IMG-LOGO
Trending Now:
Hikmah

Mbah Kiai Abdul Mannan Menolak Poligami meski Istri Meminta

Kamis 19 April 2018 13:30 WIB
Share:
Mbah Kiai Abdul Mannan Menolak Poligami meski Istri Meminta
Salah satu sebab seseorang melakukan poligami adalah alasan personal sebagaimana terjadi pada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam atas permintaan istri pertama, Siti Sarah. Nabi Ibrahim memenuhi permintaan itu dengan menikahi Siti Hajar hingga lahirlah Nabi Ismail ‘alaihis salam dari rahim istri kedua tersebut. Permintaan itu dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa hingga usia mencapai lebih dari 80 tahun, Nabi Ibrahim belum dikaruniai seorang anak. Kasus ini mirip dengan yang terjadi pada Mbah Kiai Abdul Mannan Solo. Bedanya, beliau menolak permintaan istri untuk poligami.

Mbah Kiai Abdul Mannan adalah salah seorang pendiri Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkyudan Surakarta, didirikan pada tahun 1930-an. Beliau adalah ayah dari Mbah Kiai Ahmad Umar Abdul Mannan yang mengasuh pesantren tersebut hingga beliau wafat pada tahun 1981. 

Penolakan Mbah Kiai Abdul Mannan untuk berpoligami meski diminta sendiri oleh istri beliau Mbah Nyai Mushlihah adalah karena memang beliau tidak pernah menginginkan poligami meski menikah tiga kali. 

Perkawinannya dengan istri pertama berakhir mufaraqah yang tak bisa dihindarkan. Perkawinannya dengan istri kedua berakhir ketika sang istri mendahului wafat. Perkawinannya dengan istri ketiga, Mbah Nyai Mushlihah, langgeng hingga Mbah Mbah Kiai Abdul Mannan wafat pada tahun 1964. Sedang Mbah Nyai Mushlihah sendiri wafat pada tahun 1981 beberapa minggu sebelum Mbah Kiai Ahmad Umar. 

Pertanyaannya adalah mengapa Mbah Nyai Mushlihah minta dimadu dan mengapa pula Mbah Kiai Abdul Mannan menolaknya? 

Minta Dimadu

Berdasar penuturan salah seorang putri Mbah Kiai Abdul Mannan, yakni Mbah Ngismatun Sakdullah Solo—biasa dipanggil Mbah Ngis (wafat 1994)—Mbah Nyai Mushlihah secara terus terang memohon kepada Mbah Kiai Abdul Mannan sebagai suami untuk menikah lagi dengan alasan karena beliau merasa sudah tua dan tak sanggup lagi memenuhi kewajibannya melayani hubungan suami-istri setelah menopause. Memang wanita yang sudah menopause pada umumnya mengalami banyak perubahan yang menyebabkan hilangnya gariah seksual dan menurunnya kemampuan berhubungan seks yang jika dipaksaan menimbulkan ketidaknyamanan baik secara fisik maupun psikis. 

Jadi alasan permintaan Mbah Nyai Mushlihah kepada Mbah KH Abdul Mannan untuk berpoligami bersifat personal sebagaimana permintaan Siti Sarah kepada Nabi Ibrahim. Hanya bedanya, Siti Sarah belum dikaruniai seorang anak pun, sedangkan Mbah Nyai Mushlihah sudah dikaruniai anak yang dilahirkan sendiri lebih dari 6 orang termasuk Mbah Ngis. Untuk itu Mbah Nyai Mushlihah bersedia melamarkan siapa pun yang dipilih Mbah Kiai Abdul Mannan untuk dijadikan madunya dengan maksud supaya hak-hak Mbah Kiai Abdul Mannan sebagai suami tetap bisa terpenuhi karena libido seksual laki-laki bertahan sampai mati. 

Meski Mbah Kiai Abdul Mannan sadar bahwa sang istri rela dimadu, beliau menolak permintaan itu karena pada dasarnya beliau tidak menginginkan poligami. Tentu ada beberapa alasan yang pada intinya demi menghindari mudarat yang lebih besar daripada kemanfaatannya. Poligami sudah pasti berpotensi menimbulkan kecemburun dan permusuhan di antara para istri dan anak-anak sebagaimana Siti Sarah mencemburui Siti Hajar dan bersikap tidak ramah. Padahal kehadirannya sebagai istri kedua atas permintaan Siti Sarah sendiri. 

Memilih Puasa

Di kalangan pesantren dikenal 3 tipologi kiai, yakni kiai ‘alim, kiai ‘abid dan kiai ‘arif. Secara sederhana, kiai ‘alim adalah kiai yang berpengetahuan ilmu agama luas dan banyak berkiprah di pengajaran ilmu-ilmu agama seperti di pesantren atau majelis-majelis ta’lim. Kiai ‘abid adalah kiai yang ahli ibadah dan banyak menghabiskan waktu dan tenaganya untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sedangkan kiai ‘arif adalah kiai yang menonjol ilmu hikmahnya dan banyak riadhah sehigga menjadi sosok yang arif bijaksana. Mbah Kiai Abdul Mannan lebih menonjol sebagai kiai 'arif

Mbah Kiai Abdul Mannan dalam menyikapi persoalan personalnya dengan Mbah Nyai Mushlihah yang sudah “meminta pensiun” dari tugas melayani urusan kasur bukannya menceraikan sang istri lalu menikah lagi dengan dalih menghindari perzinahan. Nafsu seksual laki-laki memang terus hidup selama hayat masih di kandung badan. Tetapi poligami bukan satu-satunya cara untuk mengatasi persoalan personal berupa syahwat. Ada cara lain, yakni berpuasa, sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim: “Puasa adalah perisai (peredam) syahwat.”

Cara berpuasa itulah yang dipilih Mbah Kiai Abdul Mannan dalam mencari solusi terbaik mengatasi persoalan syahwat di saat Mbah Nyai Mushlihah Abdul Mannan sudah tidak sanggup lagi memenuhi kewajibannya karena sudah udzur. Mbah Kiai Abdul Mannan mampu menjawab persoalan hukum (fiqih) dengan jawaban moral (akhlak) yang tentu saja lebih luhur karena puasa merupakan ibadah satu-satunya untuk Allah dan Dia sendiri yang akan membalasnya sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits qudsi riwayat Bukhari:“Semua amal manusia adalah miliknya, kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Aku yang akan memberikan balasannya.”


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Tags:
Share:
Selasa 17 April 2018 7:0 WIB
Yang Membuat Abu Bakar Marah
Yang Membuat Abu Bakar Marah
Abu Bakar adalah sahabat yang paling percaya dengan Nabi Muhammad. Ia meyakini semua yang disampaikan Muhammad adalah sesuatu yang benar (haq), tidak ada kebatilan sedikit pun di dalamnya. Ketika Islam didakwahkan kepadanya, Abu Bakar langsung memeluk Islam tanpa ada keraguan sedikit pun di hatinya. 

Ketika banyak umat Islam saat itu yang tidak percaya dengan Isra’ Mi’raj, Abu Bakar adalah orang pertama yang percaya. Maka tidak salah, jika Nabi Muhammad memberikan julukan as-Shiddiq (jujur) kepada Abu Bakar. Kejujuran, kejernihan pikiran, dan ketulusan hati Muhammad lah yang membuat Abu Bakar tidak memiliki rasa ragu sedikitpun terhadap Islam. 

Abu Bakar merupakan sahabat nabi yang memiliki sifat lemah lembut, tenang, serta tidak mudah terpancing hawa nafsu dan emosi. Saking lembut hatinya, Abu Bakar kerap kali menangis manakala membaca surat Al-Qur’an saat menjadi imam shalat. 
Dia merupakan ‘antitesa’ dari Umar bin Khattab yang terkenal ‘galak’, tegas, keras, dan tidak sungkan untuk marah. Hanya sedikit sekali riwayat yang menceritakan tentang kemarahan Abu Bakar.

Merujuk buku Abu Bakar As-Shiddiq: Sebuah Biografi karangan Muhammad Husain Haikal, ada dua kejadian yang membuat Khulafaur Rasyidin yang pertama ini sampai naik pitam. Pertama, kaum Muslim diejek oleh kaum Musyrik saat Kerajaan Persia berhasil mengalahkan Romawi. Ceritanya, kaum Musyrik ‘menyamakan’ kaum Muslim dengan kaum Kristen Romawi. 

Kaum Musyrik menuduh bahwa kekalahan Romawi atas Persia adalah disebabkan karena mereka (kaum Kristen Romawi) juga Ahli Kitab sebagaimana kaum Islam. Informasi ini sampai di telinga Abu Bakar dan membuatnya marah. 

Kedua, saat Finhas mengolok-olok ajaran Islam. Suatu ketika Abu Bakar menghampiri segerombolan Yahudi di Madinah. Ia menyeru kaum Yahudi tersebut untuk menerima Islam dan menyembah Allah. 

Salah seorang Yahudi, Finhas, menjawab ajakan Abu Bakar itu dengan ejekan dan cemoohan yang cukup keterlaluan. Kepada Abu Bakar, Finhas mengatakan bahwa Tuhan lah yang membutuhkan mereka, bukan sebaliknya. Finhas juga mengejek bahwa jika Tuhan itu kaya maka, maka Dia tidak akan meminta pinjaman kepada hambanya. 

Cemoohan Finhas ini merupakan satire dari Surat al-Baqarah ayat 245; Siapakah yang hendak meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, yang akan Dia lipatgandakan dengan sebanyak-banyaknya.

Apa yang dilakukan Finhas itu membuat Abu Bakar menjadi geram. Dia langsung memukul Finhas dengan sekuat tenaga. Tapi, karena pada saat kejadian ini ada perjanjian damai antara kaum Muslim dan Yahudi, maka Abu Bakar tidak meneruskan untuk menghajar Finhas.

Abu Bakar adalah orang yang tidak suka mengedepankan kekerasan dan amarah.  Ia hanya akan berubah menjadi keras dan marah apabila ajaran Islam dipermainkan. (A Muchlishon Rochmat)
Jumat 13 April 2018 11:30 WIB
Gus Dur dan Rumi, Kisah Kepergian Dua Zahid
Gus Dur dan Rumi, Kisah Kepergian Dua Zahid
Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid. (ist)
Suatu sore menjelang petang, tepatnya pada 30 Desember 2009, sekumpulan mahasiswa sebuah perguruan tinggi milik NU di Jakarta sedang melakukan kajian rutin mingguan membahas pemikiran tokoh-tokoh progresif dalam lintasan sejarah. Mereka saling silang pendapat berdasarkan referensi, bacaan, dan pemahaman masing-masing.

Di tengah lontaran-lontaran argumentasi, tetiba ada seseorang yang membuka pintu ruang diskusi. Orang tersebut tidak masuk ke ruangan, hanya membuka pintu dan terlihat kepalanya dan mengabarkan bahwa KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah meninggal dunia.

Mendengar kabar singkat tersebut, ruangan diskusi yang tadinya sarat lontaran-lonataran pendapat seketika mendadak hening. Tidak ada suara. Semua mahasiswa tersebut berada dalam tatapan kosong. Mulut-mulut mereka mendadak bagaikan terkunci sejenak.

Kepala mereka tertunduk. Tidak terasa butiran bening dari mata mereka meleleh meratapi kepergian sang humanis, orang yang dekat dengan siapa saja tanpa membedakan status dan golongan. Manusia yang sangat dicintai semua orang.

Masih dalam kondisi meratap, salah seorang pemimpin diskusi seketika tergerak untuk membimbing teman-teman membaca doa untuk Gus Dur. Usai berdoa, mereka bergegas dari tempat duduknya dan langsung menuju kediaman Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan. Mereka tidak sempat mengorek informasi lengkap soal kepergian cucu Hadratussyekh Hasyim Asy’ari itu.

Gus Dur meninggal setelah beberapa hari dirawat di Rumah Sakit Cipto Manungkusumo (RSCM) Jakarta. Baik dalam kondisi dirawat dan setelah kepergiannya, orang-orang tidak pernah berhenti mengunjungi Gus Dur.

Bahkan, padatnya pentakziah yang tidak terhitung jumlahnya dari berbagai daerah di Indonesia turut mengantar jenazah putra sulung KH Wahid Hasyim tersebut ke tempat peristirahatan terakhir di komplek makam keluarga Tebuireng, Jombang. 

Tebuireng saat itu tumpah ruah penuh dengan orang-orang yang ingin menyaksikan proses dikebumikannya Gus Dur. Pesantren Tebuireng penuh dan sesak. Begitu juga jalanan utama di depan pesantren terlihat manusia berbondong-bondong ingin ikut mengantar Gus Dur.

Di luar sana, tidak hanya teman-teman Muslim yang memadati masjid, musholla, dan majelis-majelis untuk mendoakan Gus Dur, tetapi juga teman-teman dari agama Konghucu, Katolik, Kristen, Hindu, dan Budha turut meramaikan rumah ibadah masing-masing untuk mendoakan Gus Dur. Bahkan, mereka memajang foto Gus Dur di altarnya masing-masing.

Kini, pemikiran, gagasasn, tulisan, dan pergerakan sang zahid Gus Dur yang di batu nisannya tertulis, “Here rest a Humanist” itu tidak pernah kering meneteskan dan mengguyur inspirasi bagi kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara di Republik ini. Begitu juga makamnya yang hingga sekarang terus ramai diziarahi.

KH Husein Muhammad Cirebon dalam buku karyanya Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus (2015) mengungkapkan persamaan kondisi wafatnya Gus Dur dengan kepergian salah seorang penyair sufi masyhur, Maulana Jalaluddin Rumi dari Konya, Turki.

Kepulangan Rumi ke Rahmatullah dihadiri beribu-ribu orang yang mengagumi dan mencintainya. Saat itu, di antara mereka yang berduka ialah para pemimpin, tokoh-tokoh penganut Yahudi, Kristen berikut sekte-sektenya, segala madzhab-madzhab pemikiran, serta rakyat jelata yang datang dari pelosok-pelosok dan sudut-sudut bumi yang jauh.

Gambaran singkat dari kepergian dua zahid (manusia dengan maqom zuhud) yang disambut iringan ribuan orang dari berbagai penjuru serta didoakan pula dari segala penjuru menunjukkan sebuah cinta dan kasih sayang. Rasa tersebut mengkristal dari seluruh komponen masyarakat sebagai wujud cinta dari dua zahid kepada semua manusia ketika hayat masih dikandung badan.

Kiai Husein menuturkan, Gus Dur, Maulana Rumi, dan para wali Allah merupakan orang yang selama hidupnya diabdikan untuk mencintai seluruh manusia, tanpa pamrih apapun. Mereka memberikan kebaikan semata-mata demi kebaikan itu sendiri, bukan bermaksud kebaikan tersebut kembali kepada dirinya.

Cara hidup demikian diungkapkan dalam sebuah puisi indah gubahan sufi besar dari Mesir, pengarang Kitab Al-Hikam, Ibnu Athaillah As-Sakandari yang sering dikutip Gus Dur dalam banyak kesempatan:

Idfin wujudaka fil ardhil khumuli, fama nabata mimmaa lam yudfan laa yutimmu nitaa juhu (tanamlah eksistensimu di bawah tanah yang tidak dikenal. Sesuatu yang tumbuh yang tak ditanam, akan berbuah segar). (Fathoni Ahmad)
Rabu 11 April 2018 8:30 WIB
Berdialog dengan Tuhan?
Berdialog dengan Tuhan?
Ilustrasi (Selloscope)
Di zaman ini, mungkinkah kita masih bisa berkomunikasi dengan Tuhan? Bukankah Nabi terakhir telah lama wafat, dan kitab suci terakhir telah diturunkan lima belas abad yang lampau serta Tuhan telah menyatakan sempurnanya agama kita. Masihkah terjadi dialog antara hamba dengan Tuhan?

Neale Donald Walsch percaya akan hal itu. Walsch mengaku masih bisa berdialog dengan Tuhan. Ia kemudian menuliskan hasil dialog dengan Tuhan itu dalam bukunya “Conversations with God: An Uncommon Dialogue”, sebuah buku yang telah berulang kali dicetak ulang.

“Aku tidak berkomunikasi semata dengan kata. Bentuk komunikasi yang Kupilih lebih melalui “perasaan” (feeling). Perasaan adalah bahasa jiwa. Jika kamu ingin tahu apa yang benar tentang sesuatu, lihatlah bagaimana perasaanmu terhadap sesuatu itu.

Aku juga berkomunikasi lewat “pikiran” (thought). Pikiran dan perasaan tidaklah sama, meskipun keduanya dapat berlangsung pada saat yang sama. Dalam komunikasi lewat pikiran, Aku menggunakan media imajinasi dan gambaran. Karenanya, pikiran lebih efektif daripada menggunakan “kata” sebagai alat komunikasi.

Sebagai tambahan, Aku juga menggunakan kendaraan “pengalaman” sebagai media komunikasi. Dan akhirnya, ketika perasaan, pikiran dan pengalaman semuanya gagal, Aku menggunakan “kata-kata”. Kata-kata adalah media komunikasi yang paling tidak efektif. Kata-kata lebih sering dikelirutafsirkan dan disalahpahami. Dan mengapa itu terjadi? Karena demikianlah kata-kata itu. Mereka hanya simbol dan tanda. Kata-kata bukanlah kebenaran; juga bukan sesuatu yang hakiki.” (Walsch:1997, h. 3-4)

Inilah “jawaban” Tuhan, ketika Walsch bertanya tentang cara Tuhan berkomunikasi dengan kita. Anda boleh tak setuju dengan pengakuan Walsch. Tak ada larangan kalau anda bersedia menggelari dia dengan “pendusta”.

Tapi, buat saya, yang menarik adalah kutipan di atas. Bahkan seorang non-Muslim seperti Walsch pun percaya bahwa Tuhan masih berkomunikasi dengan kita. Sayang, terkadang kita lupa akan hal ini, bahwa Tuhan masih berkomunikasi dengan hamba-Nya.

Ketika Walsch–atau “Tuhan”– menyebutkan perasaan, pikiran, pengalaman dan kata-kata sebagai bentuk komunikasi dari Tuhan, saya teringat, Syaikh Terbesar, Ibn Arabi yang mengatakan bahwa alam semesta merupakan bentuk tajalli dari Allah. Karena itu kemana saja kita arahkan pandangan mata kita, sebenarnya kita menangkap “tanda” Tuhan di sana.

Sayang, kita suka enggan berkomunikasi dengan Tuhan. Shalat pun menjadi berat. Beban kerja yang menumpuk menjadi alasan. Saat kita menzalimi saudara kita, kita sering lupa bahwa saudara kita masih bisa berkomunikasi dengan Tuhan dan mengadukan kelakuan kita. Ketika duka datang menerpa kita, kita lebih percaya untuk berkomunikasi dengan “orang pintar” dibanding kita adukan derita kita langsung kepada Tuhan. Alih-alih melihat “tanda” dari Tuhan, hambatan ekonomis malah menjadi pembenar ketika kita menerima uang yang bukan hak kita.

Anda boleh tak setuju bahwa buku Walsch merupakan hasil komunikasinya dengan Tuhan. Anda boleh tak setuju ketika Ibn Arabi mengaku “didiktekan” Malaikat ketika menulis Futuhat al-Makkiyah, namun tak ada salahnya saya mengutip lagi isi buku Walsch, ketika “Tuhan” berkata: “Aku bicara kepada setiap orang. Pada setiap waktu. Masalahnya bukan kepada siapa Aku bicara, tetapi siapa yang mau mendengarkan?”


Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCINU Australia – New Zealand