IMG-LOGO
Tasawuf/Akhlak

Sebab Ibadah Terasa Kering dan Hampa kata Syekh Syadzili

Ahad 29 April 2018 6:0 WIB
Share:
Sebab Ibadah Terasa Kering dan Hampa kata Syekh Syadzili
(Foto: buzzfeed.com)
Ibadah merupakan ritual umat beragama yang biasanya dapat memperkuat spiritualitas dan memperkaya batin seseorang. Tetapi sesekali ibadah baik itu shalat, puasa, atau umrah terasa hampa dan kering makna. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal. Syekh Syadzili menyebut hubbud dunia sebagai satu sebabnya.

Semua ibadah itu dijalani sebagai rutinitas semata. Shalat, puasa, dan haji itu tidak dijalani dengan kesadaran yang penuh. Ibadah itu terasa tidak memberikan kepuasan batin. Meskipun ibadah semacam ini besar dari segi kuantitas, secara kualitas ibadah yang dilakukan oleh mereka yang cinta dunia rendah di sisi Allah.

وكان سيدي أبو المواهب الشاذلي رحمه الله تعالى يقول العبادة مع محبة الدنيا شغل قلب وتعب جوارح فهي وإن كثرت قليلة وإنما كثيرة في وهم صاحبها وهي صورة بلا روح وأشباح خالية غير حالية

Artinya, “Syekh Abul Hasan As-Syadzili pernah berkata, bahwa ibadah–sementara rasa cinta dunia bergelora di hati–membuat bimbang hati dan meletihkan badan seseorang. Ibadah seperti itu meskipun banyak secara kuantitas tetap terbilang sedikit. Ibadah itu terbilang banyak menurut yang melakukannya. Ibadah itu seperti bentuk tanpa roh, raga kosong tanpa kondisi tertentu.’” (Lihat Syekh Abdul Wahhab Sya’rani, Al-Minahus Saniyyah, [Singapura-Jeddah-Indonesia, Al-Haramain: tanpa catatan tahun], halaman 4).

Syekh Syadzili mengatakan bahwa orang-orang yang cinta dunia, meskipun gemar beribadah, tidak menunjukkan sinar kezuhudan dalam ucapan, berpikir, dan tindakan keseharian mereka. Ibadah mereka ini tidak menjadi gizi rohani mereka.

ولهذا ترى كثيرا من أرباب الدنيا يصومون كثيرا ويصلون كثيرا ويحجون كثيرا وليس لهم نور الزهاد ولا حلاوة العبادة

Artinya, “Karenanya kau melihat banyak pecinta dunia melakukan puasa ratusan kali, shalat ribuan rekaat, berangkat haji berkali-kali. Tidak ada cahaya zuhud dan kenikmatan ibadah pada mereka,” (Lihat Syekh Abdul Wahhab Sya’rani, Al-Minahus Saniyyah, [Singapura-Jeddah-Indonesia, Al-Haramain: tanpa catatan tahun], halaman 4).

Orang-orang yang gemar dunia sulit untuk merasakan kenikmatan ibadahnya. Ucapan, pikiran, dan perilaku mereka menunjukkan hasrat yang kuat terhadap dunia. Gerak-gerik mereka di luar ibadah jauh dari spiritualitas yang seharusnya terbentuk melalui disiplin ritual atau ibadah itu sendiri. Tanpa mengecilkan arti ibadah, sikap zuhud sebagai fondasi ritual harus ditanam dengan kokoh. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Share:
Jumat 27 April 2018 20:0 WIB
Empat Ini Sejukkan Alam Barzakh yang Panas dan Pengap
Empat Ini Sejukkan Alam Barzakh yang Panas dan Pengap
(Foto: twitter.com)
Alam barzakh atau alam kubur diyakini oleh umat Islam sebagai alam persinggahan bagi manusia yang telah meninggal sebelum dibangkitkan pada hari kiamat. Alam barzakh merupakan tempat balasan amal baik dan buruk sebelum hari kiamat tiba.

Alam barzakh diyakini sebagai tempat sempit, gelap, sepi, panas, dan pengap bagi ahli kubur. Tetapi amal ibadah yang dikerjakan selagi hidup dapat meringankan beban ahli kubur di alam barzakh sebagai keterangan berikut ini:

إذا وضع الميت في قبره جاءته أربع نيران فتجيء الصلاة فتطفئ واحدة ويجيء الصيام فيطفئ واحدة وتجيء الصدقة فتطفئ واحدة ويجيء الصبر فيطفئ واحدة

Artinya, “Bila jenazah diletakkan di alam kubur, empat api menghampirinya. Tetapi amal shalat datang lalu memadamkan satu titik api. Ibadah puasa datang lalu memadamkan satu titik api lainnya. Berikutnya amal sedekah datang memadamkan satu titik api selanjutnya. Berikutnya amal kesabaran datang memadamkan satu titik api terakhir,” (Lihat Syekh Ahmad bin Hijazi Al-Fasyani, Al-Majalisus Saniyah, Syarah Arbain Nawawiyyah, [Semarang, Maktabah Al-Munawwir: tanpa catatan tahun], halaman 62).

Syekh Ahmad bin Hijazi mengangap penting empat hal yang bisa dilakukan oleh seorang Muslim secara rutin, yaitu shalat, puasa, sedekah, dan sabar. Sabar di sini dipahami sebagai ketabahan dan keuletan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya.

Ia menyebutkan empat hal ketika mensyarahkan hadits kedua puluh dua atas Kitab Al-Arba’in An-Nawawiyyah riwayat Imam Muslim berikut ini:

الحديث الثانى والعشرون [عن أبي عبد الله جابر بن عبد الله الأنصاري رضي الله عنهما أن رجلا سأل رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم فقال: أرأيت إذا صليت المكتوبات وصمت رمضان وأحللت الحلال وحرمت الحرام ولم أزد على ذلك شيئا أدخل الجنة ؟ قال نعم] رواه مسلم

Artinya, “Hadits kedua puluh dua dari Abu Abdillah, yaitu Jabir bin Abdillah Al-Anshari RA bahwa seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘Wahai utusan Allah, apa pendapatmu bila aku mengerjakan shalat wajib, berpuasa Ramadhan, mendekati yang halal, dan menjauhi yang haram tanpa menambah sedikitpun dari semua itu, apakah aku masuk surga?’ ‘Tentu (masuk surga),’ jawab Rasulullah. (HR Muslim),” (Lihat Syekh Ahmad bin Hijazi Al-Fasyani, Al-Majalisus Saniyah, Syarah Arbain Nawawiyyah, [Semarang, Maktabah Al-Munawwir: tanpa catatan tahun], halaman 60).

Empat hal ini merupakan amal komplet seorang Muslim. Dengan shalat dan puasa, seorang Muslim memenuhi kewajibannya terhadap Allah meski Allah tidak diuntungkan oleh dua jenis amal tersebut. Sementara dengan sedekah dan kesabaran, seorang Muslim memenuhi tanggung jawab sosialnya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Senin 23 April 2018 19:15 WIB
AL-HIKAM
Ukuran Kekayaan yang Ideal bagi Pengamal Tasawuf
Ukuran Kekayaan yang Ideal bagi Pengamal Tasawuf
(Foto: ips.vn)
Manusia membutuhkan harta untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari. Tetapi kepemilikan harta untuk sebagian orang terlalu melimpah sehingga harta itu membuatnya lupa diri. Sementara bagi sebagian orang harta yang ada di genggamannya tidak cukup memenuhi keperluan hidupnya hingga ia kurang tenteram beribadah. Lalu seperti apa idealnya kekayaan itu?

Syekh Ibnu Athaillah mengatakan bahwa jumlah harta atau besar kekayaan yang ideal adalah harta yang cukup untuk menutupi keperluan keseharian dan tidak membuat lupa diri. Demikian disampaikan Syekh Ibnu Athaillah berikut ini:

من تمام النعمة عليك أن يرزقك ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك

Artinya, “Salah satu kesempurnaan nikmat Allah padamu adalah pemberian-Nya berupa sedikit harta yang cukup memenuhi keperluanmu dan banyaknya mencegahmu untuk melewati batas.”

Menjelaskan hikmah ini, Syekh Zarruq mengatakan bahwa harta yang ideal itu dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia secara riil. Tetapi saat yang bersamaan, harta itu mendukung seseorang untuk beribadah.

قلت يرزقك الكفاية فلا يشوشك بالفقد ويمنعك الزيادة لئلا يشغلك بالوجد بل تكون سالما من إقبالها وسالما من إدبارها

Artinya, “Menurut saya, Allah memberimu cukup harta sehingga kehilangannya tidak membuatmu resah. Ia juga tidak memberimu banyak harta sehingga keberadaannya tidak membuatmu bimbang. Dengan jumlah yang cukup kamu tetap selamat saat harta pergi dan datang,” (Lihat Syekh Ahmad Zarruq, Syarhul Hikam, [Mesir, As-Syirkatul Qaumiyyah: 2010 M/1431 H], halaman 178).

Syekh Syarqawi menjelaskan bahwa harta dan kekayaan ideal itu adalah harta yang cukup, tidak lebih, tidak kurang. Banyak atau sedikit tidak masalah. Yang penting, harta sedikit tetap bisa memenuhi keperluan hidup dan harta banyak tidak membuat durhaka kepada Allah.

من تمام النعمة عليك أن يرزقك ما يكفيك) من غير زيادة ولا نقصان (ويمنعك ما يطغيك) أي يوقعك في الطغيان وهو كثرة المال.

Artinya, “Salah satu kesempurnaan nikmat Allah padamu adalah pemberian-Nya berupa sedikit harta yang cukup memenuhi keperluanmu) tidak lebih dan tidak kurang (dan banyaknya mencegahmu untuk melewati batas) yang membuatmu terjerumus dalam kedurhakaan, yaitu kebanyakan harta,” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, [Indonesia-Singapura, Al-Haramain, 2012 M], juz II, halaman 44).

Yang pasti, umat Islam termasuk mereka yang aktif dalam dunia tarekat dan sufisme tidak boleh kekurangan harta. Mereka harus memiliki cukup harta untuk menenangkan aktivitas ibadahnya sebagai keterangan berikut ini:

قال تعالى  كلا إن الإنسان ليطغى أن رآه استغنى وفي الحديث ما قل وكفى خير مما كثر وألهى أما ما نقص عن الكفاية فقد يكون معه اشتغال عن طاعة الرب فليس ذلك من تمام النعمة

Artinya, “Allah berfirman, ‘Sekali-kali, jangan begitu. Sungguh manusia itu melewati batas (dalam kesombongan), ia memandang dirinya telah cukup.’ Dalam hadits dikatakan, ‘Harta yang sedikit dan cuku lebih baik daripada banyak dan melenakan.’ Tetapi harta yang kurang dari cukup juga dapat menyibukkan seseorang dari Allah sehingga harta yang kurang dari cukup itu bukan nikmat yang sempurna,” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, [Indonesia-Singapura, Al-Haramain, 2012 M], juz II, halaman 44).

Dari penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa umat Islam tidak boleh lupa diri dan lalai dari tanggung jawab dan kewajiban kepada Allah ketika memiliki banyak harta. Tetapi umat Islam juga tidak boleh kekurangan harta karena itu cukup menggangu pikiran dalam beribadah. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Jumat 20 April 2018 21:45 WIB
Imam Al-Ghazali Jelaskan Signifikansi Doa di Tengah Takdir Allah
Imam Al-Ghazali Jelaskan Signifikansi Doa di Tengah Takdir Allah
(Foto: ibtimes)
Imam Al-Ghazali mencoba untuk menjelaskan arti sebuah doa di tengah ketentuan Allah untuk manusia. Ia mencoba memahami perintah doa dari Allah sebagai sebuah ibadah tersendiri di sisi Allah.

Upaya Imam Al-Ghazali ini berangkat dari keresahan sebagian orang terkait relasi doa dan ketentuan Allah. Bagi sebagian orang, doa merupakan salah satu perintah Allah yang sulit dimengerti. Sementara Allah sudah menentukan segalanya untuk manusia.

Keterangan Imam Al-Ghazali ini dikuti oleh Imam An-Nawawi sebagai berikut:

فصل : قال الغزالي : فإن قيل : فما فائدة الدعاء مع أن القضاء لا مرد له ؟ فاعلم أن من جملة القضاء : رد البلاء بالدعاء ، فالدعاء سبب لرد البلاء ووجودالرحمة ، كما أن الترس سبب لدفع السلاح ، والماء سبب لخروج النبات من الأرض ، فكما أن الترس يدفع السهم فيتدافعان ، فكذلك الدعاء والبلاء ، وليس من شرط الاعتراف بالقضاء أن لا يحمل السلاح ، وقد قال الله تعالى : (وليأخذوا حذرهم وأسلحتهم) [ النساء : 102 ] فقدر الله تعالى الأمر ، وقدر سببه.

Artinya, “Fasal, Imam Al-Ghazali mengatakan, bila ada pertanyaan, ‘Apa faedah doa di saat yang sama ketentuan (qadha) Allah tak bisa ditolak?’ ketahuilah, kata Imam Al-Ghazali, tolak bala melalui doa merupakan bagian dari qadha secara global. Doa menjadi sebab tolak bala dan sebab turunnya rahmat-Nya sebagaimana perisai menjadi sebab penolak senjata dan air menjadi sebab tumbuhnya tanaman di tanah. Ilustrasinya seperti perisai yang menolak anak panah sehingga keduanya saling berlawanan sebagaimana doa dan bala. Secara sengaja mengosongkan tangan kosong tanpa senjata bukan menjadi syarat atas pengakuan qadha. Allah berfirman, ‘Hendaklah mereka waspada dan siapkan senjata,’ (An-Nisa ayat 102). Allah menentukan suatu hal dan menjadikan penyebabnya,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 342).

Dari kutipan ini, kita dapat memahami bahwa doa merupakan sebuah perintah Allah yang memiliki nilai ibadah. Selain itu, doa merupakan salah satu bentuk ikhtiar manusia dalam mengatasi masalah-masalah kehidupan mereka.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa doa merupakan salah satu senjata orang beriman dalam menolak bala. Doa dengan keutamaan nilai ibadah di dalamnya cukup efektif untuk menolak atau setidaknya mengurangi bala yang ditentukan oleh Allah SWT.

Kalau secara lahiriyah doa tidak juga menghindari kita dari bala dan bencana yang dikhawatirkan, setidaknya doa sudah menjadi bukti kehambaan kita kepada Allah sebagai keterangan Syekh Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam berikut ini:

لا يكن طلبك تسبباً إلى العطاء منه فيقل فهمك عنه .وليكن طلبك لإظهار العبودية وقياماً بحقوق الربوبية

Artinya, “Jangan maknai permintaanmu sebagai sebab atas pemberian Allah yang itu menunjukkan kekurangpengertianmu terhadap-Nya. Hendaklah sadari bahwa permintaanmu adalah pernyataan kehambaan dan pemenuhan atas hak-hak ketuhanan.” Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)