Al-Qur’an Sebut Pelaku Riba Seperti Benda Mati?

Al-Qur’an Sebut Pelaku Riba Seperti Benda Mati?
Masih berbicara tentang riba, Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 275, yang berbunyi:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ

Arti tekstual: “(Perumpamaan) orang-orang yang memakan riba, tiada mereka berdiri kecuali seperti barang yang berdiri yang kemudian dibanting oleh syaithan dengan suatu timpaan (barang yang dirasuki oleh setan).” (QS al-Baqarah: 275)

Di dalam ayat ini, Imam Abu Ja’far at-Thabari menyampaikan bahwasanya yang dimaksud dengan “orang-orang yang memakan riba” adalah mereka para pelaku riba (الذين يربون). Seolah, Allah SWT berfirman dalam ayat ini:

 .....الذين يُرْبون الربا الذي وصفنا صفته في الدنيا "لا يقومون إِلَّا كَمَا يَقُومُ

Artinya: “Perumpamaan orang-orang pelaku riba - yang kami tunjukkan cirinya di dunia – adalah, seperti kaum yang tiada berdiri kecuali seperti “barang” (ما) yang berdiri........”

Baca: Pengertian Riba dalam Tafsir at-Thabari
Yang menarik dari ayat di atas, adalah perumpamaan yang dipergunakan oleh Al-Qur’an. Di dalam ayat tersebut, para “pelaku riba” adalah diumpamakan seperti berdirinya “barang” (ما). Menurut qaidah nahwiyah dan balaghah, ما merupakan isim maushul yang bermanfaat untuk menunjuk “sesuatu yang tidak berakal” atau “sesuatu yang tidak bernyawa”. Ia bisa berarti benda mati, atau juga bermakna benda hidup akan tetapi tidak berakal. Dengan demikian, ada dua kemungkinan penafsiran ayat dalam hal ini, yaitu: (1) pelaku riba diumpamakan sebagai seperti benda mati yang berdiri, atau (2) pelaku riba diumpamakan sebagai benda hidup, akan tetapi tidak berakal. 

Pelaku Riba Seperti Benda Mati

Merujuk pada penafsiran yang pertama - yaitu pelaku riba diumpamakan sebagai benda mati - maka sekokoh-kokohnya benda mati yang berdiri, ia akan mudah roboh karena diterpa oleh apa saja yang bisa merobohkannya. Bisa roboh oleh angin dan bisa juga roboh oleh goncangan, misalnya seperti akibat gempa bumi, tanah longsor, dan lain sebagainya. 

Melihat dari asalnya benda mati, ada kemungkinan bahwa benda mati itu asalnya memang mati. Namun, ada juga benda mati itu berawal dari sesuatu yang asalnya adalah hidup, kemudian mati. Benda mati yang terakhir bisa disebut sebagai bangkai, mayit, dan lain sebagainya. Meskipun berbeda-beda asal-muasalnya, namun sifat dari benda mati tetaplah sama. Ia tidak memiliki daya atas dirinya. Ia bisa digerakkan namun tidak bisa menggerakkan. Ia bisa dibentuk, namun tidak bisa membentuk. 

Jika ayat di atas dimaknai sebagai “perumpamaan para pengambil riba adalah seperti benda mati”, maka ini berarti bahwa di dalam riba, para pelaku riba suatu saat memang pernah akan mengalami “berhasil” yang diumpamakan sebagai “berdiri” di atas. Namun keberhasilannya ini tidak berdaya upaya menahan kediriannya. Pendiriannya akan mudah roboh oleh goncangan dan gangguan yang tak terduga. Sebagaimana diisyaratkan oleh ayat sebagai “benda mati,” yang bisa roboh akibat goncangan, terpaan angin dan badai yang bisa terjadi kapan saja. Secara fisiknya kelihatan sukses, namun secara bathinnya ia rapuh karena tidak memiliki kendali atas dirinya. 

Pelaku Riba Seperti Benda Hidup namun Tak Berakal

Ada dua kemungkinan makhluk disebut sebagai benda hidup namun tidak berakal. Pertama, ia asalnya adalah makhluk berakal, namun belum masuk kategori berakal atau asalnya berakal kemudian kehilangan akalnya. Untuk contoh yang pertama adalah anak baligh yang belum mencapai usia mumayyiz (bisa membedakan). Adapun contoh yang kedua adalah orang gila. Kedua contoh ini adalah sama-sama disebut belum berakal, disebabkan karena tidak berakal, atau karena kehilangan akalnya. Adapun yang kedua, ia disebut barang yang berupa “makhluk hidup tidak berakal”. Contoh dalam hal ini adalah hewan dan tumbuhan serta hewan melata lainnya. Sifat dari masing-masing hewan dan tumbuhan ini adalah dikendalikan dan dijinakkan sehingga menjadi penurut kepada tuannya. 

Jika mengikuti kategori ini, maka yang dimaksud oleh ayat Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 275 sebagai perumpamaan bagi pelaku riba, adalah ibarat hewan, ibarat tumbuhan, ibarat orang yang gila, atau ibarat anak kecil. Semua dari keempat sifat ini memiliki unsur kesamaan, yaitu sama-sama dikendalikan oleh sesuatu kekuatan. Mereka adalah pasif dan tidak mengendalikan. Pemberontakannya adalah sebatas kekuatan fisik. Sementara akal dan nuraninya tidak berfungsi. 

Melihat dua versi perumpamaan di atas, masing-masing bisa masuk dalam penafsiran ayat. Misalnya seperti Imam Abu Ja’far al-Thabary memberikan penekanan ta’wil ayat Q.S. Al-Baqarah 275 adalah sebagai berikut:

قال أبو جعفر: فقال جل ثناؤه: الذين يُرْبون الربا الذي وصفنا صفته في الدنيا "لا يقومون" في الآخرة من قبورهم "إلا كما يقوم الذي يتخبَّطه الشيطانُ من المس" يعني بذلك: يتخبَّله الشيطان في الدنيا, وهو الذي يخنقه فيصرعه "من المس" يعني: من الجنون

Artinya: “Abu Ja’far berkata:Maka, (seolah) Allah SWT berfirman: “Para pelaku riba - sebagaimana yang telah Aku tunjukkan cirinya di dunia ini - adalah “mereka tiada dapat berdiri/bangkit” di akhirat kelak dari kuburnya, kecuali seperti berdirinya mayit yang dirasuki oleh syetan”, dibingungkan oleh syetan semasa di dunia, mencekiknya lalu membantingnya “dengan suatu wabah” berupa kegilaan.” (Abu Ja’fa at-Thabari, Jâmi’u al-Bayân ‘an Ta’wili ayi al-Qur’ân, Kairo: Daru Hijr, 2001, juz 5, hal: 37)

Dengan mengikuti alur penta’wilan ini, maka makna penggalan ayat di atas, akan menjadi sebagai berikut:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ

Artinya: “Orang-orang yang melakukan riba,tiada mereka dapat berdiri melainkan layaknya berdirinya orang yang dirasuki setan lantaran penyakit gila.” (Q.S Al-Baqarah: 275).

Wallahu A’lam

Muhammad Syamsudin, Pegiat Kajian Fiqih Terapan dan Pengasuh Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri, P. Bawean, Jatim

BNI Mobile