IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Duel Maut Rasulullah dengan Ubay bin Khalaf

Ahad 22 April 2018 22:30 WIB
Share:
Duel Maut Rasulullah dengan Ubay bin Khalaf
Foto: Istimewa
Rasulullah memimpin langsung 27 peperangan yang terjadi pada masanya. Namun, hanya sembilan peperangan saja yang berakhir dengan pertempuran karena selebihnya musuh menyerah secara damai. Perang Waddan (al-Abwa’) merupakan perang pertama yang diikuti Rasulullah. Perang ini terjadi pada bulan Shafar tahun ke-2 Hijriyah. Sementara perang Tabuk (al-Usrah) yang meletus pada bulan Rajab tahun ke-12 Hijriyah menjadi perang terakhir yang diikuti oleh Rasulullah. 

Mengutip dari buku Perang Muhammad: Kisah Perjuangan dan Pertempuran Rasulullah, ada tiga alasan yang menyebabkan Rasulullah berperang. Pertama, meladeni serangan musuh untuk mempertahankan diri. Seperti dalam perang Badar, Uhud, dan Khandaq. 

Kedua, menghukum mereka yang mengkhianati kerja sama atau perjanjian damai. Seperti perang Khaibar, Quraizhah, dan lainnya. Ketiga, menyerang sebelum diserang. Rasulullah juga melancarkan peperangan dengan musuh yang mengancam kaum Muslim seperti perang Tabuk. Terlepas dari itu semua, Rasulullah tidak pernah menyulut peperangan dengan siapapun. 

Diriwayatkan bahwa Rasulullah juga ikut bertempur langsung dalam tujuh medan peperangan. Yaitu perang Badar, Uhud, Muraisi’, Khandaq, Quraizhah, Khaibar, Penaklukan Makkah (Fathu Makkah), Hunain, dan Thaif. Semua peperangan berhasil dimenangkan kaum Muslim, kecuali perang Uhud.

Pada perang Uhud, kaum Muslim yang awalnya hendak menang menjadi kalah karena pasukan pemanah Muslim tidak mematuhi pesan Rasulullah. Mereka meninggalkan pos-posnya sebelum perang benar-benar berakhir untuk mengambil ghanimah (harta rampasan perang). 

Perang Uhud juga menyisakan cerita yang menarik. Salah satunya adalah duel maut antara Rasulullah dengan Ubay bin Khalaf. Merujuk buku Para Penentang Muhammad saw., duel maut antara Rasulullah dengan Ubay bin Khalaf menjadi tidak terelakkan dalam perang Uhud. Dengan menaiki kuda, Ubay menghampiri Rasulullah untuk membunuhnya. Melihat kejadian itu, para sahabat yang ada di samping Rasulullah berupaya untuk menghalau Ubay bin Khalaf namun kemudian dicegah oleh Rasulullah. 

Rasulullah yang sedari tadi sudah siap langsung melemparkan tombaknya ke arah Ubay bin Khalaf yang semakin mendekat. Ubay jatuh dari kudanya setelah tombak lemparan Rasulullah tepat mengenai tulang rusuknya. Setelah perang usai, Ubay bin Khalaf ditandu karena tidak bisa berdiri setelah terkena tombak Rasulullah. Ubay bin Khalaf tewas di tengah perjalanan ketika pasukan Quraisy hendak membawanya kembali ke Makkah. 

Ubay bin Khalaf merupakan salah satu anggota dari kelompok Syu’bah al-Syak, sebuah komunitas elit Quraisy yang sangat membenci Rasulullah. Semua anggota kelompok Syu’bah al-Syak -Abu Jahal bin Hisyam, Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah, Umayyah bin Khalaf- tewas dalam perang Uhud kecuali Ubay bin Khalaf.  

Iya, Ubay dikenal sebagai seorang petarung yang hebat. Dia bisa saja lolos dari maut pada saat perang Badar, namun tidak pada saat perang Uhud. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Sabtu 14 April 2018 8:0 WIB
Zainab binti al-Harits, Perempuan Yahudi yang Meracuni Rasulullah
Zainab binti al-Harits, Perempuan Yahudi yang Meracuni Rasulullah
Balas dendam adalah motif yang digunakan Zainab binti al-Harits sehingga ia sampai meracuni Rasulullah. Zainab adalah istri Salam bin Misykam, salah seorang pemimpin Yahudi Bani Nadhir di Khaibar. Ia memendam dendam yang mendalam terhadap pasukan umat Islam, terutama Rasulullah, karena telah membunuh  suami, ayah, dan pamannya pada saat perang Khaibar. 

Akhir tahun ke-6 H, Rasulullah beserta pasukan umat Islam pergi ke Khaibar, sebuah wilayah yang terletak 150 kilometer ke arah laut kota Madinah dan menjadi basis kaum Yahudi. Ketika sampai di Khaibar, Rasulullah meminta penduduknya menyerah karena sebelumnya diketahui bahwa Khaibar dijadikan tempat konsolidasi untuk menyerang Madinah. Namun, penduduk kaum Yahudi menolak seruan Rasulullah hingga akhirnya terjadi perang yang memakan banyak korban.

Perang Khaibar diakhiri dengan perundingan damai antara kaum Muslim dan penduduk Khaibar. Mereka sama-sama sepakat untuk mengakhiri perang dengan beberapa poin kesepakatan bersama. Salah satunya adalah penduduk Khaibar harus menyerahkan separuh hasil panen kepada umat Islam Madinah mengingat pertempuran Khaibar dimenangkan umat Islam. Perlahan-lahan Khaibar menjadi kota yang damai, namun tidak sedikit penduduknya yang masih menyimpan dendam.

Zainab binti al-Harits adalah salah satu Yahudi Khaibar yang tidak terima dengan hasil perang Khaibar. Ia tidak rela dengan kaum Muslim karena telah membunuh orang-orang terkasihnya. Ia mencari berbagai macam cara untuk membalas dendam dan membunuh Rasulullah, pimpinan tertinggi kaum Muslim.  

Dikutip dari buku Para Penentang Muhammad saw., Zainab binti al-Harits mulai melancarkan rencananya setelah perundingan damai dijalankan dan kaum Muslim masih berada di Khaibar. Mula-mula ia bertanya kepada salah seorang sahabat perihal makanan kesukaan Rasulullah.

Setelah mengetahui bahwa makanan kesukaan Rasulullah adalah bagian dada depan dan pundak domba, Zainab kemudian menyiapkan hidangan domba panggang dan menaburinya dengan racun yang paling mematikan. Domba panggang itu kemudian diberikan kepada Rasulullah pada petang hari, selepas sang nabi selesai menunaikan salat Maghrib.

Awalnya, Rasulullah ‘ragu’, namun Zainab meyakinkan bahwa domba panggang itu adalah hadiah, bukan sedekah. Lalu Rasulullah menerima tanpa ada kecurigaan sedikit pun. Rasulullah bersama para sahabat memakan domba panggang tersebut dengan lahap. Hingga ketika hendak menyantap bagian paha depan, Rasulullah baru menyadari kalau hidangan itu mengandung racun setelah melihat kaki domba. Riwayat lain menyebutkan bahwa Rasulullah diberi tahu oleh tulang domba yang berada di tangannya (setelah mendapatkan wahyu Allah) kalau makanan itu beracun. 

Sontak saja Rasulullah menyuruh para sahabat yang ikut makan domba panggang itu dibekam untuk mengeluarkan racun. Namun demikian, insiden domba panggang beracun itu menewaskan salah satu sahabat Rasulullah, Bisyr bin al-Barra’, meski ia sudah dibekam. 

Racun dalam peristiwa domba panggang ini memiliki efek jangka panjang terhadap kesehatan Rasulullah. Merujuk pada buku Sirah Nabawiyyah karangan Al-Mubarakfuri, Rasulullah merasakan sakit yang sangat akibat racun dalam peristiwa Khaibar itu satu hari sebelum hari wafatnya. 

“Sekarang saatnya aku merasakan terputusnya urat nadiku karena racun tersebut," kata Nabi Muhammad saw. seperti diriwayatkan Imam Bukhari.

Setelah insiden 

Zainab binti al-Harits menjadi orang yang paling dicari setelah insiden domba panggang beracun itu. Setidaknya ada tiga riwayat yang menceritakan keadaan Zainab setelah insiden maut itu. Pertama, masuk Islam. Zainab langsung mengucapkan dua kalimat syahadat setelah menyaksikan langsung bahwa Muhammad adalah benar-benar Rasulullah (utusan Allah) dalam insiden domba panggang beracun itu. Hal ini diceritakan oleh Imam al-Zuhri dan Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitabnya Fath al-Bari Syarh Shahih Bukhari.

Kedua, dimaafkan. Banyak sahabat yang gregetan dan berniat untuk membunuh Zainab binti al-Harits karena telah membunuh Bisyr bin al-Barra’ dan membahayakan nyawa Rasulullah. Namun, Rasulullah melarang dan mencegah para sahabat untuk membunuh Zainab sebagaimana yang tertera dalam hadist riwayat Muslim. 

Ketiga, dibunuh. Di riwayatkan bahwa Rasulullah menerapkan hukuman qishas (pembalasan yang sama) kepada Zainab binti Zainab membunuh Bisyr bin al-Barra’, maka Zainab dibunuh setelah keluarga Bisyr menuntut untuk diberlakukan hukum qishas.

Jika dicermati lebih dalam, riwayat-riwayat tersebut tidak lah saling bertentangan, namun terjadi secara berurutan (sequence). Pada saat Bisyr belum meninggal, Rasulullah memaafkan Zainab. Namun ketika Bisyr meninggal akibat racun Zainab dan keluarganya menginginkan untuk menerapkan hukuman qishas, maka Rasulullah memerintahkan sahabatnya untuk menjalankan qishas. (A Muchlishon Rochmat)
Senin 9 April 2018 20:30 WIB
Alasan Rasulullah Menikahi Aisyah
Alasan Rasulullah Menikahi Aisyah
Aisyah adalah satu-satunya istri Rasulullah yang dinikahi dalam keadaan masih gadis. Ia merupakan istri ketiga Rasulullah. Sebelumnya, istri Rasulullah yang pertama, Khadijah wafat. Kemudian Rasulullah menikahi Saudah binti Zam’ah, seorang janda berusia 30an tahun, sebelum akhirnya mempersunting Aisyah.

Aisyah merupakan seorang putri dari pasangan Abu Bakar al-Siddiq dan Ummu Ruman. Jika nasabnya ditelurusi hingga ke atas, maka nasab Aisyah bertemu Rasulullah yaitu pada Murrah bin Ka’ab. Dalam struktur masyarakat Quraish, marga Ummahatul Mukminin ini adalah Bani Taim. 

Al-Husaini dalam buku Baitun Nubuwwah, Rumah Tangga Nabi Muhammad saw. menyebutkan bahwa wanita marga Bani Taim terkenal patuh, lemah lembut, dan dapat bergaul dengan baik. Sementara kaum lelakinya dikenal berpikir cerdas, dermawan, jujur, dan pemberani. 

Humaira (pipinya yang merona) merupakan julukan Aisyah. Ia adalah seorang perempuan yang memiliki perangai yang sangat baik, berkulit putih, berparas elok, bermata besar, berambut kriting, dan bertubuh langsing. Dan tentunya memiliki pipi yang merona dan kemerah-merahan.    

Ada banyak versi terkait dengan usia Aisyah ketika dinikahi Rasulullah. Ada yang menyebut bahwa usia Aisyah adalah 6 atau 7 tahun ketika dinikahi dan 10 tahun saat diajak Rasulullah untuk tinggal satu rumah. Pendapat lain –yang didasarkan pada riwayat Abdurrahman bin Abu Abi Zannad dan Ibnu Hajar al-Asqalani- menyebutkan bahwa usia Aisyah ketika berumah tangga adalah 19 atau 20 tahun.

Terlepas dari itu semua, Quraish Shihab dalam Membaca Sirah Nabi saw. dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih menyatakan bahwa tidak ada kritikan atau cemoohan dari musuh-musuh Rasulullah tentang pernikahan Rasulullah dan Aisyah pada saat itu. Namun anehnya, kritikan dan cemoohan itu –dengan tujuan melecehkan dan mendiskreditkan Rasulullah- datang ratusan tahun setelah kejadian itu. Artinya, seseorang yang sudah sepuh menikah dengan ‘perempuan muda’ adalah sesuatu yang wajar dan lumrah terjadi pada zaman masyarakat waktu itu.

Rasulullah menikahi Aisyah tepat pada bulan Syawwal tahun ke-10 kenabian di Makkah atau sekitar tiga tahun setelah sang istri pertama, Khadijah binti Khuwailid, wafat. Mahar yang diberikan Rasulullah untuk Aisyah sebesar 12 uqiyyah atau 400 dirham.

Lalu, apa yang membuat Rasulullah mempersunting Aisyah? Padahal Rasulullah juga sudah menikahi Saudah binti Zam’ah. Di sisi lain, sahabat Muth’im bin Adiy juga pernah menanyakan kepada Abu Bakar akan mengawinkan Aisyah untuk anaknya, Jubair, sebelum utusan Rasulullah menanyakan hal yang sama.

Dalam sebuah riwayat, Aisyah pernah mengungkapkan bahwa alasan Rasulullah menikahinya adalah 'karena mimpi.' Suatu ketika, Rasulullah bermimpi didatangi malaikat membawa Aisyah dengan dibalut kain sutera. Malaikat tersebut mengatakan kepada Rasulullah bahwa perempuan yang dibalut kain sutera tersebut adalah istrinya. Mimpi Rasulullah ini berulang hingga tiga kali. 

“Jika mimpi ini dari Allah, tentu Dia akan mengabulkannya,” kata Rasulullah merespons ucapan malaikat itu. Dan benar saja, akhirnya Allah mengabulkannya. 

Sebelumnya, Abu Bakar keberatan ketika Khaulah, utusan Rasulullah, datang untuk melamar Aisyah karena Muth’im sudah datang terlebih dahulu. Namun, setelah mengetahui keburukan keluarga Muth’im, Abu Bakar tidak lagi menghendaki anak lelaki Muth’im untuk menikahi Aisyah. Walhasil, Abu Bakar mempersilahkan Rasulullah untuk menikahi anaknya. (A Muchlishon Rochmat)