IMG-LOGO
Ubudiyah

Resep Rasulullah, Cara Mudah Menjadi Kaya

Rabu 18 April 2018 16:0 WIB
Share:
Resep Rasulullah, Cara Mudah Menjadi Kaya
Anda dalam kesusahan karena beban hidup yang cukup berat? Ekonomi Anda sedang ada pada posisi terendah? Singkat kata, hidup Anda sedang dalam kefakiran? Sebagai Muslim dan Mukmin yang memiliki sandaran hidup kepada Allah dan pegangan hidup pada ajaran Rasulullah tak perlu risau dan galau. Sejak jauh-jauh hari Rasulullah telah memberikan resep mujarab untuk mengatasi kesulitan hidup yang demikian.

Satu ketika seorang sahabat datang menghadap Rasulullah SAW. Kepadanya, sahabat itu mengeluhkan perihal kefakiran dan kesulitan hidup yang dihadapinya. Kiranya dengan mengadukan permasalahannya kepada Rasulullah ia berharap akan mendapat jalan keluar agar ekonomi keluarganya dapat lebih baik di kemudian hari.

Mendengar aduan seperti itu Rasulullah lalu menyarankan kepada sahabatnya untuk melakukan satu amalan. “Ketika engkau masuk ke dalam rumah ucapkanlah salam bila di dalamnya ada orang. Bila tak ada maka ucapkanlah salam untuk dirimu sendiri. Setelah itu bacalah surat Al-Ikhlas satu kali.”

Mendapat amalan demikian sahabat ini melakukannya dengan penuh semangat. Setiap kali ia memasuki rumahnya ia beruluk salam lalu membaca surat Al-Ikhlas satu kali. Demikian ia lakukan terus menerus. Pada akhirnya Allah melimpahkan banyak harta kepadanya. Sahabat itu kini terbebas dari kefakiran. Keluarganya kini hidup dalam gelimang harta. Begitu banyaknya harta yang dianugerahkan oleh Allah. Tidak hanya keluarganya, tetangga di sekitar rumahnya juga ikut menikmati kelebihannya.

Kisah di atas banyak ditulis oleh para ulama dalam berbagai kitabnya, di antaranya oleh Syekh Nawawi Banten dalam kitab Tafsir Marâh Labîd atau lebih dikenal dengan nama Tasîr Al-Munîr. Dalam penafsiran Surat Al-Ikhlas Syekh Nawawi menuturkan kisah tersebut sebagai berikut:

عن سهل بن سعد جاء رجل إلى النبي صلّى الله عليه وسلّم وشكا إليه الفقر فقال: «إذا دخلت بيتك فسلم إن كان فيه أحد وإن لم يكن فيه أحد فسلم على نفسك واقرأ قل هو الله أحد مرة واحدة. ففعل الرجل فأدر الله عليه رزقا حتى أفاض على جيرانه

Artinya, “Dari Sahl bin Sa’d, seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dan mengadu kepadanya perihal kefakiran. Rasul bersabda, ‘Bila engkau memasuki rumahmu, ucapkanlah salam bila di dalamnya ada seseorang. Bila tidak ada seorang di dalamnya, maka bersalamlah untuk dirimu dan bacalah surat qul huwallâhu ahad sekali.’ Lelaki itu mengamalkannya. Allah melimpahkan kepadanya rezeki hingga meluber kepada para tetangganya.”

Ucapan salam kepada penghuni rumah sudah maklum. Setiap Muslim pasti bisa mengucapkannya. Lalu bagaimana mengucapkan salam kepada diri sendiri saat penghuni rumah sedang tidak ada?

Apa yang disampaikan oleh Syekh Nawawi dalam penafsiran ayat ke-61 Surat An-Nur menjadi jawabannya. Dalam kitab tersebut ia menuturkan ajaran dari Ibnu Abbas dan Qatadah sebagai berikut:

وقال ابن عباس: إن لم يكن في البيت أحد فليقل: السلام علينا من قبل ربنا

Artinya, “Ibnu Abbas berkata, ‘Bila tak ada siapapun di dalam rumah, maka ucapkanlah ‘assalâmu ‘alainâ min qibali rabbinâ’ (keselamatan bagi kami dari Tuhan kami).”

وقال قتادة: إذا دخلت بيتك فسلم على أهلك فهم أحق بالسلام ممن سلمت عليهم، وإذا دخلت بيتا لا أحد فيه فقل: السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين

Artinya, “Qatadah berkata, ‘Bila engkau memasuki rumahmu, maka ucapkanlah salam kepada keluargamu. Mereka lebih berhak mendapatkan salam daripada orang lain yang engkau salami. Bila engkau memasuki sebuah rumah yang tak ada seorang pun di dalamnya, ucapkanlah, ‘assalâmu ‘alainâ wa ‘alâ ‘ibâdillâhis shâlihîn,’ (keselamatan bagiku dan bagi hamba-hamba Allah yang saleh).”

Dari keterangan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa kita bisa mengucapkan salam bagi diri sendiri salah satunya dengan kalimat “Assalâmu ‘alainâ min qibali rabbinâ” (keselamatan bagi kami dari Tuhan kami) atau “Assalâmu ‘alainâ wa ‘alâ ‘ibâdillâhis shâlihîn” (keselamatan bagi kami dan bagi hamba-hamba yang saleh).

Kami berharap semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk menjalankan amalan ini dengan istiqamah. Semoga Allah membukakan pintu rahmat-Nya untuk kita semua. Wallahu a‘lam. (Yazid Muttaqin)
Tags:
Share:
Rabu 18 April 2018 21:30 WIB
Perbuatan Zalim Pasti Dapat Balasan
Perbuatan Zalim Pasti Dapat Balasan
Ilustrasi (via Pinterest)
Manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa tidak akan selalu berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Dalam berinteraksi ini tak jarang terjadi gesekan satu sama lain sehingga menimbulkan kerugian pada salah satu pihak, baik kerugian yang mengancam jiwa, harta, maupun kehormatannya.

Seringkali terjadi di masyarakat seseorang diperlakukan secara zalim oleh lainnya tanpa ia mampu membalas dan membela diri sendiri. Kondisi ini kerap membuat ia semakin tak berdaya dan hanya bisa pasrah dengan keadaan. Seorang muslim dan mukmin yang mengalami hal demikian semestinya tak perlu merasa sedemikian susah karena Allah subhânahu wa ta’âla telah menjanjikan keadilan atas setiap perilaku zalim yang dilakukan para hamba-Nya. Keimanan yang dimiliki semestinya mampu menguatkan hatinya untuk tetap tegar dengan harapan keadilan yang dijanjikan itu.

Sebaliknya seorang muslim dan mukmin semestinya tidak berlaku zalim kepada sesama makhluk Allah baik berupa tindakan ataupun ucapan, karena sekecil apa pun tindak kezaliman pasti akan terbalaskan.

Di dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 42 secara tegas Allah menyatakan:

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

Artinya: “Dan janganlah sekali-kali engkau menyangka Allah lalai dari apa yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari di mana pandangan-pandangan terbelalak.”

Dari ayat tersebut jelas dinyatakan bahwa Allah akan memberikan balasan kepada setiap pelaku kezaliman kelak di hari kiamat di mana setap mata manusia akan terbelalak menyaksikan berbagai hal yang terjadi di hari kiamat.

Syekh Nawawi Banten dalam kitab tafsirnya Marâh Labîd menjelaskan bahwa apabila Allah tidak membalaskan bagi orang yang dizalimi atas kezaliman yang dilakukan oleh seorang hamba-Nya yang menzalimi, maka ada salah satu kemungkinan yang terjadi pada dzat Allah namun hal itu mustahil terjadi pada-Nya. Ketiga kemunginan itu adalah:

Pertama, bisa jadi Allah lalai dan lupa akan orang yang bertindak zalim tersebut. Jelas hal ini tidak mungkin terjadi pada dzat Allah. Tak mungkin Allah memiliki sifat lalai atau lupa pada apa dan siapa pun.

Kedua, bisa jadi Allah lemah tak mampu untuk melakukan pembalasan. Hal ini juga jelas mustahil terjadi pada dzat Allah. Tak mungkin Allah tidak mampu melakukan pembalasan kepada hamba-Nya sendiri.

Ketiga, Allah ridlo dengan tindak kezaliman yang dilakukan sang hamba. Ini juga tidak mungkin mengingat Allah sendiri yang mengharamkan para hamba-Nya melakukan tindak kezaliman di antara sesama hamba. Bahkan dalam berbagai ayat Allah juga menyatakan tidak akan berbuat zalim kepada para hamba-Nya. Karenanya tidak mungkin bila Allah ridlo terhadap suatu kezaliman sehingga tak melakukan pembalasan.

Ketiga kemungkinan tersebut semuanya adalah hal yang tak mungkin terjadi pada dzat Allah. Karena ketiga hal itu mustahil bagi Allah maka bisa dipastikan setiap tindak kezaliman yang dilakukan oleh seorang hamba kelak akan dibalas oleh Allah. Hanya saja balasan tersebut tidak segera dilakukan di dunia. Allah menangguhkannya sampai kelak datangnya hari kiamat di mana setiap mata akan terbelalak menyaksikan kedahsyatan yang terjadi di sana.

Imam Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi di dalam kitab tafsirnya Ma’âlimut Tanzîl menuturkan bahwa ayat di atas merupakan pelipur bagi orang-orang yang dizalimi dan juga ancaman bagi siapa saja yang berbuat zalim. 

Mereka yang menerima perlakuan yang tidak semestinya tak perlu risau karena pada hari kiamat kelak Allah akan memberikan pahala berlipat baginya dan membalas pelakunya dengan balasan setimpal. Sementara setiap orang yang berlaku zalim mesti segera meminta maaf kepada yang dizaliminya karena balasan dari Allah pasti adanya.

Di era digital sekarang ini ayat ini juga menjadi alarm bagi kita untuk berhati-hati dalam berinteraksi melalui dunia maya. Menggunakan media sosial secara baik, benar dan cerdas adalah satu pilihan yang menjadkan kita bisa terhindar dari ancaman ayat tersebut. 

Sebaliknya postingan yang menebar kebohongan dan kebencian, yang menjadikan pihak tertentu merasa dirugikan dan terancam baik jiwa, harta maupun kehormatannya, adalah perilaku zalim yang menjadikan pelakunya sulit menghindar dari balasan Allah yang dinyatakan pada ayat tersebut. Wallîahu a’lam. (Yazid Muttaqin)

Rabu 11 April 2018 16:30 WIB
Mengambil Pendidikan Luhur dari Isra’ Mi’raj
Mengambil Pendidikan Luhur dari Isra’ Mi’raj
Coba kita membayangkan diri kita dalam sebuah kondisi yang sangat menyulitkan dan mengancam keselamatan. Setiap hari kita dimusuhi oleh para tetangga, disakiti orang-orang sekitar dengan berbagai tindakan dan ucapan, dicemooh, dikucilkan dan lain sebagainya tanpa ada satu kesalahan pun yang kita perbuat kepada mereka. Semua hanya karena salah paham dan ketidaktahuan mereka tentang kita. Adakah Anda merasa betah hidup di lingkungan yang demikian?

Pada kondisi seperti itu tiba-tiba ada seorang yang dipandang mulia, berkedudukan tinggi, berpengaruh luas di masyarakat, mengundang Anda untuk hadir ke rumahnya. Di sana Anda dijamu bak raja dan diperlakukan dengan sangat manusiawi. Segala kebaikan yang sedikitpun tak pernah Anda rasakan di kampung Anda kini Anda raih dari orang yang luar biasa baik ini. Apa pun yang Anda butuhkan pasti akan dipenuhinya dengan segala hormat. Dan bila Anda diberi kesempatan untuk memilih, akankah Anda memilih tetap tinggal bersamanya atau pulang kembali ke rumah Anda dengan risiko akan kembali menghadapi berbagai kesusahan dan ancaman keselamatan?

Gambaran yang demikian itu yang dihadapi oleh Baginda Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum dan ketika ia berisra’ mi’raj. Para ahli sejarah menuturkan bahwa ia di-isra’ mi’raj-kan oleh Allah di sebuah masa yang oleh mereka disebut ‘âmul huzni, tahun kesedihan. Dinamakan demikian karena pada saat itu Rasulullah mengalami beberapa peristiwa yang menjadikan ia sangat terpukul dan mengalami kesedihan yang teramat sangat.

Setidaknya ada tiga hal yang menjadikan alasan tahun itu disebut sebagai tahun kesedihan. Pertama, pada tahun itu paman beliau, Abu Thalib, meninggal dunia. Bagi Rasulullah sang paman adalah perisai dakwahnya. Ia yang selama ini membentengi sang rasul dari tindakan-tindakan keji yang akan dilakukan oleh kaum kafir quraisy atas dakwah yang dilakukannya. Karena kedudukan dan kehormatan sang paman di kalangan penduduk Makkah mereka segan untuk menyakiti nabi. Maka ketika Abu Thalib meninggal dunia kaum kafir Quraisy bergembira. Tak ada lagi orang yang menghalangi usaha-usaha mereka untuk menghentikan dakwah Nabi Muhammad. Tidak adanya Abu Thalib berarti tidak adanya lagi orang tua yang membela dan melindungi Rasul dalam menyampaikan risalah Tuhan.

Kedua, pada tahun yang sama istri Rasulullah, Sayidatina Khadijah, meninggal dunia. Kepergian istri tercinta ini dirasa sangat berat oleh ia. Baginya Khadijah bukan saja seorang istri tercinta. Ia adalah pendamping dakwah sang suami yang selalu membuat tenteram hati ketika berbagai rintangan ditemui. Dukungannya terhadap dakwah rasul tak hanya ditunjukkan dengan sikap sebagai istri, tapi juga dengan segala kemampuan harta benda yang dimiliki sebagai seorang yang kaya raya di masanya. Kehilangannya adalah kemarau yang merenggut setiap sumber air kehidupan.

Ketiga, sebelum isra’ mi’raj kaum kafir quraisy mengisolasi seluruh keluarga Rasul yang terkumpul dalam Bani Hasyim. Mereka melarang setiap orang berhubungan dengan Bani Hasyim dalam segala hal. Tak ada komunikasi, transaksi jual beli, dan berbagai bentuk hubungan lainnya dengan Bani Hasyim. Ini menjadikan Rasulullah beserta segenap keluarga besarnya mengalami kesulitan hidup yang luar biasa.

Dalam masa kesedihan dan kesusahan seperti itulah Allah meng-isra-mi’raj-kan Rasulullah, memperjalankannya dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina, lalu menuju sidratul muntaha untuk bertemu langsung dengan-Nya. Ketika Rasul sampai di sidratul muntaha ia disambut penuh hangat oleh Allah dan terjadi dialog yang akrab di antara keduanya. 

Tentu apa yang dialami oleh Rasul ini sangat berkesan dan menjadi pelipur lara baginya. Bila sebelumnya di bumi ia menerima cacian, hinaan, dan perilaku tidak baik  lainnya, maka kini di langit ia menerima kemuliaan dan segala perilaku hormat yang luar biasa dari Dzat yang maha luar biasa.

Namun semua kemuliaan yang diterima ini tak membuat Rasulullah lupa diri. Enak dan tenteramnya berada di sisi Allah tak membuatnya enggan untuk kembali lagi ke bumi. Sebagai seorang kekasih, barangkali, andai saja ia meminta kepada Allah untuk terus berada di langit dengan segala kenikmatannya tentulah permintaan itu akan dipenuhi. Namun hal itu tidak dilakukannya. Ia lebih memilih untuk kembali turun ke bumi dengan segala risiko yang akan dihadapi. Baginya setiap kenikmatan yang didapatkan saat bersama Tuhan di langit mesti dibagi dan ditebarkan sebagai rahmat di muka bumi.

Sikap ini menjadi pendidikan luhur bagi umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Naik dan bertemunya Rasulullah dengan Allah adalah sebuah gambaran seorang yang sedang atau telah berada pada posisi atas, baik dalam hal ruhani atau lainnya seperti status sosial, ekonomi, dan pangkat jabatan.  Sedang turunnya beliau ke bumi adalah cerminan sikap tidak melalaikan dan mau berbagi kebahagiaan kepada mereka yang kebetulan berada pada posisi bawah.

Sedekat apa pun seorang Muslim dengan tuhannya tidak semestinya ia lebih suka berasyik masyuk dalam sejumlah ritual ibadah lalu lupa berbaik-baik dengan masyarakat di sekitarnya. Kedekatannya dengan Allah semestinya juga menjadikannya dekat dan baik terhadap sesama makhluk-Nya. Kebaikan yang ia hasilkan dari kedekatannya dengan tuhan semestinya tidak ia nikmati sendiri, namun semestinya ia bagi dalam bentuk baiknya hubungan dengan sesama makhluk baik manusia, binatang, pepohonan, jalanan, sungai-sungai, dan lingkungan sekitar pada umumnya.

Seorang yang secara ekonomi sedang atau telah berada di atas semestinya kemampuan ekonominya itu tidak ia nikmati sendiri. Dengan kemampuan ekonominya ia semestinya juga memampukan orang-orang yang ada di sekitarnya. Mereka yang memiliki kedudukan dan jabatan yang tinggi semestinya tidak memanfaatkan kedudukan dan jabatannya itu hanya untuk kepentingan diri dan keluarga, namun juga untuk memberikan sebesar-besar kemanfaatan dan kemaslahatan lingkungannya.

Tidak dipungkiri memang, bahwa untuk turun memberikan sebanyak dan sebesar manfaat dan maslahat bagi mereka yang ada di bawah berbagai rintangan mesti dihadapi, cobaan mesti dilewati, dan pengorbanan mesti dilakoni. Sebagaimana Rasulullah juga menyadari bahwa beribu rintangan, cobaan dan pengorbanan telah menantinya bila turun kembali ke bumi untuk menebar rahmat bagi semesta ini. (Yazid Muttaqin)

Senin 9 April 2018 20:0 WIB
Empat Amalan Pengganti Sedekah Harta
Empat Amalan Pengganti Sedekah Harta
Ilustrasi (Pixabay)
Bersedekah harta merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan. Selain bernilai sebagai ibadah vertikal, yakni ibadah antara seorang hamba dengan Allah subhanahu wata’ala, sedekah juga bernilai sebagai ibadah horizontal, yakni ibadah antara seorang hamba dengan hamba yang lain.

Betapa tidak, karena mendapatkan sedekah, kehidupan seseorang bisa terjamin, setidaknya untuk beberapa hari. Oleh karena itu, sedekah tidak hanya menambah pahala, tetapi juga menambah keberlangsung kehidupan seseorang.

Sayangnya, tidak semua orang mampu mengerjakan ibadah satu ini. Orang-orang yang tidak memiliki keuangan yang cukup, tentu tidak mampu untuk melaksanakan ibadah ini.

Mengenai hal ini Rasulullah pernah memberikan salah satu amalan yang kedudukannya dapat menyamai pahala sedekah. Dalam sebuah hadits riwayat Imam al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra dan juga diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِى بُرْدَةَ بْنِ أَبِى مُوسَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ. قَالُوا : فَإِنْ لَمْ يَجِدْ؟ قَالَ : فَيَعْمَلُ بِيَدِهِ فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقُ. قَالُوا : فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ أَوْ لَمْ يَفْعَلْ قَالَ : فَيُعِينُ ذَا الْحَاجَةِ الْمَلْهُوفَ. قَالُوا : فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ قَالَ : فَيَأْمُرُ بِالْخَيْرِ أَوْ قَالَ بِالْمَعْرُوفِ. قَالُوا : فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ قَالَ : فَلْيُمْسِكْ عَنِ الشَّرِّ فَإِنَّهُ لَهُ صَدَقَةٌ 

"Wajib bagi setiap Muslim untuk bersedekah." Kemudian beberapa orang bertanya, "Jika ia tidak mampu, wahai Rasul?" Rasul kemudian menjawab, "Hendaknya bekerja dengan tangannya sendiri, kemudian bermanfaat bagi dirinya dan bersedekah." Mereka kemudian bertanya kembali, "Jika tidak bisa?" Rasul pun menjawab, "Maka boleh dengan menolong orang yang sedang membutuhkan pertolongan." Mereka masih saja bertanya, "Jika tidak dikerjakan wahai Rasul?" Rasul menjawab, "Maka boleh dengan meneggakkan kebenaran atau mengatakan yang jujur." Mereka bertanya kembali, "Jika masih belum bisa melakukan?" Rasul menjawab, "Maka sebaiknya menahan diri berbuat kejelekan, karena hal itu bernilai sedekah baginya." (Abu Bakar Ahmad bin al-Husain al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, Hederabad, Majelis Dairah al-Maarif, 1344 H, juz 4, halaman 188)

Setidaknya dari hadits di atas, ada empat hal yang bisa dilakukan seseorang sebagai amalan pengganti sedekah. 

Pertama, bekerja kemudian dari hasil kerjaan tersebut bisa bermanfaat bagi dirinya kemudian bersedekah.

Kedua, menolong orang yang sedang membutuhkan bantuan.

Ketiga, menegakkan kebenaran dan berkata jujur.

Keempat, menahan diri agar tidak melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama.

Berdasarkan hadits tersebut, Badruddin al-Aini dalam Umdatul Qari fi Syarhi Sahih al-Bukhari menjelaskan bahwa sedekah merupakan bentuk kasih sayang kepada makhluk Allah subhanahu wata’ala. Dan bentuk kasih sayang tidak hanya dihasilkan dari harta, bisa juga dari amalan atau perilaku kita.

يستفاد منه أن الشفقة على خلق الله تعالى لا بد منها، وهي إما بالمال أو بغيره، والمال إما حاصل أو مقدور التحصيل له والغير، إما فعل، وهو: الإعانة، أو ترك وهو: الإمساك، وأعمال الخير إذا حسنت النيات فيها تنزل منزلة الصدقات في الأجور ولا سيما في حق من لا يقدر على الصدقة، ويفهم منه أن الصدقة في حق القادر عليها أفضل من سائر الأعمال القاصرة على فاعلها

Artinya: “Dari hadits tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa kasih sayang kepada makhluk Allah merupakan sebuah keharusan. Hal ini bisa dilakukan dengan harta atau sesuatu yang lain. Adapun kasih sayang dengan harta bisa atau mampu bermanfaat bagi pemberi dan yang lainnya (penerima). Dan juga bisa dilakukan dengan amalan atau tindakan, yaitu dengan menolong atau meninggalkan, yakni seperti menahan (agar tidak berbuat jelek kepada orang lain). Adapun perbuatan-perbuatan yang baik jika dilandasi dengan niat yang baik maka setara dengan pahala bersedekah, khususnya bagi orang yang tidak mampu untuk bersedekah. Dan bisa difahami bahwa sedekah yang sesuai dengan kemampuan lebih utama daripada banyak amalan akan tetapi hanya terbatas (manfaatnya) bagi orang yang mengerjakannya saja.” (Badruddin al-Aini, Umdatul Qari fi Syarhi Sahih al-Bukhari, Beirut, Dar Ihya Turats al-Arabi, t.t., juz 8, halaman 312)

Inti dari pernyataan al-Aini di atas adalah bahwa setiap hal baik, misalnya sedekah sesuai kemampuan jika dilandasi dengan niat baik dan bermanfaat bagi orang lain, maka pahalanya setara dengan pahala sedekah serta lebih baik daripada banyaknya amalan akan tetapi hanya bermanfaat pada diri sendiri.

Menurut al-Aini, keempat amalan ini diurutkan berdasarkan kemampuan seseorang. Sehingga keempat urutan ini bersifat pilihan, yakni seseorang bisa memilih sesuai amalan yang ia mampu. Jika ia mampu mengerjakan semuanya, maka hal itu lebih baik.

واعلم أنه لا ترتيب فيما تضمنه الحديث المذكور، وإنما هو للإيضاح لما يفعله من عجز عن خصلة من الخصال المذكورة، فإنه يمكنه خصلة أخرى، فمن أمكنه أن يعمل بيده فيتصدق، وأن يغيث الملهوف وأن يأمر بالمعروف وينهى عن المنكر ويمسك عن الشر فليفعل الجميع.

Artinya, “Perlu diketahui bahwa tidak ada urutan secara khusus untuk poin yang terdapat dalam hadits tersebut. Sebenarnya hal itu merupakan penjelas atas hal yang bisa dilakukan orang yang tidak mampu mengerjakan salah satu amalan dan bisa memilih untuk mengerjakan amalan lain yang ia mampu. Jika memungkinkan untuk melakukan semuanya: bekerja dan bersedekah, menolong orang, menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran serta menahan untuk melakukan perbuatan tercela, maka lakukanlah semuanya.” (Badruddin al-Aini, Umdatul Qari fi Syarhi Sahih al-Bukhari, juz 8, halaman 312). Wallahu A’lam. (M. Alvin Nur Choironi)