IMG-LOGO
Trending Now:
Quote Islami
MUTIARA RAMADHAN

Sudahkah Puasa Membuat Kita Bertakwa?

Sabtu 19 Mei 2018 17:15 WIB
Sudahkah Puasa Membuat Kita Bertakwa?
Firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS al-Baqarah: 183)

Diwajibkannya berpuasa bagi kita, kaum beriman, adalah agar menjadi hamba yang bertakwa. Agar kita menjalani setiap perintah Allah dan menjauhi larangannya. Agar kita baik perilaku, ucapan ataupun tulisannya. Agar kita tak saja baik kepada Tuhan tapi juga kepada para makhluk-Nya.

Bila pertama kali kita berpuasa Ramadhan secra penuh pada saat usia sepuluh tahun, dan katakanlah kini kita berusia empat puluh atau lima pulug tahun, maka artinya kita telah berpuasa tiga puluh atau lima puluh kali.

Sudahkah puasa kita yang berpuluh kali itu mewujudkan diri kita sebagai hamba yang bertakwa yang berperilaku demikian?

Bila sudah, alhamdulillah. Bila belum, butuh berapa puluh kali puasa lagi untuk menjadi bertakwa?

Selamat ber-Ramadhan, mabrûk lakum insyâ Allâh.

(Yazid Muttaqin)

Tags:
Share:
Selasa 15 Mei 2018 6:9 WIB
Kualitas Iman Berbanding Lurus dengan Kepedulian Lingkungan
Kualitas Iman Berbanding Lurus dengan Kepedulian Lingkungan
"Kualitas iman seseorang bisa diukur salah satunya dari sejauh mana sensitivitas dan kepedulian orang tersebut terhadap kelangsungan lingkungan hidup." (KH ali Yafie, Rais 'Aam PBNU 1991-1992)

Dalam buku Merintis Fiqh Lingkungan karyanya, Kiai Ali Yafie juga menyatakan bahwa pelestarian dan pengamanan lingkungan hidup dari kerusakannya adalah bagian dari iman. Tampak sekali ia sedang berusaha mengintegrasikan antara hal yang sangat krusial dalam Islam, yakni keimanan kepada Allah, dan perhatian terhadap isu lingkungan yang kerap dianggap sebagai aktivitas duniawi belaka.

Ini relevan dengan pikirannya yang mengulas tentang dua hal. Pertama, Allah adalah rabbul ‘âlamîn atau Allah adalah tuhan seluruh alam. Artinya, hamba Allah bukan hanya manusia, melainkan seluruh makhluk lain: binatang, tumbuhan, gunung, tanah, udara, laut, dan lain sebagainya. Dalam konteks hubungan antara khaliq dan makhluq, manusia sama dengan ciptaan-ciptaan lain.

Ajaran yang kedua adalah rahmatan lil ‘alamin atau menebar kasih sayang kepada seluruh alam, sebagai misi utama ajaran Islam. Manusia tak hanya dituntut berbuat baik dengan manusia lainnya tapi juga makhluk lainnya. Itulah mengapa saat perang Badar yang peristiwanya tepat pada bulan Ramadhan, Rasulullah melarang pasukan Muslim merusak pohon dan membunuh binatang sembarangan. Hal ini menjadi bukti bahwa Islam sangat menyayangi alam.

Keyakinannya yang kuat bahwa Islam sangat memperhatikan isu pelestarian lingkungan hidup membuat Kiai Ali Yafie memasukkan hifdhul bi'ah (menjaga lingkungan hidup) sebagai bagian dari al-kulliyyat, nilai-nilai universal yang dijunjung tinggi syariat Islam. dengan demikian, prinsip maqashidus syari'ah yang dikenal dalam ushul fiqh berjumlah lima (al-kulliyyat al-khams), menurut Kiai Ali Yafie seharusnya ditambah satu, yakni hifdhul bi'ah.
Kamis 10 Mei 2018 6:28 WIB
Jahat pada Alam, Cermin Kekafiran Seseorang
Jahat pada Alam, Cermin Kekafiran Seseorang
Kekafiran seseorang tercermin dari perilaku jahatnya pada alam; baik kejahatan material seperti merusak lingkungan, mencuri hasil hutan (illegal loging), dan segala jenis perusakan di muka bumi; maupun kejahatan moral, semisal menuruti hawa nafsu, berbuat zalim, melanggar perjanjian, memanipulasi data, dan lain-lain. (Abdurrahman Wahid, dalam buku "Fatwa dan Canda Gus Dur")

KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tidak menganggap orang yang mengaku beriman secara otomatis baik. Keimanan tersebut mesti dibuktikan dalam wujud perilaku sehari-hari, termasuk dalam relasinya dengan alam. Mengimani Allah sebagai tuhan semesta alam (rabbul 'alamin) seharusnya berbuah sikap peduli terhadap kelestarian alam sebagai bagian dari makhluk Allah. Perilaku jahat manusia terhadap alam menandakan keroposnya iman seseorang yang dalam bahasa Gus Dur disebut "kekafiran".

Gus Dur memaknai kekafiran melintas dari apa yang selama ini dipahami sebagai hal yang berkaitan dengan akidah. Kafir bermakna "tertutup" (dari kebenaran). Dalam pengertian yang luas, segala sikap yang mencerminkan tindak ketidakbenaran termasuk dalam kategori kekufuran. Wallahu a'lam.
Sabtu 5 Mei 2018 7:22 WIB
Nabi Anjurkan Bersahabat dengan Alam
Nabi Anjurkan Bersahabat dengan Alam
“Sebelum dunia mengenal istilah 'kelestarian lingkungan', Rasulullah sang manusia agung telah menganjurkan untuk hidup bersahabat dengan alam. Tidak dikenal istilah penundukan alam dalam ajarannya, karena istilah ini dapat mengantarkan manusia kepada sikap sewenang-wenang, penumpukan tanpa batas tanpa pertimbangan pada asas kebutuhan yang diperlukan.”
(KH Quraish Shihab)

Pernyataan Prof Quraihs ini bisa kita dapatkan di buku beliau,  Lentera Hati: Kisah dan Hikmah Kehidupan. Menurutnya, Nabi menggunakan istilah "Tuhan memudahkan alam untuk dikelola manusia" dengan mengacu pada Surat Ibrahim ayat 32. Pengelolaan ini disertai dengan pesan untuk tidak merusaknya, bahkan mengantarkan setiap bagian dari alam ini untuk mencapai tujuan penciptaannya. Karena itu, terlarang dalam ajarannya menjual buah yang mentah, atau memetik kembang yang belum mekar. “Biarkan semua bunga mekar agar mata menikmati keindahannya dan lebah menghisap sarinya.”

Qurasih mengatakan, rahmat yang dibawanya bahkan menyentuh benda-benda yang tidak bernyawa. Beliau sampai-sampai memberi nama untuk benda-benda yang dimilikinya. Perisai yang dimilikinya diberi nama Dzat Al-Fudhul, pedangnya dinamai Dzulfiqar, pelananya dinamai Al-Dâj, tikarnya dinamai Al-Kuz, cerminnya dinamai Al-Midallah, gelasnya dinamai Al-Shadir, tongkatnya dinamai Al-Mamsyuk, dan lain-lain. Semuanya dinamai dengan nama-nama yang indah dan penuh arti seakan-akan benda-benda yang tak bernyawa tersebut mempunyai kepribadian yang juga membutuhkan uluran tangan, pemeliharaan, persahabatan, dan kasih sayang.