IMG-LOGO
Trending Now:
Ubudiyah

Keistimewaan Orang yang Sibuk Membaca Al-Qur'an

Selasa 24 April 2018 7:15 WIB
Share:
Keistimewaan Orang yang Sibuk Membaca Al-Qur'an
Ilustrasi (npr.org)
Di antara pintu terbesar untuk mencapai kelapangan hidup agar tidak terjebak dalam kesempitan yang membelenggu adalah dengan membaca Al-Qur'an. Hati bisa sewaktu-waktu berkarat sebagaimana besi, mengingat kematian dan membaca Al-Qur'an merupakan media pembersih karat tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berikut:

إِنَّ هَذِهِ الْقُلُوْبَ تَصْدَأُ  كَمَا يَصْدَأُ الْحَدِيْدُ إِذَا أَصَابَهُ الْمَاءُ، قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَمَا جَلَاؤُهَا؟ قَالَ: كَثْرَةُ ذِكْرِ الْمَوْتِ وَتِلاَوَةِ الْقُرْآنِ

Artinya: "Sesungguhnya hati itu bisa korosi sebagaimana besi ketika bertemu dengan air. Kemudian ada yang bertanya kepada Baginda Nabi, 'Ya Rasulallah, lalu apa yang dapat menghilangkan korosi tersebut?' Rasul menjawab, 'Banyak mengingat kematian dan membaca Al-Qur'an'." (HR Baihaqi).

Baca juga: Menghafal atau Membaca Mushaf Al-Qur’an yang Lebih Utama?
Orang yang rutin menyibukkan dirinya membaca Al-Qur'an mempunyai aneka macam keistimewaan sebagaimana dikutip Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dalam kitabnya Abwâbul Faraj, Dârul Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 1971, halaman 73 sebagai berikut:

Pertama, mereka diakui sebagai keluarga Allah (ahlullah) dan orang keistimewaannya yang terpilih.

Kedua, orang yang mahir membaca Al-Qur'an ditempatkan bersama malaikat-malaikat pencatat yang patuh kepada Allah yang selalu berbuat kebaikan. 

Menurut al-Qurthubi sebagaimana dikutip dalam kitab Fathul Bârî, yang dimaksud mahir di sini adalah orang yang cerdas, maksudnya, hafalan dan tajwidnya sama-sama mempunyai kualitas bagus, tidak perlu mengulang-ulang.  

Ketiga, Al-Qur'an merupakan hidangan dari Allah subhanahuwa ta'alâ. Siapa pun yang masuk ke sana akan mendapat jaminan keamanan. 

Keempat, rumah yang dibuat untuk membaca Al-Qur'an akan dihadiri malaikat. Penghuni rumah akan merasakan bahwa rumahnya menjadi luas.

Baca juga: Waktu Utama Baca Al-Qur’an
Kelima, rumah yang dibacakan Al-Qur'an akan menyinari penduduk-penduduk langit. 

Keenam, membaca Al-Qur'an terdapat kebaikan yang sangat banyak.  

Ketujuh, dengan membaca al-Qur'an, orang akan menjadi baik. 

Kedelapan, membaca Al-Qur'an bisa menjadi obat hati. 

Kesembilan, membaca Al-Qur'an dapat bermanfaat bagi orang yang membaca maupun kedua orang tuanya. 

Kesepuluh, pembaca Al-Qur'an tidak akan merasa ngeri saat terjadi kegentingan hari kiamat. 

Kesebelas, Al-Qur'an akan memberikan syafa'at (pertolongan) kepada ahlinya (orang yang biasa membacanya) 

Keduabelas, orang yang membaca Al-Qur'an, pada hari kiamat, derajatnya akan selalu naik ke tempat-tempat yang atas. 

Ketigabelas, membaca Al-Qur'an bisa meniupkan aroma wangi kepada para pendengar serta menyebarkan bau minyak kasturi. Wallau a'lam. (Ahmad Mundzir) 

Share:
Selasa 24 April 2018 20:0 WIB
Mana Lebih Utama, Memberi Utang atau Sedekah?
Mana Lebih Utama, Memberi Utang atau Sedekah?
Ilustrasi (via Pixabay)
Sebagai umat Islam, kita dianjurkan untuk saling bahu-membahu. Yang kuat meringankan yang lemah dalam hal ekonominya, yang lemah membantu saudaranya di bidang yang ia mampu. Sebagai makhluk sosial, kita diperintahkan untuk saling bantu. Allah subhânahȗ wa ta'alâ berfirman dalam al-Qur'an:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Artinya: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran." (QS Al-Ma'idah: 2) 

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga bersabda, orang yang melapangkan kesempitan saudaranya, akan dilapangkan oleh Allah subhânahu wa ta'alâ.                        

مَنْ نَفَّسَ عَنْ أَخِيهِ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Artinya: "Barangsiapa melapangkan satu macam kesempitan dari aneka macam kesempitan yang dialami saudaranya, Allah akan melapangkan kesempitan penolong itu dari kesempitan-kesempitan hari kiamat. Dan barangsiapa menutupi (aib) orang Muslim, Allah akan menutupi aibnya baik di dunia maupun di akhirat. Barangsiapa memudahkan urusan orang yang sedang kesusahan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia maupun di akhirat. Allah selalu dalam pertolongan seorang hamba selama ia mau menolong saudaranya.” (Sunan at-Tirmidzi: 2869)

Menolong orang lain dapat diaplikasikan dalam berbagai macam. Bisa memberi utang orang yang sedang membutuhkan maupun memberi harta kepada orang lain. 

Namun, secara pahala, jika ditimbang-timbang, pahalanya besar mana antara memberi orang secara cuma-cuma dengan memberi utang?

Berikut ini ada satu hadits yang dikutip beberapa kitab hadits di antaranya dalam Sunan Ibnu Mâjah, Faidlul Qadîr, Jâmiul Ahâdîts beserta sumber lain yang mengisahkan bahwa saat melakukan perjalanan isra' mi'raj, Rasulullah melihat di dalam pintu surga tertulis, shadaqah dibalas oleh Allah sepuluh kali lipat, sedangkan memberikan utang pahalanya 18 kali lipat. Teks lengkap hadits sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebagai berikut:

رَأَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ مَكْتُوبًا الصَّدَقَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا وَالْقَرْضُ بِثَمَانِيَةَ عَشَرَ فَقُلْتُ يَا جِبْرِيلُ مَا بَالُ الْقَرْضِ أَفْضَلُ مِنْ الصَّدَقَةِ قَالَ لِأَنَّ السَّائِلَ يَسْأَلُ وَعِنْدَهُ وَالْمُسْتَقْرِضُ لَا يَسْتَقْرِضُ إِلَّا مِنْ حَاجَةٍ.

Artinya: "Saya melihat di saat saya diisra'kan pada pintu surga tertulis, shadaqah dilipatgandakan sepuluh kali lipat. Memberi utang dilipatkan 18 kali lipat. Kemudian saya bertanya kepada Jibril, 'Bagaimana orang yang memberi utang lebih utama dari pada bershadaqah?'. 

Kemudian Jibril menjawab 'Karena orang yang meminta, (secara umum) dia itu meminta sedangkan dia sendiri dalam keadaan mempunyai harta. Sedangkan orang yang berutang, ia tidak akan berutang kecuali dalam keadaan butuh'." (Sunan Ibnu Majah: 2422) 

Al-Hakim dalam Fathul Qadir memberikan ilustrasi dengan perbandingan di atas seperti berikut. Andaikan orang sedekah satu dirham, berarti Allah akan membalas satu dirham modal yang ia berikan kemudian ditambah sembilan dirham sebagai bonus.

Dan kalau orang yang memberi utang orang yang butuh, dari sembilan dirham bonus tersebut dilipatgandakan. Jadi jumlahnya total adalah 19 dirham. Maka perbandingannya adalah sepuluh dengan 18.

Baca juga: Cerita Rasulullah tentang Penagih Utang yang Pemaaf
Meskipun diriwayatkan di beberapa kitab, ada banyak ulama yang menganggap hadits tersebut dlaif. Di antaranya adalah Khalid bin Zaid as-Syâmî. Demikian diungkapkan oleh Abdul Hamid as-Syawani-Ahmad bin Qasim al-Ubbadi, Hawâsyî Tuhfatul Muhtâj bi Syarhil Minhâj, Musthafa Muhammad, Mesir, juz 5, halaman 36. 

Kesimpulannya, antara shadaqah dan memberi utang orang lain, masing-masing adalah tindakan ibadah yang diperintahkan Al-Qur'an mapun hadits. Menurut satu hadits, memberi utang lebih unggul pahalanya. Terkait status dlaif-nya, hadits itu tetap boleh diyakini dan diamalkan dalam konteks memperkuat amal kebaikan (fadlâilum a‘mâl). Wallahu a'lam. (Ahmad Mundzir)
Ahad 22 April 2018 21:0 WIB
Ciri-ciri Ahli Surga di Dunia
Ciri-ciri Ahli Surga di Dunia
Ilustrasi (© Reuters)
Selama di dunia kita tidak mengetahui siapa saja di antara kita yang ahli surga maupun ahli neraka kecuali orang-orang yang mendapatkan nash jaminan masuk surga, seperti sepuluh orang yang telah dijanjikan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Di antara mereka adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Sa'ad bin Abi Waqash, Abdurrahman bin Auf dan lain sebagainya. Di luar orang yang mendapat jaminan, tidak ada makhluk manapun yang bisa memastikan orang ini masuk ke surga atau neraka. 

Namun setidaknya, Abdullah bin Zaid radliyallahu anh sebagaimana dikutip oleh Abdul Wahab as-Sya'rani dalam Mukhtashar at-Tadzkirah lil Qurthubi (Kairo, Dâru Ihya' al-Kutub al-Arabiyyah, halaman 93) memberikan gambaran ciri-ciri orang ahli surga yang dapat ditelisik saat mereka masih di dunia sesuai dengan sifat yang telah difirmankan dalam Al-Qur'an.

Di antara mereka ciri ahli surga yang dapat dilihat di dunia ini adalah orang yang hidupnya penuh dengan kesedihan, galau, menangis, dan takut akan adzab Allah. Kesedihan dan galau di sini bukan sebab memikirkan masalah dunia, namun sedih tentang bagaimana hubungannya dengan Allah, nasibnya di akhirat kelak dan seterusnya. Dengan kesedihan yang mendalam tersebut, Allah subhânahu wa ta'âlâ menggantinya dengan hidup penuh kebahagiaan di akhirat kelak. 

قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ، فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ 

Artinya: "Mereka berkata 'Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab). Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka'." (QS At-Thȗr: 26-27)

Baca juga: Cerita Rasulullah tentang Ahli Ibadah yang Masuk Neraka
Demikian berlaku sebaliknya. Allah juga memberikan ciri-ciri orang yang kelak akan menghuni neraka. Yaitu orang yang di dunia selalu bergembira ria dan tertawa-tawa (melupakan akhirat, red).

إِنَّهُ كَانَ فِي أَهْلِهِ مَسْرُورًا 

Artinya: “Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya." (QS Al-Insyiqaq: 13)

Dalam tafsir al-Jalalain dikatakan, maksud bergembira di sini adalah dengan mengikuti hawa nafsunya. 

Baca juga: Dua Kisah Calon Ahli Neraka yang Masuk Surga
Dengan demikian kita dapat mengambil pelajaran, betapa pentingnya memikirkan nasib kita di akhirat. Kata Buya Hamka, “kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan pun hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja." Oleh karena itu, sebagai umat Islam kita tidak boleh sekadar makan, bekerja dan bercanda. 

Islam tidak  menentang kemajuan. Islam tidak anti terhadap inovasi. Tapi terobosan-terobosan manusia Muslim tetap berdasar keimanan dan ketakwaan. Umat Islam perlu memikirkan kehidupan setelah mati secara serius supaya tidak terbuai dengan rayuan dunia yang bisa menjadikan orang lalai, korupsi, dan lain sebagainya. Wallahu a'lam.  (Ahmad Mundzir) 
Ahad 22 April 2018 17:0 WIB
Kiat-kiat bagi Mereka yang Susah Menerima Nasihat dan Beramal Baik
Kiat-kiat bagi Mereka yang Susah Menerima Nasihat dan Beramal Baik
Ilustrasi (via pinterest.co.uk)
Terdapat perbedaan yang mencolok pada orang yang hatinya keras dengan yang lembut. Hati lembut mudah menerima nasihat-nasihat baik, mudah melakukan amal kebaikan dan serangkaian ibadah maupun kebaikan lain. Hati yang keras tidak mudah menerima nasihat-nasihat, tidak bisa khusyu' dan jauh dari Allah subhânahȗ wa ta'âlâ.

Baca juga: Tips Rasulullah untuk Melunakkan Hati yang Keras
Setidaknya ada tiga tips untuk melunakkan hati yang keras. Pertama, meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat dengan mengganti kegiatan yang bernilai positif seperti menghadiri majelis-majelis ilmu, diskusi keilmuan, mendengarkan nasihat-nasihat yang baik, dzikir, mengkaji hal yang membuat suka melakukan ibadah, menyimak petuah yang dapat menakutkan orang melakukan maksiat serta mendengarkan atau membaca kisah-kisah orang shalih. 

Kedua, mengingat kematian. Ada seorang wanita datang kepada istri Rasulullah, Sayyidah Aisyah, seraya mengadukan hatinya yang mengeras. Kemudian Aisyah memberikan saran wanita tersebut untuk selalu mengingat kematian.

Petuah Aisyah terbuti. Di kemudian hari, wanita yang kemarin datang mengeluh itu pun datang sembari mengutarakan untaian kata terima kasih kepada Aisyah atas saran yang diberikan. 

Menurut Abu Muhammad Abdul Haq dalam bukunya al-Aqibah halaman 40, mengingat kematian dapat mencegah manusia berbuat maksiat, melembutkan hati yang keras, menghilangkan kesukaan terhadap dunia serta meringankan ujian dan halang-rintang yang ada di dunia ini. 

Baca juga: Sabda Rasulullah tentang Orang Mati yang Bisa Melembutkan Hati
Ketiga, menyaksikan orang yang sekarat (akan mati). Melihat proses orang dicabut nyawanya, mengamatinya saat nyawa sudah lepas, melihatnya berbaring dalam tidur yang tidak akan bangun kembali, kemudian berpikir bahwa kelak ia akan dibangkitkan dengan mempertanggungjawabkan amal perbuatan yang telah ia lakukan. Hal tersebut akan memudahkan hati orang menjadi lembut. 

Satu saat, Hasan al-Bashri pernah menjenguk orang sakit yang bertepatan dengan proses lepasnya nyawa dari sekujur tubuh. Ia mengamati bagaimana susah dan sakitnya proses itu. Usai meninggal, Hasan al-Bashri pulang ke rumah namun dengan rona wajah yang tidak sama saat ia berangkat tadi. 

Keluarganya mencoba menawari makan, namun hanya dijawab, "Makan dan minumlah makanan punya kalian. Baru saja aku melihat orang meninggal. Aku akan selalu beramal baik hingga aku menjumpai kematian itu."

Jika kita kesulitan mendapati tiga macam hal di atas, semuanya bisa terangkum dalam satu kegiatan berupa ziarah kubur. Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

زُوْرُوْا الْقُبُوْرَ فَإِنَّهَا تٌذَكِّرُ الْمَوْتَ وَالْآخِرَةَ وَتُزْهِدُ فِى الدُّنْيَا

Artinya: "Berziarahlah kalian ke kuburan-kuburan. Karena hal tersebut dapat mengingatkan kematian dan akhirat serta menjadikan hati zuhud (menjaga jarak) dengan dunia.                     

Sebaiknya orang yang ingin hatinya lembut melalui ziarah kubur di sini tetap memakai adab dan tata cara ziarah yang baik supaya misi tersebut bisa tercapai. Di antaranya niat ikhlas karena Allah, mengucapkan salam saat hendak memasuki areal pemakaman, melepaskan alas kaki, tidak berjalan di atas makam, dan lain sebagainya. Wallahu a'lam. (Ahmad Mundzir)

(Disarikan dari Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad, Kitâbut Tadzkirah bi Ahwâlil Mautâ wa Umȗril Akhirah, Maktabah Dârul Minhâj, Riyadh, 1425, Jilid I, halaman 132-133)