IMG-LOGO
Ilmu Hadits

Bahaya Salah Memahami Hadits ‘Memerangi Orang-orang Musyrik’

Senin 14 Mei 2018 14:45 WIB
Share:
Bahaya Salah Memahami Hadits ‘Memerangi Orang-orang Musyrik’
Ilustrasi (via wejdan.org)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ

“Diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: "Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi; tidak ada Ilah (Tuhan) kecuali Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka lakukan yang demikian maka mereka telah memelihara darah dan harta mereka dariku kecuali dengan haq Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah." (HR. Bukhari-Muslim)

Sebagian orang mempunyai pemahaman yang kurang baik terhadap hadits ini. Mereka memahami hadits ini sebagai perintah dari agama untuk memerangi semua orang musyrik (non-Muslim) hingga mereka mengucapkan syahadat. Efeknya, sering terjadi kekerasan atau penyerangan terhadap non-Muslim dengan berdalih pada hadits ini. Mereka meyakini apa yang dilakukannya itu merupakan sesuatu yang benar dan diperintahkan oleh agama. Tidak heran jika Syekh Muhammad al-Ghazali menyebut hadits ini sebagai hadits yang madhlûm (terzalimi). 

Benarkah demikian? Mari kita pahami hadits ini dengan baik, sesuai dengan pemahaman bahasa Arab yang baik, sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan sesuai dengan latar belakang munculnya (asbabul wurud) hadits ini.

Siapakah An-Naas (Manusia) yang Dimaksud dalam Hadits itu?

Redaksi hadits di atas bila kita terjemahkan secara literal akan berbunyi: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi: tidak ada ilah (Tuhan) kecuali Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka lakukan yang demikian maka mereka telah memelihara darah dan harta mereka dariku kecuali dengan haq Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah." Siapakah yang dimaksud dengan an-nâs (manusia) pada hadits di atas? Apakah semua manusia, non-Muslim, atau siapa?

Untuk memahami sabda Nabi yang baik kita harus mengacu pada pemahaman bahasa di mana Nabi ﷺ menggunakan bahasa itu, yaitu bahasa Arab, bahasa Al-Qur’an. Di dalam Al-Qur’an ketika disebutkan kata an-nâs, maka yang dimaksud adalah sebagian manusia, baik dalam jumlah kecil, maupun dalam jumlah besar. Bahkan terkadang ada yang dikehendaki hanyalah satu orang saja. Bukan semua manusia. Mau bukti? Simak penjelasan berikut ini.

Dalam surat Al-Hajj: 27, Allah ﷻ berfriman: 

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ.

“Dan berserulah kepada an-nâs (manusia) untuk mengerjakan haji.” (QS. Al-Hajj: 27)

Siapakah yang di maksud dengan an-nâs pada ayat ini? Yang dimaksud adalah orang-orang Muslim saja. Non-Muslim tidak masuk dalam kata an-nâs ini.

Pada ayat yang lain, Allah ﷻ berfirman: 

وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَمِنَ الصَّالِحِينَ.

“Dan dia berbicara dengan an-nâs (manusia) dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia adalah termasuk orang-orang yang saleh." (QS. Ali ‘Imraan : 46)

Siapa yang dimaksud dengan an-nâs pada ayat ini? Yang dimaksud adalah orang-orang yang berbicara kepada Maryam tentang anaknya (Nabi ‘Isa ‘alaihis salâm). Hanya sebagian orang, bukan semua manusia.

Allah ﷻ juga berfirman:

يُوسُفُ أَيُّهَا الصِّدِّيقُ أَفْتِنَا فِي سَبْعِ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعِ سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ لَعَلِّي أَرْجِعُ إِلَى النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَعْلَمُونَ.

“(Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): "Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada an-nâs (orang-orang itu), agar mereka mengetahuinya." (QS. Yusuf: 46)

Siapakah yang dimaksud dengan an-nâs pada ayat ini? Yang dimaksud adalah Raja Mesir dan para pengikutnya yang mengutus pelayan itu untuk menemui Nabi Yusuf AS.

Allah ﷻ berfirman: 

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ.

“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya an-nâs (manusia) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung." (QS. Ali ‘Imraan: 173)

Siapakah an-nâs pada ayat ini? An-nâs pada ayat ini menurut Mujâhid, Muqâtil, Ikrimah dan Al-Kalbiy adalah Nu’aim bin Mas’ud. (Tafsir Al-Qurthubiy: 4: 279).

Allah ﷻ juga berfirman:

أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ.

“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya?” (QS. An Nisaa’: 54)

An-nâs (manusia) yang dimaksud pada ayat di atas adalah Nabi Muhammad ﷺ.

Dengan demikian, penggunaan kata an-nâs pada beberapa ayat di atas, meskipun redaksinya umum, namun yang dikehendai adalah orang-orang tertentu, bukan semua manusia. Demikian juga pada hadits di atas, yang dimaksud dengan an-nâs (manusia) yang harus diperangi adalah kelompok manusia tenrtentu, bukan semua manusia. Lalu siapakah an-nâs yang layak diperangi pada hadits di atas?

Para ulama berbeda pendapat dalam menafsiri kata an-nâs yang terdapat pada hadits di atas. Pertama, an-nâs yang dimaksud pada hadits di atas adalah orang-orang musyrik, karena dalam riwayat yang lain ada hadits yang berbunyi: “Aku diperintahkan untuk membunuh orang-orang musyrik.” 

Kedua, yang dimaksud dengan an-nâs pada hadits di atas adalah orang-orang yang memerangi umat Islam. Kelompok ini tidak sepakat jika an-nâs pada hadits di atas yang dimaksud adalah orang-orang musyrik. Kelompok kedua ini di antaranya adalah Ibnul ‘Arabi al-Maliki. Ia berpendapat bahwa ayat-ayat yang berbunyi “faqtulû al-musyrikîn” (perangilah orang-orang musyrik) harus dipahami bahwa yang dimaksud di situ adalah orang-orang musyrik yang memerangi umat Islam, bukan semua orang musyrik. Hal ini karena beberapa hadits telah menjelaskan bahwa perempuan, anak kecil, pendeta, dan orang-orang yang lemah tidak boleh untuk diperangi. Dengan demikian lafadh an-nâs (manusia yang boleh diperangi) pada hadits di atas adalah orang-orang musyrik yang memerangi umat Islam. 

Pendapat kedua ini juga di dukung oleh Ibnu Taimiyah. Ia berpendapat, manusia yang boleh diperangi hanyalah orang-orang musyrik yang menghunuskan pedang mereka untuk menyerang umat Islam, bukan orang-orang musyrik yang berdamai dengan orang Islam. Ibnu Taimiyah menguatkan pendapatnya ini dengan firman Allah ﷻ yang artinya: “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190). Mereka ini adalah orang-orang musyrik yang menyiapkan dirinya untuk berperang. Adapun orang-orang musyrik yang tidak memerangi umat Islam, seperti para pendeta, orang-orang yang sudah tua renta, perempuan dan anak-anak, mereka semua tidak boleh diperangi. Pendapat ini juga didukung oleh Ibnul Qayyim Al-Jawziyah, Ibnu Rajab Al-Hanbali, Al-Amir Ash Shan’ani, Syekh Muhammad al-Ghazali, Syekh ‘Abdullah bin Zaid (ulama Qatar) dan Syekh Yusuf Al-Qardlawi.

Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa yang dimaksud dengan an-nâs (manusia) yang boleh diperangi pada hadits di atas adalah orag-orang musyrik yang mengangkat senjata memerangi umat Islam. Pemahaman seperti ini sesuai dengan manhaj yang mengkompromikan semua dalil, baik dari Al-Qur’an maupun hadits-hadits Nabi ﷺ, sehingga tidak terjadi pertentangan di antara dalil-dalil itu. Juga tidak menggugurkan sebagian dalil-dalil itu.

Di sisi lain, redaksi hadits sejenis dengan berbagai macam jalur riwayatnya tidak ada yang menggunakan redaksi “umirtu an aqtula”. Semua hadits yang sejenis dengan hadits di atas menggunakan redaksi “umirtu an uqaatila”. Dua redaksi “an aqtula” dengan “an uqaatila” mempunyai perbedaan makna yang signifikan. Redaksi “an uqaatila” menunjukkan bahwa perbuatan penyerangan itu dilakukan oleh dua pihak. Ini berbeda dengan “an aqtula” yang hanya dilakukan oleh satu pihak. Ini artinya, perintah memerangi orang-orang musyrik pada hadits di atas adalah ketika orang-orang musyrik itu terlebih dahulu memerangi umat Islam.

Prinsip Kebebasan Beragama dalam Islam

Memahami hadits di atas sebagai perintah untuk memerangi non-Muslim merupakan pemahaman yang tidak benar dan akan bertentangan dengan sekian ayat Al-Qur’an yang memberikan pilihan kepada manusia untuk memilih agama sesuai yang diyakininya. Allah ﷻ berfirman: “Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir." (QS. Al-Kahfi: 29), “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS. Yuunus: 99), “Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.” (QS. Al-Ghasyiyah: 21-22). 

Ayat-ayat ini menjadi bukti yang nyata bahwa dalam urusan memilih keyakinan, Islam sama sekali tidak pernah memaksa seorang pun untuk memeluk Islam. Islam sangat menghargai kebebasan memeluk agama sesuai dengan yang diyakini oleh pemeluk agama itu.

Fakta Sejarah Menunjukkan Nabi Tidak Pernah Memerangi Atau Membunuh Orang-Orang Musyrik Hanya Karena Kemusrikannya

Sejarah mencatat Rasulullah ﷺ tidak pernah membunuh seorang musyrik pun hanya karena ia seorang musyrik. Dalam Shahih Bukhari dikisahkan dari Abu Hurairah RA, beliau berkata: "Rasulullah ﷺ mengirim pasukan menuju Nejed, lalu mereka menangkap seseorang dari Bani Hanifah, Tsumamah bin Utsal pemimpin penduduk Yamamah, kemudian mereka mengikatnya pada salah satu tiang masjid, lalu Rasulullah ﷺ menemuinya dan bersabda kepadanya: "Apa yang kamu miliki hai Tsumamah?"

Ia menjawab, "Wahai Muhammad, aku memiliki apa yang lebih baik, jika engkau membunuhnya maka engkau telah membunuh yang memiliki darah, dan jika engkau memberi maka engkau memberi orang yang bersyukur, namun jika engkau menginginkan harta maka mintalah niscaya engkau akan diberi apa saja yang engkau inginkan." 

Kemudian Rasulullah ﷺ meninggalkannya, hingga keesokan harinya beliau bertanya, "Apa yang engkau miliki wahai Tsumamah?" Ia menjawab, "Seperti yang aku katakan, jika engkau memberi maka engkau memberi orang yang bersyukur, jika engkau membunuh maka engkau membunuh yang memiliki darah, jika engkau menginginkan harta maka mintalah niscaya engkau akan diberi apa yang engkau mau."

Lalu Rasulullah ﷺ meninggalkannya, hingga keesokan harinya beliau bertanya lagi: "Apa yang engkau miliki wahai Tsumamah?" Ia menjawab, "Seperti yang aku katakan, jika engkau memberi maka engkau memberi orang yang bersyukur, jika engkau membunuh maka engkau membunuh yang memiliki darah, jika engkau menginginkan harta maka mintalah niscaya engkau akan diberi apa yang engkau mau." 

Rasulullah ﷺ kemudian bersabda kepada sahabatnya; "Bawalah Tsumamah" lalu mereka pun membawanya ke sebatang pohon kurma di samping masjid, ia pun mandi dan masuk masjid kembali, kemudian berkata; "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang patut disembah melainkan hanya Allah dan bahwasanya Muhammad itu utusan Allah, demi Allah, dahulu tidak ada wajah di atas bumi ini yang lebih aku benci selain wajahmu, namun sekarang wajahmu menjadi wajah yang paling aku cintai dari pada yang lain, dan demi Allah, dahulu tidak ada agama yang lebih aku benci selain dari agamamu, namun saat ini agamamu menjadi agama yang paling aku cintai di antara yang lain, demi Allah dahulu tidak ada wilayah yang paling aku benci selain tempatmu, namun sekarang ia menjadi wilayah yang paling aku cintai di antara yang lain, sesungguhnya utusanmu telah menangkapku dan aku hendak melaksanakan umrah, bagaimana pendapatmu?"

Maka Rasulullah ﷺ memberinya kabar gembira dan memerintahkannya untuk melakukan umrah, ketika ia sampai di Makkah seseorang berkata kepadanya; "Apakah engkau telah murtad?" Ia menjawab; "Tidak, tetapi aku telah masuk Islam bersama Muhammad ﷺ, dan demi Allah tidaklah kalian akan mendapatkan gandum dari Yamamah kecuali mendapatkan izin dari Rasulullah ﷺ." Seandainya Rasulullah diperintahkan untuk membunuh orang-orang musyrik, niscaya Rasulullah ﷺ sudah membunuh Tsumamah saat ia pertama kali tertangkap.

Saat perang Badar selesai dan dimenangkan oleh umat Islam, pihak Muslim mendapatkan banyak tawanan dari orang-orang kafir Quraisy, sebagian tawanan-tawanan itu adalah para tokoh-tokoh utama Quraisy, seperti Suhail bin ‘Amr. Terhadap tawanan-tawanan itu Rasulullah berpesan kepada para sahabatnya agar memperlakukan mereka dengan baik. Rasulullah ﷺ juga meminta tebusan kepada keluarga tawanan tersebut jika ingin bebas. Jika tawanan itu tidak ada yang menjamin, maka tebusan agar dapat bebas adalah dengan mengajarkan baca tulis kepada umat Islam. Jika Nabi ﷺ diperintahkan untuk membunuh orang musyrik secara umum, maka tentunya Nabi tidak akan memperlakukan tawanan-tawanan musyrik dengan sebaik itu, bahkan tidak mungkin Nabi ﷺ meminta tebusan untuk para tawanan itu dengan mengajarkan baca tulis. 

Masih banyak lagi bukti-bukti sejarah yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah memerangi atau membunuh orang-orang musyrik hanya karena kemusrikannya. Praktik adanya muamalah atau transaksi jual beli di zaman Nabi ﷺ antara umat Islam dengan orang-orang musyrik juga menunjukkan bahwa Nabi ﷺ dan umat Islam pada waktu itu tidak memerangi mereka. 

Dalam tinjauan asbbabu wurudil hadits, para ulama menegaskan bahwa hadits di atas muncul berkaitan dengan orang-orang musyrik Arab yang saat itu memerangi dakwah Nabi ﷺ. Mereka memusuhi dakwah Nabi ﷺ sejak pertama kali beliau berdakwah mengajak orang-orang untuk menyembah Allah ﷻ tanpa menyekutukannya. Orang-orang musyrik Arab ini juga menyiksa kaum Muslimin yang lemah selama tiga belas tahun lamanya dan memerangi Nabi ﷺ selama sembilan tahun saat beliau berada di Madinah. Mereka juga melanggar perjanjian damai yang telah disepakati bersama orang-orang Muslim. Jadi, ketika Nabi ﷺ bersabda: "Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi; tidak ada Ilah (Tuhan) kecuali Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah”, sasaran dari sabda Nabi itu ditujukan untuk orang-orang musyrik Arab yang memerangi umat Islam, bukan orang-orangmusyrik secara umum. Wallahu A’lam.


Muhammad Kudhori, Dosen STAI Al-Fithrah Surabaya
Share:
Sabtu 21 April 2018 19:0 WIB
Mengenal Generasi Tabi’in dan Urgensinya dalam Kajian Hadits
Mengenal Generasi Tabi’in dan Urgensinya dalam Kajian Hadits
Setelah masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, pengajaran Islam dilanjutkan kalangan sahabat. Para sahabat ini berdiaspora ke berbagai daerah, baik untuk berdakwah maupun tugas kekhalifahan. Mereka berjumpa dengan generasi selanjutnya yang tidak berjumpa Nabi semasa hidupmelanjutkan dakwah dan ajaran Islam.

Baca: Siapakah yang Disebut ‘Sahabat Nabi’ Itu?
Generasi setelah sahabat ini disebut tabi’in. Menurut ulama hadits, semisal seperti dicatat oleh Imam as Suyuthi dalam Tadribur Rowi, definisi tabi’in yang masyhur adalah: orang-orang yang berjumpa dengan sahabat dalam keadaan Muslim, serta wafat juga dalam keadaan Muslim.

Disebabkan sanad adalah salah satu elemen penting sebuah hadits, maka mengenal generasi tabi’in dan cara penyandaran hadits mereka kepada Nabi maupun generasi sahabat menjadi patut dicermati. Nabi Muhammad dan generasi sahabat yang notabene menjumpai beliau, dan mengamalkan Islam sebagaimana mereka ketahui sendiri dari Nabi, adalah rujukan berislam generasi setelahnya.

Ajaran-ajaran Nabi yang tercatat dalam hadits mesti dilakukan penelusuran riwayat, demi mengetahui keabsahannya. Ulama hadits dan sejarah menilai pentingnya membagi kelompok generasi sahabat, tabi’in, dan generasi-generasi setelahnya, salah satunya sebagai cara menilai kesahihan suatu hadits baik segi ketersambungan sanad atau pribadi perawinya.

Masa para tabi’in ini merentang dari pasca wafatnya Nabi, sampai sekitar 150 H. Pakar rijalul hadits atau biografi perawi membuat klasifikasi tentang tabi’in ini. Secara garis besar, pembagian tabiin ini dibagi menjadi generasi tabi’in tua (akbarut tabi’in) dan generasi tabi’in yang lebih muda (shigharut tabi’in) salah satunya berdasarkan kedekatan dengan masa Nabi.

Baca juga: Mengenal Kredibilitas Perawi Hadits lewat Jarh dan Ta’dil
Sosok tabi’in yang masyhur dari kalangan tua semisal Said bin Musayyib, Hasan Al Basri, dan Uwais al Qarni, yang di daerahnya masing-masing dinilai sebagai tabi’in paling istimewa.Kemudian dari golongan tabi’in muda yang lebih jauh dari masa Nabi, semisal Imam Abu Hanifah dan Imam Malik bin Anas.

Tokoh yang membuat klasifikasi tabi’in antara lain Imam Muslim, Imam Ibnu Sa’ad, dan Imam al Hakim. Nama yang disebut terakhir membuat sampai 15 tingkatan tabi’in, dan di urutan pertama adalah tabi’in yang berjumpa sepuluh orang yang dikabarkan masuk surga (al-‘asyarah mubasysyarun bil jannah).

Mengenali posisi generasi seorang perawi itu penting karena berkaitan erat dengan kesahihan hadits. Jika seorang pengkaji hadits belum mengidentifikasi tokoh perawi dalam sanad, maka penilaian atas hadits tersebut bisa kurang tepat.

Mengapa sedemikian urgen mengenal generasi ini? Terkait posisi tabi’in, dikenal istilah hadits mursal dan hadits maqthu’. Patut diketahui bahwa berdasarkan penyandarannya dalam sanad dan matan, hadits dibagi menjadi tiga: marfu’, yaitu hadits-hadits yang disandarkan pada Nabi; kemudian hadits mauquf, yaitu hadits yang disandarkan kepada sahabat; dan kemudian hadits maqthu’, yang riwayatnya disandarkan pada perilaku tabi’in.Jika riwayat yang disandarkan kepada tabi’in ini tidak menunjukkan adanya keterkaitan dengan Nabi atau generasi sahabat, maka mayoritas ulama tidak menjadikannya hujjah suatu hukum.

Meskipun generasi tabi’in hanya berselisih satu generasi dengan Nabi, namun karena masih terpaut kalangan sahabat, perkataan tabi’in yang disandarkan langsung kepada Nabi secara umum dinilai terputus sanadnya. Oleh para ulama hadits keadaan ini disebut hadits mursal, yaitu hadits yang perawi dari kalangan sahabat tidak disebutkan, dam kebanyakan ulama menilainya sebagai hadits dla’if. Demikian dari sudut pandang ilmu hadits, mengenal tabi’in itu penting. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)

Rabu 18 April 2018 20:0 WIB
MUSTHALAH HADITS
Mengenal Kredibilitas Perawi Hadits lewat Jarh dan Ta’dil
Mengenal Kredibilitas Perawi Hadits lewat Jarh dan Ta’dil
Penelitian sebuah hadits tidak bisa dilepaskan dari penelitian terhadap pembawa haditsnya dalam hal ini adalah seorang perawi, terutama terkait kredibiltas, integritas, dan validitas. Lima syarat disepakati oleh ulama muhadditsin. Dua di antaranya harus dipastikan dalam diri perawi. Syarat tersebut adalah adil dan dhabit. Perpaduan antara adil dan dhabit ini biasa disebut sebagai tsiqah.

Untuk mengetahui keadilan dan kedhabitan seorang perawi, diperlukan tanshih (ketetapan) dari para ulama terhadap perawi tersebut. Ketetapan ulama tersebut memiliki berbagai maratib (derajat). Derajat-derajat itu dibagi menurut kata yang digunakan untuk memvonis (mentanshih) seorang perawi tersebut.

Maka dari itu, diperlukan ilmu jarh wa ta’dil untuk mengetahui derajat-derajat tersebut.

Secara ringkas, Imam Jalaluddin As-Suyuthi merangkum seluruh tingkatan jarh wa ta’dil dari beberapa imam sebelumnya, seperti Ibnu Shalah, Ad-Dzahabi, Al-Iraqi dan Ibnu Hajar Al-Asqalani. As-Suyuthi merangkum enam tingkatan lafadz jarh dan enam tingkatan lafadz ta’dil. (As-Suyuthi, Tadribur Rawi fi Syarh Taqrib An-Nawawi, [Riyadh: Maktabah Riyadh Al-Haditsah, tanpa catatan tahun] halaman 342-348).

Hal ini juga dijelaskan oleh Mahmud Thahhan dalam Taysir Musthalah Hadits, (Riyadh: Maktabah Maarif, 2004 M, halaman 189-192).

Berikut enam tingkatan lafadz ta’dil:

Pertama, kata-kata yang menunjukkan mubalaghah (intensitas maksimal) yang berbentuk af’alut tafdhil dan sejenisnya. Seperti kata-kata أوثق الناس (yang paling tsiqat), أضبط الناس  (yang paling dhabith), ليس له نظير (tiada bandingannya), dan lain sebagainya.

Kedua, kata-kata yang mengukuhkan kualitas tsiqat dengan salah satu sifat di antara sekian sifat ‘adil dan tsiqat, yakni dengan mengulang kata yang sama secara lafal dan makna. Misalnya: ثقة ثقة , ثقة مأمون, ثقة حافظ, dan lain-lain.

Ketiga, kata-kata yang menunjukkan sifat ‘adil yang sekaligus menyiratkan kedhabithan seorang perawi tanpa taukid. Misalnya: ثبت, متقن , عدل إمام حجة, عدل ضابط، ثقة dan lain-lain.

Keempat, kata-kata yang menunjukkan sifat ‘adil, tetapi menggunakan kata yang tidak menyiratkan kedhabithan. Misalnya: صدوق , مأمون, لا بأس به . Namun pernyataan lâ ba’sa bihi jika diucapkan oleh Yahya bin Ma’in, maka artinya tsiqah.

Lafal yang tingkatannya setara dengan tingkat ini adalah kata-kata yang menunjukkan kejujuran perawi, tapi tidak menunjukkan kedhabithannya. Misalnya: محله الصدق , صالح الحديث. Sebagian ulama menyamakan kedua kata itu dengan tingkat keenam.

Keenam, kata-kata yang sedikit menyiratkan makna tajrih, seperti penyertaan kata-kata di atas dengan kalimat masyi’ah. Misalnya: شيخ ببعيد من الصواب, صويلح, صدوق أن شاء الله. Dan lain-lain.

Adapun hadits pada tingkatan pertama hingga ketiga bisa dijadikan hujjah. Sedangkan hadits pada tingkatan keempat dan kelima tidak bisa dijadikan hujjah, tetapi haditsnya boleh disampaikan, ditulis dan dijadikan i’tibar (dijadikan pendukung dari hadits lain).

Hadits pada tingkatan keenam hanya bisa dijadikan i’tibar, tidak bisa ditulis atau disampaikan apalagi dijadikan hujjah.

Tingkatan lafal jarh, para ulama muhadditsin juga membaginya menjadi enam. Urutan yang pertama lebih mendekati ta’dil daripada tingkatan-tingkatan setelahnya.

Pertama, menyifati perawi dengan sifat-sifat yang menunjukkan kedha’ifannya, akan tetapi dekat dengan ta’dil. Misalnya: ليس بذلك القوي, ليس بحجة, فيه مقال, فيه ضعف, dan غيره أوثق منه.

Kedua, kata-kata yang menunjukkan penilaian dha’if atas perawi atau kerancuan hafalannya. Misalnya: مضطرب الحديث, لا يحتج به, ضعفوه (ulama menilainya dha’if), له مناكير (ia memiliki hadits-hadits munkar), ضعيف. atau yang sejenis.

Ketiga, kata-kata yang menunjukkan bahwa perawi tersebut sangat dha’if. Misalnya: رد حديثه, ضعيف جدا, ليس بشيئ, طرح حديثه, dan لا يكتب حديثه. dan lain-lain.

Keempat, kata-kata yang menunjukkan bahwa seorang perawi tertuduh sebagai pendusta, pemalsu, atau yang sejenis. Misalnya متهم بالكذب, متهم بالوضع, يسرق الحديث. Disamakan dengan tingkat ini adalah kata-kata yang menunjukkan ditinggalkan haditsnya. Misalnya: متروك, هالك, ليس بثقة. dan lain-lain.

Kelima, jarh dengan kedustaan atau pemalsuan. Misalnya كذاب, وضاع. merupakan kata-kata yang menunjukkan mubalaghah tetapi masih lebih ringan daripada tingkatan di bawah.

Keenam, kata-kata yang menunjukkan mubalaghah dalam hal jarh. Misalnya أكذب الناس, ركن الكذب. dan lain-lain.

Para perawi yang dinilai dengan tingkatan pertama dan kedua, haditsnya tidak boleh dijadikan sebagai hujjah. Tetapi hadits ini bisa digunakan sebagai i’tibar. Sedangkan perawi yang tergolong tingkatan tiga hingga enam, tidak bisa dijadikan itibar, apalagi untuk disampaikan dan dijadikan hujjah. Wallahu a‘lam. (M Alvin Nur Choironi)
Ahad 15 April 2018 6:0 WIB
MUSTHALAH HADITS
Ini Cara Al-Iraqi Verifikasi Hadits di Kitab Ihya’ Ulumiddin
Ini Cara Al-Iraqi Verifikasi Hadits di Kitab Ihya’ Ulumiddin
(Foto: ok.ru)
Kita sering mendengar selentingan orang-orang tertentu bahwa hadits-hadits dalam Kitab Ihya Ulumiddin banyak yang dhaif bahkan maudhu. Selentingan itu tetap terdengar meski Imam Al-Ghazali sendiri pernah menyebutkan bahwa hadits yang ia tulis selalu ditanyakan secara langsung kepada Rasulullah SAW, baik melalui mimpi maupun terjaga (bertemu dalam keadaan sadar).

Pernyataan Al-Ghazali tersebut tidak bisa dijadikan parameter dalam memastikan kesahihan sebuah hadits. Karena secara prosedur, penelitian otentisitas hadits tidak bisa dilakukan melalui mimpi, atau bertemu langsung dengan orang yang sudah wafat. Ini tidak bisa diteliti kembali.

Melihat kesimpangsiuran hadits dalam Kitab Ihya’ Ulumiddin tersebut, muncullah seorang ulama kelahiran Mahran yang menulis sebuah kitab berjudul Al-Mughnī ‘an Ḥamlil Aṣfār fil Aṣfār yang merupakan kitab takhrij atas hadits-hadits yang ada dalam Ihya’ Ulumiddin.

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Kitab Inba’il Ghumar bi Abna’il Umar menyebutkan bahwa ulama yang memiliki nama lengkap ‘Abdurrahim bin Al-Husain bin ‘Abdurrahman bin Abi  Bakr  bin  Ibrahim  Al-Kurdi  Ar-Raziyani ini merupakan keturunan  bangsa  ‘Iraq, kelahiran kota Mahran, Mesir dan bermadzahab Syafi’i. Ia lahir pada tahun 725 H dan wafat pada tahun 806  H (81 Tahun).

Al-Iraqi merupakan pengajar di beberapa madrasah: Darul  Hadits, Al-Kamilah, Az-Zhairiyyah Al-Qadimah, Al-Qaransiqriyah, Jami’ Ibnu Thulun, dan Al-Fadhilah. Ia juga pernah  tinggal  di  dekat  Al-Haramain  dalam  beberapa waktu. Bahkan ia pernah  menjabat sebagai hakim di Madinah An-Nabawiyah, berkhutbah dan menjadi Imam di sana.

Selain Al-Mughni, Al-Iraqi juga menulis beberapa karya dalam bidang hadits dan ilmu hadits. Karyanya adalah Kitab Al-Marasil, Taqribul Isnad, At-Tabshirah wat Tadzkirah, Al-Alfiyah fi Gharibil Qur'an, At-Tafsir wal Idhah fi Mushthalahil Hadits, Tharhut Tatsrib fi Syarhit Tatsrib, Syarah At-Tirmidzi, bahkan ia juga pernah membuat syair dan syarh ilmu hadits dari Ibnu Shalah.

Mengenal Kitab Al-Mughni
Imam Ahmad bin Muhammad bin As-Siddiq Al-Ghummari dalam Khuṣūlut Tafrīj bi Ūṣūlit Takhrīj menjelaskan bahwa Al-Mughni merupakan kitab takhrij hadits dari Kitab Ihya’ Ulumiddin karya Al-Ghazaly (505 H). Selain itu kitab ini merupakan ringkasan dari kitab takhrij “Ihya” sebelumnya yang belum selesai.

Sebelum menulis Al-Mughni, Al-Iraqi terlebih dahulu menulis Kitab Al-Takhrījul Kabīr: Ikhbārul Aḥyā’ bi Akhbāril Iḥyā’ yang sama-sama merupakan takhrij dari kitab Ihya karangan Al-Ghazali. Namun kitab ini tidak sampai rampung. Kitab ini hanya ditulis Al-Iraqi hanya sampai bab haji dalam bab Ihya’.

Setelah menulis At-Takhrījul Kabīr: Ikhbārul Aḥyā’ bi Akhbāril Iḥyā’ yang tidak sampai usai, Al-Iraqi kembali mengarang takhrij Ihya yang lebih ringkas. Kitab ini ia bernama Al-Takhrījul Wasṭ: Al-Kasyful Mubīn fi Takhrīj Ahādīts Iḥyā’ Ulūmiddin. Sebagaimana pendahulunya, kitab ini juga tidak sampai selesai, bahkan ada beberapa hadits yang tawaqquf.

Baru setelah menulis dua kitab yang semuanya tidak sampai selesai, Al-Iraqi menulis kitab yang lebih ringkas dari pada dua kitab pendahulunya. Kitab ini diberi judul Al-Takhrījus Ṣāghīr: Al-Mughnī ‘an Ḥamlil Aṣfār fil Aṣfār. Tidak seperti kedua pendahulunya yang tak sampai selesai, kitab ini berhasil dirampungkan oleh Al-Iraqi. Kitab ini yang akan kita bahas metodenya nanti.

Rancang Bangun (Outline) Kitab Al-Mughni
Kitab ini ditulis menjadi bab per bab dan disesuaikan dengan bab-bab yang ditulis oleh Al-Ghazali dalam Kitab Ihya. Bahkan beserta sub-sub bab yang ditulis oleh Al-Ghazali. Setelah itu dikumpulkan semua hadits yang terdapat dalam bab tersebut beserta nomor juz dan halaman. Semua hadits yang dikumpulkan diberi nomor oleh Al-Iraqi. Baru setelah itu ia menakhrij hadits dengan hanya mencantumkan kitab-kitabnya dan juga justifikasinya.

Mengenai cara yang digunakan oleh Al-Iraqi dalam menulis kitab ini, Ahmad Al-Ghummari memberikan pendapat bahwa saat ini para pembaca terlalu rumit jika membaca sanad yang terlalu panjang sehingga cara yang digunakan oleh Al-Iraqi ini dianggap efektif.

Metode Takhrij Al-Iraqi dalam Kitab Al-Mughni
Dalam menyusun kitab Al-Mughni ini, Al-Iraqi menggunakan metode sebagaimana berikut:

Pertama, hanya menyebutkan ujung hadits, periwayat dari sahabat, mukharrij serta justifikasi (terkadang menyebutkan hadits versi lengkap dalam mukharrijnya). Ia tidak mentakhrij atsar kecuali ada faedah.

Kedua, jika sebuah hadits ditemukan di Shahihain maka ia cukup menisbatkan dan mempercayakan padanya terkait statusnya. Terkadang beberapa mukharrij lain juga sama.

Ketiga, jika hadits tersebut terdapat dalam kitab sittah, dan tidak dinisbatkan lagi dalam kitab lain, berarti hadits tersebut shahih dalam kitabnya sekiranya lafal yang digunakan mukharrij sama atau mendekati lafadz di Ihya.

Keempat, Menjelaskan shahih, hasan, dhaif atau bahkan hadits yang La aṣla lah, (tak ada sumbernya).

Kelima, Ia terkadang mengutip pendapat ulama dalam sebuah hadits seperti Ibnu Shalah dan An-Nawawi.

Keenam, terkadang ia menjelaskan hadits riwayat lain yang menyebutkan kata semakna walaupun ia telah menemukan dalam kitab tertentu.

Ketujuh, jika tidak menemukan hadits, ia akan mencari yang agak mendekati, jika masih tidak ketemu, ia cukup berkata “Lam ajidhu”.

Kedelapan, jika haditsnya sama, ia cukup menyebutkan (taqaddama fi...).

Beberapa Fakta yang Terdapat dalam Kitab Al-Mughni
Ada beberapa fakta menarik yang terdapat dalam karya Al-Iraqi ini.

Pertama, ternyata tidak semua hadits ditakhrij oleh Al-Iraqi. Hal ini dibuktikan dengan beberapa kitab takhrij yang muncul setelahnya, yaitu Al-Istidrak ala Takhrijil Ihya karya Al-Asqalani, Tuhfatul Ahya’ fi ma Fata min Takharijil Ihya karya Al-Qasim bin Qatlubghi; dan Ithaf Sadatil Muttaqin karya Az-Zubaidi.

Kedua, Al-Iraqi sering menyebut nama Ibnu Lahiah. Jika dalam sanad ada rawi tersebut dengan nama tersebut, artinya Al-Iraqi meragukan atau bahkan mendhaifkan hadits tersebut, mengingat Ibnu Lahiah merupakan perawi yang berubah menjadi tidak dhabt setelah kitab-kitabnya terbakar. Wallahu a‘lam. (M Alvin Nur Choironi)