IMG-LOGO
Ilmu Hadits
MUSTHALAH HADITS

Mengenal Kredibilitas Perawi Hadits lewat Jarh dan Ta’dil

Rabu 18 April 2018 20:0 WIB
Share:
Mengenal Kredibilitas Perawi Hadits lewat Jarh dan Ta’dil
Penelitian sebuah hadits tidak bisa dilepaskan dari penelitian terhadap pembawa haditsnya dalam hal ini adalah seorang perawi, terutama terkait kredibiltas, integritas, dan validitas. Lima syarat disepakati oleh ulama muhadditsin. Dua di antaranya harus dipastikan dalam diri perawi. Syarat tersebut adalah adil dan dhabit. Perpaduan antara adil dan dhabit ini biasa disebut sebagai tsiqah.

Untuk mengetahui keadilan dan kedhabitan seorang perawi, diperlukan tanshih (ketetapan) dari para ulama terhadap perawi tersebut. Ketetapan ulama tersebut memiliki berbagai maratib (derajat). Derajat-derajat itu dibagi menurut kata yang digunakan untuk memvonis (mentanshih) seorang perawi tersebut.

Maka dari itu, diperlukan ilmu jarh wa ta’dil untuk mengetahui derajat-derajat tersebut.

Secara ringkas, Imam Jalaluddin As-Suyuthi merangkum seluruh tingkatan jarh wa ta’dil dari beberapa imam sebelumnya, seperti Ibnu Shalah, Ad-Dzahabi, Al-Iraqi dan Ibnu Hajar Al-Asqalani. As-Suyuthi merangkum enam tingkatan lafadz jarh dan enam tingkatan lafadz ta’dil. (As-Suyuthi, Tadribur Rawi fi Syarh Taqrib An-Nawawi, [Riyadh: Maktabah Riyadh Al-Haditsah, tanpa catatan tahun] halaman 342-348).

Hal ini juga dijelaskan oleh Mahmud Thahhan dalam Taysir Musthalah Hadits, (Riyadh: Maktabah Maarif, 2004 M, halaman 189-192).

Berikut enam tingkatan lafadz ta’dil:

Pertama, kata-kata yang menunjukkan mubalaghah (intensitas maksimal) yang berbentuk af’alut tafdhil dan sejenisnya. Seperti kata-kata أوثق الناس (yang paling tsiqat), أضبط الناس  (yang paling dhabith), ليس له نظير (tiada bandingannya), dan lain sebagainya.

Kedua, kata-kata yang mengukuhkan kualitas tsiqat dengan salah satu sifat di antara sekian sifat ‘adil dan tsiqat, yakni dengan mengulang kata yang sama secara lafal dan makna. Misalnya: ثقة ثقة , ثقة مأمون, ثقة حافظ, dan lain-lain.

Ketiga, kata-kata yang menunjukkan sifat ‘adil yang sekaligus menyiratkan kedhabithan seorang perawi tanpa taukid. Misalnya: ثبت, متقن , عدل إمام حجة, عدل ضابط، ثقة dan lain-lain.

Keempat, kata-kata yang menunjukkan sifat ‘adil, tetapi menggunakan kata yang tidak menyiratkan kedhabithan. Misalnya: صدوق , مأمون, لا بأس به . Namun pernyataan lâ ba’sa bihi jika diucapkan oleh Yahya bin Ma’in, maka artinya tsiqah.

Lafal yang tingkatannya setara dengan tingkat ini adalah kata-kata yang menunjukkan kejujuran perawi, tapi tidak menunjukkan kedhabithannya. Misalnya: محله الصدق , صالح الحديث. Sebagian ulama menyamakan kedua kata itu dengan tingkat keenam.

Keenam, kata-kata yang sedikit menyiratkan makna tajrih, seperti penyertaan kata-kata di atas dengan kalimat masyi’ah. Misalnya: شيخ ببعيد من الصواب, صويلح, صدوق أن شاء الله. Dan lain-lain.

Adapun hadits pada tingkatan pertama hingga ketiga bisa dijadikan hujjah. Sedangkan hadits pada tingkatan keempat dan kelima tidak bisa dijadikan hujjah, tetapi haditsnya boleh disampaikan, ditulis dan dijadikan i’tibar (dijadikan pendukung dari hadits lain).

Hadits pada tingkatan keenam hanya bisa dijadikan i’tibar, tidak bisa ditulis atau disampaikan apalagi dijadikan hujjah.

Tingkatan lafal jarh, para ulama muhadditsin juga membaginya menjadi enam. Urutan yang pertama lebih mendekati ta’dil daripada tingkatan-tingkatan setelahnya.

Pertama, menyifati perawi dengan sifat-sifat yang menunjukkan kedha’ifannya, akan tetapi dekat dengan ta’dil. Misalnya: ليس بذلك القوي, ليس بحجة, فيه مقال, فيه ضعف, dan غيره أوثق منه.

Kedua, kata-kata yang menunjukkan penilaian dha’if atas perawi atau kerancuan hafalannya. Misalnya: مضطرب الحديث, لا يحتج به, ضعفوه (ulama menilainya dha’if), له مناكير (ia memiliki hadits-hadits munkar), ضعيف. atau yang sejenis.

Ketiga, kata-kata yang menunjukkan bahwa perawi tersebut sangat dha’if. Misalnya: رد حديثه, ضعيف جدا, ليس بشيئ, طرح حديثه, dan لا يكتب حديثه. dan lain-lain.

Keempat, kata-kata yang menunjukkan bahwa seorang perawi tertuduh sebagai pendusta, pemalsu, atau yang sejenis. Misalnya متهم بالكذب, متهم بالوضع, يسرق الحديث. Disamakan dengan tingkat ini adalah kata-kata yang menunjukkan ditinggalkan haditsnya. Misalnya: متروك, هالك, ليس بثقة. dan lain-lain.

Kelima, jarh dengan kedustaan atau pemalsuan. Misalnya كذاب, وضاع. merupakan kata-kata yang menunjukkan mubalaghah tetapi masih lebih ringan daripada tingkatan di bawah.

Keenam, kata-kata yang menunjukkan mubalaghah dalam hal jarh. Misalnya أكذب الناس, ركن الكذب. dan lain-lain.

Para perawi yang dinilai dengan tingkatan pertama dan kedua, haditsnya tidak boleh dijadikan sebagai hujjah. Tetapi hadits ini bisa digunakan sebagai i’tibar. Sedangkan perawi yang tergolong tingkatan tiga hingga enam, tidak bisa dijadikan itibar, apalagi untuk disampaikan dan dijadikan hujjah. Wallahu a‘lam. (M Alvin Nur Choironi)
Share:
Ahad 15 April 2018 6:0 WIB
MUSTHALAH HADITS
Ini Cara Al-Iraqi Verifikasi Hadits di Kitab Ihya’ Ulumiddin
Ini Cara Al-Iraqi Verifikasi Hadits di Kitab Ihya’ Ulumiddin
(Foto: ok.ru)
Kita sering mendengar selentingan orang-orang tertentu bahwa hadits-hadits dalam Kitab Ihya Ulumiddin banyak yang dhaif bahkan maudhu. Selentingan itu tetap terdengar meski Imam Al-Ghazali sendiri pernah menyebutkan bahwa hadits yang ia tulis selalu ditanyakan secara langsung kepada Rasulullah SAW, baik melalui mimpi maupun terjaga (bertemu dalam keadaan sadar).

Pernyataan Al-Ghazali tersebut tidak bisa dijadikan parameter dalam memastikan kesahihan sebuah hadits. Karena secara prosedur, penelitian otentisitas hadits tidak bisa dilakukan melalui mimpi, atau bertemu langsung dengan orang yang sudah wafat. Ini tidak bisa diteliti kembali.

Melihat kesimpangsiuran hadits dalam Kitab Ihya’ Ulumiddin tersebut, muncullah seorang ulama kelahiran Mahran yang menulis sebuah kitab berjudul Al-Mughnī ‘an Ḥamlil Aṣfār fil Aṣfār yang merupakan kitab takhrij atas hadits-hadits yang ada dalam Ihya’ Ulumiddin.

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Kitab Inba’il Ghumar bi Abna’il Umar menyebutkan bahwa ulama yang memiliki nama lengkap ‘Abdurrahim bin Al-Husain bin ‘Abdurrahman bin Abi  Bakr  bin  Ibrahim  Al-Kurdi  Ar-Raziyani ini merupakan keturunan  bangsa  ‘Iraq, kelahiran kota Mahran, Mesir dan bermadzahab Syafi’i. Ia lahir pada tahun 725 H dan wafat pada tahun 806  H (81 Tahun).

Al-Iraqi merupakan pengajar di beberapa madrasah: Darul  Hadits, Al-Kamilah, Az-Zhairiyyah Al-Qadimah, Al-Qaransiqriyah, Jami’ Ibnu Thulun, dan Al-Fadhilah. Ia juga pernah  tinggal  di  dekat  Al-Haramain  dalam  beberapa waktu. Bahkan ia pernah  menjabat sebagai hakim di Madinah An-Nabawiyah, berkhutbah dan menjadi Imam di sana.

Selain Al-Mughni, Al-Iraqi juga menulis beberapa karya dalam bidang hadits dan ilmu hadits. Karyanya adalah Kitab Al-Marasil, Taqribul Isnad, At-Tabshirah wat Tadzkirah, Al-Alfiyah fi Gharibil Qur'an, At-Tafsir wal Idhah fi Mushthalahil Hadits, Tharhut Tatsrib fi Syarhit Tatsrib, Syarah At-Tirmidzi, bahkan ia juga pernah membuat syair dan syarh ilmu hadits dari Ibnu Shalah.

Mengenal Kitab Al-Mughni
Imam Ahmad bin Muhammad bin As-Siddiq Al-Ghummari dalam Khuṣūlut Tafrīj bi Ūṣūlit Takhrīj menjelaskan bahwa Al-Mughni merupakan kitab takhrij hadits dari Kitab Ihya’ Ulumiddin karya Al-Ghazaly (505 H). Selain itu kitab ini merupakan ringkasan dari kitab takhrij “Ihya” sebelumnya yang belum selesai.

Sebelum menulis Al-Mughni, Al-Iraqi terlebih dahulu menulis Kitab Al-Takhrījul Kabīr: Ikhbārul Aḥyā’ bi Akhbāril Iḥyā’ yang sama-sama merupakan takhrij dari kitab Ihya karangan Al-Ghazali. Namun kitab ini tidak sampai rampung. Kitab ini hanya ditulis Al-Iraqi hanya sampai bab haji dalam bab Ihya’.

Setelah menulis At-Takhrījul Kabīr: Ikhbārul Aḥyā’ bi Akhbāril Iḥyā’ yang tidak sampai usai, Al-Iraqi kembali mengarang takhrij Ihya yang lebih ringkas. Kitab ini ia bernama Al-Takhrījul Wasṭ: Al-Kasyful Mubīn fi Takhrīj Ahādīts Iḥyā’ Ulūmiddin. Sebagaimana pendahulunya, kitab ini juga tidak sampai selesai, bahkan ada beberapa hadits yang tawaqquf.

Baru setelah menulis dua kitab yang semuanya tidak sampai selesai, Al-Iraqi menulis kitab yang lebih ringkas dari pada dua kitab pendahulunya. Kitab ini diberi judul Al-Takhrījus Ṣāghīr: Al-Mughnī ‘an Ḥamlil Aṣfār fil Aṣfār. Tidak seperti kedua pendahulunya yang tak sampai selesai, kitab ini berhasil dirampungkan oleh Al-Iraqi. Kitab ini yang akan kita bahas metodenya nanti.

Rancang Bangun (Outline) Kitab Al-Mughni
Kitab ini ditulis menjadi bab per bab dan disesuaikan dengan bab-bab yang ditulis oleh Al-Ghazali dalam Kitab Ihya. Bahkan beserta sub-sub bab yang ditulis oleh Al-Ghazali. Setelah itu dikumpulkan semua hadits yang terdapat dalam bab tersebut beserta nomor juz dan halaman. Semua hadits yang dikumpulkan diberi nomor oleh Al-Iraqi. Baru setelah itu ia menakhrij hadits dengan hanya mencantumkan kitab-kitabnya dan juga justifikasinya.

Mengenai cara yang digunakan oleh Al-Iraqi dalam menulis kitab ini, Ahmad Al-Ghummari memberikan pendapat bahwa saat ini para pembaca terlalu rumit jika membaca sanad yang terlalu panjang sehingga cara yang digunakan oleh Al-Iraqi ini dianggap efektif.

Metode Takhrij Al-Iraqi dalam Kitab Al-Mughni
Dalam menyusun kitab Al-Mughni ini, Al-Iraqi menggunakan metode sebagaimana berikut:

Pertama, hanya menyebutkan ujung hadits, periwayat dari sahabat, mukharrij serta justifikasi (terkadang menyebutkan hadits versi lengkap dalam mukharrijnya). Ia tidak mentakhrij atsar kecuali ada faedah.

Kedua, jika sebuah hadits ditemukan di Shahihain maka ia cukup menisbatkan dan mempercayakan padanya terkait statusnya. Terkadang beberapa mukharrij lain juga sama.

Ketiga, jika hadits tersebut terdapat dalam kitab sittah, dan tidak dinisbatkan lagi dalam kitab lain, berarti hadits tersebut shahih dalam kitabnya sekiranya lafal yang digunakan mukharrij sama atau mendekati lafadz di Ihya.

Keempat, Menjelaskan shahih, hasan, dhaif atau bahkan hadits yang La aṣla lah, (tak ada sumbernya).

Kelima, Ia terkadang mengutip pendapat ulama dalam sebuah hadits seperti Ibnu Shalah dan An-Nawawi.

Keenam, terkadang ia menjelaskan hadits riwayat lain yang menyebutkan kata semakna walaupun ia telah menemukan dalam kitab tertentu.

Ketujuh, jika tidak menemukan hadits, ia akan mencari yang agak mendekati, jika masih tidak ketemu, ia cukup berkata “Lam ajidhu”.

Kedelapan, jika haditsnya sama, ia cukup menyebutkan (taqaddama fi...).

Beberapa Fakta yang Terdapat dalam Kitab Al-Mughni
Ada beberapa fakta menarik yang terdapat dalam karya Al-Iraqi ini.

Pertama, ternyata tidak semua hadits ditakhrij oleh Al-Iraqi. Hal ini dibuktikan dengan beberapa kitab takhrij yang muncul setelahnya, yaitu Al-Istidrak ala Takhrijil Ihya karya Al-Asqalani, Tuhfatul Ahya’ fi ma Fata min Takharijil Ihya karya Al-Qasim bin Qatlubghi; dan Ithaf Sadatil Muttaqin karya Az-Zubaidi.

Kedua, Al-Iraqi sering menyebut nama Ibnu Lahiah. Jika dalam sanad ada rawi tersebut dengan nama tersebut, artinya Al-Iraqi meragukan atau bahkan mendhaifkan hadits tersebut, mengingat Ibnu Lahiah merupakan perawi yang berubah menjadi tidak dhabt setelah kitab-kitabnya terbakar. Wallahu a‘lam. (M Alvin Nur Choironi)
Sabtu 14 April 2018 17:30 WIB
MUSTHALAH HADITS
Ini Kategori Referensi Otentik dalam Verifikasi Hadits atau Takhrij
Ini Kategori Referensi Otentik dalam Verifikasi Hadits atau Takhrij
(Foto: ss.lv)
Takhrij hadits merupakan salah satu cabang ilmu dalam keilmuan hadits yang digunakan sebagai salah satu metode untuk menemukan sebuah hadits dari sumber asalnya. Lalu kategori apa yang digunakan untuk melihat sumber asli hadits terkait takhrij atau verifikasi hadits?

Mahmud Thahhan dalam kitabnya yang berjudul Ushulut Takhrij wa Dirasatul Asanid menjelaskan definisi takhrij sebagai berikut:

الدلالة علي موضع الحديث في مصادره الأصلية التي أخرجته بسنده ثم بيان مرتبته عند الحاجة

Artinya, “Petunjuk untuk mengetahui ke tempat hadits dalam sumber aslinya yang ditunjukkan dengan sanadnya, kemudian menjelaskan tingkatannya ketika dibutuhkan,” (Lihat Mahmud Thahhan, Ushulut Takhrij wa Dirasatul Asanid, [Riyadh: Maktabah Maarif, 1996], halaman 10).

Yang dimaksud petunjuk untuk mengetahui tempat hadits adalah menyebutkan kitab-kitab yang mencantumkan hadits tersebut. Contoh: Akhrajahul Bukhari fi saḥiḥihi. Ahkrajahu At-thabrani fi Mu’jamihi, dan lain sebagainya.

Lalu apa yang disebut dengan sumber asli?

Sumber asli adalah kitab-kitab hadits yang bisa dijadikan pedoman saat kita menakhrij hadits. Misalnya, kita menakhrij hadits dan berhasil menemukan hadits tersebut dalam puluhan kitab. Tidak semua kitab tersebut bisa dijadikan rujukan. Hanya kitab-kitab yang termasuk dalam kriteria sebagai sumber asli yang bisa dijadikan rujukan. Bisa jadi, dari puluhan kitab yang kita temukan, hanya tiga atau empat kitab yang memenuhi kategori sebagai sumber asli.

Apa saja kitab yang termasuk dalam sumber asli?

Mahmud Thahhan juga menjelaskan dalam kitabnya Ushulut Takhrij bahwa hanya ada tiga kategori sumber asli yang bisa dijadikan rujukan dalam menakhrij hadits. Tiga kategori tersebut adalah:

Pertama, kitab hadits yang ditulis oleh muallifnya, berdasarkan hasil talaqqi (pertemuan secara langsung/face to face) mualif tersebut dengan guru-gurunya yang sampai sanadnya ke Rasulullah SAW.

Adapun kitab-kitab yang termasuk kategori ini adalah: Kutubus Sittah (Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan An-Nasai, Sunan Ibnu Majah, Sunan Abi Dawud, dan Sunan At-Tirmidzi), Al-Muwattha Imam Malik, Mustadrak Al-Hakim, Mushannaf Abdur Razak, Musnad Ahmad, dan kitab-kitab lain yang sejenis.

Kedua, kitab-kitab hadits yang mengikuti kitab-kitab hadits sebelumnya (dalam poin pertama), seperti kitab-kitab yang mengumpulkan beberapa hadits dari kitab-kitab hadits dalam kategori pertama, seperti Kitab Al-Jam’u bainas Shahihain karya Al-Humaidi; atau kitab-kitab yang mengumpulkan hadits berdasarkan ujung sanad hadits (athraf) sebagian kitab hadits di poin pertama, yaitu Tuhfatul Asyraf bi Ma’rifatil Athraf karya Al-Mizi; atau kitab-kitab yang ditulis dengan cara meringkas dari kitab pada kategori pertama, yaitu Kitab Tahdzib Sunan Abi Dawud karya Al-Mundziri.

Jika secara sekilas, kita melihat bahwa Al-Mundziri membuang sanad hadits-hadits dalam kitabnya, sebenarnya secara hukum, sanad tersebut masih ada. Bagi yang ingin melihat sanad dari hadits tersebut, bisa langsung merujuk ke Kitab Sunan Abi Dawud.

Ketiga, kitab-kitab yang bergenre selain hadits, yaitu kitab fiqih, tafsir, sejarah, yang menyebutkan atau menyisipkan hadits, baik untuk penguat maupun motif lain. Namun dengan syarat, bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh penulisnya sendiri, dengan sanad miliknya sendiri yang tersambung hingga Rasulullah SAW, bukan mengutip hadits melalui sanad orang lain.

Contoh kitab-kitab yang termasuk dalam kategori ini adalah Tafsir At-Thabari dan Tarikh At-Thabari yang merupakan kitab tafsir dan sejarah karya Imam At-Thabari, begitu juga dengan kitab fiqih karya Imam As-Syafi’i yang berjudul Al-Umm. (Lihat Mahmud Thahhan, Ushulut Takhrij wa Dirasatul Asanid, [Riyadh: Maktabah Maarif, 1996], halaman 10-11).

Tiga kategori tersebut adalah kitab-kitab yang termasuk sumber asli dalam melakukan takhrij hadits. Jadi, ketika kita melakukan takhrij kemudian menemukan hadits dalam kitab yang tidak termasuk dalam kategori di atas, maka hasil takhrij tersebut sulit untuk dipertanggungjawaban. Wallahu a‘lam. (M Alvin Nur Choironi)
Ahad 8 April 2018 20:0 WIB
MUSTHALAH HADITS
Bolehkah Terima Hadits dari Perawi Syiah atau Khawarij?
Bolehkah Terima Hadits dari Perawi Syiah atau Khawarij?

Istilah bid’ah sering memicu konflik dan perdebatan karena masing-masing orang memiliki paham dan maksud tersendiri dari istilah bid’ah. Ahli bid’ah adalah kelompok di luar Ahlussunah wal Jamaah, yaitu Muktazilah, Syiah, dan Khawarij.

Dalam kajian hadits, istilah bid’ah identik dengan keyakinan atau teologi. Bid’ah dalam kajian hadits biasanya ditujukan untuk aliran Islam yang pemahaman teologinya bertentangan dengan Ahlussunah wal Jamaah, yaitu Mu’tazilah, Khawarij, Murji’ah, Rafidhah, dan lain-lain.

Karenanya, jangan sampai salah paham dengan maksud istilah bid’ah ini. Bid’ah di sini bukan berarti orang yang mengerjakan amalan semisal ziarah kubur, tawasul, tabarukan, dan lain-lain.

Mahmud Thahan dalam Taysiru Musthalahil Hadits membagi bid’ah dalam dua kategori. Ia mengatakan:

بدعة   نوعان: بدعة مكفرة، أي يكفر صاحبها بسببها، كأن يعتقد ما يستلزم الكفر. والمعتمد أن الذي ترد روايته من أنكر أمرا متواترا من الشرع معلوما من الدين بالضرورة، أو من اعتقد عكسه. بدعة مفسقة: أي يفسق صاحبها بسببه، وهو من لا تقتضي بدعته التكفير أصلا

Artinya, “Bid’ah ada dua macam: pertama, bid’ah mukaffirah, yaitu perbuatan yang bisa membuat pelakunya menjadi kafir, seperti meyakini sesuatu yang bisa membawa seseorang pada kekafiran. Menurut pendapat paling kuat, orang yang ditolak riwayatnya adalah orang yang mengingkari persoalan mutawatir dan termasuk bagian dari persoalan agama yang bersifat pasti, atau meyakini sebaliknya. Kedua, bid’ah mufassiqah, yaitu perbuatan bid’ah yang dapat membuatnya menjadi fasik dan tidak sampai pada kekafiran.”

Berdasarkan penjelasan di atas, bid’ah bisa dibagi menjadi dua kategori: bid’ah kafir dan bid’ah fasik. Bid’ah kafir, berati orang yang menentang sesuatu yang pasti dalam beragama. Misalnya, tidak meyakini kewajiban shalat, haji, dan puasa Ramadhan.

Adapun bid’ah fasik adalah orang yang memiliki keyakinan atau menganut paham keagamaan di luar Ahlussunah wal Jamaah, semisal Mu’tazilah, Khawarij, dan lain-lain.

Aliran teologis ini menurut pandangan Ahlussunah wal Jamaah tidak sampai pada kekafiran, tapi sebatas fasik teologis saja. Mayoritas ulama hadits menolak riwayat dari pelaku bid’ah kafir, serta menerima riwayat dari pelaku bid’ah fasik. Sebab itu, mayoritas ulama hadits menerima hadits dan riwayat dari Mu’tazilah, Syi’ah, Khawarij, dan lain-lain.

Meski demikian, tidak semua riwayat dari mereka diterima. Ada dua syarat yang harus dipenuhi. Kalau dua syarat ini terpenuhi, riwayat dari selain Ahlussunah wal Jamaah boleh diambil. Menurut Mahmud Thahan, syaratnya sebagai berikut:

ألا يكون داعية إلى البدعة وألا يروي ما يروج بدعته

Artinya, “Konten haditsnya tidak menggiring pada bid’ah dan tidak mengandung tema yang berkaitan dengan kebid’ahan mereka.”

Hadits dari selain Ahlussunah wal Jamaah boleh diterima dan diamalkan selama hadits itu tidak menggiring pada ideologi mereka dan tidak berkaitan dengan ideologi mereka. Artinya, hadits dari perawi Mu’tazilah boleh diamalkan selama konten haditsnya tidak berkaitan dengan ideologi Mu’tazilah.

Sebab itu, dalam penelitian A ‘Ubaidi Hasbillah ditemukan sejumlah perawi Khawarij yang dikutip haditsnya dalam kitab-kitab hadits Sunni, semisal Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, dan lain-lain.

Di antara perawi Khawarij yang dikutip riwayatnya oleh Al-Bukhari dan Muslim adalah Ikrimah, Jabir bin Zaid, Al-Walid bin Katsir, Tsaur bin Zaid, dan lain-lain. Periwayatan mereka diterima oleh sebagian ulama hadits karena setelah diuji dan dikaji informasi yang disampaikannya benar-benar otentik. Wallahu a‘lam. (Hengki Ferdiansyah)