IMG-LOGO
Trending Now:
Ekonomi Syariah

Al-Qur’an Sebut Pelaku Riba Seperti Benda Mati?

Jumat 13 April 2018 19:45 WIB
Share:
Al-Qur’an Sebut Pelaku Riba Seperti Benda Mati?
Masih berbicara tentang riba, Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 275, yang berbunyi:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ

Arti tekstual: “(Perumpamaan) orang-orang yang memakan riba, tiada mereka berdiri kecuali seperti barang yang berdiri yang kemudian dibanting oleh syaithan dengan suatu timpaan (barang yang dirasuki oleh setan).” (QS al-Baqarah: 275)

Di dalam ayat ini, Imam Abu Ja’far at-Thabari menyampaikan bahwasanya yang dimaksud dengan “orang-orang yang memakan riba” adalah mereka para pelaku riba (الذين يربون). Seolah, Allah SWT berfirman dalam ayat ini:

 .....الذين يُرْبون الربا الذي وصفنا صفته في الدنيا "لا يقومون إِلَّا كَمَا يَقُومُ

Artinya: “Perumpamaan orang-orang pelaku riba - yang kami tunjukkan cirinya di dunia – adalah, seperti kaum yang tiada berdiri kecuali seperti “barang” (ما) yang berdiri........”

Baca: Pengertian Riba dalam Tafsir at-Thabari
Yang menarik dari ayat di atas, adalah perumpamaan yang dipergunakan oleh Al-Qur’an. Di dalam ayat tersebut, para “pelaku riba” adalah diumpamakan seperti berdirinya “barang” (ما). Menurut qaidah nahwiyah dan balaghah, ما merupakan isim maushul yang bermanfaat untuk menunjuk “sesuatu yang tidak berakal” atau “sesuatu yang tidak bernyawa”. Ia bisa berarti benda mati, atau juga bermakna benda hidup akan tetapi tidak berakal. Dengan demikian, ada dua kemungkinan penafsiran ayat dalam hal ini, yaitu: (1) pelaku riba diumpamakan sebagai seperti benda mati yang berdiri, atau (2) pelaku riba diumpamakan sebagai benda hidup, akan tetapi tidak berakal. 

Pelaku Riba Seperti Benda Mati

Merujuk pada penafsiran yang pertama - yaitu pelaku riba diumpamakan sebagai benda mati - maka sekokoh-kokohnya benda mati yang berdiri, ia akan mudah roboh karena diterpa oleh apa saja yang bisa merobohkannya. Bisa roboh oleh angin dan bisa juga roboh oleh goncangan, misalnya seperti akibat gempa bumi, tanah longsor, dan lain sebagainya. 

Melihat dari asalnya benda mati, ada kemungkinan bahwa benda mati itu asalnya memang mati. Namun, ada juga benda mati itu berawal dari sesuatu yang asalnya adalah hidup, kemudian mati. Benda mati yang terakhir bisa disebut sebagai bangkai, mayit, dan lain sebagainya. Meskipun berbeda-beda asal-muasalnya, namun sifat dari benda mati tetaplah sama. Ia tidak memiliki daya atas dirinya. Ia bisa digerakkan namun tidak bisa menggerakkan. Ia bisa dibentuk, namun tidak bisa membentuk. 

Jika ayat di atas dimaknai sebagai “perumpamaan para pengambil riba adalah seperti benda mati”, maka ini berarti bahwa di dalam riba, para pelaku riba suatu saat memang pernah akan mengalami “berhasil” yang diumpamakan sebagai “berdiri” di atas. Namun keberhasilannya ini tidak berdaya upaya menahan kediriannya. Pendiriannya akan mudah roboh oleh goncangan dan gangguan yang tak terduga. Sebagaimana diisyaratkan oleh ayat sebagai “benda mati,” yang bisa roboh akibat goncangan, terpaan angin dan badai yang bisa terjadi kapan saja. Secara fisiknya kelihatan sukses, namun secara bathinnya ia rapuh karena tidak memiliki kendali atas dirinya. 

Pelaku Riba Seperti Benda Hidup namun Tak Berakal

Ada dua kemungkinan makhluk disebut sebagai benda hidup namun tidak berakal. Pertama, ia asalnya adalah makhluk berakal, namun belum masuk kategori berakal atau asalnya berakal kemudian kehilangan akalnya. Untuk contoh yang pertama adalah anak baligh yang belum mencapai usia mumayyiz (bisa membedakan). Adapun contoh yang kedua adalah orang gila. Kedua contoh ini adalah sama-sama disebut belum berakal, disebabkan karena tidak berakal, atau karena kehilangan akalnya. Adapun yang kedua, ia disebut barang yang berupa “makhluk hidup tidak berakal”. Contoh dalam hal ini adalah hewan dan tumbuhan serta hewan melata lainnya. Sifat dari masing-masing hewan dan tumbuhan ini adalah dikendalikan dan dijinakkan sehingga menjadi penurut kepada tuannya. 

Jika mengikuti kategori ini, maka yang dimaksud oleh ayat Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 275 sebagai perumpamaan bagi pelaku riba, adalah ibarat hewan, ibarat tumbuhan, ibarat orang yang gila, atau ibarat anak kecil. Semua dari keempat sifat ini memiliki unsur kesamaan, yaitu sama-sama dikendalikan oleh sesuatu kekuatan. Mereka adalah pasif dan tidak mengendalikan. Pemberontakannya adalah sebatas kekuatan fisik. Sementara akal dan nuraninya tidak berfungsi. 

Melihat dua versi perumpamaan di atas, masing-masing bisa masuk dalam penafsiran ayat. Misalnya seperti Imam Abu Ja’far al-Thabary memberikan penekanan ta’wil ayat Q.S. Al-Baqarah 275 adalah sebagai berikut:

قال أبو جعفر: فقال جل ثناؤه: الذين يُرْبون الربا الذي وصفنا صفته في الدنيا "لا يقومون" في الآخرة من قبورهم "إلا كما يقوم الذي يتخبَّطه الشيطانُ من المس" يعني بذلك: يتخبَّله الشيطان في الدنيا, وهو الذي يخنقه فيصرعه "من المس" يعني: من الجنون

Artinya: “Abu Ja’far berkata:Maka, (seolah) Allah SWT berfirman: “Para pelaku riba - sebagaimana yang telah Aku tunjukkan cirinya di dunia ini - adalah “mereka tiada dapat berdiri/bangkit” di akhirat kelak dari kuburnya, kecuali seperti berdirinya mayit yang dirasuki oleh syetan”, dibingungkan oleh syetan semasa di dunia, mencekiknya lalu membantingnya “dengan suatu wabah” berupa kegilaan.” (Abu Ja’fa at-Thabari, Jâmi’u al-Bayân ‘an Ta’wili ayi al-Qur’ân, Kairo: Daru Hijr, 2001, juz 5, hal: 37)

Dengan mengikuti alur penta’wilan ini, maka makna penggalan ayat di atas, akan menjadi sebagai berikut:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ

Artinya: “Orang-orang yang melakukan riba,tiada mereka dapat berdiri melainkan layaknya berdirinya orang yang dirasuki setan lantaran penyakit gila.” (Q.S Al-Baqarah: 275).

Wallahu A’lam

Muhammad Syamsudin, Pegiat Kajian Fiqih Terapan dan Pengasuh Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri, P. Bawean, Jatim

Share:
Kamis 12 April 2018 20:30 WIB
Pengertian Riba dalam Tafsir at-Thabari
Pengertian Riba dalam Tafsir at-Thabari
Ilustrasi (via tni.co.nz)
Mengawali pembahasan ini, penulis ingin menukil sebuah ayat, di mana Allah SWT berfirman:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَن جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Arti tekstual : “[Perumpamaan] orang-orang yang memakan riba tidak berdiri kecuali seperti barang yang berdiri yang kemudian dibanting oleh setan dengan suatu timpaan (barang yang dirasuki oleh setan). Demikian itu, sebab sesungguhnya mereka telah berkata bahwa jual beli itu menyerupai riba. Padahal, Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Maka, barangsiapa yang telah dating padanya suatu nasihat (peringatan) dari Tuhannya, lalu mereka berhenti dari memungut riba, maka baginya apa yang dulu ia pinjam, lalu mereka berserah diri kepada Allah. Dan barangsiapa yang mengulangi mengambil riba, maka mereka berhak atas neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS Al-Baqarah: 275)

Penggalan ayat الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ditafsirkan oleh Abu Ja’far at-Thabari sebagai “pihak yang membuat riba”. Riba berasal dari kata ربـــا- يربــو yang berarti sebagai  إذا زاد على ما كان عليه فعظم,  yang berarti “ketika melebihi dari apa yang seharusnya ada dan semakin besar.” Inti dari riba adalah al-ziyâdah, yang berarti tambahan. Orang yang mengambil riba disebut dengan istilah murbin (مُرْب). Oleh karenanya, pengertian riba juga didefinisikan sebagai:

وإنما قيل للمربي "مُرْبٍ"، لتضعيفه المال، الذي كان له على غريمه حالا أو لزيادته عليه فيه لسبب الأجل الذي يؤخره إليه فيزيده إلى أجله الذي كان له قبلَ حَلّ دينه عليه

Artinya: “Pihak yang mengambil riba diistilahkan dengan “murbin” karena usahanya “melipatgandakan” harta yang ditetapkan kepada pihak yang berutang, baik secara kontan (hâlan) atau dengan jalan menetapkan tambahan kepada pihak yang berutang sebab tempo pengembalian (ajal), yaitu penundaannya gharim (pihak yang berutang) kepada “murbin” lalu menetapkan tambahan atas aset yang dipinjam sampai masa jatuh tempo, yang mana hal ini berlaku sebelum pihak gharim melunasi utangnya.”(Lihat Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Khalid at-Thabari, Jami'ul Bayan fi Ta'wil Qur'an, bisa diakses di alamat ini)

Penafsiran sedemikian ini oleh Abu Ja’far at-Thabari didasarkan pada adanya munasabah (kesesuaian) ayat di atas dengan ayat yang lain dalam Surat Ali Imran ayat130:
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan riba dengan jalan melipatgandakan lagi dilipatgandakan.” (QS Ali Imran: 130)

Ibnu Mujahid dan Qatadah memiliki penafsiran yang sama dengan Abu Ja’far. Keduanya, yang merupakan generasi tabi’in ahli qira’ah dan sekaligus ahli tafsir, menegaskan bahwa dulu berlaku di kalangan masyarakat jahiliyah, apabila ada seseorang hendak meminjam ke orang lain, maka kepadanya disampaikan: “jika kamu pinjam dengan tempo segini, maka kamu harus mengembalikan segini.” Bisyr yang menyandarkan ucapannya dari Imam Qatadah, juga menjelaskan secara terpisah bahwa riba pada masa jahiliyah berlangsung ketika ada seseorang melakukan jual beli barang sampai batas tempo tertentu kemudian ketika telah sampai masa jatuh tempo pelunasan, ternyata pihak pembeli belum bisa melunasi pembayarannya, maka ditetapkan “tambahan harga” kembali yang disertai “penetapan tunda pelunasan kembali.” 

Misalnya: Pak Udin membeli barang secara tempo sampai batas pelunasan 1 tahun. Sebut misalnya bahwa harga barang secara tempo adalah 20 juta rupiah. Setelah masa satu tahun, ternyata Pak Udin belum bisa melunasi harga pembelian barang tersebut, lalu diputuskan untuk melakukan negosiasi lagi, kemudian dilakukan penjadwalan kembali dengan menambahkan harga sebelumnya sebagai risiko penundaan lagi. Model transaksi seperti ini menurut mufasir generasi tabi’in, yakni Imam Qatadah adalah termasuk transaksi riba yang pernah berlaku di kalangan masyarakat jahiliyah.

Kesimpulan dari Tafsir at-Thabari di atas, adalah bahwa yang dimaksud sebagai riba, adalah:

1. Pengertian riba merujuk pada tradisi transaksi masyarakat jahiliyah

2. Riba terjadi disebabkan adanya ziyâdah (tambahan) yang ditetapkan di awal sebelum berlakunya utang-piutang

3. Sifat dari ziyâdah (tambahan harga) adalah melipatgandakan lagi dilipatgandakan (أضعافا مضاعفة). Kelak akan disampaikan maksud dari أضعافا مضاعفة ini.

4. Riba dalam transaksi jual beli terjadi ketika ada penjadwalan kembali utang pembelian yang disertai penetapan harga tambahan yang melebihi dari harga yang disepakati di awal.

Wallahu a’lam


Muhammad Syamsudin, Pegiat Kajian Fiqih Terapan dan Pengasuh PP Hasan Jufri Putri, P. Bawean, Jatim
Senin 9 April 2018 18:30 WIB
Uang Giral dan Unsur Penyusunannya
Uang Giral dan Unsur Penyusunannya
Ilustrasi (jurnal.id)
Uang fiat merupakan bentuk uang hasil modifikasi dari uang kertas klasik berjamin aset logam mulia menjadi berjamin hukum dan kepercayaan. Apakah sebuah kepercayaan/amanah memiliki peran yang sama dengan aset? Kelak akan dibahas lebih lanjut di belakang. 

Bentuk uang lain yang tidak memiliki jaminan aset dan juga tidak memiliki jaminan bentuk fisik hanya berupa catatan saja adalah uang giral. Sebenarnya uang giral ini asalnya juga dari uang fisik, namun disimpan oleh nasabah ke perbankan dalam bentuk rekening koran, deposito, cek dan surat berharga yang lain. Keberadaannya diakui oleh negara dan juga resmi. Bahkan dewasa ini bisa dipergunakan dalam transaksi jual beli di sejumlah tempat khusus, seperti toserba, supermarket dan beberapa mall lain. 

Jika kita mengamati keberadaan uang giral ini, maka sebenarnya konsepnya kembali seperti semula yaitu sebelum uang fiat dikeluarkan. Bedanya, jika uang klasik, jaminannya berupa aset logam mulia dan ada bentuk fisiknya, namun dalam konteks uang giral ini, maka jaminannya berupa nilai tabungan/rekening koran, sementara bentuk fisiknya berupa perangkat transaksi seperti kartu kredit, kartu debit atau bahkan berupa lembar surat berharga yang diakui keabsahannya oleh pemerintah dan perbankan. 

Penting kita garis bawahi di sini, bahwa unsur uang giral adalah:

- Adanya aset dana berupa uang yang disimpan sebagai jaminan
- Perangkat penggunaan berupa lembar surat berharga, cek, wesel, kartu kredit, kartu debit, dan lain sebagainya. 

Dengan memperhatikan kedua unsur ini, maka status nilai tukar uang giral adalah sama dengan nilai tukar uang fiat berupa kertas. Artinya, ia ditentukan berdasarkan nilai tukarnya (qîmatul mitslî-nya), dan bukan ditentukan berdasarkan wujud fisik aset yang memperantainya (kartu kredit, lembar wesel, cek, dan lain-lain), meskipun wujud fisik itu juga memiliki hubungan erat dengan penggunaannya. Jika demikian halnya, lantas apa peran lembar cek kosong, wesel kosong, kartu kredit dan kartu debit dalam suatu transaksi keuangan?

Kita ingat bahwa pengguna jasa kartu kredit, kartu debit, cek kosong dan sejenisnya sudah memiliki simpanan keuangan di sebuah rekening perbankan. Dengan perantara kartu dan lembar surat ini, seorang yang memiliki rekening dan pemegang kartu seolah sedang memerintahkan ke bank agar mencairkan dana sebagaimana tertuang dalam isi perintah kartu sesuai yang dikehendaki oleh nasabah. 

Jadi, suatu misal apabila pemegang kartu sedang belanja ke Toserba, kemudian ia melakukan pembayaran dengan jalan menggunakan kartu kredit atau kartu kredit, maka pada dasarnya ia sedang memerintahkan ke bank agar memindah sebagian saldo tabungannya ke rekening pemilik Toserba. Jadi, dalam hal ini, meskipun sang pembeli tidak membawa wujud fisik uang, ia memanfaatkan keberadaan nilai fiat untuk melakukan transaksi tersebut. Secara fiqih, nilai fiat ini disebut dengan nilai tukar (qîmatul mitslî). Sementara wujud fisik uangnya (‘ain mitslî) tidak ada. 

Bukankah wujud uangnya sudah dititipkan di bank? Ingat bahwa dalam hal ini kita berbicara mengenai hubungan antara seoang pembeli dan penjual. Kita tidak sedang berbicara tentang adanya pihak ketiga, yaitu bank. Jika kita berbicara relasi antara penjual dan pembeli, maka kita seolah berbicara mengenai konsep yadan bi yadin (tunai). Segi tunai ini berwujud, transfer nilai ke nilai yang berasal dari satu rekening ke rekening. Ini mutlak harus kita garis bawahi, sehingga kita bisa memahami mengenai ketiadaan wujud fisik uang itu. Sebagai gambaran mudahnya, kita umpamakan bahwa nilai akhir transaksi adalah sebesar Rp. 900.990. Yang kita ketahui bahwa uang pecahan terkecil di Indonesia saat ini dan umum berlaku adalah Rp50. Pecahan ini pun sudah tidak banyak digunakan. Yang sering digunakan adalah angka pecahan minimal Rp100. Melihat nilai akhir transaksi adalah ada besaran angka Rp. 90 dalam hal ini tidak mungkin bagi penjual untuk mengembalikan uang dengan besaran 4 buah keping uang Rp10. Bila penjual menggenapkan menjadi Rp100 tanpa keridlaan Si Pembeli, maka ia telah berlaku dhalim. Sementara apabila pembeli menggenapkan sebesar Rp900 saja, maka ia secara tidak langsung menanggung hutang sebesar Rp90. Merepotkan, bukan? Nah, keberadaan transaksi Rp. 90 rupiah ini menjadi hal yang berharga manakala ia berwujud nilai tukar meskipun keberadaannya tanpa ada wujud fisik (ain uang). 

Bagaimana kalau kita ambil “’an taradlin” saja untuk memutuskan konsep Rp10 tersebut? Dalam kaitannya dengan relasi sosial, praktik ‘an taradlin ini adalah hal yang baik dan dianjurkan. Namun dalam konsep fiqih, terdapat teori batas minimal dan batas maksimal. Adanya qaul dinyatakan sebagai ashah, arjah, shahih, dla’îf, dan lain sebagainya adalah wujud dari praktik batas minimal dan batas maksimal tersebut. Oleh karenanya, meskipun hal ini adalah merupakan hal yang tidak tsubut terjadi, namun karena menyimpan unsur kelaziman, maka dalam praktiknya fiqih tetap menampungnya sebagai obyek bahasan. 

Kesimpulan akhirnya adalah pada uang giral, yang dipentingkan dalam relasi transaksional adalah keberadaan nilai tukar. Sementara itu, wujud uang (ain mitslî) tidak mendapatkan penekanan. Jadi, “perkara yang tsubut dalam transaksi” adalah nilai tukar dalam keuangan. Wallahu a’lam.


Muhammad Syamsudin, Pegiat Kajian Fiqih Terapan dan Pengasuh Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri, P Bawean, Jatim

Ahad 8 April 2018 21:10 WIB
Mata Uang Fiat dan Unsur Penyusunnya
Mata Uang Fiat dan Unsur Penyusunnya
Ilustrasi (transferwise.com)
Pada pembahasan yang telah lalu kita sudah membahas tentang mata uang logam, dan mata uang kertas klasik yang mana ia berperan layaknya surat jaminan atas kepemilikan suatu aset berupa logam mulia, yaitu emas dan perak. Karena adanya jaminan ini, maka mata uang logam dan mata uang klasik disebut juga sebagai mata uang komoditas. Maksudnya adalah bahwa ia merupakan bentuk surat jaminan atas suatu aset. 
Dalam perkembangannya, mata uang ini dalam dunia perbankan melahirkan angka inflasi yang tinggi dalam dunia perbankan. Ia dapat menjelma menjadi sebuah mata uang yang tanpa jaminan aset berupa logam mulia. Uang jelmaan ini selanjutnya disebut dengan “fiat”. Lebih jelasnya, bisa anda lihat pada tabel yang digambarkan sebelum unggahan di kanal ini! 
Sebagai resiko usaha, uang fiat ini tidak bisa didiamkan begitu saja. Yang menjadi persoalan bagaimana selanjutnya uang ini dapat berperan sebagai alat tukar atas suatu barang, padahal ia tidak memiliki jaminan berupa aset? Persoalan ini kemudian mengundang pemikiran dari para pialang pasar di seluruh dunia. 

Perlu diketahui bahwa uang bisanya dijadikan sebagai alat tukar manakala ia memiliki “Standar Nilai Tukar” (qîmatul mitslî) yang diakui oleh pasar. Sebagaimana sejarah uang sebelumnya yang menjadikan garam sebagai alat tukar, ia wajib memiliki standar nilai tukar. Selain itu, uang juga harus memiliki nilai nominal (mutaqawwam) yang bisa dijamin keberadaannya. Bila dalam sejarah uang klasik, nilai mutaqawwam ditentukan berdasarkan wujud (ainul mitslî), maka pada uang fiat, keberadaan mutaqawwam ini ditentukan berdasarkan apa? Padahal sebagai mutaqawwam, ia harus memiliki nilai manfaat. Jika garam seberat 1 kg memiliki nilai manfaat yang bisa digunakan untuk bumbu masak, emas bisa digunakan sebagai perhiasan, nilai manfaat uang fiat ini terletak di mana?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita perlu mengetahui bagaimana uang fiat ini dibuat. Ada beberapa prosedur bagaimana uang fiat ini dibuat dan diproses, antara lain: (1) uang fiat dibuat oleh pemerintah, (2) uang ini dibikin berdasarkan regulasi global sistem perbankan, dan (3) uang fiat bisa dipergunakan sebagai alat tukar karena faktor nilai kepercayaan yang terdapat didalamnya disebabkan legal/sahnya uang tersebut sebagai alat tukar. 

Berdasarkan prosedur penerbitan tersebut, maka nilai mutaqawwam uang fiat ini terletak pada “nilai kepercayaan” (amânah) uang tersebut sebagai alat tukar karena dilegalkan oleh pemerintah. Nilai kepercayaan ini terbentuk selain karena faktor dilegalkan, ia juga ditentukan berdasarkan hasil kurs perdagangan antar negara. Dengan demikian, secara tidak langsung, sisi mutaqawwam uang sudah jauh berbeda dengan mata uang klasik. Bila mata uang klasik ditentukan berdasarkan “aset terjamin”, maka mata uang fiat ditentukan berdasar kurs (sharf) di pasar internasional (masharif tijâry). 

Dengan memahami hal ini, maka sebenarnya dalam uang fiat ini menyimpan “unsur tijariyah” yang bergantung pada “nilai kepercayaan” uang tersebut sebagai “alat tukar” di pasaran. Singkatnya, uang fiat bergantung pada pasar. Dengan demikian, nilai nominal (mutaqawwam) uang juga bergantunng pada pasar. Inilah yang membedakan uang fiat dengan uang kertas klasik berjamin aset. Oleh karena itu, para sarjana ekonomi selalu menyebut bahwa uang fiat adalah uang yang tidak memiliki nilai intrinsik (nilai bahan). Ia hanya menyimpan nilai ekstrinsik, yaitu nilai tukar yang diakui dan mendapatkan legalitas dari negara.

Perpindahan unsur penyusun ini secara tidak langsung membawa imbas dan pengaruh yang besar di masyarakat. Salah satu contohnya adalah apabila seseorang meminjam uang 100 ribu rupiah, pada dasarnya ia tidak meminjam wujud uang, melainkan meminjam nilai tukar. Pernahkah saudara pembaca mencermati bahwa bila harga BBM (Bahan Bakar Minyak) naik, maka harga kebutuhan bahan pokok rumah tangga menjadi naik pula? Mengapa? Jangan lupa bahwa kajian kita adalah fokus pada unsur pembentuk Uang Fiat!

Jika kita teliti lebih lanjut, maka inflasi yang terjadi pada harga bahan pokok adalah sebuah resiko dari kenaikan BBM. Artinya, bahwa harga dan manfaat BBM merupakan standar (mitsil) harga. Kenaikannya menyebabkan kenaikan bahan pokok. Turunnya, juga membawa imbas turunnya harga bahan pokok. Jika harga ditentukan oleh “bahan uang” (mutaqawwam), maka semestinya kenaikan harga BBM tidak membawa pengaruh pada harga bahan pokok. Demikian pula, seharusnya tidak perlu ada kenaikan harga BBM, karena “bahan uang” tertentu pada dasarnya adalah sama harganya dengan harga BBM per liternya. Namun, mengapa harus naik? Tidak lain jawabnya adalah sedang ada penurunan “nilai kepercayaan uang” terhadap BBM. Dengan demikian, “nilai kepercayaan” uang tersebut yang diambil, dan bukan “nilai bahan”. 

Hal yang berbeda akan terjadi apabila pertukaran terjadi antar bahan. Misal, 1 gram emas dapat ditukar dengan 30 kg beras. Ketika emas yang diserahkan adalah seberat 2 gram, maka imbal baliknya adalah pihak lawan harus menyerahkan 60 kg beras. Atau sebaliknya, pihak penjual harus mengembalikan 1 gram emas sebagai bentuk selisih. Kejadian seperti ini bisa berlangsung manakala ia terjadi pada pasar yang masih steril. Dan yang perlu menjadi catatan adalah emas dan beras di sini keduanya adalah sama-sama merupakan barang komoditas. Berbeda apabila emas tersebut adalah uang. Maka ia memiliki nilai tukar sekaligus nilai bahan. Andai nilai tukar hilang, maka ia masih berwujud nilai bahan. Nilai bahan ini masih bisa dipertukarkan disebabkan bisa dipergunakan untuk kebutuhan lain, seperti diubah menjadi perhiasan, dan lain sebagainya. Namun keberadaan nilai bahan ini hilang, pada uang fiat. Yang tersisa adalah nilai tukar. 

Sekarang, bayangkan bahwa anda memegang sebuah uang senilai 50 ribu rupiah. Anda bisa menggunakannya untuk membeli kebutuhan-kebutuhan yang senilai dengan itu. Dan sekarang bayangkan kembali, bahwa gambar yang terdapat uang anda hilang sehingga yang tersisa tinggal lembar kertas kosong. Apakah anda masih bisa menggunakannya kembali? Tentu tidak bukan? Semoga bermanfaat!

Wallahu a’lam bish shawab

Muhammad Syamsudin, Pegiat Kajian Fiqih Terapan dan Pengasuh Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri, P. Bawean, Jatim