IMG-LOGO
Trending Now:
Ramadhan

Hukum Berenang bagi Orang Puasa

Sabtu 19 Mei 2018 11:0 WIB
Share:
Hukum Berenang bagi Orang Puasa
Orang yang berpuasa diwajibkan untuk menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar shadiq sampai terbenamnya matahari.

Termasuk hal yang membatalkan puasa adalah masuknya benda ke dalam tubuh bagian dalam, baik melalui rongga terbuka, mulut, telinga, anus, lubang kemaluan dan hidung, atau masuk melalui rongga yang tidak terbuka seperti kepala yang terluka. Benda yang masuk tersebut bisa berupa benda cair atau padat.

Syekh Ibnu Qasim Al-Ghuzzi menegaskan:

والذي يفطر به الصائم عشرة أشياء) أحدها وثانيها (ما وصل عمداً إلى الجوف) المنفتح (أو) غير المنفتح كالوصول من مأمومة إلى (الرأس) والمراد إمساك الصائم عن وصول عين إلى ما يسمى جوفاً

Artinya, “Perkara yang membatalkan orang berpuasa ada sepuluh. Pertama dan kedua adalah benda yang sampai secara sengaja pada rongga terbuka atau tidak terbuka seperti sampai dari kepala yang terluka. Yang dikehendaki dari pengarang (kitab matan) adalah menahannya orang berpuasa dari sampainya benda kepada anggota tubuh yang bisa disebut rongga,” (Lihat Syekh Ibnu Qasim Al-Ghuzzi, Fathul Qarib Hamisy Hasyiyah Al-Bajuri, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1999 M], cetakan kedua, juz I, halaman 557).

Oleh karenanya, orang berpuasa dimakruhkan melakukan aktivitas yang berisiko dapat membatalkan puasa, seperti terlalu berlebihan dalam berkumur atau menghirup air ke dalam hidung (istinsyaq) saat berwudhu. Syekh Ibnu Hajar Al-haitami mengatakan:

أما الصائم فتكره له المبالغة فيهما خشية الإفطار

Artinya, “Adapun orang berpuasa, dimakruhkan baginya melebih-lebihkan dalam berkumur dan menghirup air ke dalam hidung karena berpotensi membatalkan puasa,” (Lihat Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami, Minhajul Qawim, Hamisy Hasyiyatut Turmusi, [Jeddah, Darul Minhaj: 2011 M] cetakan pertama, juz I, halaman 520).

Demikian pula makruh, menyelam ke dalam air bagi orang berpuasa. Bila airnya masuk ke dalam anggota batin, maka dapat membatalkan puasa meski tanpa sengaja, sebab aktivitas tersebut dilarang bagi orang yang berpuasa.

Bila menurut kebiasaan pelaku air dapat masuk ke dalam anggota batin, maka hukumnya haram. Syekh Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan:

ومثل ذلك سبق الماء في غسل تبرد أو تنظف وكذا دخوله جوف منغمس من نحو فمه أو أنفه لكراهة الغمس فيه كالمبالغة ومحله إن لم يعتد أنه يسبقه وإلا أثم وأفطر قطعا

Artinya, “Demikian pula membatalkan (sebagaimana melebih-lebihkan berkumur dan menghirup air ke dalam hidung), masuknya air secara tak sengaja saat mandi untuk tujuan menyegarkan atau membersihkan badan, begitu juga masuknya air ke dalam rongganya orang yang menyelam, bisa dari mulut atau hidungnya, sebab menyelam hukumnya makruh sebagaimana melebih-lebihkan dalam berkumur dan menghirup air ke dalam hidung. Demikian ini apabila tidak ada kebiasaan masuknya air ke dalam rongga, jika tidak demikian, maka berdosa dan membatalkan puasa tanpa ada ikhtilaf,” (Lihat Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj Hamisy Hasyiyatut Syarwani, [Kairo, Maktabah Al-Tijariyyah al-Kubra], tanpa tahun juz III, halaman 406).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa melakukan aktivitas renang bagi orang yang berpuasa adalah makruh, bahkan bisa haram bila menurut kebiasaannya dapat menyebabkan masuknya air ke dalam anggota batin melalui rongga terbuka seperti hidung atau telinga. Dan apabila airnya masuk ke dalam anggota batin, maka dapat membatalkan puasa meski tanpa sengaja.

Saran kami, saat berpuasa lakukanlah renang di malam hari setelah berbuka atau lebih baik lagi di atas jam 12 malam, hal tersebut agar tidak mengganggu ibadah puasa anda. Wallahu a‘lam. (M Mubasysyarum Bih)
Share:
Sabtu 19 Mei 2018 16:50 WIB
Ini Penjelasan Seputar Kontroversi Doa Berbuka Puasa
Ini Penjelasan Seputar Kontroversi Doa Berbuka Puasa
(Foto: pinterest)
Belakangan ini doa berbuka puasa yang sudah lama diamalkan oleh masyarakat dipersoalkan oleh beberapa pihak. Menurut mereka, doa yang lazim dibaca masyarakat, yaitu “Allâhumma laka shumtu wa bika âmantu wa ‘alâ rizqika afthartu,” didukung oleh hadits yang dhaif.

Sejumlah pihak ini menawarkan alternatif lafal doa yang didukung hadits shahih riwayat Abu Dawud, yaitu “Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘urûqu wa tsabatal ajru, insyâ Allah.

Pertanyaannya apakah benar doa berbuka puasa yang diamalkan oleh masyarakat selama ini hanya bersandar pada hadits yang dhaif? Apakah benar kualitas hadits riwayat Abu Dawud terkait doa berbuka puasa lebih shahih dibandingkan hadits yang diamalkan oleh masyarakat selama ini? Mari kita perhatikan keterangan berikut ini.

Hadits lengkap riwayat Abu Dawud berbunyi sebagai berikut:

حدثنا عبد الله بن محمد بن يحيى أبو محمد حدثنا علي بن الحسن أخبرني الحسين بن واقد حدثنا مروان يعني ابن سالم المقفع قال رأيت ابن عمر يقبض على لحيته فيقطع ما زاد على الكف وقال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله

Artinya, “Kami mendapat riwayat dari Abdullah bin Muhammad bin Yahya, yaitu Abu Muhammad, kami mendapat riwayat dari Ali bin Hasan, kami mendapat riwayat dari Husein bin Waqid, kami mendapat riwayat dari Marwan, yaitu Bin Salim Al-Muqaffa‘, ia berkata bahwa aku melihat Ibnu Umar menggenggam jenggotnya, lalu memangkas sisanya. Ia berkata, Rasulullah bila berbuka puasa membaca, ‘Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘urûqu wa tsabatal ajru, insyâ Allah’,” (HR Abu Dawud)

Sementara doa berbuka puasa yang kerap diamalkan masyarakat, yaitu “Allâhumma laka shumtu wa ‘alâ rizqika afthartu,” bersumber dari riwayat Imam Bukhari dan Muslim sebagai keterangan Syekh M Khatib As-Syarbini berikut ini:

وأن يقول عقب فطره اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت لانه صلى الله عليه وسلم  كان يقول ذلك رواه الشيخان

Artinya, “(Mereka yang berpuasa) dianjurkan setelah berbuka membaca, ‘Allâhumma laka shumtu, wa ‘alâ rizqika afthartu.’ Pasalnya, Rasulullah SAW mengucapkan doa ini yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim,” (Lihat Syekh M Khatib As-Syarbini, Al-Iqna pada Hamisy Bujairimi alal Khatib, [Beirut, Darul Fikr: 2006 M/1426-1427 H], juz II, halaman 385).

Kalau mau dilihat tingkat kesahihannya, doa riwayat Bukhari dan Muslim jelas lebih shahih dibandingkan sekadar riwayat Abu Dawud berdasarkan kesepakatan ulama ahli hadits. Dari sini sudah jelas bahwa doa yang diamalkan masyarakat selama ini sudah benar dan didukung oleh hadis yang shahih dan kuat.

Lalu bagaimana dengan doa riwayat Abu Dawud? Karena juga mengetahui ada doa dari riwayat perawi lainnya, ulama dari Madzhab Syafi’i menggabungkan doa riwayat Imam Bukhari dan Muslim dengan doa riwayat Abu Dawud. Demikian disebutkan Sulaiman Bujairimi dalam Hasyiyatul Bujairimi berikut ini:

اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ( ويسن أن يزيد على ذلك وَبِكَ آمَنْتُ، وَبِكَ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ. ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ العُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شاءَ اللهُ. يا وَاسِعَ الفَضْلِ اِغْفِرْ لِي الحَمْدُ لِلهِ الَّذِي هَدَانِي فَصُمْتُ، وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ.

Artinya, “(Allâhumma laka shumtu wa ‘alâ rizqika afthartu) dianjurkan menambahkan lafal, wa bika âmantu, wa bika wa ‘alaika tawakkaltu. Dzahabaz zhama’u, wabtallatil ‘urûqu, wa tsabatal ajru, insyâ Allah. Yâ wâsi‘al fadhli, ighfir lî. Alhamdulillâhil ladzî hadânî fa shumtu, wa razaqanî fa afthartu,” (Lihat Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Bujairimi alal Khatib, [Beirut, Darul Fikr: 2006 M/1426-1427 H], juz II, halaman 385).

Artinya, “Tuhanku, hanya untuk-Mu aku berpuasa. Dengan rezeki-Mu aku membatalkannya. Sebab dan kepada-Mu aku berpasrah. Dahaga telah pergi. Urat-urat telah basah. Dan insya Allah pahala sudah tetap.

Wahai Zat Yang Luas Karunia, ampuni aku. Segala puji bagi Tuhan yang memberi petunjuk padaku, lalu aku berpuasa. Dan segala puji Tuhan yang memberiku rezeki, lalu aku membatalkannya.”

Dari keterangan ini, kita dapat menarik simpulan bahwa para ulama terdahulu sangat bijak dalam mengatasi perbedaan riwayat. Mereka menggabungkan dua riwayat yang berbeda tanpa menegasikan, menyalahkan, atau mengecilkan riwayat lain.

Gabungan dua riwayat ini kemudian disuguhkan kepada masyarakat yang kemudian diamalkan turun-temurun oleh mereka hingga kini. Doa ini dibaca setelah setelah mereka membatalkan puasanya.

Saran kami, sebaiknya kita tidak perlu membesar-besarkan perbedaan. Kita sebaiknya tidak menyalahkan doa berbuka puasa masyarakat, terlebih amalan mereka didukung oleh hadits yang lebih shahih dibandingkan doa alternatif yang merek tawarkan. Selain itu, sebaiknya kita mencari titik temu pada dua riwayat yang berbeda. Kebijaksanaan ini yang menjadi warisan para ulama terdahulu. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Jumat 18 Mei 2018 19:0 WIB
Kesunahan Memperbanyak Sedekah di Bulan Ramadhan
Kesunahan Memperbanyak Sedekah di Bulan Ramadhan
(Foto: twitter)
Di antara amalan yang dianjurkan dalam Islam adalah sedekah. Keutamaan sedekah tidak hanya diperoleh orang yang memberikannya, tapi juga dinikmati orang yang menerimanya. Karena itu, sedekah selain memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan, juga memperkuat hubungan persaudaraan sesama manusia.

Sedekah dianjurkan kapan dan di mana saja, baik dalam kondisi lapang maupun sempit. Bahkan sebagian ulama menganjurkannya minimal sekali sehari, terutama di bulan Ramadhan. Sekalipun nominal yang dikeluarkan tidak banyak.

Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in menjelaskan:

وينبغي للراغب في الخير أن لا يخلي كل يوم من الأيام من الصدقة بما تيسر وإن قل وإعطاؤها سرا أفضل منه جهرا...وإعطاؤها برمضان أي فيه لاسيما في عشرة الأواخر أفضل

Artinya, “Orang yang ingin berbuat baik seharusnya tidak melewatkan kesempatan bersedekah setiap hari semampunya, meskipun sedikit. Bersedekah dengan diam-diam lebih baik daripada memperlihatkannya. Sedekah sangat dianjurkan di bulan Ramadhan, khususnya sepuluh terakhir.”

Anjuran memperbanyak sedekah di bulan Ramadhan ini didukung oleh banyak hadits dari Rasulullah, baik hadis qawli maupun fi’li. Dalam hadits riwayat Anas disebutkan:

عَنْ اَنَسٍ قِيْلَ يَارَسُولَ اللهِ اَيُّ الصَّدَقَةِ اَفْضَلُ؟ قَالَ: صَدَقَةٌ فِى رَمَضَانَ

Artinya, “Dari Anas dikatakan, ‘Wahai Rasulullah, sedekah apa yang nilainya paling utama?’ Rasul menjawab, ‘Sedekah di bulan Ramadhan,’ (HR At-Tirmidzi).

Selain hadits di atas, kesaksian dari banyak sahabat, Rasulullah semakin dermawan ketika berada di bulan Ramadhan. Maksudnya, ia memperbanyak sedekah di bulan Ramadhan. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim dijelaskan:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ (أَجْوَدَ) مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ

Artinya, “Rasulullah SAW adalah orang paling dermawan di antara manusia lainnya, dan ia semakin dermawan saat berada di bulan Ramadhan,” (HR Bukhari dan Muslim).

Bulan Ramadhan adalah bulan mulia. Karenanya memperbanyak amal saleh sangat dianjurkan, khususnya sedekah. Abu Bakar Syaththa dalam I’anatut Thalibin mengatakan, sedekah dianjurkan di bulan Ramadhan karena bulan mulia dan saat itu sebagian besar Muslim fokus untuk beribadah dan tidak terlalu aktif bekerja sehingga kebutuhan terhadap sedekah sangat mendesak.

Karenanya, sebagai umat Islam, alangkah baiknya kita memperbanyak sedekah, meskipun jumlah nominalnya tidak terlalu banyak karena kebaikan amalan itu tidak dilihat dari jumlahnya, tapi dari istiqamahnya. Wallahu a‘lam. (Hengki Ferdiansyah)
Jumat 18 Mei 2018 18:0 WIB
Puasa Umat Islam Sebelum Turun Ayat Kewajiban Puasa Ramadhan
Puasa Umat Islam Sebelum Turun Ayat Kewajiban Puasa Ramadhan
Telah diketahui bersama bahwa sejarah diwajibkannya puasa adalah pada tahun dua hijriah, tepatnya di bulan Sya'ban. Hal ini merunut pada pendapat ulama terkmuka yang juga pendiri Universitas Al Imam Asy Syafi'i Cianjur, Jawa Barat,  Dr. Muhammad Hasan Hitou.

Jika memang kewajiban puasa bulan Ramadhan baru dibebankan pada tahun kedua hijriah, maka dapat ditarik pengertian bahwa selama 15 tahun kenabian, belum ada perintah puasa Ramadhan. Ya, karena Nabi hijrah pada tahun ke-13 kenabian, sedang wahyu puasa Ramadhan baru turun pada tahun kedua hijriah. Lantas, adakah puasa yang diwajibkan sebelum puasa Ramadhan?

Merujuk pada pendapat Dr. Muhammad Hasan Hitou dalam kitabnya, Fiqhu Shiyam, bahwa pensyariatan puasa pada masa awal Islam dimulai dengan puasa tiga hari di setiap bulannya, yang kemudian kita kenal sebagai ayyamul bidh. Ya, yaitu puasa selama tiga hari pada pertengahan bulan. Dimulai pada tanggal 13 dan kemudian berakhir di tanggal 15 di setiap bulannya.

Baca: Ini Asal-usul Puasa Hari-hari Putih (Ayyamul Bidh)
Selain itu, puasa yang juga disyariatkan sebelum Ramadhan adalah puasa Asyura (10 Muharram). Hal ini berpijak pada salah satu hadits yang juga termaktub dalam kitab tersebut:

وروى مسلم عن جابر بن سمرة قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يأْمر بصيام يومِ عاشوراءَ ، ويَحُثُّنا عليه ، ويتعاهدُنا عنده ، فلما فُرِضَ رمضانُ لم يأْمرْنا ولم يَنْهَنَا ولم يتعاهدنا عنده

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Jabir bin Samroh yang berkata, "Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk puasa Asyura, dan menganjurkan kami untuk melakukannya, dan  memperhatikan kami di sisi beliau. Kemdian ketika puasa Ramadhan diwajibkan, beliau tidak lagi memerintahkan kami (untuk puasa Asyura) dan tidak lagi memperhatikan kami melakukannya di sisi beliau."

Baca: Ini Penjelasan Ulama Perihal Waktu Pelaksaan Puasa Asyura
Kalimat “tidak memerintah dan tidak lagi memperhatikan” dalam hadits di atas bukan berarti Rasulullah bersikap apatis ataupun tidak peduli terhadap puasa Asyura. Sikap Rasulullah menjadi berubah disebabkan karena perubahan hukum puasa Asyura sendiri. Yaitu yang awalnya wajib, sehingga sang rasul sangat menekankan dan memeperhatikan, kemudian hukumnya berubah menjadi hanya sebatas sunah.

Demikianlah bahwa sebelum diwajibkannya puasa selama sebulan penuh Ramadhan, Allah telah mengajari umat Muhammad dengan puasa 3 hari di setiap bulannya dan puasa Asyura. Adapun hikmah yang dapat dipetik adalah bahwa Allah sekali-kali tidaklah membebani manusia kecuali sesuai dengan tingkat kesanggupannya. 

Dapat dibayangkan bagaimana nasib kaum Muslimin ketika perintah puasa langsung pada tahap puasa Ramadhan, puasa sebulan penuh tanpa adanya treatment, atau media latihan yang berupa puasa 3 hari di setiap bulannya dan juga puasa Asyura. Sudah barang tentu umat Islam akan sangat keberatan dan lemah. Sungguh, Allah adalah dzat yang Maha Bijaksana dalam segala urusan-Nya. (Ulin Nuha Karim)