IMG-LOGO
Trending Now:
Ramadhan

Kesunahan Memperbanyak Sedekah di Bulan Ramadhan

Jumat 18 Mei 2018 19:0 WIB
Share:
Kesunahan Memperbanyak Sedekah di Bulan Ramadhan
(Foto: twitter)
Di antara amalan yang dianjurkan dalam Islam adalah sedekah. Keutamaan sedekah tidak hanya diperoleh orang yang memberikannya, tapi juga dinikmati orang yang menerimanya. Karena itu, sedekah selain memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan, juga memperkuat hubungan persaudaraan sesama manusia.

Sedekah dianjurkan kapan dan di mana saja, baik dalam kondisi lapang maupun sempit. Bahkan sebagian ulama menganjurkannya minimal sekali sehari, terutama di bulan Ramadhan. Sekalipun nominal yang dikeluarkan tidak banyak.

Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in menjelaskan:

وينبغي للراغب في الخير أن لا يخلي كل يوم من الأيام من الصدقة بما تيسر وإن قل وإعطاؤها سرا أفضل منه جهرا...وإعطاؤها برمضان أي فيه لاسيما في عشرة الأواخر أفضل

Artinya, “Orang yang ingin berbuat baik seharusnya tidak melewatkan kesempatan bersedekah setiap hari semampunya, meskipun sedikit. Bersedekah dengan diam-diam lebih baik daripada memperlihatkannya. Sedekah sangat dianjurkan di bulan Ramadhan, khususnya sepuluh terakhir.”

Anjuran memperbanyak sedekah di bulan Ramadhan ini didukung oleh banyak hadits dari Rasulullah, baik hadis qawli maupun fi’li. Dalam hadits riwayat Anas disebutkan:

عَنْ اَنَسٍ قِيْلَ يَارَسُولَ اللهِ اَيُّ الصَّدَقَةِ اَفْضَلُ؟ قَالَ: صَدَقَةٌ فِى رَمَضَانَ

Artinya, “Dari Anas dikatakan, ‘Wahai Rasulullah, sedekah apa yang nilainya paling utama?’ Rasul menjawab, ‘Sedekah di bulan Ramadhan,’ (HR At-Tirmidzi).

Selain hadits di atas, kesaksian dari banyak sahabat, Rasulullah semakin dermawan ketika berada di bulan Ramadhan. Maksudnya, ia memperbanyak sedekah di bulan Ramadhan. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim dijelaskan:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ (أَجْوَدَ) مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ

Artinya, “Rasulullah SAW adalah orang paling dermawan di antara manusia lainnya, dan ia semakin dermawan saat berada di bulan Ramadhan,” (HR Bukhari dan Muslim).

Bulan Ramadhan adalah bulan mulia. Karenanya memperbanyak amal saleh sangat dianjurkan, khususnya sedekah. Abu Bakar Syaththa dalam I’anatut Thalibin mengatakan, sedekah dianjurkan di bulan Ramadhan karena bulan mulia dan saat itu sebagian besar Muslim fokus untuk beribadah dan tidak terlalu aktif bekerja sehingga kebutuhan terhadap sedekah sangat mendesak.

Karenanya, sebagai umat Islam, alangkah baiknya kita memperbanyak sedekah, meskipun jumlah nominalnya tidak terlalu banyak karena kebaikan amalan itu tidak dilihat dari jumlahnya, tapi dari istiqamahnya. Wallahu a‘lam. (Hengki Ferdiansyah)
Tags:
Share:
Jumat 18 Mei 2018 18:0 WIB
Puasa Umat Islam Sebelum Turun Ayat Kewajiban Puasa Ramadhan
Puasa Umat Islam Sebelum Turun Ayat Kewajiban Puasa Ramadhan
Telah diketahui bersama bahwa sejarah diwajibkannya puasa adalah pada tahun dua hijriah, tepatnya di bulan Sya'ban. Hal ini merunut pada pendapat ulama terkmuka yang juga pendiri Universitas Al Imam Asy Syafi'i Cianjur, Jawa Barat,  Dr. Muhammad Hasan Hitou.

Jika memang kewajiban puasa bulan Ramadhan baru dibebankan pada tahun kedua hijriah, maka dapat ditarik pengertian bahwa selama 15 tahun kenabian, belum ada perintah puasa Ramadhan. Ya, karena Nabi hijrah pada tahun ke-13 kenabian, sedang wahyu puasa Ramadhan baru turun pada tahun kedua hijriah. Lantas, adakah puasa yang diwajibkan sebelum puasa Ramadhan?

Merujuk pada pendapat Dr. Muhammad Hasan Hitou dalam kitabnya, Fiqhu Shiyam, bahwa pensyariatan puasa pada masa awal Islam dimulai dengan puasa tiga hari di setiap bulannya, yang kemudian kita kenal sebagai ayyamul bidh. Ya, yaitu puasa selama tiga hari pada pertengahan bulan. Dimulai pada tanggal 13 dan kemudian berakhir di tanggal 15 di setiap bulannya.

Baca: Ini Asal-usul Puasa Hari-hari Putih (Ayyamul Bidh)
Selain itu, puasa yang juga disyariatkan sebelum Ramadhan adalah puasa Asyura (10 Muharram). Hal ini berpijak pada salah satu hadits yang juga termaktub dalam kitab tersebut:

وروى مسلم عن جابر بن سمرة قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يأْمر بصيام يومِ عاشوراءَ ، ويَحُثُّنا عليه ، ويتعاهدُنا عنده ، فلما فُرِضَ رمضانُ لم يأْمرْنا ولم يَنْهَنَا ولم يتعاهدنا عنده

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Jabir bin Samroh yang berkata, "Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk puasa Asyura, dan menganjurkan kami untuk melakukannya, dan  memperhatikan kami di sisi beliau. Kemdian ketika puasa Ramadhan diwajibkan, beliau tidak lagi memerintahkan kami (untuk puasa Asyura) dan tidak lagi memperhatikan kami melakukannya di sisi beliau."

Baca: Ini Penjelasan Ulama Perihal Waktu Pelaksaan Puasa Asyura
Kalimat “tidak memerintah dan tidak lagi memperhatikan” dalam hadits di atas bukan berarti Rasulullah bersikap apatis ataupun tidak peduli terhadap puasa Asyura. Sikap Rasulullah menjadi berubah disebabkan karena perubahan hukum puasa Asyura sendiri. Yaitu yang awalnya wajib, sehingga sang rasul sangat menekankan dan memeperhatikan, kemudian hukumnya berubah menjadi hanya sebatas sunah.

Demikianlah bahwa sebelum diwajibkannya puasa selama sebulan penuh Ramadhan, Allah telah mengajari umat Muhammad dengan puasa 3 hari di setiap bulannya dan puasa Asyura. Adapun hikmah yang dapat dipetik adalah bahwa Allah sekali-kali tidaklah membebani manusia kecuali sesuai dengan tingkat kesanggupannya. 

Dapat dibayangkan bagaimana nasib kaum Muslimin ketika perintah puasa langsung pada tahap puasa Ramadhan, puasa sebulan penuh tanpa adanya treatment, atau media latihan yang berupa puasa 3 hari di setiap bulannya dan juga puasa Asyura. Sudah barang tentu umat Islam akan sangat keberatan dan lemah. Sungguh, Allah adalah dzat yang Maha Bijaksana dalam segala urusan-Nya. (Ulin Nuha Karim)

Jumat 18 Mei 2018 10:30 WIB
Puasa Ruh, Puasa Akal, dan Puasa Jiwa
Puasa Ruh, Puasa Akal, dan Puasa Jiwa
Ilustrasi (via Pinterest)
Memasuki bulan suci Ramadhan, kita selalu berharap menjadi jiwa yang suci dengan diampuninya dosa-dosa kita di bulan ini. Begitu pula saat detik-detik Ramadhan akan meninggalkan kita, tak ada harapan lain selain diterimanya seluruh amalan dan diampuninya seluruh dosa kita oleh Allah ﷻ berkat puasa yang kita jalani.

Puasa dapat kita bagi menjadi dua. Puasa sebagai wujud menjalankan syariat Allah ﷻ dan puasa sebagai pendidikan bagi diri kita sendiri. Seperti halnya shalat, mengerjakan syarat dan rukunnya membuatnya sah dan bernilai ibadah; sementara mengambil hkmah dari setiap gerakan dan bacaan yang ada dalam shalat adalah pendidikan bagi diri kita.

Puasa (shaum) secara bahasa artinya menahan. Sudah hal yang lumrah yang timbul dalam pikiran kita adalah menahan lapar dari terbitnya fajar hingga datangnya maghrib atau terbenamnya matahari. 

Kata lain dalam bahasa Arab yang bermakna menahan atau mencegah adalah al-man‘ (mencegah). Ada sebagian pula yang menyebutkan al-imsâk. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:

إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

“Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang pun hari ini” (QS Maryam: 26)

Di ayat tersebut terdapat kata shaum yang berarti menahan, yakni menahan dari berbicara kepada manusia. Dari ayat itu kita dapat menyimpulkan bahwa makna puasa adalah menahan.

Mudzoffar al-Qarmisiny, dalam kitab ar-Risâlah al-Qusairiyyah mengatakan bahwa puasa ada tiga macam:

الصَوْمُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ: صَوْمُ الرُّوْحِ بِقَصْرِ الْأَمَلِ، وَصَوْمُ الْعَقْلِ بِخِلَافِ الْهَوَى، وَصَوْمُ النَّفْسِ بِالإِمْسَاكِ عَنِ الطَّعَامِ وَالْمَحَارِمِ.

“Puasa ada tiga macam: (1) puasa ruh dengan memendekkan angan-angan, (2) puasa akal dengan melawan keinginan, (3) puasa jiwa dengan menahan dari makanan dan perkara-perkara yang haram.” 

Pertama, puasa ruh dengan memendekan angan-angan. Karena, terlalu panjang berharap akan menghambat diri dari perbuatan baik atau usaha untuk meraih kebaikan karena terlalu sibuknya kita dengan bercita-cita. (Syekh Mustafa al-‘Arusy, Natâij al-Afkâr al-Qudsiyyah fî Bâyani Ma’âni Syarh Risalah al-Qusyairiyyah, Lebanon, Dar el Kutub ‘Ilmiyyah, 2007, halaman 306)

Ketika di pesantren, salah satu guru saya pernah menasihati agar tidak panjang dalam bercita-cita. Maksud beliau bukan berarti tidak boleh sama sekali memiliki harapan, namun jangan terlalu berlebihan pada harapan yang tak mungkin ada habisnya, khawatir kita tertimpa oleh musibah yang bisa disebut dengan cinta dunia.

Kedua, puasa akal dengan melawan keinginan. Syekh Zakaria al-Anshari menjelaskan, dengan akal kita dapat mengetahui antara yang baik dan yang buruk, dan itu dapat dihasilkan dengan melawan keinginan atau hawa nafsu. (Syekh Mustafa al-‘Arusy, Natâij al-Afkâr al-Qudsiyyah fî Bâyani Ma’âni Syarh Risalah al-Qusyairiyyah, Lebanon, Dar el Kutub ‘Ilmiyyah, 2007, halaman 307)

Ketiga, puasa jiwa dengan menahan diri dari makanan dan perkara-perkara yang haram. Menahan diri dari makanan adalah salah satu proses untuk meningkatkan spiritual. Dengan mempuasakan jiwa dari makan, kita akhirnya terbiasa untuk menerima setiap keadaan yang telah ditentukan oleh Allah ﷻ, baik berupa lapar maupun kenyang. Selain itu menahan diri dari hal-hal yang diharamkan juga bagian dari proses meningkatkan keimanan kita kepada Allah ﷻ.

Melihat dari penjelasan yang ketiga, kita dapat mennyimpulkan bahwa puasa memang menahan diri dari makanan, tapi yang lebih sempurna dari itu adalah menahan diri dari sesuatu yang diharamkan seperti ghibah, mengadu domba, dan berbohong. Yang terakhir ini hanya bisa didapat ketika kita tempatkan puasa sebagai sarana pendidikan ruhani kita.

Semoga puasa Ramadhan tahun ini dapat menjaga kita dari segala perbuatan yang dilarang dalam agama, dan mendidik kita supaya meningkatkan nilai-nilai rohani dalam hidup kita. Bukankah puasa yang paling sulit tingkatannya adalah puasa menahan hawa nafsu? Mudah-mudahan kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Amiin. (Amien Nurhakim) 

Kamis 17 Mei 2018 17:0 WIB
Hukum Puasa Anak Kecil
Hukum Puasa Anak Kecil
Ilustrasi: Santri. (Foto: Romzi Ahmad)
Salah satu ibadah yang diwajibkan dalam Islam adalah puasa. Kewajiban puasa ini didasarkan pada firman Allah Surat Al-Baqarah ayat 183. Dalam ayat tersebut, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya, “Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa,” (Al-Baqarah ayat 183).

Perlu diketahui, tidak semua orang diwajibkan puasa. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi bagi orang yang berpuasa. Kalau tidak memenuhi persyaratan tersebut, kewajiban puasa tidak berlaku baginya dan tidak berdosa meninggalkannya.

Abdul Wahab As-Sya’rani dalam Mizanul Kubra mengatakan:

واتفق الأئمة الأربعة على أنه يتحتم صومه على كل مسلم بالغ عاقل طاهر مقيم قادر على الصوم

Artinya, “Ulama empat madzhab menyepakati kewajiban puasa bagi muslim baligh, berakal, suci, mukim, dan mampu berpuasa.”

Berdasarkan penjelasan ini, orang yang tidak termasuk dalam kategori ini tidak diwajibkan puasa. Misalnya, anak kecil yang belum baligh, orang gila, perempuan yang sedang haidh, atau orang tua yang sudah tidak mampu untuk berpuasa.

Kendati anak kecil tidak diwajibkan puasa, para ulama tetap menganjurkan mereka untuk puasa. Abdul Wahab As-Sya’rani menjelaskan:

واتفقوا على أن الصبي الذي لا يطيق الصوم والمجنون المطبق جنونه غير مخاطبين به لكن يؤمر به الصبي لسبع ويضرب عليه لعشر

Artinya, “Ulama sepakat anak kecil yang tidak mampu puasa dan orang gila permanen tidak diwajibkan puasa. Tapi anak kecil diminta puasa bila berumur tujuh tahun dan dipukul bila tidak mau puasa ketika umur sepuluh tahun.”

Anjuran memerintahkan anak kecil puasa ini disamakan dengan anjuran shalat. Hal ini sebagaimana dikatakan Rasulullah SAW:

مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

Artinya, “Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka.”

Dengan demikian, sebenarnya anak kecil yang belum baligh tidak diwajibkan puasa. Tetapi, mereka tetap dianjurkan puasa semampunya sebagai ajang latihan. Apalagi kalau sudah berumur sepuluh tahun.

Bahkan, kalau umurnya sepuluh tahun, tapi belum baligh, orang tua harus memaksanya untuk puasa. Kalau tidak mau boleh dihukum. Tentu hukuman yang dimaksud di sini, hukuman yang tidak membahayakan dan bersifat mendidik. Wallahu a‘lam. (Hengki Ferdiansyah)