 sifat mustahil, dan satu sifat Jaiz bagi-Nya. Namun hal ini bukan berarti membatasi sifat Allah sebagaimana disalahpahami sebagian orang, tetapi karena sifat-sifat ini yang sering diperdebatkan di sepanjang sejarah umat Islam, maka dengan menetapkannya menjadi jelas bahwa Allah bersifat dengan segala kesempurnaan dan tersucikan dari segala kekurangan.

Sifat Wajib 20 Tidak Membatasi Kesempurnaan Allah

Apakah sifat wajib 20 membatasi kesempurnaan Allah?Jawabannya adalah bahwa sifat 20 itu tidak membatasi kesempurnaan Allah yang tidak terbatas. Justrusifat wajib 20 itu merupakan sifat-sifat pokok kesempurnaan Allah yang tidak terbatas jumlahnya,yang tidak mampu diketahui oleh manusia secara menyeluruh. Imam as-Sanusi dalam Syarh Umm al-Barahain  menjelaskan:

(ص) )فَمِمَّا يَجِبُ لِمَوْلاَنَا جَلَّ وَعَزَّ عِشْرُوْنَ صِفَةً( (ش) أَشَارَ بِمِنْ التَّبْعِيْضِيَّةِ إِلَى أَنَّ صِفَاتِ مَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ الْوَاجِبَةَ لَهُ لَا تَنْحَصِرُ فِيْ هَذِهِ الْعِشْرِيْنَ، إِذْ كَمَالَاتُهُ تَعَالَى لَا نِهَايَةَ لَهَا، لَكِنْ الْعَجْزُ عَنْ مَعْرِفَةِ مَا لَمْ يَنْصُبْ عَلَيْهِ دَلِيْلٌ عَقْلِيٌّ وَلَا نَقْلِيٌّ لَا نُؤَاخِذُ بِهِ بِفَضْلِ اللهِ تَعَالَى


“Kitab Asal (Umm al-Barahain) berisyarat dengan huruf مِنْ  tab'idiyah untuk menunjukkan, bahwa sifat-sifat Allah–Jalla wa ‘Azza–tidak terbatas pada 20 sifat ini, sebab kesempurnaan-Nya tidak terbatas, namun ketidakmampuan mengetahui sifat-sifat yang tidak terjelaskan oleh dalil 'aqli dan naqli membuat kita tidak disiksa karenanya, berkat anugerah Allah Ta'ala.”


Yusuf Suharto, Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur

(Tulisan ini disarikan dan dimodifikasi dari buku Khazanah Aswaja oleh Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur)